Tampilkan postingan dengan label jatmika & portal waktu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jatmika & portal waktu. Tampilkan semua postingan

01/06/26

Season 7 Jatmika & Portal waktu

Di dalam ruang karantina, udara terasa lebih dingin daripada ruang laboratorium biasa. Dindingnya dilapisi panel logam putih dengan lampu biru lembut yang menyala stabil tanpa suara. Di sudut ruangan, beberapa alat pemindai milik NASA terus bergerak perlahan mengelilingi tubuh Jatmika, memancarkan cahaya hijau tipis seperti sedang membaca sesuatu yang berada di balik kulit manusia.
Seorang dokter wanita dari NASA memperhatikan layar datanya cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Jatmika duduk di tepi ranjang karantina. Ia tampak sehat, tetapi matanya menunjukkan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan hanya oleh perjalanan fisik.
“Aku sulit tidur,” jawabnya pelan.
Dokter itu mengangkat pandangan.
“Karena rasa sakit?”
Jatmika menggeleng.
“Karena mimpi.”
“Mimpi seperti apa?”
Jatmika terdiam beberapa saat, seolah berusaha menentukan apakah pengalaman itu pantas disebut mimpi.
“Aku terus melihat masa lalu,” katanya akhirnya. “Bukan masa laluku. Masa lalu orang lain.”
Dokter menekan beberapa tombol di perangkatnya.
“Kamu mengalami halusinasi visual setelah teleportasi?”
“Tidak.” Jatmika menatap lurus ke arah alat pemindai yang berputar perlahan. “Itu terasa terlalu jelas untuk disebut halusinasi.”
“Coba jelaskan.”
Jatmika menarik napas panjang.
“Aku melihat para ksatria Mythopia,” katanya. “Mereka memakai zirah dan membawa senjata yang mengeluarkan cahaya seperti teleportasi. Aku melihat perang. Aku melihat langit yang terbuka… dan sesuatu yang bukan manusia.”
Dokter itu tidak langsung menjawab.
“Apakah sebelum ini kamu pernah mengalami gangguan tidur?”
“Tidak.”
“Apakah kamu merasa mendengar suara-suara?”
“Kadang.”
“Suara siapa?”
“Seorang pria.” Jatmika menunduk pelan. “Dia mengaku sebagai Raja Isidore.”
Dokter berhenti mencatat.
Di balik kaca ruang observasi, beberapa peneliti NASA saling berpandangan singkat.
“Apakah suara itu memerintahmu melakukan sesuatu?” tanya dokter hati-hati.
“Tidak.”
Jatmika menggeleng lagi.
“Dia hanya… berbicara seperti seseorang yang sedang menjaga warisan.”
Dokter mendekatkan alat pemindai kecil ke dada Jatmika. Cahaya biru muncul, lalu berubah menjadi kuning keemasan selama beberapa detik sebelum kembali normal.
“Itu aneh,” gumamnya pelan.
“Ada masalah?”
“Detak jantungmu normal,” jawab dokter itu. “Tekanan darah normal. Paparan radiasi mulai turun.” Ia menatap layar lagi. “Tapi aktivitas gelombang otakmu meningkat setiap kali kamu menyebut artefak atau kerajaan Mythopia.”
Jatmika tersenyum tipis.
“Mungkin otakku belum kembali dari Callisto.”
Dokter itu ikut tersenyum kecil, meski jelas ia masih berpikir keras.
“Apakah kamu takut?”
Pertanyaan itu membuat Jatmika diam cukup lama.
“Aku lebih takut kalau semua itu nyata,” katanya akhirnya. “Karena kalau benar nyata… berarti teleportasi bukan teknologi yang baru ditemukan manusia.”
Ruangan kembali sunyi.
Di balik kaca observasi, John berdiri bersama Pak Toni memperhatikan proses pemeriksaan.
“Dia berubah,” kata John pelan.
Pak Toni mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
“Bukan tubuhnya yang berubah,” jawabnya. “Cara dia melihat dunia.”

---


Dua puluh empat jam setelah seluruh data dari Callisto dimasukkan ke dalam sistem, ruang analisis PT Sinar Ultraviolet berubah menjadi tempat yang nyaris menyerupai pusat komando antariksa.

Ratusan prosesor bekerja tanpa henti. Dinding-dinding layar dipenuhi simulasi lintasan teleportasi, model gravitasi, dan peta koordinat yang tidak dikenal dalam katalog astronomi modern.

Di tengah ruangan, Ny. Tien menjalankan proses yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Ia tidak sedang mencari planet.

Ia sedang mencari pola.

Karena menurut hasil terjemahan Profesor Wen Shuyuan, kerajaan Mythopia tidak pernah mencatat lokasi dunia-dunia itu berdasarkan jarak. Mereka mencatatnya berdasarkan hubungan energi dalam jaringan teleportasi.

Sebuah konsep yang lebih mirip jaringan saraf daripada peta antarbintang.

Tepat pukul 03.17 dini hari, suara Ny. Tien terdengar di seluruh laboratorium.

"Pencarian selesai."

Semua orang yang masih terjaga menoleh ke layar utama.

Bahkan Pak Toni yang hampir tertidur langsung berdiri.

"Berapa banyak?" tanyanya.

"Sepuluh lokasi utama."

Layar berubah.

Muncul sepuluh titik cahaya mengelilingi model galaksi yang diproyeksikan di udara.

Untuk sesaat tidak ada yang berbicara.

Karena yang mereka lihat bukan sekadar planet.

Melainkan sesuatu yang tampak seperti cabang-cabang dari sebuah peradaban yang telah menyebar ke bintang-bintang.


---

Planet Aurelion

Dunia Matahari Kedua

Planet pertama berwarna emas terang.

Atmosfernya memantulkan cahaya hingga membuat seluruh permukaannya tampak seperti matahari kecil.

"Penghuni: Suku Auren."

Makhluk humanoid dengan kulit keemasan.

Menurut catatan Mythopia, mereka mampu menyimpan energi cahaya dalam tubuh mereka.

Di sana berdiri peninggalan kuno bernama Benteng Surya Wikrama.

Jatmika memperhatikan gambar simulasi itu cukup lama.

"Jika catatan ini benar," katanya perlahan, "maka manusia bukan satu-satunya spesies yang menggunakan energi sebagai bagian dari biologinya."


---

Planet Krysalis

Dunia Es Abadi

Sebuah planet putih kebiruan muncul berikutnya.

Lautannya membeku.

Pegunungannya tersusun dari kristal es raksasa.

Di sana berdiri Istana Pangreksa, benteng yang konon dibangun oleh ksatria penguasa es.


---

Planet Venthara

Dunia Angin

Planet ketiga tampak dipenuhi badai yang bergerak membentuk pola geometris.

Catatan Mythopia menyebut penghuni dunia ini dapat mendengar suara dari jarak yang tidak masuk akal.

"Seolah atmosfer mereka sendiri berfungsi sebagai jaringan komunikasi," gumam seorang peneliti.


---

Planet Ignarok

Dunia Api

Lautan magma.

Benua-benua vulkanik.

Awan yang terbentuk dari abu dan kilatan listrik.

