05/09/26

Season 8 Jatmika & portal waktu

Chapter 94: Mesin yang Menunggu

Seiring berjalannya waktu, kompleks baru PT Sinar Ultraviolet akhirnya selesai dibangun.

Pembangunan berlangsung hampir tanpa henti. Siang dan malam, pekerja Indonesia dan tenaga ahli asing bergantian menyelesaikan bagian terakhir dari kompleks tersebut. Bangunan itu tidak lagi tampak seperti kantor biasa. Di bawah permukaannya terdapat ruang kendali, pusat energi, laboratorium teleportasi, serta fasilitas pengamanan yang dirancang untuk menampung teknologi yang belum memiliki padanan di dunia modern.

Di salah satu ruang terdalam, Dmitri Orlov berdiri di depan panel kendali.

"Mulai aktivasi."

Tidak ada suara dramatis. Hanya bunyi mekanis dari sistem yang mulai bekerja.

Lampu indikator berubah satu demi satu.

Hijau.

Biru.

Kemudian putih.

Dmitri memeriksa layar.

"Stasiun energi nuklir mulai memasok daya."

Di ruang lain, sistem kecerdasan buatan milik Rosatom menjalankan pemeriksaan otomatis terhadap seluruh jaringan.

Dr. Aleksandr Petrov memantau sistem pendingin yang dirancangnya.

"Tekanan stabil."

Ia menunggu beberapa detik.

"Temperatur juga stabil."

Irina Sokolova memeriksa material pelindung radiasi yang mengelilingi ruang reaktor. Sensor-sensor menunjukkan tidak ada perubahan struktur.

"Material pelindung dalam kondisi normal."

Sementara itu, Viktor Mikhailov berdiri di depan sistem pompa kriogenik.

"Suhu berada dalam batas operasi."

Ia memperhatikan grafik selama beberapa saat.

"Tidak ada kebocoran pada pipa."

Tidak seorang pun bersorak.

Mereka telah belajar dari pengalaman bahwa sebuah sistem energi tidak menjadi aman hanya karena ia berhasil menyala.

Keamanan baru dimulai setelah mesin berjalan.

---

Dmitri memberikan perintah terakhir.

"Restart seluruh sistem."

Seluruh kompleks menjadi gelap.

Selama beberapa detik, gedung itu seolah kehilangan kehidupannya.

Kemudian—

WUUUMM.

Lampu-lampu menyala kembali.

Lebih terang daripada sebelumnya.

Energi mengalir melalui jaringan listrik menuju laboratorium utama.

Di tengah ruangan berdiri artefak lampu teleportasi.

Tidak ada kabel yang terhubung langsung dengannya.

Namun permukaannya mulai bercahaya.

Emas.

Kemudian kebiruan.

Ny Tien aktif.

«"Sistem navigasi teleportasi siap."»

Jatmika berdiri di depan layar utama.

"Tujuan?"

«"Planet Valtherion."»

Sebuah model tiga dimensi planet muncul di udara.

Jatmika memperhatikan koordinat tersebut.

"Kali ini kita tidak hanya mengirim manusia."

John menatapnya.

"Maksudmu?"

Jatmika menunjuk rancangan kendaraan yang ditampilkan di layar.

"Kita akan mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya."

---

NASA telah menyiapkan sebuah mesin jet eksperimental.

Bentuknya lebih menyerupai kendaraan antariksa kecil daripada pesawat biasa. Sistem propulsinya dirancang untuk digunakan setelah tim berhasil mencapai Valtherion.

Mesin itu telah menjalani berbagai pengujian.

Pengujian pertama: berhasil.

Kedua: berhasil.

Ketiga: berhasil.

Namun ada satu batasan yang tidak dapat diubah.

"Mesin ini hanya bisa digunakan sekali," ujar Michael.

John mengerutkan kening.

"Sekali?"

"Setelah digunakan, beberapa komponen propulsinya harus diganti. Dalam kondisi ekspedisi, kita tidak memiliki fasilitas untuk memperbaikinya."

Jatmika terdiam.

Satu perjalanan.

Satu kesempatan.

Tidak ada percobaan kedua.

Ia kemudian melihat artefak teleportasi.

Selama ini manusia mengira masalah terbesar dalam perjalanan antarbintang adalah jarak.

Tetapi setelah mereka menemukan teleportasi, jarak bukan lagi persoalan utama.

Persoalannya berubah menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih menakutkan:

Apakah manusia dapat kembali setelah berhasil sampai di sana?

Ny Tien tiba-tiba berbicara.

«"Simulasi teleportasi Valtherion siap dijalankan."»

Jatmika menarik napas.

"Mulai simulasi."

Cahaya keemasan perlahan memenuhi ruangan.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Mereka semua menyadari bahwa mesin yang sedang mereka bangun bukan sekadar alat transportasi.

Ia adalah sebuah pertanyaan yang dibuat dari logam, energi, dan matematika.

Dan setiap kali mereka menekan tombol mulai, mereka sedang meminta alam semesta memberikan jawabannya.
Chapter 95 — Harga untuk Menuju Valtherion

Berita mengenai investasi besar-besaran konglomerat Rusia, Victor Aleksandrovich Morozov, terhadap PT Sinar Ultraviolet akhirnya menyebar ke kalangan bisnis internasional.

Morozov dikabarkan telah menggelontorkan dana dalam jumlah fantastis untuk mendukung pengembangan energi, teknologi teleportasi, dan ekspedisi menuju dunia yang selama ini hanya dianggap sebagai bagian dari teori.

Nama Valtherion mulai beredar di kalangan tertentu.

Namun bagi sebagian besar masyarakat, Valtherion tetap menjadi rahasia yang belum dapat dibuktikan.

Bagi Alexander Nathaniel Sterling, berita itu justru merupakan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia tunggu.

Sterling adalah seorang pengusaha teknologi Amerika yang membangun kekayaannya dari industri kecerdasan buatan, teknologi antariksa, satelit, dan sistem penerbangan eksperimental. Ia telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membawa manusia semakin jauh dari Bumi.

Tetapi selama ini, semua jalan yang ia tempuh selalu memiliki batas.

Roket membutuhkan bahan bakar.

Pesawat membutuhkan waktu.

Satelit membutuhkan jalur orbit.

Dan perjalanan antarbintang masih menjadi mimpi.

Sampai ia mendengar tentang PT Sinar Ultraviolet.

Beberapa minggu kemudian, sebuah pesawat pribadi milik Sterling mendarat di fasilitas baru perusahaan di Kalimantan.

Ia datang tanpa rombongan besar.

Hanya beberapa orang kepercayaannya yang ikut mendampinginya.

Jatmika menerima Sterling di ruang konferensi utama. Di ruangan itu telah hadir Pak Toni, John, Prof. Wen Shuyuan, serta beberapa perwakilan tim NASA dan Rusia.

Sterling berdiri di hadapan mereka.

Pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk meminta izin.

Ia terlihat seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum memasuki ruangan.

“Saya sudah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membeli roket, satelit, dan teknologi yang memungkinkan manusia meninggalkan Bumi.”

Alex menatap Jatmika.

“Tapi kalian memiliki sesuatu yang tidak bisa saya beli.”

Jatmika menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Apa itu?”

Sterling tersenyum tipis.

“Jalan pintas menuju bintang-bintang.”

Ruangan mendadak hening.

Alex kemudian duduk.

“Saya tidak datang untuk membeli perusahaan Anda.”

Ia membuka sebuah berkas digital dan meletakkannya di atas meja.

“Saya datang untuk membeli kesempatan.”

Jatmika menatapnya.

“Kesempatan untuk apa?”

“Valtherion.”

Beberapa anggota tim NASA langsung saling berpandangan.

Sterling melanjutkan.

“Sebutkan saja harganya. Berapa biaya yang harus saya bayar agar dapat ikut serta dalam misi ke Valtherion?”

Jatmika tidak menjawab.

Ia justru memandang layar besar di dinding.

Di sana terpampang gambar planet Valtherion, hasil pemetaan dan dokumentasi ekspedisi sebelumnya.

Planet itu indah.

Namun keindahan tersebut menyembunyikan sesuatu yang belum mereka pahami.

“Pak Sterling,” ujar Jatmika akhirnya, “ini bukan perjalanan wisata.”

“Saya tahu.”

“Tidak.”

Jatmika menatapnya lebih tajam.

“Menurut saya, Anda belum benar-benar tahu.”

Sterling terdiam.

“Di sana ada kondisi yang belum sepenuhnya kami pahami. Ada perbedaan waktu. Ada energi yang belum dapat kami jelaskan. Ada makhluk dan peradaban yang mungkin sudah mengetahui keberadaan kita.”

Jatmika berhenti sejenak.

“Dan yang paling penting, kami belum tahu apakah manusia seharusnya berada di sana.”

Sterling menyandarkan tubuhnya.

“Justru karena itu saya ingin pergi.”

Salah seorang perwakilan NASA segera menyela.

“Tidak bisa.”

Sterling menoleh.

Perwakilan NASA itu berdiri.

“Misi Valtherion bukan proyek komersial. Kami tidak akan membiarkan seseorang membeli kursi hanya karena memiliki uang.”

“Bukan itu yang saya tawarkan,” jawab Sterling.

“Lalu apa?”

“Dukungan.”

Sterling menatap seluruh ruangan.

“Jika saya diizinkan ikut, saya akan memberikan dukungan penuh kepada PT Sinar Ultraviolet. Pendanaan penelitian, fasilitas penerbangan, satelit, sistem komunikasi, pengembangan kendaraan, dan teknologi keselamatan.”

Pak Toni mengangkat alis.

“Dan sebagai gantinya Anda ingin ikut?”

“Benar.”

Perwakilan Rusia ikut berbicara.

“Ini ekspedisi ilmiah, bukan penerbangan pribadi.”

Sterling tersenyum kecil.

“Saya tidak pernah mengatakan saya ingin bersantai di sana.”

Perdebatan mulai memanas.

NASA menolak menjadikan ekspedisi tersebut sebagai penerbangan komersial.

Tim Rusia juga keberatan karena keselamatan seluruh kru akan menjadi tanggung jawab bersama.

Jatmika membiarkan mereka berbicara.

Ia memahami kedua pihak.

Valtherion bukan tempat untuk orang kaya yang ingin membeli pengalaman eksotis.

Namun di sisi lain, Sterling bukan sekadar miliarder yang ingin berfoto di planet asing.

Ia memiliki sesuatu yang mungkin berguna.

Beberapa menit kemudian Sterling mengangkat tangannya.

