03/07/26

Season 11 Kerajaan mythopia

Chapter 102 Kepulangan Sang Pendekar Bayangan

Enam hari dan enam malam telah berlalu tanpa jeda.

Di antara kabut lembah, hutan yang sunyi, dan jalan panjang yang tak berujung, sang Pendekar Bayangan terus berlari membawa satu amanat penting. Tubuhnya telah letih, napasnya berat, namun tekadnya tidak pernah padam.

Akhirnya, ketika cahaya matahari pagi menyentuh puncak Bukit Kemuning, sosoknya muncul di hadapan gerbang perkemahan.

Para penjaga yang melihat kedatangannya segera memberi jalan.

Di tempat itu, Putri Dyah Sekar Tanjung telah menunggu dengan penuh kecemasan. Bersamanya berdiri Lembayung Ardani, Pujeng Rarasati, Rakai Jaya Langgana, dan Paman Hanggara.

Pendekar Bayangan menundukkan kepala dengan hormat.

> “Ampun, Tuan Putri. Hamba telah kembali membawa kabar dari perjalanan.”

Putri Dyah Sekar Tanjung melangkah maju.

> “Katakanlah. Bagaimana keadaan mereka?”
Pendekar Bayangan menarik napas sejenak.
> “Misi berhasil, Tuan Putri. Tuan Isidore dan para ksatria Mythopia telah menerima obat yang tuan putri kirimkan. Luka mereka telah pulih, dan mereka kembali mendapatkan kekuatan mereka.”
Wajah Putri Dyah Sekar Tanjung tampak lega.
Lembayung Ardani tersenyum bahagia sambil menatap langit.
> “Syukurlah... semoga para ksatria agung itu selalu berada dalam lindungan para leluhur. Aku sungguh ingin bertemu mereka kembali. Rasanya sudah lama sekali sejak cahaya mereka menerangi medan pertempuran.”
Pujeng Rarasati yang biasanya tenang menundukkan wajahnya.
Ada senyum kecil di bibirnya.
> “Aku pun merasakan hal yang sama...”
Lembayung menoleh penasaran.
> “Kau merindukan mereka juga?”
Pujeng Rarasati tersipu kecil.

> “Mungkin... aku hanya merasa perjalanan mereka belum selesai. Dan entah mengapa, hatiku berharap suatu hari nanti kita akan mendengar kisah mereka lagi.”
Sebelum percakapan berlanjut, terdengar kepakan sayap dari atas.
Seekor merpati putih turun membawa gulungan kecil.
Rakai Jaya Langgana mengambil surat itu dan membukanya perlahan.
Namun seketika wajahnya berubah serius.
> “Tuan Putri... ini surat dari kerajaan Majapahit.”
Putri Dyah Sekar Tanjung mendekat.
Rakai Jaya Langgana membaca isi surat tersebut.
> “Sudah sebulan semenjak kepergianmu dari istana, putriku. Ayahanda kini jatuh sakit keras. Dalam tidurnya, namamu terus dipanggil. Pulanglah segera sebelum waktu membawa kita pada perpisahan yang tidak diinginkan.”
Suasana menjadi hening.
Angin bukit berhembus pelan.
Paman Hanggara maju dengan wajah penuh kekhawatiran.
> “Tuan Putri... sudah waktunya kita kembali. Ayahandamu membutuhkanmu. Tidak ada seorang anak pun yang ingin terlambat memberikan pelukan terakhir kepada orang tuanya.”
Putri Dyah Sekar Tanjung terdiam.
Matanya memandang jauh ke arah pegunungan tempat Isidore berada.
Dalam hatinya masih tersimpan kenangan tentang ksatria muda itu—tentang keberaniannya, kebaikannya, dan cahaya yang terpancar dari dirinya.
Namun akhirnya ia menarik napas panjang.
> “Baiklah... kita akan kembali ke Majapahit.”
Ia tersenyum lembut.
> “Tetapi perjalanan ini bukanlah akhir.”
Putri menggenggam hiasan kupu-kupu emas yang pernah ia berikan kepada Isidore.
> “Suatu hari nanti... aku percaya takdir akan mempertemukan kami kembali.”
Pendekar Bayangan menundukkan kepala.
> “Kami akan mengawal perjalanan tuan putri.”
Rombongan pun bersiap meninggalkan Bukit Kemuning.
Di balik kabut pagi, jejak mereka perlahan menghilang.
Namun jauh di dalam hati Putri Dyah Sekar Tanjung, sebuah harapan tetap menyala—
bahwa kisah antara sang putri dan ksatria Mythopia belum berakhir.

Chapter 103 — Hutan Kabut Jelangga

Di atas dahan tertinggi sebuah pohon beringin purba, duduk seekor makhluk yang belum pernah dicatat dalam kitab mana pun.

Tubuhnya menyerupai seekor kera putih, namun wajahnya adalah wajah seorang manusia. Matanya menyimpan kesedihan yang begitu dalam, sementara bulunya yang seputih salju berkilau diterpa cahaya senja.

Dialah Jelangga.

Air mata jatuh perlahan membasahi kulit kayu tempat ia duduk.

«"Mengapa aku dilahirkan berbeda..." bisiknya lirih.»

Ayah dan ibunya, kawanan kera penghuni hutan itu, telah mengusirnya. Mereka menganggap wajah manusianya sebagai kutukan para roh hutan. Sejak hari itu, Jelangga hidup sendirian, berteman hanya dengan angin dan kesunyian.

Namun kesepian itu tidak berlangsung lama.

Dari balik pepohonan, kabut putih perlahan mengalir, bukan tertiup angin, melainkan bergerak seolah memiliki kehendaknya sendiri.

Kabut itu kemudian membentuk sosok-sosok tinggi kurus dengan wajah manusia yang pucat. Mata mereka hitam legam tanpa cahaya, sementara tubuhnya hanyalah gumpalan kabut yang terus berubah bentuk.

Merekalah Wangkara.

Tanpa sepatah kata, mereka menghampiri Jelangga.

Makhluk-makhluk itu mulai berputar mengelilinginya, menari di antara cabang-cabang pohon yang menjulang tinggi. Jelangga ikut melompat dari dahan ke dahan sambil tertawa riang.

Akan tetapi...

Suara tawanya bercampur dengan isak tangis Wangkara.

Terdengar seolah seluruh hutan sedang tertawa dan menangis pada saat yang sama.

Semakin lama tarian itu berlangsung, semakin tebal kabut memenuhi seluruh rimba. Pepohonan menghilang ditelan putih kelabu, dan cahaya matahari lenyap seperti ditelan malam.

---

Di jalan setapak yang membelah hutan, rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung mendadak menghentikan langkah.

Kuda-kuda mereka meringkik gelisah.

Lembayung Ardani memeluk lengannya sendiri.

«"Putri... hutan ini terasa berbeda. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang memandang kita."»

Pujeng Rarasati mengangguk perlahan.

«"Kabut ini bukan kabut biasa. Ada roh-roh yang sedang bermain."»

Paman Hanggara menggenggam gagang pedangnya.

«"Semua tetap dalam formasi! Jangan ada yang berjalan sendirian!"»

Para Pendekar Bayangan segera bergerak ke depan, membentuk dinding pelindung mengitari sang putri.

Pada saat itulah...

Dari atas pohon terdengar suara tawa kecil.

Jelangga melihat sosok Putri Dyah Sekar Tanjung.

Matanya berbinar penuh kegembiraan.

«"Teman..."»

Dengan lompatan ringan, ia turun dari cabang pohon dan mendarat beberapa langkah di depan rombongan.

Ia tersenyum polos.

Tangannya terulur seperti seorang anak kecil yang hanya ingin mengajak bermain.

Namun para Pendekar Bayangan bergerak lebih cepat.

Mereka menghunus senjata dan berdiri di antara makhluk itu dengan sang putri.

Senyum Jelangga perlahan menghilang.

Kesedihan di matanya berubah menjadi amarah.

Tubuhnya mulai membesar.

Bulu putihnya berdiri tegak seperti hamparan salju yang diterpa badai.

Dalam beberapa helaan napas, sosok mungil itu telah menjelma menjadi raksasa setinggi pepohonan.

«DUUUM!»

Satu hentakan kakinya mengguncang bumi.

Tanah bergetar bagaikan diguncang gempa.

Pepohonan bergoyang keras.

Para prajurit kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah.

Belum sempat mereka bangkit...

Wangkara berdatangan dari segala penjuru.

Puluhan...

Ratusan...

Kabut putih pekat berputar mengelilingi mereka.

Dalam sekejap, seluruh hutan lenyap dari pandangan.

Langit tak lagi terlihat.

Pepohonan menghilang.

Jalan pulang pun sirna.

Suara satu sama lain terdengar jauh, seakan dipisahkan oleh dunia yang berbeda.

Paman Hanggara menggenggam pedangnya erat.

«"Jangan bergerak sembarangan!"»

Namun suaranya hanya bergema di dalam kabut.

Tak seorang pun tahu dari arah mana suara itu berasal.

Mereka telah memasuki wilayah Wangkara—

tempat di mana arah kehilangan makna, dan siapa pun yang lengah akan tersesat di antara kenyataan dan ilusi.
Chapter 104 Cerita Rangga wulung 

Api tungku penempaan masih menyala redup. Cahaya merahnya memantul pada senjata-senjata para ksatria yang baru selesai ditempa ulang oleh Rangga Wulung. Suasana di dalam gua menjadi hening ketika sang empu mengangkat pandangannya.

"Ada satu hal yang selama ini belum pernah kuceritakan kepada kalian," ucap Rangga Wulung perlahan.

Semua mata tertuju kepadanya.

Isidore melangkah mendekat.

"Apa itu, Guru Wulung?"

Rangga Wulung menarik napas panjang.

"Seribu tahun yang lalu... dunia pernah berada di ambang kehancuran."

Nyala api di tungku seakan ikut bergoyang ketika ia mulai berkisah.

"Musibah pertama datang bersama Nagagini, naga emas raksasa yang mengamuk tanpa sebab. Sayapnya menutupi langit, dan setiap kepakan membelah gunung. Sisiknya tak dapat ditembus baja biasa, sehingga seluruh ksatria Mythopia mengerahkan senjata-senjata pusaka terbaik yang pernah ditempa. Hanya senjata yang diberkati cahaya leluhur yang mampu membuat sang naga berlutut."

Para ksatria mendengarkan tanpa berkedip.

"Tetapi kemenangan itu hanya berlangsung sesaat."

Wajah Rangga Wulung menjadi muram.

"Belum sempat bumi pulih, muncullah Barong Lodra."

"Makhluk itu tidak menghancurkan kota dengan taring atau cakarnya."

"Ia membawa wabah."

"Udara berubah menjadi racun. Sungai-sungai menjadi keruh. Anak-anak, orang tua, bahkan para pendekar mulai tumbang satu demi satu. Para ksatria mampu mengalahkan monster, tetapi mereka tidak mampu menghentikan penyakit yang menjalar lebih cepat daripada pedang."

Surya Wikrama menundukkan kepala.

"Musuh yang tak terlihat... memang selalu yang paling menakutkan."

Rangga Wulung mengangguk pelan.

"Lalu datanglah malapetaka yang paling mengerikan."

Api di tungku tiba-tiba berdesis.

"Namanya... Kala Rambat."

Keheningan menyelimuti ruangan.