Di sana berdiri Kuil Bhra Anuraga.

Untuk pertama kalinya para ilmuwan menyadari bahwa para ksatria Mythopia mungkin bukan sekadar tokoh sejarah.

Mereka mungkin pernah menjadi penguasa dunia lain.


---

Planet Terragard

Dunia Batu

Planet dengan gravitasi lebih tinggi daripada bumi.

Pegunungan setinggi puluhan kilometer.

Penghuninya mampu merasakan getaran yang bahkan tidak dapat dideteksi instrumen manusia.

Peninggalan di sana dikenal sebagai Benteng Jagat Dirgantara.


---

Planet Oceanis

Dunia Samudra

Nyaris seluruh permukaannya tertutup air.

Hanya sedikit pulau yang terlihat.

Di dasar laut terdalam berdiri Istana Sagara Putra.

John menatap simulasi itu sambil menggeleng.

"Kalau benar ada jaringan teleportasi di sana, berarti Mythopia pernah menjelajah dasar samudra antarbintang."


---

Planet Voltaris

Dunia Petir

Layar dipenuhi warna biru terang.

Petir menyambar tanpa henti dari satu belahan planet ke belahan lain.

Energi atmosfernya begitu besar hingga membuat instrumen laboratorium menghasilkan gangguan kecil.

"Peninggalan: Menara Guntur Wisesa."


---

Planet Sylvaris

Dunia Hutan Raksasa

Pepohonannya setinggi gunung.

Kanopinya menutupi hampir seluruh planet.

Menurut arsip, dunia ini dijaga oleh keturunan Rakajati.

Makhluk yang dapat berbicara dengan tumbuhan.

Ruangan menjadi sunyi.

Karena untuk pertama kalinya para ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa kehidupan cerdas tidak harus berkembang melalui teknologi.


---

Planet Astryon

Dunia Bintang

Planet ini berbeda.

Ia tampak hampir transparan.

Medan energinya berdenyut seperti jantung.

Peninggalannya adalah Observatorium Arya Wiratma.

Menurut catatan kuno, penghuni dunia ini mempelajari masa depan bukan melalui ramalan.

Mereka membaca kemungkinan statistik yang tercipta dari setiap keputusan yang diambil makhluk hidup.

Profesor Wen menatap layar dengan kagum.

"Itu terdengar lebih dekat kepada matematika daripada sihir."


---

Planet Valtherion

Dunia Para Penjaga

Planet terakhir muncul.

Dan seluruh ruangan mendadak terdiam.

Karena dunia itu tampak sangat mirip dengan bumi.

Laut.

Benua.

Awan.

Atmosfer.

Bahkan ukuran planetnya hampir identik.

Di tengah salah satu benuanya berdiri sebuah struktur raksasa yang terdeteksi dari orbit.

Ny. Tien memperbesar gambar.

Muncullah siluet bangunan yang menyerupai istana terapung.

"Istana Langit Raja Isidore."

Tidak seorang pun berbicara selama beberapa detik.

Kemudian Jatmika memecahkan kesunyian.

"Jadi..." katanya.

"Jika semua ini nyata, Mythopia bukanlah sebuah kerajaan."

Ia menatap sepuluh dunia yang berputar perlahan di udara.

"Bukan kerajaan di bumi."

"Bukan kerajaan Nusantara."

"Bahkan bukan kerajaan manusia."

Ia menarik napas panjang.

"Mereka adalah peradaban antarbintang."

Di layar, sepuluh titik cahaya terus berdenyut.

Dan untuk pertama kalinya sejak teleportasi ditemukan, para ilmuwan PT Sinar Ultraviolet menyadari bahwa penemuan terbesar mereka bukanlah cara berpindah tempat.

Melainkan kenyataan bahwa umat manusia mungkin baru saja menemukan sisa-sisa dari sebuah peradaban yang pernah menghubungkan banyak dunia—lalu menghilang tanpa meninggalkan penjelasan mengapa.
Bab: Hak Atas Dunia yang Belum Dikenal
Ruangan rapat lantai sembilan puluh delapan terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Di luar jendela, hujan turun perlahan membasahi kaca gedung PT Sinar Ultraviolet. Jakarta tampak seperti jaringan cahaya yang kabur oleh kabut dan air.
Di atas meja konferensi, proyeksi sepuluh planet warisan Mythopia masih berputar pelan.
Tak seorang pun menyentuhnya.
Seolah mereka sedang memandangi sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami.
Michael, perwakilan NASA, memecah keheningan terlebih dahulu.
"Saya ingin mengingatkan bahwa seluruh data eksplorasi Callisto berada di bawah perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani."
Ia menggeser beberapa dokumen digital ke tengah meja.
"Untuk sementara, informasi mengenai sepuluh planet ini tidak boleh dipublikasikan kepada pers."
Jatmika mengangkat alis.
"Karena alasan keamanan?"
Michael menggeleng.
"Karena alasan kepemilikan."
Ruangan kembali sunyi.
Michael melanjutkan.
"Setiap penemuan yang dihasilkan dari program eksplorasi bersama merupakan aset penelitian bersama. NASA akan menyusun kontrak resmi dengan PT Sinar Ultraviolet. Jika eksplorasi berhasil dilanjutkan, keuntungan ilmiah maupun komersial akan dibagi sesuai kesepakatan."
Pak Toni menyilangkan kedua tangannya.
"Kedengarannya sederhana."
"Tapi?" tanya Michael.
"Tapi kita sedang membicarakan planet lain."
Pak Toni menunjuk proyeksi Valtherion yang melayang di udara.
"Kita belum tahu apa yang ada di sana."
Ia lalu menunjuk Voltaris.
"Atau di sana."
Kemudian Astryon.
"Atau di sana."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi semua orang bisa merasakan kecemasan di balik kata-katanya.
"Kita bahkan belum bisa menjamin seseorang yang pergi akan kembali."
Michael terdiam.
Karena itu benar.
Teleportasi ke Callisto berhasil.
Namun keberhasilan itu lebih menyerupai pengecualian daripada prosedur yang dapat diulang dengan aman.
Jatmika memandang planet-planet yang berputar di depan mereka.
"Berapa banyak orang kaya yang bersedia membayar untuk mengunjungi dunia baru?" tanyanya.
Pak Toni tertawa kecil.
"Miliaran."
"Mungkin triliunan."
Ia berhenti sejenak.
"Itulah yang justru membuatku takut."
Semua menoleh kepadanya.
"Jika kita membuka akses ke planet-planet itu, orang akan datang bukan untuk memahami mereka."
Pak Toni mengetuk meja perlahan.
"Mereka akan datang untuk memiliki mereka."
Tidak ada yang membantah.
Karena sejarah manusia penuh dengan contoh serupa.
Benua ditemukan.
Pulau ditemukan.
Sumber daya ditemukan.
Dan selalu ada seseorang yang menganggap penemuan berarti kepemilikan.
Profesor Wen Shuyuan yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Saya memahami kekhawatiran itu."
Ia menyesap teh hangatnya.
"Tetapi saya juga memahami sesuatu yang lain."
"Apa itu?" tanya Jatmika.
Wen menunjuk dokumentasi relief Callisto.
"Semakin banyak saya menerjemahkan tulisan Mythopia, semakin saya yakin bahwa teleportasi bukanlah teknologi eksperimen."
Ia memperbesar salah satu gambar.
Relief kuno memenuhi layar.
"Ini adalah infrastruktur."
Ruangan mendadak hening.
"Seperti jalan raya."
"Seperti pelabuhan."
"Seperti jalur kereta."
Ia memandang semua orang satu per satu.
"Orang-orang Mythopia tidak membangun sistem ini untuk menjelajah."
"Mereka membangunnya untuk hidup."
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Karena jika Wen benar, maka sepuluh planet tersebut bukanlah tujuan ekspedisi.
Mereka adalah bagian dari sebuah peradaban yang pernah terhubung.
Dan jika jaringan itu masih aktif, mungkin ada lebih banyak dunia yang belum ditemukan.
Atau lebih buruk lagi—
masih ada penghuni yang menggunakannya.
Jatmika bersandar di kursinya.
"Biar aku yang memimpin ekspedisi berikutnya."
Pak Toni langsung menggeleng.
"Tidak."
"Aku yang menemukan keris itu."
"Tidak."
"Aku satu-satunya yang—"
"Tidak."
Kali ini suara Pak Toni lebih tegas.
"Masalahnya bukan kemampuanmu."
"Lalu apa?"
Pak Toni menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
"Sejak kembali dari Callisto, kamu hampir tidak tidur."
Jatmika tidak menjawab.
Karena ia tahu itu benar.
Setiap kali memejamkan mata, ia melihat potongan-potongan masa lalu yang bukan miliknya.
Benteng yang runtuh.
Langit yang terbakar.
Para ksatria Mythopia.
Dan sosok Raja Isidore yang terus muncul dalam mimpi.
Wen mengangguk pelan.
"Kondisimu tidak stabil."
"Aku baik-baik saja."
"Tidak."
Untuk pertama kalinya Wen terdengar seperti seorang dokter, bukan sejarawan.
"Kamu mengalami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu saraf modern."
Ia menunjuk laporan medis dari NASA.
"Aktivitas otakmu meningkat saat berinteraksi dengan artefak."
"Gelombang neuralmu berubah."
"Kamu mengalami mimpi berulang."
"Dan kamu mulai sulit membedakan antara ingatan dan penglihatan."
Jatmika menatap meja.
Ia ingin membantah.
Tetapi sebagian dirinya tahu mereka benar.
Wen mengeluarkan sebuah botol kecil.
"Setidaknya minumlah obat tidur ini."
Jatmika tertawa kecil.
"Profesor, sejak kapan ahli sejarah meresepkan obat?"
Wen ikut tersenyum.
"Sejak satu-satunya penerjemah bahasa Mythopia di ruangan ini dipaksa menjadi psikolog darurat."
Bahkan Pak Toni akhirnya tertawa.
Ketegangan sedikit mencair.
Namun ketika tawa itu mereda, ketiganya kembali menatap sepuluh planet yang berputar perlahan di atas meja.
Sepuluh dunia.
Sepuluh kemungkinan.
Sepuluh pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Dan untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah mencapai planet-planet itu.
Melainkan memutuskan apakah manusia sudah cukup bijaksana untuk melakukannya.

