03/08/26

Season 7 Kisah Pandika dari Kerajaan Cakram

Chapter 79 Naga Tua dikejar pasukan
Langit di atas Kerajaan Agnivarsha berubah menjadi lautan awan yang membara.

Naga tua itu mengepakkan sayapnya yang telah pulih, melesat semakin tinggi hingga menembus gumpalan awan merah yang diterangi cahaya matahari senja. Tubuhnya yang besar laksana gunung terbang meninggalkan jejak bara yang memanjang di angkasa.

Di belakangnya, pasukan berkuda naga dari Laskar Bara Naga terus memburu tanpa mengenal lelah.

Para pengejar mulai kehilangan harapan.

“Kecepatannya semakin bertambah!”

“Kita tidak akan mampu menyusulnya!”

Salah seorang ksatria menggertakkan gigi.

“Itulah Rakhtavira, Naga Api Purba. Tak ada makhluk bersayap yang mampu menandingi kecepatannya.”

Di barisan paling depan terbang Mahapati Rudra Agnivega, panglima perang Agnivarsha. Dialah salah satu dari sedikit manusia yang berhasil bertahan menjalani ritual Darah Naga.

Banyak ksatria pernah mencoba menerima darah makhluk purba itu. Sebagian tubuh mereka hangus terbakar dari dalam, sebagian lagi berubah menjadi monster tanpa akal sebelum akhirnya mati mengenaskan.

Hanya segelintir yang mampu mengendalikan kekuatan tersebut.

Rudra Agnivega adalah salah satunya.

Darah naga telah mengubah seluruh tubuhnya.

Penglihatannya mampu menembus kabut dan melihat sasaran dari kejauhan.

Pendengarannya dapat menangkap desir sayap di balik awan.

Ketika menghadapi bahaya, kulitnya berubah menjadi sisik naga merah kehitaman yang sanggup menahan tebasan pedang dan hujan anak panah.

Namun bahkan dengan kekuatan itu, mengejar Rakhtavira bukanlah perkara mudah.

Sang naga tua tiba-tiba memperlambat kepakan sayapnya.

Matanya yang menyala merah menoleh ke belakang.

“Aku masih bisa merasakan kalian…”

“Begitu keras kepala mengejar kebebasan yang telah kuraih.”

Rakhtavira menarik napas panjang.

Dadanya memancarkan cahaya merah keemasan.

Udara di sekelilingnya bergetar oleh panas yang luar biasa.

Para ksatria yang mengejar mulai menyadari apa yang akan terjadi.

“Menjauh!”

“Ia sedang mengumpulkan Inti Api!”

Terlambat.

Dengan raungan yang mengguncang langit, Rakhtavira memuntahkan bola api raksasa ke arah bumi.

Ledakan cahaya membelah awan.

Bola api itu meluncur bagaikan matahari yang jatuh dari langit.

DUUUAARRR!

Ledakannya mengguncang pegunungan.

Gelombang panas menyapu hutan dan bebatuan.

Beberapa ksatria Laskar Bara Naga yang berada paling depan tak sempat menghindar. Mereka lenyap ditelan kobaran api.

Sementara mereka yang selamat segera mengaktifkan kekuatan Darah Naga.

Sisik merah muncul menutupi tubuh mereka, dan bayangan naga kecil menyelimuti sosok mereka untuk menahan panas yang mematikan.

Meski demikian, banyak di antara mereka tetap terluka parah.

Api Rakhtavira terus berkobar.

Anehnya, kobaran itu tidak padam meski diterpa hujan dan angin gunung.

Selama tujuh hari tujuh malam, nyala merah itu terus membakar lembah tempat bola api jatuh, meninggalkan tanah hitam yang tak lagi ditumbuhi kehidupan.

Rakhtavira menatap ke belakang untuk terakhir kalinya.

“Aku tidak lagi terikat oleh rantai manusia.”

“Mulai hari ini, langit adalah kerajaanku.”

Dengan satu kepakan sayap yang dahsyat, naga tua itu kembali melesat menuju ufuk barat.

Di balik pegunungan yang tak pernah dijelajahi manusia, terbentang tujuan akhirnya—

Sarang Para Naga, negeri purba tempat keturunan naga terakhir masih menjaga warisan leluhur mereka, jauh dari jangkauan kerajaan-kerajaan manusia.
Chapter 80 Desa Wangi
Pagi menjelang ketika sinar matahari menembus celah-celah kanopi hutan. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, sementara suara burung bersahutan menyambut hari baru. Pandika, Si Maung, dan Si Oren kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Di tengah perjalanan, Pandika memecah keheningan.

"Seperti apa Kerajaan Bayu Arcapada?"

Si Maung yang berjalan paling depan menjawab tanpa menoleh.

"Itu adalah negeri langit dan angin yang tak terjangkau. Kerajaannya berdiri di puncak tebing-tebing tinggi, seolah menggantung di antara bumi dan langit."

Si Oren tersenyum, seolah mengenang tempat itu.

"Indah sekali. Awan terasa begitu dekat hingga seakan bisa disentuh dengan tangan. Udaranya sangat dingin, meskipun salju tak pernah turun. Penduduknya memanfaatkan kincir-kincir angin raksasa untuk memompa air dari lembah menuju kota di atas gunung."

Ia melanjutkan,

"Negeri itu dipimpin oleh Prabu Langitpawana Dirgantara, yang bergelar Pengembara Langit Utara. Konon beliau mampu membaca arah angin hanya dari desir dedaunan."

Pandika mengangguk kagum.

"Kalau begitu, bagaimana kita bisa sampai ke sana? Gunung setinggi itu tentu sulit didaki."

Si Oren terkekeh.

"Aku punya teman di sebuah tempat bernama Desa Wangi. Ia memelihara seekor Garuda sejak masih kecil. Mungkin ia bersedia mengantar kita terbang menuju Bayu Arcapada."


---

Menjelang siang mereka tiba di Desa Wangi.

Begitu memasuki desa itu, Pandika segera mengerti mengapa tempat itu dinamai demikian.

Udara dipenuhi aroma pandan yang lembut dan menenangkan. Rumah-rumah dibangun di atas akar dan batang pohon beringin raksasa, sementara tanaman pandan tumbuh subur di setiap sudut desa.

Pandika kembali dibuat terkejut.

Teman Si Oren ternyata bukan manusia.

Melainkan seekor musang pandan berwarna cokelat keemasan yang dapat berbicara layaknya manusia.

Sebelum mengetuk pintu rumahnya, Si Oren mengeluarkan beberapa buah dari dalam kantongnya.

Cherry merah mengilap.

Mangga harum.

Dan alpukat yang matang sempurna.

"Ini makanan kesukaannya," bisik Si Oren.

Tak lama kemudian pintu rumah terbuka.

Musang itu mengangkat sebelah alisnya.

"Halo, Sobat!" seru Si Oren sambil tersenyum lebar. "Aku membawakan hadiah untukmu."

Musang pandan itu menyilangkan kedua tangannya.

"Aku curiga dengan kedatanganmu."

"Kenapa tidak memberi kabar lebih dulu? Aku bahkan belum sempat mempersiapkan penyambutan."

Si Oren tertawa kecil.

"Aku sedang menjalankan misi dari Roh Penjaga Pohon Dunia."

"Kami membutuhkan bantuanmu."

"Bisakah kau mengantar kami ke Kerajaan Bayu Arcapada? Kami sudah lama mencarinya tetapi belum menemukan jalannya."

Musang itu mengusap dagunya.

"Bisa saja..."

"Tapi biayanya tidak murah."

Si Oren tersenyum licik.

"Bagaimana kalau pembayaran ini?"

Ia mengeluarkan sebutir biji ajaib pemberian Roh Penjaga Rimba.

"Cobalah."

Musang itu menerimanya dengan ragu.

"Aku coba dulu. Jangan-jangan kau sedang menipuku."

Ia memakan biji tersebut.

Sesaat kemudian matanya membelalak.

"Eh?"

"Buah apa ini?"

"Aku belum pernah merasakan makanan seperti ini."

Perutnya terasa hangat dan kenyang, seolah baru saja menikmati hidangan besar.

"Wah..."

"Ini luar biasa."

Si Oren hanya tersenyum.

"Itu rahasia."

Musang pandan akhirnya tertawa puas.

"Baiklah."

"Aku akan mengantar kalian ke Bayu Arcapada."

Ia lalu berdiri di halaman rumah dan mengeluarkan siulan panjang yang menggema ke seluruh lembah.

Tak lama kemudian—

langit menjadi gelap oleh bayangan besar.

Angin bertiup sangat kencang.

Pepohonan beringin bergoyang hebat.

Daun-daun beterbangan memenuhi udara.

Dari balik awan, turun seekor Garuda raksasa dengan bentangan sayap yang begitu luas hingga menutupi cahaya matahari.

Bulu-bulunya berwarna emas kecokelatan, sementara paruh dan cakarnya berkilau seperti logam.

Burung agung itu mendarat dengan anggun di depan mereka.

Musang pandan menepuk leher Garuda dengan penuh kasih.

"Sudah lama kita tidak bepergian bersama, sahabatku."

Ia lalu menoleh kepada Pandika dan kawan-kawannya.

"Naiklah ke dalam keranjang di punggungnya."

"Aku akan duduk di atas leher Garuda untuk menunjukkan jalan."

Pandika menatap langit yang luas.

Di balik lautan awan itu, Kerajaan Bayu Arcapada menanti mereka—negeri yang menjadi tujuan berikutnya dalam pencarian Biji Pohon Dunia.
Chapter 81 Kerajaan Bayu Arcapada 
Garuda raksasa itu mengeluarkan pekikan yang menggema di seluruh lembah.

Lalu, dengan satu kepakan sayapnya yang perkasa, angin berputar menjadi pusaran dahsyat. Pohon-pohon raksasa bergoyang hebat seakan diterjang badai. Daun-daun beterbangan memenuhi udara, sementara ranting-ranting kecil patah dan melayang mengikuti arus angin.

Perlahan, tubuh Garuda terangkat dari bumi.

Semakin tinggi.

Semakin tinggi.

Tak lama kemudian, hutan di bawah mereka berubah menjadi hamparan hijau yang tampak sekecil lumut.

Pandika memandang ke bawah dengan takjub.

"Belum pernah aku melihat dunia setinggi ini..."

Mereka menembus lapisan awan putih yang tebal. Kabut dingin menyelimuti wajah mereka hingga jarak pandang hanya beberapa langkah. Namun setelah beberapa saat, cahaya matahari kembali menyinari perjalanan.

Di balik lautan awan itu, terbentang sebuah negeri yang menakjubkan.

Di atas puncak-puncak gunung berdiri sebuah kota megah dengan benteng batu putih yang kokoh. Menara-menara tinggi menjulang ke langit, sementara puluhan kincir angin raksasa terus berputar mengikuti hembusan angin pegunungan. Saluran-saluran air mengalir dari menara menuju taman-taman yang hijau, membuat seluruh kota tampak hidup di tengah awan.

"Itulah..." bisik Si Maung.

"Kerajaan Bayu Arcapada."

Pandika terdiam beberapa saat, terpukau oleh keindahan negeri yang seolah menggantung di antara langit dan bumi.

Garuda tidak langsung menuju gerbang kota.

Sebaliknya, ia melayang mengitari kerajaan sebelum turun perlahan di sebuah hutan kecil di luar tembok kota. Seekor pohon besar yang tumbuh di tepi jurang dipilih sebagai tempat mendarat agar kedatangan mereka tidak menarik perhatian para penjaga.

Musang pandan turun lebih dahulu dari punggung Garuda.

Ia mencabut sehelai bulu emas dari sayap sahabatnya, lalu menyerahkannya kepada Si Oren.

"Entah apa yang akan kalian lakukan di dalam kerajaan itu," katanya pelan. "Terimalah bulu Garuda ini. Semoga keberanian dan keberuntungan selalu menyertai kalian."

Si Oren menerima bulu itu dengan penuh hormat.

"Terima kasih, Sobat."

"Kami hanya ingin mengambil sesuatu dari dalam istana. Jika misi ini berhasil, aku akan memberimu hadiah yang lebih baik daripada pembayaran tadi."

Musang pandan tersenyum tipis.

"Aku akan menunggu di sini."

"Tetapi ingat, bila keadaan berubah menjadi terlalu berbahaya, aku dan Garuda akan terbang pergi. Kami tidak boleh ikut terseret dalam urusan kerajaan."

Si Oren tertawa kecil.

"Tenang saja."

"Semua akan berjalan sesuai rencana."


---

Tak lama kemudian, ketiganya berjalan menuju gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada.

Di depan gerbang batu yang menjulang tinggi, para penjaga memeriksa setiap pendatang. Pedagang, pengelana, dan utusan dari kerajaan lain harus menunjukkan surat izin sebelum diperbolehkan masuk.

Melihat penjagaan yang ketat, Si Oren segera menyusun siasat.

Ia mengenakan celemek lusuh, memanggul keranjang besar berisi roti hangat yang baru dipanggang, lalu mengubah sikapnya menjadi ramah dan penuh senyum.

"Roti hangat! Roti madu pegunungan!" serunya nyaring. "Baru matang! Cocok untuk para ksatria yang berjaga sejak pagi!"

Pandika dan Si Maung saling berpandangan.

Keduanya sudah hafal.

Setiap kali menghadapi penjagaan yang ketat, Si Oren selalu memiliki cara yang tidak terduga untuk membuka jalan. Dan kali ini, penyamarannya sebagai seorang penjual roti menjadi awal dari penyusupan mereka ke negeri langit, tempat Biji Pohon Dunia berikutnya menanti untuk ditemukan.
Chapter 82 Si Oren menyamar
Si Oren merapikan celemeknya, lalu memanggul keranjang rotinya sambil berjalan santai menuju pos pemeriksaan di gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada. Aroma roti yang masih hangat segera menarik perhatian para penjaga.

"Roti hangat! Roti cokelat baru keluar dari oven! Cocok untuk menghangatkan tubuh di udara pegunungan!" serunya riang.

Seorang penjaga mengangkat tangan.

"Tunggu dulu."

Ia mengambil sepotong roti dari keranjang Si Oren.

"Roti apa ini? Seingatku, baru kali ini aku melihatmu berjualan di sini."

Si Oren membungkuk hormat.

"Saya hanya pedagang dari desa sebelah, Tuan. Di sana pembelinya sedikit sekali. Saya membuat roti cokelat yang dipanggang dalam oven batu. Silakan dicicipi, gratis khusus untuk para penjaga yang telah bekerja keras."

Para penjaga saling berpandangan.

Salah seorang menggigit roti itu perlahan.

Sesaat kemudian matanya membelalak.

"Walah..."

"Rasanya... luar biasa!"

"Maknyus... enak tenan!"

Saking nikmatnya, ia sampai melompat-lompat kecil dan berputar kegirangan, membuat rekan-rekannya tertawa terbahak-bahak.

Tanpa mereka sadari, Si Oren tersenyum kecil dalam hati.

"Bubuk rempah pemberian Musang Pandan memang tidak pernah gagal."

Penjaga itu mengusap remah-remah roti di bibirnya.

"Baiklah."

"Kau boleh masuk ke dalam kota."

"Tapi ingat, jangan sekali-kali mendekati kawasan istana."

"Berjualanlah di sekitar permukiman penduduk."

Si Oren mengangguk sopan.

"Terima kasih, Tuan Penjaga."


---

Gerbang kerajaan pun terbuka.

Si Oren melangkah memasuki Kerajaan Bayu Arcapada untuk pertama kalinya.

Jalan-jalan batu yang bersih membelah permukiman penduduk.

Di setiap rumah berdiri kincir angin kayu yang berputar tanpa henti, memompa air dari lembah menuju bak-bak penampungan di atas bukit.

Udara pegunungan terasa sejuk dan segar.

Ladang-ladang umbi, kentang, talas, dan berbagai tanaman dataran tinggi menghijau sejauh mata memandang.

Penduduk hidup sederhana, namun wajah mereka tampak damai.

"Negeri ini benar-benar diberkahi angin," gumam Si Oren kagum.

Ia terus berkeliling sambil menjajakan roti hingga seluruh dagangannya habis terjual.

Sore mulai berganti malam ketika ia meninggalkan kota melalui gerbang yang sama.

Di luar tembok kerajaan, Pandika dan Si Maung masih bersembunyi di atas sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jurang.

Begitu melihat Si Oren datang, keduanya segera turun.

"Bagaimana?" tanya Si Maung.

Si Oren mengangguk.

"Di dalam aman."

Pandika mengernyit.

"Tolong jelaskan maksudmu dengan aman."

Si Oren mulai menjelaskan apa yang dilihatnya.

"Gerbang utama dijaga oleh prajurit bersenjata pedang."

"Di setiap menara pengawas berdiri pemanah yang terus mengawasi langit dan jalan masuk."

"Selain itu, ada beberapa anjing penjaga yang memiliki penciuman sangat tajam. Mereka berpatroli di sekitar pintu gerbang dan halaman istana."

Si Maung mengangguk pelan sambil memandang tembok kerajaan yang mulai diterangi obor.

"Kalau begitu..."

"Kita tidak akan masuk melalui gerbang."

"Kita menunggu sampai tengah malam."

"Saat angin pegunungan bertiup paling kencang dan para penjaga mulai lengah."

Tatapan Si Maung berubah tajam.

"Malam ini... kita akan menyusup ke dalam istana Prabu Langitpawana Dirgantara."

Di kejauhan, baling-baling kincir angin terus berputar diterpa angin malam, seolah menjadi irama yang mengiringi dimulainya misi berikutnya untuk menemukan Biji Pohon Dunia.
Chapter 83 Penyusupan
Malam menyelimuti Kerajaan Bayu Arcapada dengan kesunyian yang agung.

Angin pegunungan berembus semakin kencang, membuat kincir-kincir angin raksasa terus berputar sambil mengeluarkan bunyi berderit yang menggema di antara tebing-tebing tinggi. Kabut perlahan turun dari langit, menyelimuti puncak-puncak menara hingga hanya siluetnya yang tampak diterangi cahaya bulan.

Di bawah sebuah pohon tua, musang pandan memandang ketiga sahabat itu dengan wajah serius.

"Berhati-hatilah."

"Istana Pawana Dirgantara bukan seperti kerajaan lain."

"Istana itu menggantung di bibir tebing langit dan hanya dihubungkan oleh jembatan-jembatan tali raksasa. Kabut dan angin selalu berputar mengelilingi menara-menara putihnya."

Musang itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan waspadailah Senapati Bayusena Jagadwipa."

"Ia adalah panglima perang kerajaan, seorang pendekar langit yang mampu bergerak secepat badai."

"Jangan pula meremehkan Garuda Putih, pasukan ksatria elit yang mengenakan sayap kain suci. Mereka ahli bertempur di udara dan sanggup mengejar musuh melintasi jurang."

Ia menatap langit yang mulai dipenuhi awan.

"Bila matahari terbit dan kalian belum kembali..."

"...aku akan pergi dari tempat ini."

Si Oren menepuk bahu sahabatnya sambil tersenyum.

"Tenang saja, Sobat."

"Kami pasti kembali dengan selamat."

Musang pandan hanya mengangguk pelan.


---

Pandika kemudian menoleh kepada Si Maung.

"Apakah kau sudah dapat mencium bau Biji Pohon Dunia?"

Si Maung menutup mata sejenak, mengendus udara malam yang dipenuhi aroma embun dan pinus.

Beberapa saat kemudian ia membuka matanya.

"Ya."

"Aromanya sangat jelas."

"Biji itu berada... di dalam istana."

Kalimat itu membuat ketiganya saling berpandangan.

"Mari berangkat," bisik Si Maung.

Seketika kabut tipis keluar dari tubuhnya.

Perlahan-lahan kabut itu menyelimuti Pandika, Si Maung, dan Si Oren hingga ketiganya seolah lenyap dari pandangan.

Pandika menarik napas panjang.

Lalu ia mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.

Tubuhnya melesat secepat angin malam.

Si Maung dan Si Oren yang kembali ke wujud kucing kecil bertengger di kedua bahunya agar tidak menghambat pergerakannya.

Ia berlari melewati semak, batu, dan jalan setapak tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Di pos penjagaan pertama, beberapa prajurit tiba-tiba menoleh.

"Hm?"

"Barusan... seperti ada angin yang lewat."

Seorang penjaga mengangkat obornya.

"Tidak ada siapa-siapa."

"Mungkin hanya angin gunung."

Mereka kembali berjaga tanpa menyadari bahwa penyusup telah melewati mereka.

Pandika terus melesat hingga mencapai tembok luar kerajaan.

Dengan satu lompatan ringan ia meraih bibir tembok batu, merayap perlahan di atasnya, lalu turun tanpa suara ke halaman dalam.

Di hadapannya terbentang pemandangan yang membuatnya terdiam.

Sesuai cerita musang pandan, Istana Pawana Dirgantara benar-benar berdiri di atas tebing raksasa.

Jurang menganga di bawahnya, sementara jembatan-jembatan tali raksasa menghubungkan halaman kerajaan dengan bangunan utama.

Kabut berputar di antara menara-menara putih, membuat seluruh istana tampak melayang di atas awan.

Namun setiap jembatan dijaga oleh prajurit bersenjata lengkap.

Pandika menarik napas dalam.

Sekali lagi ia mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.

Gerakannya menjadi seringan embusan angin.

