Cari Blog Ini

05/10/26

Season 12 Kerajaan mythopia

Chapter 119 Pelayaran Menuju Majapahit

Setelah meninggalkan hutan dan negeri yang jauh dari tanah Majapahit, tibalah rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung di sebuah pelabuhan yang menghadap lautan luas. Angin laut bertiup dari ufuk barat, membawa aroma garam dan suara burung-burung yang berputar di atas tiang-tiang dermaga.

Di sana sebuah kapal besar telah menunggu.

Lambungnya terbuat dari kayu tua yang kokoh, dihiasi ukiran khas Majapahit pada haluan dan buritannya. Tiga tiang tinggi menjulang ke langit, dan layar-layar putih yang terlipat menggantung seperti sayap burung raksasa yang sedang beristirahat.

Begitu melihat rombongan itu mendekat, seorang lelaki berusia setengah baya turun dari geladak. Janggutnya telah memutih di beberapa bagian, sementara wajahnya terbakar matahari dan angin laut. Ia adalah kapten kapal yang ditugaskan membawa sang putri kembali ke Jawa.

Ia memandang Dyah Sekar Tanjung dan rombongannya dengan wajah antara lega dan kesal.

"Kenapa kalian lama sekali?" serunya. "Aku sudah menunggu di pelabuhan ini hampir seminggu!"

Paman Hanggara menghela napas panjang.

"Jangan salahkan kami, Kapten. Kami mengalami sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan."

Kapten mengangkat alis.

"Apa yang terjadi?"

"Kami disergap oleh makhluk kera putih di tengah hutan," jawab Hanggara.

Beberapa awak kapal yang mendengar perkataan itu saling berpandangan.

"Kera putih?" gumam salah seorang dari mereka.

"Jangan banyak bertanya," jawab Hanggara. "Percayalah, makhluk itu bukan binatang biasa."

Dyah Sekar Tanjung tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya tertuju jauh ke arah laut. Di balik ketenangan wajahnya tersimpan kegelisahan yang sejak menerima surat dari Majapahit belum juga pergi.

Pujeng Rarasati berdiri di sampingnya.

"Semoga Ayahanda Prabu Kertawrdhana masih diberikan umur panjang oleh para dewa," ucapnya lirih.

Dyah Sekar menundukkan kepala.

"Semoga demikian."

Ia menggenggam kain jubahnya erat-erat.

"Aku harus segera sampai ke Majapahit."

Kemudian sang putri menoleh kepada kapten.

"Kecepatan penuh, Kapten."

Kapten itu tersenyum tipis.

"Perintah diterima, Paduka Putri."

Ia segera berbalik dan berteriak kepada anak buahnya.

"Buka seluruh layar!"

Para awak kapal bergerak serentak.

Tali-tali ditarik.

Katrol-katrol kayu berderit.

Layar-layar putih yang besar perlahan naik menuju ujung tiang, kemudian mengembang ketika angin laut menerpanya. Kapal bergetar sesaat sebelum akhirnya bergerak meninggalkan pelabuhan.

Semakin jauh mereka dari daratan, semakin luas terbentang lautan di hadapan.

Hari pertama berlalu dengan tenang.

Matahari menggantung tinggi di langit, memantulkan cahaya ke permukaan air hingga lautan tampak seperti hamparan perak yang tak berujung.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah seorang awak.

"Lihat! Ikan!"

Rombongan segera mendekati sisi kapal.

Sekawanan ikan berkilauan melompat dari permukaan laut, berhamburan seperti permata yang dilemparkan ke udara. Di belakang mereka beberapa ekor lumba-lumba berenang dengan cepat, melesat naik turun mengejar kawanan ikan.

Para awak kapal bersorak.

"Kesempatan yang jarang!"

Jala-jala segera disiapkan.

Dengan satu aba-aba, beberapa awak melemparkan jala ke laut.

Jala itu terbentang lebar di udara sebelum jatuh menutupi permukaan air.

Tak lama kemudian mereka menariknya kembali.

Puluhan ikan menggelepar di dalam jaring.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Permukaan laut tiba-tiba berguncang.

Sesuatu yang besar bergerak di bawah kapal.

"Lihat ke sana!" teriak seorang awak.

Dari kejauhan muncul bayangan hitam yang jauh lebih besar daripada kawanan ikan tadi.

Air laut terbelah.

Seekor makhluk raksasa muncul sesaat dari permukaan—tubuhnya gelap, panjang, dan kuat seperti monster dari zaman purba.

"Itu... orca raksasa!"

Makhluk itu mengejar kawanan lumba-lumba dengan kecepatan yang mengerikan.

Kapal mulai berguncang ketika makhluk tersebut berputar di sekelilingnya.

Para awak kapal kehilangan keseimbangan.

"Pegang tali!"

"Jangan sampai jatuh!"

"Turunkan layar!"

Namun arus yang tercipta oleh tubuh raksasa itu membuat kapal terombang-ambing.

Dyah Sekar Tanjung berpegangan pada tiang kapal. Lembayung Ardani dan Pujeng Rarasati berdiri di belakangnya, sementara Paman Hanggara segera memerintahkan para pengawal menjaga sang putri.

Beberapa saat kemudian makhluk itu menghilang ke kedalaman.

Laut kembali tenang.

Tidak ada suara selain deburan ombak.

Para awak kapal terdiam.

Menit berlalu.

Kemudian satu jam.

Tidak terjadi apa-apa.

Akhirnya kapten menghela napas lega.

"Sepertinya makhluk itu telah pergi."

Para penumpang pun mulai tenang.

Beberapa awak kembali bekerja. Sebagian menata ikan hasil tangkapan. Yang lain memperbaiki tali layar yang sempat terlepas.

Mereka bersyukur karena bahaya telah berlalu.

Namun tidak seorang pun di atas kapal mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi.

Jauh di bawah permukaan laut, di tempat yang tidak dapat ditembus cahaya matahari, sesuatu yang jauh lebih besar bergerak perlahan.

Makhluk yang tadi mereka lihat bukanlah penguasa lautan itu.

Ia hanyalah mangsa.

Di kedalaman yang gelap, tubuh raksasa Leviathan Abyssala bergerak dari balik kabut bawah laut.

Rahangnya terbuka.

Dalam satu hentakan dahsyat, ia telah melahap orca raksasa yang tadi mengejar lumba-lumba.

Lumba-lumba yang tersisa berenang menjauh dalam kepanikan.

Leviathan Abyssala tidak mengejar mereka.

Ia hanya berbalik.

Mata besarnya yang pucat menatap ke atas.

Jauh di permukaan, sebuah kapal Majapahit sedang berlayar membawa Putri Dyah Sekar Tanjung pulang menuju Jawa.

Leviathan itu merasakan getaran kapal di atas kepalanya.

Untuk beberapa saat, makhluk purba itu hanya mengikuti dari kejauhan.

Kemudian ia mulai berenang.

Perlahan.

Tanpa suara.

Bayangannya membesar di bawah kapal.

Namun para penumpang tidak menyadarinya.

Mereka mengira lautan telah kembali tenang.

Mereka tidak tahu bahwa di bawah lunas kapal, sebuah makhluk dari zaman yang jauh lebih tua daripada kerajaan-kerajaan manusia sedang mengikuti perjalanan mereka menuju Jawa.

Tidak ada komentar: