03/07/26

Season 11 Kerajaan mythopia

Chapter 102 Kepulangan Sang Pendekar Bayangan

Enam hari dan enam malam telah berlalu tanpa jeda.

Di antara kabut lembah, hutan yang sunyi, dan jalan panjang yang tak berujung, sang Pendekar Bayangan terus berlari membawa satu amanat penting. Tubuhnya telah letih, napasnya berat, namun tekadnya tidak pernah padam.

Akhirnya, ketika cahaya matahari pagi menyentuh puncak Bukit Kemuning, sosoknya muncul di hadapan gerbang perkemahan.

Para penjaga yang melihat kedatangannya segera memberi jalan.

Di tempat itu, Putri Dyah Sekar Tanjung telah menunggu dengan penuh kecemasan. Bersamanya berdiri Lembayung Ardani, Pujeng Rarasati, Rakai Jaya Langgana, dan Paman Hanggara.

Pendekar Bayangan menundukkan kepala dengan hormat.

> “Ampun, Tuan Putri. Hamba telah kembali membawa kabar dari perjalanan.”



Putri Dyah Sekar Tanjung melangkah maju.

> “Katakanlah. Bagaimana keadaan mereka?”



Pendekar Bayangan menarik napas sejenak.

> “Misi berhasil, Tuan Putri. Tuan Isidore dan para ksatria Mythopia telah menerima obat yang tuan putri kirimkan. Luka mereka telah pulih, dan mereka kembali mendapatkan kekuatan mereka.”



Wajah Putri Dyah Sekar Tanjung tampak lega.

Lembayung Ardani tersenyum bahagia sambil menatap langit.

> “Syukurlah... semoga para ksatria agung itu selalu berada dalam lindungan para leluhur. Aku sungguh ingin bertemu mereka kembali. Rasanya sudah lama sekali sejak cahaya mereka menerangi medan pertempuran.”



Pujeng Rarasati yang biasanya tenang menundukkan wajahnya.

Ada senyum kecil di bibirnya.

> “Aku pun merasakan hal yang sama...”



Lembayung menoleh penasaran.

> “Kau merindukan mereka juga?”



Pujeng Rarasati tersipu kecil.

> “Mungkin... aku hanya merasa perjalanan mereka belum selesai. Dan entah mengapa, hatiku berharap suatu hari nanti kita akan mendengar kisah mereka lagi.”



Sebelum percakapan berlanjut, terdengar kepakan sayap dari atas.

Seekor merpati putih turun membawa gulungan kecil.

Rakai Jaya Langgana mengambil surat itu dan membukanya perlahan.

Namun seketika wajahnya berubah serius.

> “Tuan Putri... ini surat dari kerajaan Majapahit.”



Putri Dyah Sekar Tanjung mendekat.

Rakai Jaya Langgana membaca isi surat tersebut.

> “Sudah sebulan semenjak kepergianmu dari istana, putriku. Ayahanda kini jatuh sakit keras. Dalam tidurnya, namamu terus dipanggil. Pulanglah segera sebelum waktu membawa kita pada perpisahan yang tidak diinginkan.”



Suasana menjadi hening.

Angin bukit berhembus pelan.

Paman Hanggara maju dengan wajah penuh kekhawatiran.

> “Tuan Putri... sudah waktunya kita kembali. Ayahandamu membutuhkanmu. Tidak ada seorang anak pun yang ingin terlambat memberikan pelukan terakhir kepada orang tuanya.”



Putri Dyah Sekar Tanjung terdiam.

Matanya memandang jauh ke arah pegunungan tempat Isidore berada.

Dalam hatinya masih tersimpan kenangan tentang ksatria muda itu—tentang keberaniannya, kebaikannya, dan cahaya yang terpancar dari dirinya.

Namun akhirnya ia menarik napas panjang.

> “Baiklah... kita akan kembali ke Majapahit.”



Ia tersenyum lembut.

> “Tetapi perjalanan ini bukanlah akhir.”



Putri menggenggam hiasan kupu-kupu emas yang pernah ia berikan kepada Isidore.

> “Suatu hari nanti... aku percaya takdir akan mempertemukan kami kembali.”



Pendekar Bayangan menundukkan kepala.

> “Kami akan mengawal perjalanan tuan putri.”



Rombongan pun bersiap meninggalkan Bukit Kemuning.

Di balik kabut pagi, jejak mereka perlahan menghilang.

Namun jauh di dalam hati Putri Dyah Sekar Tanjung, sebuah harapan tetap menyala—

bahwa kisah antara sang putri dan ksatria Mythopia belum berakhir.

Chapter 103 — Hutan Kabut Jelangga

Di atas dahan tertinggi sebuah pohon beringin purba, duduk seekor makhluk yang belum pernah dicatat dalam kitab mana pun.

