Cari Blog Ini

05/10/26

Season 12 Kerajaan mythopia

Chapter 119 Pelayaran Menuju Majapahit

Setelah meninggalkan hutan dan negeri yang jauh dari tanah Majapahit, tibalah rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung di sebuah pelabuhan yang menghadap lautan luas. Angin laut bertiup dari ufuk barat, membawa aroma garam dan suara burung-burung yang berputar di atas tiang-tiang dermaga.

Di sana sebuah kapal besar telah menunggu.

Lambungnya terbuat dari kayu tua yang kokoh, dihiasi ukiran khas Majapahit pada haluan dan buritannya. Tiga tiang tinggi menjulang ke langit, dan layar-layar putih yang terlipat menggantung seperti sayap burung raksasa yang sedang beristirahat.

Begitu melihat rombongan itu mendekat, seorang lelaki berusia setengah baya turun dari geladak. Janggutnya telah memutih di beberapa bagian, sementara wajahnya terbakar matahari dan angin laut. Ia adalah kapten kapal yang ditugaskan membawa sang putri kembali ke Jawa.

Ia memandang Dyah Sekar Tanjung dan rombongannya dengan wajah antara lega dan kesal.

"Kenapa kalian lama sekali?" serunya. "Aku sudah menunggu di pelabuhan ini hampir seminggu!"

Paman Hanggara menghela napas panjang.

"Jangan salahkan kami, Kapten. Kami mengalami sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan."

Kapten mengangkat alis.

"Apa yang terjadi?"

"Kami disergap oleh makhluk kera putih di tengah hutan," jawab Hanggara.

Beberapa awak kapal yang mendengar perkataan itu saling berpandangan.

"Kera putih?" gumam salah seorang dari mereka.

"Jangan banyak bertanya," jawab Hanggara. "Percayalah, makhluk itu bukan binatang biasa."

Dyah Sekar Tanjung tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya tertuju jauh ke arah laut. Di balik ketenangan wajahnya tersimpan kegelisahan yang sejak menerima surat dari Majapahit belum juga pergi.

Pujeng Rarasati berdiri di sampingnya.

"Semoga Ayahanda Prabu Kertawrdhana masih diberikan umur panjang oleh para dewa," ucapnya lirih.

Dyah Sekar menundukkan kepala.

"Semoga demikian."

Ia menggenggam kain jubahnya erat-erat.

"Aku harus segera sampai ke Majapahit."

Kemudian sang putri menoleh kepada kapten.

"Kecepatan penuh, Kapten."

Kapten itu tersenyum tipis.

"Perintah diterima, Paduka Putri."

Ia segera berbalik dan berteriak kepada anak buahnya.

"Buka seluruh layar!"

Para awak kapal bergerak serentak.

Tali-tali ditarik.

Katrol-katrol kayu berderit.

Layar-layar putih yang besar perlahan naik menuju ujung tiang, kemudian mengembang ketika angin laut menerpanya. Kapal bergetar sesaat sebelum akhirnya bergerak meninggalkan pelabuhan.

Semakin jauh mereka dari daratan, semakin luas terbentang lautan di hadapan.

Hari pertama berlalu dengan tenang.

Matahari menggantung tinggi di langit, memantulkan cahaya ke permukaan air hingga lautan tampak seperti hamparan perak yang tak berujung.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah seorang awak.

"Lihat! Ikan!"

Rombongan segera mendekati sisi kapal.

Sekawanan ikan berkilauan melompat dari permukaan laut, berhamburan seperti permata yang dilemparkan ke udara. Di belakang mereka beberapa ekor lumba-lumba berenang dengan cepat, melesat naik turun mengejar kawanan ikan.

Para awak kapal bersorak.

"Kesempatan yang jarang!"

Jala-jala segera disiapkan.

Dengan satu aba-aba, beberapa awak melemparkan jala ke laut.

Jala itu terbentang lebar di udara sebelum jatuh menutupi permukaan air.

Tak lama kemudian mereka menariknya kembali.

Puluhan ikan menggelepar di dalam jaring.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Permukaan laut tiba-tiba berguncang.

Sesuatu yang besar bergerak di bawah kapal.

"Lihat ke sana!" teriak seorang awak.

Dari kejauhan muncul bayangan hitam yang jauh lebih besar daripada kawanan ikan tadi.

Air laut terbelah.

Seekor makhluk raksasa muncul sesaat dari permukaan—tubuhnya gelap, panjang, dan kuat seperti monster dari zaman purba.

"Itu... orca raksasa!"

Makhluk itu mengejar kawanan lumba-lumba dengan kecepatan yang mengerikan.

Kapal mulai berguncang ketika makhluk tersebut berputar di sekelilingnya.

Para awak kapal kehilangan keseimbangan.

"Pegang tali!"

"Jangan sampai jatuh!"

"Turunkan layar!"

Namun arus yang tercipta oleh tubuh raksasa itu membuat kapal terombang-ambing.

Dyah Sekar Tanjung berpegangan pada tiang kapal. Lembayung Ardani dan Pujeng Rarasati berdiri di belakangnya, sementara Paman Hanggara segera memerintahkan para pengawal menjaga sang putri.

Beberapa saat kemudian makhluk itu menghilang ke kedalaman.

Laut kembali tenang.

Tidak ada suara selain deburan ombak.

Para awak kapal terdiam.

Menit berlalu.

Kemudian satu jam.

Tidak terjadi apa-apa.

Akhirnya kapten menghela napas lega.

"Sepertinya makhluk itu telah pergi."

Para penumpang pun mulai tenang.

Beberapa awak kembali bekerja. Sebagian menata ikan hasil tangkapan. Yang lain memperbaiki tali layar yang sempat terlepas.

Mereka bersyukur karena bahaya telah berlalu.

Namun tidak seorang pun di atas kapal mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi.

Jauh di bawah permukaan laut, di tempat yang tidak dapat ditembus cahaya matahari, sesuatu yang jauh lebih besar bergerak perlahan.

Makhluk yang tadi mereka lihat bukanlah penguasa lautan itu.

Ia hanyalah mangsa.

Di kedalaman yang gelap, tubuh raksasa Leviathan Abyssala bergerak dari balik kabut bawah laut.

Rahangnya terbuka.

Dalam satu hentakan dahsyat, ia telah melahap orca raksasa yang tadi mengejar lumba-lumba.

Lumba-lumba yang tersisa berenang menjauh dalam kepanikan.

Leviathan Abyssala tidak mengejar mereka.

Ia hanya berbalik.

Mata besarnya yang pucat menatap ke atas.

Jauh di permukaan, sebuah kapal Majapahit sedang berlayar membawa Putri Dyah Sekar Tanjung pulang menuju Jawa.

Leviathan itu merasakan getaran kapal di atas kepalanya.

Untuk beberapa saat, makhluk purba itu hanya mengikuti dari kejauhan.

Kemudian ia mulai berenang.

Perlahan.

Tanpa suara.

Bayangannya membesar di bawah kapal.

Namun para penumpang tidak menyadarinya.

Mereka mengira lautan telah kembali tenang.

Mereka tidak tahu bahwa di bawah lunas kapal, sebuah makhluk dari zaman yang jauh lebih tua daripada kerajaan-kerajaan manusia sedang mengikuti perjalanan mereka menuju Jawa.
Chapter 120 Langkah Menghindari Kematian

Ledakan itu mengguncangkan seluruh ruang ilusi.

Cahaya putih membutakan mata, disusul gelombang energi yang menyapu hutan, gunung, dan lembah buatan yang selama ini menjadi tempat latihan Isidore. Tanah retak seperti kaca. Pepohonan raksasa tercabut dari akarnya dan terlempar ke udara. Gunung-gunung ilusi runtuh menjadi debu cahaya.

Klon Rasvatar telah meledakkan dirinya sendiri.

Untuk sesaat, tidak ada yang terdengar selain gemuruh kehancuran.

Kemudian keheningan turun.

Di antara puing-puing ruang ilusi, Isidore tergeletak di atas tanah. Tubuhnya dipenuhi debu, napasnya berat, dan pedang cahayanya telah kembali menjadi keris emas yang tergeletak beberapa langkah darinya.

Ia mencoba menggerakkan tangannya.

Kemudian perlahan bangkit.

"Aku... masih hidup."

Di hadapannya, sosok Cheon Myeong muncul dari kabut cahaya.

Sang ksatria berdiri tegak dengan ketenangan seorang prajurit yang telah melewati ribuan peperangan.

"Isidore," katanya, "kau terlalu banyak mengandalkan kekuatan serangan."

Isidore menatapnya.

"Padahal kekuatanku belum cukup untuk mengalahkan Rasvatar."

"Bukan itu persoalannya."

Cheon Myeong menggeleng.

"Seorang pendekar sejati tidak selalu menang dengan menahan serangan lawannya. Ada saat ketika pedang harus menghindar, bukan melawan."

Ia melangkah maju.

"Penghindaran adalah bagian dari kemenangan."

Kemudian Cheon Myeong bergerak.

Tidak ada suara langkah.

Tubuhnya tiba-tiba melesat seperti kilat.

Dalam satu kedipan mata ia telah berada puluhan langkah di depan Isidore. Kemudian tubuhnya berputar, melompat, dan seolah-olah menghilang dari dunia.

Di udara terbuka sebuah celah tipis seperti ruang kosong.

Cheon Myeong masuk ke dalamnya.

Sesaat kemudian ia muncul kembali di tempat lain.

Isidore membelalakkan mata.

"Itu..."

"Langkah Kosong Rasvatar."

Cheon Myeong berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Jangan melawan ruang. Gunakan kekosongan yang berada di antara dua tempat."

Isidore menarik napas panjang.

Ia mencoba meniru gerakan tersebut.

Sekali.

Gagal.

Dua kali.

Tubuhnya hanya bergerak beberapa langkah sebelum kehilangan keseimbangan.

Cheon Myeong tidak tertawa.

"Ulangi."

Isidore mencoba lagi.

Kali ini ia berlari lebih cepat.

Tubuhnya melesat seperti anak panah, kemudian melompat.

Sesaat sebelum menyentuh tanah, ia memusatkan seluruh pikirannya.

Ruang di hadapannya bergetar.

Sebuah celah kecil terbuka.

Isidore memasuki kekosongan itu.

Tubuhnya menghilang.

Namun hanya sesaat.

Ia muncul kembali beberapa langkah jauhnya dan jatuh berlutut.

Napasnya tersengal.

Cheon Myeong mengangguk.

"Lebih baik."

Di kejauhan, Raja Alam Wardana memperhatikan dengan wajah tenang.

"Jangan terburu-buru, Isidore. Klon Rasvatar memang jauh lebih kuat daripada dirimu saat ini. Tetapi bukan berarti ia tidak dapat dikalahkan."

Isidore menatap sang raja.

"Bagaimana caranya?"

"Berlatih."

Wardana tersenyum tipis.

"Jika kau terus berlatih hingga pikiran, tubuh, dan energi batinmu bergerak sebagai satu kesatuan, suatu hari kau akan mampu mengalahkan klon Rasvatar."

Di luar ruang latihan, Ki Surya Dahana berdiri terdiam.

Ia baru saja menyaksikan pertarungan tersebut.

Matanya masih tertuju pada kehancuran ruang ilusi.

"Mustahil..."

Ia menghela napas.

"Ruang ini dibangun untuk menahan energi para pendekar tingkat tinggi. Namun ledakan klon Rasvatar bahkan mampu menghancurkannya."

Ia menggeleng perlahan.

"Kalau Isidore terus berkembang seperti ini, ia sendiri bisa menjadi ancaman bagi ruang latihan ini."

Ki Surya Dahana kemudian berbalik menuju sebuah meja batu.

Di atasnya terdapat sebuah mangkuk keramik.

Ia telah menyiapkan ramuan herbal khusus untuk Isidore.

Cairannya berwarna hijau pekat. Uap tipis mengepul dari permukaannya dan aroma tumbuh-tumbuhan yang kuat memenuhi udara.

Ki Surya Dahana membawa mangkuk itu kepada Isidore.

"Minumlah."

Isidore memandang cairan tersebut dengan curiga.

"Ramuan apa ini, Guru?"

"Ramuan untuk mengembalikan tenaga."

Ki Surya Dahana menyerahkan mangkuk itu.

"Dan jangan banyak bertanya."

Isidore mencium aromanya.

Wajahnya langsung berubah.

"Bau ini..."

"Pahit."

Ki Surya Dahana tersenyum.

"Sangat pahit."

Isidore menatap gurunya beberapa saat.

Kemudian ia menarik napas dalam-dalam, menutup hidungnya, dan meneguk sedikit.

Wajahnya langsung mengernyit.

"Ugh..."

Ki Surya Dahana menahan tawa.

"Habiskan."

Isidore menutup mata.

Dengan keberanian seorang ksatria yang menghadapi naga, ia mengangkat mangkuk itu dan meminum seluruh ramuan sampai tetes terakhir.

Ia menurunkan mangkuk dengan wajah menahan kepahitan.

"Sudah."

"Bagus."

Ki Surya Dahana mengambil mangkuk tersebut.

Kemudian ia berjalan menuju sebuah dinding batu yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh Isidore.

Ia mengangkat tangannya.

Sebuah lingkaran cahaya hijau muncul di permukaan batu.

WUUUUMM...

Dinding itu bergetar.

Kemudian terbuka perlahan.

Di baliknya terbentang sebuah tempat latihan yang sama sekali berbeda.

Air mengalir dari tebing tinggi membentuk air terjun yang jernih. Sungai-sungai kecil bercabang dari aliran utama dan mengelilingi bebatuan besar. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air. Suara gemericik sungai terdengar seperti nyanyian yang menenangkan setelah pertempuran yang dahsyat.

Ki Surya Dahana menunjuk ke dalam.

"Masuklah."

Isidore melangkah mendekati pintu.

"Tempat apa ini?"

"Tempat untuk memulihkan tubuhmu."

Ki Surya Dahana memandangnya dengan serius.

"Jangan gunakan kekuatanmu untuk menyerang."

Ia menunjuk kepada air terjun.

"Duduklah di sana. Tenangkan pikiranmu. Kemudian alirkan energi batinmu ke seluruh tubuh."

Isidore mengangguk.

"Dan ramuan tadi?"

"Rasakan khasiatnya."

Ki Surya Dahana menatap mata Isidore.

"Jangan paksa tubuhmu. Biarkan ramuan itu mengalir bersama darah dan energi dalam tubuhmu. Air, udara, tanah, dan seluruh unsur di tempat itu akan membantumu."

Isidore kemudian berjalan menuju air terjun.

Ia duduk bersila di atas batu besar.

Air jatuh dari ketinggian dan menghantam tubuhnya.

BYURR!

Isidore memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak pertarungan melawan klon Rasvatar, ia tidak memikirkan pedang.

Tidak memikirkan kemenangan.

Tidak memikirkan kekalahan.

Ia hanya mendengarkan suara air.

Napasnya perlahan menjadi teratur.

Energi yang sebelumnya kacau mulai bergerak perlahan di dalam tubuhnya.

Dari dalam dadanya muncul cahaya putih yang sangat lembut.

Raja Alam Wardana mengamati dari kejauhan.

Cheon Myeong berdiri di sampingnya.

"Dia mulai memahami," ujar Cheon Myeong.

Wardana mengangguk.

"Ya."

Matanya tertuju kepada Isidore.

"Pertarungan melawan Rasvatar bukanlah akhir dari latihan ini."

Ia tersenyum tipis.

"Itu baru permulaannya."

Dan di bawah derasnya air terjun, Isidore terus bermeditasi, sementara kekuatan yang baru saja ia terima perlahan menyatu dengan tubuh dan jiwanya.
Chapter 121 Misi Pertama Isidore: Bangsa Zhar'Kor

Di bawah derasnya air terjun, Isidore tetap duduk dalam keheningan.

Air jatuh dari tebing tinggi, membasahi rambut dan jubahnya. Namun ia tidak bergerak sedikit pun.

Pikirannya telah kembali kepada pelajaran-pelajaran pertama yang diberikan Rasvatar.

Jangan melihat serangan.

Lihat niat yang melahirkan serangan itu.

Dahulu Isidore mengira seorang pendekar harus membaca arah pedang, gerakan kaki, atau perubahan posisi tubuh lawan. Namun Rasvatar mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Serangan hanyalah akibat.

Niat adalah awalnya.

Jika niat seorang musuh dapat dibaca sebelum tubuhnya bergerak, maka serangan yang paling cepat sekalipun tidak lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan.

Isidore menarik napas panjang.

"Fokus pada kehendak musuh... bukan pada serangannya."

Energi putih perlahan menyelimuti tubuhnya.

Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.

Tubuh Isidore bergetar.

Satu bayangan muncul di sampingnya.

Kemudian bayangan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Dalam beberapa saat, sepuluh sosok Isidore telah duduk bersila di sepanjang sungai.

Mereka semua memiliki wajah, pakaian, dan aura yang sama.

Sepuluh Isidore.

Sepuluh kesadaran.

Sepuluh tempat untuk belajar.

Namun kali ini ia tidak menggunakan teknik tersebut untuk bertarung.

Ia menggunakannya untuk belajar.

Di dalam ruang ilusi, sepuluh Isidore seolah kembali ke masa lampau.

Di hadapan mereka berdiri para guru Rasvatar.

Satu demi satu mereka mengajarkan ilmu yang berbeda.

Ada yang mengajarkan cara membaca gerakan tubuh.

Ada yang mengajarkan pengendalian napas.

Ada yang mengajarkan penggunaan unsur alam.

Ada yang mengajarkan seni pedang.

Ada yang mengajarkan cara menyembunyikan niat membunuh.

Ada yang mengajarkan bagaimana merasakan energi sebelum serangan dilepaskan.

Ada pula yang hanya mengajarkan satu hal sederhana:

Diam.

Para guru itu silih berganti datang.

Jumlah mereka mencapai seratus.

Bagi manusia biasa, mempelajari seluruh ilmu tersebut mungkin membutuhkan puluhan tahun.

Namun sepuluh Isidore mempelajarinya secara bersamaan.

Satu mempelajari langkah.

Satu mempelajari pernapasan.

Satu mempelajari pengendalian unsur.

Satu mempelajari pedang.

Satu mempelajari penghindaran.

Yang lainnya mempelajari cara membaca niat.

Setelah satu pelajaran selesai, pengetahuan itu mengalir kembali kepada Isidore yang lain.

Kemudian mereka mengujinya.

Gagal.

Mengulang.

Gagal lagi.

Mengulang kembali.

Sedikit demi sedikit, gerakan yang dahulu terasa asing mulai menjadi naluri.

Hari demi hari berlalu di dalam ruang ilusi.

Sepuluh Isidore berlatih tanpa mengenal lelah.

Mereka kemudian membawa seluruh ilmu itu ke tempat yang paling berbahaya dalam ingatan mereka.

Tempat Rasvatar menunggu.

Rasvatar berdiri sendirian di tengah lembah.

Sepuluh Isidore mengepungnya.

Namun kali ini mereka tidak menyerang terlebih dahulu.

Mereka mengamati.

Gerakan bahu.

Pernapasan.

Tatapan.

Getaran energi.

Bahkan perubahan kecil pada udara di sekitar Rasvatar.

Kemudian Isidore mulai memahami.

Niat datang sebelum gerakan.

Ketika Rasvatar berniat melangkah, Isidore sudah bergerak.

Ketika Rasvatar berniat menghunus pedang, Isidore telah menghilang.

Ketika Rasvatar hendak menggunakan energi, Isidore telah berpindah ke tempat lain.

Untuk pertama kalinya, Isidore tidak sekadar mencoba mengikuti Rasvatar.

Ia mulai memahami alasan di balik gerakan sang guru.

Di dunia nyata, Ki Surya Dahana memperhatikan semuanya dari kejauhan.

Ia terdiam.

Matanya perlahan membesar.

Di bawah air terjun kini terdapat sepuluh Isidore yang sedang bermeditasi.

Namun ada sesuatu yang lebih aneh lagi.

Seekor burung kecil terbang turun dan hinggap di kepala salah satu Isidore.

Beberapa saat kemudian, burung itu mulai membawa ranting.

Kemudian ranting lain.

Burung kedua datang.

Lalu burung ketiga.

Tidak lama kemudian, burung-burung itu mulai membuat sarang di atas kepala Isidore.

Ki Surya Dahana menggaruk kepalanya.

"Apakah kepalanya terlalu panas?"

Ia mengamati beberapa saat.

Atau mungkin..."

Ia menghela napas.

"Burung-burung itu mengira kepala Isidore adalah tempat paling aman di seluruh ruang latihan."

Ki Surya Dahana hampir tertawa.

Namun ia segera kembali serius.

Sebab ia menyadari bahwa apa yang dilakukan Isidore bukanlah meditasi biasa.

Anak muda itu sedang mempercepat proses pembelajaran dengan cara yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya.

Tiba-tiba udara berubah.

Cahaya putih muncul di belakang mereka.

Ki Surya Dahana menoleh.

Sosok tua berdiri di sana.

Rambutnya bergerak perlahan diterpa angin yang tidak berasal dari mana pun.

Tatapannya tenang.

Rasvatar telah datang.

Ia memandang sepuluh Isidore yang masih bermeditasi.

Beberapa saat ia tidak berkata apa-apa.

Kemudian tersenyum.

"Dia sudah siap."

Ki Surya Dahana menoleh.

"Siap untuk apa?"

Rasvatar memandang jauh ke dalam ruang ilusi.

"Untuk misi pertamanya."

"Misi?"

Rasvatar mengangguk.

"Bangsa Zhar'Kor."

Nama itu membuat wajah Ki Surya Dahana berubah serius.

Zhar'Kor.

Bangsa kosmik yang berasal dari planet Varkhos.

Mereka percaya bahwa logam bukan sekadar bahan mati.

Bagi mereka, logam adalah bentuk kehidupan tertinggi.

Tubuh mereka telah menyatu dengan mineral hidup. Tulang, darah, dan daging telah berubah menjadi jaringan logam yang mampu beregenerasi. Mesin bagi Zhar'Kor bukanlah sesuatu yang mereka ciptakan.

Mesin adalah tubuh mereka sendiri.

Rasvatar melanjutkan,

"Mereka telah mulai bergerak."

"Mereka sedang mencari sumber mineral langka di dunia kita."

Ki Surya Dahana mengepalkan tangan.

"Dan Isidore akan menghadapi mereka?"

"Bukan sendirian."

Rasvatar menoleh kepadanya.

"Siapkan pasukan khusus."

Ki Surya Dahana mengangguk.

"Aku sudah memilikinya."

Ia memberi isyarat kepada para penjaga.

Dari balik gerbang batu muncullah sekelompok ksatria elit.

Mereka mengenakan zirah hitam dan perak. Senjata mereka berbeda-beda, tetapi seluruhnya memiliki satu kesamaan: mereka bukan pasukan biasa.

Mereka telah melalui ritual penguatan tubuh dan memiliki kemampuan untuk bertahan dari luka yang seharusnya mematikan seorang manusia.

"Pasukan ini tidak mudah mati," ujar Ki Surya Dahana.

Rasvatar memandang mereka satu per satu.

Kemudian tatapannya kembali kepada Isidore.

"Aku tidak ingin kehilangan anak itu."

Ki Surya Dahana mengangguk.

"Jadi apa perintahmu?"

Rasvatar menjawab dengan suara tenang.

"Hancurkan pasukan Zhar'Kor yang menghalangi jalan kalian."

Ia berhenti sejenak.

"Habiskan kekuatan mereka."

Kemudian matanya berubah tajam.

"Tetapi jangan bunuh pemimpinnya."

Ki Surya Dahana memahami maksudnya.

"Pemimpin Zhar'Kor harus ditangkap hidup-hidup."

"Benar."

Rasvatar menatap Isidore yang masih duduk dalam meditasi.

"Kita membutuhkan jawaban."

Ia melangkah perlahan mendekati air terjun.

"Dan hanya pemimpin mereka yang dapat memberikannya."

Kesepuluh Isidore membuka mata secara bersamaan.

Sepasang mata mereka memancarkan cahaya keperakan.

Burung yang sedang membuat sarang di atas salah satu kepala Isidore terkejut dan terbang menjauh.

Isidore berdiri.

Kesepuluh sosok itu kemudian bergerak mendekat dan menyatu kembali menjadi satu tubuh.

Cahaya putih perlahan menghilang.

Isidore menatap Rasvatar.

"Guru."

Rasvatar mengangguk.

"Sudah waktunya."

Isidore mengambil keris emasnya.

"Ke mana kita pergi?"

Rasvatar memandang ke arah gerbang yang mulai terbuka.

"Ke tempat di mana logam hidup sedang bermimpi menjadikan dunia ini milik mereka."

Angin dingin berhembus dari balik gerbang.

Di kejauhan terdengar suara gemuruh seperti ribuan pedang baja bergesekan.

Rasvatar berkata,

"Selamat datang di perangmu yang pertama, Isidore."

Chapter 122 Bayang-Bayang Zhar'Kor di Lembah Besi

Di sebuah lembah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi, dahulu berdiri sebuah desa yang hidup dalam kedamaian.

Air sungai mengalir jernih dari celah-celah batu. Hutan tumbuh lebat di lereng gunung, dan pada pagi hari asap tipis mengepul dari rumah-rumah penduduk.

Namun kedamaian itu telah lama berlalu.

Kini lembah tersebut dipenuhi suara cangkul dan batu yang dihantam tanpa henti.

Tak! Tak! Tak!

Ratusan manusia bekerja sejak matahari terbit hingga langit berubah merah di ufuk barat.

Sebagian menggali tanah dengan cangkul.

Sebagian lain menggunakan sekop sederhana.

Bahkan mereka yang tidak memiliki alat menggali dengan tangan kosong, mencakar tanah hingga kuku mereka pecah dan telapak tangan dipenuhi luka.

Ada pula anak-anak yang diberi sendok dan peralatan kecil, mengais tanah di antara bebatuan untuk mencari serpihan logam atau batu permata.

Tanah yang telah digali dimasukkan ke dalam karung-karung besar.

Karung-karung itu kemudian dipanggul menuju tempat penampungan di tengah lembah.

Di sana tanah ditumpahkan ke atas saringan kayu.

Pasir dan tanah halus jatuh ke bawah, sementara serpihan logam dan batu berkilauan tertinggal di atasnya.

Setiap butir berharga segera dikumpulkan.

Bukan untuk keluarga mereka.

Bukan untuk desa.

Melainkan untuk para penguasa baru yang datang dari langit.

Di antara para pekerja berjalan makhluk-makhluk yang bentuknya tidak menyerupai manusia.

Tubuh mereka berkilauan seperti baja hitam.

Namun bentuknya dapat berubah.

Lengan mereka dapat memanjang menjadi bilah.

Jari-jari mereka dapat berubah menjadi alat penggali.

Dada mereka dapat membuka dan menutup seperti lapisan logam hidup.

Dan ketika berbicara, suara mereka terdengar nyaring dan bergema, seperti ribuan keping besi yang digesekkan satu sama lain.

Mereka adalah Zhar'Kor.

Bangsa kosmik dari Varkhos.

Mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang mereka bayangkan ketika pertama kali tiba di Bumi.

Sumber daya mineral yang melimpah.

Bagi Zhar'Kor, tanah Bumi bukanlah sekadar tanah.

Di dalamnya tersimpan besi, tembaga, emas, kristal, dan berbagai mineral yang dapat memperkuat tubuh mereka.

Maka mereka mengambil apa yang mereka inginkan.

Penduduk desa yang pada awalnya menolak segera dipaksa bekerja.

Namun Zhar'Kor tidak selalu menggunakan kekerasan.

Mereka menawarkan sesuatu.

"Kumpulkan logam," kata salah satu makhluk itu dengan suara nyaring.

"Setorkan kepada kami."

"Setelah jumlahnya cukup, kalian akan memperoleh kebebasan."

Sebagian penduduk mempercayainya.

Mereka bekerja lebih keras.

Setiap kali menemukan serpihan logam, mereka menyerahkannya kepada Zhar'Kor.

Sebagai imbalan, mereka menerima alat-alat sederhana.

Pisau.

Kapak.

Cangkul.

Semuanya terbuat dari besi yang jauh lebih kuat daripada peralatan yang pernah mereka miliki.

Bagi penduduk desa yang miskin, benda-benda itu tampak seperti hadiah luar biasa.

Namun perlahan mereka menyadari sesuatu.

Semakin banyak yang mereka gali, semakin banyak pula perintah yang diberikan.

Kebebasan yang dijanjikan tidak pernah datang.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Dan jumlah Zhar'Kor semakin bertambah.

Mereka mendirikan bangunan besar di tengah lembah.

Bangunan itu menjulang ke langit dalam bentuk bertingkat, menyerupai piramida raksasa yang terbuat dari batu hitam dan logam berkilauan.

Setiap lapisannya dipenuhi simbol asing yang bergerak seperti cahaya hidup.

Pada malam hari, seluruh bangunan memancarkan cahaya merah kebiruan yang terlihat hingga puncak gunung.

Penduduk desa mulai menyebutnya Piramida Besi.

Dan bersama bangunan itu, lahirlah sebuah keyakinan baru.

Sebagian penduduk mulai berbisik bahwa Zhar'Kor bukanlah bangsa asing.

Mereka adalah makhluk yang dikirim oleh langit.

"Mungkin mereka adalah dewa," bisik seorang tetua.

"Mereka datang dari bintang."

"Mereka memiliki tubuh yang tidak dapat ditembus senjata manusia."

"Mereka mampu menciptakan benda-benda yang belum pernah kita lihat."

"Mungkin para leluhur mengirim mereka untuk memimpin kita."

Bisikan itu menyebar.

Semakin banyak orang yang mempercayainya.

Dan semakin kuat keyakinan itu tumbuh, semakin sombong pula Zhar'Kor bertindak.

Mereka tidak lagi meminta.

Mereka memerintah.

Mereka tidak lagi memberikan hadiah.

Mereka menuntut upeti.

Setiap keluarga diwajibkan menyerahkan hasil tambang.

Setiap orang yang menolak dipaksa bekerja.

Bahkan tanah yang dahulu menjadi milik masyarakat mulai dianggap sebagai wilayah Zhar'Kor.

Gunung-gunung yang selama berabad-abad menjadi tempat mencari kayu dan berburu kini diberi tanda dengan simbol logam.

Hutan-hutan ditandai.

Sungai-sungai diperiksa.

Tanah digali semakin dalam.

Dan sedikit demi sedikit, lembah yang dahulu hijau berubah menjadi tanah kelabu penuh lubang.

Pada suatu sore, seorang anak kecil berhenti menggali.

Tangannya gemetar.

Ia memandang gunung yang telah kehilangan sebagian lerengnya.

"Apakah mereka benar-benar dewa?" tanyanya kepada ibunya.

Sang ibu tidak segera menjawab.

Ia melihat salah satu Zhar'Kor berdiri di atas bukit, tubuh logamnya memantulkan cahaya matahari.

Kemudian ia melihat tangan anaknya yang terluka.

"Entahlah," jawabnya lirih.

"Tetapi kalau mereka adalah dewa..."

Ia menundukkan kepala.

"...mengapa mereka membuat manusia begitu menderita?"

Di atas Piramida Besi, seorang Zhar'Kor berdiri memandang lembah.

Matanya menyala merah.

Di bawahnya, ribuan manusia terus menggali.

Dan di dalam kedalaman bumi, jauh di bawah kaki mereka, sesuatu yang jauh lebih besar mulai terbangun.

Sebuah cadangan mineral purba.

Sumber daya yang bahkan belum diketahui oleh manusia.

Zhar'Kor belum menyadari bahwa kedatangan mereka telah membangunkan perhatian lain.

Sebab di kejauhan, di balik pegunungan, seorang pemuda bersama pasukan khusus sedang mendekati lembah.

Isidore telah datang.

Chapter 123 Piramida besi 

Di jantung lembah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi, Piramida Besi akhirnya berdiri sempurna.


Menara hitam itu menjulang di antara kabut dan debu, permukaannya dipenuhi ukiran-ukiran asing yang berpendar redup seperti bara di dalam tungku. Tidak ada seorang pun manusia yang memahami untuk apa bangunan itu didirikan. Namun bangsa Zhar’Kor mengetahuinya dengan pasti.


Di dalam ruang terdalam Piramida Besi, Varghul Zhar berdiri di hadapan sebuah lingkaran mesin raksasa. Tubuh logamnya memantulkan cahaya merah dari inti mesin.


“Lembah ini belum memberikan seluruh kekayaannya,” suara Varghul Zhar bergema berat seperti besi yang digesekkan pada batu.


Ia menoleh kepada salah seorang pengikutnya.


“Kharzun Veyr. Engkau adalah Arkhon Mineral. Gali lebih dalam.”


Kharzun Veyr menundukkan kepalanya.


“Perintahmu akan dilaksanakan, Kaisar.”


Varghul Zhar mengangkat tangannya.


“Gunakan Piramida Besi. Biarkan tanah ini terbuka hingga ke urat mineral terdalamnya. Aku ingin seluruh logam yang tersembunyi di bawah lembah ini menjadi milik Zhar’Kor.”


“Kharz Veyron, Zhar’Kor Varnak.”


Metal adalah kehidupan. Zhar’Kor adalah penguasa.


Kharzun Veyr kemudian berjalan menuju pusat kendali.


Tangannya yang terbuat dari logam hitam menekan sebuah keping kristal.


Seketika terdengar suara gemuruh dari dasar Piramida.


GRAAAAMMM!


Mesin-mesin kuno Zhar’Kor mulai berputar.


Sementara itu, di luar Piramida Besi, Zhorak Kel berjalan di antara para manusia yang masih bekerja di tambang.


Hari itu, untuk pertama kalinya, tidak ada perintah untuk menggali.


“Berhenti bekerja!”


Suara Zhorak Kel menggema di lembah.


Para pekerja perlahan menghentikan cangkul mereka.


Beberapa bahkan tidak segera percaya. Mereka telah bekerja sejak matahari terbit. Tangan mereka terluka, punggung mereka terasa seperti patah, dan sebagian dari mereka hampir tidak sanggup berdiri.


Zhorak Kel mengangkat sebuah kantong kecil.


“Usai sudah pekerjaan kalian.”


Para penduduk saling berpandangan.


“Pulanglah ke rumah kalian masing-masing.”


Untuk sesaat, tidak seorang pun bergerak.


Mereka takut bahwa itu hanyalah tipu daya lain.


Kemudian Zhorak Kel melemparkan kantong-kantong kecil kepada mereka.


“Upah kalian.”


Di dalamnya terdapat cincin dan gelang dengan permata berkilauan.


Mata beberapa penduduk desa berbinar.


Sudah lama mereka tidak menerima sesuatu yang tampak begitu berharga.


Seorang lelaki tua menggenggam sebuah cincin.


“Apakah... ini benar-benar milik kami?”


Zhorak Kel hanya menjawab dingin.


“Ambillah.”


Tidak seorang pun mengetahui kebenaran yang tersembunyi di balik pemberian itu.


Pada bagian dalam setiap cincin dan gelang terdapat serpihan logam Zhar’Kor yang sangat kecil. Benda itu bukan perhiasan.


Ia adalah penanda.


Dengan benda-benda itulah Zhar’Kor dapat mengetahui keberadaan manusia yang telah mereka lepaskan dari tambang.


Para penduduk kemudian berjalan pulang.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jalan-jalan desa kembali dipenuhi manusia.


Namun kebebasan itu hanyalah bayangan.


Mereka tidak tahu bahwa mata Zhar’Kor masih mengikuti setiap langkah mereka.


Lalu bumi berguncang.


DUUUM!


Semua penduduk berhenti.


Dari kejauhan terdengar suara yang lebih dahsyat daripada gemuruh gunung.


Piramida Besi telah dihidupkan.


Kharzun Veyr berdiri di ruang kendali dengan kedua tangannya terangkat.


“Zarkh Morveth!”


Aktifkan seluruh persenjataan dan mesin penggalian.


Mesin itu menjawab dengan raungan panjang.


KRRRRAAAAKKK!


Tanah di sekitar Piramida Besi terangkat.


Debu membumbung ke langit seperti badai.


Batu-batu besar terbelah.


Kemudian sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.


Dari dalam perut bumi, urat-urat besi mulai mencair.


Emas yang tersembunyi di bawah lembah mengalir seperti sungai keemasan. Permata-permata pecah dari batu induknya, kemudian meleleh bersama logam lainnya.


Semua cairan mineral itu ditarik menuju Piramida.


Dinding bangunan mulai bergerak.


Lapisan besi hitam mengalir ke atas seperti kulit makhluk hidup.


Piramida itu tumbuh.


Semakin tinggi.


Semakin lebar.


Semakin besar.


Dalam waktu singkat, bangunan yang dahulu hanya menjulang beberapa puluh meter berubah menjadi sesuatu yang menyerupai gunung buatan manusia—sebuah gunung hitam yang berdenyut dengan cahaya merah dan emas.


Para penduduk memandangnya dengan ketakutan.


Sebagian berlutut.


Sebagian lainnya berlari menuju rumah.


Namun tidak seorang pun mengetahui bahwa sesuatu yang lain telah tiba di lembah itu.


Jauh di bawah tanah, tersembunyi di antara lapisan batu yang tidak pernah disentuh cangkul manusia, sebuah lorong kuno perlahan terbuka.


Lorong itu bukan buatan Zhar’Kor.


Ia adalah peninggalan Rasvatar.


Cahaya putih muncul dari kegelapan.


Isidore melangkah keluar terlebih dahulu.


Di belakangnya muncul sepuluh ksatria elit yang telah dipilih untuk mendampinginya.


Wiraguna Raksa membawa perisainya.


Tunggul Arcapada berdiri seperti benteng hidup.


Jayaningrat Wisesa mengepalkan tangannya.


Rudra Kertajaya dikelilingi percikan petir.


Niskala Adiprana hampir tidak meninggalkan suara ketika berjalan.


Mahendra Satyaka memandang ke arah Piramida Besi, mencari jejak energi kehidupan di dalamnya.


Isidore mengangkat wajah.


Di hadapan mereka, Piramida Besi menjulang seperti gunung hitam yang baru lahir dari perut bumi.


“Jadi itulah sarang mereka,” ujar Isidore.


Mahendra Satyaka mengangguk.


“Pemimpin mereka berada di dalam.”


Isidore menggenggam keris emasnya.


Cahaya putih perlahan merambat sepanjang bilahnya.


“Kalau begitu, kita tidak boleh membiarkannya melarikan diri.”


Ia mengingat pesan Rasvatar.


Kalahkan pasukan mereka. Tangkap pemimpinnya hidup-hidup.


Isidore menatap kesepuluh ksatria.


“Jangan kejar kehancuran. Kita membutuhkan pemimpinnya.”


Para ksatria mengangguk.


Lalu Isidore mengangkat tangannya.


“Sekarang.”


Dalam sekejap, mereka bergerak.


Niskala Adiprana menghilang lebih dahulu, menyusup ke dalam bayangan Piramida.


Wira Angkasa melesat ke udara dan mengirimkan tebasan angin yang menghantam para penjaga Zhar’Kor.


Rudra Kertajaya memanggil petir.


BRAAAKK!


Kilatan merah menghantam tanah dan melumpuhkan barisan prajurit Ferrum.


Dharma Nagara menghentakkan kakinya.


Dari bumi muncul rantai-rantai batu yang melilit kaki para Zhar’Kor.


Baskara Jayendra membuka matanya.


Cahaya keemasan menyambar dari pandangannya dan menghantam tubuh logam musuh.


Sementara itu, Tunggul Arcapada maju paling depan.


Tubuhnya berubah menjadi batu hitam.


Ia menghantam barisan Zhar’Kor seperti dinding gunung yang bergerak.


“Kharz Vekth!” teriak para Zhar’Kor.


“Zhar Voktar!”


Serangan balasan pun meledak.


Namun kali ini manusia tidak datang sebagai pekerja tambang.


Mereka datang sebagai pasukan.


Di tengah kekacauan itu, Isidore berjalan maju dengan tenang.


Mata Leluhur Mythopia terbuka.


Kedua matanya berubah menjadi perak.


Sekejap kemudian, dunia di hadapannya berubah.


Ia dapat melihat aliran energi di dalam tubuh para Zhar’Kor.


Ia melihat arah serangan.


Ia melihat kelemahan mereka.


Dan di balik seluruh kekacauan itu, ia melihat satu sosok yang berdiri di ruang tertinggi Piramida Besi.


Kharzun Veyr.


“Di sana,” kata Isidore.


Mahendra Satyaka tersenyum tipis.


“Kita menemukan Arkhon mereka.”


Isidore mengangkat pedangnya.


“Jangan bunuh dia.”


Kesepuluh ksatria bergerak serempak.


Hari itu, untuk pertama kalinya sejak lembah itu jatuh ke tangan Zhar’Kor, suara ketakutan bukan lagi milik manusia.


Untuk pertama kalinya, bangsa penakluk itu merasakan sesuatu yang selama ini mereka anggap mustahil.


Perlawanan.

Chapter 124 Pertempuran itu ternyata bukanlah pertempuran yang mudah.

Pedang berhadapan dengan makhluk yang tubuhnya terbuat dari besi hidup.

Setiap kali bilah pedang menebas tubuh seorang Zhar’Kor hingga terbelah, potongan logam itu tidak jatuh sebagai mayat. Potongan tersebut justru bergerak sendiri, merayap seperti makhluk hidup, lalu menyatu kembali dengan bagian tubuh yang terputus.

KLANG!

Jayaningrat Wisesa menebas seorang prajurit Ferrum hingga tubuhnya terbelah menjadi dua.

Namun belum sempat ia menarik napas, kedua bagian tubuh itu telah bergerak.

Logam hitam mengalir.

Retakan tertutup.

Tubuh Zhar’Kor kembali utuh.

Jayaningrat mengerutkan kening.

“Gila... mereka bisa menyambungkan tubuh mereka kembali.”

Ia mengepalkan tangan.

“Kalau begitu, aku tidak akan menghancurkan tubuhnya dari luar.”

Ia menghantamkan telapak tangannya ke dada seorang Zhar’Kor.

DUUM!

Gelombang getaran menembus logam.

Retakan muncul dari bagian dalam tubuh makhluk itu.

KRAAAK!

Untuk pertama kalinya, regenerasi Zhar’Kor melambat.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Tiba-tiba sebuah suara nyaring menggema di seluruh fasilitas tambang.

WOOOOOOOONNNNG!

Alarm benteng berbunyi.

Korzak Vhal, Komandan Baja, segera menoleh.

Mata logamnya menyala merah.

“Ada penyusup!”

Ia menghantamkan tinjunya ke panel kendali.

“ZARKH MORVETH!”

Aktifkan seluruh unit pertahanan!

Pintu-pintu baja di sepanjang kompleks tambang terbuka secara bersamaan.

Dari dalamnya keluar puluhan, kemudian ratusan prajurit Zhar’Kor.

Mereka membawa tombak logam, meriam energi, bilah yang tumbuh langsung dari lengan, dan tubuh-tubuh baja yang berkilauan di bawah cahaya merah Piramida.

Korzak Vhal berteriak,

“KHARZ VEKTH!”

Serang manusia!

Pasukan Zhar’Kor bergerak maju.

Namun mereka segera berhadapan dengan para ksatria elit Isidore.

Tunggul Arcapada telah berada paling depan.

Tubuhnya telah berubah menjadi batu hitam.

Ia menerjang barisan musuh seperti banteng raksasa.

BUUM!

Lima Zhar’Kor terpental.

“Majulah!” teriak Tunggul.

Di belakangnya, Sena Widyatama mengangkat tangannya.

Puluhan senjata melayang di udara.

Pedang, tombak, kapak, dan cakram berputar seperti kawanan burung pemangsa.

“Cakra Astra Widyatama!”

Senjata-senjata itu melesat.

SWUUSSH!

Satu demi satu prajurit Zhar’Kor dihantam dari berbagai arah.

Namun sebagian tubuh mereka mulai kembali menyatu.

Rudra Kertajaya kemudian maju.

Petir merah berputar di kedua lengannya.

“Kalau mereka dapat menyatukan tubuhnya kembali...”

Ia mengangkat tangannya.

“...maka kita harus menghentikan tenaga yang menggerakkan mereka.”

BRAAAKK!

Petir menghantam barisan Zhar’Kor.

Tubuh mereka mendadak kaku.

Logam yang sebelumnya bergerak mulai berhenti.

Potongan-potongan tubuh yang hendak menyatu kembali terdiam di tanah.

Jayaningrat melihat kesempatan itu.

“Sekarang!”

Ia menghantam musuh yang telah lumpuh.

DUUM!

Tubuh Zhar’Kor pecah menjadi kepingan-kepingan kecil.

Kali ini tidak ada regenerasi.

Rudra tersenyum tipis.

“Petir ini mengacaukan energi di dalam tubuh mereka.”

Namun dari kejauhan terdengar suara lain.

Suara seperti gunung yang sedang ditempa.

GROOOOMMM...

Rhazek Morv, Magister Tempa Hidup, berdiri di depan tungku raksasa.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam cairan logam merah membara.

“Jika prajurit biasa tidak mampu menghentikan mereka...”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Cairan besi terangkat dari tungku.

“...maka kita ciptakan sesuatu yang lebih besar.”

Logam cair berputar.

Membentuk tulang.

Membentuk otot.

Membentuk kepala.

Membentuk sepasang lengan raksasa.

BOOOOM!

Sosok raksasa bangkit dari tungku.

Titan Ferrum.

Makhluk itu menjulang seperti benteng berjalan. Tubuhnya terbuat dari baja hitam yang terus bergerak dan memperbaiki retakan pada permukaannya.

Rhazek Morv tertawa.

“Bangkitlah.”

Titan Ferrum mengeluarkan raungan logam.

GRRRAAAUUUUM!

Tunggul Arcapada menatap ke atas.

“Yang itu besar sekali.”

Sena Widyatama mengangkat senjata-senjatanya.

“Kalau begitu kita jatuhkan yang besar dahulu.”

Pertempuran menjadi semakin dahsyat.

Sementara itu, jauh di bagian terdalam Piramida Besi, Varghul Zhar mendengar semuanya.

KLANG!

BRAAAK!

GRAAAAM!

Suara besi beradu dengan besi mengguncang dinding.

Alarm terus meraung.

Varghul Zhar yang sedang mengawasi proses produksi akhirnya berdiri.

“Apa yang terjadi?”

Korzak Vhal menjawab melalui komunikasi energi.

“Benteng diserang, Kaisar!”

“Berapa jumlah mereka?”

“Tidak diketahui.”

Varghul Zhar terdiam sesaat.

Kemudian ia mendengar suara lain.

Ledakan.

Jeritan pasukan.

Suara logam yang dihancurkan.

Matanya menyala merah.

“Hentikan produksi.”

Mesin-mesin besar mulai berhenti.

“Semua unit bersiap perang.”

Namun perintah itu terlambat.

Semuanya telah berlangsung terlalu cepat.

Satu demi satu penjaga di luar Piramida Besi telah tumbang.

Pasukan elit Isidore telah menembus lapisan pertahanan yang selama ini dianggap tidak dapat ditembus.

Di tengah kekacauan itu, Isidore akhirnya tiba di dinding utama Piramida.

Ia mengangkat keris emasnya.

Cahaya putih keemasan menyelimuti bilahnya.

“Tebasan Fajar Semesta.”

WUSSSHHH!

Satu tebasan membelah dinding Piramida Besi.

Lubang besar terbuka.

Isidore melangkah masuk.

Di balik kepulan asap dan debu, seseorang berdiri.

Varghul Zhar.

Kaisar Zhar’Kor.

Untuk beberapa saat keduanya hanya saling memandang.

Varghul Zhar kemudian tertawa.

Suara tawanya terdengar seperti ribuan keping baja bergesekan.

“Jadi engkau pemimpin para manusia itu?”

Isidore tidak menjawab.

Varghul Zhar maju.

“Menarik.”

Ia memandang tubuh Isidore dari kepala hingga kaki.

“Daging.”

Ia menunjuk dada Isidore.

“Tulang.”

Kemudian ia mengepalkan tangannya.

“Makhluk lemah yang dapat hancur hanya dengan satu pukulan.”

Isidore tetap berdiri tenang.

Varghul Zhar mengangkat kepalanya.

“Sedangkan aku...”

Tubuhnya mulai berubah.

Baja hitam menjalar ke seluruh tubuhnya.

“...adalah bentuk kehidupan tertinggi.”

Lengannya berubah menjadi meriam.

“Tidak ada makhluk di alam semesta yang lebih kuat daripada Zhar’Kor.”

FWOOM!

Besi panas ditembakkan dari lengannya.

“MATI KAU, PENYUSUP!”

Isidore menghilang.

Peluru logam menghantam dinding belakang.

BOOOOM!

Varghul Zhar berbalik.

Tidak ada siapa pun.

Kemudian suara Isidore terdengar dari belakangnya.

“Seranganmu terlalu lambat.”

Mata Leluhur Mythopia bersinar perak.

Isidore menggunakan Langkah Kosong Rasvatar.

Tubuhnya memasuki ruang hampa sesaat, seolah-olah keberadaannya dipisahkan dari dunia.

Kemudian ia muncul tepat di belakang Varghul Zhar.

SLAAASH!

Satu tangan Varghul Zhar terputus.

SLAAASH!

Kedua kakinya tertebas.

Tubuh Kaisar Zhar’Kor jatuh.

Namun Varghul Zhar tidak mati.

Potongan tubuhnya bergerak.

Baja hitam mulai menyatu kembali.

“Tidak mungkin!”

Tubuhnya berubah lagi.

Kedua bahunya terbuka.

Puluhan laras senjata muncul.

Varghul Zhar berputar.

“KAU TIDAK AKAN MELARIKAN DIRI!”

FWOOM! FWOOM! FWOOM!

Peluru-peluru besi panas ditembakkan ke segala arah.

Seratus delapan puluh derajat.

Isidore kembali menghilang.

Ia memasuki ruang hampa.

Peluru-peluru itu melewati tempatnya berdiri beberapa saat sebelumnya.

Varghul Zhar menggeram.

“Di mana kau?!”

Tiba-tiba suara petir terdengar dari lorong.

BRAAAAAKKKK!

Petir merah Rudra Kertajaya menembus dinding Piramida.

Energi itu menghantam tubuh Varghul Zhar.

Untuk pertama kalinya, tubuh Kaisar Zhar’Kor berhenti bergerak.

Seluruh baja di tubuhnya bergetar.

Kemudian membeku.

Rudra berteriak dari kejauhan,

“Sekarang, Isidore!”

Isidore keluar dari ruang hampa.

Mata peraknya menatap tepat ke pusat energi Varghul Zhar.

Ia memahami bagaimana tubuh makhluk itu bekerja.

Ia tidak akan membunuhnya.

Ia harus menangkapnya hidup-hidup.

Isidore mengangkat kedua tangannya.

Cahaya putih mulai membentuk pola kuno di udara.

“Segel Maharsi Agung.”

Lingkaran cahaya muncul di bawah tubuh Varghul Zhar.

Kemudian lingkaran kedua muncul di atas kepalanya.

Yang ketiga mengunci tubuhnya dari belakang.

Varghul Zhar mencoba bergerak.

Tidak bisa.

Ia mencoba mengubah tangannya menjadi senjata.

Tidak berhasil.

Ia mencoba memulihkan tubuhnya.

Energinya terputus.

“Tidak!”

Untuk pertama kalinya, suara Varghul Zhar tidak terdengar seperti suara seorang penguasa.

Terdengar ketakutan.

Isidore melangkah mendekat.

“Pertempuran ini belum berakhir, Kaisar Zhar’Kor.”

Cahaya segel semakin terang.

“Karena aku tidak datang untuk membunuhmu.”

Isidore menatap mata merah Varghul Zhar.

“Aku datang untuk mengetahui mengapa kalian datang ke dunia kami.”

Cahaya putih meledak memenuhi ruangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak Zhar’Kor menginjakkan kaki di bumi, Kaisar mereka jatuh sebagai tawanan.

Chapter 125 Titan Ferrum

Di luar Piramida Besi, pertempuran belum berakhir.

Titan Ferrum mengamuk.

Makhluk baja raksasa itu berlari seperti banteng purba yang terlepas dari rantainya. Setiap langkahnya mengguncang tanah.


DUUM! DUUM! DUUM!


Ia menerjang tanpa mengenal arah.


Sawah-sawah yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan penduduk desa hancur dalam sekejap. Tanah yang telah ditanami berubah menjadi lumpur dan debu ketika kaki Titan Ferrum menginjaknya.


Pohon-pohon besar yang berada di jalurnya tidak mampu bertahan.


KRAAAK!


Satu pohon tumbang.


Kemudian pohon lainnya.


Titan Ferrum bahkan tidak memperlambat langkahnya. Ia menerobos hutan, menghantam batang-batang pohon dengan bahunya, lalu terus berlari menuju permukiman.


Para penduduk berteriak dan berlarian menyelamatkan diri.


“Lari!”


“Jangan ke arah lembah!”


“Makhluk itu akan menghancurkan desa!”


Namun sebelum Titan Ferrum mencapai rumah-rumah penduduk, Tunggul Arcapada berdiri di hadapannya.


Tubuh Tunggul telah berubah menjadi batu hitam.


Ia menjejakkan kedua kakinya ke tanah.


“Berhenti!”


Titan Ferrum tidak peduli.


Ia menundukkan kepalanya dan menerjang.


GRAAAAAAUM!


Tunggul mengangkat kedua tangannya.


BUUUUM!


Benturan dahsyat terjadi.


Tanah di bawah kaki Tunggul retak.


Tubuhnya terdorong beberapa meter ke belakang.


Namun ia tidak jatuh.


“Berat sekali...” gumamnya.


Titan Ferrum kembali menyerang.


Kali ini Jayaningrat Wisesa melompat ke atas tubuh raksasa itu.


Ia menghantam bagian dada Titan Ferrum dengan telapak tangannya.


GETAR VAJRA!


Gelombang getaran masuk ke dalam tubuh baja.


Retakan muncul di dada Titan Ferrum.


Tetapi makhluk itu segera memperbaiki dirinya.


“Regenerasinya terlalu cepat!” teriak Jayaningrat.


Rudra Kertajaya segera mengangkat kedua tangannya.


Petir merah menyambar dari langit.


BRAAAKKK!


Tubuh Titan Ferrum mendadak kaku.


Gerakannya terhenti selama beberapa detik.


“Sekarang!” teriak Rudra.


Dharma Nagara menghentakkan kakinya.


Dari dalam tanah muncul rantai-rantai batu raksasa.


KRAAAK!


Rantai pertama melilit kaki Titan Ferrum.


Kemudian rantai kedua.


Ketiga.


Keempat.


Namun kekuatan Titan Ferrum masih terlalu besar.


Ia meraung dan menarik seluruh rantai itu hingga tanah ikut terangkat.


Sena Widyatama kemudian mengangkat tangannya.


Puluhan senjata melayang di udara.


“Cakra Astra Widyatama!”


Senjata-senjata itu menghantam titik-titik persendian Titan Ferrum.


KLANG! KLANG! KLANG!


Gerakannya mulai melambat.


Tunggul Arcapada kembali menerjang.


Dengan seluruh kekuatannya, ia menghantam dada Titan Ferrum.


DUAAAAAM!


Raksasa baja itu akhirnya jatuh berlutut.


Namun ia masih mencoba bangkit.


Saat itulah Isidore datang.


Ia baru saja selesai menyegel kekuatan Varghul Zhar.


Isidore memandang Titan Ferrum yang mengamuk di tengah sawah yang telah hancur.


“Jangan bunuh makhluk itu.”


Para ksatria menoleh.


“Kita harus menangkapnya hidup-hidup.”


Isidore mengangkat keris emasnya.


Cahaya putih memenuhi bilahnya.


“Makhluk ini bukan sekadar prajurit. Ia adalah ciptaan Zhar’Kor.”


Ia melangkah maju.


“Mungkin dari tubuhnya kita dapat mengetahui bagaimana mereka menciptakan kehidupan dari logam.”


Mata Leluhur Mythopia terbuka.


Mata Isidore berubah menjadi perak.


Ia melihat aliran energi yang bergerak di dalam tubuh Titan Ferrum.


Ada sebuah inti merah di tengah dadanya.


“Di sana.”


Isidore menunjuk pusat tubuh Titan Ferrum.


“Inti kekuatannya.”


Rudra Kertajaya kembali memanggil petir.


Jayaningrat Wisesa menyiapkan Getar Vajra.


Dharma Nagara memperkuat rantai batu.


Sena Widyatama mengarahkan seluruh senjatanya ke tanah di sekitar Titan Ferrum.


Isidore mengangkat tangannya.


“Sekarang!”


Petir Rudra menghantam tubuh Titan Ferrum.


BRAAAAAKKK!


Pada saat yang sama, Jayaningrat menghantam dada makhluk itu.


DUUM!


Gelombang getaran mengacaukan aliran energinya.


Rantai Dharma Nagara mengikat seluruh tubuhnya.


Dan Isidore menghunus pedangnya.


“Segel Maharsi Agung.”


Lingkaran cahaya muncul di bawah Titan Ferrum.


Lingkaran kedua muncul di atas kepalanya.


Kemudian sebuah pola cahaya kuno terbentuk tepat di depan inti merah di dadanya.


Titan Ferrum meraung.


GRRRAAAUUUUM!


Tubuhnya mencoba bergerak.


Namun semakin ia melawan, semakin kuat cahaya segel membelenggunya.


Energi merah di dalam tubuhnya perlahan padam.


Baja yang sebelumnya terus bergerak menjadi diam.


Titan Ferrum akhirnya berhenti.


Tubuh raksasanya tetap berdiri beberapa saat.


Kemudian—


BUUM.


Ia berlutut.


Lalu seluruh tubuhnya membeku seperti patung baja.


Isidore menurunkan pedangnya.


“Sudah selesai.”


Para ksatria memandang raksasa yang kini tidak lagi bergerak.


Titan Ferrum tidak mati.


Ia telah kehilangan seluruh kekuatannya dan tersegel dalam tubuh bajanya sendiri.


Di tengah sawah yang rusak dan pepohonan yang tumbang, berdirilah Titan Ferrum seperti monumen perang—raksasa baja yang dahulu menjadi senjata Zhar’Kor, tetapi kini telah menjadi tawanan.


Isidore memandangnya sejenak.


“Bawa dia ke tempat yang aman.”


Jayaningrat mengangguk.

“Untuk apa?”

Isidore menjawab,

“Karena suatu hari nanti kita harus mengetahui bagaimana Zhar’Kor menciptakan makhluk seperti ini.”

Di kejauhan, Piramida Besi masih bergetar.

Tetapi untuk pertama kalinya, suara gemuruhnya tidak lagi terdengar seperti suara kemenangan.

Zhar’Kor telah kehilangan pasukannya.

Kaisarnya telah ditangkap.

Dan Titan Ferrum—senjata terbesar mereka di medan perang—telah jatuh ke tangan Isidore.

Chapter 126 Piala Perang dari Lembah Besi

Perjalanan pulang Isidore dan para ksatria elit berlangsung di bawah langit yang kelabu. Di belakang mereka, lembah yang dahulu dikuasai bangsa Zhar’Kor kini diliputi kesunyian. Piramida Besi masih menjulang di antara gunung-gunung, tetapi tidak lagi terdengar raungan mesin maupun langkah pasukan logam yang biasa menggetarkan bumi.

Kemenangan telah mereka raih, tetapi harga yang harus dibayar oleh penduduk lembah tidaklah kecil. Sawah-sawah telah hancur, pepohonan tumbang, dan tanah yang dahulu subur kini dipenuhi bekas galian serta kepingan logam.

Isidore berjalan di depan rombongan, menggenggam keris emasnya. Di belakangnya, para ksatria mengusung dua tawanan besar yang menjadi bukti kemenangan mereka: Titan Ferrum, raksasa baja menyerupai banteng, dan Varghul Zhar, Kaisar bangsa Zhar’Kor.

Titan Ferrum diikat pada sebuah rangka kayu raksasa yang dibuat dari batang-batang pohon kokoh. Beberapa ksatria menarik tali, sementara yang lain mendorong rangka itu melewati jalan berbatu. Tubuh baja makhluk tersebut begitu berat hingga tanah berderak di bawah beban yang mereka pikul.

Varghul Zhar dibawa dengan cara serupa, terkurung dalam lingkaran segel Maharsi Agung yang berpendar samar. Tubuh sang kaisar masih tersusun dari logam hitam, tetapi kekuatan yang dahulu mengalir di dalamnya kini terbungkam oleh mantra kuno.

Meskipun demikian, Isidore tidak membiarkan siapa pun lengah.

“Jangan menganggap segel ini sebagai jaminan bahwa kita telah menang sepenuhnya,” katanya kepada para ksatria. “Kekuatan Varghul Zhar berasal dari logam hidup. Selama inti kekuatannya belum benar-benar kita pahami, selalu ada kemungkinan ia menemukan jalan untuk memulihkan dirinya.”

Rudra Kertajaya menoleh kepada sang kaisar yang terbelenggu cahaya.

“Petirku telah mengacaukan aliran energinya, tetapi aku tidak tahu berapa lama keadaan itu akan bertahan.”

“Karena itulah kita akan membawanya kepada Rasvatar,” jawab Isidore. “Dialah yang mengetahui lebih banyak tentang bangsa-bangsa dari luar dunia kita.”

Jayaningrat Wisesa mempererat ikatan pada rangka kayu Titan Ferrum. Tunggul Arcapada berjalan di sampingnya, mengawasi setiap gerakan sang raksasa yang telah tersegel. Tak seorang pun ingin mengambil risiko membiarkan makhluk itu bangkit kembali di tengah perjalanan.

Mereka terus berjalan hingga tiba di kaki sebuah gunung terpencil. Di sanalah Rasvatar tinggal, jauh dari kerajaan dan permukiman manusia, di sebuah gua tua yang menyimpan rahasia dari zaman ketika dunia masih dikuasai oleh kekuatan-kekuatan yang tidak dikenal manusia.

Isidore berhenti di hadapan dinding batu yang tampak biasa.

Ia mengangkat keris emasnya. Cahaya putih menjalar dari bilahnya, menyusuri guratan-guratan samar yang tersembunyi di permukaan batu.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi berat dari kedalaman gunung.

GGRRRRMMMM...

Dinding itu terbelah perlahan, memperlihatkan sebuah pintu rahasia peninggalan Rasvatar. Ukiran kuno di sekelilingnya menyala satu demi satu, seolah mengenali kedatangan mereka.

“Masuklah,” ujar Isidore. “Kita tidak boleh membiarkan kedua tawanan ini berada terlalu lama di tempat terbuka.”

Para ksatria membawa Titan Ferrum dan Varghul Zhar melewati ambang pintu. Satu demi satu mereka menghilang ke dalam kegelapan gua, diterangi cahaya obor dan pancaran segel Maharsi Agung.

Ketika orang terakhir telah masuk, pintu batu itu menutup kembali.

Gunung kembali sunyi.

Jauh di lembah, Piramida Besi berdiri tanpa penjaga. Pasukan yang dahulu memenuhi lorong-lorongnya telah diluluhlantakkan. Mesin-mesin tempurnya terdiam, dan lambang kekuasaan Zhar’Kor yang terpampang di dinding kini hanya menjadi saksi bisu atas kehancuran yang menimpa para penakluk itu.

Namun jauh di dalam bangunan tersebut, masih tersisa satu cahaya.

Dan masih ada seseorang yang hidup.


Keesokan harinya, ketika kabut tipis menyelimuti lembah, seorang penduduk desa berdiri di hadapan Piramida Besi. Namanya tidak dikenal oleh siapa pun di antara para ksatria. Ia hanyalah seorang lelaki yang telah lama hidup di bawah kekuasaan Zhar’Kor dan kini ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam bangunan mengerikan itu.

Sejak pasukan logam menghilang, ia merasa ada sesuatu yang belum selesai.

Mengapa tidak ada seorang pun yang keluar?

Mengapa mesin-mesin yang biasanya meraung siang dan malam kini hanya menyisakan kesunyian?

Rasa takut menyuruhnya pulang. Namun rasa ingin tahu mendorongnya melangkah maju.

Dengan hati-hati, ia memasuki gerbang Piramida Besi.

Di lantai masih terdapat kepingan-kepingan logam, bekas benturan senjata, dan guratan hitam akibat sambaran petir. Di beberapa tempat, dindingnya retak, sementara percikan energi sesekali muncul dari celah-celah baja sebelum menghilang ke udara.

Lelaki itu mengenali tanda-tanda kehancuran tersebut. Ia pernah melihat bagaimana para ksatria menyerang pasukan Zhar’Kor, tetapi ia tidak pernah berani mendekat.

Kini, ia melangkah di antara sisa-sisa pertempuran itu dengan napas tertahan.

“Apakah semuanya benar-benar telah pergi?” bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Ia melewati beberapa lorong hingga tiba di sebuah ruangan yang jauh lebih besar daripada ruangan lain di dalam Piramida. Langit-langitnya begitu tinggi sehingga nyaris tak terlihat. Pilar-pilar logam berdiri di sepanjang dinding, dan di tengah ruangan terdapat sebuah kristal raksasa yang masih menyala.

Cahayanya berwarna merah keemasan.

Dari bagian bawah kristal itu, seberkas sinar menembus lantai dan menjalar jauh ke dalam bumi. Tanah terus berguncang pelan. Mesin penggalian masih bekerja, mengeruk mineral dari kedalaman yang tak terbayangkan.

Lelaki itu tertegun.

Jadi, meskipun para penguasa Piramida telah kalah, pekerjaan mereka belum berhenti.

Ia mendekati pusat ruangan. Di bawah kristal raksasa itu terdapat sebuah perangkat kendali, sebagian telah hancur oleh serangan para ksatria. Percikan listrik menyambar di antara kabel-kabel logam yang putus.

Lalu ia mendengar suara.

“Jangan... mendekat...”

Lelaki itu tersentak dan hampir terjatuh.

Di balik perangkat kendali, sesuatu bergerak.

Ia mengangkat obor dan mengarahkan cahayanya ke sudut ruangan.

Di sana tergeletak sesosok makhluk Zhar’Kor.

Makhluk itu adalah Vaelgor Kryn, Warden Kristal yang dahulu bertugas menjaga sumber energi dan mineral langka bagi bangsa Zhar’Kor. Namun tubuhnya telah hancur akibat pertempuran. Bagian bawah tubuhnya tidak lagi tersisa dalam bentuk yang utuh. Hanya bagian atasnya yang masih berfungsi, dengan satu lengan logam yang bergerak lemah dan sepasang mata kristal yang berpendar redup.

Vaelgor mengangkat kepalanya.

Cahaya matanya berkedip-kedip.

“Manusia...” desisnya.

Lelaki itu mundur beberapa langkah. Sepanjang hidupnya, ia telah diajari untuk takut kepada bangsa Zhar’Kor. Makhluk-makhluk itu telah merampas tanahnya, memaksanya menggali mineral, dan mengancam siapa pun yang berani melawan.

Kini salah satu dari mereka terbaring tak berdaya di hadapannya.

Vaelgor berusaha menggerakkan tubuhnya, tetapi hanya menghasilkan suara gesekan logam.

“Jangan... tinggalkan aku di sini.”

Lelaki itu menatapnya dengan curiga.

“Kalian telah menghancurkan desa kami,” katanya lirih. “Mengapa aku harus menolongmu?”

Vaelgor terdiam. Mata kristalnya meredup sejenak sebelum kembali menyala.

“Aku... tidak dapat menghentikan mesin itu,” jawabnya. “Jika inti kristal terus bekerja tanpa pengendalian, penggalian akan berlanjut hingga struktur Piramida runtuh. Seluruh lembah dapat tertimbun.”

Lelaki itu menoleh ke arah sinar yang menembus lantai.

Ia tidak mengetahui apakah Vaelgor berkata jujur atau sedang berusaha memperdayainya. Namun ia tahu bahwa tanah terus bergetar, dan bangunan itu dapat menjadi ancaman bagi seluruh penduduk desa.

Setelah berpikir sejenak, ia kembali mendekati makhluk tersebut.

Dengan susah payah, ia mengangkat bagian atas tubuh Vaelgor. Logam itu jauh lebih berat daripada tubuh manusia, dan ujung-ujungnya yang tajam hampir merobek pakaiannya. Ia terpaksa menggunakan sepotong kain tebal untuk membungkus bagian tubuh yang rusak sebelum mengangkatnya ke punggung.

Vaelgor mengeluarkan dengusan mekanis.

“Mengapa... kau melakukan ini?”

Lelaki itu tidak segera menjawab.

“Karena aku tidak ingin desaku hancur hanya karena kebencian,” katanya akhirnya. “Aku belum memutuskan apakah aku akan mempercayaimu. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu mati di sini sebelum aku mengetahui apa yang sedang kau lakukan.”

Ia kemudian meninggalkan ruangan itu, membawa Vaelgor keluar dari Piramida Besi.

Di belakang mereka, kristal raksasa terus menyala.

Sinar merah keemasan masih menembus perut bumi, sementara mesin-mesin penggalian bekerja tanpa henti.

Dan ketika lelaki itu membawa Vaelgor menuju rumahnya, ia belum menyadari bahwa keputusannya telah membuka jalan bagi rahasia lain—rahasia yang mungkin akan mengubah nasib seluruh lembah, bahkan hubungan manusia dengan bangsa Zhar’Kor.

Sebab tidak semua musuh yang kalah telah kehilangan segala rahasianya.

Dan tidak semua pertolongan akan berakhir dengan keselamatan.

Chapter 127 Vaelgor Kryn dan Janji dari Besi

Sore itu, ketika cahaya matahari mulai meredup di balik punggung gunung, Darsa Sukamerta tiba di rumahnya dengan membawa sesuatu yang dibungkus kain tebal. Langkahnya berat, napasnya tersengal, dan wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja mengalami sesuatu yang sulit dipercaya.


Euis, yang sedang memilah sisa beras di beranda, segera menoleh.


“Darsa! Apa yang kamu bawa dari dalam Piramida Besi itu?”


Darsa meletakkan bungkusan tersebut di tanah.


“Lihatlah sendiri, Euis.”


Ketika kain itu tersingkap, Euis menjerit kecil. Di hadapan mereka tergeletak bongkahan logam hitam yang memiliki sepasang mata kristal redup. Salah satu lengannya bergerak perlahan, menggesek tanah dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.


“Ya ampun, Darsa!” seru Euis sambil mundur. “Apa yang kamu lakukan? Itu bangsa Zhar’Kor! Mereka sudah menghancurkan sawah kita, merampas hasil panen, dan memaksa kita bekerja sampai hampir mati. Sekarang kamu malah membawa salah satu dari mereka ke rumah kita?”


“Tenanglah. Dia sudah tidak bisa berbuat banyak.”


“Tidak bisa berbuat banyak?” Euis menunjuk makhluk itu dengan gemetar. “Dia masih bergerak!”


Darsa terdiam sejenak, lalu buru-buru menjatuhkan bongkahan logam itu dari tangannya.


“Baiklah, baiklah!”


Logam itu jatuh ke tanah dengan bunyi berat.


KLANG!


Tiba-tiba, sebuah suara serak terdengar dari antara kepingan-kepingan logam tersebut.


“Namaku... Vaelgor Kryn.”


Euis hampir melompat ke belakang Darsa.


“Astaga! Dia bisa bicara!”


Vaelgor mengangkat kepalanya dengan susah payah. Cahaya pada matanya berkedip-kedip, sementara bagian tubuhnya yang tersisa tampak rusak parah.


“Aku adalah Warden Kristal bangsa Zhar’Kor. Tugasku menjaga kristal penggalian mineral di dalam Piramida Besi. Kumohon, bantulah aku mematikan mesin itu sebelum terlambat.”


Euis mendengus marah.


“Membantu kamu? Setelah semua yang telah kalian lakukan kepada kami?”


Ia melangkah maju dan menginjak tubuh logam Vaelgor beberapa kali.


“Lihat apa yang telah kalian perbuat! Sawah kami hancur! Pohon-pohon tumbang! Tanah yang sebentar lagi menghasilkan padi kini berubah menjadi lumpur dan lubang-lubang tambang. Kami bahkan tidak tahu apa yang akan kami makan bulan depan!”


“Euis, sudah!” Darsa segera menariknya menjauh.


Vaelgor tidak melawan. Ia hanya terbaring, menerima kemarahan perempuan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Aku mengerti kemarahanmu,” katanya akhirnya. “Namun aku bukan seorang prajurit. Aku seorang ilmuwan. Aku tidak pernah memimpin pasukan atau ikut bertempur. Tugasku hanya menciptakan dan memelihara mesin.”


Euis menyilangkan tangan.


“Lucu sekali. Mesin buatanmu menghancurkan sawah kami, tetapi kamu bilang tidak ikut berperang.”


Vaelgor menundukkan kepalanya.


“Aku tidak meminta kalian melupakan apa yang telah terjadi. Aku hanya meminta kesempatan untuk memperbaiki sebagian kerusakan yang bisa kuperbaiki.”


Darsa berjongkok di dekatnya.


“Tubuhmu tinggal separuh. Bagaimana mungkin kamu bisa memperbaiki mesin sebesar Piramida Besi?”


“Aku tidak memerlukan seluruh tubuhku untuk mengendalikan perangkat mekanis,” jawab Vaelgor. “Namun untuk menghentikan penggalian dan membangun alat baru, aku membutuhkan sesuatu.”


“Apa itu?”


“Perhiasan yang diberikan Zhorak Kel kepada penduduk desa.”


Darsa mengerutkan kening.


“Cincin dan gelang yang diberikan sebagai upah?”


“Benar. Di dalamnya terdapat organisme mikro dari bangsa Zhar’Kor. Benda-benda itu berfungsi sebagai penanda agar para pengawas dapat mengetahui keberadaan manusia yang telah mereka lepaskan dari tambang. Namun organisme tersebut juga dapat dipakai untuk menyusun kembali bagian tubuhku yang hilang.”


Euis menatapnya dengan jijik.


“Jadi selama ini kami memakai perhiasan yang bisa mengawasi kami?”


Vaelgor mengangguk pelan.


“Ya.”


Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Angin sore melewati halaman, membawa aroma tanah basah dari sawah yang telah rusak.


Darsa akhirnya berdiri.


“Kalau kami memberikan perhiasan itu, apa yang akan kamu lakukan?”


“Aku akan menghentikan mesin penggalian. Setelah itu, aku akan menciptakan alat yang dapat membantu kalian mengolah sawah dan memanen padi. Aku tidak bisa menjanjikan bahwa tanah kalian akan pulih dalam semalam, tetapi aku dapat membantu kalian memulainya.”


Euis tertawa pendek tanpa kegembiraan.


“Janji dari bangsa Zhar’Kor. Kita sudah pernah mendengarnya.”


“Aku tidak meminta kalian memercayai kata-kataku,” jawab Vaelgor. “Nilailah aku dari apa yang kulakukan.”


Darsa memandang Euis, lalu memandang makhluk logam itu.


“Aku akan mengumpulkan perhiasan dari warga desa. Tetapi jangan berharap mereka akan menyerahkannya dengan mudah.”


Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan, “Dan aku akan membawamu bersama-sama. Kalau kamu memang ingin membantu kami, biarlah seluruh warga mendengar sendiri apa yang kamu katakan.”

---

Membujuk penduduk desa ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan Darsa.


Di rumah pertama, seorang lelaki tua langsung menutup pintu begitu melihat Vaelgor.


Di rumah kedua, seorang pemuda mengangkat cangkul, bersiap menghantam makhluk logam itu.


“Bawa pergi monster itu!” teriaknya. “Kami tidak mau melihat bangsa Zhar’Kor lagi!”


Darsa berusaha menenangkan mereka. Namun ia tahu, setelah sekian lama hidup di bawah kekuasaan para penakluk, ketakutan tidak akan hilang hanya karena beberapa kata.


Akhirnya, ia menemukan cara lain.


“Dengarkan aku,” katanya kepada para penduduk yang berkumpul di balai desa. “Perhiasan yang kalian terima bukan sekadar benda berharga. Di dalamnya terdapat organisme yang digunakan untuk menandai keberadaan kalian. Siapa yang tahu apa akibatnya jika benda-benda itu terus dipakai?”


Beberapa penduduk saling berpandangan.


Darsa sendiri tidak mengetahui apakah organisme itu benar-benar berbahaya bagi tubuh manusia. Namun ia mengetahui bahwa perhiasan tersebut digunakan untuk mengawasi mereka, dan ia tidak ingin seorang pun terus hidup di bawah bayang-bayang penguasa yang telah pergi.


Ia lalu melanjutkan, “Vaelgor berjanji akan menghentikan mesin penggalian dan menciptakan alat untuk membantu kita mengolah tanah. Kita tidak harus memercayainya sekarang. Tetapi kita dapat memberinya kesempatan untuk membuktikan perkataannya.”


Setelah perdebatan panjang, satu demi satu penduduk mulai menyerahkan cincin dan gelang mereka.


Ada yang melakukannya dengan tangan gemetar. Ada pula yang melemparkannya ke dalam keranjang dengan wajah penuh kebencian.


Menjelang malam, Darsa berhasil mengumpulkan hampir seluruh perhiasan yang dibagikan Zhorak Kel.


Vaelgor mengamati tumpukan logam dan permata tersebut.

“Ini cukup,” katanya.

Ia menggerakkan satu-satunya lengannya yang masih berfungsi.

Sekejap kemudian, perhiasan-perhiasan itu mulai bergetar.

Cincin dan gelang terangkat dari keranjang. Permata-permata kecil memancarkan cahaya merah, sedangkan serpihan logam hitam bergerak saling mendekat seperti tertarik oleh magnet yang tak terlihat.

KRRRRIING!

Ratusan keping logam menyatu di udara.

Mula-mula terbentuk sebuah kerangka. Kemudian sendi-sendi, tulang-tulang mekanis, dan lapisan baja tumbuh di sekelilingnya. Dalam beberapa saat, bagian tubuh bawah Vaelgor terbentuk kembali.

Namun hasilnya jauh dari sempurna.

Kakinya panjang dan kurus, dengan sendi-sendi menonjol seperti tulang belulang. Jari-jari kakinya menyerupai cakar logam, sementara permukaan tubuhnya dihiasi permata yang dahulu menjadi perhiasan penduduk desa.

Euis menatapnya lama sekali.


“Darsa...”


“Apa?”


“Dia sekarang terlihat seperti tengkorak yang belajar berjalan.”


Vaelgor menoleh kepadanya.


“Bentuk ini bersifat fungsional.”


“Ya, tentu saja,” gumam Euis. “Mungkin menurut bangsa Zhar’Kor, tampang seperti itu indah.”


Darsa berusaha menahan tawa, tetapi akhirnya tertawa juga.

Bahkan Vaelgor tampak kebingungan mendengar mereka.

“Aku tidak memahami alasan kalian tertawa.”

“Tidak apa-apa,” jawab Darsa. “Itu pertanda baik. Sudah lama kami tidak punya alasan untuk tertawa.”

---

Keesokan paginya, Darsa dan beberapa penduduk desa mengantar Vaelgor kembali ke Piramida Besi.

Kali ini, mereka tidak datang sebagai pekerja tambang yang ketakutan. Mereka datang untuk melihat apakah makhluk yang pernah menjadi bagian dari kekuasaan Zhar’Kor itu benar-benar mampu menepati janjinya.

Piramida masih berdiri di tengah lembah, hitam dan sunyi. Namun jauh di dalamnya, kristal raksasa masih memancarkan sinar ke perut bumi.

Vaelgor berjalan tertatih-tatih menuju ruang kendali.

“Jangan mendekati kristal itu,” katanya. “Energinya belum stabil.”

Ia mengangkat tangannya.

Pilar-pilar mekanis bergerak. Panel-panel yang sebelumnya mati menyala kembali, dan rangkaian roda gigi berputar di balik dinding. Vaelgor menggerakkan jari-jarinya, mengendalikan perangkat itu seolah-olah seluruh Piramida merupakan perpanjangan dari tubuhnya sendiri.

“Penggalian dihentikan.”

Cahaya merah pada kristal raksasa berkedip-kedip.

Sinar yang menembus bumi perlahan mengecil.


Kemudian padam.


Untuk pertama kalinya sejak Piramida Besi dihidupkan, tanah di bawah kaki mereka tidak lagi bergetar.


Darsa mengembuskan napas panjang.


“Jadi, kamu benar-benar bisa melakukannya.”


Vaelgor menatapnya.


“Aku sudah berjanji.”


“Sekarang, bagaimana dengan sawah kami?”


Vaelgor berjalan menuju sebuah ruang penyimpanan di sisi lain bangunan. Di sana terdapat berbagai rancangan mekanis, beberapa di antaranya telah rusak akibat pertempuran.


Ia memilih sejumlah komponen, lalu menyusunnya di atas meja logam.


“Mesin penggalian yang digunakan bangsa Zhar’Kor dirancang untuk mengambil mineral dari tanah. Namun prinsip gerak mekanisnya dapat digunakan untuk tujuan lain.”


Ia mulai bekerja.


Jari-jarinya bergerak cepat. Roda gigi berputar, lengan mekanis tersambung, dan lempengan baja membentuk kerangka sebuah mesin baru.


Darsa dan penduduk desa menyaksikan dengan takjub.


Dalam waktu singkat, sebuah robot pertanian terbentuk. Bentuknya tidak menyerupai prajurit Zhar’Kor. Tubuhnya lebih sederhana, dengan kaki lebar agar tidak mudah terperosok ke lumpur, lengan mekanis untuk menggemburkan tanah, serta alat pengangkat yang dapat digunakan untuk memindahkan hasil panen.


Vaelgor menekan sebuah kristal kecil di bagian dada mesin.


Robot itu bergerak.


Mula-mula kaku, kemudian semakin lancar. Ia berjalan menuju tanah di luar Piramida dan mulai mengolah sebidang lahan yang belum sepenuhnya rusak.


Bilah-bilah mekanisnya membalik tanah. Sebuah lengan kecil memisahkan batu dan kepingan logam dari lumpur. Bagian lainnya meratakan permukaan lahan agar dapat ditanami kembali.


Seorang petani melangkah mendekat, tetapi segera berhenti ketika robot itu menoleh kepadanya.


“Apa dia akan menyerang kita?” tanyanya cemas.


“Tidak,” jawab Vaelgor. “Ia tidak memiliki senjata. Ia hanya akan menjalankan perintah pertanian.”


Darsa mengamati mesin itu bekerja.


“Bisakah kamu membuatnya membantu memanen padi?”


“Bisa. Namun kita harus memperbaiki tanah terlebih dahulu. Mesin ini tidak dapat mengembalikan kesuburan tanah yang telah hilang dalam satu hari.”


Darsa mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia mendengar seseorang dari bangsa Zhar’Kor berbicara tanpa menjanjikan kekayaan atau kekuasaan, melainkan menjelaskan apa yang benar-benar dapat dan tidak dapat dilakukan.


Euis berdiri di sampingnya, masih menjaga jarak dari robot itu.


“Aku tetap tidak suka melihat mesin-mesin seperti ini,” katanya. “Setiap kali mendengar suara logam, aku teringat tambang mereka.”


Vaelgor menundukkan kepalanya.


“Aku tidak dapat menghapus ingatan kalian. Tetapi aku dapat memastikan mesin yang kubuat tidak digunakan untuk memperbudak manusia.”


Euis memandang sawah yang mulai diratakan kembali.


“Kalau begitu, buktikanlah.”


“Akan kubuktikan.”


Hari-hari berikutnya, Vaelgor bekerja bersama penduduk desa. Ia membuat mesin untuk menggemburkan tanah, alat untuk mengangkat batu, dan perangkat sederhana untuk membantu menanam serta memanen padi. Para penduduk tetap berhati-hati. Mereka tidak segera melupakan penderitaan yang pernah mereka alami.


Namun sedikit demi sedikit, rasa takut mulai memberi tempat bagi rasa ingin tahu.


Anak-anak yang semula bersembunyi di balik pintu mulai berani mengamati robot pertanian dari kejauhan. Para petani belajar mengoperasikannya. Bahkan Euis, yang dahulu menginjak-injak tubuh Vaelgor karena marah, akhirnya bersedia membantunya menyiapkan benih.

Suatu sore, Darsa berdiri di tepi sawah yang mulai menghijau kembali.

“Apakah menurutmu manusia dan bangsa Zhar’Kor bisa hidup berdampingan?” tanyanya.

Vaelgor memandang cakrawala. Di kejauhan, Piramida Besi masih menjulang, tetapi kini mesin-mesinnya tidak lagi menggali perut bumi.


“Aku tidak bisa menjawab untuk seluruh bangsaku,” katanya. “Banyak dari mereka percaya bahwa logam adalah satu-satunya bentuk kehidupan yang layak berkuasa. Mereka mungkin tidak akan pernah menerima apa yang kita lakukan di sini.”

“Lalu bagaimana denganmu?”

Vaelgor menatap kedua tangannya yang terbuat dari baja dan permata.

“Aku dahulu percaya bahwa kecerdasan hanya berguna untuk menciptakan sesuatu yang lebih kuat. Sekarang aku mulai memahami bahwa menciptakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan mungkin jauh lebih sulit daripada menciptakan senjata.”

Darsa tersenyum tipis.

“Kalau begitu, mulailah dari sawah kami.”

Di bawah langit senja, robot pertanian itu terus bekerja. Untuk pertama kalinya, mesin yang berasal dari teknologi Zhar’Kor tidak digunakan untuk merampas kekayaan bumi, melainkan untuk membantu manusia menanam kembali kehidupan.