---

Bab: Harga Sebuah Jarak

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Jatmika tidur tanpa mimpi.

Obat yang diberikan Profesor Wen Shuyuan berhasil membungkam suara-suara masa lalu yang biasanya muncul setiap kali ia memejamkan mata.

Sementara itu, kehidupan di laboratorium tetap berjalan.

Jika Jatmika sedang beristirahat, para ilmuwan justru sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih sulit daripada menerjemahkan bahasa kuno.

Mereka mencoba menghitung biaya energi untuk menjangkau dunia lain.


---

Di ruang analisis energi, puluhan insinyur NASA memenuhi layar simulasi.

Michael berdiri di depan proyeksi tiga dimensi tata surya.

Callisto mengorbit jauh di sekitar Jupiter.

Jarak rata-ratanya dari Bumi sekitar 628 juta kilometer.

Namun menurut catatan Mythopia, beberapa planet berada ribuan bahkan jutaan kali lebih jauh.

Seorang fisikawan NASA mempresentasikan hasil simulasi.

"Jika kita menggunakan model teleportasi konvensional yang setara dengan pemindahan materi atom demi atom, energi yang dibutuhkan mendekati massa-energi Einstein."

Di layar muncul persamaan:

E = mc²

Untuk manusia berbobot 80 kilogram:

E = 80 × (300.000.000)²

Hasilnya:

7,2 × 10¹⁸ joule

Ruangan menjadi sunyi.

"Itu setara dengan lebih dari seribu bom nuklir besar," kata seorang peneliti.

Michael mengangguk.

"Untungnya teleportasi Mythopia tidak bekerja seperti itu."

Layar berganti.

Model kedua muncul.

Menurut analisis artefak lampu, teleportasi tidak memindahkan massa secara langsung.

Ia menciptakan jembatan koordinat antara dua titik yang sudah terhubung sebelumnya.

Dalam simulasi itu, energi yang diperlukan turun drastis.

Untuk Callisto diperkirakan:

3 sampai 5 gigawatt selama beberapa detik.

Masih sangat besar.

Tetapi mungkin dilakukan.

Masalahnya muncul ketika koordinat planet-planet warisan Mythopia dimasukkan.

Astryon.

Valtherion.

Aurelion.

Sebagian berada pada jarak yang bahkan membuat para astronom menggelengkan kepala.

Simulasi menunjukkan kebutuhan energi bisa meningkat menjadi:

50–100 gigawatt per teleportasi.

Setara konsumsi listrik beberapa negara kecil sekaligus.

Michael menatap hasil itu cukup lama sebelum akhirnya berkata,

"Kita membutuhkan sumber energi baru."


---

Malam itu, ia menghubungi kantor pusat NASA.

Permintaannya singkat.

"Kirimkan reaktor tenaga nuklir portabel generasi terbaru."

Jawaban yang diterima bahkan lebih singkat.

"Apakah Anda serius?"

Michael hanya menjawab:

"Sangat serius."


---

Namun masalah baru muncul.

Dua hari kemudian pasar keuangan Amerika mendadak bergejolak.

Saham perusahaan energi naik tajam.

Saham perusahaan antariksa melonjak.

Perusahaan teknologi teleportasi yang bahkan belum ada mendadak menjadi bahan spekulasi.

Seseorang telah membocorkan sesuatu.

Tidak lengkap.

Tidak detail.

Tetapi cukup untuk memicu imajinasi pasar.

Headline media mulai bermunculan.

"NASA Diduga Terlibat Proyek Transportasi Antarplanet."

"Teknologi Teleportasi Bisa Mengubah Industri Antariksa."

"Apakah Roket Akan Menjadi Usang?"


---

Keesokan harinya Michael berdiri di depan puluhan wartawan.

Konferensi pers dadakan itu disiarkan langsung ke berbagai negara.

Seorang reporter dari [CNN](https://www.cnn.com?utm_source=gopaan.com) mengangkat tangan terlebih dahulu.

"Michael, apakah benar NASA sedang mengembangkan teknologi teleportasi bersama perusahaan swasta di Asia?"

Michael tersenyum tipis.

"Saya tidak dapat mengomentari proyek penelitian yang masih berada dalam tahap eksperimen."

"Jadi itu bukan bantahan?"

"Itu bukan konfirmasi."

Beberapa wartawan tertawa kecil.

Reporter CNN melanjutkan.

"Apakah teknologi tersebut dapat menggantikan roket?"

Michael menjawab tenang.

"Sampai hari ini, roket masih merupakan cara paling andal untuk menjangkau luar angkasa."

"Lalu mengapa ada laporan bahwa NASA mengalokasikan dana baru untuk proyek energi ekstrem?"

Michael berhenti sejenak.

"Karena penelitian ilmiah membutuhkan energi."

"Itu berlaku sejak sebelum manusia mendarat di bulan."


---

Giliran reporter dari [Metro TV](https://www.metrotvnews.com?utm_source=gopaan.com) mengangkat tangan.

"Apakah kerja sama dengan PT Sinar Ultraviolet di Indonesia benar adanya?"

Michael tersenyum lagi.

"Kami bekerja sama dengan banyak institusi penelitian di berbagai negara."

"Tetapi apakah benar mereka berhasil mengirim objek ke luar bumi?"

"Penelitian masih berlangsung."

"Apakah sudah ada manusia yang ikut dalam pengujian?"

Pertanyaan itu membuat beberapa pejabat NASA saling berpandangan.

Michael memilih jawabannya dengan hati-hati.

"Saya tidak akan membahas personel yang terlibat dalam penelitian eksperimental."

Reporter Metro TV belum menyerah.

"Jadi ada personel yang terlibat?"

Michael menghela napas kecil.

"Saya mengatakan saya tidak akan membahasnya."


---

Pertanyaan terakhir datang dari wartawan CNN.

"Apakah masyarakat dunia perlu bersiap menghadapi era baru transportasi?"

Michael terdiam cukup lama.

Kemudian ia menjawab sesuatu yang bahkan tidak ada dalam naskah resmi.

"Setiap generasi memiliki teknologi yang mengubah definisi jarak."

"Dahulu kapal layar."

"Kemudian kereta api."

"Pesawat."

"Internet."

Ia menatap kamera.

"Jika suatu hari manusia menemukan cara berpindah dari satu dunia ke dunia lain dalam hitungan detik, perubahan terbesar bukanlah pada teknologinya."

"Lalu apa?" tanya wartawan.

Michael tersenyum tipis.

"Cara manusia memahami tempatnya di alam semesta."

Di laboratorium PT Sinar Ultraviolet yang berjarak ribuan kilometer dari sana, Jatmika masih tertidur lelap.

Ia tidak tahu bahwa sementara dirinya beristirahat, dunia mulai mencium keberadaan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan.

Dan rahasia seperti itu, begitu bocor ke publik, biasanya tidak pernah bisa disimpan kembali.

03/09/25

Season 4 Jatmika & portal waktu


Ketika Kota Menjadi Gema

Jatmika dan John duduk di ruang tamu sederhana, layar holografis di dinding menampilkan linimasa yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti. Di sana, berita dan komentar bercampur, bukan lagi dibedakan antara fakta dan opini. Hashtag berganti setiap menit, tetapi intinya tetap sama: amarah kolektif yang menolak untuk diredam.

Semuanya berawal dari satu kalimat seorang anggota DPR, yang menantang rakyat dengan menyebut wacana pembubaran DPR sebagai “tolol.” Kalimat itu, dalam hitungan jam, berubah menjadi simbol kesenjangan: bukan sekadar jarak antara wakil dan rakyat, melainkan antara mereka yang bisa menertawakan kesulitan, dan mereka yang harus menanggungnya setiap hari.

Ketika rekaman anggota DPR berjoget-joget dalam sidang kenaikan gaji tersebar luas, resonansinya semakin keras. Gambar tubuh-tubuh yang bergoyang di ruang parlemen terasa seperti ejekan bagi jutaan orang yang sedang berjuang membeli beras dengan harga yang terus merangkak naik.

Jakarta pun meledak. Aksi protes di depan gedung DPR pada awalnya adalah upaya artikulasi, tetapi diabaikan. Anggota dewan memilih menghindar, sebagian besar meninggalkan negeri untuk “urusan dinas.” Kekosongan itu segera diisi oleh amarah. Rumah-rumah pejabat menjadi sasaran penjarahan—bukan sekadar mencari barang, melainkan membongkar simbol. Mobil polisi dibakar, jalanan penuh kepulan asap.

Puncaknya datang ketika sebuah mobil taktis Brimob melindas seorang pengemudi ojek daring. Rekaman itu menyebar dalam hitungan detik, dan dalam hitungan jam menjadi bahan bakar yang membuat demonstrasi menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Di laboratorium, notifikasi masuk ke sistem pusat teleportasi. Satu kalimat singkat:

“Semua operasi dibatalkan. Tunggu sampai keadaan stabil.”

Jatmika menatap layar itu lama, sebelum memandang John.

“Teknologi ini,” katanya pelan, “diciptakan untuk membuka dunia, bukan untuk melarikan diri darinya. Tapi hari ini, kita belajar bahwa dunia bisa menutup dirinya sendiri.”

Di luar, Jakarta masih bergemuruh. Namun gema itu bukan hanya suara demonstran, bukan hanya dentuman gas air mata. Itu adalah gema sebuah bangsa yang tengah mencari titik teleportasinya sendiri: bukan ke ruang lain, tetapi ke masa depan yang berbeda.

---

Sinkronisasi yang Hilang

Malam itu, ketika Jakarta masih bergetar oleh gema demonstrasi, John duduk di beranda rumah Jatmika. Lampu jalan berkelip, seakan ikut goyah oleh ketidakpastian. Ia menyalakan sebatang rokok, menarik dalam-dalam, lalu berkata seolah kepada dirinya sendiri:

“Teleportasi tidak pernah benar-benar gagal karena teknologinya,” ujarnya lirih. “Yang membuatnya gagal adalah ketika sinkronisasi tidak tercapai. Tubuh, pikiran, dan medan energi harus selaras. Begitu salah satu keluar jalur, hasilnya bisa fatal—seseorang bisa hilang di tengah perpindahan, atau muncul kembali tidak utuh.”

Ia berhenti sejenak, memperhatikan layar holo yang masih menampilkan potongan-potongan video kerusuhan.

“Negara ini,” lanjutnya, “tidak jauh berbeda. Energinya besar, rakyatnya luar biasa. Tapi kalau frekuensi antara pemimpin dan rakyat tidak pernah sinkron, apa yang terjadi? Kita melihatnya sekarang: pecahnya struktur, chaos yang tak bisa dihentikan hanya dengan perintah.”

Jatmika tidak langsung menjawab. Baginya, kata-kata John bukan sekadar renungan, melainkan hipotesis sosial yang bisa diuji. Ia tahu benar bahwa teleportasi hanyalah alat—cermin yang memperlihatkan bagaimana manusia mengelola kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Keesokan harinya, meski laporan pembatalan operasi sudah jelas, Jatmika tetap datang ke kantor. Bukan untuk menentang keadaan, melainkan karena keyakinan bahwa teknologi tidak boleh ikut lumpuh oleh politik. Bersama ketua tim sepuluh, ia mengaktifkan kembali artefak lampu di ruang laboratorium. Proses teleportasi dijalankan dengan hati-hati, bukan untuk mengangkut orang, melainkan untuk mengamankan temuan yang telah dikumpulkan di titik-titik gua.

Kotak-kotak besi dibawa ke hadapan mereka, masing-masing berisi benda yang lebih menyerupai teka-teki daripada harta karun: zirah besi yang meski berkarat masih terasa berat dengan makna, tongkat kayu dengan batu delima merah yang berkilau dari dalam, lemari tua penuh pedang yang bilahnya seakan masih haus medan perang.

Namun perhatian Jatmika tertuju pada satu benda: sebuah keris yang disimpan dalam kotak besi berlapis segel. Kotak itu bukan sekadar wadah, melainkan penjara yang dibuat agar sesuatu tetap terikat.

Jatmika menyentuh permukaan kotak itu. Dingin, namun berdenyut halus, seolah ada nadi yang masih bekerja di dalamnya.

“Kalau teleportasi bisa gagal karena sinkronisasi yang hilang,” katanya pelan, “saya bertanya-tanya: benda ini… apakah ia pernah menjadi pusat dari sinkronisasi sebuah kerajaan? Dan kalau dulu sempat hilang, apa itu yang membuat mereka runtuh?”

John hanya menatap, rokoknya telah padam. Ia tahu, seperti halnya pada masyarakat, ada kekuatan yang jika tidak diseimbangkan akan memecah belah—baik manusia maupun sejarahnya sendiri.

Dan malam itu, di dalam laboratorium yang hening, pertanyaan itu menggantung di udara: apakah keris itu sekadar artefak, ataukah ia masih mencari keseimbangan yang hilang?

---

Kotak yang Kosong

Laboratorium telah sunyi. Hanya dengungan generator dan suara jarum jam dinding yang terdengar, beradu dengan kilau redup lampu neon. Para karyawan sudah pulang, menyisakan tiga orang: Pak Toni, Jatmika, dan John. Mereka duduk di meja panjang, dikelilingi tumpukan berkas laporan serta grafik kerugian akibat penundaan jadwal teleportasi.

“Semoga pemerintah cepat menyelesaikan tuntutan massa,” kata Pak Toni, memijit pelipisnya. “Kalau ekonomi tetap lumpuh, tidak ada artinya kita melanjutkan proyek ini. Semua orang sibuk dengan urusan perut.”

John, yang sejak tadi diam, menggeser pandangannya ke kotak besi di pojok meja. Kotak itu tampak tak asing, seolah ada gravitasi tersendiri yang menarik matanya. “Bagaimana kalau,” katanya hati-hati, “kita periksa isi kotak itu? Kerisnya mungkin menyimpan jawaban—atau setidaknya, petunjuk—tentang asal mula semua ini.”

Pak Toni menatapnya, awalnya ingin menolak, tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari kehati-hatian. “Mungkin kau benar,” gumamnya.

Jatmika mengangguk pelan. Ia mendekat ke kotak besi itu. Tidak ada kunci, tidak ada engsel. Hanya sebuah gambar samar di permukaan, terbuat dari debu magnetik yang menempel seperti ukiran hidup. Ia teringat pada pelajaran singkat dari Wen Shuyuan tentang segel kuno: gambar tidak hanya lambang, tapi juga perintah.

Dengan tangan gemetar, Jatmika menarik sebatang besi tipis, lalu menggambar pola segel di atas permukaan kotak. Goresannya menggetarkan butiran debu magnetik, membentuk simbol yang berdenyut seakan mengenali maksudnya.

Terdengar bunyi mekanis—klik, klik, klik—suara tua seperti gigi roda yang lama tak bergerak. Kotak itu bergetar, lalu perlahan membuka.

Mereka bertiga menahan napas.

Namun di dalamnya: kosong.

Bukan keris, bukan batu permata, bukan benda apapun yang mereka harapkan. Hanya ruang hampa berlapis beludru hitam, seakan keris itu pernah ada namun telah meninggalkan jejaknya.

John melangkah mundur. “Apa… ada yang salah dengan segelnya?”

Jatmika menggeleng, wajahnya kaku. “Tidak. Segelnya bekerja. Mekanisme kotak terbuka sempurna. Yang aneh adalah…” Ia berhenti, suaranya merendah, “…jejak energi masih ada.”

Pak Toni menyentuh bagian dalam kotak. Ujung jarinya merasakan getaran halus, bukan dingin logam melainkan sisa panas, seakan sesuatu baru saja menghilang sesaat sebelum kotak itu dibuka.

“Kerisnya tidak hilang,” bisik Jatmika akhirnya. “Ia berpindah. Entah ke mana.”

Hening turun, lebih berat dari sebelumnya. Rasanya seperti mereka bukan membuka kotak, melainkan membuka ruang kosong di dalam sejarah.

Pak Toni mencoba menertawakannya, tapi tawanya tidak berhasil menutupi ketakutan yang tumbuh. “Kalau keris bisa berpindah sendiri, berarti kita bukan hanya berurusan dengan mesin teleportasi. Kita berurusan dengan sesuatu yang memilih ke mana ia akan pergi.”

John menatap kotak yang kini terbuka, seperti menatap mulut gua gelap yang tak berujung. “Atau sesuatu… yang menunggu saatnya untuk kembali.”

Laboratorium terasa lebih dingin. Dan untuk pertama kalinya, mereka bertiga merasa bahwa teknologi teleportasi hanyalah gerbang kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang mungkin tidak bisa mereka kendalikan.

Layar yang Menyimpan 17+8 Tuntutan

Di ruang tamu sederhana itu, televisi menyala tanpa jeda. Gambar dari gedung DPR di Jakarta terpampang: ribuan orang memadati jalan, suara lantang influencer bercampur dengan gema pengeras suara. Jatmika dan John duduk bersebelahan, masing-masing memegang cangkir kopi yang sudah dingin.

Narasi berita beralih ke infografik: “Tuntutan 17+8 Rakyat.”
Tulisan itu tampil dengan huruf tebal, dibagi menjadi dua bagian: jangka pendek, jangka panjang.

John menyipitkan mata. “Lucu, bukan? Ini seperti daftar bug dalam sebuah sistem. Ada yang harus diperbaiki segera, dan ada yang perlu patch besar di versi berikutnya.”

Jatmika tersenyum samar, meski matanya tetap terpaku pada layar. “Bedanya, bug dalam sistem hanya memengaruhi program. Bug di sini menyentuh kehidupan nyata: harga beras, ongkos rumah sakit, masa depan orang-orang yang bahkan tak pernah tahu apa itu teleportasi.”

Satu per satu poin dibacakan: tim investigasi independen, penghentian kriminalisasi, audit harta DPR, reformasi partai, revisi pajak, perlindungan buruh, penegakan HAM.

“Ini peta jalan,” kata Jatmika pelan. “Bukan sekadar tuntutan. Jika dipenuhi, ia bisa memperbaiki jaringan kepercayaan yang sekarang retak.”

John menambahkan, “Tapi seperti teleportasi—energi harus seimbang. Kalau satu titik menyerap terlalu banyak tekanan, jaringan bisa runtuh. Demo ini… adalah uji sinkronisasi sosial. Kalau gagal, konsekuensinya chaos.”

Hening sebentar. Hanya suara reporter yang terus membacakan poin-poin, seperti mantra modern: reformasi DPR, perbaikan pajak, penguatan KPK.

Di luar rumah, dunia tetap berjalan. Motor lewat, suara anak kecil bermain, aroma gorengan dari warung tetangga. Tapi mereka berdua tahu: keseharian itu rapuh.

Jatmika menegakkan duduknya. “Semoga pemerintah bisa menanggapi dengan bijak. Kalau tidak, teleportasi bukan halangan. Yang runtuh duluan bukan teknologi, tapi fondasi kepercayaan.”

John tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, menatap layar yang masih memancarkan daftar 17+8 itu—sebuah algoritma politik yang menunggu untuk dijalankan.

Mimpi Keris

Televisi masih menyala, menampilkan gambar demonstrasi yang berulang seperti loop tak berkesudahan. Jatmika dan John tertidur di sofa, cahaya layar membias pada wajah mereka yang lelah.

Dalam tidurnya, Jatmika berada di ruang asing. Kotak besi yang pernah ia buka kini hadir kembali, seolah tak pernah disentuh. Ia melihat keris itu jelas: bilahnya hitam berkilau, gagangnya terukir halus. Saat tangannya menyentuh, seketika tubuhnya tersentak. Rasa nyeri itu bukan sekadar sakit—lebih mirip aliran listrik yang memaksa masuk, menembus tulang dan syaraf.

Ia berteriak, mencoba melepaskan, namun keris itu menempel erat, seakan menolak dipisahkan.

Lalu, sosok muncul: seorang pria berjubah kerajaan, wajahnya teduh, matanya mengandung sejarah yang terlalu panjang untuk diukur dengan tahun.

“Tenanglah,” ujarnya lembut. Suaranya menenangkan, seperti gema yang berasal dari dua arah: masa lalu dan masa depan.

“Aku Isidore.”

Senyumnya menyingkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar perkenalan.

“Keris itu masih ada. Tapi bukan di sini. Ia tersimpan di pusat persenjataan kerajaan Mythopia. Hanya keturunan Mythopia yang dapat melangkah ke sana. Dan kau, Jatmika, harus datang sendiri.”

Dengan gerakan tangannya, Isidore menunjukkan gambaran sebuah gua. Pintu segel terbuka perlahan, cahaya matahari menembus dari balik celah batu. Ada jalan setapak yang dilingkupi kabut putih.

“Jangan keluar dari kabut itu,” katanya. “Kabut adalah penuntun sekaligus pelindung. Ikuti jalan sampai kau tiba di gua berikutnya. Di sana, segel akan membawamu pada keris yang sesungguhnya.”

Semua itu terasa nyata. Terlalu nyata untuk sekadar mimpi.

Jatmika terbangun dengan keringat dingin, televisi masih menyala dengan suara pelan. Ia segera mematikannya, lalu duduk dalam gelap. Nafasnya masih berat, tapi pikirannya jernih.

Apakah ini sekadar bunga tidur? pikirnya. Atau pesan yang memang ditujukan kepadaku?

Ia menyadari satu hal: ia belum pernah melihat pria bernama Isidore itu sebelumnya. Dan justru karena itu, kata-kata dalam mimpi itu terasa lebih kuat daripada sekadar khayalan.

Pertanyaan menggantung di udara kamar:
Apakah aku harus mencarinya sendiri?




Keesokan harinya, di ruang laboratorium yang penuh dengan dengung mesin, Jatmika berdiri di depan Ny. Tien—sebuah program AI yang suaranya tenang, nyaris terlalu manusiawi untuk disebut buatan. Ia meminta agar lokasi yang diduga sebagai pintu menuju Istana Mythopia diperiksa. Ny. Tien, dengan kecermatan dingin, menampilkan hasil: lima gua, masing-masing di Gunung Lawu, Merbabu, Dempo, Gede, dan Kerinci. Semua memiliki ciri yang mirip dengan apa yang Jatmika lihat dalam mimpinya: jalan berkabut, samar, seakan menanti untuk ditafsirkan.

“Teleportasikan aku ke sana,” ucap Jatmika akhirnya, meski dalam hati ia masih ragu apakah ini langkah yang benar, atau sekadar pengejaran terhadap sesuatu yang barangkali tak pernah nyata.

Setelah mengenakan baju pelindung dan menegakkan bahunya, ia menyatakan siap. Ny. Tien menghitung mundur. Dari artefak lampu, cahaya emas merekah, berganti merah, lalu putih. Kilatan listrik menyambar, dan dalam sekejap tubuh Jatmika lenyap dari laboratorium.


Ia tiba di gua Gunung Lawu. Hening, dingin, hanya gema langkahnya yang menemani. Ia menelusuri lorong, menemukan sebuah pintu, lalu menggambar segel persis seperti dalam mimpinya. Pintu itu membuka ke jalan berkabut. Ia mencoba menapaki jalan itu, kabut putih menggulung pelan di sekelilingnya. Ia berjalan lama, tanpa tahu arah. Tak ada pintu gua lain, tak ada tanda kehidupan. Hanya kesunyian. Dengan hati berat, ia memutuskan kembali.

Satu per satu gua lain ia coba—Merbabu, Dempo, Gede—namun semuanya hanya memberi jalan yang buntu. Hingga akhirnya, ia tiba di Gunung Kerinci.

Kali ini, ia mencoba mengingat dengan sungguh-sungguh: dalam mimpi, ia diperintah agar mengikuti jalan berkabut, jangan pernah keluar darinya, atau ia akan tersesat. Ia melangkah, kabut terasa lebih padat, seakan berlapis-lapis, namun jalan setapak tetap tampak samar. Hingga akhirnya ia tiba pada sebuah tebing batu, buntu, seolah perjalanan berakhir di sana.

Dengan tangan gemetar, ia menggambar segel kunci di papan batu menggunakan debu magnetik. Pintu pun terbuka, dan jantungnya berdetak keras ketika cahaya menyemburat.


Di dalam gua itu, tumpukan koin emas dan cawan-cawan berkilau menyambutnya. Namun ia hanya menatap sekilas; benda-benda itu, betapapun mewah, terasa hampa. Ia tahu, ia sedang mencari sesuatu yang lain.

Di sisi ruangan, ia menemukan sebuah lemari buku kuno. Lembaran-lembaran di dalamnya memuat peta gua dalam bahasa asing yang tampak terlalu tua untuk dikenali. Ada pula silsilah kerajaan Mythopia, nama-nama yang asing sekaligus samar, seakan sebagian dari dirinya pernah mendengarnya dalam bisikan. Batu-batu biru di dinding gua menyala perlahan, memantulkan cahaya dingin ke wajahnya.

Tiba-tiba, terlintas pikiran yang menusuk: hanya keturunan Mythopia yang bisa memegang keris itu. Ia tak pernah benar-benar mengenal ayahnya, apalagi kakeknya. Jika ia benar keturunan raja, mungkinkah hidupnya sejak dulu tak seharusnya sesulit ini? Ia menggigit bibir, menahan getir, lalu bergumam dalam hati: mungkin aku memang orang asing di tanahku sendiri.


Di ujung ruangan, sebuah lemari besi besar berdiri. Dengan ragu ia membukanya. Di dalam, ada sebuah kotak bersegel. Ia membuka kotak itu, dan mendapati sebuah cincin berukir, dihiasi batu merah delima yang tampak terlalu murni untuk dunia ini.

Ia mengangkat cincin itu, lalu—tanpa banyak pertimbangan—mencoba menyelipkannya di jarinya.

Sekejap, cincin itu menyala merah. Panasnya menusuk, ruangan bergetar, cahaya di dinding berubah liar. Atmosfer menjadi mencekam, seolah ada sesuatu yang baru saja terbangun. Jatmika panik, berusaha mencabut cincin itu, namun cincin melekat erat, tak mau lepas.

Saat itu juga, sebuah tongkat melayang dari kejauhan, terhenti di depan dirinya. Refleks, ia meraihnya, seolah tangannya digerakkan oleh kehendak lain.

Lalu, dari kegelapan, sebuah keris melesat cepat. Jatmika berteriak, tubuhnya mencoba mundur, tapi bilah itu berhenti tepat di depan tangannya, bergetar perlahan.

Untuk sesaat, dunia terasa membeku. Ia tak tahu apakah ia baru saja dipilih… atau dikutuk.





Keris itu berhenti di udara, persis di depan tangannya. Untuk beberapa saat, Jatmika hanya menatapnya, seakan bilah itu menatap balik, menimbang apakah ia layak. Lalu, tanpa benar-benar berniat, tangannya bergerak. Jari-jarinya meraih gagang keris itu.

Sekejap, tubuhnya seperti dihantam arus listrik. Nyeri menjalar, tajam dan panas, menyusuri setiap saraf. Ia ingin melepaskannya, tapi keris itu menempel, seolah melekat pada kulit dan tulangnya.

“Tidak… seharusnya bukan aku,” bisiknya lirih, setengah memohon. Namun genggaman itu tak bisa lepas.

Rasa sakit semakin menghancurkan. Lututnya goyah. Ia jatuh terduduk, lalu bersujud, dahi menempel pada batu yang dingin. Sakit itu berubah jadi gelombang, menelan kesadarannya. Hingga akhirnya gelap.


---

Di dalam kegelapan, sebuah medan pertempuran terbentang. Ia melihat para ksatria berdiri berbaris, tongkat-tongkat mereka menyala dengan api. Di depan mereka, prajurit-prajurit biasa mengangkat tombak, melemparkan panah, bahkan mencoba menjerat monster itu dengan tali yang tampak rapuh.

Makhluk yang mereka hadapi… raksasa bertangan sepuluh, setiap tangan menggenggam senjata, bergerak dengan kekejaman yang sulit dipahami. Setiap kali satu prajurit mencoba mendekat, satu lengan mengayun, dan tubuh manusia itu terpotong, lenyap begitu saja dari dunia.

Para ksatria berusaha menahan, api dari tongkat mereka melesat, membakar kulit raksasa itu. Dan Jatmika—atau mungkin seseorang yang mirip dirinya—menerjang ke depan, keris di tangan, bilahnya berkilat dengan cahaya aneh. Ia menusuk, menggores kulit keras monster itu, meninggalkan luka yang tak sembuh.

Namun raksasa itu seolah tak pernah kehabisan kekuatan.

Lalu, ksatria yang memegang keris itu mengangkat tinggi bilahnya, membelah udara. Dari sana, sinar putih muncul, begitu terang hingga menyilaukan segala yang ada. Sesaat kemudian, sosok ksatria itu lenyap, menghilang dari pandangan.


---

Jatmika terbangun dengan napas terengah. Keringat membasahi tubuhnya, dan keris itu masih ada, melekat di tangannya. Rasanya dingin sekarang, bukan panas. Tapi dingin itu pun membawa beban, seolah-olah ia telah diwarisi sesuatu yang tak pernah diminta.

---

Di kantin PT. Sinar Ultraviolet, para karyawan berkerumun di depan televisi yang terus menyiarkan berita siang itu. Suasana hening, hanya suara penyiar yang terdengar jelas, menyebut satu per satu nama menteri yang diganti.

Sri Mulyani digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa.
Budi Gunawan diberhentikan dari posisinya.
Abdul Kadir Karding digantikan oleh Mukhtarudin.
Budi Arie Setiadi oleh Ferry Juliantono.
Dan Dito Ariotedjo, Menteri Pemuda dan Olahraga, juga harus meninggalkan jabatannya.

Ada pula kementerian baru yang diumumkan: Kementerian Haji dan Umrah, dengan Mochamad Irfan Yusuf sebagai menteri dan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya.

Namun, yang paling banyak dibicarakan bukanlah mereka yang diganti, melainkan seorang yang tetap dipertahankan. Raja Juli Antoni, meskipun sempat menjadi sorotan publik setelah foto dirinya bermain domino dengan Abdul Kadir Karding dan seorang mantan tersangka pembalakan liar beredar luas, tidak tersentuh dalam reshuffle. Presiden Prabowo, dengan alasan yang tak sepenuhnya jelas, memilih untuk mempertahankannya. Disebutkan, Raja Juli Antoni telah meminta maaf langsung, berjanji akan lebih berhati-hati ke depan.

Karyawan di kantin saling berbisik, ada yang menggeleng, ada pula yang tertawa hambar. Seakan semua ini hanyalah babak lain dari sebuah pertunjukan panjang yang tak pernah usai.

Di saat yang sama, John berjalan dari lorong ke lorong, mencari Jatmika yang sejak pagi tak terlihat. Ada kegelisahan kecil dalam dirinya, meski ia tak mau menunjukkannya terang-terangan. Ia baru kemudian mendengar kabar: Jatmika tidak berada di kantin, tidak pula di ruang-ruang kantor biasa.

Ia sedang berada di laboratorium. Sendirian, dengan pakaian pelindung menyerupai baju astronot, ia tengah berhadapan dengan sesuatu yang tak dapat disaksikan orang lain di gedung itu: sebuah keris mistis, yang muncul seolah dari masa lalu, membawa beban rahasia yang jauh lebih besar daripada berita reshuffle apa pun.

Dan entah bagaimana, John merasakan bahwa apa yang sedang dipegang Jatmika di ruang sepi itu, kelak akan lebih menentukan masa depan mereka daripada semua nama menteri yang disebutkan di layar televisi siang ini.


Kantin sore itu penuh sesak, tapi suasananya bukanlah keriuhan biasa. Televisi masih menayangkan berita reshuffle kabinet, sementara piring-piring di meja dipenuhi nasi setengah habis, lauk yang dingin, dan gelas kopi yang dibiarkan basi.

