Di dalam ruang karantina, udara terasa lebih dingin daripada ruang laboratorium biasa. Dindingnya dilapisi panel logam putih dengan lampu biru lembut yang menyala stabil tanpa suara. Di sudut ruangan, beberapa alat pemindai milik NASA terus bergerak perlahan mengelilingi tubuh Jatmika, memancarkan cahaya hijau tipis seperti sedang membaca sesuatu yang berada di balik kulit manusia.
Seorang dokter wanita dari NASA memperhatikan layar datanya cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Jatmika duduk di tepi ranjang karantina. Ia tampak sehat, tetapi matanya menunjukkan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan hanya oleh perjalanan fisik.
“Aku sulit tidur,” jawabnya pelan.
Dokter itu mengangkat pandangan.
“Karena rasa sakit?”
Jatmika menggeleng.
“Karena mimpi.”
“Mimpi seperti apa?”
Jatmika terdiam beberapa saat, seolah berusaha menentukan apakah pengalaman itu pantas disebut mimpi.
“Aku terus melihat masa lalu,” katanya akhirnya. “Bukan masa laluku. Masa lalu orang lain.”
Dokter menekan beberapa tombol di perangkatnya.
“Kamu mengalami halusinasi visual setelah teleportasi?”
“Tidak.” Jatmika menatap lurus ke arah alat pemindai yang berputar perlahan. “Itu terasa terlalu jelas untuk disebut halusinasi.”
“Coba jelaskan.”
Jatmika menarik napas panjang.
“Aku melihat para ksatria Mythopia,” katanya. “Mereka memakai zirah dan membawa senjata yang mengeluarkan cahaya seperti teleportasi. Aku melihat perang. Aku melihat langit yang terbuka… dan sesuatu yang bukan manusia.”
Dokter itu tidak langsung menjawab.
“Apakah sebelum ini kamu pernah mengalami gangguan tidur?”
“Tidak.”
“Apakah kamu merasa mendengar suara-suara?”
“Kadang.”
“Suara siapa?”
“Seorang pria.” Jatmika menunduk pelan. “Dia mengaku sebagai Raja Isidore.”
Dokter berhenti mencatat.
Di balik kaca ruang observasi, beberapa peneliti NASA saling berpandangan singkat.
“Apakah suara itu memerintahmu melakukan sesuatu?” tanya dokter hati-hati.
“Tidak.”
Jatmika menggeleng lagi.
“Dia hanya… berbicara seperti seseorang yang sedang menjaga warisan.”
Dokter mendekatkan alat pemindai kecil ke dada Jatmika. Cahaya biru muncul, lalu berubah menjadi kuning keemasan selama beberapa detik sebelum kembali normal.
“Itu aneh,” gumamnya pelan.
“Ada masalah?”
“Detak jantungmu normal,” jawab dokter itu. “Tekanan darah normal. Paparan radiasi mulai turun.” Ia menatap layar lagi. “Tapi aktivitas gelombang otakmu meningkat setiap kali kamu menyebut artefak atau kerajaan Mythopia.”
Jatmika tersenyum tipis.
“Mungkin otakku belum kembali dari Callisto.”
Dokter itu ikut tersenyum kecil, meski jelas ia masih berpikir keras.
“Apakah kamu takut?”
Pertanyaan itu membuat Jatmika diam cukup lama.
“Aku lebih takut kalau semua itu nyata,” katanya akhirnya. “Karena kalau benar nyata… berarti teleportasi bukan teknologi yang baru ditemukan manusia.”
Ruangan kembali sunyi.
Di balik kaca observasi, John berdiri bersama Pak Toni memperhatikan proses pemeriksaan.
“Dia berubah,” kata John pelan.
Pak Toni mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
“Bukan tubuhnya yang berubah,” jawabnya. “Cara dia melihat dunia.”
---
Dua puluh empat jam setelah seluruh data dari Callisto dimasukkan ke dalam sistem, ruang analisis PT Sinar Ultraviolet berubah menjadi tempat yang nyaris menyerupai pusat komando antariksa.
Ratusan prosesor bekerja tanpa henti. Dinding-dinding layar dipenuhi simulasi lintasan teleportasi, model gravitasi, dan peta koordinat yang tidak dikenal dalam katalog astronomi modern.
Di tengah ruangan, Ny. Tien menjalankan proses yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Ia tidak sedang mencari planet.
Ia sedang mencari pola.
Karena menurut hasil terjemahan Profesor Wen Shuyuan, kerajaan Mythopia tidak pernah mencatat lokasi dunia-dunia itu berdasarkan jarak. Mereka mencatatnya berdasarkan hubungan energi dalam jaringan teleportasi.
Sebuah konsep yang lebih mirip jaringan saraf daripada peta antarbintang.
Tepat pukul 03.17 dini hari, suara Ny. Tien terdengar di seluruh laboratorium.
"Pencarian selesai."
Semua orang yang masih terjaga menoleh ke layar utama.
Bahkan Pak Toni yang hampir tertidur langsung berdiri.
"Berapa banyak?" tanyanya.
"Sepuluh lokasi utama."
Layar berubah.
Muncul sepuluh titik cahaya mengelilingi model galaksi yang diproyeksikan di udara.
Untuk sesaat tidak ada yang berbicara.
Karena yang mereka lihat bukan sekadar planet.
Melainkan sesuatu yang tampak seperti cabang-cabang dari sebuah peradaban yang telah menyebar ke bintang-bintang.
---
Planet Aurelion
Dunia Matahari Kedua
Planet pertama berwarna emas terang.