Dan di lembah yang pernah menjadi lambang penindasan itu, tumbuhlah harapan kecil—rapuh seperti tunas padi yang baru muncul dari tanah, tetapi cukup kuat untuk menantang bayang-bayang masa lalu.

Sebab perdamaian tidak lahir ketika semua orang melupakan luka mereka.

Perdamaian dimulai ketika seseorang yang pernah menjadi bagian dari kehancuran memilih untuk memperbaiki apa yang masih dapat diselamatkan.

Chapter 128 Sumpah Kaisar dari Baja

Jauh di dalam gunung terpencil, di tempat cahaya matahari tak pernah menyentuh lantai batu, Isidore akhirnya kembali ke gua persembunyian Rasvatar. Di belakangnya, para ksatria elit membawa tawanan yang dahulu ditakuti oleh bangsa-bangsa di antara bintang-bintang: Varghul Zhar, Kaisar Tertinggi Zhar’Kor.

Tubuh sang kaisar masih terkurung dalam Segel Maharsi Agung. Cahaya putih keemasan membentuk lingkaran-lingkaran di sekeliling tubuhnya, menahan setiap aliran energi yang berusaha bangkit dari dalam baja hitamnya.

Di ujung gua, Rasvatar berdiri di hadapan sebuah altar batu yang dipenuhi lambang-lambang kuno. Rambutnya yang pucat bergerak perlahan tertiup angin dari celah gunung. Matanya menatap Varghul Zhar tanpa rasa takut, seolah-olah ia sedang memandang kembali bayangan masa silam yang telah lama terkubur.

“Jadi, inilah penguasa bangsa Zhar’Kor yang membuat lembah itu menjadi lautan besi,” katanya.

Isidore menundukkan kepala.

“Benar, Guru. Namanya Varghul Zhar. Aku telah menyegel kekuatannya, tetapi aku tidak yakin segel itu akan mampu menahannya selamanya.”

Rasvatar mendekati tawanan itu. Ia mengangkat satu tangan dan menyentuh bagian dada Varghul Zhar, tepat di tempat inti energi makhluk tersebut bersemayam.

Cahaya perak menyebar melalui tubuh sang kaisar.

Sesaat kemudian, berbagai lambang kuno muncul di permukaan bajanya. Lambang-lambang itu berputar, lalu menghilang ke dalam logam hitamnya.

“Segel Maharsi Agung cukup untuk menahan kekuatanmu,” ujar Rasvatar. “Namun kekuatan yang berasal dari inti logam hidup tidak dapat dikekang hanya dengan satu lapis segel. Aku akan membuat segel khusus yang mengikat inti energimu, mengunci kemampuan regenerasimu, dan mencegahmu mengubah tubuhmu menjadi senjata.”

Rasvatar menggerakkan kedua tangannya.

Tujuh lingkaran cahaya terbentuk mengelilingi Varghul Zhar. Setiap lingkaran memiliki ukiran berbeda, tetapi semuanya bertemu pada satu lambang yang terletak di dada sang kaisar.

Segel Maharsi Agung telah diperkuat.

Kini, bahkan jika Varghul Zhar mencoba melepaskan diri, kekuatannya akan terhenti sebelum mencapai inti tubuhnya.

Tak lama kemudian, mata merah sang kaisar terbuka.

Ia telah sadar.

Untuk beberapa saat, Varghul Zhar hanya memandang langit-langit gua. Lalu ia menoleh ke arah Rasvatar, menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di Piramida Besi dan tidak lagi dikelilingi oleh pasukan yang tunduk pada perintahnya.

Ia mencoba menggerakkan tangannya.

Tidak ada yang terjadi.

Sang kaisar menundukkan kepala.

“Aku telah kalah.”

Rasvatar berdiri tegak di hadapannya.

“Kau telah kalah dalam pertempuran. Namun yang ingin kuketahui bukanlah bagaimana kau menerima kekalahan, melainkan apa yang akan kau lakukan setelahnya.”

Varghul Zhar mengangkat wajahnya.

“Apakah kalian hendak memulai perang yang sama seperti seribu tahun silam?”

Pertanyaan itu menggema di dalam gua.

Isidore menoleh kepada Rasvatar. Ia belum pernah mendengar gurunya berbicara dengan nada sedemikian berat.

Rasvatar melanjutkan, “Seribu tahun yang lalu, bangsa-bangsa dari luar dunia datang membawa janji, senjata, dan kehancuran. Banyak kerajaan jatuh. Banyak pejuang gugur. Dan sejarah manusia hampir berakhir dalam api perang antarbintang.”

Ia menatap langsung mata sang kaisar.

“Apakah bangsa Zhar’Kor akan mengulangi semua itu?”

Varghul Zhar terdiam cukup lama.

Kemudian ia menundukkan kepalanya lebih dalam.

“Aku tidak mengetahui bahwa Bumi telah memiliki seorang penguasa yang menjaga keseimbangan dunia ini. Aku juga tidak mengetahui bahwa bangsaku pernah berperang di sini seribu tahun yang lalu.”

Rasvatar menyipitkan mata.

“Kau seorang kaisar. Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui sejarah bangsamu sendiri?”

“Karena sejarah itu telah dihapus.”

Kesunyian menyelimuti gua.

Varghul Zhar menarik napas, meskipun tubuhnya tidak membutuhkan udara seperti makhluk berdarah.

“Para pendahulu kami menghapus catatan tentang kekalahan perang pada zaman dahulu. Mereka tidak ingin generasi setelahnya mengetahui bahwa bangsa Zhar’Kor pernah ditaklukkan. Catatan-catatan sejarah dimusnahkan, ingatan tentang perang disembunyikan, dan nama-nama mereka yang gugur dihapus dari arsip kekaisaran.”

Ia berhenti sejenak.

“Ketika aku naik takhta, yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa bangsa kami tidak pernah terkalahkan. Kami dibesarkan dengan ajaran bahwa logam adalah kehidupan tertinggi dan bahwa segala sesuatu di alam semesta dapat menjadi milik kami.”

Tatapan Varghul Zhar meredup.

“Sekarang aku mengetahui bahwa ajaran itu dibangun di atas kebohongan.”

Rasvatar tidak segera menjawab. Ia telah menyaksikan begitu banyak bangsa bangkit dan runtuh, tetapi pengakuan seorang penguasa yang bahkan tidak mengetahui dosa para pendahulunya tetap membawa kepedihan tersendiri.

“Apakah kau juga tidak mengetahui bahwa perang besar akan kembali terjadi di Bumi, sebagaimana seribu tahun yang lalu?” tanyanya.

“Tidak,” jawab Varghul Zhar. “Tidak ada catatan tentangnya dalam ingatan yang diwariskan kepada kami. Jika ada yang mengetahui ramalan itu, mereka telah membawanya ke liang kubur.”

Rasvatar berpaling sesaat. Di dinding gua, cahaya dari kristal tua menyingkap peta bintang yang telah berusia ribuan tahun.

“Kalau begitu, bangsamu telah kehilangan lebih dari sekadar sumber daya. Mereka telah kehilangan ingatan tentang kesalahan mereka sendiri.”

Varghul Zhar tidak membantah.


Rasvatar kembali menghadap sang kaisar.

“Sekarang pasukanmu telah dihancurkan. Piramida Besimu telah ditaklukkan, para panglimamu telah tumbang, dan kekuatanmu sendiri berada di bawah segelku. Katakan kepadaku, Varghul Zhar: apakah kau akan memanggil pasukan baru untuk kembali menyerang Bumi?”

Varghul Zhar terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menjawab sebagai seorang penguasa yang hendak mempertahankan harga dirinya.

Ia menjawab sebagai pemimpin sebuah bangsa yang sedang menuju kehancuran.

“Planet kami, Varkhos, berada di ambang kematian.”

Isidore mendengarkan dengan saksama.

“Urat-urat mineral yang dahulu memberi kehidupan kepada bangsa kami telah habis. Tungku-tungku besar mulai padam. Kapal-kapal kami tidak lagi dapat melakukan perjalanan jauh, dan banyak wilayah kekaisaran telah berubah menjadi padang logam yang dingin. Kami mencari sumber energi baru karena jika tidak, bangsa kami akan lenyap.”

Ia mengangkat kepalanya.

“Kami tidak datang ke Bumi semata-mata karena ingin menaklukkannya. Kami datang karena tidak memiliki pilihan lain yang kami ketahui.”

“Tidak memiliki pilihan?” tanya Rasvatar dingin. “Kalian memaksa manusia menggali tanah, merampas hasil bumi mereka, dan membangun Piramida Besi untuk menguras kekayaan planet ini. Apakah itu yang kau sebut tidak memiliki pilihan?”

Varghul Zhar menunduk.

“Tidak ada pembenaran untuk apa yang telah kami lakukan.”

Ia melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Kami memperoleh koordinat Bumi dari bangsa Kragmora. Mereka menjual seorang manusia sebagai budak, dan melalui manusia itulah kami memperoleh petunjuk menuju dunia ini. Kami mengikuti koordinat tersebut tanpa mengetahui seluruh sejarah yang menghubungkan planet ini dengan bangsa kami.”

Rasvatar mengepalkan tangannya.

“Bangsa Kragmora... Mereka kembali mempermainkan nasib dunia lain demi kepentingan mereka sendiri.”

Ia teringat berbagai perang yang pernah disaksikannya. Bangsa-bangsa dari luar angkasa sering kali tidak datang sendirian; mereka membawa keserakahan, rahasia, dan permusuhan yang dapat menjalar dari satu dunia ke dunia lain.

“Namun ketidaktahuan tidak menghapus tanggung jawab,” ujar Rasvatar. “Kau tetap harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan pasukanmu kepada manusia.”

“Aku menerimanya.”

“Dan bagaimana nasib bangsamu setelah pasukanmu dihancurkan? Apakah kau akan memanggil bala tentara baru dan kembali menumpahkan darah di Bumi?”

Varghul Zhar menggeleng.

“Kami tidak lagi memiliki pasukan yang dapat dipanggil dalam jumlah besar. Cadangan mineral kami telah habis. Kapal-kapal perang kami kekurangan energi, dan para pekerja kami tidak mampu lagi membuat persenjataan baru. Bahkan jika aku bebas hari ini, aku tidak dapat mengumpulkan kekuatan seperti sebelumnya.”

Ia memandang Isidore.

“Namun aku masih dapat menciptakan pasukan baru. Sebagai Kaisar Zhar’Kor, aku mengetahui cara membentuk tubuh logam hidup, membangun kerangka mekanis, dan menghidupkan kembali mesin-mesin perang.”

Isidore segera menegang, tetapi Rasvatar mengangkat tangan, memintanya tetap diam.

Varghul Zhar melanjutkan.

“Aku tidak akan menggunakan kemampuan itu untuk menaklukkan Bumi. Jika kau mengizinkanku membantu, aku akan menciptakan pasukan yang dapat berperang di pihak kalian ketika ancaman berikutnya datang. Pasukan itu dapat melindungi manusia, menghadapi bangsa-bangsa penyerbu, dan membangun kembali teknologi yang telah hancur.”

Rasvatar menatapnya lama sekali.

“Jadi, kau meminta izin untuk menambang sedikit mineral di Bumi agar dapat menyelamatkan bangsamu, sekaligus menawarkan pasukanmu untuk membantu perang yang akan datang?”

“Ya.”

“Dan jika aku menolak?”

Varghul Zhar menundukkan kepalanya.

“Maka aku akan menerima keputusanmu. Aku tidak memiliki hak untuk menuntut sesuatu dari dunia yang telah kami lukai.”

Jawaban itu membuat Isidore terdiam.

Ia teringat para penduduk desa yang sawahnya telah dihancurkan, anak-anak yang kelaparan, dan para petani yang dipaksa bekerja di tambang. Ia tidak dapat melupakan penderitaan mereka hanya karena sang kaisar kini berbicara dengan rendah hati.

Namun ia juga tahu bahwa perang yang lebih besar mungkin sedang mendekat. Jika Rasvatar benar, Bumi membutuhkan setiap sekutu yang dapat dipercaya—dan setiap keputusan yang diambil sekarang dapat menentukan nasib dunia pada masa mendatang.


Rasvatar akhirnya melangkah mendekati Varghul Zhar.

“Aku tidak akan memberikan kebebasan kepadamu hanya karena kata-katamu terdengar meyakinkan. Aku telah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa sumpah dapat diucapkan oleh siapa saja, tetapi hanya sedikit yang sanggup menanggung akibatnya.”

Ia mengangkat satu tangan. Segel pada dada Varghul Zhar menyala terang.

“Dengarkan baik-baik, Kaisar Zhar’Kor. Jika kau berkhianat, jika kau kembali memerintahkan pasukanmu menyerang manusia, atau jika kau menggunakan mineral Bumi untuk membangun kekuatan penaklukan, segel ini akan mengunci inti energimu sepenuhnya. Kau tidak akan mampu bergerak, memulihkan tubuhmu, ataupun memerintah pasukanmu.”

Rasvatar menatapnya tanpa berkedip.

“Dan jika kau sengaja melanggar sumpahmu, hukumannya adalah kematian.”

Varghul Zhar menundukkan kepala hingga cahaya merah di matanya hampir tak terlihat.

“Aku memahami hukuman itu.”

“Kalau begitu, bersumpahlah.”

Sang kaisar mengangkat wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Bumi, ia tidak berbicara atas nama keagungan Zhar’Kor, tidak pula mengatasnamakan hak bangsa logam untuk menguasai dunia lain.

Ia berbicara sebagai seorang pemimpin yang telah kehilangan pasukannya, kekuasaannya, dan keyakinan yang selama ini membentuk seluruh hidupnya.

“Aku, Varghul Zhar, Kaisar bangsa Zhar’Kor, bersumpah setia kepada pemimpin yang menjaga Bumi dan kepada perintah Rasvatar selama aku berada di bawah perlindungannya. Aku tidak akan mengangkat senjata untuk menaklukkan dunia ini, tidak akan memperbudak manusianya, dan tidak akan mengambil mineral tanpa izin.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Jika perang yang dahulu kembali mengancam Bumi, aku akan mengerahkan pengetahuanku dan kekuatan yang masih kumiliki untuk membantu mempertahankannya. Aku akan membangun pasukan untuk melindungi, bukan untuk menaklukkan. Jika aku mengkhianati sumpah ini, aku menerima hukuman yang telah kau tetapkan.”

Cahaya putih memenuhi gua.

Segel Maharsi Agung bergetar, lalu menyatu dengan lambang baru yang terukir di dada Varghul Zhar.