"Makhluk itu bukan sekadar raksasa atau iblis. Ia adalah penguasa aliran waktu."

"Di hadapannya, siang dapat berubah menjadi malam dalam sekejap. Seorang anak dapat menua menjadi renta hanya dalam satu helaan napas, sementara seorang ksatria dapat kembali menjadi bocah tanpa daya."

Isidore mengepalkan tangannya.

"Bagaimana para leluhur mengalahkannya?"

Rangga Wulung menggeleng perlahan.

"Itulah misteri terbesar sejarah."

"Tidak pernah ada kemenangan."

"Tidak pernah pula ada kekalahan."

"Seakan seluruh dunia... diulang kembali."

Semua yang hadir saling berpandangan.

"Peradaban lenyap."

"Kitab-kitab ilmu menghilang."

"Kota-kota runtuh."

"Nama para pahlawan terlupakan."

"Manusia kembali hidup seperti bayi yang baru mengenal dunia."

"Itulah yang oleh para leluhur disebut sebagai Titik Gelap Manusia."

Suara Rangga Wulung terdengar berat.

"Hingga hari ini, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa yang menghentikan Kala Rambat... atau apakah makhluk itu benar-benar telah dikalahkan."

Rakajati memejamkan mata, merasakan desir akar-akar bumi.

"Aku sependapat."

Ia membuka matanya perlahan.

"Makhluk-makhluk sebesar itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya."

"Selalu ada tangan yang menggerakkan mereka dari balik kegelapan."

Ucapan itu membuat semua ksatria terdiam.

Isidore memandang keris pusakanya.

"Apakah Rasvatar?"

Rangga Wulung menggeleng.

"Entahlah. Bahkan mungkin ada kekuatan yang lebih tua daripada Rasvatar."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Kemudian Rakajati menancapkan tongkat kayunya ke tanah.

Akar-akar pohon merambat perlahan, membentuk sebuah peta pegunungan di permukaan batu.

Salah satu akar berhenti pada sebuah gunung yang menjulang megah.

"Di sinilah jawaban berikutnya menunggu."

Rakajati menunjuk puncak itu.

"Gunung Merbabu."

"Di sana tertidur Arya Wiratma..."

"...Ksatria Agung Sang Perancang Strategi."

"Apabila benar musuh yang akan kita hadapi adalah kekuatan yang mampu mengguncang peradaban, maka pedang saja tidak akan cukup."

"Kita membutuhkan seseorang yang mampu melihat seratus langkah sebelum perang dimulai."

Surya Wikrama menghunus pedangnya yang memancarkan cahaya keemasan.

"Kalau begitu, jangan biarkan ia menunggu lebih lama."

Para ksatria bangkit serempak.

Isidore menggenggam keris pusakanya.

Tatapannya mengarah ke utara, ke puncak Gunung Merbabu yang menjulang di balik awan.

"Kalau begitu..."

"Kita berangkat membangunkan Arya Wiratma."

Chapter 105 Kebangkitan Arya wiratma 

Di dalam gua penempaan, api tungku perlahan meredup. Senjata-senjata para ksatria yang telah ditempa kembali memancarkan kilau baru, seakan ikut menantikan perjalanan berikutnya. Rangga Wulung berjalan menuju sebuah ruangan di bagian terdalam gua. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah Batu Lompatan, tersusun dari batu kristal hitam yang dikelilingi lingkaran ukiran kuno. Puluhan urat kristal putih menjalar di permukaannya, berdenyut perlahan seperti aliran nadi bumi.Rangga Wulung tersenyum. «"Batu Lompatan ini kutempa sendiri berabad-abad yang lalu. Ia terhubung dengan seluruh jalur rahasia para ksatria Mythopia."»

Ia menoleh kepada Surya Wikrama.

«"Saudaraku... kini biarlah cahaya pedangmu membimbing kita menuju Gunung Merbabu."»

Surya Wikrama melangkah ke tengah lingkaran batu.

Ia mengangkat pedang pusakanya tinggi-tinggi.

Cahaya keemasan memancar dari bilah pedang, mengalir memasuki ukiran-ukiran kuno.

Seluruh ruangan bergetar.

Kristal-kristal mulai bersinar satu demi satu.

«DRAAAAK!!»

Petir putih menyambar dari langit-langit gua, menyelimuti seluruh rombongan.

Dalam sekejap, cahaya menelan pandangan mereka.

Tak ada lagi tanah.

Tak ada lagi langit.

Yang terdengar hanyalah gemuruh energi purba yang menghubungkan satu gunung dengan gunung lainnya.

Sesaat kemudian...

Mereka kembali menginjak tanah.

Namun udara yang mereka hirup telah berbeda.

Mereka telah tiba di Gunung Merbabu.

Di hadapan mereka berdiri sebuah aula bawah tanah yang begitu megah.

Kristal-kristal putih sebesar pohon memancarkan cahaya lembut, menerangi ruangan tanpa api maupun pelita.

Dinding-dindingnya dipahat dari marmer putih yang begitu halus hingga menyerupai cermin. Setiap garis ukirannya presisi, membentuk pola bintang, rasi langit, dan lingkaran-lingkaran geometri yang belum pernah dilihat Isidore sebelumnya.

Di sepanjang lorong tergantung peta-peta dunia kuno.

Bukan hanya peta daratan...

Melainkan pula peta lautan, gugusan bintang, bahkan lukisan planet-planet yang mengitari langit malam.

Isidore memandangnya dengan takjub.

«"Siapa yang membuat semua ini...?"»

Rangga Wulung menjawab pelan.

«"Arya Wiratma."»

«"Tak ada seorang pun di Mythopia yang memahami dunia lebih dalam darinya."»

Rakajati menancapkan tongkat kayunya ke lantai.

Akar-akar pohon menjalar menembus batuan, menyusuri setiap rongga bumi.

Beberapa saat kemudian akar itu berhenti pada satu titik.

Rakajati membuka matanya.

«"Kutemukan dia."»

«"Ia tidak berada di balik dinding..."»

«"...melainkan jauh di bawah kaki kita."»

Jagat Dirgantara maju sambil menggenggam palunya.

Ia meletakkan telapak tangannya di atas lantai batu.

Tanah bergetar pelan.

Terdengar bunyi roda-roda batu kuno yang telah tertidur selama berabad-abad.

Perlahan sebuah lempengan marmer bergeser dengan sendirinya.

Di bawahnya terbentang tangga batu yang menurun ke kedalaman bumi.

Mereka pun turun.

Semakin dalam mereka melangkah, udara menjadi semakin sejuk.

Dinding lorong dipenuhi batu-batu hijau bercahaya yang memancarkan sinar lembut laksana zamrud hidup.

Di ujung lorong terbuka sebuah ruang bundar yang sunyi.

Di tengah ruangan berdiri sebuah kristal raksasa sebening embun.

Di dalamnya tampak seorang lelaki berjubah putih keemasan sedang duduk bersila dengan mata terpejam.

Wajahnya tenang.

Seolah ia hanya tertidur semalam, bukan selama berabad-abad.

Isidore melangkah perlahan.

Ia mengangkat Keris Pusaka Mythopia.

Cahaya putih memenuhi seluruh ruangan.

Dari cahaya itu muncul sosok Raja Alam Wardana.

Suara sang leluhur bergema memenuhi ruang batu.

«"Arya Wiratma..."»

«"Bangkitlah dari tidur panjangmu."»

«"Kerajaan Mythopia kembali membutuhkan kebijaksanaanmu."»

«"Kembalilah berbakti kepada Raja Muda..."»

«"...Isidore, putra Raja Itharius."»

Kristal itu mulai dipenuhi kabut putih yang berputar seperti awan.

Retakan-retakan halus menjalar di seluruh permukaannya.

«KRAAAK...!»

Dengan dentuman lembut, kristal itu pecah menjadi ribuan serpihan cahaya yang melayang di udara sebelum lenyap menjadi butiran-butiran sinar.

Sosok di dalamnya perlahan membuka mata.

Sepasang mata yang tajam namun penuh ketenangan memandang Isidore.

Ia bangkit berdiri.

Jubah putih keemasannya berkibar pelan, meski tak ada angin yang berembus di dalam ruangan.

Arya Wiratma kemudian berlutut dengan satu kaki di hadapan Isidore.

Ia menundukkan kepala.

«"Hamba, Arya Wiratma..."»

«"Ksatria Perancang Strategi Mythopia..."»

«"Siap mengabdikan seluruh ilmu, kebijaksanaan, dan hidup hamba kepada Paduka Raja Muda Isidore, putra Raja Itharius."»

Ruangan kembali hening.

Namun seluruh ksatria mengetahui...

Dengan bangkitnya Arya Wiratma, bukan hanya seorang ksatria yang kembali.

Melainkan otak terbesar yang pernah dimiliki Kerajaan Mythopia.

Chapter 106 Cerita Arya wiratma 

Suasana di ruang kristal yang berada jauh di bawah Gunung Merbabu berubah hangat.

Setelah tidur panjang selama seribu tahun, Arya Wiratma berdiri kembali di tengah saudara-saudaranya.

Surya Wikrama adalah orang pertama yang memeluknya.

"Selamat datang kembali, saudaraku."

Disusul Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, Guntur Wisesa, Sagara Putra, Jagat Dirgantara, Rakajati, dan Rangga Wulung. Satu demi satu mereka saling berpelukan, seolah waktu seribu tahun hanyalah satu malam yang panjang.

Arya Wiratma tersenyum tipis.

"Aku bersyukur... masih ada yang bertahan."

Isidore memandang para ksatria itu dengan takjub. Ikatan persaudaraan mereka terasa begitu dalam, melampaui waktu dan kematian.

Arya Wiratma kemudian melangkah menuju meja batu bundar yang dipenuhi peta dunia.

Dengan ujung jarinya, ia menyentuh permukaan peta.

Cahaya putih menyala, membentuk gambaran dunia kuno.

"Raja Muda Isidore..."

"Ada satu kebenaran yang selama ini hilang dari sejarah manusia."

Semua terdiam.

"Seribu tahun yang lalu..."

"Mythopia tidak sedang berperang melawan monster biasa."

Ia mengangkat pandangannya.

"Mythopia adalah benteng terakhir Bumi."

Ruangan menjadi sunyi.

"Kami menghadapi Lima Bangsa Penjajah Antarbintang yang datang dari dunia-dunia jauh untuk menaklukkan planet ini."

Di atas peta muncul lima bola cahaya yang mewakili lima dunia asing.

"Yang pertama adalah Bangsa Zhar'Kor, penakluk dari Planet Varkhos."

Cahaya berubah menjadi gambaran pasukan baja.

"Mereka menguasai logam hidup. Tubuh mereka diselimuti baja yang mampu memulihkan diri. Mereka membangun benteng hanya dalam hitungan jam."

Di belakang mereka tampak Titan Ferrum, raksasa besi setinggi gunung; Drakon Baja, naga mekanis yang memuntahkan logam cair; dan kawanan Belalang Baja yang melahap ladang-ladang hingga tandus.

"Tujuan mereka sederhana."

"Mengubah Bumi menjadi dunia besi."

Cahaya berikutnya berubah menjadi lautan kabut hitam.

"Yang kedua..."

"Bangsa Nyxar dari Planet Umbros."

Sosok Ratu Nyxaleth muncul bagaikan bayangan.

"Mereka menguasai kegelapan, ilusi, dan keputusasaan."