Atmosfernya memantulkan cahaya hingga membuat seluruh permukaannya tampak seperti matahari kecil.
"Penghuni: Suku Auren."
Makhluk humanoid dengan kulit keemasan.
Menurut catatan Mythopia, mereka mampu menyimpan energi cahaya dalam tubuh mereka.
Di sana berdiri peninggalan kuno bernama Benteng Surya Wikrama.
Jatmika memperhatikan gambar simulasi itu cukup lama.
"Jika catatan ini benar," katanya perlahan, "maka manusia bukan satu-satunya spesies yang menggunakan energi sebagai bagian dari biologinya."
---
Planet Krysalis
Dunia Es Abadi
Sebuah planet putih kebiruan muncul berikutnya.
Lautannya membeku.
Pegunungannya tersusun dari kristal es raksasa.
Di sana berdiri Istana Pangreksa, benteng yang konon dibangun oleh ksatria penguasa es.
---
Planet Venthara
Dunia Angin
Planet ketiga tampak dipenuhi badai yang bergerak membentuk pola geometris.
Catatan Mythopia menyebut penghuni dunia ini dapat mendengar suara dari jarak yang tidak masuk akal.
"Seolah atmosfer mereka sendiri berfungsi sebagai jaringan komunikasi," gumam seorang peneliti.
---
Planet Ignarok
Dunia Api
Lautan magma.
Benua-benua vulkanik.
Awan yang terbentuk dari abu dan kilatan listrik.
Di sana berdiri Kuil Bhra Anuraga.
Untuk pertama kalinya para ilmuwan menyadari bahwa para ksatria Mythopia mungkin bukan sekadar tokoh sejarah.
Mereka mungkin pernah menjadi penguasa dunia lain.
---
Planet Terragard
Dunia Batu
Planet dengan gravitasi lebih tinggi daripada bumi.
Pegunungan setinggi puluhan kilometer.
Penghuninya mampu merasakan getaran yang bahkan tidak dapat dideteksi instrumen manusia.
Peninggalan di sana dikenal sebagai Benteng Jagat Dirgantara.
---
Planet Oceanis
Dunia Samudra
Nyaris seluruh permukaannya tertutup air.
Hanya sedikit pulau yang terlihat.
Di dasar laut terdalam berdiri Istana Sagara Putra.
John menatap simulasi itu sambil menggeleng.
"Kalau benar ada jaringan teleportasi di sana, berarti Mythopia pernah menjelajah dasar samudra antarbintang."
---
Planet Voltaris
Dunia Petir
Layar dipenuhi warna biru terang.
Petir menyambar tanpa henti dari satu belahan planet ke belahan lain.
Energi atmosfernya begitu besar hingga membuat instrumen laboratorium menghasilkan gangguan kecil.
"Peninggalan: Menara Guntur Wisesa."
---
Planet Sylvaris
Dunia Hutan Raksasa
Pepohonannya setinggi gunung.
Kanopinya menutupi hampir seluruh planet.
Menurut arsip, dunia ini dijaga oleh keturunan Rakajati.
Makhluk yang dapat berbicara dengan tumbuhan.
Ruangan menjadi sunyi.
Karena untuk pertama kalinya para ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa kehidupan cerdas tidak harus berkembang melalui teknologi.
---
Planet Astryon
Dunia Bintang
Planet ini berbeda.
Ia tampak hampir transparan.
Medan energinya berdenyut seperti jantung.
Peninggalannya adalah Observatorium Arya Wiratma.
Menurut catatan kuno, penghuni dunia ini mempelajari masa depan bukan melalui ramalan.
Mereka membaca kemungkinan statistik yang tercipta dari setiap keputusan yang diambil makhluk hidup.
Profesor Wen menatap layar dengan kagum.
"Itu terdengar lebih dekat kepada matematika daripada sihir."
---
Planet Valtherion
Dunia Para Penjaga
Planet terakhir muncul.
Dan seluruh ruangan mendadak terdiam.
Karena dunia itu tampak sangat mirip dengan bumi.
Laut.
Benua.
Awan.
Atmosfer.
Bahkan ukuran planetnya hampir identik.
Di tengah salah satu benuanya berdiri sebuah struktur raksasa yang terdeteksi dari orbit.
Ny. Tien memperbesar gambar.
Muncullah siluet bangunan yang menyerupai istana terapung.
"Istana Langit Raja Isidore."
Tidak seorang pun berbicara selama beberapa detik.
Kemudian Jatmika memecahkan kesunyian.
"Jadi..." katanya.
"Jika semua ini nyata, Mythopia bukanlah sebuah kerajaan."
Ia menatap sepuluh dunia yang berputar perlahan di udara.
"Bukan kerajaan di bumi."
"Bukan kerajaan Nusantara."
"Bahkan bukan kerajaan manusia."
Ia menarik napas panjang.
"Mereka adalah peradaban antarbintang."
Di layar, sepuluh titik cahaya terus berdenyut.
Dan untuk pertama kalinya sejak teleportasi ditemukan, para ilmuwan PT Sinar Ultraviolet menyadari bahwa penemuan terbesar mereka bukanlah cara berpindah tempat.
Melainkan kenyataan bahwa umat manusia mungkin baru saja menemukan sisa-sisa dari sebuah peradaban yang pernah menghubungkan banyak dunia—lalu menghilang tanpa meninggalkan penjelasan mengapa.
