12/05/26

Season 6 kisah Pandika dari Kerajaan Cakram

Malam itu, setelah tiga malam dan tiga fajar berlalu, tunas kecil yang dijaga Pandika akhirnya membuka daun pertamanya. Daun itu bersinar kehijauan di bawah cahaya bulan, lembut seperti zamrud muda yang baru lahir dari rahim bumi.
Angin hutan berembus pelan.
Tak ada lagi amarah di dalamnya.
Akar-akar purba yang sebelumnya menjulur seperti cambuk kini kembali menyusup ke dalam tanah. Pepohonan tua bergemerisik pelan, seolah sedang berbisik satu sama lain.
Roh Penjaga Rimba telah melihat keteguhan hati Pandika.
Dari kedalaman rimba, cahaya hijau keemasan turun perlahan seperti hujan kunang-kunang. Sosok Roh Penjaga muncul di hadapan Pandika, Si Maung, dan Oren. Tubuhnya menjulang laksana pohon dunia yang hidup—bermahkota cabang dan berurat cahaya.
“Engkau telah membuktikan dirimu, wahai pengembara,” sabdanya, suaranya menggema hingga ke akar gunung.
“Engkau tidak hanya mampu bertarung… tetapi juga menjaga kehidupan.”
Pandika menundukkan kepala hormat.
“Jika demikian,” lanjut Roh itu, “aku memiliki permohonan yang bahkan para roh rimba tak mampu menyelesaikannya.”
Kabut hijau berkumpul di udara, membentuk bayangan sebuah pohon raksasa yang akarnya menembus bumi dan cabangnya menyentuh langit.
Itulah Pohon Dunia.
Batangnya sebesar gunung. Daunnya memancarkan cahaya seperti bintang malam. Dari pohon itu dahulu lahir keseimbangan Mythopia—angin, hujan, musim, dan kehidupan.
Namun bayangan pohon itu tampak mulai mengering.
Daun-daunnya gugur perlahan.
Pandika memandang dengan cemas.
“Apa yang terjadi?”
Roh Penjaga menundukkan kepalanya yang besar.
“Anak-anakku telah dicuri.”
“Anak-anak?” tanya Oren bingung.
Roh itu membuka telapak tangannya. Di atasnya muncul cahaya kecil berbentuk biji-bijian berwarna emas dan hijau.
“Biji-Biji Pohon Dunia.”
Suasana menjadi sunyi.
“Mahluk-mahluk rakus mencurinya dari akar dunia. Tanpa biji-bijian itu, Pohon Dunia perlahan akan mati. Bila ia mati… maka keseimbangan seluruh negeri akan runtuh.”
Si Maung menyipitkan matanya.
“Siapa yang berani melakukan dosa sebesar itu?”
Kabut di sekitar Roh mulai bergerak, membentuk peta dunia Mythopia. Sepuluh cahaya muncul di berbagai penjuru benua.
“Biji-biji itu tersebar ke sepuluh kerajaan besar.”
Satu demi satu nama kerajaan bergema di udara seperti mantra kuno:
🔥 Kerajaan Agnivarsha — negeri api dan lava, tempat bara tak pernah padam.
🌊 Kerajaan Tirtamandala — penguasa samudra dan kabut lautan.
🌿 Kerajaan Bhumi Raksa — kerajaan batu dan akar gunung purba.
🌪️ Kerajaan Bayu Arcapada — negeri langit dan angin yang tak terjangkau.
⚡ Kerajaan Vajraningrat — tanah badai dan petir abadi.
🌕 Kerajaan Cahyanagara — kerajaan cahaya suci penjaga fajar.
🌑 Kerajaan Kalamreta — negeri misterius penguasa ruang dan gravitasi.
🐅 Kerajaan Simhagiri — tanah para penjinak roh binatang buas.
⚔️ Kerajaan Astrapura — pusat senjata suci dan pandai besi legendaris.
🐉 Kekaisaran Nagakartika — negeri naga langit dan energi kuno.
Setiap nama memunculkan gambaran singkat di udara: gunung berapi menyala, badai petir, lautan tanpa ujung, hingga naga yang terbang di atas awan.
Pandika menatap semuanya dengan napas tertahan.
“Itu berarti…” katanya perlahan, “kami harus menjelajahi seluruh Mythopia.”
Roh Penjaga mengangguk.
“Setiap kerajaan memegang satu biji. Ada yang menjaganya karena keserakahan. Ada yang bahkan tidak mengetahui kekuatan yang mereka simpan.”
“Dan bila seluruh biji berhasil dikembalikan?” tanya Si Maung.
Cahaya Pohon Dunia kembali berpendar.
“Maka kehidupan akan diselamatkan.”
Pandika menggenggam erat sarung pedangnya.
“Aku akan berusaha mencarinya.”
Si Maung melangkah maju dengan gagah.
“Raja Kucing Gunung Leuser akan ikut.”
Oren menyeringai sambil menyilangkan tangan.
“Dan perjalanan tanpa pertarungan terdengar membosankan. Aku ikut juga.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Roh Penjaga tersenyum.
Hutan pun membuka jalannya.
Dan demikianlah dimulai perjalanan besar Pandika—pengembaraan melintasi sepuluh kerajaan Mythopia demi mengembalikan Biji-Biji Pohon Dunia sebelum kegelapan dan kerakusan memakan seluruh kehidupan.
Fajar merekah perlahan di lereng Gunung Leuser. Cahaya matahari pagi menyusup di antara pucuk-pucuk pohon purba, menjadikan embun pada daun berkilau seperti butiran emas.
Kabut malam mulai surut ke dalam lembah, sementara nyanyian burung hutan menyambut hari baru.
Di bawah Pohon Penjaga yang akarnya menjulur seperti ular raksasa, Roh Penjaga Rimba berdiri menanti kepergian mereka.
Dari telapak tangannya tumbuh beberapa biji bercahaya kehijauan. Bentuknya kecil, namun memancarkan aroma segar seperti hutan selepas hujan.
“Bawalah ini.”
Pandika menerima biji-biji itu dengan kedua tangannya.
“Biji Kehidupan,” sabda Roh itu.
“Satu butir cukup untuk mengenyangkan tubuh selama berhari-hari. Ia juga akan melindungi kalian dari racun makanan dan air tercemar.”
Si Maung mengendus salah satu biji lalu mengangguk kagum.
“Energinya kuat… bahkan bangsa peri jarang memiliki makanan seperti ini.”
Oren segera memasukkan beberapa biji ke kantung kulitnya.
“Kalau begitu kita tak perlu takut mati kelaparan di negeri asing.”
Namun Roh Penjaga belum selesai.
Mata hijaunya menatap Pandika dalam-dalam.
“Perjalanan ini bukan sekadar mencari biji Pohon Dunia. Setiap negeri memiliki keserakahan, rahasia, dan perang mereka sendiri. Hati-hatilah terhadap kekuasaan.”
Angin pagi berembus pelan.
Dan ketika matahari akhirnya muncul sepenuhnya di ufuk timur, memandikan rimba dengan cahaya keemasan, Pandika, Si Maung, dan Oren pun memulai perjalanan mereka.
Mereka berjalan meninggalkan Desa Kucing melewati jalan setapak berbatu. Kabut tipis masih menggantung di antara akar dan semak.
Untuk beberapa lama, hanya suara langkah kaki dan desir daun yang terdengar.
Hingga akhirnya Pandika membuka percakapan.
“Ke kerajaan mana kita harus pergi lebih dahulu?”
Si Maung berjalan paling depan, ekornya bergoyang perlahan.
“Aku mengenal jalan-jalan tua Mythopia,” katanya. “Tetapi memilih tujuan pertama bukan perkara mudah.”
Oren menyilangkan tangan di belakang kepala sambil berjalan santai.
“Kalau menurutku,” katanya, “jangan langsung mendatangi negeri paling berbahaya. Kita bahkan belum tahu bagaimana cara memasuki kerajaan-kerajaan itu.”
Pandika memandang keduanya.
“Bukankah kita hanya perlu meminta baik-baik?”
Mendengar itu, Oren tertawa keras.
“Ini bukan desa petani, Pandika. Kerajaan-kerajaan besar tak akan menyerahkan sesuatu yang mereka anggap berharga hanya karena diminta.”
Si Maung mengangguk pelan.
“Benar. Beberapa negeri bahkan membunuh orang asing sebelum sempat berbicara.”
Suasana menjadi lebih serius.
“Kerajaan Agnivarsha,” lanjut Oren, “diperintah para bangsawan api yang curiga kepada pendatang. Sedikit kesalahan bisa membuatmu dilempar ke kawah lava.”
“Sedangkan Kalamreta,” ujar Si Maung, “adalah negeri yang bahkan sulit ditemukan. Banyak pengembara masuk ke sana… lalu tak pernah kembali.”
Pandika terdiam.
Ia memang telah belajar ilmu pedang dari Prabu Galang Siwah dan menghadapi roh-roh dunia gaib. Namun memasuki kerajaan asing adalah perkara lain.
Ilmu bela diri tak selalu membuka gerbang istana.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, “kita membutuhkan cara agar diterima.”
Si Maung berhenti di sebuah bukit kecil dan memandang jauh ke cakrawala.
Di kejauhan tampak asap gunung berapi menjulang merah ke langit.
“Itu arah Agnivarsha,” ujarnya.
Oren menyipitkan mata.
“Kerajaan api… tempat para pandai besi suci menempa senjata legenda.”
“Dan mungkin,” lanjut Si Maung, “tempat terbaik untuk memulai.”
“Kenapa?” tanya Pandika.
Si Maung menoleh perlahan.
“Karena pedangmu akan segera membutuhkan kekuatan baru.”
Angin gunung kembali bertiup.
Dan di bawah langit pagi Mythopia yang luas, tiga pengembara itu melangkah menuju kerajaan pertama—tanah api dan bara, tempat ujian baru telah menunggu.
Semakin jauh mereka berjalan ke arah timur, tanah hijau perlahan berubah menjadi hamparan pasir hitam dan batu-batu merah hangus. Udara terasa panas dan kering. Bahkan angin yang berembus membawa aroma belerang dari gunung-gunung api di kejauhan.
Langit di atas Kerajaan Agnivarsha berwarna kemerahan, seolah senja tak pernah benar-benar pergi dari negeri itu.
Pandika memandang takjub ketika akhirnya mereka tiba di gerbang perbatasan kerajaan.
Sebuah jembatan raksasa dari besi hitam membentang di atas sungai lava yang mengalir perlahan seperti darah bumi. Rantai-rantai baja sebesar batang pohon menggantung di sisi jembatan, sementara tiang-tiang penjaga dihiasi api yang tak pernah padam.
Di kejauhan terdengar dentang palu para pandai besi Agnivarsha—bergaung seperti genderang perang.
Antrian panjang memenuhi gerbang.
Para pedagang asing, pengembara, tentara bayaran, dan utusan kerajaan lain berdiri menunggu pemeriksaan identitas oleh prajurit berjubah merah-hitam.
Prajurit Agnivarsha bertubuh besar dan mengenakan zirah besi gelap dengan garis pijar seperti bara di sela-selanya. Mata mereka tajam dan penuh curiga.
Di depan Pandika, seorang pengelana tua sedang diperiksa.
“Identitas?” tanya penjaga dengan suara berat.
“A-aku hanya pedagang keliling…”
Penjaga itu mendecak dingin.
“Pedagang biasa dikenai pajak masuk lima keping emas.”
Wajah lelaki tua itu pucat.
“Aku… tak punya emas sebanyak itu.”
Penjaga segera menunjuk keluar gerbang.
“Kalau begitu pergi. Agnivarsha bukan negeri untuk pengemis.”
Orang tua itu pun diusir tanpa belas kasihan.
Pandika mengernyit pelan. Ia lalu berbisik kepada Si Maung,
“Tenang saja. Aku masih punya berkilo-kilo emas di kantong ajaibku. Hadiah dari Kerajaan Sunda masih banyak.”
Namun Si Maung segera mengibaskan ekornya.
“Tunggu dulu. Jangan keluarkan emas terlalu banyak di tempat seperti ini.”
“Kenapa?” tanya Pandika.
“Kau ingin dirampok sebelum masuk kota?”
Pandika terdiam.
Si Maung lalu mengeluarkan sebuah lencana kecil dari balik bulunya. Lambang matahari Majapahit terukir pada logam tua itu.
“Aku punya identitas yang lebih tinggi,” katanya santai. “Lambang kerajaan Majapahit.”
Mata Pandika membelalak.
“Hei! Itu aku juga punya!”
“Tapi wajahmu terlalu jujur untuk seorang bangsawan,” jawab Si Maung datar.
Oren tertawa keras sampai bahunya berguncang.
“Kalau begitu bagaimana denganku?”
Si Maung menoleh.
“Kau tetap harus bayar.”
“Apa?!”
“Wajahmu terlihat seperti pembuat masalah.”
Pandika menahan tawa sambil diam-diam merogoh kantung ajaib pemberian Ratu Peri. Dari dalam ruang kecil yang tampak mustahil itu, ia mengambil beberapa keping emas dan menyelipkannya ke tangan Oren.
“Pegang ini.”
Oren menyeringai puas.
“Sekarang aku terlihat terhormat.”
Ketika giliran mereka tiba, penjaga gerbang memandang ketiganya dengan curiga.
“Tujuan memasuki Agnivarsha?”
Si Maung melompat naik ke bahu Pandika dan memperlihatkan lambang Majapahit.
“Kami pengembara dari timur.”
Para penjaga segera berubah sikap ketika melihat lambang itu.
“Majapahit…” gumam salah seorang penjaga. “Kerajaan besar dari seberang lautan.”
Mereka tetap melakukan pemeriksaan ketat—memeriksa tas, zirah, bahkan pedang Pandika yang memancarkan aura aneh.
Salah seorang penjaga sempat menyipitkan mata ketika melihat pedang itu.
“Pedang ini bukan buatan biasa…”
Namun sebelum pertanyaan bertambah panjang, Si Maung berkata tenang,
“Kami datang bukan untuk mencari masalah.”
Akhirnya gerbang baja perlahan dibuka.
Suara rantai besi bergemuruh memenuhi udara.
Pandika, Si Maung, dan Oren pun melangkah masuk ke Agnivarsha—negeri api dan baja, tempat gunung-gunung menyala siang dan malam, dan di mana kekuatan seseorang diukur bukan dari kata-kata… melainkan dari panas bara yang mampu mereka tahan.
Pandika memandang hamparan negeri Kerajaan Agnivarsha dari sebuah bukit batu hitam. Di kejauhan tampak gunung-gunung api memuntahkan asap merah ke langit, sementara sungai lava mengalir seperti urat-urat bara yang membelah tanah.
Udara terasa panas bahkan untuk bernapas.
Dari arah kota terdengar dentang palu besi yang tak pernah berhenti—nyanyian abadi para pandai besi Agnivarsha.
Pandika menghela napas panjang.
“Aku perlu mengetahui lebih banyak tentang kerajaan ini,” katanya pelan.
Oren yang berjalan sambil memanggul tombak kayunya menoleh. Wajah ksatria kucing jingga itu tampak lebih serius daripada biasanya.
“Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja besar,” ujar Oren.
“Namanya adalah Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata.”
Si Maung mendengus kecil seakan mengenal nama itu dengan baik.
Oren melanjutkan,
“Ia memiliki gelar yang ditakuti sekaligus dihormati—Sang Penjaga Matahari Bara.”
Pandika mengernyit penasaran.
“Mengapa ia mendapat gelar seperti itu?”
Oren berhenti sejenak sebelum menjawab.
“Karena tak ada manusia biasa yang mampu bertahan di dekat lava Agnivarsha. Tetapi Adityawarman… ia berjalan di atas bara seperti berjalan di tanah biasa.”
Angin panas bertiup melewati mereka.
“Konon,” lanjut Oren, “ketika menempa senjata pusakanya, ia berdiri selama tujuh hari tujuh malam di dalam kawah gunung api tanpa meminum air sedikit pun.”
Pandika membelalak.
“Itu mustahil.”
“Di Mythopia,” jawab Si Maung tenang, “hal mustahil biasanya hanya perkara siapa yang cukup gila melakukannya.”
Oren tertawa pendek lalu melanjutkan,
“Pedang dan keris biasa akan meleleh dalam panas seperti itu. Karena itulah sang raja menggunakan bahan yang tidak berasal dari dunia biasa.”
“Apa maksudmu?”
“Senjata pusakanya,” kata Oren perlahan, “adalah Keris Jvalamukha… keris yang ditempa dari tulang naga api.”
Suasana mendadak sunyi.
Bahkan desir angin panas terasa lebih berat setelah kata-kata itu diucapkan.
Pandika memandang ke arah ibu kota Mahendra Agni yang samar terlihat di balik kabut merah.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “raja negeri ini bukan orang biasa.”
“Benar,” jawab Oren. “Dan orang seperti itu pasti menyimpan sesuatu yang sangat berharga.”
Pandika kembali teringat tujuan mereka.
“Lalu bagaimana kita akan menemukan biji Pohon Dunia di negeri seluas ini?”
Ia memandang jalan-jalan batu yang bercabang menuju tambang, benteng, dan kota-kota pandai besi.
“Bahkan mencari satu benda di sini seperti mencari setetes air di lautan bara.”
Namun Si Maung hanya tersenyum tipis.
“Aku sudah bilang sebelumnya,” katanya santai sambil mengibaskan ekor.
“Aku bisa mengendus aroma biji-bijian itu.”
“Benarkah?” tanya Pandika.
“Hm.” Si Maung menutup matanya sesaat. Hidungnya bergerak perlahan menghirup udara panas Agnivarsha.
Beberapa detik kemudian matanya terbuka.
“Aromanya samar…” gumamnya. “Tetapi ada.”
“Di mana?” tanya Oren cepat.
Si Maung memandang jauh ke arah gunung terbesar di tengah kerajaan—gunung api raksasa yang puncaknya bercahaya merah seperti matahari senja.
Di lereng gunung itu berdiri Istana Mahendra Bara.
“Aroma biji Pohon Dunia berasal dari sana.”
Pandika menelan ludah.
“Istana raja?”
Si Maung mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Agnivarsha, mereka menyadari bahwa misi ini mungkin bukan sekadar pencarian… melainkan langkah menuju sarang singa api itu sendiri.
Malam mulai turun di Kerajaan Agnivarsha.
Langit merah membara berubah menjadi gelap kehitaman, namun negeri api itu tak pernah benar-benar kehilangan cahaya. Sungai lava masih mengalir seperti urat-urat pijar di bawah kota, menerangi dinding-dinding batu dan menara besi dengan warna merah darah.
Di kejauhan berdiri Istana Mahendra Bara—megah dan mengerikan.
Menara-menara obsidian menjulang seperti tombak raksasa ke langit malam, sementara api abadi berkobar di sepanjang bentengnya.
Si Maung bergerak perlahan di balik bayangan batu-batu hitam, hidungnya terus mengendus udara.
“Aromanya semakin kuat,” bisiknya.
Pandika dan Oren mengikuti di belakang dengan hati-hati.
Dari sela dinding batu, mereka dapat melihat para Laskar Bara Naga sedang berpatroli.
Zirah merah-hitam mereka memantulkan cahaya bara. Tombak dan pedang mereka tampak berpijar seperti logam panas baru ditempa.
Tak jauh dari gerbang utama, seorang pria bertubuh besar berdiri memberi pengarahan kepada para ksatria.
Jubah merah gelap berkibar di punggungnya.
Bekas luka membelah wajahnya dari pelipis hingga dagu.
Di pinggangnya tergantung tombak panjang dengan mata tombak menyala merah.
“Itu dia…” gumam Oren pelan.
“Mahapati Rudra Agnivega.”
Pandika memandang kagum.
Aura panglima perang itu begitu berat hingga bahkan dari kejauhan terasa menyesakkan.
“Dia kuat,” bisik Pandika.
“Lebih dari kuat,” jawab Si Maung. “Jangan sampai bertarung dengannya jika tidak terpaksa.”
Mahapati Rudra Agnivega berbicara dengan suara keras kepada pasukannya.
“Perketat penjagaan malam ini! Tidak seorang pun boleh mendekati istana tanpa izin kerajaan!”
Para ksatria segera memberi hormat.
Si Maung menyipitkan mata.
“Aku punya ide.”
Pandika menoleh.
“Apa?”
Si Maung tersenyum licik.
“Oren akan menjadi pengalih perhatian.”
“Apa?!” Oren spontan memprotes.
“Sementara aku dan Pandika menyelinap masuk.”
Oren menghela napas panjang.
“Aku selalu dapat tugas paling memalukan…”
Beberapa saat kemudian, seekor kucing jingga bertubuh besar berjalan sempoyongan menuju gerbang istana sambil membawa botol minuman tanah liat.
Itu tentu saja Oren.
“Wahai penjaga istanaaa…” katanya dengan suara dibuat mabuk.
“Aku ingin menginap malam ini… dan bertemu raja kalian yang tampan itu!”
Para prajurit Bara Naga langsung memandangnya dengan jijik.
“Apa-apaan ini?”
“Siapa membiarkan kucing liar masuk gerbang utama?”
Oren tertawa keras sambil menunjuk salah satu penjaga.
“Kalian semua terlalu tegang! Minumlah sedikit!”
Ia menggoyang-goyangkan botolnya hingga cairan tumpah ke tanah panas.
Seorang ksatria Bara Naga maju dengan wajah merah menahan marah.
“Istana Mahendra Bara bukan tempat untuk binatang mabuk!”
“Aku bukan binatang!” teriak Oren.
“Aku ksatria tampan dari utara!”
Para prajurit akhirnya kehilangan kesabaran.
“Usir dia!”
Tiga ksatria langsung mengangkat tubuh Oren yang masih mengamuk sambil menendang-nendang udara.
“Lepaskan aku, manusia bara tak berbudaya!”
Dengan geram mereka melempar Oren ke sungai hitam di bawah jembatan batu.
BYUURRR!
Air hitam memercik tinggi.
Dari kejauhan masih terdengar suara Oren berteriak marah.
“AKU AKAN MENGADUKAN KALIAN PADA RAJA KUCING!”
Sementara seluruh perhatian penjaga tertuju pada kekacauan itu, Si Maung menempelkan tubuhnya ke kaki Pandika.
Kabut tipis menyelimuti mereka.
Perlahan tubuh keduanya memudar… lalu menghilang dari pandangan.
“Sekarang,” bisik Si Maung.
Dengan gerakan ringan mereka berlari mendekati tembok benteng.
Pandika melompat, bertumpu pada batu hitam, lalu memanjat dinding tinggi itu dalam sekali tarikan napas.
Si Maung melesat lebih cepat dari bayangan.
Dalam sekejap, keduanya telah melewati benteng luar dan mendarat tanpa suara di halaman dalam istana.
Pandika menahan napas.
Di hadapannya terbentang lorong-lorong istana Agnivarsha yang dipenuhi obor merah dan patung naga api raksasa.
Dan jauh di pusat istana… ia dapat merasakan sesuatu memanggil.
Aroma Pohon Dunia.
Dengan tubuh tersembunyi dalam kabut sihir Si Maung, Pandika melompati tembok bagian dalam Istana Mahendra Bara. Mereka berlari melintasi lorong batu hitam hingga menemukan sebuah jendela raksasa yang terbuka menghadap halaman rahasia istana.
Pandika masuk lebih dahulu.
Begitu kedua kakinya menyentuh lantai batu, ia segera terdiam.
Ruangan itu amat luas dan sunyi.
Di tengahnya terbentang kolam bundar berisi air panas yang mengepulkan uap tipis. Cahaya bara dari sela lantai memantulkan warna merah ke dinding-dinding obsidian.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah pohon besar di tengah ruangan.
Batangnya hitam keemasan, sementara akar-akarnya menjulur ke kolam seperti ular raksasa.
Dan di samping pohon itu…
terbaring seekor makhluk bersayap raksasa yang dirantai dengan belenggu besi.
Makhluk itu menyerupai naga tua.
Sisiknya kusam dan penuh luka. Sayapnya robek dan sebagian tampak telah dipotong. Lehernya dibelenggu rantai hitam sebesar batang pohon.
Napasnya berat seperti embusan tungku raksasa.
Si Maung menyipitkan mata.
“Biji Pohon Dunia ada di sana…” bisiknya.
“Aromanya berasal dari pohon itu.”
Pandika memegang gagang pedangnya.
“Naga itu terlihat buas,” katanya pelan.
“Haruskah aku membunuhnya?”
“Tunggu,” ujar Si Maung cepat. “Aku ingin berbicara dengannya.”
Suasana istana malam itu amat sunyi.
Raja dan sebagian besar penghuni istana tampaknya sedang beristirahat.
“Kita tidak boleh membuat keributan,” lanjut Si Maung. “Kalau penjaga datang, kita tak akan bisa keluar hidup-hidup.”
Mereka mendekati pohon itu perlahan.
Namun sebelum sempat berbicara, mata sang naga tua terbuka.
Sepasang mata emas redup memandang mereka dalam gelap.
Suaranya berat dan tua seperti batu gunung runtuh.
“Aku tahu… kalian datang untuk mencuri biji pohon itu…”
Pandika menegang.
Tetapi Si Maung melangkah maju tanpa takut.
“Perkenalkan,” katanya sopan sambil menundukkan kepala, “aku Raja Kucing dari rimba utara.”
Naga tua itu tertawa lirih.
“Seekor kucing… menyelinap ke istana api…”
“Aku bisa membebaskanmu,” lanjut Si Maung.
Naga tua memalingkan kepalanya perlahan.
“Lihatlah keadaanku…”
Ia mengangkat sisa sayapnya yang koyak.
“Sayapku telah dipotong. Leherku dirantai. Sudah lama tenggorokanku tak mampu mengeluarkan api…”
Matanya menyala penuh kebencian.
“Mereka mengambil darahku… sedikit demi sedikit…”
Pandika menggenggam pedangnya lebih erat.
“Aku bisa menghancurkan rantai itu,” katanya.
“Dan membawamu pergi dalam kantong ajaibku.”
Si Maung menatap naga tua itu dalam-dalam.
“Tidakkah kau menginginkan kebebasan?”
Untuk beberapa saat, ruangan kembali sunyi.
Lalu sang naga mengangguk perlahan.
“Aku bisa membaca hati kalian…” gumamnya.
“Kalian bukan pencuri biasa.”
Si Maung segera bergerak menuju pohon besar itu.
Sementara Pandika melangkah mundur dan mulai melakukan gerakan Tarian Bulan.
Pedangnya perlahan memancarkan cahaya putih keperakan.
Gerakannya halus dan tenang seperti aliran air malam.
Sementara itu Si Maung memanjat batang pohon dan mulai mengendus bagian tertentu dari kulit kayu.
“Aku menemukannya…”
Di balik batang pohon biasa ternyata tersembunyi cahaya hijau keemasan.
Biji Pohon Dunia telah dicangkokkan secara paksa ke pohon itu.
Dengan pisau kecilnya, Si Maung mulai mencongkel biji itu perlahan dan hati-hati.
“Sedikit lagi…”
Namun akar pohon itu ternyata sangat keras.
Ketika Tarian Bulan Pandika mencapai gerakan terakhir, cahaya pedangnya bersinar semakin terang.
Dengan satu tarikan napas panjang—
SLAAASSSHHH!
Pedang bercahaya itu menebas rantai naga tua.
JEGEEEERRR!
Suara besi putus menggema ke seluruh aula istana.
Rantai hitam raksasa terbelah seketika.
Si Maung membelalak panik.
“Pandika! Itu terlalu keras!”
Tanpa membuang waktu lagi, Si Maung segera berubah menjadi serigala besar. Dengan cakar tajamnya ia mengorek batang pohon hingga biji hijau keemasan itu akhirnya terlepas.
“Aku mendapatkannya!”
Sementara itu Pandika melompat ke kepala naga tua.
“Maaf kalau sedikit sempit!” serunya.
Dengan susah payah ia memasukkan naga tua itu ke dalam kantong ajaib pemberian Ratu Peri.
Beberapa detik kemudian—
ALARM BESI berbunyi di seluruh istana.
Obor-obor menyala terang.
Teriakan penjaga menggema dari segala arah.
“PENYUSUP!”
“POHON SUCI DIRUSAK!”
“NAGA TAWANAN HILANG!”
Ribuan prajurit Laskar Bara Naga berlari memasuki aula.
Mereka terkejut melihat pohon rusak, rantai hancur, dan ruang penahanan kosong.
Tak lama kemudian, suara murka mengguncang seluruh istana.
Itu suara Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata sendiri.
“SIAPA YANG BERANI MENYENTUH MILIK AGNIVARSHA?!”
Api raksasa menyembur dari menara istana ke langit malam.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun…
Istana Mahendra Bara berada dalam kekacauan besar.
Di dalam Istana Mahendra Bara suasana berubah menjadi kacau.
Lonceng-lonceng besi dibunyikan tanpa henti. Api obor menyala semakin terang di setiap lorong, sementara langkah ribuan prajurit menggema seperti gemuruh perang.
Semua gerbang istana telah ditutup rapat.
Jembatan rantai diangkat.
Bahkan lubang-lubang ventilasi lava dijaga oleh pemanah Bara Naga.
Pandika dan Si Maung kini bersembunyi di balik selubung kabut sihir yang membuat tubuh mereka lenyap dari pandangan biasa.
Mereka berdiri diam di antara pilar-pilar obsidian aula dalam, nyaris tak bernapas.
Di kejauhan terdengar suara berat penuh kemarahan.
Itu suara Mahapati Rudra Agnivega.
Panglima perang Agnivarsha itu tengah menginterogasi para penjaga gerbang.
“Apa kalian semua tertidur,” geramnya, “hingga tak melihat pencuri masuk ke istana?!”
Para penjaga Bara Naga segera berlutut ketakutan.
“Kami tidak melihat siapa pun masuk, Mahapati!”
“Dan kami tidak tertidur!” sambung yang lain dengan suara gemetar.
Rudra Agnivega menghantamkan tombaknya ke lantai batu.
DUUUMMM!
Retakan panas menjalar di lantai aula.
“Mustahil!” bentaknya.
“Pohon suci dirusak! Naga tawanan hilang! Dan kalian mengatakan tak melihat apa-apa?!”
Para prajurit menunduk semakin dalam.
Pandika mengintip dari balik kabut sambil menelan ludah.
“Panglima itu menakutkan…”
Si Maung berbisik pelan,
“Dia bukan hanya kuat. Instingnya juga tajam.”
Mahapati Rudra berjalan perlahan mengelilingi para penjaga seperti harimau mengitari mangsa.
“Aku mencium sesuatu yang aneh malam ini…” katanya lirih namun dingin.
“Sihir… atau mungkin pengkhianatan.”
Pandika langsung menegang.
Untuk sesaat ia merasa mata sang panglima hampir mengarah tepat ke tempat persembunyian mereka.
Untungnya kabut Si Maung masih bekerja.
Namun Si Maung sendiri mulai berkeringat.
“Kita tak bisa lama-lama memakai kabut ini,” bisiknya.
“Aura panas istana mengikis sihirku.”
Di aula, Rudra Agnivega kembali berseru,
“SEGEL seluruh lorong bawah tanah! Periksa setiap ruangan! Penyusup itu pasti masih berada di dalam istana!”
“SIAP, MAHAPATI!” jawab para prajurit serempak.
Dalam hitungan detik, ratusan Laskar Bara Naga menyebar ke seluruh penjuru istana.
Beberapa membawa anjing api.
Yang lain membawa tombak bercahaya merah untuk mendeteksi sihir.
Pandika menggenggam pedangnya erat.
“Kalau mereka menemukan kita…”
“Kita akan menghadapi seluruh Agnivarsha,” jawab Si Maung pelan.
Langkah-langkah para penjaga mulai mendekat ke lorong tempat mereka bersembunyi.
Kabut perlahan menipis.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki istana, Pandika menyadari bahwa mereka mungkin tidak akan bisa keluar semudah saat masuk tadi.
Lorong-lorong Istana Mahendra Bara semakin dipenuhi suara langkah para penjaga.
Kabut sihir Si Maung mulai menipis.
Pandika dapat melihat cahaya tombak Bara Naga bergerak semakin dekat dari ujung lorong.
“Kita kehabisan waktu…” bisik Si Maung.
Namun tiba-tiba—
suara berat terdengar di dalam pikiran Pandika.
“Manusia…”
Pandika terkejut dan segera memegang kepalanya.
“Keluarkan aku.”
Ia segera sadar suara itu berasal dari dalam kantong ajaib pemberian bangsa peri.
“Naga tua?” gumam Pandika pelan.
“Tubuhku telah pulih.”
Pandika mengernyit bingung.
“Pulih? Bukankah kau masih terluka parah?”
Suara naga itu terdengar lebih kuat daripada sebelumnya.
“Jangan meremehkanku, anak muda.”
Di dalam pikirannya, Pandika dapat merasakan gema kekuatan kuno seperti letusan gunung berapi.
“Aku adalah naga tua Agnivarsha.”
Si Maung ikut menoleh.
“Ada apa?”
Pandika berbisik cepat,
“Naga itu ingin keluar.”
Mata Si Maung langsung membesar.
“Di dalam istana?! Kau gila?”
Namun suara sang naga kembali menggema.
“Biji-bijian ajaib di dalam kantongmu telah memulihkan kekuatanku.”
Pandika baru teringat.
Di dalam kantong itu tersimpan banyak Biji Kehidupan pemberian Roh Penjaga Rimba.
Energi Pohon Dunia rupanya telah menyembuhkan naga tua tersebut.
“Kini… saatnya mereka membayar.”
Pandika menelan ludah.
Di ujung lorong, para penjaga mulai mendekat.
“Periksa ruangan sebelah!”
“Mereka pasti bersembunyi!”
Si Maung mendesis panik.
“Cepat putuskan!”
Pandika akhirnya mengangguk.
“Baiklah…”
Ia membuka kantong ajaib itu.
Sesaat kemudian—
BRAAAAAKKKKK!!!
Seekor naga raksasa menerobos keluar dari ruang kecil kantong tersebut.
Tubuhnya kini jauh lebih besar dan gagah daripada sebelumnya.
Sisik merah-hitamnya menyala seperti logam membara.
Mata emasnya bersinar penuh amarah.
Para penjaga langsung membeku ketakutan.
“N-NAGA TAWANAN!”
“Mustahil!”
Sang naga mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
Selama beberapa detik, seluruh istana terasa sunyi.
Lalu—
ROOOOAAAAARRRRR!!!
Semburan api raksasa keluar dari mulutnya.
Lautan api merah menyapu lorong istana.
Para penjaga Bara Naga berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri.
Pilar-pilar obsidian mulai retak akibat panas luar biasa.
“Akhirnya…” geram sang naga,
“aku kembali menghirup udara kebebasan!”
Ia mengepakkan sayapnya yang telah pulih sebagian.
Api dan bara beterbangan ke segala arah.
Dengan kemarahan ribuan tahun, naga tua itu mulai membakar istana.
Menara-menara obsidian runtuh satu demi satu.
Atap aula pecah dihantam tubuhnya.
JEGERRR!!!
Lubang besar terbuka di langit-langit istana.
Cahaya malam dan hujan bara langsung masuk dari atas.
Pandika tak membuang kesempatan.
Dengan gerakan Langkah-Langkah Mendominasi, ia melesat cepat melewati kobaran api lalu melompat ke punggung naga.
“Si Maung!”
“Aku sudah siap!”
Si Maung segera berubah menjadi kabut dan menempel di bahu Pandika.
Detik berikutnya sang naga mengepakkan sayapnya kuat-kuat.
BOOOOMMM!
Tubuh raksasa itu menerobos keluar dari atap istana yang hancur.
Para prajurit di halaman hanya bisa menatap ngeri ketika naga api legendaris itu kembali terbang di langit Agnivarsha.
Sementara itu, di singgasana api bagian dalam istana—
Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata berdiri dengan wajah penuh murka.
Api membakar di sekeliling tubuhnya.
“RUDRA AGNIVEGA!”
Suara raja mengguncang aula.
Mahapati Rudra Agnivega segera berlutut.
“Ampun, Paduka—”
“Kau membiarkan naga peliharaanku dicuri!”
Raja menghantamkan Keris Jvalamukha ke lantai.
Ledakan api langsung menjalar memenuhi ruangan.
“Tangkap mereka!” bentaknya.
“Hidup atau mati!”
Di luar istana, lonceng perang Agnivarsha mulai dibunyikan.
Dan di langit malam penuh bara…
Pandika kini terbang di atas naga api legendaris yang baru saja membakar kerajaannya sendiri.
Naga api itu terus terbang menembus langit malam Kerajaan Agnivarsha.
Di bawah mereka, cahaya merah dari istana yang terbakar masih tampak menyala seperti luka besar di tengah negeri bara.
Angin panas menerpa wajah Pandika saat ia bertahan di atas punggung naga tua itu.
Namun setelah terbang cukup jauh dari ibu kota, sang naga mulai menurunkan ketinggian.
Ia mendarat di sebuah bukit batu hitam yang sunyi, jauh dari jalur patroli kerajaan.
DUUUMMM!
Tanah bergetar ketika tubuh raksasanya menyentuh bumi.
Asap panas keluar dari lubang hidungnya.
Naga tua itu perlahan menoleh ke arah Pandika.
“Aku tahu masih ada manusia di punggungku,” gumamnya dengan suara berat.
Pandika segera melompat turun lalu menundukkan kepala hormat.
“Terima kasih,” ujarnya tulus.
“Karena telah membiarkan kami ikut melarikan diri.”
Mata emas sang naga memandangnya beberapa saat.
“Aku yang seharusnya berterima kasih.”
Ia menatap langit malam yang gelap.
“Berabad-abad lamanya aku dirantai di istana itu…”
Api kecil keluar dari sela mulutnya.
“Kalian memberiku kembali kebebasan.”
Untuk pertama kalinya, suara naga tua itu terdengar tenang.
Pandika lalu bertanya,
“Kemana kau akan pergi sekarang?”
Naga itu mengangkat kepalanya perlahan ke arah barat.
“Ke Sarang Naga di barat dunia.”
“Masih ada naga lain?”
“Tentu saja,” jawabnya.
“Meski sebagian besar telah diburu manusia.”
Ia membuka sayapnya yang besar.
“Semoga jalan kalian tidak berakhir dalam bara seperti Agnivarsha.”
Dengan satu kepakan besar, naga tua itu kembali terbang ke langit malam hingga perlahan menghilang di balik awan merah.
Keheningan pun turun.
Barulah Pandika tersadar sesuatu.
“Tunggu…”
Ia menoleh panik kepada Si Maung.
“Si Oren tertinggal di kerajaan!”
Si Maung justru menguap santai.
“Tenang saja.”
“Itu bukan situasi yang bisa disebut tenang!”
“Dia kucing,” jawab Si Maung datar. “Dan kucing selalu pandai meloloskan diri.”
Pandika masih tampak khawatir.
Namun Si Maung hanya duduk sambil menjilat cakarnya.
“Tunggu saja di sini,” katanya.
“Dia bisa mencium bau kita.”
Tak lama kemudian—
semak-semak di balik batu bergerak.
Seekor kucing besar berwarna hitam legam keluar dengan langkah lelah.
Bulunya basah dan penuh noda hitam seperti terkena minyak.
“Itu…” Pandika menyipitkan mata.
“Si Oren?”
Kucing itu mendesis kesal.
“Tentu saja aku!”
Pandika spontan tertawa.
“Wah… aku hampir tidak mengenalimu.”
Si Oren menggeram sambil membersihkan wajahnya.
“Jangan tertawa! Sungai hitam itu bau sekali!”
Si Maung tertawa kecil.
“Setidaknya sekarang namamu cocok dengan malam.”
Si Oren mendekat cepat.
“Jadi? Apakah kalian berhasil mendapatkan Biji Pohon Dunia?”
Si Maung tersenyum bangga lalu mengeluarkan biji hijau keemasan itu dari kantung kecil.
Cahayanya langsung menerangi sekitar mereka.
“Tentu saja berhasil.”
Mata Si Oren langsung membesar kagum.
“Itu benar-benar biji Pohon Dunia…”
Namun wajahnya segera berubah serius.
“Kita harus pergi sekarang juga.”
“Kenapa?” tanya Pandika.
“Seluruh kerajaan sedang mengejar naga merah itu. Pasukan Agnivarsha memenuhi jalan-jalan.”
Di kejauhan terdengar suara tanduk perang dan derap kuda.
Api obor tampak bergerak di kaki bukit.
Si Maung segera berdiri.
“Kalau begitu kita gunakan jalur hutan.”
Tubuhnya berubah menjadi kucing raksasa sebesar serigala.
Si Oren juga berubah bentuk—meski bulunya kini tetap hitam legam.
“Naik,” ujar Si Maung.
Pandika segera naik ke punggungnya.
Detik berikutnya kedua kucing besar itu melompat ke pepohonan.
Mereka bergerak cepat dari cabang ke cabang seperti bayangan malam.
Tak meninggalkan jejak sedikit pun.
Sementara itu jauh di belakang—
pasukan Laskar Bara Naga terus mengejar arah terbang naga merah, tanpa menyadari bahwa pencuri sebenarnya telah lenyap ke dalam rimba malam.

09/04/26

Season 10 Kerajaan mythopia

Chapter 89 Ksatria terluka

Di sudut gua yang remang, jauh dari dentuman pedang yang terus menggema, Surya Wikrama berlutut di tengah lingkar cahaya keemasan.
Tangannya terangkat, perlahan namun pasti, menyalurkan energi hangat yang mengalir seperti matahari pagi—lembut, namun penuh daya hidup.
Satu per satu para ksatria terbaring di sekelilingnya.
Pangreksa—tak sadarkan diri, napasnya tipis seperti benang yang hampir putus. Cahaya putih di dadanya hanya tersisa bara kecil, nyaris padam.
Bhra Anuraga—terduduk dengan tubuh bersandar pada batu, api di dalam dirinya meredup, seperti bara yang kehilangan kayu.
Bayu Anggana—terbaring diam, dadanya naik turun berat, seolah setiap napas adalah perjuangan melawan badai yang telah ia lepaskan sendiri.
Sagara Putra—tidak terluka parah secara jasmani, namun matanya kosong. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seakan masih merasakan air yang pernah menjadi sahabatnya… kini menjadi alat perpisahan.
Surya Wikrama memejamkan mata.
“Kalian telah melampaui batas tubuh dan jiwa…”
bisiknya pelan.
“Kini biarkan aku menahan retaknya.”
Cahaya emasnya menguat.
Luka-luka mulai menutup perlahan, energi yang tercerai dikumpulkan kembali—namun bahkan Surya tahu, tidak semua yang retak bisa disatukan sepenuhnya.
Di sisi lain lingkar itu, hanya dua yang masih berdiri.
Guntur Wisesa, dengan sisa kilat yang masih berderak pelan di tubuhnya.
Dan Jagat Dirgantara, yang berdiri kokoh seperti pilar dunia, meski retakan halus terlihat di lengannya.
Mereka menatap ke arah kegelapan.
Ke arah tempat di mana suara pertempuran tak pernah berhenti.
Di sana—
Isidore.
Tak terlihat jelas oleh mata biasa.
Hanya terdengar—
KLANG!
KRAANG!
SHRAAANG!
Benturan besi dengan besi.
Cahaya yang menyambar seperti kilat sesaat.
Bayangan yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti.
Tiga kepala suku mengurungnya.
Orkaghor menyerang dengan kebrutalan liar.
Mhezzrak menghilang dan muncul seperti bayangan yang mengintai kematian.
Vorthax menghantam dengan kekuatan yang mampu merobek batu.
Namun di tengah mereka—
Isidore berdiri.
Pedangnya menari.
Bukan lagi sekadar jurus.
Bukan lagi sekadar teknik.
Melainkan irama.
Langkahnya ringan seperti angin, namun setiap tebasan mengandung berat dunia. Serangan datang dari segala arah—namun selalu ada satu jalur sempit yang terbuka… dan Isidore selalu berada di sana.
Cahaya dari pedangnya kini tak lagi sekadar biru.
Ia mulai berubah.
Keemasan samar menyelinap di antara kilauannya—seperti fajar yang lahir dari malam panjang.
Dari kejauhan, Cheon Myeong berbisik pelan, suaranya nyaris hilang dalam gema perang:
“Ia mulai terbangun…”
“Bukan sebagai murid… tapi sebagai pewaris.”
Benturan semakin cepat.
Udara bergetar.
Tanah retak.
Dan untuk pertama kalinya—
para kepala suku mulai terdorong mundur.
Isidore tidak tampak lelah.
Napasnya stabil.
Tatapannya tajam.
Namun jauh di dalam dirinya, sesuatu sedang bangkit—
bukan kemarahan…
bukan keputusasaan…
melainkan kehendak yang tak tergoyahkan.
Di belakangnya, Guntur Wisesa melangkah maju.
“Kita tidak bisa membiarkannya sendiri.”
Jagat Dirgantara mengangguk.
Tanah bergetar pelan di bawah kakinya.
“Maka kita akan menjadi dindingnya.”
Keduanya melangkah ke dalam bayangan pertempuran.
Dan saat mereka masuk—
cahaya Isidore menyala lebih terang.
Pertempuran belum mencapai puncaknya.
Namun semua yang hadir di sana tahu—
momen penentuan sudah dekat.
Chapter 90 Akhir dari pertarungan kepala suku
Dentuman besi kembali menggema.
Namun kali ini—
Isidore tidak sendiri.
Dari sisi kiri, Guntur Wisesa melangkah masuk, kilat merayap di lengannya seperti naga yang terbangun.
Dari kanan, Jagat Dirgantara menghentakkan kaki—tanah merespons, bergetar pelan seperti makhluk purba yang membuka mata.
Tiga kepala suku menoleh.
Lalu… tersenyum.
“Akhirnya,” geram Vorthax.
“Pertarungan yang layak.”
Mereka maju bersamaan.
Orkaghor menerjang seperti binatang liar.
Mhezzrak menghilang dalam sela bayangan.
Vorthax mengangkat pedang raksasanya, siap menghancurkan segalanya.
Namun—
Isidore tidak bergerak.
Ia mengamati.
Matanya berubah.
Bukan lagi biru.
Bukan emas.
Melainkan keperakan—jernih, dingin, seperti cahaya bulan di atas pedang.
Di matanya, dunia melambat.
Setiap ayunan pedang terlihat jelas.
Setiap langkah memiliki jalur.
Dan setiap musuh… memiliki titik lemah.
“Ke kanan… dua langkah,” bisiknya pelan.
Guntur bergerak seketika.
Kilat menyambar tepat saat Orkaghor membuka sisi tubuhnya—ledakan cahaya memaksa sang kepala suku mundur setengah langkah.
“Sekarang.”
Jagat menghantam tanah.
DUUUM—!!
Getaran merambat, tak terlihat namun pasti.
Pertarungan berlanjut cepat—terlalu cepat untuk mata biasa. Cahaya putih, biru, dan percikan api beradu dalam tarian maut.
Namun tanpa disadari—
tanah di bawah kaki para kepala suku berubah.
Retakan halus menjalar.
Tekstur mengeras.
Energi bumi mengunci perlahan.
Mereka terlalu menikmati pertarungan itu.
Terlalu tenggelam dalam euforia kekuatan.
Hingga—
terlambat.
Kaki mereka terjebak.
Batu menggigit pergelangan, menjalar ke betis, lalu mengunci seperti belenggu dunia itu sendiri.
“Apa—?!”
Jagat Dirgantara berdiri tegak.
“Bumi… tidak pernah berpihak pada perusak.”
Saat itu—
Guntur Wisesa mengangkat tangannya ke langit gua.
Cahaya putih muncul.
Bukan satu.
Bukan dua.
Melainkan rentetan kilat yang jatuh tanpa henti.
KRAK!! KRAK!! KRAAASH!!
Petir menyambar kepala mereka, berulang, membakar, menghanguskan. Tubuh mereka gosong, daging terkoyak, namun—mereka tidak mati.
Keabadian mereka menahan kehancuran.
Namun juga—
menahan mereka dalam penderitaan itu.
Mereka tidak bisa bergerak.
Tidak bisa melawan.
Hanya berdiri…
terkunci…
terbakar.
Dan di tengah cahaya yang menyilaukan itu—
Isidore melangkah maju.
Tenang.
Sunyi.
Pedangnya terangkat.
Gerakannya sederhana.
Namun sempurna.
Satu langkah.
Satu putaran.
Satu tebasan—
lalu dua—
lalu tiga.
Tak ada suara.
Tak ada dentuman.
Hanya garis cahaya tipis yang melintas di tubuh para kepala suku.
Dan sesaat kemudian—
tubuh mereka terpisah.
Bersih.
Tanpa jeritan.
Tanpa perlawanan.
Keabadian mereka tidak hilang—
namun kini mereka hanyalah potongan tubuh yang tak lagi memiliki kehendak untuk bangkit.
Keheningan jatuh.
Petir berhenti.
Tanah kembali diam.
Isidore berdiri di antara sisa pertarungan, matanya perlahan kembali normal.
Guntur menurunkan tangannya, napasnya berat.
Jagat menarik palunya, retakan tanah menutup perlahan.
“Selesai…”
gumam Jagat.
Namun Isidore tidak menjawab.
Ia menatap ke depan.
Ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari sebelumnya.
Karena ia tahu—
ini belum akhir.
Dan dari balik bayangan yang belum tersentuh cahaya—
seseorang…
masih menunggu
Chapter 91 Ki Surya dahana terdesak 
Di kedalaman gua yang mulai retak oleh sisa pertempuran, Ki Surya Dahana berdiri dalam diam.
Namun diamnya bukan kelemahan—
melainkan kesadaran.
Ia dapat merasakan satu per satu—
ikatan jiwa para kepala suku yang telah padam.
Wajahnya tidak berubah.
Hanya matanya yang sedikit menyipit.
“Jadi… sejauh ini kalian melangkah.”
Namun sebelum ia bergerak—
tanah di bawahnya berdenyut.
Akar-akar pohon tua menerobos dari dasar gua, melilit kaki dan tubuhnya dengan cepat, keras, dan hidup.
Rakajati telah menemukannya.
“Tidak ada lagi bayangan untuk bersembunyi, Surya Dahana,”
ucap Rakajati, suaranya berat seperti tanah yang menua.
Akar mengencang.
Namun Ki Surya Dahana hanya mengangkat tongkatnya.
Dengan satu sentuhan ringan—
Srek.
Akar-akar itu terpotong. Bukan dihancurkan—melainkan diputus dari kehendaknya, seolah kehidupan di dalamnya dipadamkan.
Ia melangkah mundur.
Namun sudah terlambat.
Dari lorong yang hancur—
Isidore datang.
Diikuti Guntur Wisesa, Jagat Dirgantara, dan Rakajati di sisinya. Cahaya dan tekanan dari kehadiran mereka memenuhi ruang, membuat udara terasa berat.
Di kejauhan, langkah lain bergema.
Pandika.
Akhirnya ia tiba, bergabung tanpa kata—pedangnya terangkat, matanya tajam.
Rakajati menghentakkan tongkatnya sekali lagi.
Dari lantai gua, sebuah pohon raksasa tumbuh dengan kekuatan brutal, menembus batu dan menghancurkan pintu rahasia yang selama ini menjadi jalur pelarian.
BOOM—!!
Jalan tertutup.
Ki Surya Dahana kini benar-benar terdesak.
Ia menatap mereka semua.
Lalu—
tatapannya berhenti pada Isidore.
Dan untuk pertama kalinya—
ada kejutan di wajahnya.
Mata Isidore.
Keperakan.
Dingin. Dalam. Dan… kuno.
Seperti mata para leluhur Mythopia.
Seperti—
Rasvatar.
Isidore melangkah maju, pedangnya terarah lurus.
“Sudah berakhir sekarang, Surya Dahana.”
“Pilih—menyerah… atau mati.”
Keheningan menggantung.
Lalu—
Ki Surya Dahana tersenyum tipis.
“Aku… menyerah.”
Para ksatria tidak bergerak.
Namun atmosfer berubah—bukan menjadi tenang, melainkan lebih waspada.
“Namun,” lanjutnya pelan,
“dengarkan satu hal sebelum kalian menghakimi.”
Ia menatap Isidore dalam-dalam.
“Berhati-hatilah pada Rasvatar.”
“Kalian mengira kalian sedang memburu bayangan…”
“padahal kalian berjalan… ke dalam kehendaknya.”
Guntur Wisesa menggeram.
“Cukup. Jangan coba bermain kata.”
Namun Ki Surya Dahana hanya tertawa kecil.
“Dan satu lagi…”
“kalian tidak akan pernah—”
Isidore sudah bergerak.
Tanpa suara.
Tanpa peringatan.
Pedangnya melintas seperti kilat senyap, membelah ruang di antara mereka.
Slaaash—
Jubah Ki Surya Dahana terbelah.
Namun—
tak ada tubuh di dalamnya.
Kosong.
Hanya kain yang jatuh perlahan ke tanah.
Angin dingin berhembus dari kegelapan.
Pandika menegang.
“Ilusi lagi…?”
Rakajati menutup mata sejenak, merasakan akar-akar bumi.
Lalu ia membuka kembali dengan ekspresi berat.
“Bukan ilusi…”
“Ia sudah pergi… sebelum kita menyadarinya.”
Isidore berdiri diam.
Matanya yang keperakan menatap ke depan—menembus ruang kosong yang ditinggalkan.
Kata-kata Ki Surya Dahana masih bergema di benaknya.
“Kalian berjalan… ke dalam kehendaknya.”
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—
Isidore tidak mengejar.
Ia hanya berkata pelan:
“Rasvatar…”
Di kejauhan, jauh dari jangkauan mereka—
sesuatu bergerak.
Dan permainan yang lebih besar…
baru saja dimulai.
Chapter 92 Perkumpulan sesat Sinabung runtuh
Kabar kepergian Ki Surya Dahana menyebar seperti api di musim kemarau.
Di lorong-lorong gua Gunung Sinabung yang remang, kegemparan tak terelakkan. Para tetua dan anggota perkumpulan kegelapan berlarian tanpa arah—wajah mereka pucat, napas tersengal, hati dipenuhi ketakutan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Mereka telah melihat—
atau setidaknya mendengar—
bagaimana para kepala suku, yang selama ini mereka anggap setara dengan dewa, tumbang satu per satu.
Dan di balik semua itu…
hanya satu nama yang bergaung:
Isidore.
Namun bukan Isidore yang menghancurkan sisa harapan mereka—
melainkan Pandika.
Di mulut gua, ia berdiri seperti bayangan yang menolak pergi. Pedangnya terangkat perlahan, lalu tubuhnya mulai bergerak.
Tarian Bulan.
Gerakan yang lembut—namun mengandung kehancuran.
Langkahnya mengalir seperti air, berputar seperti angin malam, dan setiap ayunan pedangnya memanggil cahaya pucat yang memanjang di udara.
Kemudian—
BRAAAK—!!
Dinding gua runtuh.
Batu-batu besar pecah, debu berhamburan, lorong-lorong rahasia yang dulu tersembunyi kini terbuka dan hancur tanpa sisa.
Jeritan memenuhi ruang.
Para anggota sekte berlutut, sebagian menangis, sebagian lagi memohon ampun.
Pandika berhenti.
Pedangnya menunjuk ke arah mereka.
“Dengarkan aku.”
Suaranya tidak keras—
namun cukup untuk membuat semua diam.
“Gunung ini bukan lagi tempat bagi kegelapan.”
“Jika satu saja dari kalian kembali menapaki jalan lama…”
Ia menurunkan pedangnya perlahan, matanya dingin.
“Aku sendiri yang akan mengakhiri kalian.”
Tak ada yang berani membantah.
Hari itu—
perkumpulan sesat Sinabung runtuh, bukan hanya oleh kekuatan, tetapi oleh ketakutan dan kesadaran.
Sebagian memilih pergi.
Sebagian memilih bertobat.
Dan sebagian lagi… menghilang tanpa jejak.
Sementara itu, jauh dari keramaian dan kehancuran—
di sebuah celah gua yang lebih tenang, di mana akar-akar tua menjuntai seperti tirai alam—
Isidore duduk bersila.
Matanya terpejam.
Napasnya perlahan mulai teratur, meski sesekali getaran halus masih merambat di tubuhnya—sisa dari kekuatan yang terlalu besar untuk manusia biasa.
Di sekelilingnya, para ksatria Mythopia beristirahat.
Pangreksa masih terbaring tak sadarkan diri.
Bhra Anuraga bersandar, tubuhnya masih memancarkan sisa panas.
Bayu Anggana menarik napas panjang, lelah hingga ke tulang.
Sagara Putra duduk diam, pikirannya masih dihantui pertempuran.
Hanya Guntur Wisesa dan Jagat Dirgantara yang tetap berjaga, meski kelelahan juga mulai menggerogoti mereka.
Di tengah keheningan itu—
Rakajati berjalan perlahan.
Ia tidak membawa senjata.
Hanya ranting, daun layu, dan tanah yang tampak biasa.
Ia berlutut, menyentuhkan telapak tangannya ke bumi.
Sejenak… tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
tanah itu menghangat.
Dari dalamnya, perlahan muncul ubi jalar madu, matang oleh panas yang merambat dari akar-akar dalam bumi. Kulitnya sedikit hangus, namun aroma manisnya segera memenuhi udara gua.
Rakajati mengambilnya satu per satu, membersihkan dengan daun, lalu membelahnya.
Uap hangat naik ke udara.
Manis.
Sederhana.
Namun… menenangkan.
Ia membagikannya kepada para ksatria tanpa banyak kata.
Guntur menerima dengan anggukan kecil.
Jagat tersenyum tipis.
Bayu memakannya perlahan, seolah itu adalah makanan terbaik yang pernah ia rasakan.
Ketika Rakajati sampai di depan Isidore—
ia tidak langsung memberikannya.
Ia hanya meletakkannya di dekatnya.
“Kau membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan,”
ucapnya pelan.
“Kau juga membutuhkan ketenangan.”
Isidore tidak membuka mata.
Namun napasnya… menjadi lebih ringan.
Di luar gua, hujan mulai turun perlahan, menetes di atas daun dan batu, membersihkan sisa-sisa pertempuran.
Namun di balik ketenangan itu—
sebuah bayangan besar masih bergerak di kejauhan.
Dan semua yang telah terjadi di Sinabung…
mungkin hanyalah permulaan.
Chapter 93 misi pasukan. Bayangan 
Angin senja berdesir di antara pucuk ilalang, membelah jalan bagi sosok yang melaju secepat bayangan.
Dialah pendekar bayangan kedua, utusan setia Putri Dyah Sekar Tanjung—pewaris darah sunyi dari keluarga yang hidup di antara terang dan gelap. Sejak kecil ia telah ditempa oleh ayahnya, diajari berjalan tanpa suara, berlari tanpa jejak, dan bertarung tanpa terlihat.
Kini, seluruh ajaran itu diuji.
“Misi ini harus berhasil… aku tidak boleh mengecewakan beliau.”
Tiga hari tiga malam ia berlari tanpa henti.
Ranting pohon hanyalah pijakan.
Padang ilalang hanyalah bayangan yang terbelah oleh langkahnya.
Lapar dan lelah ia abaikan, digantikan oleh tekad yang tak tergoyahkan.
Dan akhirnya—
Gunung Sinabung tampak di hadapannya.
Gelap.
Diam.
Namun menyimpan gema kekacauan.
Di lerengnya, ia sempat berpapasan dengan rombongan penduduk—orang tua dan anak-anak, wajah mereka letih namun penuh harap. Mereka berjalan mengikuti seekor makhluk besar menyerupai serigala, yang melangkah tenang seakan memahami arah keselamatan.
Pendekar bayangan itu berhenti sejenak.
“Di mana ksatria bernama Isidore?” tanyanya singkat.
Seorang anak kecil mengangkat tangan, menunjuk ke arah gunung di belakangnya.
“Di sana… dekat sekali.”
Tanpa menunggu lebih lama, ia kembali melesat.
Saat ia mencapai mulut gua—
suara ledakan mengguncang udara.
BRAK—!!
Atap batu runtuh, debu membumbung tinggi. Orang-orang berlarian keluar dengan wajah panik, pakaian mereka lusuh—tanda bahwa mereka adalah bagian dari sekte yang baru saja runtuh.
Di tengah kekacauan itu—
ia melihat sosok yang tak asing.
Pandika.
Pedangnya berkilau di antara debu dan cahaya, gerakannya seperti tarian yang memanggil kehancuran. Setiap ayunan menghancurkan sisa-sisa tempat persembunyian, seolah ia ingin memastikan tidak ada lagi kegelapan yang tertinggal.
Pendekar bayangan itu tidak gegabah.
Ia menunggu.
Diam.
Hingga tarian itu berhenti.
Saat debu mulai turun dan gua kembali sunyi, ia melangkah mendekat.
“Ksatria,” ucapnya hormat.
“Di mana Isidore berada?”
Pandika menoleh sekilas, menilai tanpa banyak kata.
Lalu ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah barat.
“Di sana. Gua yang tenang… kau akan menemukannya.”
Tanpa basa-basi, pendekar bayangan itu mengangguk dan kembali berlari.
Lorong demi lorong ia lalui.
Instingnya menuntun langkahnya—bukan mata, bukan suara, melainkan sesuatu yang lebih dalam, warisan dari garis keturunannya.
Dan benar—
ia menemukannya.
Di dalam gua yang sunyi dan hangat oleh akar-akar tua, Isidore duduk bersila, dikelilingi para ksatria yang tengah memulihkan diri. Cahaya redup menari di dinding batu, dan aroma tanah yang hangat bercampur dengan sisa pertempuran yang belum sepenuhnya hilang.
Pendekar bayangan itu melangkah masuk, lalu berlutut.
Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah wadah kecil.
“Titah Putri Dyah Sekar Tanjung,” ucapnya pelan.
“Obat untuk menstabilkan energi dan menyembuhkan luka dalam.”
Ia menyerahkannya kepada Isidore.
Perlahan, Isidore membuka mata.
Tatapannya masih menyimpan sisa cahaya keperakan—namun kini lebih tenang.
Ia menerima obat itu tanpa banyak kata, namun anggukan kecilnya cukup untuk menyampaikan rasa terima kasih.
Obat itu kemudian dibagikan.
Satu per satu para ksatria merasakannya—hangatnya merambat dalam tubuh, menenangkan energi yang liar, menguatkan kembali jiwa yang hampir goyah.
Keheningan menyelimuti gua.
Namun kali ini—
bukan keheningan sebelum badai.
Melainkan keheningan…
setelah seseorang berhasil menyelesaikan tugasnya.
Pendekar bayangan itu menundukkan kepala.
“Akhirnya… misiku selesai.”
Namun di dalam hatinya—
ia tahu.
Perjalanan ini…
belum benar-benar berakhir.
Chapter 94 obat dari putri Dyah 
Di dalam gua yang dilindungi akar-akar tua, para ksatria duduk dalam lingkaran yang hening.
Tidak ada suara selain tetes air dari langit-langit batu… dan napas yang perlahan menjadi selaras.
Mereka memejamkan mata.
Mengarahkan kesadaran ke dalam diri.
Mengumpulkan kembali serpihan kekuatan yang tercerai-berai akibat pertempuran.
Obat yang dibawa oleh pendekar bayangan—ramuan dari tangan lembut Putri Dyah Sekar Tanjung—bekerja perlahan. Bukan seperti sihir yang meledak, melainkan seperti aliran sungai yang sabar: menyusup, menenangkan, dan menyembuhkan dari dalam.
Energi yang tadinya liar mulai tunduk.
Luka-luka dalam mulai mereda.
Pikiran yang kacau kembali jernih.
Cahaya mulai muncul.
Satu per satu.
Namun—
yang paling mengejutkan adalah Pangreksa.
Tubuhnya yang sebelumnya terbaring lemah kini bergetar halus. Napasnya yang sempat nyaris hilang kini kembali dalam ritme yang stabil.
Di sekelilingnya, hawa dingin perlahan menyebar.
Embun tipis terbentuk di lantai batu.
Uap dingin keluar dari tubuhnya.
Dan kemudian—
cahaya putih kebiruan menyala.
Lembut.
Dingin.
Namun penuh kehidupan.
Pangreksa membuka matanya perlahan.
Kilau es kembali hidup di dalamnya.
“Aku… kembali…”
Suaranya lirih, namun cukup untuk membuat para ksatria lain membuka mata mereka.
Bayu Anggana tersenyum lemah.
Guntur Wisesa mengangguk puas.
Sagara Putra menghela napas lega.
Namun mereka semua tahu—
kekuatan itu belum sepenuhnya pulih.
Cahaya es Pangreksa masih lebih redup dari sebelumnya.
Alirannya belum stabil sepenuhnya.
Tetapi—
itu cukup.
Cukup untuk berdiri kembali.
Cukup untuk bertarung lagi.
Cukup untuk tidak menyerah.
Rakajati yang sejak tadi diam, memandang Pangreksa dengan mata dalam.
“Kekuatan yang kembali dari kehancuran…”
“seringkali lebih bijak daripada yang belum pernah runtuh.”
Isidore, yang duduk di pusat lingkaran, membuka matanya.
Cahaya keperakan itu masih ada—
namun kini lebih terkendali.
Ia memandang Pangreksa, lalu ke seluruh ksatria.
“Kita belum selesai.”
Suaranya tenang.
Namun mengandung tekad yang tak tergoyahkan.
“Musuh kita… lebih besar dari yang kita hadapi di sini.”
Keheningan kembali turun.
Namun kali ini—
bukan keheningan karena lelah.
Melainkan keheningan…
sebelum mereka melangkah ke takdir yang lebih besar.
Dan di sudut gua, pendekar bayangan itu mengamati.
Melihat bagaimana para ksatria bangkit kembali.
Dan dalam hatinya, satu keyakinan tumbuh:
Perjuangan ini… layak untuk diperjuangkan.
Chapter 95 ucapan terima kasih 
Keheningan di dalam gua masih terjaga, hanya ditemani cahaya redup dan sisa hangat dari pemulihan para ksatria.
Isidore perlahan bangkit dari duduk bersilanya.
Tubuhnya masih menyimpan lelah, namun langkahnya kini lebih mantap. Cahaya keperakan di matanya telah mereda, meninggalkan kilau tenang yang sulit dibaca—antara kekuatan dan kesadaran.
Ia melangkah mendekati pendekar bayangan.
Sesaat, ia terdiam… seolah memilih kata yang tepat.
Lalu ia menundukkan kepala sedikit—sebuah penghormatan yang jarang ia berikan.
“Sampaikan terima kasihku… kepada tuan putrimu.”
Suaranya rendah, namun tulus.
Ia menatap lurus, namun dalam sorot matanya tersimpan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa hormat.
“Ramuan ini… bukan hanya menyembuhkan luka kami,”
“tetapi juga menjaga kami tetap berdiri.”
Pendekar bayangan itu menunduk dalam.
Isidore melanjutkan, kini suaranya lebih lembut—seakan berbicara bukan hanya kepada utusan, tetapi kepada sosok yang jauh di sana.
“Titipkan pula salamku kepada Putri Dyah Sekar Tanjung.”
Sejenak ia berhenti.
Angin kecil berhembus dari celah gua, mengangkat sedikit ujung jubahnya.
“Semoga beliau senantiasa berada dalam lindungan Barata Yudha…”
“dan dijauhkan dari bayang-bayang kegelapan yang kini mulai bangkit.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun berat.
Seperti doa yang tidak diucapkan dengan lantang—
melainkan ditanam dalam diam.
Pendekar bayangan itu mengangguk.
“Akan saya sampaikan, tuan.”
Ia memahami—lebih dari yang diucapkan.
Bahwa dalam kalimat itu, tersimpan bukan hanya rasa terima kasih…
tetapi juga perhatian yang tulus.
Isidore berbalik, kembali ke lingkaran para ksatria.
Namun untuk sesaat—
langkahnya terhenti.
Dan tanpa menoleh, ia berkata pelan:
“Jika takdir mengizinkan… kami akan bertemu kembali.”
Di luar gua, hujan telah reda.
Langit mulai terang.
Namun di antara cahaya yang muncul—
sebuah benang tak terlihat telah terjalin, menghubungkan dua hati yang kini berjalan di jalan yang berbeda…
namun menuju arah yang sama.
Chapter 96 perpisahan dengan Pandika 
Akar-akar tua masih bernafas pelan di dalam gua, seakan bumi sendiri ikut merasakan kelegaan setelah badai pertempuran mereda.
Rakajati berjalan perlahan di antara para ksatria.
Matanya tajam, namun langkahnya tenang—memeriksa satu per satu kondisi mereka. Ia tidak banyak bicara, tetapi dari anggukan kecilnya, terlihat bahwa keadaan telah jauh membaik.
Akhirnya ia berhenti di tengah lingkaran.
“Luka kalian mulai pulih… aliran tenaga sudah kembali selaras,”
ucapnya pelan.
“Kita tidak bisa berlama-lama di sini.”
Ia menatap ke arah luar gua, ke arah pegunungan yang jauh.
“Saatnya kita melanjutkan perjalanan… ke Gunung Semeru.”
“Di sanalah Rangga Wulung, sang ahli senjata, menunggu takdirnya.”
Nama itu menggantung di udara—seperti gema yang membawa harapan baru.
Pangreksa tersenyum tipis, meski tubuhnya masih menyimpan sisa dingin.
“Terlalu lama diam… darahku terasa membeku,”
katanya.
“Aku harus kembali bergerak.”
Embun tipis kembali muncul di ujung jarinya—tanda bahwa kekuatannya mulai bangkit.
Di sisi lain, Bhra Anuraga tertawa kecil, api kecil menyala di telapak tangannya.
“Aku sudah tidak sabar bertemu Wulung,”
ujarnya penuh semangat.
“Aku ingin sebuah golok… yang mampu menahan panas amarahku.”
Surya Wikrama melangkah maju, menatap Rakajati.
“Ada batu lompatan menuju Semeru,” katanya.
“Tidak jauh dari Sinabung. Tunjukkan jalannya, Rakajati.”
Rakajati mengangguk.
Ia mengangkat tongkat kayunya, lalu menancapkannya ke tanah.
Duk.
Sejenak—sunyi.
Lalu—
akar-akar halus merambat dari ujung tongkatnya, menyusup ke dalam tanah, menyebar seperti jaringan kehidupan yang mencari sesuatu yang tersembunyi.
Tanah bergetar pelan.
Seolah bumi sedang berbisik kepadanya.
Sementara itu, Isidore mendekati pendekar bayangan.
“Kembalilah,” ucapnya tenang.
“Sampaikan kepada Putri Dyah Sekar Tanjung… bahwa kami dalam keadaan baik.”
Pendekar bayangan itu menunduk hormat.
Ia tidak banyak bicara—namun dalam diamnya, ia memahami beban kata-kata itu.
Tanpa menunggu lama, ia mundur… lalu lenyap di antara bayangan, kembali menjadi angin yang tak terlihat.
Di sisi lain, Pandika berdiri menghadap Isidore.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—ia tidak memegang pedangnya.
“Terima kasih,” ujarnya singkat.
“Telah mengizinkanku berjalan bersama kalian.”
Isidore mengangguk.
Namun Pandika melanjutkan—
“Namun jalanku belum selesai di sini.”
“Masih ada urusan… yang harus aku tuntaskan sendiri.”
Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
Dua ksatria.
Dua jalan.
Namun satu tujuan.
Isidore mengulurkan tangan.
Pandika menyambutnya.
Genggaman itu kuat.
Bukan sekadar perpisahan—
melainkan janji tanpa kata.
“Jika takdir mempertemukan kita lagi…”
kata Pandika.
“Kita akan bertarung di sisi yang sama,”
jawab Isidore.
Mereka saling melepaskan.
Pandika berbalik, melangkah menjauh tanpa menoleh.
Sosoknya perlahan hilang di balik cahaya senja yang mulai masuk ke mulut gua.
Di belakang, akar-akar Rakajati berhenti bergerak.
Ia membuka mata.
“Aku menemukannya.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Batu lompatan… menunggu kita.”
Isidore menatap ke arah luar.
Gunung Sinabung kini mulai sunyi.
Namun di kejauhan—
Gunung Semeru berdiri.
Tinggi.
Agung.
Dan menyimpan rahasia berikutnya.
“Kalau begitu…”
ucap Isidore pelan.
Ia melangkah maju.
“Perjalanan kita belum berakhir.”
Dan dengan itu—
para ksatria Mythopia kembali bergerak, meninggalkan jejak lama… menuju takdir yang baru.
Chapter 97 perjalanan menuju Semeru 
Langit di atas Sinabung mulai meredup, ketika para ksatria berdiri di hadapan sebuah pohon tua raksasa—batangnya berliku seperti waktu yang membeku, akarnya menjulur dalam, menembus rahasia bumi yang tak tersentuh manusia.
Rakajati mengangkat tongkatnya.
Tanpa kata, ia menancapkannya ke tanah.
Akar-akar pun menjawab.
Mereka bergerak…
bukan sekadar tumbuh,
melainkan membuka jalan.
Batang pohon raksasa itu bergetar, lalu terbelah perlahan—menyingkap rongga gelap di dalamnya, seperti gerbang menuju perut dunia.
“Ikuti aku,” ujar Rakajati.
Satu per satu, para ksatria melangkah masuk.
Isidore di depan.
Disusul Guntur Wisesa, Jagat Dirgantara, Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, dan Sagara Putra.
Begitu langkah terakhir masuk—
pohon itu menutup kembali.
Gelap menyelimuti.
Namun tidak lama.
Dari tangan Rakajati, cahaya lembut merambat melalui akar-akar yang mengelilingi lorong. Dinding-dinding hidup itu bersinar kehijauan, memperlihatkan jalur yang berliku, seolah mereka sedang berjalan di dalam nadi bumi.
Akar-akar itu tidak diam.
Mereka membimbing.
Mengalir…
menuntun…
hingga akhirnya—
cahaya muncul di depan.
Mereka keluar dari batang pohon lain.
Namun tempat ini berbeda.
Udara lebih dingin.
Batu-batu lebih padat.
Dan di hadapan mereka—
sebuah gua kuno berdiri diam, tertutup oleh pintu batu yang diukir simbol-simbol purba.
Inilah—
batu lompatan.
Surya Wikrama melangkah maju.
Ia mengangkat pedangnya.
Cahaya emas mulai menyala dari bilahnya—awalnya lembut, lalu semakin terang, hingga seperti matahari kecil yang lahir di dalam gua.
Ia mengayunkan pedangnya perlahan, menggambar segel di udara.
“Bersiaplah,” ucapnya.
Pedangnya menyentuh permukaan batu.
Seketika—
ukiran-ukiran di pintu gua menyala.
Satu per satu simbol itu hidup, memancarkan cahaya keemasan yang menjalar ke seluruh ruangan.
Pintu batu terbuka.
Di dalamnya—
terdapat lingkaran batu besar, dipenuhi garis-garis energi yang kini mulai berdenyut.
Surya Wikrama melangkah ke tengahnya.
Pedangnya diangkat tinggi.
“Masuk ke dalam lingkaran!”
Para ksatria mengikuti.
Begitu semua berdiri di dalam—
cahaya emas dari pedang Surya Wikrama meledak keluar, menyelimuti seluruh ruang.
Batu teleportasi bersinar.
Energi berkumpul.
Udara bergetar.
Dan kemudian—
petir menyambar.
Bukan dari langit—
melainkan dari dalam ruang itu sendiri.
KRAAAK—!!
Satu sambaran.
Dua.
Puluhan.
Cahaya emas bercampur dengan kilat putih, berputar seperti pusaran badai yang terkurung dalam lingkaran batu.
Tanah bergetar hebat.
Tubuh mereka terasa ringan—
seolah terlepas dari dunia.
Isidore memejamkan mata.
Ia merasakan—
bukan hanya perpindahan ruang.
Tetapi juga…
pergeseran takdir.
Dan dalam sekejap—
semuanya lenyap.
Sunyi.
Lalu—
mereka muncul kembali.
Namun kini—
udara berbeda.
Lebih tipis.
Lebih dingin.
Lebih… tinggi.
Mereka berdiri di dalam gua lain—lebih luas, dengan dinding batu berwarna keabu-abuan yang memantulkan cahaya redup.
Di luar, melalui celah gua—
terlihat puncak yang menjulang tinggi, diselimuti kabut dan awan yang berarak lambat.
Angin gunung berhembus masuk, membawa aroma tanah vulkanik dan sesuatu yang lebih tua… lebih dalam.
Gunung Semeru.
Rakajati menatap ke depan.
“Kita telah tiba.”
Surya Wikrama menurunkan pedangnya, cahaya emas perlahan meredup.
Pangreksa menarik napas dalam.
“Udara di sini… berbeda.”
Bhra Anuraga tersenyum.
“Dan aku menyukainya.”
Isidore melangkah keluar gua, menatap luasnya dunia dari ketinggian.
Di hadapan mereka—
bukan hanya gunung.
Tetapi babak baru.
“Rangga Wulung…”
gumamnya.
Dan jauh di dalam pegunungan itu—
seorang ahli senjata sedang menunggu,
tanpa tahu bahwa takdir telah berjalan… menuju dirinya.
Chapter 98 Gua Rangga Wulung 
Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Semeru, menari perlahan di antara tebing-tebing curam yang menjulang seperti dinding dunia.
Di hadapan mereka—
sebuah tebing raksasa berdiri tegak, seolah memisahkan langit dan bumi.
Permukaannya dipenuhi ukiran kuno.
Pedang.
Kampak.
Panah.
Simbol-simbol itu tidak sekadar pahatan—
melainkan jejak peradaban lama…
dan saksi dari peperangan yang telah lama dilupakan.
Rakajati mengangkat tangannya, menunjuk ke puncak tebing.
“Di sanalah… guanya,” ujarnya pelan.
Bhra Anuraga mendongak, matanya menyipit.
“Ya ampun… setinggi itu?”
“Bagaimana kita bisa naik ke sana?”
Rakajati tidak menjawab dengan kata.
Ia hanya menancapkan tongkatnya ke tanah.
Sekejap—
akar-akar pohon menyembul dari sisi tebing.
Mereka tumbuh dengan cepat, melilit batu, saling terjalin, membentuk tangga hidup yang menjulur ke atas seperti jalan yang diciptakan oleh bumi sendiri.
“Naik,” kata Rakajati singkat.
Satu per satu mereka melangkah.
Angin gunung berhembus kencang, membawa dingin yang menusuk, namun akar-akar itu kokoh—tidak goyah, tidak rapuh.
Semakin tinggi mereka mendaki—
semakin sunyi dunia di bawah mereka.
Hingga akhirnya—
mereka tiba di mulut gua.
Pintu gua itu tertutup rapat.
Batu besar, gelap, dan dipenuhi ukiran yang lebih halus—simbol-simbol senjata yang saling bertaut, seolah mengunci sesuatu yang tidak boleh dibuka sembarangan.
Surya Wikrama melangkah maju.
Ia mengangkat pedangnya.
Cahaya emas kembali menyala.
Dengan gerakan perlahan, ia menggambar segel kuno di udara, lalu menempelkannya pada pintu batu.
Sejenak—
tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
ukiran itu mulai bersinar.
Garis-garis cahaya menjalar seperti urat kehidupan.
Dan dengan suara berat yang dalam—
GRUUUMM—
pintu gua terbuka.
Dari dalamnya, anak-anak tangga batu muncul perlahan, menjulur keluar dari tepi tebing—seolah mengundang mereka masuk.
Udara di dalam gua berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih dalam.
Lebih… tua.
Mereka melangkah masuk.
Cahaya dari luar perlahan memudar, digantikan oleh kilau samar dari batu-batu kristal yang tertanam di dinding.
Dan di ujung ruang—
mereka melihatnya.
Sebuah kristal raksasa berdiri tegak.
Jernih… namun berpendar dari dalam.
Di dalamnya—
tertidur seorang pria.
Tubuhnya tegap, meski diam dalam keheningan waktu. Rambutnya panjang, terikat sederhana. Wajahnya tenang—namun menyimpan kekuatan yang terasa bahkan tanpa ia bergerak.
Di sekeliling kristal itu—
terpajang berbagai senjata.
Pedang dengan bilah berliku.
Kampak berat berukir naga.
Panah yang masih memancarkan energi halus.
Semuanya… seolah menunggu tuannya.
Rangga Wulung.
Sang ahli senjata.
Sang penempa takdir.
Tidak ada yang berani bicara.
Bahkan Bhra Anuraga, yang biasanya penuh api, kini hanya terdiam.
Pangreksa merasakan hawa dingin yang berbeda—bukan dari es, melainkan dari waktu yang membeku.
Guntur Wisesa menatap tajam, merasakan energi yang terpendam seperti badai yang belum dilepaskan.
Isidore melangkah maju.
Perlahan.
Tatapannya tertuju pada sosok di dalam kristal.
Dan saat ia semakin dekat—
kristal itu… bergetar.
Sangat halus.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup—
untuk memberi tahu satu hal.
Ia… masih hidup.
Dan mungkin—
sedang menunggu.
Chapter 99 Kebangkitan Rangga wulung
Isidore melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan kristal raksasa itu.
Cahaya redup dari dinding gua memantul di permukaannya, memperlihatkan sosok yang tertidur di dalam—sunyi, namun tidak benar-benar mati.
Ia menarik napas dalam.
Perlahan—
ia mengangkat kerisnya.
Bilah itu bergetar.
Bukan karena tangan Isidore…
melainkan karena sesuatu yang menjawab dari dalamnya.
Udara di dalam gua berubah.
Hening…
namun berat.
Dan dari balik cahaya yang perlahan menguat—
muncullah sosok tua berjubah agung, berpendar seperti bayangan cahaya yang hidup.
Raja Alam Wardhana.
Tatapannya dalam, menembus waktu.
Ia memandang kristal itu… lalu memandang Isidore.
“Saatnya telah tiba,” ucapnya, suaranya bergema seperti dari langit yang jauh.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya putih mengalir dari telapak tangannya, menyentuh kristal.
“Wahai ksatria yang terikat oleh waktu…”
“Rangga Wulung…”
Suasana menjadi semakin sunyi.
Bahkan napas pun terasa tertahan.
“Bangkitlah.”
“Dan kembali berbakti kepada raja muda Mythopia…”
“Isidore, putra dari Raja Itharius.”
Sejenak—
dunia seperti berhenti.
Lalu—
keris di tangan Isidore bergetar kuat.
Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi—
keris itu terlepas.
Melayang.
Berputar perlahan di udara, diselimuti cahaya putih yang semakin terang.
Isidore menatapnya—tanpa berusaha menahan.
Karena ia tahu—
ini bukan lagi kehendaknya.
Ini adalah… kehendak takdir.
Keris itu melesat.
CRAAAK—!!
Menancap tepat di tengah kristal.
Retakan muncul.
Satu garis…
menjadi dua…
lalu menjalar ke seluruh permukaan.
Cahaya putih meledak dari dalam.
Kristal itu tidak pecah biasa—
ia hancur seperti kaca yang membebaskan waktu.
Serpihan-serpihan berpendar melayang di udara, menghilang seperti debu cahaya.
Dan dari dalamnya—
sosok itu bergerak.
Rangga Wulung membuka matanya.
Cahaya putih masih menyelimuti tubuhnya.
Ia menarik napas pertama setelah tidur panjangnya—napas yang terdengar seperti angin tua yang kembali berhembus di dunia.
Perlahan—
ia melangkah keluar dari sisa-sisa cahaya.
Kakinya menyentuh tanah.
Gua bergetar halus.
Aura yang keluar darinya… bukan sekadar kekuatan—
melainkan kehadiran seorang legenda.
Senjata-senjata di sekeliling ruangan bergetar, seolah mengenali tuannya.
Pedang berbisik.
Kampak berdentum pelan.
Panah bergetar seperti ingin dilepaskan.
Rangga Wulung memandang tangannya.
Lalu menatap ke depan.
Tatapannya jatuh pada Isidore.
Dan untuk sesaat—
tidak ada kata.
Hanya pengakuan…
yang tidak perlu diucapkan.
Ia melangkah maju.
Lalu—
berlutut.
Satu lutut menyentuh tanah.
Kepalanya tertunduk.
“Hamba… telah kembali.”
Suaranya dalam. Tegas.
Namun sarat hormat.
“Rangga Wulung… siap berbakti.”
“Kepada Raja Isidore… pewaris tahta Mythopia.”
Cahaya dari keris kembali ke tangan Isidore.
Kini lebih tenang.
Namun terasa… lebih berat.
Lebih hidup.
Di belakangnya, para ksatria terdiam.
Mereka tahu—
dengan kebangkitan ini…
keseimbangan kekuatan telah berubah.
Dan perang yang akan datang—
tidak lagi sama.
Chapter 100 Pengujian Senjata para Ksatria oleh Rangga Wulung 
Cahaya di dalam gua perlahan meredup.
Hanya tersisa kilau putih dari keris Isidore… dan pantulan samar dari kristal yang telah hancur.
Rangga Wulung berdiri tegak.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Bukan seperti seorang prajurit melihat sekutu—
melainkan seperti seorang penempa takdir yang menilai bahan mentah.
Ia mengangkat tangannya.
Perlahan.
Senjata-senjata di dinding bergetar… lalu diam.
Seolah tunduk.
“Senjata… bukan sekadar besi,” ucapnya dalam suara berat.
“Ia adalah cermin jiwa pemiliknya.”
Ia melangkah mendekati Surya Wikrama.
Pedang emas itu berpendar hangat.
Rangga Wulung tidak menyentuhnya.
Hanya mendekatkan telapak tangannya.
Cahaya emas tiba-tiba menyala lebih terang.
Namun—
bergetar.
“Cahayamu besar,” katanya pelan.
“Namun masih terikat pada belas kasihan.”
Ia menoleh.
“Dalam perang besar… belas kasihan yang ragu akan membunuhmu lebih dulu.”
Surya Wikrama terdiam.
Namun tidak membantah.
Ia beralih ke Pangreksa.
Pedang es itu dingin… bahkan udara di sekitarnya membeku tipis.
Rangga Wulung menyentuh bilahnya.
Sekejap—
es itu retak halus.
“Hatimu… pernah hancur,” ujarnya.
“Dan kau membekukannya agar tidak merasakan lagi.”
Ia menatap Pangreksa dalam.
“Namun es yang terlalu dingin… akan retak sebelum pertempuran berakhir.”
Pangreksa menggenggam pedangnya lebih erat.
Tatapannya menurun.
Kini giliran Bhra Anuraga.
Api di tubuhnya langsung menyala liar—merah membara, hampir tak terkendali.
Rangga Wulung bahkan tidak mendekat.
Ia hanya berdiri.
Dan api itu… mendadak meninggi.
“Kemarahan,” katanya.
“Adalah pedang paling tajam… sekaligus paling rapuh.”
Ia mengangkat sedikit alisnya.
“Jika kau tidak mengendalikannya—”
“kau akan menjadi abu… sebelum musuhmu jatuh.”
Api Bhra bergetar.
Lalu perlahan mereda.
Bayu Anggana.
Angin berputar halus di sekelilingnya.
Ringan.
Cepat.
Namun tak terarah.
Rangga Wulung mengibaskan tangannya.
Angin itu langsung tercerai.
“Kau bebas,” katanya.
“Namun kebebasan tanpa tujuan… adalah kehampaan.”
Bayu terdiam.
Untuk pertama kalinya… anginnya berhenti.
Guntur Wisesa.
Petir kecil berkilat di udara.
Kasar. Liar. Berisik.
Rangga Wulung menatapnya lama.
Kemudian—
BUZZZ—
petir itu langsung padam sejenak.
“Kekuatanmu besar,” ujarnya datar.
“Namun kau menggunakannya untuk menghancurkan… bukan memahami.”
Ia melangkah mendekat.
“Petir sejati… tidak hanya menyambar.”
“Ia menentukan kapan dunia harus diam.”
Guntur mengepalkan tangannya.
Sagara Putra.
Air mengalir tenang di kakinya.
Namun di dalamnya—terdapat gelombang yang dalam.
Rangga Wulung menyentuh air itu.
Airnya bergetar… lalu tenang kembali.
“Kesedihanmu dalam,” katanya pelan.
“Namun kau memilih tetap mengalir.”
Ia mengangguk kecil.
“Itulah kekuatanmu.”
Sagara menunduk hormat.
Jagat Dirgantara.
Tanah di bawahnya terasa berat.
Padat.
Tak tergoyahkan.
Rangga Wulung mengetuk tanah dengan kakinya.
DUK.
Seluruh gua bergetar halus.
“Kau adalah pondasi,” katanya.
“Namun ingat—bahkan gunung pun bisa runtuh… bila terlalu kaku.”
Jagat hanya mengangguk.
Terakhir—
Rangga Wulung berdiri di hadapan Isidore.
Semua menjadi sunyi.
Keris di tangan Isidore bergetar pelan.
Rangga Wulung menatapnya—
lalu menatap mata Isidore.
Keperakan.
Dalam.
Dan… bukan sepenuhnya milik manusia.
Untuk pertama kalinya—
Rangga Wulung menyipitkan mata.
“Ah…”
Ia menghela napas pelan.
“Jadi… ini yang dibicarakan para leluhur.”
Ia tidak menyentuh keris itu.
Tidak juga menguji.
Ia hanya berkata—
“Senjatamu… belum memilih bentuknya.”
Semua ksatria terdiam.
Rangga Wulung melanjutkan—
“Karena jiwamu… belum memilih jalan.”
Ia berbalik.
Jubahnya bergerak pelan.
“Namun satu hal pasti—”
“ketika waktunya tiba…”
Ia berhenti sejenak.
Tanpa menoleh.
“Senjata itu… tidak akan menjadi pedang biasa.”
Cahaya di dalam gua kembali berdenyut.
Lebih kuat.
Lebih dalam.
“Bersiaplah,” ujar Rangga Wulung.
“Aku tidak hanya akan menguji senjata kalian…”
Ia mengangkat tangannya.
Api, air, angin, petir, es, tanah—semuanya bergetar serentak.
“Aku akan menempa ulang mereka.”
Chapter 101 Rangga Wulung menempa senjata ksatria 
Gua itu berubah.
Bukan lagi sekadar tempat sunyi—
melainkan tungku para dewa.
Di tengah ruangan, Rangga Wulung berdiri di hadapan sebuah landasan batu hitam pekat—permukaannya dipenuhi guratan kuno, seolah pernah menahan ribuan senjata legendaris dari zaman yang telah dilupakan.
Ia mengangkat tangannya.
Tanah di bawah mereka bergetar.
Perlahan—
dari celah-celah batu, muncul peti-peti besar yang terkunci oleh segel kuno.
Satu demi satu terbuka.
Cahaya aneh keluar dari dalamnya.
Bukan cahaya biasa—
melainkan kilau mineral langit.
Batu-batu itu berwarna tak lazim:
ungu gelap yang berdenyut seperti jantung,
biru pekat seperti kedalaman samudra,
emas pucat yang memancarkan panas tanpa api.
“Ini bukan berasal dari bumi,” ujar Rangga Wulung.
“Ini adalah serpihan dari langit… sisa-sisa perang para dewa yang jatuh ke dunia.”
Para ksatria terdiam.
Bahkan Guntur Wisesa pun merasakan sesuatu yang berbeda—petirnya bergetar tanpa dipanggil.
“Letakkan senjata kalian.”
Satu per satu—
pedang, keris, tombak—semua diletakkan di atas landasan.
Untuk sesaat…
mereka tampak seperti benda biasa.
Namun Rangga Wulung tahu—
di dalamnya, terdapat jiwa yang belum sempurna.
Ia mengangkat palu besarnya.
Bukan palu biasa—
melainkan palu yang ujungnya berpendar seperti bintang mati.
“Penempaan ini akan berlangsung… tiga hari tiga malam.”
“Dan selama itu—kalian tidak hanya menunggu.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Kalian akan menghadapi diri kalian sendiri.”
Hari Pertama — Retakan Jiwa
Api dinyalakan.
Bukan api merah—
melainkan api putih kebiruan yang tidak memakan, namun memurnikan.
Senjata-senjata itu dimasukkan ke dalamnya.
Dan saat logam mulai memerah—
para ksatria merasakan sesuatu.
Rasa sakit.
Bukan di tubuh—
melainkan di dalam.
Surya Wikrama melihat dirinya ragu di medan perang.
Pangreksa merasakan kembali kehilangan yang ia kubur.
Bhra Anuraga hampir kehilangan kendali atas apinya.
Bayu kehilangan arah dalam kehampaan.
Guntur melihat kehancuran yang ia sebabkan.
Sagara tenggelam dalam kesedihan lama.
Jagat berdiri sendiri… tak tergoyahkan namun kesepian.
Rangga Wulung memukul.
DENTANG—!!
Setiap pukulan—
adalah retakan yang diperbaiki.
Hari Kedua — Penyelarasan Jiwa
Mineral langit dilebur.
Cair… namun bercahaya.
Rangga Wulung menuangkannya ke dalam senjata.
Saat itu terjadi—
energi masing-masing ksatria menyatu dengan logam.
Api Bhra menjadi lebih dalam, bukan liar.
Es Pangreksa menjadi kuat, bukan rapuh.
Angin Bayu mulai menemukan arah.
Petir Guntur menjadi terfokus.
Air Sagara menjadi tenang namun mematikan.
Tanah Jagat menjadi kokoh namun hidup.
Rangga Wulung berbicara—
“Senjata sejati… bukan yang paling kuat.”
“Melainkan yang paling selaras.”
Hari Ketiga — Kelahiran Kembali
Api dipadamkan.
Sunyi.
Lalu—
satu per satu senjata diangkat.
Kini…
mereka berbeda.
Bukan hanya lebih tajam.
Melainkan… hidup.
⚔️ Nama Senjata Baru Para Ksatria
Surya Wikrama
Pedang emasnya kini bernama:
“Aditya Prakasha” — Cahaya Matahari Penentu Takdir
Cahayanya tidak lagi ragu—ia menyala hanya saat kebenaran benar-benar dipilih.
Pangreksa
Pedang esnya berubah menjadi:
“Himavanta Shard” — Pecahan Es Abadi
Esnya tidak akan retak oleh luka… karena kini ia menerima rasa sakitnya.
Bhra Anuraga
Pedangnya menyala merah keemasan:
“Agni Rudra” — Api Murka yang Terkendali
Api yang tidak lagi membakar tanpa arah—melainkan menghancurkan dengan tujuan.
Bayu Anggana
Senjatanya menjadi ringan tak terlihat:
“Vayu Nirmala” — Angin Suci Tanpa Jejak
Gerakannya kini memiliki arah… dan tak bisa ditebak.
Guntur Wisesa
Pedangnya dipenuhi kilat putih:
“Vajra Indraka” — Petir Penghakiman Langit
Petirnya kini memilih… siapa yang layak disambar.
Sagara Putra
Senjatanya mengalir seperti air hidup:
“Samudra Vara” — Gelombang Penebus Jiwa
Airnya tidak hanya menghancurkan—tetapi juga menyegel.
Jagat Dirgantara
Palu dan tanahnya kini menyatu:
“Bhumi Garjana” — Gemuruh Bumi Tak Tergoyahkan
Setiap pijakannya adalah hukum.
Semua ksatria terdiam.
Mereka merasakan—
senjata itu bukan lagi milik mereka.
Melainkan… bagian dari diri mereka.
Terakhir—
Rangga Wulung menatap Isidore.
Namun—
tidak ada senjata baru diberikan.
Hanya keris itu… yang kini bersinar samar.
“Belum,” ujarnya pelan.
Ia berbalik.
“Senjatamu… belum selesai ditempa.”
Ia menatap langit melalui celah gua.
“Karena takdirmu… belum sepenuhnya terungkap.”
Angin gunung berhembus masuk.
Membawa aroma dunia luar.
Dan jauh di kejauhan—
sesuatu sedang bangkit.