“Saya memiliki satu alasan lagi.”

Semua orang kembali menatapnya.

“Saya membawa sebuah kendaraan.”

John mengerutkan kening.

“Kendaraan?”

Sterling mengangguk.

“Mesin jet eksperimental.”

Pak Toni langsung bertanya.

“Buatan perusahaan Anda?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

Sterling tersenyum.

“Untuk terbang di Valtherion.”

Ruangan kembali hening.

Perwakilan NASA terlihat tidak percaya.

“Kendaraan Anda belum pernah diuji di luar Bumi.”

“Benar.”

“Dan Anda ingin mengujinya di planet asing?”

“Tidak.”

Sterling menatap Jatmika.

“Saya ingin mengujinya sebelum kita menggunakannya di sana.”

Jatmika akhirnya tertarik.

“Seberapa canggih?”

Sterling memberi isyarat kepada asistennya.

Layar konferensi berubah.

Muncul gambar sebuah kendaraan jet futuristis dengan bentuk yang jauh berbeda dari pesawat konvensional.

“Ini bukan pengganti kendaraan NASA,” ujar Sterling. “Anggap saja sebagai alternatif.”

Perwakilan NASA menggeleng.

“Alternatif yang belum terbukti.”

“Karena itu harus diuji.”

Sterling menatap Jatmika.

“Berikan saya kesempatan untuk membuktikannya.”

Jatmika berdiri dan berjalan mendekati layar.

Ia memperhatikan rancangan kendaraan itu.

Tidak ada keputusan yang bisa dibuat dengan tergesa-gesa.

Misi Valtherion telah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ekspedisi.

Rusia membawa teknologi energi.

NASA membawa teknologi antariksa.

PT Sinar Ultraviolet membawa teleportasi.

Dan sekarang seorang konglomerat Amerika datang membawa kendaraan eksperimentalnya sendiri.

Jatmika akhirnya berbalik.

“Pak Sterling.”

“Ya?”

“Saya tidak akan menjual tiket menuju Valtherion.”

Sterling mengangguk.

“Saya sudah menduga.”

“Tapi…”

Jatmika memandang rancangan jet di layar.

“…saya bersedia mempertimbangkan kerja sama.”

Sterling tersenyum.

“Dengan syarat?”

“Tidak ada satu pun teknologi yang boleh digunakan sebelum dinyatakan aman oleh seluruh tim.”

Sterling mengulurkan tangannya.

“Kesepakatan yang adil.”

Jatmika menjabat tangannya.

Namun di dalam pikirannya, satu pertanyaan tetap muncul.

Jika manusia akhirnya memiliki jalan menuju dunia lain, siapa yang berhak menentukan siapa yang boleh melewatinya?

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih sulit adalah:

berapa harga yang pantas untuk sebuah perjalanan menuju dunia yang bahkan belum tentu menginginkan kedatangan manusia?
Chapter 96 — Ujian Mesin Jet Alexander

Pagi itu, fasilitas PT Sinar Ultraviolet di Kalimantan dipenuhi aktivitas.

Di salah satu hanggar terbesar, sebuah kendaraan jet berwarna hitam keperakan berdiri di atas landasan uji. Bentuknya ramping, tanpa sayap konvensional yang terlalu lebar. Beberapa bagian badan pesawat tampak seperti menyatu dengan mesin, sementara di bagian bawahnya terdapat sistem pendorong yang dirancang khusus untuk menghasilkan daya angkat dalam waktu singkat.

Kendaraan itu adalah milik Alexander Nathaniel Sterling.

NASA telah mengirimkan beberapa insinyur untuk mengawasi pengujian. Tim Rusia juga hadir untuk memeriksa sistem energi dan ketahanan struktur.

Alexander berdiri di ruang kontrol bersama Jatmika.

“Berapa kapasitasnya?” tanya Jatmika.

“Lima orang,” jawab Alexander.

“Termasuk pilot?”

“Termasuk pilot.”

Jatmika mengangguk.

Pengujian pertama dilakukan tanpa teleportasi.

Mesin dinyalakan.

Suara dengungan rendah memenuhi hanggar.

Kemudian daya dorong meningkat.

WUUUMMM!

Jet itu terangkat beberapa meter dari permukaan landasan.

Dalam hitungan detik, kendaraan tersebut bergerak maju dengan akselerasi yang membuat beberapa teknisi NASA saling berpandangan.

“Respons mesinnya sangat cepat,” ujar salah seorang insinyur NASA.

“Dan stabil,” jawab rekannya.

Jet melakukan beberapa manuver dasar, kemudian mendarat dengan sempurna.

Alexander tersenyum.

“Sekarang bagian yang sebenarnya.”

Jatmika menatapnya.

“Teleportasi.”

Alexander mengangguk.

Kendaraan tersebut kemudian ditempatkan di dalam ruang teleportasi.

Lima kursi telah dipasang di dalam kabin.

Sistem pengaman dikunci.

Tidak ada manusia di dalamnya.

Untuk pengujian pertama, mereka menggunakan lima manekin dengan sensor lengkap.

Ny. Tien mulai melakukan sinkronisasi.

“Koordinat tujuan dikunci.”

Lampu indikator berubah.

“Energi teleportasi stabil.”

Jatmika memperhatikan layar.

“Mulai.”

Cahaya memenuhi ruangan.

Dalam sekejap, jet itu menghilang.

Beberapa detik kemudian, sensor menerima sinyal.

Objek tiba di titik tujuan.

Semua orang bersorak kecil.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Sistem kendaraan mulai mengirimkan peringatan.

TEMPERATUR BATERAI MENINGKAT.

Alexander segera mendekati layar.

“Berapa?”

“Terus meningkat,” jawab teknisi.

Tim Rusia segera memeriksa data.

“Panas residu dari proses teleportasi masuk ke sistem penyimpanan energi.”

“Bisa didinginkan?” tanya Jatmika.

“Bisa,” jawab teknisi Rusia, “tetapi membutuhkan waktu.”

Beberapa menit kemudian temperatur mulai turun.

Namun hasil analisis membuat semua orang terdiam.

Sistem baterai mengalami degradasi signifikan setelah satu kali teleportasi.

Alexander menatap hasil tersebut.

“Jadi?”

Teknisi menjawab,

“Pesawat bisa melakukan teleportasi satu kali dengan aman. Tetapi tidak direkomendasikan untuk melakukan teleportasi kedua tanpa penggantian atau pemulihan sistem baterai.”

Jatmika menatap Alexander.

“Artinya kendaraan ini hanya bisa sekali jalan.”

Alexander tidak terlihat kecewa.

Justru ia tersenyum.

“Sekali jalan masih lebih baik daripada tidak sama sekali.”

Perwakilan NASA tertawa kecil.

“Setidaknya kita tahu batasnya.”

Uji berikutnya dilakukan dengan lima orang.

Alexander sendiri bersikeras ikut.

Namun Jatmika menolak.

“Belum.”

Alexander menghela napas.

“Baik.”

Mereka akhirnya menggunakan kru penguji yang telah dipersiapkan.

Kelima orang masuk.

Pintu kabin ditutup.

Ny. Tien kembali melakukan sinkronisasi.

“Lima penumpang terdeteksi.”

“Energi cukup,” ujar sistem.

Jatmika memberikan perintah.

“Teleportasi.”

Cahaya kembali memenuhi ruang.

Dalam sepersekian detik, kendaraan dan kelima penumpangnya menghilang.

Di ruang kontrol, semua orang menahan napas.

Beberapa saat kemudian—

Sinyal diterima.

“Berhasil!”

Data muncul di layar.

Kelima penumpang dalam kondisi normal.

Kendaraan juga berhasil melakukan prosedur pendaratan.

Namun temperatur baterai kembali melonjak.

Kali ini lebih tinggi.

Alexander mengangguk perlahan.

“Batasnya sudah jelas.”

Salah seorang insinyur NASA kemudian berkata,

“Untuk kendaraan yang dirancang dari sistem baterai, akselerasinya sangat mengesankan.”

Insinyur Rusia memeriksa data struktural.

“Dan rangkanya mampu menahan perubahan energi selama teleportasi.”

Ia menoleh kepada Alexander.

“Secara keseluruhan, kendaraan ini layak digunakan sebagai kendaraan pendukung.”

Alexander tersenyum.

“Bukan kendaraan utama?”

“Belum.”

Jawaban itu justru membuat Alexander tertawa.

“Saya bisa menerima itu.”

Jatmika mendekati kendaraan yang baru saja kembali dari pengujian.

“Lima orang. Akselerasi tinggi. Bisa digunakan setelah teleportasi.”

Ia menatap Alexander.

“Tapi hanya sekali jalan.”

Alexander mengangguk.

“Kalau begitu jangan buang kesempatan itu.”

Tim NASA dan Rusia akhirnya menyetujui hasil pengujian.

Kendaraan Alexander tidak sempurna.

Namun justru karena keterbatasannya telah diketahui, kendaraan itu menjadi jauh lebih berguna.

Mereka tahu kapan harus menggunakannya.

Mereka tahu batas keselamatannya.

Dan yang paling penting—

mereka tahu bahwa ketika kendaraan itu dibawa ke Valtherion, tidak akan ada perjalanan pulang menggunakan mesin tersebut.

Untuk kembali ke Bumi, mereka tetap harus mengandalkan satu-satunya teknologi yang mereka miliki:

teleportasi.

Di ruang kontrol, Ny. Tien kemudian menampilkan simulasi misi.

Sebuah garis menghubungkan Bumi dengan Valtherion.

Jatmika memandangnya dalam diam.

Perjalanan menuju dunia lain kini bukan lagi sekadar kemungkinan.

Mereka sudah memiliki kendaraan.

Mereka memiliki energi.

Mereka memiliki teknologi teleportasi.

Yang belum mereka miliki hanyalah kepastian bahwa mereka akan kembali dengan selamat.
Chapter 97 — Rencana Kontak Pertama

Sebelum memikirkan keberangkatan menuju Valtherion, Jatmika merasa ada satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Ia mengundang penduduk desa di sekitar fasilitas baru PT Sinar Ultraviolet untuk berkumpul.

Tidak ada panggung megah. Tidak ada pertunjukan. Hanya sebuah acara doa bersama sebagai ungkapan syukur atas selesainya pembangunan fasilitas perusahaan sekaligus peresmian kantor baru.

Pagi itu, halaman utama dipenuhi warga.

Para pekerja perusahaan berdiri berdampingan dengan penduduk desa. Orang-orang yang sebelumnya hanya mengenal kompleks itu sebagai bangunan asing di tengah Kalimantan, kini melihatnya sebagai bagian dari lingkungan mereka sendiri.

Jatmika berdiri di hadapan mereka.

“Tempat ini dibangun bukan hanya untuk perusahaan kami,” katanya. “Kami berharap tempat ini juga membawa manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.”

Doa bersama kemudian dimulai.

Jatmika menundukkan kepala.

Di hadapannya berdiri sebuah kompleks yang menyimpan teknologi yang mungkin mengubah sejarah manusia. Namun untuk sesaat, semua itu terasa jauh.

Ia menyadari bahwa sebesar apa pun teknologi yang mereka miliki, mereka tetap hidup di tengah manusia lain.

Dan mungkin, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia mampu membawa manusia pergi.

Tetapi juga dari seberapa baik ia mampu hidup berdampingan dengan manusia yang ditinggalkannya.

Setelah acara selesai, Jatmika kembali ke pusat kendali.

Di ruang konferensi utama telah menunggu para perwakilan NASA, tim Rusia, Alexander Nathaniel Sterling, Victor Aleksandrovich Morozov, Pak Toni, Prof. Wen Shuyuan, serta beberapa anggota inti PT Sinar Ultraviolet.

Di layar besar terpampang sebuah gambar.

VALTHERION.

Jatmika berdiri di ujung meja.

“Hari ini kita tidak akan membicarakan apakah kita mampu pergi ke Valtherion.”

Ia menekan layar.

Peta planet itu muncul.

“Kita sudah tahu jawabannya.”

Ruangan menjadi hening.

“Kita bisa pergi.”

Jatmika kemudian mengganti tampilan.

Sebuah titik muncul di permukaan planet.

“Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang akan kita lakukan setelah sampai di sana?”

Seorang perwakilan NASA menjawab lebih dulu.

“Kontak pertama.”

Jatmika mengangguk.

“Itulah prioritas utama.”

Ia menunjuk titik yang menandai sebuah kota besar di permukaan Valtherion.

“Kita akan menggunakan mesin jet milik Alexander untuk terbang menuju kota ini. Tujuan kita bukan menjelajah sejauh mungkin. Bukan mencari sumber daya. Dan bukan mengambil artefak.”

Ia berhenti.

“Tujuan kita hanya satu.”

“Berbicara.”

Prof. Wen Shuyuan menatap peta tersebut.

“Kalau kita benar-benar ingin melakukan kontak dengan penduduk Valtherion, saya harus ikut.”

Jatmika menoleh kepadanya.

“Ya.”

Wen tersenyum tipis.

“Saya kira Anda tidak akan memberi saya pilihan.”

“Kita membutuhkan penerjemah.”

Wen kemudian menjelaskan bahwa komunikasi tidak sesederhana menerjemahkan kata demi kata.

“Sebuah bahasa tidak hanya terdiri dari kata,” katanya. “Ada konteks, sejarah, simbol, cara menghormati seseorang, bahkan cara menyampaikan penolakan.”

Ia menunjuk gambar kota Valtherion.

“Jika kita mengatakan sesuatu yang menurut kita sopan, belum tentu mereka memahaminya sebagai sesuatu yang sopan.”

Perwakilan NASA mengangguk.

“Itulah risiko terbesar dalam misi ini.”

Jatmika menatapnya.

“Risiko terbesar bukan senjata?”

“Bukan.”

Pria itu menggeleng.

“Kesalahpahaman.”

Ia kemudian berdiri.

“Bayangkan lima manusia asing muncul di langit sebuah kota dengan kendaraan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka tidak mengetahui siapa kita. Mereka tidak mengetahui tujuan kita. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki konsep tentang Bumi.”

Ia menunjuk layar.

“Jika kita salah melakukan satu tindakan, mereka bisa menganggap kedatangan kita sebagai invasi.”

Tidak ada yang menjawab.

Karena kemungkinan itu masuk akal.

Jatmika kemudian berkata,

“Karena itu kita tidak akan datang sebagai pasukan.”

Ia menampilkan rancangan misi.

“Kelompok pertama hanya terdiri dari beberapa orang.”

Ia menunjuk daftar nama.

“Jatmika. Prof. Wen Shuyuan. Satu anggota NASA. Satu anggota Rusia. Dan satu pilot.”

Alexander mengangkat tangan.

“Pilotnya saya.”

Beberapa orang menoleh kepadanya.

Jatmika tersenyum kecil.

“Anda yakin?”

“Kalau saya sudah membawa pesawatnya, rasanya tidak masuk akal kalau saya hanya melihatnya dari ruang kontrol.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Namun Jatmika kembali serius.

“Kelompok pertama tidak membawa senjata berat.”

Perwakilan NASA langsung menimpali.

“Perlengkapan pertahanan tetap harus ada.”

“Tentu,” jawab Jatmika. “Tapi tidak boleh terlihat sebagai ancaman.”

Ia menggeser tampilan berikutnya.

“Tidak ada pengambilan sumber daya. Tidak ada memasuki bangunan tanpa izin. Tidak ada menyentuh artefak. Tidak ada tindakan militer.”

Ia menatap seluruh peserta rapat.

“Dan tidak ada yang menembak kecuali nyawa kita benar-benar terancam.”

Ruangan kembali hening.

Jatmika kemudian menunjukkan tahap kedua.

“Jika kontak pertama berhasil, kelompok pertama akan kembali memberikan laporan.”

Layar menampilkan dua kelompok berikutnya.

“Kelompok kedua datang untuk memperkuat komunikasi. Mereka membawa peralatan ilmiah dan medis.”

Kemudian tahap ketiga muncul.

“Kelompok ketiga membawa para ahli diplomasi, teknologi, budaya, dan kerja sama.”

Alexander mengangguk.

“Jadi kita tidak langsung mengirim seluruh tim.”

“Benar.”

Jatmika menatap gambar kota Valtherion.

“Kita memberi mereka kesempatan untuk mengenal kita secara bertahap.”

Prof. Wen mengangguk.

“Itu lebih masuk akal.”

Jatmika melanjutkan,

“Jika mereka menerima kita, barulah kita mulai membicarakan kerja sama.”

“Kerja sama seperti apa?” tanya Victor Morozov.

Jatmika tidak langsung menjawab.

Ia melihat gambar planet itu beberapa detik.

“Belum tahu.”

Victor mengerutkan kening.

“Belum tahu?”

“Ya.”

Jatmika tersenyum tipis.

“Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita akan bertemu dengan bangsa yang tidak berasal dari Bumi.”

Ia menatap semua orang di ruangan.

“Kita tidak boleh datang membawa daftar permintaan.”

Jatmika mematikan layar.

“Untuk kontak pertama, kita hanya membawa satu hal.”

Alexander bertanya,

“Apa?”

Jatmika menjawab,

“Kesediaan untuk mendengarkan.”

Tidak seorang pun berbicara setelah itu.

Di luar ruang konferensi, mesin-mesin terus bekerja. Energi mengalir menuju pusat teleportasi. Kendaraan jet eksperimental Alexander telah diperiksa untuk terakhir kalinya.

Semua teknologi yang selama ini mereka bangun akhirnya memiliki satu tujuan.

Bukan untuk menaklukkan dunia lain.

Melainkan untuk menemukan apakah manusia mampu memperkenalkan dirinya kepada dunia lain tanpa terlebih dahulu membuat dunia itu takut kepadanya.

Di layar utama, Valtherion kembali muncul.

Sebuah planet asing.

Sebuah peradaban yang belum mereka kenal.

Dan sebuah pertanyaan yang bahkan belum memiliki bahasa untuk dijawab:

Ketika dua peradaban pertama kali bertemu, siapa yang harus belajar memahami siapa?
Chapter 98 — Tiga Kelompok

Rapat persiapan berlangsung hingga malam.

Di layar utama ruang konferensi, peta Valtherion masih terpampang. Kota yang menjadi tujuan kontak pertama diberi tanda khusus. Tidak ada seorang pun yang menganggap perjalanan ini sebagai ekspedisi biasa.

Jatmika berdiri dan mulai membagi para peserta ke dalam tiga kelompok.

“Untuk mengurangi risiko,” katanya, “kita tidak akan mengirim semua orang sekaligus.”

Ia menekan layar.

Kelompok Pertama — Tim Kontak

Nama-nama muncul satu per satu.

Jatmika
Prof. Wen Shuyuan
Michael — NASA
Sergei Volkov — Roscosmos
Alexander Nathaniel Sterling

Jatmika menjelaskan,

“Kelompok pertama adalah tim kontak. Tugas utama kalian bukan melakukan penelitian besar. Bukan pula menjelajah planet.”

Ia memandang kelima orang tersebut.

“Tujuan kalian hanya satu: mencapai kota, memastikan keberadaan penduduk Valtherion, dan membuka komunikasi pertama.”

Wen Shuyuan mengangguk.

“Saya akan menangani komunikasi.”

Michael memeriksa data perlengkapan.

“Saya bertanggung jawab pada pengamatan dan prosedur NASA.”

Sergei kemudian berkata,

“Dan saya memastikan sistem energi serta keselamatan kendaraan.”

Alexander tersenyum.

“Saya mengurus kendaraan.”

Jatmika tertawa kecil.

“Kurang lebih begitu.”

Ia kemudian mengganti tampilan layar.

Kelompok Kedua — Tim Pendukung

Rizki Mandang
Edward
Dr. Aleksandr Petrov

“Kelompok kedua tidak langsung berangkat,” ujar Jatmika. “Kalian menunggu hasil kelompok pertama.”

Rizki mengangguk.

“Jika terjadi keadaan darurat?”

“Kalian menjadi tim bantuan.”

Edward menambahkan,

“Dan kalau kontak pertama berhasil?”

“Kalian membawa peralatan tambahan dan membantu membangun komunikasi yang lebih stabil.”

Jatmika kemudian menampilkan kelompok terakhir.

Kelompok Ketiga — Tim Penguatan

Joesoef
Irina Sokolova
John
Pak Toni
Victor Aleksandrovich Morozov

Pak Toni memperhatikan daftar tersebut.

“Kenapa saya berada di kelompok ketiga?”

Jatmika tersenyum.

“Karena saya tidak ingin semua orang penting berada di tempat yang sama ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi.”

Pak Toni mengangguk.

“Masuk akal.”

Victor Morozov hanya tersenyum.

“Dan saya?”

Jatmika menatapnya.

“Anda datang setelah kami memastikan bahwa situasinya aman.”

Victor memahami maksudnya.

Ia bukan datang sebagai investor.

Setidaknya belum.

Ia datang sebagai bagian dari sebuah misi yang jauh lebih besar daripada kepentingan bisnis.

---

Simulasi

“Seperti biasa,” kata Jatmika, “sebelum keberangkatan kita melakukan simulasi.”

Ruang konferensi berubah menjadi pusat perencanaan misi.

Tim teknis mulai menjalankan berbagai skenario.

Skenario A — Kontak Berhasil.

Kelompok pertama mencapai kota Valtherion.

Penduduk setempat tidak menunjukkan permusuhan.

Wen Shuyuan berhasil berkomunikasi.

Mereka kemudian memperkenalkan diri sebagai manusia dari sebuah planet bernama Bumi.

Jika skenario ini terjadi, kelompok kedua akan diberangkatkan setelah menerima laporan dari tim pertama.

Kelompok ketiga menyusul hanya setelah situasi benar-benar stabil.

Jatmika kemudian meminta skenario lain.

“Sekarang skenario terburuk.”

Layar berubah.

Skenario B — Kontak Gagal.

Penduduk Valtherion menunjukkan kecurigaan.

Mereka menganggap kendaraan manusia sebagai ancaman.

Jatmika memberikan instruksi.

“Tidak ada perlawanan kecuali kita diserang.”

Michael mengangguk.

“Kita mundur ke titik teleportasi.”

Sergei menambahkan,

“Jika kendaraan mengalami kerusakan?”

“Kita tinggalkan kendaraan,” jawab Jatmika.

Alexander menoleh.

“Pesawat saya?”

Jatmika menatapnya.

“Lebih baik kehilangan satu pesawat daripada kehilangan lima manusia.”

Alexander terdiam beberapa detik.

Kemudian ia mengangguk.

“Setuju.”

Mereka melanjutkan simulasi.

Skenario C — Teleportasi Gagal.

Jika kelompok pertama tidak dapat kembali ke Bumi, kelompok kedua tidak langsung dikirim.

Mereka harus memastikan terlebih dahulu apakah kegagalan berasal dari artefak teleportasi, gangguan energi Valtherion, atau kerusakan sistem di Bumi.

Skenario D — Kehilangan Komunikasi.

Jika seluruh komunikasi terputus, kelompok pertama dianggap berada dalam kondisi tidak diketahui.

Kelompok berikutnya tidak boleh berangkat tanpa perintah.

Jatmika menatap semua peserta.

“Tidak ada improvisasi heroik.”

Beberapa orang tersenyum.

“Kalau sistem mengatakan berhenti, kita berhenti.”

Ia menunjuk layar.

“Valtherion tidak akan menjadi tempat untuk membuktikan siapa yang paling berani.”

---

Pemeriksaan Kesehatan

Setelah simulasi selesai, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan.

Tekanan darah.

Jantung.

Paru-paru.

Kondisi neurologis.

Kepadatan tulang.

Kondisi mata.

Respons tubuh terhadap perubahan tekanan dan percepatan.

Tidak ada satu pun peserta yang boleh berangkat sebelum dinyatakan layak.

Ny. Tien kemudian menggabungkan hasil pemeriksaan dengan data simulasi.

“Semua peserta menjalani pemeriksaan lengkap,” katanya melalui sistem komunikasi.

Jatmika memperhatikan layar.

“Dan hasilnya?”

“Sedang dianalisis.”

Ia menunggu.

Beberapa detik kemudian, laporan awal muncul.

KELOMPOK PERTAMA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.

KELOMPOK KEDUA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.

KELOMPOK KETIGA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.

Jatmika memandang daftar itu.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perjalanan menuju Valtherion sebenarnya sudah dimulai.

Bukan ketika mereka memasuki ruang teleportasi.

Tetapi sejak mereka memutuskan siapa yang akan pergi.

Di luar gedung, malam Kalimantan terasa tenang.

Tidak ada yang terlihat berbeda.

Namun jauh di dalam fasilitas itu, mesin-mesin sedang menghitung energi, jarak, waktu, dan kemungkinan.

Lima manusia akan menjadi yang pertama membawa nama Bumi ke dunia lain.

Dan sebelum mereka berangkat, mereka harus menerima satu kenyataan sederhana:

Tidak ada simulasi yang mampu memberi tahu mereka bagaimana peradaban lain akan bereaksi ketika melihat manusia untuk pertama kalinya.
Chapter 99 — Sehari Sebelum Kontak Pertama

Pagi itu, ruang pusat kendali PT Sinar Ultraviolet kembali dipenuhi suara mesin dan percakapan para teknisi.

Di layar utama berdiri sebuah laporan berwarna hijau.

Ny. Tien telah menyelesaikan pemeriksaan seluruh peserta ekspedisi.

“Analisis kesehatan selesai,” ujar Ny. Tien.

Semua orang menoleh ke layar.

“Seluruh peserta dinyatakan dalam kondisi sehat dan memenuhi persyaratan medis untuk mengikuti misi Valtherion.”

Jatmika mengangguk lega.

“Baik. Kita mulai persiapan keberangkatan.”

Peta Valtherion muncul di layar.

Jatmika kemudian menampilkan pembagian kendaraan.

“Kelompok pertama menggunakan pesawat jet buatan NASA.”

Sebuah gambar pesawat muncul.

“Kelompok kedua dan ketiga menggunakan pesawat jet milik Alexander.”

Alexander yang duduk di ujung meja langsung mengangkat tangan.

“Sebentar.”

Jatmika menoleh.

“Kenapa pesawat saya tidak digunakan oleh kelompok pertama?”

Beberapa orang tersenyum.

Alexander melanjutkan dengan nada serius.

“Bukankah saya membawa kendaraan itu justru untuk misi ini?”

Jatmika menghela napas kecil.

“Pesawat NASA sudah lebih dahulu menjalani serangkaian pengujian. Kita tahu bagaimana perilakunya setelah teleportasi.”

Alexander menyilangkan tangan.

“Sedangkan pesawat saya baru sekali melakukan teleportasi.”

“Bukan berarti pesawatmu buruk,” jawab Jatmika. “Justru karena belum cukup teruji, saya tidak ingin menjadikannya kendaraan utama untuk tim kontak pertama.”

Alexander terdiam.

Kemudian ia mengangguk.

“Masuk akal.”

Ia tersenyum.

“Tapi setelah misi pertama berhasil, saya ingin pesawat saya digunakan.”

Jatmika tertawa kecil.

“Kita lihat nanti.”

Pak Toni yang sejak tadi memperhatikan jadwal kemudian menunjuk kalender digital.

“Kalau begitu, saya punya usulan.”

Semua mata tertuju kepadanya.

“9 September 2026.”

Jatmika melihat kalender.

Pak Toni melanjutkan,

“Menurut saya, itu waktu yang tepat untuk melakukan kontak pertama.”

“Kenapa tanggal itu?” tanya Edward.

Pak Toni tersenyum.

“Tidak ada alasan mistis. Jadwal semua tim sudah siap, simulasi selesai, kendaraan telah diuji, dan kondisi fasilitas memungkinkan.”

Ia menatap Jatmika.

“Kadang-kadang tanggal yang tepat hanyalah tanggal ketika semua persiapan akhirnya selesai.”

Jatmika mengangguk.

“Baik. Kita gunakan tanggal sembilan September.”

Ruangan kemudian berubah sedikit lebih santai.

John bersandar di kursinya.

“Kalau begitu ada satu hal yang perlu kita bicarakan.”

Jatmika menoleh.

“Apa?”

John mengangkat kedua tangannya.

“Kalau kita bertemu alien, jangan langsung bersalaman.”

Beberapa orang tertawa.

Alexander mengernyitkan dahi.

“Kenapa?”

John menjawab serius,

“Saya pernah menonton banyak film alien.”

Pak Toni menahan tawa.

“Dan?”

“Biasanya orang yang pertama kali menyentuh alien justru orang pertama yang kena masalah.”

Ruangan pecah oleh tawa kecil.

John mengangkat telunjuk.

“Saya serius.”

Wen Shuyuan tersenyum.

“John, kita tidak bisa menjadikan film sebagai protokol ilmiah.”

“Saya tahu.”

John mengangguk.

“Tapi saya tetap memilih untuk tidak menjadi orang pertama yang bersalaman.”

Wen kemudian membuka data penelitian.

“Kalau melihat dokumentasi yang kita miliki, saya justru menduga bentuk tubuh mereka kemungkinan besar menyerupai manusia.”

Michael langsung menyela.

“Menyerupai manusia bukan berarti aman untuk disentuh.”

Ia menunjuk data biologis di layar.

“Kita tidak mengetahui mikroorganisme apa yang hidup di Valtherion. Mereka mungkin memiliki virus, bakteri, spora, atau organisme lain yang tidak kita kenal.”

Michael memandang seluruh anggota tim.

“Begitu juga sebaliknya. Kita bisa membawa mikroorganisme Bumi yang mungkin berbahaya bagi mereka.”

Sergei Volkov yang duduk di sebelahnya justru tersenyum lebar.

“Saya hanya ingin bertemu mereka.”

Michael menoleh.

“Kamu tidak khawatir?”

“Khawatir.”

Sergei berdiri.

“Tapi saya sudah menunggu terlalu lama untuk melihat makhluk dari dunia lain.”

John menunjuk Sergei.

“Nah, orang seperti kamu biasanya mati duluan dalam film.”

Sergei tertawa.

“Kalau begitu jangan berdiri terlalu dekat dengan saya.”

Kali ini bahkan Jatmika ikut tersenyum.

Namun ia segera mengangkat tangannya.

“Cukup.”

Suasana kembali tenang.

Jatmika berjalan mendekati layar yang menampilkan gambar Valtherion.

“Kita belum tahu seperti apa makhluk yang akan kita temui.”

Ia menunjuk gambar perkiraan penduduk Valtherion.

“Wen mungkin benar. Mereka mungkin memiliki bentuk tubuh yang menyerupai manusia.”

Kemudian Jatmika menatap Michael.

“Tapi Michael juga benar. Kemiripan fisik tidak berarti kesamaan biologis.”

Ia menatap John.

“Dan John juga punya satu poin.”

John tersenyum bangga.

“Akhirnya ada yang mengakui.”

“Bukan soal film alien,” lanjut Jatmika.

John langsung terdiam.

“Kontak fisik memang tidak perlu dilakukan pada pertemuan pertama.”

Jatmika kembali ke kursinya.

“Jadi protokol awal kita sederhana.”

Ia menampilkan tiga poin di layar.

PERTAMA — Tidak ada kontak fisik tanpa persetujuan.

KEDUA — Tidak ada pertukaran benda tanpa pemeriksaan.

KETIGA — Tidak ada tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai ancaman.

Jatmika kemudian menatap semua peserta.

“Kita datang bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih maju.”

Ia berhenti sejenak.

“Kita datang untuk memperkenalkan diri.”

Ruangan menjadi hening.

Di layar, tanggal keberangkatan terpampang jelas.

09 — 09 — 2026

Besok mereka akan meninggalkan Bumi.

Kelompok pertama akan menjadi manusia pertama yang mencoba berbicara dengan sebuah peradaban dari planet lain.

Tidak ada seorang pun yang tahu apakah mereka akan disambut sebagai tamu.

Tidak ada yang tahu apakah mereka akan dianggap sebagai ancaman.

Dan tidak ada simulasi yang dapat memberikan jawaban untuk satu pertanyaan sederhana:

Bagaimana cara menyapa makhluk asing tanpa membuatnya takut?

Jatmika mematikan layar.

“Besok kita berangkat.”

Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.

Di luar gedung, pesawat-pesawat telah menunggu.

Mesin teleportasi juga telah siap.

Dan di suatu tempat yang sangat jauh dari Bumi, di bawah cahaya tiga bulan Valtherion, mungkin ada seseorang yang juga sedang memandang ke langit—tanpa mengetahui bahwa esok hari, langit mereka akan kedatangan tamu.


Chapter 100— Malam Sebelum Keberangkatan

Sehari sebelum keberangkatan, suasana di kompleks PT Sinar Ultraviolet terasa berbeda.

Tidak ada latihan.

Tidak ada rapat panjang.

Tidak ada simulasi.

Jatmika memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk meninggalkan fasilitas dan bertemu keluarga masing-masing.

Misi menuju Valtherion mungkin hanya berlangsung beberapa jam menurut perhitungan mereka. Namun tidak seorang pun dapat menjamin apa yang sebenarnya akan terjadi setelah mereka melewati portal.

Karena itu, Jatmika merasa setiap orang berhak menghabiskan waktu terakhirnya di Bumi bersama orang-orang yang mereka cintai.

Michael dan Edward segera kembali ke Amerika.

Sergei Volkov juga meninggalkan Kalimantan dan terbang kembali ke Rusia.

Rizki Mandang memilih menggunakan waktunya untuk beristirahat dan mempersiapkan perlengkapan.

Sebagian besar anggota ekspedisi melakukan hal yang sama.

Namun satu orang tetap berada di fasilitas.

Alexander Nathaniel Sterling.

Jatmika menemukannya duduk sendirian di ruang observasi, memandangi landasan tempat pesawat-pesawat ekspedisi dipersiapkan.

Jatmika menghampirinya.

“Kamu tidak pulang?”

Alexander menoleh.

“Tidak.”

Jatmika duduk di sampingnya.

“Bukankah besok kita mungkin melakukan perjalanan terjauh dalam sejarah manusia?”

Alexander tersenyum.

“Mungkin justru itu alasan saya tidak ingin terlalu banyak berpamitan.”

Jatmika terdiam.

Beberapa detik kemudian ia bertanya,

“Keluargamu di mana?”

Alexander tidak langsung menjawab.

Kemudian ia berkata,

“Saya punya keluarga. Tapi mereka tidak berada di sini.”

Jatmika mengangguk pelan.

Alexander kemudian balik bertanya.

“Kalau kamu sendiri?”

Jatmika tersenyum tipis.

“Saya?”

Ia melihat ke luar jendela.

“Saya belum berkeluarga.”

Alexander menatapnya.

“Tidak ada yang menunggumu di rumah?”

Jatmika menggeleng.

“Tidak ada.”

Untuk sesaat mereka hanya duduk dalam diam.

Dua orang dengan kehidupan yang berbeda, tetapi pada malam itu berada dalam posisi yang sama.

Sendirian.

Alexander kemudian berkata,

“Kalau begitu, bolehkah saya tetap di sini bersama kalian?”

Jatmika menoleh.

“Besok kita berangkat bersama. Jadi tentu saja.”

Alexander tersenyum.

“Terima kasih.”

Malam semakin larut.

Setelah meninggalkan ruang observasi, Jatmika menuju ruang penyimpanan artefak.

Ia ingin memastikan semua peninggalan Mythopia berada dalam kondisi aman.

Pintu pengamanan terbuka setelah identitasnya dikenali.

Di dalam ruangan terdapat beberapa artefak yang selama ini disimpan dan dipelajari oleh tim.

Jatmika berjalan menuju tempat penyimpanan keris.

Ia membuka wadah pelindung.

Keris peninggalan Mythopia masih berada di sana.

Jatmika mengangkatnya perlahan.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Hanya permukaan logam tua yang memantulkan cahaya ruangan.

Ia memeriksanya dari pangkal hingga ujung.

Tidak ada kerusakan.

Tidak ada perubahan bentuk.

Namun ketika Jatmika mencoba merasakan energinya, ia menyadari sesuatu.

Energinya tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.

Ia menoleh ke layar pemantau.

Data energi menunjukkan pola yang sangat kecil, tetapi berulang.

Seolah-olah keris itu sedang merespons sesuatu.

Jatmika kemudian mengingat satu benda lain.

Keris peninggalan Raja Isidore.

Ia berbeda.

Benda itu tidak disimpan di tempat yang sama.

Sejak pertama kali ditemukan, keris tersebut selalu menunjukkan karakter energi yang berbeda dari artefak Mythopia lainnya.

Jatmika pernah mencoba menghubungkan keduanya.

Namun hasilnya selalu sama.

Tidak ada respons.

Malam itu ia kembali memikirkannya.

Mengapa dua keris yang berasal dari peradaban yang sama memiliki pola energi berbeda?

Apakah karena pemiliknya?

Ataukah karena fungsi keduanya memang berbeda?

Jatmika menatap keris yang berada di tangannya.

Kemudian ia teringat Valtherion.

Isidore.

Teleportasi.

Dan pesan yang pernah ia terima dalam mimpinya.

Hanya keturunan Mythopia yang dapat menggunakan keris itu.

Jatmika mengerutkan kening.

Ia belum pernah menemukan bukti mengenai siapa dirinya sebenarnya.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjalanan ke Valtherion mungkin akan memberikan jawaban.

Ia mengembalikan keris ke tempatnya.

Sebelum menutup wadah, Jatmika menatapnya sekali lagi.

“Besok,” bisiknya.

Kemudian pintu penyimpanan tertutup.

Di luar ruangan, Alexander masih berada di ruang observasi.

Pesawat telah siap.

Mesin teleportasi telah siap.

Para anggota tim sedang bersiap untuk kembali berkumpul.

Dan di balik semua persiapan itu, Jatmika menyimpan satu pertanyaan yang tidak tercantum dalam dokumen misi.

Siapa sebenarnya Raja Isidore bagi dirinya?

Mungkin jawabannya berada di Valtherion.

Atau mungkin justru jawabannya adalah sesuatu yang selama ini telah berada di tangannya sendiri.
Chapter 101— Keberangkatan

9 September 2026.

Hari yang telah mereka persiapkan akhirnya tiba.

Sejak pagi, kompleks PT Sinar Ultraviolet di Kalimantan dipenuhi aktivitas. Para teknisi memeriksa sistem teleportasi untuk terakhir kalinya. Tim NASA dan Rusia memeriksa instrumen masing-masing. Tidak ada lagi simulasi.

Tidak ada lagi kesempatan untuk berkata, nanti saja.

Para peserta ekspedisi telah kembali dari negara mereka masing-masing.

Michael dan Edward telah kembali dari Amerika.

Sergei Volkov telah kembali dari Rusia.

Mereka semua membawa sesuatu yang tidak tercantum dalam daftar perlengkapan misi: perasaan lega karena telah berpamitan dengan orang-orang yang mereka cintai.

Mereka tidak tahu kapan akan kembali.

Mereka bahkan tidak tahu apakah kata kembali masih memiliki arti yang sama setelah mereka tiba di dunia lain.

Di ruang persiapan, kelima anggota kelompok pertama telah berdiri mengenakan pakaian astronot.

Jatmika.

Alexander Nathaniel Sterling.

Prof. Wen Shuyuan.

Sergei Volkov.

Michael.

Pesawat jet NASA telah selesai menjalani seluruh rangkaian pengujian.

Beberapa kali pesawat tersebut diterbangkan di fasilitas Kalimantan. Sistem pendorong bekerja stabil. Kendali penerbangan tidak mengalami gangguan. Tidak ditemukan masalah yang dapat menghambat penggunaannya dalam misi.

Kini kendaraan itu perlahan didorong masuk ke ruang teleportasi.

Pesawat berhenti tepat di tengah ruangan.

Di sekelilingnya berdiri peralatan pemantauan.

Ny. Tien mulai menjalankan pemeriksaan terakhir.

“Sinkronisasi sistem teleportasi dimulai.”

Layar utama menyala.

“Koordinat Valtherion terkunci.”

Jatmika melihat angka-angka yang bergerak cepat.

“Berapa estimasi waktu perjalanan?”

“Waktu teleportasi tidak bergantung pada jarak tempuh konvensional,” jawab Ny. Tien. “Namun kestabilan portal telah memenuhi parameter yang ditentukan.”

Pak Toni kemudian masuk ke ruang kendali.

Ia membawa laporan terakhir.

“Waktu maksimal sebelum kembali sudah kita tingkatkan menjadi seratus dua puluh menit.”

Alexander menoleh.

“Dua jam?”

“Benar.”

Pak Toni mengangguk.

“Namun jangan menganggap dua jam sebagai waktu aman. Itu batas operasional yang kita tetapkan berdasarkan data yang kita miliki.”

Jatmika menambahkan,

“Dan kalau terjadi masalah?”

Pak Toni menjawab,

“Kelompok kedua akan menjadi tim penjemput.”

Rizki Mandang, Edward, dan Aleksandr Petrov telah bersiap di fasilitas teleportasi kedua.

Mereka tidak ikut dalam keberangkatan pertama.

Mereka menunggu.

Jika kelompok pertama gagal kembali, merekalah yang akan menjadi harapan berikutnya.

Jatmika kemudian menghadap kelima anggota tim.

“Dengarkan.”

Semua orang diam.

“Perjalanan ini bukan tamasya.”

Tidak ada senyum kali ini.

“Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan. Kita tidak tahu bagaimana penduduk Valtherion akan menerima kita. Kita tidak tahu apakah teknologi kita akan bekerja seperti yang kita harapkan.”

Jatmika menarik napas.

“Semoga kita diberi keselamatan dalam perjalanan ini.”

Ia menundukkan kepala.

“Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing.”

Tidak ada perintah tentang bagaimana mereka harus berdoa.

Tidak ada kewajiban untuk menggunakan kata-kata yang sama.

Mereka hanya diberi kesempatan untuk berbicara kepada Tuhan dengan cara masing-masing.

Ruangan menjadi hening.

Untuk beberapa saat, teknologi yang memenuhi tempat itu seakan tidak memiliki arti.

Lima manusia berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kemampuan mereka untuk menghitung.

Setelah doa selesai, Jatmika membuka sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat lima benda.

Keris peninggalan Mythopia.

Ia menyerahkannya satu per satu kepada anggota tim.

“Pegang ini.”

Alexander menerima keris tersebut dengan hati-hati.

Jatmika berkata,

“Simpan. Semoga kalian diberikan keberuntungan.”

Wen memperhatikan bilah keris itu.

“Apakah kita benar-benar membutuhkan ini?”

Jatmika tersenyum tipis.

“Saya tidak tahu.”

Ia menatap keris di tangannya.

“Tapi selama ini artefak ini selalu membawa kita lebih dekat kepada jawaban.”

Tidak ada yang membantah.

Kelima orang menyimpan keris tersebut.

Kemudian pintu pesawat ditutup.

Jatmika masuk terakhir.

Ia duduk di kursinya.

Sabuk pengaman dikunci.

Alexander berada di kursi pilot.

Michael memeriksa instrumen.

Sergei memeriksa sistem energi.

Wen memastikan perangkat penerjemah dan arsip bahasa berada dalam kondisi aktif.

Ny. Tien mengambil alih navigasi.

“Seluruh anggota kelompok pertama terdeteksi.”

Suara mesin mulai terdengar.

“Tujuan: Valtherion.”

Lampu di dalam ruang teleportasi meredup.

Di tengah ruangan, artefak kuno mulai bergetar.

Kemudian—

menyala merah.

Cahaya merah perlahan berubah menjadi emas.

Jatmika menggenggam sabuk pengamannya.

“Ny. Tien?”

“Koordinat terkunci.”

“Mulai.”

Suara Ny. Tien terdengar tenang.

“Hitung mundur dimulai.”

Sepuluh.

Cahaya emas semakin terang.

Sembilan.

Udara di dalam ruangan mulai bergetar.

Delapan.

Petir kecil mulai muncul di sekitar artefak.

Tujuh.

Alexander menatap layar penerbangan.

Enam.

Sergei tersenyum.

“Jadi ini rasanya meninggalkan Bumi.”

Lima.

Michael menjawab,

“Jangan terlalu cepat senang.”

Empat.

Wen memejamkan mata sejenak.

Tiga.

Petir menyambar ke segala arah.

Dua.

Cahaya memenuhi seluruh ruangan.

Satu.

“Teleportasi.”

Ledakan cahaya terjadi tanpa suara.

Pesawat jet NASA menghilang.

Lima manusia di dalamnya ikut menghilang dari Bumi.

---

Valtherion

Di tempat yang sangat jauh, sebuah ruangan kuno berdiri dalam kesunyian.

Dindingnya terbuat dari batu dan kristal.

Di tengah ruangan terdapat sebuah artefak yang telah berusia ribuan tahun.

Tidak ada manusia di sana.

Tidak ada mesin.

Tidak ada suara.

Kemudian—

BRAKK!

Petir menyambar dari langit-langit ruangan.

Cahaya biru menjalar ke seluruh dinding.

Artefak teleportasi tiba-tiba menyala.

Merah.

Kemudian berubah menjadi—

Emas.

Energi memenuhi ruangan.

Udara bergetar.

Sebuah bentuk mulai muncul di tengah lingkaran cahaya.

Perlahan.

Pertama bayangan.

Kemudian struktur pesawat.

Lalu tubuh manusia.

Dalam hitungan detik, kendaraan itu terbentuk sepenuhnya.

Pesawat jet NASA telah tiba.

Petir terakhir menyambar lantai.

Cahaya perlahan menghilang.

Pesawat berdiri diam.

Di dalamnya terdapat lima manusia.

Jatmika.

Alexander.

Wen Shuyuan.

Sergei Volkov.

Michael.

Tidak seorang pun langsung berbicara.

Mereka hanya mendengar suara napas masing-masing.

Alexander memandang layar kokpit.

“Valtherion.”

Sergei tersenyum lebar.

“Kita benar-benar sampai.”

Michael melihat instrumen.

“Semua sistem masih aktif.”

Wen membuka perangkat penerjemah.

“Atmosfer terdeteksi.”

Jatmika perlahan melihat keluar melalui kaca depan.

Di kejauhan, cahaya sebuah kota terlihat di balik pegunungan.

Tiga bulan menggantung di langit.

Dan untuk pertama kalinya, manusia memandang sebuah dunia yang tidak pernah menjadi bagian dari sejarah Bumi.

Jatmika terdiam.

Kemudian ia berkata pelan,

“Selamat datang di Valtherion.”

Namun mereka belum mengetahui satu hal.

Kedatangan mereka tidak sepenuhnya tidak diketahui.

Jauh dari tempat mereka berdiri, sebuah sistem kuno telah mendeteksi energi teleportasi yang baru saja muncul.

Di sebuah menara yang menjulang di atas kota, seseorang membuka matanya.

Para penjaga Valtherion telah mengetahui bahwa ada sesuatu yang baru saja datang dari dunia lain.

Chapter 102 — Langit Valtherion

Pesawat jet NASA masih berada di dalam ruangan kuno itu.

Jatmika turun lebih dahulu dan mengamati pintu batu besar yang berada di ujung ruangan.

“Pesawat ini harus kita keluarkan,” katanya.

Alexander melihat sekeliling.

“Bagaimana caranya?”

“Dorong.”

Sergei tertawa kecil.

“Pesawat antariksa didorong seperti mobil?”

“Untuk sementara,” jawab Jatmika.

Mereka berlima kemudian mendorong kendaraan tersebut perlahan menuju pintu keluar.

Alexander ikut mendorong dari bagian belakang.

“Untung pesawat ini ringan.”

Michael segera menyela.

“Jangan terlalu cepat.”

Ia menunjuk ke arah pesawat.

“Tunggu sampai pesawat ini benar-benar berada di tempat terbuka. Kita tidak tahu kondisi udara di luar.”

Jatmika mengangguk.

Mereka berhenti tepat di depan pintu.

Jatmika kemudian mengambil sebuah papan logam yang telah disiapkan sebelumnya. Pada permukaannya terdapat lapisan material yang dapat merespons medan magnet.

Ia mengambil batang besi magnetik.

“Kalau teori kita benar, segel ini masih dikenali oleh sistem kuno.”

Wen mendekat.

“Dan kalau salah?”

Jatmika tersenyum.

“Kita akan mencari cara lain.”

Ia mulai menggambar simbol.

Garis pertama.

Kemudian lingkaran.

Lalu beberapa pola geometris yang menyerupai simbol kuno Mythopia.

Begitu garis terakhir selesai—

ZZZTTT...

Papan tersebut bergetar.

Sebuah cahaya tipis muncul di permukaannya.

Jatmika menempelkan papan itu ke bagian tengah pintu.

Terdengar suara mekanis yang aneh, meskipun tidak ada roda gigi yang terlihat.

Grrrrrrr...

Pintu batu mulai bergeser.

Celah kecil terbuka.

Kemudian semakin lebar.

Udara malam memasuki ruangan.

Kelima orang itu terdiam.

Di hadapan mereka terbentang sebuah hutan.

Gelap.

Luas.

Dan sama sekali berbeda dari hutan mana pun yang pernah mereka lihat di Bumi.

Pepohonan menjulang tinggi dengan daun yang memancarkan cahaya samar. Kabut tipis bergerak di antara batang-batang pohon.

Di langit terlihat tiga bulan.

Tidak ada suara kota.

Tidak ada suara kendaraan.

Hanya suara angin.

Jatmika melihat jam tangannya.

“Waktu lokal?”

Ny. Tien menjawab melalui komunikasi internal.

“Perkiraan malam hari.”

Michael mengamati lingkungan.

“Atmosfer aman untuk operasi pesawat.”

Alexander sudah berada di dekat kokpit.

“Kalau begitu, mari kita lihat apakah kendaraan ini bisa terbang di planet asing.”

Mereka masuk ke dalam pesawat.

Pintu kabin ditutup.

Alexander duduk di kursi pilot.

Ia memeriksa instrumen satu per satu.

Baginya, menerbangkan pesawat bukan sesuatu yang baru.

Ia telah menghabiskan ribuan jam menerbangkan berbagai jenis pesawat selama kariernya.

Namun kali ini berbeda.

Ia akan menerbangkan pesawat di dunia yang tidak tercatat dalam peta manusia.

Alexander menyalakan sistem utama.

BEEP.

Panel kokpit menyala.

“Semua sistem aktif.”

Ia mengaktifkan mesin.

Dengungan rendah memenuhi kabin.

VMMMMMMMM...

Mesin pendorong mulai menghasilkan aliran udara ke bawah.

Pesawat perlahan terangkat.

Beberapa meter.

Kemudian semakin tinggi.

Alexander mengendalikan kendaraan dengan gerakan kecil.

“Responsnya sangat halus.”

Michael memperhatikan data penerbangan.

“Stabil.”

Pesawat kemudian bergerak maju.

Perlahan.

Kemudian kecepatannya bertambah.

Hutan Valtherion terbentang di bawah mereka.

Jatmika memandang keluar jendela.

Pepohonan bercahaya terlihat seperti lautan hijau di bawah langit gelap.

“Terlalu indah untuk disebut asing,” kata Wen.

Jatmika menunjuk ke depan.

“Kita akan menuju lembah di tengah hutan ini.”

Alexander mengarahkan pesawat mengikuti koordinat.

“Menuju lembah.”

Pesawat bergerak semakin jauh dari tempat teleportasi.

Namun mereka tidak menyadari bahwa sejak kendaraan itu meninggalkan ruangan kuno, sesuatu telah mengawasi mereka.

Di sebuah menara tinggi yang berada di tepi wilayah Valtherion, seorang penjaga berdiri dalam bayangan.

Namanya Rhaegor Valtis.

Ia adalah penjaga gerbang dan wilayah perbatasan Valtherion.

Di tangannya terdapat tombak kristal yang sesekali memancarkan cahaya kebiruan.

Rhaegor memandang langit.

Sebuah benda asing bergerak di antara awan.

Tidak seperti burung.

Tidak seperti kendaraan Valtherion.

Tidak seperti apa pun yang pernah ia lihat.

Ia menutup mata.

Energi asing terasa di udara.

Energi yang sangat tua.

Namun juga sangat asing.

“Teleportasi...”

Rhaegor membuka matanya.

Ia segera berbalik menuju ruang komunikasi.

“Hubungi Aurex Valther.”

Beberapa saat kemudian, saluran komunikasi kuno terbuka.

Sebuah suara terdengar.

“Ada apa?”

Rhaegor menatap langit.

“Penjaga gerbang menemukan penyusup.”

“Di mana?”

“Menuju kota.”

Rhaegor berhenti sejenak.

“Dan mereka datang menggunakan sebuah mesin terbang.”

Hening.

Aurex Valther kemudian bertanya,

“Apakah mereka bersenjata?”

“Saya belum mengetahui jumlahnya.”

Rhaegor menatap kendaraan asing yang semakin menjauh.

“Tapi mereka datang melalui energi teleportasi.”

Aurex terdiam.

Itu bukan informasi biasa.

Energi teleportasi kuno telah lama dianggap sebagai warisan yang hampir tidak pernah lagi digunakan.

“Awasi mereka,” perintah Aurex.

“Jangan menyerang.”

Rhaegor menundukkan kepala.

“Dimengerti.”

Ia kembali menatap pesawat itu.

Sementara itu, jauh di atas hutan, Jatmika dan keempat rekannya terus terbang menuju lembah.

Mereka mengira sedang melakukan perjalanan menuju sebuah kota.

Mereka tidak tahu bahwa sejak pertama kali muncul di Valtherion, mereka telah menjadi objek pengamatan.

Dan bagi para penjaga Valtherion, pertanyaan yang sama mulai muncul:

Siapakah manusia yang datang melalui gerbang kuno itu—dan mengapa mereka kembali menggunakan teknologi yang seharusnya telah lama hilang?

Chapter 103 kontak pertama 
Hamparan hutan membentang sejauh mata memandang.

Dari ketinggian, pemandangan itu hampir menyerupai bumi. Sungai-sungai berkelok di antara pepohonan raksasa, mengalir menuju pegunungan yang diselimuti kabut tipis. Namun semakin lama mereka terbang, semakin jelas bahwa Valtherion bukanlah bumi.

Di bawah mereka, beberapa pohon memiliki daun yang memancarkan cahaya lembut. Di sela-sela kanopi hutan, sesekali terlihat aliran sungai berwarna kebiruan yang berkilauan seperti kaca.

Tiba-tiba—

WUSSSHH!

Seekor burung raksasa muncul dari balik pepohonan dan melintas tepat di depan jet NASA.

Alexander spontan menarik kendali.

“Pegangan!”

Pesawat melakukan manuver tajam. Tubuh mereka terdorong ke samping ketika Alexander memutar jet hampir membentuk lingkaran sebelum kembali ke jalur semula.

Burung raksasa itu mengepakkan sayapnya dan menghilang ke balik pepohonan.

Alexander mengembuskan napas panjang.

“Wah... hampir saja.”

Michael menatap keluar jendela.

“Itu burung atau pesawat tanpa mesin?”

Sergei tertawa kecil.

“Kalau di Rusia, saya mungkin sudah menembaknya.”

“Jangan bercanda,” kata Jatmika.

Sergei mengangkat kedua tangannya.

“Baik. Saya hanya bercanda.”

Prof. Wen Shuyuan masih memandang ke bawah dengan penuh perhatian.

“Ekosistemnya luar biasa. Bentuk kehidupannya mungkin berkembang dengan cara yang sangat berbeda dari bumi.”

Jet terus bergerak maju.

Beberapa menit kemudian, hutan mulai menipis.

Di hadapan mereka terbentang sebuah lembah yang sangat luas.

Sebuah air terjun raksasa jatuh dari tebing tinggi, menciptakan kabut putih yang berkilauan diterpa cahaya tiga bulan di langit.

Namun bukan air terjunnya yang membuat mereka terdiam.

Di atas lembah itu...

sebuah kota melayang.

Bangunan-bangunan kristal berdiri di antara awan. Menara-menara tinggi memancarkan cahaya biru, emas, ungu, dan merah. Jembatan transparan menghubungkan satu struktur dengan struktur lainnya, sementara kendaraan-kendaraan kecil bergerak di antara gedung-gedung tersebut tanpa terlihat menyentuh tanah.

Seluruh kota tampak seperti sebuah peradaban yang dibangun dari cahaya.

Michael terdiam.

Sergei bahkan berdiri dari kursinya.

“Ya Tuhan...”

Prof. Wen mendekat ke kaca jendela.

“Ini bukan reruntuhan.”

Jatmika menatap kota itu dengan mata terpaku.

“Ini masih hidup.”

Beberapa detik tidak ada seorang pun berbicara.

Kemudian Jatmika menunjuk ke arah kota.

“Ayo kita pergi ke sana.”

Alexander tersenyum dan kembali memegang kendali.

“OK. Gas.”

Jet mulai mengarah menuju lembah.

Namun belum sempat mereka mendekati kota, sistem peringatan pesawat berbunyi.

BIP! BIP! BIP!

Alexander melihat layar radar.

“Ada sesuatu di sebelah kanan.”

Sebuah pesawat berwarna perak muncul dari balik awan.

Bentuknya berbeda dengan teknologi bumi. Tidak terlihat sayap konvensional ataupun mesin pendorong. Tubuhnya menyerupai kepingan logam yang mengilap, dengan cahaya biru tipis mengalir di sepanjang permukaannya.

Lalu muncul pesawat kedua.

Ketiga.

Keempat.

Kelima.

Kini lima pesawat perak mengelilingi jet NASA.

Alexander menelan ludah.

“Wah... apakah ini sebuah penyambutan atau sebuah penangkapan?”

Michael langsung memeriksa sistem komunikasi.

“Tidak ada komunikasi.”

Jatmika memperhatikan posisi kelima pesawat itu.

Mereka tidak menyerang.

Mereka hanya mengawal.

“Jangan lakukan apa pun,” kata Jatmika tenang. “Tetap tenang. Ikuti saja mereka.”

Alexander mengangguk.

“Baik.”

Jet NASA memperlambat kecepatannya.

Salah satu pesawat perak bergerak ke depan. Bagian bawahnya tiba-tiba terbuka dan memancarkan cahaya putih kebiruan.

ZZZZZZT!

Sebuah sinar laser mengenai bagian bawah jet NASA.

“Eh, mereka menembak kita!” seru Michael.

“Bukan,” jawab Sergei sambil melihat instrumen. “Tidak ada kerusakan.”

Alexander mencoba mengendalikan pesawat.

“Kontrol saya tidak merespons!”

Jatmika melihat ke layar.

Kecepatan pesawat mulai turun secara otomatis.

Kemudian sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Jet NASA perlahan terangkat.

Bukan karena mesin.

Bukan karena kendali Alexander.

Pesawat itu seperti sedang ditarik oleh sebuah gaya yang tidak terlihat.

Alexander mencoba menggerakkan kendali sekali lagi.

Tidak berhasil.

“Kita ditarik!”

Kelima pesawat perak mulai bergerak secara bersamaan.

Jet NASA mengikuti mereka tanpa bisa melawan.

Di kejauhan, Jatmika melihat sebuah landasan luas muncul di antara dua bangunan kristal.

Pesawat-pesawat perak membawa mereka menuju tempat itu.

Prof. Wen memperhatikan kota yang semakin dekat.

“Jatmika... mereka tidak membawa kita ke pusat kota.”

“Memang.”

“Menurutmu kenapa?”

Jatmika menatap landasan yang semakin besar.

“Mungkin mereka belum tahu apakah kita musuh atau bukan.”

Alexander tersenyum kaku.

“Jadi kita sedang ditangkap dengan cara yang sopan?”

Jatmika tidak menjawab.

Pesawat perlahan turun.

Roda pendaratan jet NASA keluar secara otomatis.

Kemudian—

DUUMM!

Jet mendarat di landasan kristal.

Kelima pesawat perak berhenti mengelilingi mereka.

Pintu-pintu pesawat terbuka.

Sosok-sosok humanoid mulai keluar.

Mereka mengenakan pakaian pelindung berwarna putih keperakan. Beberapa membawa tombak kristal yang memancarkan cahaya tipis.

Michael berbisik,

“Mereka humanoid.”

Prof. Wen menggeleng pelan.

“Bentuknya humanoid. Jangan langsung menyimpulkan bahwa mereka sama seperti manusia.”

Jatmika melepas tangannya dari senjata.

“Kita datang bukan untuk berperang.”

Ia menatap seluruh anggota kelompok.

“Ingat protokol.”

Semua mengangguk.

Di luar jet, para penjaga Valtherion berdiri dalam formasi.

Dari salah satu menara kristal yang jauh, seseorang mengamati mereka.

Rhaegor Valtis.

Tatapannya tertuju pada jet NASA.

Kemudian sebuah suara terdengar melalui kristal komunikasi di tangannya.

“Makhluk-makhluk itu telah mendarat.”

Di tempat lain, Aurex Valther membuka matanya.

“Jangan serang.”

Rhaegor terdiam.

“Jika mereka datang dari jaringan teleportasi kuno, berarti mereka mungkin memiliki hubungan dengan masa lalu yang selama ini kita cari.”

Aurex menatap langit Valtherion.

“Biarkan mereka berbicara.”

Ia berhenti sejenak.

“Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun... mungkin ada seseorang yang datang bukan untuk mengambil sesuatu dari dunia kita.”

Sementara itu, pintu jet NASA mulai terbuka.

Jatmika berdiri paling depan.

Di hadapannya, untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan manusia, berdiri penghuni dunia lain.

Jatmika menarik napas panjang.

Kemudian ia melangkah keluar.

Chapter 104 Kontak pertama 
Pintu jet NASA terbuka perlahan.

Jatmika turun lebih dahulu.

Kakinya menginjak landasan kristal yang terasa kokoh, tetapi memancarkan cahaya lembut di bawah telapak sepatunya. Udara Valtherion terasa dingin dan bersih. Di kejauhan, air terjun raksasa masih terdengar menggelegar, sementara tiga bulan menggantung di langit yang dipenuhi bintang.

Prof. Wen Shuyuan keluar setelahnya.

Kemudian Alexander Nathaniel Sterling, Sergei Volkov, dan Michael menyusul.

Kelima manusia itu berdiri di hadapan barisan prajurit Valtherion.

Para prajurit memegang senjata berbentuk tombak kristal. Beberapa dari mereka mengenakan zirah keperakan, sementara yang lain mengenakan pakaian panjang dengan simbol-simbol kuno di dada.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang menyerang.

Hanya tatapan saling mengamati.

Prof. Wen melangkah maju beberapa meter.

Ia menarik napas.

Kemudian mulai berbicara menggunakan bahasa asing yang telah dipelajarinya dari berbagai catatan kuno.

“Salam. Kami datang dari sebuah planet bernama Bumi. Kami tidak bermaksud melakukan serangan. Kami datang untuk mencari pengetahuan dan membuka hubungan dengan peradaban kalian.”

Para prajurit saling memandang.

Rhaegor Valtis berdiri paling depan.

Tangannya masih menggenggam tombak kristal petir.

Matanya bergerak perlahan dari wajah satu manusia ke manusia lainnya.

Kemudian pandangannya berhenti pada pinggang Jatmika.

Sebuah keris tergantung di sana.

Mata Rhaegor melebar.

“Senjata itu...”

Ia melangkah maju.

Para prajurit langsung memperketat barisan.

Rhaegor mengangkat tombaknya.

“Jangan bergerak!”

Jatmika berhenti.

Rhaegor menunjuk keris tersebut.

“Itu bukan senjata biasa.”

Prof. Wen menerjemahkan perkataan Rhaegor kepada yang lain.

Rhaegor menatap keris itu dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.

“Senjata legendaris Raja Isidore.”

Alexander menoleh kepada Jatmika.

“Dia mengenal kerismu?”

Jatmika tidak menjawab.

Di kejauhan, seorang pria berjubah putih berjalan mendekat.

Namun langkahnya tampak aneh.

Kakinya hampir tidak menyentuh tanah.

Jubah putihnya bergerak perlahan tertiup angin, sementara cahaya kebiruan mengelilingi tubuhnya.

Dialah Aurex Valther, penjaga Segel Langit.

Aurex berhenti di samping Rhaegor.

Ia menatap Jatmika.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian ia berkata,

“Mereka bukan penyusup.”

Rhaegor menoleh.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”

Aurex menjawab dengan tenang.

“Aku bisa melihatnya dari mataku.”

Ia memandang satu per satu anggota rombongan.

“Tidak ada kebencian dalam jiwa mereka.”

Tombak Rhaegor perlahan diturunkan.

Namun sebelum suasana benar-benar mencair, terdengar suara lain.

“Selamat datang di planet Valtherion.”

Semua manusia terdiam.

Bahasa itu...

Bahasa Indonesia.

Prof. Wen langsung menoleh.

Matanya membelalak.

“Loh... kok bisa bahasa Indonesia?”

Seorang pria berjubah putih lainnya berjalan keluar dari barisan.

Usianya sulit ditebak. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua daripada manusia.

Ia adalah Seraphion Kael, penjaga Arsip Bintang dan ahli sejarah Valtherion.

Seraphion tersenyum tipis.

“Bahasa kalian bukan sesuatu yang sulit bagi kami.”

Prof. Wen terlihat semakin bingung.

“Bagaimana kalian bisa mempelajarinya?”

Seraphion menatapnya.

“Karena kami telah mempelajari dunia kalian jauh sebelum kalian menyadari keberadaan kami.”

Suasana kembali hening.

Jatmika kemudian maju.

“Saya Jatmika.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Kami datang dari Bumi.”

Kemudian ia memperkenalkan satu per satu.

“Ini Prof. Wen Shuyuan, ahli bahasa dan sejarah.”

Wen mengangguk.

“Ini Alexander Nathaniel Sterling, pilot kami.”

Alexander mengangkat tangan.

“Senang bertemu kalian.”

“Ini Sergei Volkov, ahli teknologi antariksa.”

Sergei mengangguk hormat.

“Dan ini Michael, anggota tim NASA.”

Michael tersenyum tipis.

Seraphion memperhatikan mereka dengan penuh perhatian.

Jatmika melanjutkan,

“Tujuan kami bukan mengambil wilayah kalian. Bukan pula mencari sumber daya untuk kami kuasai.”

Ia melihat ke arah kota kristal yang melayang di atas lembah.

“Kami ingin membangun hubungan. Membuka komunikasi antara dua planet. Jika memungkinkan, kami ingin belajar dari kalian dan berbagi pengetahuan yang kami miliki.”

Seraphion tidak langsung menjawab.

Ia justru berjalan mendekati Jatmika.

Kemudian mengulurkan tangannya.

“Kalau begitu, mari kita mulai dengan sesuatu yang sederhana.”

Ia tersenyum.

“Salam persahabatan.”

Jatmika memandang tangan Seraphion.

Ia teringat protokol yang telah mereka sepakati.

Tidak ada kontak fisik tanpa persetujuan.

Namun Seraphion sudah memberikan izin.

Jatmika akhirnya mengulurkan tangan.

Keduanya berjabat tangan.

Dan saat itulah—

Jatmika membeku.

Matanya terbuka lebar.

Suara di sekelilingnya menghilang.

Landasan kristal menghilang.

Seraphion menghilang.

Yang tersisa hanyalah sebuah dunia yang terbakar.

DUARRR!

Langit dipenuhi kapal perang.

Sebuah kota kuno runtuh dalam kobaran api.

Jatmika melihat pasukan asing bergerak di antara reruntuhan.

Bangsa Zhar'Kor.

Tubuh mereka dilapisi logam hidup. Senjata mereka menghantam pertahanan Mythopia.

Kemudian pemandangan berubah.

Para ksatria Mythopia berdiri di medan perang.

Di hadapan mereka muncul bangsa Nyxar.

Bayangan hitam bergerak seperti kabut hidup.

Pedang beradu.

Ledakan energi mengguncang tanah.

Kemudian—

Kerajaan-kerajaan lain hancur.

Jatmika melihat bangsa Kragmora menyerbu sebuah kota.

Tubuh mereka besar dan kuat.

Benteng batu dihancurkan.

Menara-menara runtuh.

Jeritan terdengar di mana-mana.

Pemandangan berubah lagi.

Bangsa Sylthar berdiri di tengah medan perang.

Mereka mengangkat tangan.

Cahaya aneh keluar dari tubuh para pahlawan yang telah gugur.

Jiwa mereka ditarik keluar.

Dicuri.

Disimpan di dalam kristal-kristal hitam.

Jatmika mencoba berteriak.

“Berhenti!”

Namun tidak ada suara yang keluar.

Kemudian sesuatu yang lebih mengerikan muncul.

Sebuah ruangan gelap.

Di dalamnya berdiri bangsa Chronarion.

Mereka tidak ikut bertempur.

Mereka hanya mengamati.

Di hadapan mereka terdapat peta besar yang menampilkan berbagai kerajaan dan peristiwa.

Satu simbol digeser.

Sebuah kerajaan jatuh.

Simbol lain disentuh.

Sebuah perang dimulai.

Mereka tidak menghancurkan dunia secara langsung.

Mereka mengubah jalannya sejarah.

Mereka memanipulasi berbagai peristiwa dari balik bayangan.

Kemudian Jatmika melihat satu sosok berdiri di antara semua kekacauan itu.

Raja Isidore.

Wajahnya terluka.

Pakaian perangnya penuh debu.

Di tangannya terdapat keris yang sama seperti milik Jatmika.

Isidore menatap lurus ke arahnya.

Seolah-olah...

menatap dirinya.

Kemudian terdengar sebuah suara.

“Warisan itu belum berakhir.”

Jatmika tersentak.

Matanya kembali melihat dunia nyata.

Namun tubuhnya sudah kehilangan kekuatan.

“Jatmika!”

Prof. Wen menangkap bahunya.

Jatmika mencoba berbicara.

“Chronarion...”

Tubuhnya limbung.

“Isidore...”

Kemudian semuanya menjadi gelap.

Bruk!

Jatmika jatuh tak sadarkan diri.

“Jatmika!” seru Michael.

Alexander dan Sergei segera mendekat.

Para prajurit Valtherion sempat mengangkat senjata, tetapi Aurex mengangkat tangannya.

“Jangan.”

Ia menatap tubuh Jatmika.

“Dia tidak diserang.”

Seraphion berdiri membeku.

Wajahnya yang sebelumnya tenang berubah serius.

“Apa yang dia lihat?”

Aurex menatap Seraphion.

“Kau tahu jawabannya.”

Seraphion terdiam.

Kemudian ia berkata pelan,

“Dia melihat sejarah yang seharusnya tidak bisa dilihat manusia.”

Para prajurit segera mengangkat tubuh Jatmika dengan hati-hati.

“Bawa dia ke ruang pemulihan.”

Prof. Wen mengikuti mereka.

“Kami ikut.”

Seraphion mengangguk.

“Tidak ada seorang pun dari kalian yang akan disakiti.”

Mereka dibawa melewati koridor kota kristal.

Dinding-dindingnya memancarkan cahaya biru dan emas. Para prajurit Valtherion tidak memperlakukan mereka sebagai tahanan. Mereka justru menyediakan ruangan yang bersih dan nyaman.

Jatmika dibaringkan di atas tempat tidur yang terbuat dari kristal putih.

Sebuah cahaya lembut menyelimuti tubuhnya.

Tidak ada borgol.

Tidak ada senjata diarahkan kepada mereka.

Hanya penjagaan.

Prof. Wen berdiri di samping tempat tidur.

Ia memandang Jatmika yang masih belum sadar.

“Jatmika... apa sebenarnya yang kau lihat?”

Di luar ruangan, Seraphion berdiri bersama Aurex dan Rhaegor.

Rhaegor masih memandangi keris milik Jatmika.

“Jika benar itu keris Raja Isidore... siapa sebenarnya manusia itu?”

Seraphion menatap pintu kamar.

“Pertanyaan yang lebih penting bukan siapa dia.”

Ia berhenti.

“Melainkan mengapa sejarah Mythopia memilih untuk memperlihatkan dirinya kepada Jatmika.”

Aurex menatap langit Valtherion.

Tiga bulan bersinar di antara awan.

“Dan jika Chronarion memang masih ada...”

Tangannya mengepal.

“...maka perang yang kami kira telah berakhir seribu tahun lalu mungkin sebenarnya belum pernah selesai.”