Tubuhnya menyerupai seekor kera putih, namun wajahnya adalah wajah seorang manusia. Matanya menyimpan kesedihan yang begitu dalam, sementara bulunya yang seputih salju berkilau diterpa cahaya senja.

Dialah Jelangga.

Air mata jatuh perlahan membasahi kulit kayu tempat ia duduk.

«"Mengapa aku dilahirkan berbeda..." bisiknya lirih.»

Ayah dan ibunya, kawanan kera penghuni hutan itu, telah mengusirnya. Mereka menganggap wajah manusianya sebagai kutukan para roh hutan. Sejak hari itu, Jelangga hidup sendirian, berteman hanya dengan angin dan kesunyian.

Namun kesepian itu tidak berlangsung lama.

Dari balik pepohonan, kabut putih perlahan mengalir, bukan tertiup angin, melainkan bergerak seolah memiliki kehendaknya sendiri.

Kabut itu kemudian membentuk sosok-sosok tinggi kurus dengan wajah manusia yang pucat. Mata mereka hitam legam tanpa cahaya, sementara tubuhnya hanyalah gumpalan kabut yang terus berubah bentuk.

Merekalah Wangkara.

Tanpa sepatah kata, mereka menghampiri Jelangga.

Makhluk-makhluk itu mulai berputar mengelilinginya, menari di antara cabang-cabang pohon yang menjulang tinggi. Jelangga ikut melompat dari dahan ke dahan sambil tertawa riang.

Akan tetapi...

Suara tawanya bercampur dengan isak tangis Wangkara.

Terdengar seolah seluruh hutan sedang tertawa dan menangis pada saat yang sama.

Semakin lama tarian itu berlangsung, semakin tebal kabut memenuhi seluruh rimba. Pepohonan menghilang ditelan putih kelabu, dan cahaya matahari lenyap seperti ditelan malam.

---

Di jalan setapak yang membelah hutan, rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung mendadak menghentikan langkah.

Kuda-kuda mereka meringkik gelisah.

Lembayung Ardani memeluk lengannya sendiri.

«"Putri... hutan ini terasa berbeda. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang memandang kita."»

Pujeng Rarasati mengangguk perlahan.

«"Kabut ini bukan kabut biasa. Ada roh-roh yang sedang bermain."»

Paman Hanggara menggenggam gagang pedangnya.

«"Semua tetap dalam formasi! Jangan ada yang berjalan sendirian!"»

Para Pendekar Bayangan segera bergerak ke depan, membentuk dinding pelindung mengitari sang putri.

Pada saat itulah...

Dari atas pohon terdengar suara tawa kecil.

Jelangga melihat sosok Putri Dyah Sekar Tanjung.

Matanya berbinar penuh kegembiraan.

«"Teman..."»

Dengan lompatan ringan, ia turun dari cabang pohon dan mendarat beberapa langkah di depan rombongan.

Ia tersenyum polos.

Tangannya terulur seperti seorang anak kecil yang hanya ingin mengajak bermain.

Namun para Pendekar Bayangan bergerak lebih cepat.

Mereka menghunus senjata dan berdiri di antara makhluk itu dengan sang putri.

Senyum Jelangga perlahan menghilang.

Kesedihan di matanya berubah menjadi amarah.

Tubuhnya mulai membesar.

Bulu putihnya berdiri tegak seperti hamparan salju yang diterpa badai.

Dalam beberapa helaan napas, sosok mungil itu telah menjelma menjadi raksasa setinggi pepohonan.

«DUUUM!»

Satu hentakan kakinya mengguncang bumi.

Tanah bergetar bagaikan diguncang gempa.

Pepohonan bergoyang keras.

Para prajurit kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah.

Belum sempat mereka bangkit...

Wangkara berdatangan dari segala penjuru.

Puluhan...

Ratusan...

Kabut putih pekat berputar mengelilingi mereka.

Dalam sekejap, seluruh hutan lenyap dari pandangan.

Langit tak lagi terlihat.

Pepohonan menghilang.

Jalan pulang pun sirna.

Suara satu sama lain terdengar jauh, seakan dipisahkan oleh dunia yang berbeda.

Paman Hanggara menggenggam pedangnya erat.

«"Jangan bergerak sembarangan!"»

Namun suaranya hanya bergema di dalam kabut.

Tak seorang pun tahu dari arah mana suara itu berasal.

Mereka telah memasuki wilayah Wangkara—

tempat di mana arah kehilangan makna, dan siapa pun yang lengah akan tersesat di antara kenyataan dan ilusi.
Chapter 104 Cerita Rangga wulung 

Api tungku penempaan masih menyala redup. Cahaya merahnya memantul pada senjata-senjata para ksatria yang baru selesai ditempa ulang oleh Rangga Wulung. Suasana di dalam gua menjadi hening ketika sang empu mengangkat pandangannya.