Di belakangnya tampak Bayang Agung, Umbra Hydra, naga berkepala sembilan dari kabut hitam, dan Raja Wangkara yang memimpin jutaan roh kabut.

Mereka ingin menenggelamkan dunia dalam malam yang tak pernah berakhir."

Peta kembali berubah.

Gunung-gunung meletus.

Lautan magma mengalir.

"Itulah bangsa Kragmora dari Planet Ignisar."

"Seluruh pasukan mereka hidup dari api."

Di hadapan mereka berjalan Lelakut Gunung, Gendrawani Bertangan Delapan, dan Naga Lava Ignirax.

"Mereka ingin membentuk ulang Bumi menjadi planet api."

Cahaya kembali berubah.

Kini seluruh ruangan dipenuhi jam-jam raksasa yang berputar sendiri.

Yang keempat..."

"Bangsa Chronarion dari Planet Aeternis."

Arya Wiratma menarik napas panjang.

"Merekalah yang paling sulit dilawan."

"Karena mereka mempermainkan waktu."

Bayangan Kala Rambat muncul, diikuti Chronobeast sang pemakan umur dan Penjaga Jam Abadi yang tubuhnya tersusun dari kristal waktu.

"Mereka tidak sekadar membunuh."

"Mereka menghapus sejarah."

Terakhir...

Seluruh ruangan berubah menjadi hutan arwah.

Pohon-pohon hitam menjulang.

Roh-roh beterbangan di antara akar.

"Bangsa terakhir adalah Sylthar, penguasa jiwa dari Planet Elyss Void."

Ratu Vaelthra berdiri di tengah jutaan arwah.

Di belakangnya tampak Nagagini Emas yang telah dirasuki, Barong Lodra sang pembawa wabah, dan Pohon Arwah yang melahirkan roh-roh pendendam tanpa akhir.

"Mereka ingin mengubah seluruh makhluk hidup menjadi pasukan yang kehilangan kehendak."

Tak seorang pun berbicara.

Bahkan Bhra Anuraga yang biasanya berapi-api pun terdiam.

Arya Wiratma melanjutkan.

"Namun kekuatan mereka bukan hanya terletak pada pasukan."

"Mereka sangat pandai memengaruhi hati para raja manusia."

"Mereka tidak datang sebagai penjajah."

"Mereka datang sebagai penyelamat."

"Mereka menawarkan kemakmuran, ilmu pengetahuan, umur panjang, dan kekuatan."

"Perlahan-lahan para raja mulai saling mencurigai."

Persekutuan kerajaan-kerajaan di Bumi pun hancur."

Rakajati mengepalkan tangan.

"Jadi... mereka memecah belah manusia sebelum menyerang."

Arya Wiratma mengangguk.

"Benar."

"Di saat itulah Rasvatar bangkit."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Rasvatar melihat bahaya yang tidak ingin dipercaya oleh banyak orang."

"Ia mendatangi para raja, memohon agar seluruh kerajaan bersatu."

"Tetapi tidak seorang pun mau mendengarkannya."

"Sebagian menganggap para pendatang hanyalah utusan dari langit."

"Sebagian lagi percaya mereka membawa kemajuan."

"Perpecahan itu membuat Rasvatar marah."

Surya Wikrama menghela napas.

"Itulah awal jalan yang membawanya menuju kegelapan."

Arya Wiratma menatap Isidore.

"Pada akhirnya..."

"Rasvatar bertempur hampir sendirian, hanya ditemani beberapa ksatria dari Majapahit dan para penjaga Mythopia yang masih setia."

"Kami kehilangan begitu banyak saudara."

"Banyak ksatria gugur."

"Banyak kerajaan musnah."

"Namun pengorbanan mereka tidak sia-sia."

"Lima bangsa penjajah akhirnya meninggalkan Bumi."

Ia berhenti sejenak.

"Tetapi..."

"Sampai hari ini..."

"Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah mereka benar-benar dikalahkan..."

"...atau hanya mundur menunggu kesempatan."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Isidore teringat pada Bayang Agung dan Wangkara yang baru saja mereka hadapi.

Arya Wiratma menatap seluruh ksatria.

"Kemunculan Wangkara."

"Kebangkitan Bayang Agung."

"Semua itu bukan kebetulan."

"Aku khawatir..."

"...mereka telah kembali."

Ia kemudian membuka sebuah gulungan peta yang belum pernah dilihat siapa pun.

Ratusan garis cahaya memenuhi seluruh permukaannya.

"Inilah Rancangan Pertahanan Agung Mythopia."

"Aku akan menyusun kembali strategi perang."

Mulai hari ini..."

"Kita tidak lagi hanya berperang demi Mythopia."

"Kita akan berjuang demi seluruh Bumi."

Chapter 107 Pembagian tugas 

Keheningan menyelimuti ruang strategi di bawah Gunung Merbabu. Cahaya dari peta kristal masih berdenyut pelan, namun wajah setiap ksatria berubah muram. Besarnya ancaman yang menanti perlahan mulai mereka pahami.

Isidore menatap satu per satu sahabat seperjuangannya.

"Aku baru menyadari..." ucapnya lirih.

"Musuh yang akan kita hadapi bukan sekadar pasukan monster ataupun kerajaan yang haus kekuasaan."

"Mereka adalah penakluk dunia.

Ia mengepalkan tangan.

"Dengan kekuatan kita saat ini... bahkan seluruh Ksatria Mythopia belum tentu mampu memenangkan perang itu."

Tak seorang pun membantah.

Arya Wiratma melangkah maju. Sorot matanya tetap tenang, sebagaimana seorang ahli strategi yang telah menyaksikan jatuh bangunnya peradaban.

"Karena itulah, Paduka Raja Muda, kita harus mengesampingkan kebencian."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Ada dua orang yang harus Paduka temui."

"Rasvatar... dan Ki Surya Dahana."

Bhra Anuraga langsung menggeleng.

"Mereka telah memilih jalan kegelapan."

Arya Wiratma mengangguk pelan.

"Benar."

"Namun jangan lupakan satu hal."

"Mereka juga pernah berdiri di medan perang yang sama dengan kita."

"Mereka menyaksikan sendiri bagaimana langit terbelah oleh armada para penjajah."

"Mereka mengetahui kelemahan musuh yang bahkan tidak tercatat dalam manuskrip Mythopia."

Surya Wikrama menambahkan dengan suara berat,

"Seorang bijaksana tidak menolak pengetahuan hanya karena datang dari musuhnya."

Arya Wiratma kembali berbicara.

"Rasvatar mungkin telah kehilangan cahaya dalam hatinya."

"Ki Surya Dahana mungkin telah tersesat oleh ambisinya."

"Tetapi pengalaman mereka adalah harta yang tidak dapat digantikan."

"Bila kita ingin menyelamatkan dunia..."

"..maka kita harus berani berbicara dengan mereka."

Isidore menganggukkan kepala.

"Aku akan menemui mereka."

"Lalu bagaimana dengan kalian?"

Arya Wiratma kembali menggerakkan peta kristal.

Sepuluh cahaya muncul mengelilingi Bumi.

"Kita tidak mempunyai waktu."

"Mulai hari ini, setiap ksatria menjalankan tugasnya masing-masing."

Ia menunjuk jalur-jalur cahaya yang menghubungkan gunung-gunung suci.

"Surya Wikrama, Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, Sagara Putra, Guntur Wisesa, Jagat Dirgantara, dan Rangga Wulung."

"Kalian akan berpencar menuju setiap Benteng Batu Lompatan."

"Periksa seluruh Gerbang Langit."

"Pastikan tidak ada celah yang telah ditembus para penjajah."

"Bila menemukan tanda sekecil apa pun..."

"Jangan bertempur sendirian."

"Segera kirim berita kepada Mythopia."

Delapan ksatria mengangguk serempak.

Arya Wiratma kemudian menyentuh sepuluh lambang kerajaan yang bercahaya di atas peta.

"Sementara itu..."

"Aku akan memulai perjalanan diplomasi terbesar dalam sejarah manusia."

Satu demi satu lambang kerajaan menyala.

Kerajaan Agnivarsha, negeri api dan lava yang baranya tak pernah padam.

Kerajaan Tirtamandala, penguasa samudra dan kabut lautan.

Kerajaan Bhumi Raksa, kerajaan batu dan akar gunung purba.

Kerajaan Bayu Arcapada, negeri langit yang terapung di antara awan.

Kerajaan Vajraningrat, tanah badai dan petir abadi.

Kerajaan Cahyanagara, penjaga cahaya suci yang menyambut fajar pertama.

Kerajaan Kalamreta, negeri misterius yang menguasai ruang dan gravitasi.

Kerajaan Simhagiri, tanah para penjinak roh-roh binatang purba.

Kerajaan Astrapura, pusat penempaan senjata suci dan para pandai besi legendaris.

Dan Kekaisaran Nagakartika, tempat naga-naga langit menjaga energi kuno dunia.

Arya Wiratma memandang semuanya.

"Dahulu kerajaan-kerajaan ini pernah berdiri bersama."

"Kini mereka tercerai-berai oleh waktu."

"Aku akan mengetuk kembali pintu-pintu mereka."

"Bila para raja masih mencintai dunia ini..."

"...mereka akan mengangkat panji perang bersama Mythopia."

Rakajati tersenyum tipis.

"Kalau begitu, izinkan aku menjalankan tugasku."

Ia menancapkan tongkat kayunya ke lantai.

Akar-akar bercahaya menjalar ke segala arah, menembus batu, gunung, dan tanah yang tak berujung.

"Aku akan mencari Roh Pohon Dunia, penjaga kehidupan yang telah hidup sejak bumi dilahirkan."

"Bila ia bersedia membantu, seluruh hutan di dunia akan menjadi mata dan telinga kita."

Rakajati mengangkat wajahnya.

"Dan aku juga akan pergi ke Kerajaan Peri, memohon bantuan Bangsa Peri yang selama ribuan tahun menjaga keseimbangan alam."

"Tak ada kurir yang lebih cepat daripada peri."

"Tak ada penyembuh yang lebih lembut daripada embun yang mereka ciptakan."

Ruangan kembali dipenuhi cahaya.

Untuk pertama kalinya sejak kebangkitan para ksatria, mereka tidak lagi hanya mempersiapkan sebuah peperangan.

Mereka sedang membangun Persekutuan Agung Bumi—sebuah aliansi seluruh bangsa, kerajaan, roh alam, dan makhluk suci yang akan menentukan nasib dunia ketika Lima Bangsa Penjajah Antarbintang kembali turun dari langit.

Chapter 108 Bertemu dengan Rasvatar 

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika seluruh Ksatria Mythopia berkumpul di pelataran Batu Lompatan Agung di bawah Gunung Merbabu. Kristal-kristal putih yang mengelilingi altar memancarkan cahaya lembut, sementara lingkaran rune kuno di lantai berdenyut mengikuti aliran energi bumi.

Hari itu, untuk pertama kalinya sejak mereka dibangkitkan, para ksatria akan berpisah.

Masing-masing memikul amanat yang dapat menentukan nasib dunia.

Surya Wikrama berdiri di hadapan Isidore.

Ia mengangkat pedang sucinya hingga ujung bilahnya menyentuh cahaya kristal.

"Paduka Isidore, kini tiba saatnya Paduka menguasai Batu Lompatan."

Isidore memperhatikan setiap gerakannya.

"Angkat pedangmu."

Isidore menurut.

"Pejamkan matamu."

"Bayangkan tujuan yang ingin kau datangi."

"Rasakan denyut energi gunung itu."

"Satukan dengan auramu."

"Jangan melawan cahaya..."

"Biarkan cahaya yang membawamu."

Perlahan, aura putih mengalir dari tubuh Isidore menuju pedangnya.

Lingkaran rune di bawah kaki mereka mulai menyala.

Petir-petir putih menari di udara.

Surya Wikrama tersenyum.

"Bagus..."

"Kini kau telah menjadi penjaga jalur para ksatria."

Satu demi satu para ksatria berpamitan.

Pangreksa mengepalkan tangan kepada Isidore.

"Semoga kita bertemu kembali di medan kemenangan."

Bhra Anuraga tertawa lebar.

"Jangan kalah sebelum aku kembali."

Bayu Anggana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

Sagara Putra menepuk bahu Isidore dengan penuh hormat.

Guntur Wisesa mengangkat pedangnya ke langit sebagai salam perpisahan.

Jagat Dirgantara membungkukkan kepala.

Rangga Wulung menyerahkan sebilah pisau kecil buatannya.

"Tak akan banyak membantu dalam perang besar."

"Tetapi semoga berguna saat Paduka sendirian."

Rakajati menjadi orang terakhir yang berbicara.

"Ikutilah petunjuk yang telah kubuat."

"Akar-akar pohon telah membimbing jalanmu."

"Carilah pohon-pohon yang batangnya ditumbuhi sulur menyerupai rambut manusia."

"Sulur-sulur itu saling bertaut membentuk penunjuk arah."

"Ikuti jalur itu."

"Namun saat kau merasa terus berjalan di tempat yang sama..."

"...jangan takut."

"Itulah tanda bahwa kau telah memasuki wilayah ilusi milik Rasvatar."

Isidore mengangguk mantap.

Tak lama kemudian, para ksatria menghilang satu per satu ditelan cahaya Batu Lompatan.

Tinggallah Arya Wiratma seorang diri.

Ia berjalan mengelilingi ruangan sambil menggambar lambang-lambang kuno di setiap dinding gua.

Cahaya biru menyelimuti seluruh lorong.


"Mulai hari ini..."

"Setiap penyusup yang memasuki gua-gua suci akan diketahui oleh Mythopia."

Segel keamanan kembali aktif setelah tertidur selama seribu tahun.

Arya Wiratma memandang ke arah selatan.

"Saatnya menemui Kerajaan Agnivarsha."

Sesaat kemudian, cahaya keemasan menelan sosoknya.

---

Di Gunung Sinabung...

Petir putih membelah langit.

Kilatan cahaya memenuhi sebuah gua sunyi.

Ketika sinarnya menghilang, Isidore telah berdiri seorang diri.

Ia menarik napas panjang.

Perjalanannya menuju Rasvatar akhirnya dimulai.

Mengikuti petunjuk Rakajati, ia menyusuri hutan lebat.

Benar saja.

Beberapa pohon tua memiliki sulur panjang menyerupai rambut manusia yang saling mengikat dari batang ke batang, membentuk jalur yang hanya dapat dipahami oleh mata yang jeli.

Berjam-jam ia berjalan.

Hingga akhirnya...

Ia merasa telah melewati batu besar yang sama untuk ketiga kalinya.

Pohon yang sama.

Sungai yang sama.

Kabut yang sama.

Isidore berhenti.

"Jadi... inilah ilusi yang dimaksud Rakajati."

Pada saat itulah cahaya putih muncul dari keris pusaka.

Raja Alam Wardana menampakkan diri.

"Berhati-hatilah, Isidore."

"Rasvatar bukan sekadar manusia."

"Ia menguasai hampir seluruh unsur yang pernah dimiliki para ksatria Mythopia."

"Satu kesalahan kecil dapat merenggut nyawamu."

Isidore tersenyum tenang.

"Kalau begitu, kurasa kita akan bermalam di sini."

"Mungkin Rasvatar akan datang bila memang menghendakinya."

Ia memasang jebakan sederhana, kemudian berburu seekor rusa di dalam hutan.

Menjelang malam, api unggun menyala.

Aroma daging panggang memenuhi udara.

Ketika Isidore hendak menyantapnya...

Terdengar suara seorang pria dari balik kabut.

"Bolehkah aku meminta sepotong?"

"Aku sangat lapar."

Isidore menoleh.

Seorang lelaki tua berjubah lusuh berdiri beberapa langkah darinya.

Wajahnya sederhana.

Tatapannya tenang.

Tak sedikit pun memancarkan aura mengerikan.

Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu duduk di dekat api unggun, mengambil sepotong daging, lalu memakannya dengan lahap.

Barulah Isidore bertanya pelan,

"Apakah... Anda Rasvatar?"

Lelaki itu hanya tersenyum.

"Apa menurutmu Rasvatar harus selalu berwajah sama?"

Isidore terdiam.

Lelaki itu menatap kobaran api.

"Dahulu..."

"Aku adalah Maharsi Agung sekaligus penasihat tertinggi Kerajaan Mythopia."

"Aku memilih memperingatkan manusia."

"Namun mereka memilih mendengar suara yang menyenangkan hati mereka."

"Akhirnya..."

"Akulah yang dianggap pengkhianat."

Ia memandang Isidore.

"Katakan."

"Apa tujuanmu datang mencariku?"

Isidore menjawab tanpa ragu.

"Kami telah membangkitkan Arya Wiratma."

"Beliau memintaku mencari Anda."

"Perang yang pernah Anda hadapi tampaknya akan kembali."

"Apa pun kesalahan yang terjadi di masa lalu..."

"...biarlah menjadi pelajaran."

"Kini kami ingin mempersatukan semua kekuatan Bumi untuk menghadapi bangsa penjajah."

Lelaki itu menghabiskan potongan daging terakhir.

Kemudian ia tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"Aku harus memastikan satu hal."

Ia mengulurkan tangannya.

"Maukah kau mempercayaiku?"

Isidore menatap mata lelaki itu.

Tak ada kebencian.

Tak ada tipu daya yang dapat ia rasakan.

Hanya kelelahan seseorang yang telah memikul beban dunia terlalu lama.

"Aku percaya."

Isidore menggenggam tangan itu erat.

Seketika...

Seluruh dunia menghilang.

Gelombang cahaya memenuhi kesadarannya.

Ia melihat armada-armada raksasa turun dari langit.

Gunung-gunung runtuh.

Samudra terbelah.

Naga emas bertempur melawan Titan Besi.

Bayang Agung menelan matahari.

Kala Rambat menghentikan waktu.

Barong Lodra menebarkan wabah yang memusnahkan kota-kota.

Di tengah semua itu berdiri seorang Rasvatar muda.

Bertempur sendirian.

Menguasai api.

Air.

Angin.

Petir.

Tanah.

Cahaya.

Bayangan.

Ruang.

Bahkan aliran energi yang belum pernah dipelajari Isidore.

Semua pengetahuan itu mengalir deras ke dalam dirinya.

Tubuh Isidore bergetar hebat.

Cahaya putih memancar tanpa henti dari setiap pori-porinya.

Ledakan energi mengguncang seluruh hutan.

Kesadarannya tak sanggup lagi menanggung beban ingatan selama ribuan tahun.

Pandangannya menjadi gelap.

Tubuhnya roboh tak sadarkan diri.

Lelaki tua itu memandang Isidore cukup lama.

Lalu, dengan senyum yang nyaris tak terlihat, ia mengangkat tubuh sang raja muda ke pundaknya.

"Barangkali..."

"Untuk pertama kalinya setelah seribu tahun..."

"...aku tidak lagi memikul beban ini sendirian."

Perlahan ia melangkah menembus kabut, menuju sebuah lembah tersembunyi yang bahkan peta-peta kuno Mythopia telah melupakannya.

Chapter 109 Bertemu dengan para leluhur 

Jauh di balik hutan Gunung Sinabung, tersembunyi oleh kabut yang tak pernah tersingkap, berdirilah sebuah gua yang tidak tercatat dalam peta mana pun.


Lorong-lorongnya terus berubah.


Dinding-dinding batunya berpindah tempat seperti makhluk hidup.


Setiap orang yang memasukinya akan berjalan tanpa akhir, kecuali mereka yang mengetahui jalan yang sebenarnya.


Di sanalah Ki Surya Dahana membangun tempat persembunyiannya.


Di tengah ruangan utama, api hijau menyala di bawah sebuah wajan perunggu raksasa. Ramuan-ramuan herbal, akar purba, bunga hitam, dan getah pohon kuno mendidih perlahan, memenuhi gua dengan aroma yang asing sekaligus menenangkan.


Di sekelilingnya berdiri empat sosok yang pernah dikalahkan oleh para Ksatria Mythopia.


Orkaghor, pemimpin Suku Gurnaka.


Lorendis, penguasa tipu daya dari Suku Rakayan.


Mhezzrak, sang pisau tak terlihat dari Suku Jalarang.


Dan Vorthax, si gila darah dari Suku Murkalana.


Segel yang dahulu mengikat jiwa mereka telah hancur.


Bukan karena waktu...


Melainkan karena Ki Surya Dahana kini telah mempelajari sebagian kecil pengetahuan yang diwariskan Rasvatar.


Aura hitam yang dahulu kasar kini bercampur dengan cahaya keunguan yang lebih dalam, lebih tenang, namun jauh lebih berbahaya.


Ia sedang mengaduk ramuan itu dengan tongkat kayunya ketika terdengar langkah kaki memasuki gua.


Kabut di pintu masuk terbelah.


Seorang lelaki berjubah lusuh berjalan perlahan sambil menggendong seorang pemuda yang tak sadarkan diri.


Ki Surya Dahana menoleh sekilas.


"Siapa yang kau bawa?"


Tanpa menjawab, lelaki itu merebahkan sang pemuda di atas dipan batu.


Ki Surya Dahana mendekat.


Begitu melihat wajah pemuda itu, kedua matanya membelalak.


"Isidore...!"


Ia menatap lelaki berjubah itu dengan penuh keterkejutan.


"Dari mana kau menemukannya?"


Lelaki itu duduk tenang di dekat api unggun.


"Aku yang membawanya."


Ki Surya Dahana menghela napas panjang.


"Jadi benar..."


"Kau telah memilihnya."


Lelaki itu tersenyum tipis.


"Bukankah sudah kukatakan?"


"Aku akan membangkitkan kembali Mythopia."


"Bukan dengan dendam."


"Bukan pula dengan kehancuran."


"Melainkan dengan memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan."


Ki Surya Dahana terdiam.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menemukan kata-kata untuk membantah gurunya.


---


Sementara itu...


Di dalam alam mimpinya, Isidore merasa sedang berjalan di sebuah padang rumput yang diterangi cahaya keemasan.


Tak ada perang.


Tak ada kabut.


Tak ada suara pedang.


Di hadapannya berdiri para leluhur Kerajaan Mythopia.


Raja-raja terdahulu.


Para maharsi.


Dan ksatria-ksatria yang telah lama kembali menjadi cahaya.


Mereka memandang Isidore dengan senyum penuh kasih.


Seorang leluhur melangkah maju.


"Ingatlah, cucuku..."


"Kekuatan terbesar bukanlah kemampuan untuk mengalahkan musuh."


"Tetapi kemampuan untuk tidak berubah menjadi musuh."


Leluhur lain menyentuh bahunya.


"Jadilah raja yang mampu memaafkan."


"Namun jangan pernah berhenti melindungi mereka yang lemah."


Satu per satu para leluhur menyalami Isidore.


Kemudian mereka memeluknya.


Setiap pelukan memenuhi tubuh Isidore dengan cahaya yang hangat.


Seolah ribuan tahun kebijaksanaan mengalir ke dalam jiwanya.


---


Di dunia nyata...


Tubuh Isidore tiba-tiba memancarkan cahaya putih.


Sekali.


Kemudian dua kali.


Lalu berkali-kali.


Setiap denyut cahaya membuat seluruh gua bergetar pelan.


Ki Surya Dahana mengamatinya tanpa berkedip.


Ia merasakan aliran energi yang terus bertambah, melampaui batas yang pernah dimiliki Isidore sebelumnya.


"Menakjubkan..."


Ia berbisik pelan.


"Dia sedang melewati batas kemampuan tubuh manusianya."


Rasvatar hanya menatap Isidore dengan tenang.


"Ingatan selama seribu tahun sedang menyatu dengan jiwanya."


"Bila ia berhasil menanggung semuanya..."


"...maka akan lahir seorang raja yang belum pernah disaksikan dunia sejak zaman para pendiri Mythopia."

Ki Surya Dahana tersenyum tipis.

Ia menggenggam tongkat kayunya.

"Kalau begitu..."

"Aku akan menunggu sampai ia sadar."

Sorot matanya berubah tajam.

"Dan setelah itu...

"Aku sendiri yang akan menguji apakah Isidore benar-benar layak memikul warisan para leluhur Mythopia."

Di sudut ruangan, keempat kepala suku saling berpandangan.

Mereka dapat merasakan satu hal yang sama.

Saat Isidore membuka matanya nanti...

Dunia tidak akan lagi menghadapi raja muda yang mereka kenal sebelumnya.

Chapter 110 Kerajaan Agnivarsha 

Cahaya Batu Lompatan perlahan memudar.

Sesaat sebelumnya Arya Wiratma masih berdiri di ruang kristal Gunung Merbabu. Kini, ia telah menginjak tanah Kerajaan Agnivarsha, negeri yang sejak dahulu dikenal sebagai kerajaan api, tempat sungai lava mengalir di antara pegunungan hitam dan bara tak pernah benar-benar padam.

Benteng-benteng besi menjulang tinggi mengelilingi ibu kota. Asap tipis keluar dari cerobong penempaan, sementara panji-panji merah keemasan berkibar diterpa angin panas.

Namun hari itu suasana kerajaan jauh berbeda.

Para prajurit berjaga dalam jumlah berlipat.

Ketapel raksasa diarahkan ke langit.

Pemanah memenuhi menara-menara pengawas.

Bahkan setiap orang yang memasuki gerbang diperiksa tanpa terkecuali.

Komandan penjaga mengangkat tombaknya, menghalangi langkah Arya Wiratma.

"Maaf, Tuan. Kerajaan sedang dalam keadaan siaga. Mohon tunjukkan identitas Anda."

Arya Wiratma hanya membuka sedikit jubah putih keemasannya.

Lambang kuno Mythopia yang terukir di dada zirahnya memancarkan cahaya lembut.

Para penjaga seketika terdiam.

Seorang prajurit senior membelalakkan mata.

"Itu... lambang Ksatria Agung Mythopia."

Komandan segera berlutut.

"Maafkan kelancangan kami, Tuan Arya Wiratma."

"Kami tidak menyangka seorang ksatria Mythopia masih berjalan di dunia ini."

Arya Wiratma mengangguk sopan.

Aku memahami kewaspadaan kalian."

"Apa yang sedang terjadi di kerajaan ini?"

Komandan menghela napas berat.

"Tiga malam yang lalu seorang penyusup berhasil memasuki istana."

"Ia mencuri Biji Pohon Dunia, pusaka yang selama berabad-abad kami jaga."

"Yang lebih mengerikan..."

"...ia juga membawa kabur seekor naga, hewan koleksi sekaligus sahabat pribadi Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata."

Sorot mata Arya Wiratma berubah tajam.

"Seekor naga..."

Ia mulai menyadari bahwa pergerakan musuh telah dimulai.

Tanpa membuang waktu, para penjaga segera mengantar Arya Wiratma menuju istana.

---

Istana Agnivarsha berdiri megah di atas lautan batu vulkanik.

Pilar-pilar besinya dihiasi ukiran naga dan kobaran api.

Namun kemegahan itu kini ternoda.

Beberapa dinding retak.

Patung-patung penjaga roboh.

Lantai aula dipenuhi bekas pertempuran.

Jelas terlihat bahwa penyusup itu bukan pencuri biasa.

Di depan sebuah pintu baja raksasa, komandan penjaga berhenti.

Ia mengetuk pintu sebanyak tiga kali.

TOK... TOK... TOK...

Suara berat bergema.

"Masuk."

Pintu perlahan terbuka.

Di dalam aula singgasana duduk Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata.

Tubuhnya besar dan kokoh, mengenakan zirah merah menyala dengan mahkota emas berbentuk kobaran api. Wajahnya masih menyisakan kemarahan sekaligus kesedihan akibat musibah yang baru menimpa kerajaannya.

Seorang pengawal berbisik pelan.

"Paduka, utusan dari Mythopia telah tiba."

Sang Maharaja mengangkat kepala.

Ketika pandangannya bertemu Arya Wiratma, ia tertegun.

Matanya membesar karena tak percaya.

"...Mustahil."

"Seribu tahun telah berlalu..."

"Namun wajahmu..."

"...tidak berubah sedikit pun."

Arya Wiratma membungkukkan badan dengan hormat.

"Salam sejahtera, Paduka Maharaja."

"Aku bersyukur masih dapat bertemu dengan keturunan Raja Agnibrata."

Kemurkaan di wajah sang raja sedikit mereda.

Ia mempersilakan Arya Wiratma duduk.

Sebagai penghormatan kepada tamu agung, berbagai hidangan khas Agnivarsha pun disajikan. Teh rempah hangat dituangkan ke dalam cawan batu, sementara roti bara dan daging panggang memenuhi meja perjamuan.


Setelah adat penyambutan selesai, suasana kembali menjadi hening.


Maharaja memandang lurus ke arah Arya Wiratma.


"Ada keperluan apakah seorang Ksatria Agung Mythopia datang ke kerajaanku?"


Arya Wiratma berdiri perlahan.


Ia mengeluarkan gulungan peta kristal yang memancarkan cahaya.

"Paduka."

"Mythopia sedang membangun Aliansi Agung Bumi."

"Musuh yang pernah menghilang seribu tahun lalu kini mulai kembali."

Ia mengangkat tangannya.

Bayangan Planet Ignisar muncul di udara.

"Yang paling mengkhawatirkan..."

"..aku mengetahui bahwa Kerajaan Agnivarsha telah menjalin hubungan dengan Bangsa Kragmora dari Planet Ignisar."

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa menteri saling berpandangan.

Arya Wiratma melanjutkan,

"Mereka memang menawarkan teknologi, kekuatan, dan pengetahuan."

"Tetapi semua itu hanyalah umpan."

"Tujuan mereka bukan membantu Agnivarsha."

"Tujuan mereka adalah menjadikan Bumi sebagai dunia api kedua."


Sang Maharaja mengepalkan tangan.


"Engkau datang pada saat yang buruk, Arya."


"Kami baru saja kehilangan Biji Pohon Dunia."


"Naga penjaga kerajaan pun telah dicuri."


"Sebagian besar kekuatan pertahanan kami ikut lenyap."


Ia menghela napas panjang.


"Dalam keadaan seperti ini..."


"...aku tidak bisa mengambil keputusan yang menentukan nasib kerajaanku."


Arya Wiratma menganggukkan kepala.

"Aku memahami kesulitan Paduka."

"Namun waktu tidak berpihak kepada kita.

"Setiap hari yang terbuang memberi kesempatan kepada Kragmora untuk menancapkan pengaruhnya lebih dalam."

Ia melangkah mendekati singgasana.


"Paduka tidak perlu memberikan jawaban sekarang."


"Aku hanya memohon satu hal."


"Hentikan sementara segala bentuk kerja sama dengan Bangsa Kragmora."


"Selidikilah siapa penyusup yang mencuri Biji Pohon Dunia dan naga penjaga."


"Bila dugaanku benar..."

"...pencurian itu bukan dilakukan untuk melemahkan Agnivarsha."

"Melainkan untuk membuka jalan bagi invasi yang jauh lebih besar."

Arya Wiratma kemudian membungkukkan badan.

"Aku akan menunggu keputusan Paduka."

"Semoga ketika kita bertemu kembali..."

"...Agnivarsha berdiri sebagai sekutu Bumi, bukan sebagai bidak para penjajah antarbintang."

Maharaja Adityawarman Agnibrata tidak segera menjawab.

Tatapannya beralih ke singgasana kosong di sampingnya—tempat naga sahabatnya biasa beristirahat.

Untuk pertama kalinya, benih keraguan mulai tumbuh di dalam hati sang raja terhadap bangsa yang selama ini mengaku sebagai sahabat dari langit.

Chapter 111 Planet Ignisar 

Jauh melampaui langit Bumi, menembus hamparan bintang yang tak terhitung jumlahnya, terbentang sebuah dunia yang seolah dilahirkan dari kobaran api.


Planet Ignisar.


Lautannya adalah magma yang mendidih tanpa henti.


Gunung-gunung raksasa memuntahkan bara hingga menembus atmosfer, sementara kota-kota Bangsa Kragmora berdiri megah di atas logam hitam yang ditempa oleh panas inti planet.


Di pusat ibu kota Varkhazar, berdiri Benteng Besi Agung, istana tempat para panglima perang berkumpul.


Di singgasananya duduk Drak'zor Ignivar, Sang Penempa Dunia sekaligus Panglima Tertinggi Ekspedisi Kragmora.


Tatapannya tertuju pada sebuah bola kristal merah yang mengambang di hadapannya. Permukaan kristal itu beriak seperti lava, lalu menampilkan bayangan seorang pria berjubah hitam.


Dialah Varesh Kharzug, komandan Korps Abu Senja, pasukan mata-mata terbaik Bangsa Kragmora.


Varesh membungkukkan kepala.


"Salam, Panglima Agung."


Drak'zor menjawab dengan suara berat bagaikan gunung yang bergemuruh.


"Sampaikan laporanmu."


Bayangan Varesh berubah menampilkan pemandangan Kerajaan Agnivarsha.


"Operasi kami berjalan sesuai rencana, Paduka."


"Namun... telah terjadi sesuatu yang berada di luar perhitungan kami."


Drak'zor menyipitkan mata.


"Lanjutkan."


"Seorang manusia berhasil menyusup ke Agnivarsha."


"Ia tidak sendirian."


"Bersamanya ada... dua ekor kucing yang memiliki kemampuan menghilang dari pandangan."


Drak'zor mengangkat sebelah alisnya.


"Dua ekor kucing?"


"Ya, Panglima."


"Mereka berhasil menembus pertahanan kerajaan tanpa meninggalkan jejak."


"Bahkan naga tua penjaga kerajaan yang selama ini kami yakini telah kehilangan seluruh kekuatannya..."


"...entah bagaimana dapat dipulihkan dan berhasil meloloskan diri."


Keheningan memenuhi ruangan.


Untuk pertama kalinya, wajah Drak'zor menunjukkan ketertarikan.


"Itu bukan kebetulan."


"Teruskan."


Varesh menarik napas.


"Selain itu..."


"Seorang Ksatria Mythopia datang menemui Maharaja Adityawarman Agnibrata."


"Identitasnya dipastikan sebagai Arya Wiratma."


"Ia tidak tinggal lama."


"Setelah pertemuan itu, ia segera meninggalkan kerajaan."


"Kami belum mengetahui tujuan sebenarnya."


Drak'zor perlahan berdiri dari singgasananya.


Jubah besinya bergemerincing pelan.


"Jadi..."


"Mythopia mulai bergerak."


Ia berjalan menuju jendela raksasa yang menghadap lautan lava.


"Bila mereka mulai membangun aliansi..."


"...kita harus bergerak lebih dahulu."


Ia mengangkat tangan.


Lima hologram kristal menyala di udara.


"Sudah waktunya menawarkan warisan terbesar Bangsa Kragmora."


Satu demi satu cahaya itu memperlihatkan penemuan mereka.


"Tungku Abadi Ignisar."


"Tungku yang tak pernah padam, mampu menempa logam terbaik sepanjang zaman."


Cahaya kedua muncul.


"Baja Hidup Kragmora."


"Logam yang mampu memperbaiki dirinya sendiri dan menjadi zirah yang tak tertembus."


Cahaya ketiga menyala merah menyala.


"Kristal Magma."


"Sumber energi yang dapat menghidupkan seluruh kota tanpa memerlukan bara api."


Kemudian muncul sebuah mahkota kristal hitam.


"Mesin Penjinak Naga."


"Hadiah yang akan membuat para raja percaya bahwa kami adalah sahabat mereka."


Terakhir, menjulang sebuah menara kristal raksasa.


"Menara Penahan Letusan."


"Biarkan mereka mengira alat itu melindungi kerajaan dari murka gunung berapi."


Drak'zor tersenyum tipis.


"Sementara mereka sibuk membangun..."


"...mereka tidak akan menyadari bahwa fondasi kerajaannya perlahan menjadi milik kita."


Varesh memahami maksud panglimanya.


Ia menundukkan kepala lebih dalam.


"Perintah diterima."


"Segera tawarkan seluruh teknologi itu kepada Agnivarsha."


"Apabila mereka tertarik..."


Drak'zor menatap langit merah Ignisar.


"...aku sendiri akan datang ke Bumi."


Suara tawanya bergema memenuhi aula besi.


"Bukan sebagai penakluk."


"Tetapi sebagai tamu yang membawa harapan."


Senyumnya semakin lebar.


"Dan ketika seluruh kerajaan telah bergantung pada teknologi Kragmora..."


"...Bumi akan jatuh ke tangan kita tanpa perlu menaklukkan mereka dengan perang."

Chapter 112 jelangga mengamuk

Kabut putih yang dilepaskan Wangkara semakin lama semakin menebal, menelan cahaya matahari hingga hutan berubah laksana dunia tanpa arah. Pepohonan raksasa hanya tampak sebagai bayangan samar, sementara suara-suara aneh bergema dari segala penjuru.

Para prajurit Majapahit saling memanggil nama, tetapi suara mereka seolah dipantulkan oleh kabut dan kembali dari arah yang berbeda.

Di antara gulungan kabut itu, roh-roh berwajah pucat mulai bermunculan. Mereka melayang perlahan mengitari para prajurit, membawa tombak dan pedang yang berkarat.

"Siaga!" teriak Rakai Jaya Langgana.

Puluhan pedang segera diayunkan.

Namun bilah-bilah baja itu hanya membelah angin.

Tinju dan tombak pun menembus tubuh para roh seakan mereka hanyalah bayangan yang tak memiliki wujud.

Semakin mereka melawan, semakin banyak roh yang bermunculan dari balik kabut.

Sementara itu, Jelangga yang tadi mengamuk dalam wujud raksasa perlahan mengecil kembali. Kabut Wangkara terlalu pekat bahkan bagi dirinya. Wajahnya yang menyerupai manusia dipenuhi kejengkelan.

"Uaaak... uaaak...!"

Ia berteriak nyaring seperti seekor kera yang sedang marah, melompat dari batang ke batang sambil mengibaskan kedua lengannya untuk mengusir Wangkara.

Namun makhluk kabut itu tetap melayang tanpa menghiraukannya, terus berputar perlahan di antara pepohonan.

Jelangga menggaruk kepalanya dengan kesal.

Tiba-tiba matanya berbinar.

"Aaak!"

Seolah menemukan permainan baru, ia berlari secepat kilat memasuki kabut.

Dengan kekuatan yang luar biasa, ia menarik satu demi satu prajurit yang tersesat.

"Hei—apa yang kau lakukan?!"

Belum sempat mereka menyelesaikan kalimatnya, Jelangga telah mengangkat tubuh mereka dengan satu tangan.

"Lepaskan aku!"

"Aaaaarrrggghhh!"

Satu demi satu prajurit dilemparkannya tinggi ke udara.

Mereka melambung melewati puncak kabut, lalu jatuh tepat di atas dahan-dahan pohon raksasa yang menjulang jauh di atas selimut putih Wangkara.

Di tempat setinggi itu, kabut tidak mampu menjangkau mereka.

Rakai Jaya Langgana bersama para pendekar bayangan segera membantu setiap prajurit yang mendarat agar tidak terjatuh dari dahan.

Meski cara Jelangga menyelamatkan mereka sangat kasar, nyawa mereka berhasil terselamatkan.

Di bawah sana, Pujeng Rarasati yang melihat para prajurit beterbangan ke langit menutup wajahnya sambil menangis.

"Jangan... jangan lempar aku..."

Lembayung Ardhani memeluk sahabatnya, sementara Putri Dyah Sekar Tanjung melangkah maju.

Ia mencabut pedangnya.

"Kalau begitu, biar aku menghentikannya!"

Sinar keperakan memancar dari bilah pedang sang putri ketika ia melepaskan sebuah jurus.

Namun Jelangga bergerak jauh lebih cepat daripada yang dapat diikuti mata.

Dalam sekejap ia telah berada di hadapan sang putri.

Dengan wajah polos penuh rasa ingin bermain, ia meraih pergelangan tangan Putri Dyah Sekar Tanjung.

"Aaaak!"

Belum sempat sang putri bereaksi, tubuhnya telah terlempar tinggi menembus pucuk-pucuk pohon.

"Tuann Putri!"

Rakai Jaya Langgana yang mendengar teriakan itu langsung melompat dari cabang tertinggi.

Tubuhnya melesat di udara bagaikan anak panah.

Dengan kedua tangannya ia berhasil menangkap Putri Dyah Sekar Tanjung sebelum tubuh sang putri menghantam dahan.

Mereka berputar beberapa kali di udara sebelum akhirnya mendarat dengan selamat di atas cabang pohon yang besar.

"Apakah Paduka terluka?" tanya Rakai Jaya Langgana dengan napas memburu.

Putri Dyah Sekar Tanjung menggeleng pelan, meski wajahnya masih dipenuhi keterkejutan.

"Terima kasih... bila kau terlambat sesaat saja..."

Rakai Jaya Langgana hanya menundukkan kepala dengan hormat.

"Itu sudah menjadi tugasku, Paduka."

Di bawah sana, Jelangga memandang ke atas pohon sambil menggaruk kepalanya kebingungan.

Semua manusia telah berpindah ke tempat yang tak dapat dijangkaunya.

Ia lalu kembali berteriak keras ke arah Wangkara.

"Uaaak! Uaaak! Uaaak!"

Teriakannya menggema ke seluruh hutan.

Wangkara berhenti berputar.

Sesaat ia memandang Jelangga dengan mata legamnya yang kosong.

Karena tak ada lagi manusia yang tersesat di dalam kabut, makhluk itu perlahan memudar bersama gulungan kabut putih yang mengikutinya.

Kabut pun menyingkir sedikit demi sedikit.

Sinar matahari kembali menembus celah-celah dedaunan.

Jelangga mendengus kesal, lalu melompat dari pohon ke pohon sambil terus mengomel dengan suara khas seekor kera, seolah merasa permainan yang baru saja dimainkannya telah dirusak oleh Wangkara yang pergi begitu saja.

Di atas pohon-pohon raksasa, rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung hanya dapat saling berpandangan.

Mereka baru saja selamat dari dua makhluk yang sama-sama aneh—seekor kera penghuni hutan yang melempar manusia demi menyelamatkannya, dan roh kabut misterius yang datang lalu menghilang tanpa jejak.
Chapter 113 sebuah perpisahan 
Setelah kabut Wangkara lenyap, hutan perlahan kembali memperlihatkan wujudnya. Cahaya matahari menembus celah dedaunan, menghangatkan udara yang semula begitu mencekam.

Barulah rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung menyadari di mana mereka berada.

Mereka berdiri di atas cabang sebuah pohon yang luar biasa besar.

Batangnya menjulang setegak gunung, sementara cabang-cabangnya membentang laksana jembatan alam yang menghubungkan langit dengan bumi.

Dari tempat mereka berdiri, tanah bahkan hampir tidak terlihat.

Pujeng Rarasati menatap ke bawah dengan wajah pucat.

"Oh, tidak..."

"Bagaimana kita turun? Pohon ini terlalu tinggi."

"Aku bahkan tidak bisa melihat permukaan tanah."

Lembayung Ardhani ikut mengintip dari tepi cabang, lalu buru-buru mundur sambil memegang dadanya.

"Kalau aku melompat, mungkin yang tersisa hanya namaku."

Ucapan itu membuat beberapa prajurit tersenyum kecil, meski keadaan masih menegangkan.

Tanpa menunggu perintah, para pendekar bayangan segera maju.

Mereka berlutut dan menundukkan badan.

"Paduka Putri," ujar salah seorang di antara mereka.

"Silakan naik ke punggung kami."

"Kami akan menggendong Paduka turun dengan selamat."

Putri Dyah Sekar Tanjung mengangguk lembut.

"Terima kasih."

Sementara itu, Lembayung Ardhani menatap cabang-cabang pohon yang saling bersambung.

"Aku bisa turun sendiri."

Dengan penuh percaya diri ia melompat ke cabang berikutnya.

Sekali...

Dua kali...

Tiga kali...

Namun ketika hendak berpindah ke cabang yang lebih kecil, telapak kakinya terpeleset oleh lumut yang masih basah.

"Aaaah!"

Tubuhnya terjatuh ke ruang kosong.

Untunglah dua pendekar bayangan bergerak secepat kilat.

Salah seorang berhasil menangkap pergelangan tangannya, sementara yang lain memegang pinggangnya sebelum tubuhnya jatuh lebih jauh.

Dengan hati-hati mereka menarik Lembayung kembali ke atas cabang.

Lembayung terduduk sambil menghela napas panjang.

"Hampir saja aku menjadi penghuni dasar hutan."

Melihat kejadian itu dari kejauhan, Jelangga yang sedang bergelantungan di cabang lain tertawa terbahak-bahak.

"Uaaak! Uaaak! Uaaak!"

Ia sampai kehilangan keseimbangan dan terguling terbalik di atas dahan, lalu kembali tertawa sambil memukul-mukul batang pohon dengan kedua tangannya.

Tawa polos makhluk itu justru membuat suasana yang semula tegang menjadi sedikit lebih ringan.

Putri Dyah Sekar Tanjung memandang Jelangga dengan senyum lembut.

"Rakai."

"Antarkan aku kepadanya."

Rakai Jaya Langgana mengangguk.

Dengan penuh kewaspadaan ia mendampingi sang putri mendekati makhluk aneh itu.

Jelangga berhenti tertawa.

Ia memiringkan kepalanya, menatap Putri Dyah Sekar Tanjung dengan rasa ingin tahu.

Sang putri lalu membungkukkan badan dengan hormat.

Kedua tangannya mengepal di depan dada sebagai tanda penghormatan.

"Terima kasih."

"Mungkin caramu menyelamatkan kami sangat... mengejutkan."

"Namun kami tahu engkau tidak berniat mencelakai kami."

"Engkau telah menyelamatkan nyawa kami."

Jelangga mengedipkan matanya beberapa kali.

Ia tidak memahami seluruh ucapan sang putri.

Namun ia mengerti ketulusan yang terpancar dari sikapnya.

Putri Dyah Sekar Tanjung lalu memberi isyarat kepada para pengawal.

"Berikan sebagian bekal kita."

Para prajurit mengeluarkan buah-buahan, madu hutan, ubi panggang, serta beberapa potong daging kering.

Begitu makanan itu diletakkan di hadapannya, wajah Jelangga langsung berseri-seri.

"Uaaak!"

Dengan gembira ia melahap makanan itu tanpa sedikit pun rasa sungkan.

Madu menetes di dagunya, sementara ia terus mengunyah sambil sesekali mengangguk puas.

Seorang pendekar bayangan mendekat kepada sang putri dan berbisik pelan.

"Paduka..."

"Kita sebaiknya tidak terlalu lama berada di sini."

"Jelangga adalah makhluk mistis."

"Suasana hatinya dapat berubah sewaktu-waktu."

"Hari ini ia bersahabat."

"Belum tentu beberapa saat lagi masih demikian."

Putri Dyah Sekar Tanjung mengangguk mengerti.

Sementara itu, Jelangga berdiri dan mulai melompat-lompat mengelilingi batang pohon raksasa.

Ia menunjuk ke batang pohon itu, kemudian memeluknya erat.

Lalu ia menunjuk ke dirinya sendiri.

Ia mengangkat kedua tangannya ke langit, seolah ingin menjelaskan sesuatu.

"Uaaak! Uaaak! Uaaak!"

Ia berulang kali menunjuk pohon itu dengan wajah penuh kebanggaan.

Seakan-akan ingin berkata,

"Inilah rumahku."

"Pohon inilah yang merawatku sejak kecil."

"Pohon Dunia adalah keluargaku."

Namun tak seorang pun memahami bahasa Jelangga.

Mereka hanya saling berpandangan kebingungan.

Putri Dyah Sekar Tanjung kembali membungkukkan badan.

"Semoga kita dapat bertemu lagi."

"Dan semoga penjaga hutan selalu melindungimu."

Jelangga hanya melambaikan kedua tangannya sambil tersenyum lebar.

Rombongan Majapahit pun perlahan meninggalkan Pohon Dunia, menyusuri jalan hutan menuju kerajaan.

Sementara di atas cabang tertinggi, Jelangga masih duduk memandangi mereka hingga rombongan itu menghilang di balik pepohonan, ditemani desir angin yang menggoyangkan daun-daun Pohon Dunia, sahabat sekaligus rumah yang telah membesarkannya sejak dahulu kala.
Chapter 114 benteng di hutan

Sementara itu, jauh dari Gunung Sinabung, Bhra Anuraga, Ksatria Penguasa Api Mythopia, tengah menjalankan tugas menjaga salah satu Benteng Batu Lompatan—gerbang kuno yang menghubungkan berbagai penjuru dunia.

Gua itu sunyi.

Hanya suara tetesan air dan nyala bara kecil yang menari di antara bebatuan.

Bhra Anuraga duduk bersila di hadapan Batu Lompatan, memejamkan mata sambil menjaga aliran auranya tetap tenang.

Tiba-tiba...

Kristal putih di tengah lingkaran batu berubah warna.

Perlahan-lahan cahaya keemasannya memudar, berganti menjadi merah menyala, laksana lava yang baru keluar dari perut gunung.

Bhra Anuraga segera membuka matanya.

"Aneh..."

"Belum pernah Batu Lompatan bereaksi seperti ini."

Belum sempat ia melangkah mendekat, suara gemuruh memenuhi seluruh gua.

DUAARRR!

Petir-petir merah menyambar tanpa henti, melompat dari dinding ke langit-langit gua.

Udara dipenuhi bau logam dan belerang.

Kemudian, cahaya merah itu berputar membentuk pusaran raksasa.

Satu demi satu sosok mulai keluar dari dalamnya.

Mereka mengenakan zirah hitam kemerahan yang berkilau seperti baja yang baru ditempa. Helm mereka bertanduk besi, sementara senjata yang dibawa memancarkan panas hingga membuat bebatuan di sekitarnya mulai menghitam.

Dalam waktu singkat...

Satu batalion penuh prajurit asing telah berdiri di dalam gua.

Bhra Anuraga menggenggam gagang goloknya.

Api mulai berputar mengelilingi tubuhnya.

Namun ia tidak bergerak.

Tatapannya tetap tenang.

"Tidak..." batinnya.

"Mereka terlalu banyak."

"Bila aku menyerang sekarang, aku hanya akan memberi tahu bahwa Mythopia masih hidup."

"Lebih baik mengetahui tujuan mereka terlebih dahulu."

Ia memadamkan auranya dan bersembunyi di balik celah-celah batu, memanfaatkan bayangan gua agar keberadaannya tak tercium.

Pasukan asing itu tampaknya sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang diawasi.

Mereka berjalan keluar dari gua dengan langkah teratur.

Bhra Anuraga mengikuti dari kejauhan.

Mereka menuruni lereng gunung.

Menyeberangi sungai yang deras.

Menyusuri hutan lebat yang belum pernah dijamah manusia.

Hingga akhirnya rombongan itu tiba di sebuah lembah yang luas dan sunyi.

Komandan mereka maju seorang diri.

Ia mengeluarkan sebuah pilar kristal merah sebesar lengan manusia.

Perlahan benda itu ditancapkan ke tanah.

Sesaat kemudian...

Tanah mulai bergetar.

Retakan-retakan bercahaya merah menjalar ke segala arah.

Suara roda-roda batu bergesekan bergema dari bawah bumi.

GRRRR... DUMMM...

Di hadapan mereka, tanah terbelah.

Dari dalam perut bumi perlahan muncul sebuah bangunan raksasa berlapis baja hitam dan batu vulkanik.

Menara-menara logam menjulang ke langit.

Pipa-pipa besar mengeluarkan uap merah.

Sementara lambang asing berbentuk matahari berapi terukir di gerbang utamanya.

Dalam hitungan menit...

Sebuah benteng berdiri megah di tengah lembah yang sebelumnya kosong.

Para prajurit memasuki bangunan itu dengan tertib.

Gerbang besarnya kembali tertutup rapat.

Bhra Anuraga merasakan hawa panas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Jadi..."

"Mereka sedang membangun pangkalan."

"Dan mereka mampu mendirikan benteng sebesar itu hanya dalam beberapa saat."

Wajahnya berubah serius.

Ia tahu informasi ini jauh lebih berharga daripada sebuah kemenangan kecil.

Tanpa membuang waktu, Bhra Anuraga segera berbalik.

Dengan langkah secepat kobaran api yang ditiup badai, ia kembali menuju Benteng Batu Lompatan.

Setibanya di sana, ia mengangkat pedangnya ke arah kristal komunikasi Mythopia.

Cahaya merah dan emas saling berbaur memenuhi ruangan.

Suara Bhra Anuraga menggema melalui jaringan Batu Lompatan yang menghubungkan para ksatria.

"Perhatian untuk seluruh Ksatria Mythopia."

"Musuh telah menggunakan Batu Lompatan."

"Mereka tidak datang untuk menyerang..."

"...mereka datang untuk membangun benteng di Bumi."

"Ini bukan lagi sekadar penyusupan."

"Invasi telah dimulai."

Di tempat-tempat yang berjauhan, kristal-kristal Batu Lompatan milik para ksatria mulai menyala serempak.

Sebuah peperangan yang telah lama diramalkan akhirnya membuka babak baru.

Chapter 115 Kloning Rasvatar 
Jauh di kedalaman pegunungan yang bahkan tidak tercatat dalam peta kuno Mythopia, tersembunyi sebuah gua sunyi yang hanya diketahui oleh segelintir makhluk di dunia.

Air menetes perlahan dari langit-langit batu.

Tik... tik... tik...

Selama ribuan tahun, tetesan itu membentuk stalaktit dan stalagmit yang berkilauan diterpa cahaya kristal biru. Gua itu tampak tenang, namun di sanalah berdiam sosok yang pernah mengguncang dunia.

Rasvatar.

Mantan Maharsi Agung Mythopia.

Orang yang pernah dianggap penyelamat, lalu dicap sebagai pengkhianat.

Ia duduk bersila di hadapan sebuah meja batu yang dipenuhi gulungan peta langit, pecahan kristal asing, dan catatan perang yang telah dikumpulkannya selama berabad-abad.

Selama bertahun-tahun dalam persembunyiannya, Rasvatar tidak berhenti mempelajari satu hal.

Pergerakan lima bangsa penjajah antarbintang.

Ia telah menghitung ribuan kemungkinan.

Menganalisis setiap peperangan.

Mengulang setiap kekalahan.

Namun hasilnya selalu sama.

Ia belum menemukan satu pun celah yang cukup besar untuk mengalahkan mereka.

Rasvatar menghela napas panjang.

"Kalian jauh lebih licik daripada seribu tahun yang lalu..."

"Setiap langkah kalian selalu didahului oleh tipu daya."

Meski kekuatan fisiknya telah jauh berkurang, satu hal berhasil ia lakukan.

Seluruh pengalaman, ilmu, dan ingatan selama ribuan tahun kini telah diwariskan kepada Isidore, putra Raja Itharius.

Tiba-tiba udara di dalam gua bergetar.

Kabut putih berkumpul di hadapan Rasvatar.

Dari kabut itu muncul seorang lelaki yang wajahnya sama persis dengannya.

Itu bukan Rasvatar.

Melainkan salah satu Klon Bayangan, pecahan kesadarannya yang dikirim menjelajahi dunia.

Klon itu membungkuk.

"Guru."

"Isidore telah berhasil menerima seluruh warisan ingatan."

"Jiwanya mampu menahan beban yang bahkan dahulu hampir menghancurkanmu."

Rasvatar mengangguk pelan.

"Bagus."

Belum sempat percakapan berakhir, satu demi satu klon lain bermunculan dari berbagai penjuru gua.

Ada yang datang dengan jubah basah karena melintasi lautan.

Ada yang membawa debu gurun.

Ada pula yang tubuhnya dipenuhi abu vulkanik.

Masing-masing mendekat, menyentuhkan telapak tangan ke dahi Rasvatar.

Dalam sekejap, seluruh pengalaman yang mereka peroleh mengalir kembali kepada pemilik aslinya.

Rasvatar melihat semuanya.

Benteng Kragmora yang sedang dibangun.

Pergerakan Arya Wiratma.

Diplomasi antar kerajaan.

Kebangkitan para ksatria.

Jejak para Wangkara.