Ia menahan napas ketika menapaki jembatan tali, memastikan tak satu pun papan kayu berderit.

Di ujung jembatan, pintu utama istana masih tertutup rapat.

Beberapa penjaga yang bertugas di sana tampak berbincang santai sambil menghangatkan diri dengan secangkir minuman.

Pandika segera berlindung di balik salah satu pilar batu.

Ia menunggu dengan sabar.

"Jangan gegabah," bisik Si Maung sangat pelan.

"Cepat atau lambat... seseorang pasti akan membuka pintu itu."

Mereka pun menahan napas dalam keheningan malam, sementara angin pegunungan terus bersiul mengitari Istana Pawana Dirgantara, membawa pertanda bahwa ujian berikutnya telah menanti di balik gerbang yang masih tertutup.
Chapter 84 Menerobos masuk 
Keheningan malam terus berlanjut.

Satu jam telah berlalu.

Tak seorang pun keluar ataupun masuk melalui pintu utama Istana Pawana Dirgantara. Para penjaga masih berjaga sambil berbincang santai, sama sekali tidak menyadari bahwa tiga penyusup sedang menunggu hanya beberapa langkah dari mereka.

Si Oren mulai kehilangan kesabaran.

"Cukup menunggu," bisiknya. "Kalau begini sampai fajar pun pintu itu tidak akan terbuka."

Seketika tubuhnya membesar menjadi seekor kucing liar raksasa. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerjang para penjaga.

Buk! Buk!

Sebelum mereka sempat berteriak, satu per satu penjaga roboh tak sadarkan diri.

Di saat yang sama, Pandika bergerak menggunakan Langkah-Langkah Mendominasi. Ia melumpuhkan beberapa penjaga lain yang datang dari lorong samping, lalu mengikat mereka di kursi-kursi kayu sehingga dari kejauhan tampak seolah mereka masih berjaga seperti biasa.

Pandika mencoba mendorong pintu istana.

Pintu itu tidak bergeming.

"Macet..." gumamnya.

Si Maung maju beberapa langkah.

Tok... tok... tok...

Ia mengetuk pintu perlahan.

Tak lama kemudian terdengar suara kunci diputar dari dalam.

Pintu terbuka sedikit.

Seorang penjaga mengintip keluar dengan wajah heran.

"Siapa di lu—"

Belum sempat kalimatnya selesai, Si Oren menariknya masuk ke dalam.

Bruk!

Penjaga itu langsung pingsan.

"Cepat!"

"Mari masuk!"

Mereka segera menutup kembali pintu besar itu.


---

Bagian dalam Istana Pawana Dirgantara jauh lebih megah daripada yang mereka bayangkan.

Lantainya terbuat dari marmer putih berkilau.

Pilar-pilar tinggi menjulang hingga langit-langit, dihiasi ukiran awan, burung garuda, dan pusaran angin.

Lorong-lorong terbuka menghadap jurang, membuat angin pegunungan bebas berembus ke seluruh ruangan. Hembusan itu melewati celah-celah pilar dan menghasilkan bunyi merdu, seakan seluruh istana sedang memainkan musik alam.

Namun...

Anehnya hampir tidak ada seorang pun yang terlihat.

Si Maung memimpin perjalanan.

"Hidungku sudah menangkap aromanya."

"Ikut aku."

Mereka menaiki tangga demi tangga yang bercabang ke berbagai arah, sebagian bahkan melintang di atas jurang yang dalam.

Semakin tinggi mereka mendaki, aroma Biji Pohon Dunia semakin terasa kuat.

Hingga akhirnya...

Mereka tiba di sebuah taman rahasia yang tersembunyi di jantung istana.

Pepohonan langka tumbuh subur di sana.

Bunga-bunga berwarna biru bergoyang mengikuti irama angin.

Di tengah taman berdiri seekor Garuda berkepala tiga yang dirantai dengan belenggu baja hitam.

Ketiga kepalanya membuka mata secara bersamaan.

"Aku tahu..."

"...kalian adalah tamu yang tak diundang."

Si Maung melangkah maju.

"Perkenalkan."

"Aku Si Maung, Raja Kucing dan sahabat para binatang."

"Kami sedang menjalankan misi menyelamatkan Pohon Dunia yang sedang sekarat."

"Bantulah kami menemukan Biji Pohon Dunia."

"Sebagai balasannya, kami akan membebaskanmu."

Garuda itu menghela napas panjang.

"Kalian memang pemberani."

"Tetapi cepat atau lambat para ksatria tingkat tinggi kerajaan ini akan menemukan kalian."

"Aku sendiri tidak mampu membantu banyak."

"Lihatlah."

"Rantai besi ini telah mengurungku selama bertahun-tahun."

Pandika mengeluarkan sebutir biji ajaib dari kantongnya.

"Cobalah makan ini."

Garuda menelan biji itu.

Tak lama kemudian cahaya keemasan memancar dari tubuhnya.

Bulu-bulu yang semula rontok mulai tumbuh kembali.

Sayapnya menjadi gagah.

Paruhnya yang retak kembali utuh dan mengilap.

Garuda itu mengangkat salah satu kepalanya.

"Aku telah mendapatkan kembali sebagian kekuatanku."

"Biji yang kalian cari..."

"...berada di dasar jurang, di bawah akar Pohon Angin Purba."

Dengan sekali hentakan paruhnya...

KRAAAK!

Rantai baja yang mengikat tubuhnya hancur berkeping-keping.

"Naiklah ke punggungku."

"Aku akan mengantar kalian."