Ruangan rapat lantai sembilan puluh delapan terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Di luar jendela, hujan turun perlahan membasahi kaca gedung PT Sinar Ultraviolet. Jakarta tampak seperti jaringan cahaya yang kabur oleh kabut dan air.
Di atas meja konferensi, proyeksi sepuluh planet warisan Mythopia masih berputar pelan.
Tak seorang pun menyentuhnya.
Seolah mereka sedang memandangi sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami.
Michael, perwakilan NASA, memecah keheningan terlebih dahulu.
"Saya ingin mengingatkan bahwa seluruh data eksplorasi Callisto berada di bawah perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani."
Ia menggeser beberapa dokumen digital ke tengah meja.
"Untuk sementara, informasi mengenai sepuluh planet ini tidak boleh dipublikasikan kepada pers."
Jatmika mengangkat alis.
"Karena alasan keamanan?"
Michael menggeleng.
"Karena alasan kepemilikan."
Ruangan kembali sunyi.
Michael melanjutkan.
"Setiap penemuan yang dihasilkan dari program eksplorasi bersama merupakan aset penelitian bersama. NASA akan menyusun kontrak resmi dengan PT Sinar Ultraviolet. Jika eksplorasi berhasil dilanjutkan, keuntungan ilmiah maupun komersial akan dibagi sesuai kesepakatan."
Pak Toni menyilangkan kedua tangannya.
"Kedengarannya sederhana."
"Tapi?" tanya Michael.
"Tapi kita sedang membicarakan planet lain."
Pak Toni menunjuk proyeksi Valtherion yang melayang di udara.
"Kita belum tahu apa yang ada di sana."
Ia lalu menunjuk Voltaris.
"Atau di sana."
Kemudian Astryon.
"Atau di sana."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi semua orang bisa merasakan kecemasan di balik kata-katanya.
"Kita bahkan belum bisa menjamin seseorang yang pergi akan kembali."
Michael terdiam.
Karena itu benar.
Teleportasi ke Callisto berhasil.
Namun keberhasilan itu lebih menyerupai pengecualian daripada prosedur yang dapat diulang dengan aman.
Jatmika memandang planet-planet yang berputar di depan mereka.
"Berapa banyak orang kaya yang bersedia membayar untuk mengunjungi dunia baru?" tanyanya.
Pak Toni tertawa kecil.
"Miliaran."
"Mungkin triliunan."
Ia berhenti sejenak.
"Itulah yang justru membuatku takut."
Semua menoleh kepadanya.
"Jika kita membuka akses ke planet-planet itu, orang akan datang bukan untuk memahami mereka."
Pak Toni mengetuk meja perlahan.
"Mereka akan datang untuk memiliki mereka."
Tidak ada yang membantah.
Karena sejarah manusia penuh dengan contoh serupa.
Benua ditemukan.
Pulau ditemukan.
Sumber daya ditemukan.
Dan selalu ada seseorang yang menganggap penemuan berarti kepemilikan.
Profesor Wen Shuyuan yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Saya memahami kekhawatiran itu."
Ia menyesap teh hangatnya.
"Tetapi saya juga memahami sesuatu yang lain."
"Apa itu?" tanya Jatmika.
Wen menunjuk dokumentasi relief Callisto.
"Semakin banyak saya menerjemahkan tulisan Mythopia, semakin saya yakin bahwa teleportasi bukanlah teknologi eksperimen."
Ia memperbesar salah satu gambar.
Relief kuno memenuhi layar.
"Ini adalah infrastruktur."
Ruangan mendadak hening.
"Seperti jalan raya."
"Seperti pelabuhan."
"Seperti jalur kereta."
Ia memandang semua orang satu per satu.
"Orang-orang Mythopia tidak membangun sistem ini untuk menjelajah."
"Mereka membangunnya untuk hidup."
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Karena jika Wen benar, maka sepuluh planet tersebut bukanlah tujuan ekspedisi.
Mereka adalah bagian dari sebuah peradaban yang pernah terhubung.
Dan jika jaringan itu masih aktif, mungkin ada lebih banyak dunia yang belum ditemukan.
Atau lebih buruk lagi—
masih ada penghuni yang menggunakannya.
Jatmika bersandar di kursinya.
"Biar aku yang memimpin ekspedisi berikutnya."
Pak Toni langsung menggeleng.
"Tidak."
"Aku yang menemukan keris itu."
"Tidak."
"Aku satu-satunya yang—"
"Tidak."
Kali ini suara Pak Toni lebih tegas.
"Masalahnya bukan kemampuanmu."
"Lalu apa?"
Pak Toni menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
"Sejak kembali dari Callisto, kamu hampir tidak tidur."
Jatmika tidak menjawab.
Karena ia tahu itu benar.
Setiap kali memejamkan mata, ia melihat potongan-potongan masa lalu yang bukan miliknya.
Benteng yang runtuh.
Langit yang terbakar.
Para ksatria Mythopia.
Dan sosok Raja Isidore yang terus muncul dalam mimpi.
Wen mengangguk pelan.
"Kondisimu tidak stabil."
"Aku baik-baik saja."
"Tidak."
Untuk pertama kalinya Wen terdengar seperti seorang dokter, bukan sejarawan.
"Kamu mengalami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu saraf modern."
Ia menunjuk laporan medis dari NASA.
"Aktivitas otakmu meningkat saat berinteraksi dengan artefak."
"Gelombang neuralmu berubah."
"Kamu mengalami mimpi berulang."
"Dan kamu mulai sulit membedakan antara ingatan dan penglihatan."
Jatmika menatap meja.
Ia ingin membantah.
Tetapi sebagian dirinya tahu mereka benar.
Wen mengeluarkan sebuah botol kecil.
"Setidaknya minumlah obat tidur ini."
Jatmika tertawa kecil.
"Profesor, sejak kapan ahli sejarah meresepkan obat?"
Wen ikut tersenyum.
"Sejak satu-satunya penerjemah bahasa Mythopia di ruangan ini dipaksa menjadi psikolog darurat."
Bahkan Pak Toni akhirnya tertawa.
Ketegangan sedikit mencair.
Namun ketika tawa itu mereda, ketiganya kembali menatap sepuluh planet yang berputar perlahan di atas meja.
Sepuluh dunia.
Sepuluh kemungkinan.
Sepuluh pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Dan untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah mencapai planet-planet itu.
Melainkan memutuskan apakah manusia sudah cukup bijaksana untuk melakukannya.
---
Bab: Harga Sebuah Jarak
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Jatmika tidur tanpa mimpi.
Obat yang diberikan Profesor Wen Shuyuan berhasil membungkam suara-suara masa lalu yang biasanya muncul setiap kali ia memejamkan mata.
Sementara itu, kehidupan di laboratorium tetap berjalan.
Jika Jatmika sedang beristirahat, para ilmuwan justru sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih sulit daripada menerjemahkan bahasa kuno.
Mereka mencoba menghitung biaya energi untuk menjangkau dunia lain.
---
Di ruang analisis energi, puluhan insinyur NASA memenuhi layar simulasi.
Michael berdiri di depan proyeksi tiga dimensi tata surya.
Callisto mengorbit jauh di sekitar Jupiter.
Jarak rata-ratanya dari Bumi sekitar 628 juta kilometer.
Namun menurut catatan Mythopia, beberapa planet berada ribuan bahkan jutaan kali lebih jauh.
Seorang fisikawan NASA mempresentasikan hasil simulasi.
"Jika kita menggunakan model teleportasi konvensional yang setara dengan pemindahan materi atom demi atom, energi yang dibutuhkan mendekati massa-energi Einstein."
Di layar muncul persamaan:
E = mc²
Untuk manusia berbobot 80 kilogram:
E = 80 × (300.000.000)²
Hasilnya:
7,2 × 10¹⁸ joule
Ruangan menjadi sunyi.
"Itu setara dengan lebih dari seribu bom nuklir besar," kata seorang peneliti.
Michael mengangguk.
"Untungnya teleportasi Mythopia tidak bekerja seperti itu."
Layar berganti.
Model kedua muncul.
Menurut analisis artefak lampu, teleportasi tidak memindahkan massa secara langsung.
Ia menciptakan jembatan koordinat antara dua titik yang sudah terhubung sebelumnya.
Dalam simulasi itu, energi yang diperlukan turun drastis.
Untuk Callisto diperkirakan:
3 sampai 5 gigawatt selama beberapa detik.
Masih sangat besar.
Tetapi mungkin dilakukan.
Masalahnya muncul ketika koordinat planet-planet warisan Mythopia dimasukkan.
Astryon.
Valtherion.
Aurelion.
Sebagian berada pada jarak yang bahkan membuat para astronom menggelengkan kepala.
Simulasi menunjukkan kebutuhan energi bisa meningkat menjadi:
50–100 gigawatt per teleportasi.
Setara konsumsi listrik beberapa negara kecil sekaligus.
Michael menatap hasil itu cukup lama sebelum akhirnya berkata,
"Kita membutuhkan sumber energi baru."
---
Malam itu, ia menghubungi kantor pusat NASA.
Permintaannya singkat.
"Kirimkan reaktor tenaga nuklir portabel generasi terbaru."
Jawaban yang diterima bahkan lebih singkat.
"Apakah Anda serius?"
Michael hanya menjawab:
"Sangat serius."
---
Namun masalah baru muncul.
Dua hari kemudian pasar keuangan Amerika mendadak bergejolak.
Saham perusahaan energi naik tajam.
Saham perusahaan antariksa melonjak.
Perusahaan teknologi teleportasi yang bahkan belum ada mendadak menjadi bahan spekulasi.
Seseorang telah membocorkan sesuatu.
Tidak lengkap.
Tidak detail.
Tetapi cukup untuk memicu imajinasi pasar.
Headline media mulai bermunculan.
"NASA Diduga Terlibat Proyek Transportasi Antarplanet."
"Teknologi Teleportasi Bisa Mengubah Industri Antariksa."
"Apakah Roket Akan Menjadi Usang?"
---
Keesokan harinya Michael berdiri di depan puluhan wartawan.
Konferensi pers dadakan itu disiarkan langsung ke berbagai negara.
Seorang reporter dari [CNN](https://www.cnn.com?utm_source=gopaan.com) mengangkat tangan terlebih dahulu.
"Michael, apakah benar NASA sedang mengembangkan teknologi teleportasi bersama perusahaan swasta di Asia?"
Michael tersenyum tipis.
"Saya tidak dapat mengomentari proyek penelitian yang masih berada dalam tahap eksperimen."
"Jadi itu bukan bantahan?"
"Itu bukan konfirmasi."
Beberapa wartawan tertawa kecil.
Reporter CNN melanjutkan.
"Apakah teknologi tersebut dapat menggantikan roket?"
Michael menjawab tenang.
"Sampai hari ini, roket masih merupakan cara paling andal untuk menjangkau luar angkasa."
"Lalu mengapa ada laporan bahwa NASA mengalokasikan dana baru untuk proyek energi ekstrem?"