"Ada satu hal yang selama ini belum pernah kuceritakan kepada kalian," ucap Rangga Wulung perlahan.

Semua mata tertuju kepadanya.

Isidore melangkah mendekat.

"Apa itu, Guru Wulung?"

Rangga Wulung menarik napas panjang.

"Seribu tahun yang lalu... dunia pernah berada di ambang kehancuran."

Nyala api di tungku seakan ikut bergoyang ketika ia mulai berkisah.

"Musibah pertama datang bersama Nagagini, naga emas raksasa yang mengamuk tanpa sebab. Sayapnya menutupi langit, dan setiap kepakan membelah gunung. Sisiknya tak dapat ditembus baja biasa, sehingga seluruh ksatria Mythopia mengerahkan senjata-senjata pusaka terbaik yang pernah ditempa. Hanya senjata yang diberkati cahaya leluhur yang mampu membuat sang naga berlutut."

Para ksatria mendengarkan tanpa berkedip.

"Tetapi kemenangan itu hanya berlangsung sesaat."

Wajah Rangga Wulung menjadi muram.

"Belum sempat bumi pulih, muncullah Barong Lodra."

"Makhluk itu tidak menghancurkan kota dengan taring atau cakarnya."

"Ia membawa wabah."

"Udara berubah menjadi racun. Sungai-sungai menjadi keruh. Anak-anak, orang tua, bahkan para pendekar mulai tumbang satu demi satu. Para ksatria mampu mengalahkan monster, tetapi mereka tidak mampu menghentikan penyakit yang menjalar lebih cepat daripada pedang."

Surya Wikrama menundukkan kepala.

"Musuh yang tak terlihat... memang selalu yang paling menakutkan."

Rangga Wulung mengangguk pelan.

"Lalu datanglah malapetaka yang paling mengerikan."

Api di tungku tiba-tiba berdesis.

"Namanya... Kala Rambat."

Keheningan menyelimuti ruangan.

"Makhluk itu bukan sekadar raksasa atau iblis. Ia adalah penguasa aliran waktu."

"Di hadapannya, siang dapat berubah menjadi malam dalam sekejap. Seorang anak dapat menua menjadi renta hanya dalam satu helaan napas, sementara seorang ksatria dapat kembali menjadi bocah tanpa daya."

Isidore mengepalkan tangannya.

"Bagaimana para leluhur mengalahkannya?"

Rangga Wulung menggeleng perlahan.

"Itulah misteri terbesar sejarah."

"Tidak pernah ada kemenangan."

"Tidak pernah pula ada kekalahan."

"Seakan seluruh dunia... diulang kembali."

Semua yang hadir saling berpandangan.

"Peradaban lenyap."

"Kitab-kitab ilmu menghilang."

"Kota-kota runtuh."

"Nama para pahlawan terlupakan."

"Manusia kembali hidup seperti bayi yang baru mengenal dunia."

"Itulah yang oleh para leluhur disebut sebagai Titik Gelap Manusia."

Suara Rangga Wulung terdengar berat.

"Hingga hari ini, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa yang menghentikan Kala Rambat... atau apakah makhluk itu benar-benar telah dikalahkan."

Rakajati memejamkan mata, merasakan desir akar-akar bumi.

"Aku sependapat."

Ia membuka matanya perlahan.

"Makhluk-makhluk sebesar itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya."

"Selalu ada tangan yang menggerakkan mereka dari balik kegelapan."

Ucapan itu membuat semua ksatria terdiam.

Isidore memandang keris pusakanya.

"Apakah Rasvatar?"

Rangga Wulung menggeleng.

"Entahlah. Bahkan mungkin ada kekuatan yang lebih tua daripada Rasvatar."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Kemudian Rakajati menancapkan tongkat kayunya ke tanah.

Akar-akar pohon merambat perlahan, membentuk sebuah peta pegunungan di permukaan batu.

Salah satu akar berhenti pada sebuah gunung yang menjulang megah.

"Di sinilah jawaban berikutnya menunggu."

Rakajati menunjuk puncak itu.

"Gunung Merbabu."

"Di sana tertidur Arya Wiratma..."

"...Ksatria Agung Sang Perancang Strategi."

"Apabila benar musuh yang akan kita hadapi adalah kekuatan yang mampu mengguncang peradaban, maka pedang saja tidak akan cukup."

"Kita membutuhkan seseorang yang mampu melihat seratus langkah sebelum perang dimulai."

Surya Wikrama menghunus pedangnya yang memancarkan cahaya keemasan.

"Kalau begitu, jangan biarkan ia menunggu lebih lama."

Para ksatria bangkit serempak.

Isidore menggenggam keris pusakanya.

Tatapannya mengarah ke utara, ke puncak Gunung Merbabu yang menjulang di balik awan.

"Kalau begitu..."

"Kita berangkat membangunkan Arya Wiratma."