Mereka segera menaiki punggung Garuda.

Dengan kepakan sayap yang dahsyat, Garuda terbang menuruni jurang.

Angin berputar menjadi pusaran besar, membuat dedaunan beterbangan seperti badai.

Di dasar jurang, di sela-sela akar pohon purba, tampak cahaya hijau keemasan berdenyut lembut.

"Itu dia!" seru Si Maung.

Ia melompat dari punggung Garuda, mendarat di atas akar raksasa, lalu dengan cakarnya mencungkil Biji Pohon Dunia dengan sangat hati-hati agar tidak merusaknya.

Setelah berhasil mengambilnya, ia kembali melompat ke atas punggung Garuda.

"Aku berterima kasih atas bantuanmu," kata Si Maung.

Sementara itu, Si Oren mengeluarkan sehelai bulu emas Garuda yang dititipkan musang pandan.

"Ini untukmu."

"Temanmu masih hidup dan menunggu di luar kerajaan."

Ketiga kepala Garuda itu tersenyum haru.

"Ternyata... ia tidak melupakanku."

Namun pada saat yang sama, suasana istana berubah.

Satu demi satu lentera dan obor di atas menara menyala terang.

Suara lonceng peringatan bergema memecah malam.

Para penjaga telah sadar bahwa ada penyusup di dalam istana.

Pandika segera menggenggam pedangnya.

"Kita harus pergi. Sekarang!"

Garuda mengepakkan kedua sayapnya dengan sekuat tenaga.

Pusaran angin raksasa menyapu halaman istana, menerbangkan debu, daun, bahkan beberapa penjaga yang baru tiba.

Di balik badai angin itu, Pandika, Si Maung, dan Si Oren memulai pelarian mereka, sementara Garuda berkepala tiga akhirnya kembali menghirup udara kebebasan setelah sekian lama menjadi tawanan Kerajaan Bayu Arcapada.
Chapter 85 Melarikan diri 
Pandika, Si Maung, dan Si Oren segera melompat dari punggung Garuda Berkepala Tiga begitu mereka tiba di bibir jurang.

Garuda itu mengepakkan sayapnya sekali, lalu mengangkat ketiga kepalanya ke langit.

Raungan yang mengguncang pegunungan pun pecah.

Bertahun-tahun ia dirantai di tebing Istana Pawana Dirgantara. Sayapnya dipasung, darah sucinya diambil sedikit demi sedikit hingga tubuhnya melemah. Kini, setelah memperoleh kembali kekuatannya, seluruh amarah yang dipendamnya meledak bagaikan badai.

Dengan kepakan sayap yang dahsyat, pusaran angin menghantam menara-menara penjaga. Batu-batu beterbangan, sementara para prajurit berusaha bertahan agar tidak tersapu angin.

Di saat yang sama, lonceng bahaya berdentang di seluruh kerajaan.

Dari puncak istana melesat seorang pendekar berpakaian putih kebiruan.

Dialah Senapati Bayusena Jagadwipa, Panglima Perang Kerajaan Bayu Arcapada.

Pedang panjangnya berkilau diterpa cahaya bulan.

Tatapannya tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa.

"Itu dia penyusupnya!"

Pandika segera mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.

Kabut putih yang dikeluarkan Si Maung kembali menyelimuti mereka bertiga.

Namun, Bayusena hanya tersenyum tipis.

"Kabut tidak akan mampu menipu mata yang telah ditempa oleh angin."

Dalam sekejap ia melesat.

Kecepatannya hampir menyamai hembusan badai.

Sraaang!

Pedangnya menebas sosok Pandika.

Namun tubuh itu buyar menjadi kepulan asap.

"Hanya bayangan..." gumam sang panglima.

Pandika ternyata telah bergerak lebih dahulu.

Dengan langkah yang begitu ringan, ia berlari di atas kepala para prajurit yang berbaris rapat, memanfaatkan helm dan perisai mereka sebagai pijakan.

Setiap kali seorang prajurit hendak mengayunkan pedang, Pandika telah berada beberapa tombak di depan.

Di atas pundaknya, Si Maung dan Si Oren tetap mempertahankan wujud kucing kecil.

"Jangan berubah sekarang," bisik Pandika.

"Semakin besar tubuh kalian, semakin mudah kita dikepung."

Keduanya mengangguk.

Sementara itu, di langit malam, pertempuran sengit telah dimulai.

Pasukan elit Garuda Putih mengepakkan sayap kain suci mereka, mengelilingi Garuda Berkepala Tiga dari segala arah.

Anak-anak panah melesat bagaikan hujan.

Tombak-tombak bermata perak berkilauan di udara.

Namun Garuda yang telah pulih sepenuhnya bukan lagi tawanan yang lemah.

Ketiga kepalanya membuka paruh secara bersamaan.

SKRIIIIAAAA!

Pekikan suci itu mengguncang langit.

Gelombang suara menghantam para ksatria udara.

Sayap kain mereka kehilangan keseimbangan.

Satu demi satu mereka jatuh dari udara ke halaman istana, tak mampu bangkit karena tubuh mereka seolah dilumpuhkan oleh kekuatan pekikan Garuda.

Melihat pasukan elitnya terdesak, Senapati Bayusena menghentikan pengejaran terhadap Pandika.

Ia berbalik menatap Garuda.

"Kalau begitu..."

"Aku sendiri yang akan menghadapi monster itu."

Di sisi lain, para pemanah di setiap menara terus melepaskan hujan panah ke arah jembatan yang baru saja dilalui Pandika.