Hingga kabar tentang bangsa-bangsa penjajah yang mulai bergerak dari balik langit.

Sesaat kemudian para klon itu kembali berubah menjadi kabut dan menghilang untuk melanjutkan tugas masing-masing.

Rasvatar menatap kegelapan di ujung gua.

"Dia masih mencariku..."

"Tidak lama lagi kita akan bertemu."

Entah siapa sosok yang ia maksud, bahkan Ki Surya Dahana pun tidak mengetahuinya.

---

Sementara itu...

Tujuh hari telah berlalu.

Isidore masih terlelap dalam tidur yang panjang.

Di alam mimpinya, ia kembali berjalan bersama para leluhur Mythopia. Mereka mengajarinya kebijaksanaan, kepemimpinan, dan keseimbangan antara kekuatan serta belas kasih.

Ketika cahaya fajar menembus celah gua, perlahan mata Isidore terbuka.

Ia menarik napas panjang.

Tubuhnya terasa jauh lebih ringan.

Namun di saat yang sama, ia dapat merasakan aliran kekuatan baru mengalir hingga ke ujung jarinya.

"Selamat datang kembali."

Suara itu terdengar hangat.

Ki Surya Dahana berdiri beberapa langkah di depannya.

Tanpa ragu, ia menghampiri Isidore lalu memeluknya erat.

"Selamat."

"Kau telah melewati ujian yang bahkan tidak mampu dilewati oleh banyak Maharsi sebelum dirimu."

Isidore membalas pelukan itu.

"Terima kasih, Guru."

"Aku merasa... seolah hidupku berubah seluruhnya."

Ki Surya Dahana tersenyum.

"Itu wajar."

"Warisan Rasvatar bukan sekadar ilmu."

"Ia mewariskan pengalaman hidup selama ribuan tahun."

"Namun ingatan saja tidak cukup."

"Seorang ksatria harus mampu menguasai kekuatan yang diwarisinya."

Ia mengangkat tongkat kayunya.

Tongkat itu mengetuk lantai batu tiga kali.

TOK... TOK... TOK...

Seluruh gua bergetar.

Di hadapan mereka, dinding batu perlahan terbelah.

Sebuah gerbang kuno terbuka, memancarkan cahaya putih bercampur ungu.

Dari balik gerbang terdengar suara auman, desisan, dan gemuruh langkah kaki makhluk-makhluk raksasa.

Ki Surya Dahana memandang Isidore dengan tatapan tajam.

"Di balik gerbang itu terdapat Alam Ujian Maharsi."

"Tempat para penjaga Mythopia dahulu menempa diri."

"Monster-monster di sana bukan sekadar kuat."

"Masing-masing diciptakan untuk menguji kelemahan hati, pikiran, dan tubuh."

Isidore menggenggam kerisnya.

Tatapannya tetap tenang.

Ki Surya Dahana tersenyum tipis.

"Mulai hari ini..."

"Aku tidak lagi menganggapmu sebagai murid."

"Aku akan memperlakukanmu sebagai seorang calon penerus Mythopia."

"Masuklah."

"Lewati setiap ujian."

"Dan buktikan bahwa kekuatan Rasvatar telah memilih orang yang tepat."

Tanpa keraguan sedikit pun, Isidore melangkah melewati gerbang cahaya.

Begitu tubuhnya menghilang di balik pintu kuno itu, gerbang perlahan tertutup kembali.

Di dalam sana, puluhan pasang mata menyala dari balik kegelapan.

Ujian sesungguhnya baru saja dimulai.
Chapter 116 Gerbang Latihan
Gerbang latihan yang diciptakan Ki Surya Dahana terbuka perlahan.

Tidak ada suara rantai.

Tidak ada pintu batu yang bergeser.

Seolah-olah ruang itu sendiri terbelah oleh kehendak yang tak terlihat.

Makhluk-makhluk tak kasatmata, para penjaga kuno yang hanya dapat dirasakan auranya, membungkuk memberi hormat ketika Isidore melangkah masuk.

Begitu melewati gerbang, dunia di hadapannya berubah.

Di sebelah timur berdiri hutan purba dengan pohon-pohon raksasa yang puncaknya menembus awan.

Di sebelah barat terbentang gurun keemasan tanpa batas, diterpa angin panas yang membawa butiran pasir seperti ribuan anak panah.

Di utara membentang lautan biru gelap dengan ombak setinggi tebing.

Sedangkan di selatan menjulang pegunungan batu hitam yang sesekali memuntahkan semburan api.

Semua medan itu berada dalam satu dunia.

Seolah-olah seluruh penjuru bumi dipersatukan menjadi sebuah arena ujian.

Isidore menarik napas panjang.

Perlahan ia menghunus keris warisan Raja Itharius.

Cahaya putih lembut memancar dari bilahnya.

Saat itulah udara di belakangnya bergetar.

Sosok Raja Alam Wardana muncul.

Namun kali ini auranya berbeda.

Jubah putihnya dihiasi semburat cahaya keemasan.

Tatapannya jauh lebih tajam, sementara tubuhnya memancarkan wibawa seorang penguasa yang telah melampaui batas kehidupan.

"Akhirnya..."

"Kau telah mencapai tahap untuk menerima warisan sejati Rasvatar."

Isidore menundukkan kepala.

"Guru."

Wardana mengangkat telapak tangannya.

Sepuluh lingkaran cahaya muncul mengelilingi mereka.

"Simpan baik-baik semua ini dalam jiwamu."

"Kekuatan Rasvatar bukan diciptakan untuk menghancurkan."

"Melainkan untuk menjaga keseimbangan dunia."

Satu demi satu, Raja Alam Wardana menjelaskan seluruh warisan Rasvatar.

Tarian Bulan Kesembilan, tarian pedang yang menghadirkan sembilan tebasan cahaya dalam satu gerakan.

Mata Leluhur Mythopia, mata keperakan yang mampu melihat kelemahan, ilusi, dan aliran energi.

Seribu Langkah Bayangan, gerakan secepat angin yang meninggalkan puluhan bayangan.

Pedang Segala Unsur, kemampuan mengubah elemen pedang sesuai musuh yang dihadapi.

Delapan Gerbang Langit, delapan lingkaran kekuatan yang meningkatkan seluruh kemampuan tubuh dan jiwa.

Segel Maharsi Agung, teknik penyegelan makhluk malapetaka.

Tebasan Fajar Semesta, gelombang cahaya yang memurnikan kegelapan.

Napas Seribu Unsur, teknik menyerap energi alam untuk memulihkan tubuh.

Langkah Kosong Rasvatar, kemampuan melangkah ke ruang hampa sehingga serangan musuh tak mampu mengenainya.

Dan akhirnya...

Mahkota Raja Mythopia.

Jurus tertinggi para Maharsi.

Saat nama itu diucapkan, bahkan langit arena latihan ikut bergetar.

Raja Alam Wardana menatap Isidore dalam-dalam.

"Ingatlah..."

"Semua jurus ini tidak membutuhkan tubuh yang kuat."

"Yang dibutuhkan adalah hati yang tenang."

"Kekuatan mentalmu adalah sarung pedangmu."

"Bila kemarahan, kesombongan, atau kebencian menguasaimu..."

"...maka kekuatan Rasvatar akan berubah menjadi kegelapan."

Isidore mengangguk mantap.

"Aku akan mengingatnya."

Tiba-tiba udara di depannya beriak.

Seseorang melangkah keluar dari cahaya.

Ksatria Cheon Myeong.

Ia tersenyum kecil.

"Kalau begitu..."

"Lihatlah sekali saja."

Pedang Cheon Myeong perlahan terangkat.

Dalam sekejap...

Tubuhnya menghilang.

Yang tampak hanyalah garis-garis cahaya menari di udara.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Puluhan.

Ratusan.

Gerakan demi gerakan mengalir tanpa putus, seperti air yang mengalir di sungai pegunungan.

Tidak ada tenaga yang terbuang.

Tidak ada ayunan yang sia-sia.

Setiap langkah adalah serangan.

Setiap putaran adalah pertahanan.

Dalam beberapa tarikan napas, seluruh sepuluh jurus Rasvatar telah diperagakan dengan sempurna.

Cheon Myeong menurunkan pedangnya.

"Sudah cukup."

Isidore tersenyum tipis.

"Terima kasih."

"Aku akan mencobanya."

Tak lama kemudian bumi bergetar.

DUUM!

Seekor anjing berkepala tiga keluar dari balik hutan.

Air liurnya berubah menjadi api hitam.

Dari arah gurun, seekor bison raksasa menyeruduk dengan kecepatan luar biasa.

Sementara dari pucuk pohon purba...

Seekor lipan raksasa sepanjang naga melompat turun sambil membuka rahangnya yang dipenuhi taring beracun.

Isidore memejamkan mata.

Ia menarik napas perlahan.

Saat matanya kembali terbuka...

Kedua pupilnya telah berubah menjadi perak berkilau.

Netra Maharsi.

Dunia seakan melambat.

Ia dapat melihat arah setiap serangan.

Aliran tenaga.

Detak jantung.

Bahkan titik terlemah pada tubuh setiap monster.

Tubuhnya bergerak.

Begitu ringan hingga hanya menyisakan bayangan.

Pedangnya menari.

Anggun.

Lembut.

Namun setiap ayunan menghasilkan gelombang cahaya yang membelah udara.

SWIIING!

Kepala anjing berkepala tiga terpisah dalam sembilan kilatan.

DUAAARRR!

Tebasan berikutnya membelah batu karang hingga gunung kecil di belakang bison ikut retak.

Lipan raksasa yang menyergap dari udara bahkan tak sempat menyentuh tanah.

Tubuhnya telah terpotong menjadi puluhan bagian oleh tarian cahaya yang nyaris tak terlihat.

Angin dari setiap ayunan pedang mengguncang seluruh arena.

Pepohonan tumbang.

Bukit terbelah.

Gelombang laut pecah hingga mencapai langit.

Raja Alam Wardana menggeleng pelan.

"Kau memang telah menguasai jurusnya..."

"Tetapi kendalimu masih buruk."

"Kekuatanmu terlalu besar."

"Untuk membunuh seekor serigala..."

"...kau justru membelah gunung."

"Belajarlah mengendalikan niatmu."

"Seorang pendekar sejati tidak diukur dari besarnya kekuatan."

"Melainkan dari kemampuannya menggunakan kekuatan sekecil mungkin untuk memperoleh hasil terbesar."

Baru saat itulah Isidore menyadari.

Seluruh monster telah lenyap.

Arena latihan menjadi sunyi.

Namun dari kejauhan...

Ki Surya Dahana yang mengamati dari luar hanya tersenyum tipis.

"Belum."

"Belum cukup."

Ia mengangkat tongkat kayunya.

Kabut putih mulai memenuhi arena.

Udara berubah dingin.

Di tengah pusaran kabut, perlahan muncul sesosok pria berjubah putih.

Rambutnya panjang.

Matanya keperakan.

Auranya sama persis.

Bahkan denyut energinya identik.

Isidore terdiam.

Raja Alam Wardana pun menyipitkan mata.

Ki Surya Dahana berkata dengan suara berat,

"Monster tidak lagi mampu mengujimu."

"Mulai sekarang..."

"Lawanmu adalah dirimu sendiri."

Kabut perlahan menghilang.

Sosok itu membuka mata.

Lalu tersenyum.

"Aku..."

"...adalah Rasvatar."