John duduk di ujung meja, bersama dua karyawan yang ia kenal sekadarnya: Bima, dari divisi logistik, dan Lestari, staf administrasi.

“Rasanya semua ini hanya perombakan nama, bukan?” kata Bima pelan, seakan takut televisi bisa mendengarnya. “Menteri diganti, tapi harga beras masih sama saja.”

Lestari mengangguk, tangannya memainkan sendok tanpa selera. “Orang-orang di luar sana sudah marah. Kita di sini hanya menonton saja, seperti penonton teater. Tapi... mau bagaimana lagi?”

John tersenyum kaku. Ia menanggapi seadanya, menjaga nada suaranya agar tetap datar. “Mungkin saja ada maksud besar yang tidak kita mengerti sekarang. Tapi, ya, bagi kebanyakan orang, hari ini terasa sama saja.”

Mereka bertiga terdiam. Hanya suara televisi yang memecah kesunyian, menyebut nama-nama menteri dengan intonasi yang dingin.

Dalam hati, John merasakan perbedaan yang jelas: bagi karyawan lain, yang nyata adalah reshuffle itu. Tapi bagi dirinya, yang nyata justru sesuatu yang tersembunyi di ruang laboratorium.


---

Di ruang laboratorium, Ny. Tien—sebuah program AI yang menjelma dalam bentuk proyeksi cahaya—memeriksa tubuh Jatmika. Artefak lampu di dekatnya menyala berlapis-lapis warna: keemasan, kebiruan, lalu hijau. Sinar itu menelusuri tubuh Jatmika, seakan membaca setiap denyut jantung, setiap impuls saraf, hingga setiap kerutan di wajahnya.

“Secara fisik, Anda baik-baik saja,” ujar suara Ny. Tien, jernih tapi tanpa emosi. “Hanya ada sedikit gangguan pada pola gelombang otak Anda. Indikasi trauma kognitif ringan, kemungkinan akibat interaksi dengan pusaka.”

Jatmika mengangguk perlahan. Tubuhnya memang tidak terasa sakit, tapi dalam dirinya masih ada sisa ketakutan yang sulit dijelaskan. Ia melepas cincin dengan batu merah itu, meletakkannya kembali ke dalam kotak besi bersama keris dan tongkat.

“John,” katanya lirih, ketika sahabatnya datang. “Aku... melihat sesuatu.”

John menatapnya, menunggu tanpa mendesak.

“Aku melihat pertempuran besar,” Jatmika melanjutkan. “Ksatria-ksatria, prajurit, semua melawan makhluk raksasa bertangan sepuluh. Mereka menggunakan senjata yang tak masuk akal, cahaya, api... dan keris ini. Seolah benda itu menyimpan memori yang lebih tua dari sejarah yang kita tahu.”

John menarik kursi, duduk di sampingnya. Ia mendengarkan dengan tenang, meski dalam hatinya ada rasa ngeri yang perlahan merayap.

“Dan kau yakin itu bukan hanya ilusi?” tanyanya hati-hati.

Jatmika menunduk. “Aku tidak yakin. Tapi rasanya terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Dan... aku takut. Benda ini mungkin tidak sekadar pusaka. Ia membawa kita ke sesuatu yang lebih besar dari yang bisa kita tanggung.”

John menatap kotak besi di meja, teringat percakapan kecil di kantin barusan—tentang harga beras, tentang reshuffle menteri. Ia sadar, dunia di luar sana mungkin sedang sibuk dengan urusan politik, tapi di dalam ruangan ini, mereka berdua sedang berhadapan dengan sejarah yang bisa meruntuhkan segalanya.

---

Televisi nasional sore itu menyiarkan berita dengan suara yang datar namun tegas, seolah segala yang disampaikan hanyalah bagian dari urutan yang sudah lama direncanakan. Nama Purbaya disebut berulang, diiringi tayangan angka dan grafik yang bergerak pelan di sudut layar.

Pertama, pembawa berita menyebut pencairan blokir anggaran kementerian dan lembaga: Rp168,5 triliun telah dibuka dari total blokir Rp256,1 triliun per 22 September 2025. Dana itu, katanya, dimaksudkan untuk program yang dianggap prioritas—pencetakan sawah baru, sarana pendidikan, dan kebutuhan operasional instansi. Di layar, angka-angka itu berganti begitu cepat hingga hampir tak sempat dicerna.

Kemudian, ada kebijakan lain yang terasa lebih berani. Rp200 triliun dipindahkan dari Bank Indonesia ke enam bank milik negara. Tujuannya sederhana dalam kata-kata, meski terasa raksasa dalam praktik: agar uang yang selama ini diam di bank sentral kembali beredar, mengalir ke sektor riil.

Purbaya, dalam potongan wawancara yang singkat, menegaskan pemisahan tegas antara kebijakan fiskal dan moneter. Tidak ada yang mendominasi, katanya. Keduanya harus tetap berdiri sendiri, sekalipun saling menyesuaikan. Kata-kata itu melayang di udara seperti jembatan yang belum tentu membawa ke mana-mana.

Perbedaan arah dibanding pendahulunya pun tak terelakkan. Tidak ada wacana tax amnesty. Sebaliknya, sistem coretax akan diperkuat, agar penerimaan pajak berjalan lebih rapi, lebih efisien. Langkah-langkahnya disebut “agresif” dan “pragmatis”, berbeda dari pendekatan Sri Mulyani yang lebih berhati-hati.

Di kantor pusat, John menonton tayangan itu dengan wajah yang sulit ditebak. Ia menyesap kopi yang sudah dingin, sementara kata-kata sang penyiar seolah hanya menambah lapisan ketidakpastian di pikirannya. “Ekonomi mulai bergerak ke arah yang lebih baik,” katanya akhirnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Pak Toni, yang duduk tak jauh darinya, mengangguk pelan. “Mungkin sudah waktunya kita membuka kembali operasional perusahaan,” ucapnya, seolah menimbang beban di setiap kata.

Tak lama kemudian, rombongan bus dari Jakarta tiba. Orang-orang turun satu per satu, sebagian menatap sekeliling dengan ragu, sebagian lain membawa semangat yang hampir berlebihan. Mereka datang untuk mencoba teleportasi, teknologi yang selama ini hanya menjadi cerita sains di tepi berita ekonomi.

Tim yang telah dilatih Jatmika bergerak cepat. Mereka sudah hafal setiap langkah, setiap protokol. Di atas semua itu, Ny. Tien—Navigasi Yakin Teleportasi Instan Energi Nusantara—mengawasi. Program AI itu memandu proses dengan suara yang lembut tapi mutlak, seperti petunjuk dari sesuatu yang jauh lebih tua dari sekadar mesin.

John berdiri di sudut ruangan, memperhatikan lampu-lampu indikator yang bergantian menyala. Di luar, dunia masih sibuk membicarakan triliunan rupiah dan kebijakan baru. Di dalam sini, mereka bersiap memindahkan tubuh manusia melintasi ruang, seolah angka-angka di televisi hanyalah riak kecil di permukaan samudra yang jauh lebih luas.


---