Mereka memang tidak dapat melihat penyusup itu secara jelas, tetapi hembusan angin dan jejak langkah di papan kayu cukup menjadi petunjuk.

Panah-panah menghantam jembatan bertubi-tubi.

Tak! Tak! Tak!

Pandika terus berlari.

Tubuhnya mulai diselimuti asap putih.

Penggunaan Langkah-Langkah Mendominasi dalam waktu lama mulai menguras tenaganya. Kabut yang diciptakan Si Maung pun perlahan menipis hingga akhirnya menghilang sama sekali.

"Kita terlihat!" seru Si Maung.

Tanpa ragu, Si Oren melompat turun dari pundak Pandika.

Tubuhnya membesar seketika menjadi seekor serigala raksasa berbulu jingga.

"Naik!"

Pandika dan Si Maung segera menaiki punggungnya.

Si Oren melesat secepat angin.

Gerakannya berbelok-belok tajam, berlari zig-zag menghindari hujan panah yang terus memburu mereka.

Beberapa anak panah hanya berjarak sejengkal dari tubuh Pandika sebelum menancap di tanah berbatu.

Dengan satu lompatan besar, Si Oren berhasil melewati gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada.

Namun pengejaran belum berakhir.

Di kejauhan, para ksatria elit kembali bangkit dan mulai mengejar mereka.


---

Dari atas pohon besar di luar kerajaan, musang pandan yang sejak tadi menunggu mulai gelisah.

Ia melihat bayangan jingga berlari sekencang angin.

"Itu Si Oren!"

"Celaka... mereka dikejar!"

Tanpa membuang waktu, ia bersiul nyaring.

Garuda peliharaannya segera menukik dari puncak pohon.

Burung raksasa itu terbang sangat rendah, nyaris menyentuh rerumputan.

Saat Si Oren melompat melewati sebuah tebing, Garuda mengulurkan kedua cakarnya yang kokoh.

Dalam satu gerakan yang tepat, ia mengangkat Pandika, Si Maung, dan Si Oren ke udara.

Beberapa anak panah terakhir melintas di bawah mereka tanpa mengenai sasaran.

Dengan kepakan sayap yang perkasa, Garuda membawa mereka menjauh dari Kerajaan Bayu Arcapada, sementara di belakang mereka suara terompet perang masih bergema, menandakan bahwa hilangnya Biji Pohon Dunia dan lolosnya Garuda Berkepala Tiga akan menjadi peristiwa yang dikenang oleh kerajaan negeri langit itu selama bertahun-tahun.
Chapter 86 Dikejar ksatria elit 
Menjelang fajar, Garuda raksasa terus mengepakkan sayapnya membelah lautan awan. Di punggungnya, Pandika, Si Maung, Si Oren, dan musang pandan akhirnya dapat mengembuskan napas lega.

Di kejauhan, beberapa Ksatria Elit Garuda Putih masih mencoba mengejar. Namun ketika Garuda terbang semakin tinggi, menembus lapisan awan yang tebal dan memasuki arus angin pegunungan, para ksatria itu akhirnya menghentikan pengejaran.

"Terlalu jauh..."

"Kita tidak akan mampu mengejarnya!"

Dengan berat hati mereka berbalik kembali menuju Kerajaan Bayu Arcapada.


---

Tak lama kemudian, rombongan itu tiba kembali di Desa Wangi.

Garuda mendarat dengan anggun di bawah pohon beringin raksasa yang menjadi rumah musang pandan. Begitu kakinya menyentuh tanah, burung agung itu mengibaskan sayapnya hingga dedaunan beterbangan, lalu menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada sahabat lamanya.

Musang pandan segera mengajak semua tamunya masuk ke rumah.

Rumah kayu itu dipenuhi aroma pandan yang harum dan menenangkan.

Di atas meja telah tersaji hidangan sederhana namun menggugah selera.

Segelas arak tape yang hangat.

Serta bolu pandan yang baru matang dari tungku.

"Mari," kata musang pandan sambil tersenyum. "Kita rayakan keberhasilan misi kalian."

Mereka pun duduk melingkari meja.

Tawa memenuhi ruangan ketika Si Oren mulai menceritakan kembali bagaimana ia berpura-pura menjadi penjual roti hingga bagaimana mereka hampir tertangkap oleh para ksatria elit.

"Ekspresi wajah para penjaga saat Garuda mengamuk itu..." ujar Si Oren sambil tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak akan pernah melupakannya."

Pandika ikut tersenyum.

"Kalau bukan karena Garuda dan bantuan kalian, mungkin sekarang kita masih terjebak di istana."

Musang pandan mengangguk.

"Ketika Garuda terbang tinggi melewati awan, para ksatria itu memang tidak punya pilihan selain mundur."

Suasana kembali tenang.

Musang pandan menyesap minumannya sebelum bertanya,

"Kalau begitu... dari sini kalian akan pergi ke mana lagi?"

Si Oren menjawab lebih dulu.

"Tujuan kami berikutnya adalah Kerajaan Vajraningrat, negeri badai dan petir abadi."

Si Maung menggigit sepotong bolu pandan.

Matanya langsung berbinar.

"Wah..."

"Arak tape dan bolu pandan ini luar biasa enaknya."

"Kau benar-benar pandai memasak."

Si Oren tertawa kecil.

"Tentu saja."

"Musang pandan dulu adalah seorang chef yang sangat terkenal."

Musang pandan menggeleng sambil tersipu.

"Jangan membesar-besarkan."