Michael berhenti sejenak.
"Karena penelitian ilmiah membutuhkan energi."
"Itu berlaku sejak sebelum manusia mendarat di bulan."
---
Giliran reporter dari [Metro TV](https://www.metrotvnews.com?utm_source=gopaan.com) mengangkat tangan.
"Apakah kerja sama dengan PT Sinar Ultraviolet di Indonesia benar adanya?"
Michael tersenyum lagi.
"Kami bekerja sama dengan banyak institusi penelitian di berbagai negara."
"Tetapi apakah benar mereka berhasil mengirim objek ke luar bumi?"
"Penelitian masih berlangsung."
"Apakah sudah ada manusia yang ikut dalam pengujian?"
Pertanyaan itu membuat beberapa pejabat NASA saling berpandangan.
Michael memilih jawabannya dengan hati-hati.
"Saya tidak akan membahas personel yang terlibat dalam penelitian eksperimental."
Reporter Metro TV belum menyerah.
"Jadi ada personel yang terlibat?"
Michael menghela napas kecil.
"Saya mengatakan saya tidak akan membahasnya."
---
Pertanyaan terakhir datang dari wartawan CNN.
"Apakah masyarakat dunia perlu bersiap menghadapi era baru transportasi?"
Michael terdiam cukup lama.
Kemudian ia menjawab sesuatu yang bahkan tidak ada dalam naskah resmi.
"Setiap generasi memiliki teknologi yang mengubah definisi jarak."
"Dahulu kapal layar."
"Kemudian kereta api."
"Pesawat."
"Internet."
Ia menatap kamera.
"Jika suatu hari manusia menemukan cara berpindah dari satu dunia ke dunia lain dalam hitungan detik, perubahan terbesar bukanlah pada teknologinya."
"Lalu apa?" tanya wartawan.
Michael tersenyum tipis.
"Cara manusia memahami tempatnya di alam semesta."
Di laboratorium PT Sinar Ultraviolet yang berjarak ribuan kilometer dari sana, Jatmika masih tertidur lelap.
Ia tidak tahu bahwa sementara dirinya beristirahat, dunia mulai mencium keberadaan rahasia yang selama ini mereka sembunyikan.
Dan rahasia seperti itu, begitu bocor ke publik, biasanya tidak pernah bisa disimpan kembali.
Bab: Sumber Energi Baru
Tidak butuh waktu lama.
Tiga hari setelah permintaan diajukan, pesawat jet kargo pribadi milik seorang konglomerat Amerika mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Muatannya tidak besar.
Hanya sebuah silinder logam setinggi dua meter dengan lapisan pelindung berwarna hitam kusam.
Namun nilai perangkat itu melampaui harga sebagian besar pesawat yang berada di landasan pada hari itu.
Sebuah reaktor nuklir portabel generasi terbaru.
Teknologi yang bahkan belum diperkenalkan kepada publik.
Dokumen pengirimannya menggunakan klasifikasi penelitian internasional bersama antara NASA dan PT Sinar Ultraviolet.
Setelah melewati prosedur bea cukai dan pemeriksaan keamanan berlapis, perangkat itu segera dimuat ke atas truk khusus.
Iring-iringan kendaraan pengamanan bergerak menuju Jalan Sudirman.
Tidak ada wartawan yang mengetahui isi kargo tersebut.
Bagi dunia luar, itu hanyalah peralatan ilmiah.
Bagi mereka yang memahami proyek teleportasi, benda itu mungkin merupakan langkah terakhir sebelum manusia benar-benar meninggalkan Bumi tanpa roket.
---
Sore harinya, perangkat tiba di gedung PT Sinar Ultraviolet.
Para teknisi NASA yang telah menunggu langsung bekerja.
Sebuah ruangan khusus telah dibangun dalam waktu kurang dari seminggu.
Dindingnya menggunakan lapisan baja komposit.
Lantainya dipasang peredam getaran elektromagnetik.
Seluruh sistem pendingin bekerja tanpa henti.
Ketika reaktor akhirnya diaktifkan, seluruh gedung bergetar pelan.
Lampu-lampu sempat padam selama dua detik.
Lalu menyala kembali.
Lebih terang.
Lebih stabil.
Seolah seluruh bangunan baru saja memperoleh jantung baru.
---
Di pusat kendali, Ny Tien segera memulai simulasi ulang.
Ribuan baris data memenuhi layar.
Pak Toni memperhatikan hasilnya dengan cemas.
"Bagaimana hasilnya?"
Suara sintetis Ny Tien menjawab.
"Perhitungan selesai."
Di layar muncul tabel baru.
---
Simulasi Kebutuhan Energi Teleportasi
Teleportasi Antar Gua di Bumi
Jarak rata-rata: 1.000 km
Energi: 5 Megajoule
Daya puncak: 50 Megawatt selama 0,1 detik
Status: Aman
---
Teleportasi ke Callisto
Jarak rata-rata: 628 juta km
Energi: 8 Terajoule
Daya puncak: 4 Gigawatt selama 2 detik
Status: Aman
---
Teleportasi ke Planet Warisan Mythopia Terdekat (Valtherion)
Estimasi jarak: 4,2 tahun cahaya
Energi: 150 Terajoule
Daya puncak: 25 Gigawatt selama 6 detik
Status: Aman dengan reaktor nuklir
---
Teleportasi ke Planet Aurelion
Estimasi jarak: 18 tahun cahaya
Energi: 900 Terajoule
Daya puncak: 70 Gigawatt selama 13 detik
Status: Risiko tinggi
---
Ruangan menjadi sunyi.
Michael membaca angka-angka itu beberapa kali.
"Jadi selama ini kita bahkan tidak memiliki sepersepuluh energi yang dibutuhkan."
Ny Tien menjawab.
"Benar."
Pak Toni menggeleng perlahan.
"Artinya semua percobaan sebelumnya memang ditakdirkan gagal."
---
Namun grafik berikutnya justru lebih mengejutkan.
Di layar muncul dua kurva.
Kurva pertama mewakili teleportasi biasa menggunakan artefak lampu.
Kurva kedua muncul ketika data artefak keris dimasukkan.
Selisihnya luar biasa.
Energi yang dibutuhkan turun hampir sembilan puluh persen.
Michael berdiri dari kursinya.
"Itu tidak mungkin."
Ny Tien menjawab.
"Berdasarkan analisis, keris Mythopia berfungsi sebagai kunci koordinat."
"Artefak lampu tidak menciptakan jalur teleportasi."
"Artefak lampu hanya membuka jalur yang sudah ada."
Pak Toni mengernyit.
"Seperti membuka pintu?"
"Analogi yang tepat."
"Sedangkan keris?"
Ny Tien menjawab:
"Keris menentukan pintu mana yang harus dibuka."
---
Semua orang terdiam.
Selama berbulan-bulan mereka mengira teleportasi adalah teknologi transportasi.
Kini mereka mulai memahami kemungkinan yang lebih mengganggu.
Teleportasi bukanlah kendaraan.
Teleportasi adalah jaringan.
Dan jaringan itu sudah ada jauh sebelum manusia modern mengenal listrik.
---
Di salah satu layar terakhir muncul pesan baru:
> KAPASITAS SISTEM MENINGKAT
TELEPORTASI KE PLANET TERDEKAT: AMAN
PROBABILITAS KEMBALI: 96,7%
Michael menatap angka itu.
Untuk pertama kalinya sejak proyek dimulai, peluang keberhasilan melebihi kemungkinan kegagalan.
"Kalau begitu," katanya perlahan.
"Kita tidak lagi sedang mencoba membuktikan bahwa perjalanan antarbintang mungkin."
Ia memandang Pak Toni.
"Kita sedang memutuskan ke mana umat manusia akan pergi lebih dulu."
Di sudut ruangan, artefak lampu menyala samar.
Bukan merah.
Bukan emas.
Melainkan hijau kebiruan yang belum pernah muncul sebelumnya.
Dan Ny Tien, yang biasanya selalu memberikan jawaban, kali ini hanya mengeluarkan satu kalimat:
"Terdeteksi sinyal balasan dari jaringan Mythopia."
Tidak seorang pun di ruangan itu berbicara.
Karena mereka semua memahami arti kalimat tersebut.
Seseorang—atau sesuatu—mungkin baru saja menyadari bahwa Bumi telah kembali terhubung.
Bab: Kandidat Pertama Menuju Valtherion
Jatmika terbangun dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan.
Tidur itu terasa seperti jeda yang dipinjam dari waktu.
Biasanya setiap kali ia memejamkan mata, mimpi-mimpi tentang kerajaan Mythopia, para ksatria, dan perang yang tak dikenalnya selalu datang. Namun kali ini tidak ada apa pun. Hanya kegelapan yang tenang.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan memandang langit Jakarta yang tertutup awan hujan.
"Kurasa aku harus berterima kasih kepada Profesor Wen," gumamnya.
Obat tidur yang diberikan sang profesor ternyata bekerja jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan.
Di meja samping tempat tidur, telepon genggamnya berkedip-kedip.
Lebih dari seribu pesan belum dibaca.
Sebagian besar berasal dari grup kantor.
Jatmika membuka laporan terbaru.
Reaktor nuklir telah berhasil diintegrasikan.
Ny Tien telah menemukan sinyal balasan dari jaringan teleportasi Mythopia.
Simulasi menuju Valtherion menunjukkan peluang keberhasilan hampir sembilan puluh tujuh persen.
Dan yang paling mengejutkan, rapat darurat telah memilih kandidat ekspedisi pertama.
Tanpa sepengetahuannya.
Jatmika tersenyum tipis.
"Lumayan cepat juga mereka bekerja."
---
Satu jam kemudian ia sudah berada di ruang rapat utama.
Di layar besar terpampang tulisan:
EKSPEDISI VALTHERION-1
Di bawahnya terdapat lima nama.
Jatmika
Rizky Mandang
Joesoef
Michael
Edward
Pak Toni berdiri di depan ruangan.
"Kamu terlambat."
"Aku baru bangun setelah tiga hari tidur."
"Itu alasan yang bisa diterima."
Beberapa orang tertawa kecil.
---
Rizky Mandang duduk paling depan.
Di antara seluruh anggota Kapak Emas, ia adalah yang memiliki nilai akademik dan fisik tertinggi.
Usianya baru dua puluh tujuh tahun.
Namun dalam setiap latihan ia selalu menjadi yang pertama mencapai garis akhir.
Di sebelahnya duduk Joesoef.
Pria berusia sembilan puluh tahun itu tampak seperti pensiunan biasa.
Tetapi siapa pun yang pernah berlatih bersamanya tahu bahwa fisiknya sulit dijelaskan dengan logika.
Ia masih mampu berlari puluhan kilometer tanpa mengeluh.
Masih mampu mengangkat beban yang membuat orang jauh lebih muda menyerah.