Rasvatar menurunkan tangannya.

“Baiklah. Aku menerima sumpahmu, tetapi kepercayaan tidak akan diberikan dalam sehari. Kau akan tetap berada di bawah pengawasan kami. Setiap langkahmu akan dinilai dari perbuatanmu, bukan dari janji yang kau ucapkan.”

Varghul Zhar menundukkan kepalanya sekali lagi.

“Aku mengerti.”

Isidore akhirnya melangkah maju.

“Jika kau sungguh-sungguh ingin membantu Bumi, mulailah dengan memperbaiki apa yang telah dihancurkan bangsamu. Penduduk lembah itu tidak membutuhkan senjata baru. Mereka membutuhkan tanah yang dapat ditanami, rumah yang aman, dan kehidupan yang tidak lagi dikuasai ketakutan.”

Varghul Zhar menatap sang pemuda.

“Aku akan melakukannya.”

“Jangan berjanji terlalu cepat,” kata Isidore. “Buktikan dahulu.”

Sang kaisar mengangguk.

Di dalam gua tua peninggalan zaman purba itu, sebuah perjanjian baru telah dimulai. Tidak ada mahkota yang diserahkan, tidak ada sorak kemenangan yang terdengar, dan tidak ada pesta untuk merayakan berakhirnya perang.

Hanya ada seorang kaisar yang kehilangan kerajaannya, seorang penjaga kuno yang mengetahui rahasia masa silam, dan seorang pemuda yang harus menentukan apakah musuh yang telah menyerah layak diberi kesempatan kedua.

Namun Rasvatar mengetahui sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami Isidore.

Kekalahan Zhar’Kor bukanlah akhir dari ancaman yang akan datang.

Di antara bintang-bintang, bangsa-bangsa lain masih bergerak. Kragmora masih menyimpan ambisinya. Nyxar masih mengincar cahaya dunia. Dan kekuatan-kekuatan purba yang pernah mengguncang Bumi belum tentu melupakan jalan menuju planet ini.

Perang seribu tahun silam mungkin akan terulang.

Tetapi kali ini, sejarah tidak harus berakhir dengan cara yang sama.

Sebab di hadapan mereka kini berdiri seorang kaisar dari baja yang telah bersumpah untuk mengubah arah bangsanya—dan masa depan akan membuktikan apakah sumpah itu lahir dari penyesalan yang tulus, atau hanyalah awal dari sebuah pengkhianatan yang lebih besar.

Chapter 129  Kebangkitan Para Penguasa Baja

Jauh di dalam gua persembunyian Rasvatar, di antara dinding batu purba yang menyimpan rahasia ribuan tahun, Varghul Zhar mulai melaksanakan sesuatu yang belum pernah disaksikan oleh mata manusia.

Sang Kaisar Zhar’Kor berdiri di hadapan Titan Ferrum, raksasa baja berbentuk banteng yang telah disegel oleh Isidore dan para ksatria elitnya. Tubuh makhluk itu terbaring kaku di atas lantai batu, dengan lambang Segel Maharsi Agung yang masih memancarkan cahaya putih pada inti kekuatannya.

Di sekelilingnya, tujuh lingkaran energi membentuk pola rumit. Cahaya kristal dari langit-langit gua memantul pada permukaan baja hitam, menciptakan bayangan yang seolah bergerak sendiri.

Isidore berdiri tidak jauh dari Rasvatar, mengamati setiap gerakan sang kaisar.

“Apa yang hendak kau lakukan terhadap Titan Ferrum?” tanyanya.

Varghul Zhar menoleh.

“Aku akan membongkarnya.”

Isidore mengerutkan kening.

“Membongkar makhluk sebesar itu? Bukankah kau telah berjanji untuk membantu kami membangun kekuatan pertahanan, bukan menghancurkan apa yang masih tersisa?”

“Titan Ferrum telah menyelesaikan tugasnya sebagai senjata perang,” jawab Varghul Zhar. “Namun tubuhnya menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kekuatan tempurnya. Di dalam baja hidupnya terdapat materi genetik asli bangsa Zhar’Kor, termasuk pola pembentukan tubuh dan inti energi yang diperlukan untuk membangkitkan kembali para penguasa yang telah gugur.”

Ia meletakkan telapak tangannya pada dada sang raksasa.

“Sebagai Kaisar Zhar’Kor, hanya akulah yang memiliki wewenang dan kemampuan untuk membangun kembali bawahanku. Tidak ada Arkhon, Panglima, ataupun Magister yang dapat melakukan hal ini tanpa kekuatanku.”

Rasvatar mengamati dari kejauhan. Wajahnya tetap tenang, seolah-olah ia telah mengetahui apa yang akan terjadi bahkan sebelum Varghul Zhar mengucapkan sepatah kata pun.

“Lanjutkan,” katanya. “Namun ingat sumpahmu. Kekuatan yang kau bangkitkan di tempat ini harus menjadi pelindung, bukan alat untuk menindas.”

Varghul Zhar menundukkan kepala.

“Aku mengingat sumpahku.”

Kemudian ia mengangkat kedua tangannya.

VRAAAAAAMMM!

Mata Titan Ferrum menyala merah.

Cahaya itu begitu terang hingga memenuhi seluruh ruangan. Tubuh raksasa tersebut mulai bergetar, sementara suara gesekan logam bergema di antara dinding gua. Segel pada dadanya menyala semakin kuat, tetapi tidak pecah. Varghul Zhar bekerja di dalam batas-batas kekuatan yang telah diizinkan Rasvatar.

Lalu sesuatu yang luar biasa terjadi.

Kedua kaki Titan Ferrum terlepas dari tubuhnya.

KLANG! KLANG!

Kepingan-kepingan baja itu melayang di udara, kemudian terurai menjadi ribuan serpihan kecil. Serpihan tersebut berputar, menyatu, dan membentuk kerangka baru. Sendi-sendi tumbuh dari logam cair, diikuti lapisan otot mekanis dan kulit baja hitam.

Kepala Titan Ferrum ikut terangkat.

Tanduk-tanduknya pecah menjadi kepingan logam yang berputar seperti pusaran badai. Dari pusaran itu terbentuk sebuah tengkorak baja, lalu wajah seorang prajurit dengan mata merah menyala.

Sementara itu, badan sang raksasa membelah menjadi dua bagian.

Dari dalamnya menyembur aliran petir berwarna merah dan keemasan.

BRAAAAAKKK!

Petir menyambar dinding gua, menerangi ukiran kuno yang selama berabad-abad terpendam dalam kegelapan. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit. Para ksatria yang berjaga segera mengangkat senjata, mengira proses itu telah berubah menjadi serangan.

“Tenang!” seru Rasvatar. “Jangan menyerang. Itu adalah energi pembentukan tubuh mereka.”

Isidore menatap dengan mata terbelalak.

Dari setiap bagian Titan Ferrum, terbentuk sosok baru.

Mula-mula muncul kerangka, kemudian otot-otot logam, lalu lapisan baja yang menyelimuti seluruh tubuh. Di dalam dada masing-masing sosok, sebuah inti energi mulai menyala.

Varghul Zhar berdiri di tengah pusaran serpihan baja.

Dari tubuhnya mengalir benang-benang cahaya merah yang menjulur menuju setiap sosok yang sedang dibentuk. Cahaya itu membawa pola genetik bangsa Zhar’Kor—DNA hidup yang menyimpan rancangan tubuh, ingatan dasar, dan susunan energi mereka.

“Bangkitlah,” perintahnya. “Kembalilah ke dunia yang belum selesai kita lindungi.”

Cahaya semakin terang.

Sosok pertama membuka mata.

Zhaerak Vorn, sang Maha-Wakil Baja, telah kembali.

Empat lengannya bergerak perlahan. Logam pada setiap telapak tangannya berubah bentuk, membentuk bilah dan tombak sebelum kembali menjadi jari-jari yang utuh.

Ia berlutut di hadapan Varghul Zhar.

“Kaisar... aku kembali.”

Varghul Zhar mengangguk.

“Bangkitlah, Zhaerak Vorn. Namun ingat, kesetiaanmu kali ini tidak hanya diuji oleh perintahku, melainkan oleh sumpah yang telah kuucapkan.”

Kemudian sosok kedua bangkit dari pusaran baja.

Kharzun Veyr, sang Arkhon Mineral.

Mata kristalnya menyala, sementara guratan-guratan mineral tumbuh di sepanjang lengannya. Ia memandang sekeliling, mencoba memahami tempat yang asing baginya.

“Apakah kita masih berada di Bumi?”

“Ya,” jawab Varghul Zhar. “Dan kali ini kita tidak datang untuk menaklukkannya.”

Satu demi satu, para penguasa Zhar’Kor kembali memperoleh wujud mereka.

Dravok Zharun, Panglima Ferrum, bangkit dengan tubuh besar yang dapat berubah menjadi raksasa baja. Ia mengepalkan tinjunya, dan suara benturan logam terdengar dari setiap persendian tubuhnya.

Vaelgor Kryn, Warden Kristal, membuka mata yang berkilauan seperti permata merah. Jari-jarinya langsung bergerak, seolah-olah pikirannya telah kembali terhubung dengan seluruh perangkat mekanis yang pernah ia kuasai.

Rhazek Morv, Magister Tempa Hidup, mengangkat kedua tangannya. Logam cair berputar di sekelilingnya, membentuk beberapa alat kecil sebelum kembali menjadi cairan.

Korzak Vhal, Komandan Baja, berdiri dengan sikap tegap. Pada kedua lengannya tumbuh laras senjata, tetapi atas kehendak Varghul Zhar, senjata itu segera menghilang dan kembali menjadi bagian dari tubuhnya.

Terakhir, serpihan-serpihan terkecil dari tubuh Titan Ferrum berkumpul di dekat lantai.

Dari kumpulan itu lahirlah Krel, seorang Fragmen Logam.

Tubuhnya lebih kecil daripada tubuh para penguasa lainnya. Lapisan bajanya belum sempurna, dan cahaya pada dadanya berdenyut lemah. Namun kedua matanya telah menyala, menandakan bahwa kehidupan baru telah mengisi tubuhnya.

Krel berlutut.

“Aku mendengar perintahmu, Kaisar.”

Varghul Zhar memandang ketujuh bawahannya yang telah kembali.

Zhaerak Vorn.

Kharzun Veyr.

Dravok Zharun.

Vaelgor Kryn.

Rhazek Morv.

Korzak Vhal.

Dan Krel.

Mereka bukan lagi sekadar nama dalam catatan kekaisaran yang telah hilang. Mereka kini berdiri kembali di hadapan sang kaisar, dibentuk dari materi genetik yang diwariskan melalui kekuatan penguasa tertinggi mereka.

Varghul Zhar menurunkan kedua tangannya.

Pusaran baja berhenti.

Sisa-sisa tubuh Titan Ferrum runtuh menjadi kepingan-kepingan kecil, kehilangan bentuk dan kehidupannya. Raksasa yang dahulu mengamuk di lembah itu kini telah menjadi bahan bagi kebangkitan para penguasa Zhar’Kor.

Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.

Isidore melangkah mendekat, masih tak mampu menyembunyikan kekagumannya.

“Jadi, kalian dapat membangun kembali tubuh dari logam yang telah terurai?”

“Bukan sekadar membangunnya kembali,” jawab Varghul Zhar. “Aku membagikan sebagian materi genetikku kepada mereka. Materi itu membawa pola kehidupan Zhar’Kor, sehingga tubuh mereka dapat terbentuk kembali selama inti energi dan pola genetiknya masih dapat dipulihkan.”

Isidore memandang para penguasa baja yang baru bangkit.

“Kalau begitu, mengalahkan kalian dalam pertempuran saja tidak cukup untuk mengakhiri keberadaan bangsa kalian.”

“Benar,” kata Rasvatar dari belakangnya. “Itulah sebabnya bangsa Zhar’Kor begitu sulit dimusnahkan.”

Isidore menoleh kepada gurunya.

“Kau sudah mengetahui hal ini sejak awal?”

Rasvatar mengangguk perlahan.

“Aku pernah berhadapan dengan bangsa-bangsa yang menganggap kematian sebagai akhir, dan bangsa-bangsa lain yang menemukan cara untuk menghindarinya. Zhar’Kor termasuk yang kedua. Selama pola kehidupan mereka masih tersimpan dan sumber energi yang diperlukan tersedia, mereka dapat membangun kembali tubuh yang telah hancur.”

Ia memandang Varghul Zhar dengan tatapan tajam.

“Tetapi kemampuan untuk kembali hidup tidak menjadikan suatu bangsa abadi. Mereka masih dapat kehilangan sumber daya, kehilangan pengetahuan, dan kehilangan tujuan. Bahkan bangsa yang terbuat dari logam pun dapat runtuh karena kesombongannya sendiri.”

Varghul Zhar menerima perkataan itu tanpa membantah.

“Aku memahami maksudmu, Rasvatar.”

“Bagus,” jawab sang penjaga kuno. “Maka gunakan kemampuanmu untuk membangun, bukan untuk mengulangi kesalahan para pendahulumu.”

Di hadapan Isidore, tujuh penguasa Zhar’Kor berdiri dalam keheningan. Cahaya merah pada tubuh mereka perlahan meredup, berganti dengan kilau yang lebih tenang.

Isidore menyadari bahwa ia sedang menyaksikan sesuatu yang jauh melampaui kemenangan di medan perang. Ia telah melihat bagaimana bangsa Zhar’Kor dapat memulihkan kekuatan mereka melalui materi genetik dan teknologi logam hidup—sebuah kemampuan yang dapat menjadi ancaman mengerikan apabila jatuh ke tangan penguasa yang salah.

Namun kini, untuk pertama kalinya, kekuatan itu berada di bawah sumpah yang mengikat Kaisar Zhar’Kor kepada penjaga Bumi.

Rasvatar menatap Isidore.

“Ingatlah apa yang kau saksikan hari ini. Dalam perang yang akan datang, musuh tidak selalu dapat dikalahkan dengan menghancurkan tubuhnya. Terkadang kau harus memahami sumber kekuatannya, sejarahnya, dan alasan mengapa ia terus bangkit.”

Isidore mengangguk.

Di dalam gua purba itu, para penguasa baja telah kembali dari kematian. Dan bersama mereka, sebuah kekuatan lama kembali berdiri—kekuatan yang dapat menjadi perisai bagi Bumi, atau menjadi bencana yang lebih besar daripada perang sebelumnya, apabila sumpah mereka suatu hari dilupakan.