---
Di sisi lain meja, Michael dan Edward dari NASA terlihat tidak kalah serius.
Michael membuka pembicaraan.
"Kami menghormati keputusan perusahaan."
"Tetapi jika ekspedisi ini berhasil, maka ini bukan hanya pencapaian Indonesia."
"Ini pencapaian seluruh umat manusia."
Pak Toni mengangguk.
"Kami memahami itu."
"Karena itulah kalian diizinkan ikut."
Edward tersenyum.
"Diizinkan?"
"Kami sudah menyiapkan diri sejak minggu lalu."
---
Jatmika memotong percakapan.
"Aku hanya ingin memastikan satu hal."
Semua menoleh kepadanya.
"Kita tidak sedang pergi ke planet yang sudah kita kenal."
"Kita bahkan tidak tahu apakah udara di sana bisa dihirup."
"Atau apakah ada makhluk hidup."
"Atau apakah ada jalan pulang."
Ruangan menjadi sunyi.
Tidak ada yang membantah.
Karena semuanya benar.
---
Ny Tien muncul di layar utama.
Wajah virtualnya terbentuk dari ribuan titik cahaya.
"Protokol ekspedisi telah disiapkan."
"Seluruh peserta wajib menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh."
"Peluang kematian akibat kondisi medis tersembunyi harus ditekan hingga nol koma nol satu persen."
Michael mengangkat alis.
"Kedengarannya menyenangkan."
"Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan definisi menyenangkan."
Beberapa orang tertawa.
---
Tes dimulai hari itu juga.
Pemeriksaan darah.
Pemindaian otak.
Tes refleks.
Tes daya tahan jantung.
Tes paparan radiasi.
Bahkan pemeriksaan psikologis.
NASA tidak ingin mengirim orang yang sehat secara fisik tetapi hancur secara mental.
---
Di ruang treadmill gravitasi tinggi, Rizky menjadi peserta pertama.
Kemiringan dinaikkan.
Kecepatan bertambah.
Detak jantungnya tetap stabil.
Ny Tien mencatat hasilnya.
Kondisi fisik: Sangat Baik.
---
Giliran Joesoef.
Beberapa dokter NASA saling berpandangan.
Mereka mengira pria tua itu akan menjadi peserta terlemah.
Dua puluh menit kemudian mereka berhenti mencatat dan mulai menatap monitor dengan bingung.
Detak jantungnya stabil.
Tekanan darahnya normal.
Kadar oksigennya bahkan lebih baik daripada beberapa peserta yang berusia seperempat darinya.
Edward berbisik kepada Michael.
"Aku mulai curiga dia sebenarnya tidak berusia sembilan puluh tahun."
Joesoef yang mendengar komentar itu hanya tertawa.
"Kalau saya bohong umur, pasti sudah ketahuan sejak zaman Presiden pertama."
---
Tes terakhir adalah evaluasi psikologis.
Di sinilah hasil yang paling mengejutkan muncul.
Michael dan Edward menunjukkan tingkat stres yang tinggi.
Wajar.
Mereka adalah ilmuwan yang sadar betul risiko ekspedisi itu.
Rizky menunjukkan antusiasme yang hampir berlebihan.
Joesoef menunjukkan ketenangan yang tidak biasa.
Namun hasil paling aneh datang dari Jatmika.
Ny Tien memproyeksikan grafik aktivitas otaknya.
Semua orang terdiam.
Terdapat pola gelombang yang tidak ditemukan pada manusia lain.
Gelombang itu identik dengan energi yang dipancarkan keris Mythopia.
Michael menatap layar.
"Apa itu?"
Pak Toni terlihat tidak nyaman.
Ny Tien menjawab:
"Sinkronisasi biologis dengan artefak Mythopia."
Ruangan langsung hening.
"Tingkat sinkronisasi saat ini: 68 persen."
Michael memandang Jatmika.
"Apakah itu berbahaya?"
Ny Tien membutuhkan beberapa detik sebelum menjawab.
"Saya tidak memiliki data yang cukup untuk menentukan apakah itu berbahaya."
Jatmika menghela napas.
"Jawaban yang sangat menenangkan."
---
Sore harinya, seluruh hasil tes akhirnya keluar.
Kelima kandidat dinyatakan layak berangkat.
Di layar utama muncul satu kalimat:
> EKSPEDISI VALTHERION-1
STATUS: SIAP DILAKSANAKAN
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorak sorai.
Karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar memahami arti dari misi tersebut.
Mereka bukan lagi mencoba mengunjungi sebuah gua.
Mereka sedang bersiap menjadi manusia pertama yang berjalan di dunia lain yang mungkin telah ditinggalkan oleh para pewaris Mythopia selama ribuan tahun.
Tanggal keberangkatan akhirnya ditetapkan.
06 Juni 2026.
Sebagian orang menganggapnya hanya angka dalam kalender. Namun bagi mereka yang berada di ruang teleportasi malam itu, tanggal tersebut mungkin akan dikenang sebagaimana manusia mengenang pelayaran pertama melintasi samudra atau langkah pertama di Bulan.
Pak Toni berdiri di depan ruang kendali sambil memandangi tim ekspedisi.
"Semoga hari baik ini membawa keberuntungan dan keselamatan bagi kita semua."
Tidak ada yang menjawab.
Masing-masing sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 22.00.
Jatmika dan Joesoef sudah mengenakan pakaian astronot mereka sejak satu jam yang lalu. Keduanya duduk tenang di bangku logam dekat ruang teleportasi.
Joesoef tampak sedang membersihkan gagang keris yang diberikan Jatmika.
Seolah ia sedang mempersiapkan perlengkapan patroli biasa.
Padahal tujuan mereka adalah sebuah planet yang belum pernah diinjak manusia.
Di sisi lain ruangan, suasananya berbeda.
Michael sedang melakukan panggilan video dengan istrinya di Amerika.
Edward juga.
Begitu pula Rizky Mandang yang menghubungi keluarganya di Indonesia.
Tidak ada seorang pun yang berusaha mendengarkan percakapan mereka.
Karena semua orang memahami bahwa beberapa kata hanya layak didengar oleh orang yang dicintai.
Sesekali terdengar tawa kecil.
Lalu keheningan.
Kemudian suara yang mulai bergetar.
Ketika panggilan berakhir, ketiganya kembali ke kelompok dengan mata yang sedikit merah.
Tidak ada yang mengomentarinya.
---
NASA telah mengirimkan perlengkapan terbaik yang mereka miliki.
Baju astronot generasi terbaru berwarna putih keperakan.
Lapisan pelindung radiasi berlapis ganda.
Sistem oksigen mandiri.
Sensor kesehatan real-time.
Dan untuk berjaga-jaga, setiap orang dibekali senjata listrik bertegangan tinggi.
Bukan untuk menyerang.
Tetapi untuk bertahan hidup.
Karena tidak seorang pun tahu apa yang menunggu di Valtherion.
---
Jatmika berdiri dan membuka sebuah kotak kayu panjang.
Di dalamnya terdapat lima keris.
Masing-masing memiliki pola pamor yang berbeda.
Cahaya artefak lampu memantulkan kilauan kebiruan pada bilahnya.
Michael memandangi benda itu dengan ragu.
"Kau sungguh ingin kami membawa senjata abad pertengahan ke planet lain?"
Beberapa teknisi NASA tersenyum.
Jatmika justru terlihat serius.
"Kalau aku harus memilih antara teknologi yang baru kita pahami selama dua tahun dan artefak yang telah bertahan ribuan tahun, aku akan memilih artefak."
Michael mengangkat alis.
"Itu bukan jawaban yang sangat ilmiah."
"Benar," jawab Jatmika.
"Tapi sejauh ini, semua keberhasilan kita berasal dari benda-benda yang tidak bisa dijelaskan sains modern."
Michael akhirnya menerima keris itu.
Edward melakukan hal yang sama.
Rizky bahkan terlihat bangga ketika menyelipkannya ke pinggang.
---
Sementara itu, di ruang kendali, Ny Tien melakukan pemeriksaan terakhir.
Ribuan data mengalir di layar.
Kapasitas reaktor nuklir.
Stabilitas koordinat.
Sinkronisasi keris.
Kondisi kesehatan kru.
Probabilitas keberhasilan.
Probabilitas kembali.
Untuk pertama kalinya sejak proyek dimulai, semua indikator berada dalam zona hijau.
Pak Toni memandangi hasil itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Sebagian dirinya bangga.
Sebagian lagi takut.
Karena setiap langkah besar dalam sejarah manusia selalu dimulai dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
---
Kelima peserta memasuki lingkaran teleportasi.
Artefak lampu berdiri di tengah ruangan.
Lebih terang daripada sebelumnya.
Cahaya hijau kebiruan berdenyut di antara warna emas yang selama ini mereka kenal.
Seolah mesin itu sendiri sedang menunggu sesuatu.
---
Ny Tien mulai menghitung.
"Sepuluh."
Lampu ruangan meredup.
"Sembilan."
Energi reaktor meningkat.
"Delapan."
Udara mulai bergetar.
"Tujuh."
Petir kecil menari di sekitar artefak.
"Enam."
Lantai logam bergetar halus.
"Lima."
Rambut para teknisi berdiri karena listrik statis.
"Empat."
Warna artefak berubah menjadi merah keemasan.
"Tiga."
Keris yang dibawa Jatmika mulai memancarkan cahaya putih.
"Dua."
Petir menyambar langit-langit laboratorium.
"Satu."
Jatmika mengangkat kerisnya.
"Untuk Mythopia."
---
Tidak ada ledakan.
Tidak ada suara keras.
Yang terjadi justru sesuatu yang jauh lebih aneh.
Ruangan seolah kehilangan makna jarak.
Cahaya merah.
Emas.
Hijau.
Putih.
Semuanya bertumpuk menjadi satu.
Para teknisi melihat tubuh lima orang itu memanjang seperti bayangan yang ditarik melintasi ruang.
Petir menyambar dari segala arah.
Lalu semuanya lenyap.
---
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Hanya jejak petir yang masih menari di udara.
Pak Toni menatap layar navigasi.
Biasanya Ny Tien langsung memberikan konfirmasi.
Namun kali ini sistem membutuhkan waktu lebih lama.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Tidak ada sinyal.
Tidak ada posisi.
Tidak ada data.
Jantung Pak Toni mulai berdetak lebih cepat.
"Ny Tien?"
Keheningan.
Kemudian layar utama berkedip.
Sebuah pesan muncul.
> KONEKSI JARINGAN MYTHOPIA TERDETEKSI
Lalu pesan kedua.
> LOKASI TUJUAN BERHASIL DIAKSES
Dan akhirnya pesan ketiga.
> SELAMAT DATANG DI VALTHERION
Di suatu tempat yang berjarak bertahun-tahun cahaya dari Bumi, lima manusia baru saja membuka babak baru dalam sejarah peradaban.