"Aku hanyalah seorang koki biasa... itu pun sudah lama sekali."

Pandika menatapnya penasaran.

"Kalau begitu, mengapa kau berhenti menjadi koki?"

Musang pandan tersenyum tipis.

"Aku merasa kemampuanku mulai tumpul."

"Masakan yang dulu kubanggakan tidak lagi terasa istimewa bagiku."

"Sejak saat itu aku memilih hidup tenang di Desa Wangi."

Si Oren segera menyela.

"Aneh sekali."

"Menurutku tidak mungkin ada orang yang mengatakan masakanmu tidak enak."

Semua tertawa.

Tiba-tiba musang pandan menatap Si Oren dengan wajah pura-pura serius.

"Ngomong-ngomong..."

"Bukankah kau pernah berjanji akan memberiku hadiah?"

Si Oren menepuk dahinya.

"Astaga! Aku hampir lupa."

Ia merogoh kantongnya, lalu mengeluarkan sebutir Buah Pohon Dunia yang memancarkan cahaya lembut.

"Ini hadiah untukmu."

"Semoga kau menyukainya."

Musang pandan menerimanya dengan kedua tangan.

Matanya berbinar penuh rasa syukur.

"Terima kasih, Sahabat."

Belum lama suasana hening, Si Maung kembali membuka pembicaraan.

"Apakah kau bersedia mengantar kami lagi?"

"Kali ini menuju Kerajaan Vajraningrat."

Musang pandan mengusap dagunya sambil tersenyum jahil.

"Itu... tergantung seberapa besar hadiah yang akan kudapat."

Si Maung tertawa.

"Tenang saja."

"Kalau misi ini berhasil, aku akan memberimu hadiah yang jauh lebih istimewa daripada buah itu."

Musang pandan mengangguk pelan.

"Kalau begitu..."

"Besok pagi, saat angin timur mulai bertiup, kita akan kembali mengudara."

Di luar rumah, Garuda raksasa memejamkan matanya di bawah cahaya bulan, beristirahat setelah perjalanan panjang. Sementara jauh di ufuk timur, awan-awan gelap mulai berkumpul, seolah memberi pertanda bahwa Kerajaan Vajraningrat, negeri petir abadi, telah menanti kedatangan mereka.
Chapter 87 Bercerita 
Sebelum berangkat, Pandika duduk bersama Si Maung, Si Oren, dan Musang Pandan di bawah pohon beringin. Garuda besar mereka beristirahat tidak jauh dari sana, sesekali mengepakkan sayapnya yang kini jauh lebih kuat setelah memakan Buah Pohon Dunia.

Pandika memandang ke arah pegunungan di kejauhan.

"Si Maung, sebelum kita berangkat, ceritakan kepadaku tentang Kerajaan Vajraningrat. Aku ingin tahu negeri seperti apa yang akan kita datangi."

Si Maung mengangguk.

"Vajraningrat bukanlah kerajaan yang mudah dimasuki. Negeri itu dikenal sebagai tanah badai dan petir abadi."

Ia mengambil ranting lalu menggambar sebuah gunung di tanah.

"Di puncak gunung badai berdiri Benteng Gunturjaya. Istana sekaligus benteng pertahanan kerajaan. Dindingnya terbuat dari baja hitam, dan menara-menara logamnya menjulang tinggi ke langit."

"Petir terus-menerus menyambar menara tersebut. Konon para pandai besi Vajraningrat sengaja membangun sebagian menaranya dari logam agar dapat menangkap kekuatan petir."

Pandika memperhatikan gambar itu dengan serius.

"Siapa yang memimpin pasukannya?"

"Adipati Vajrakusuma," jawab Si Maung. "Dialah panglima perang kerajaan."

"Senjata utamanya adalah sebuah palu petir legendaris. Konon satu pukulannya mampu membelah batu gunung."

Si Oren menyela,

"Dan jangan lupa pasukan elit mereka."

Si Maung mengangguk.

"Benar. Laskar Halilintar."

"Mereka membawa tombak yang dialiri tenaga listrik. Gerakan mereka cepat dan serangan mereka sangat sulit dihindari."

Musang Pandan yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut berbicara.

"Jangan menganggap Vajraningrat hanya kerajaan biasa."

"Kerajaan itu adalah benteng pertahanan terkuat di antara kerajaan-kerajaan yang akan kalian datangi."

Pandika mengangkat alis.

"Seberapa kuat?"

Musang Pandan memandang pegunungan yang jauh.

"Gunung-gunungnya menjadi benteng alami. Jurang menjadi parit. Badai menjadi dinding pertahanan."

Si Oren menyeringai.

"Dan rajanya sendiri terkenal sebagai salah satu penguasa terkuat. Konon ia mampu memanggil petir dari tombaknya."

Pandika terdiam sejenak.

"Kalau begitu kita harus berhati-hati."

Ia kemudian melihat langit.

"Lebih baik kita datang ketika tidak hujan."

Si Maung tertawa kecil.

"Kalau begitu kita harus berharap keberuntungan berpihak kepada kita."

"Ayo berangkat," ujar Pandika.


---

Musang Pandan berdiri dan meniup peluit panjang.

Wiiiiit!

Dari balik pepohonan terdengar pekikan dahsyat.

KRAAA!

Garuda raksasa mereka terbang keluar dari hutan.

Tubuhnya kini semakin besar setelah memakan Buah Pohon Dunia pemberian Si Oren. Bulu-bulu emasnya berkilauan diterpa matahari, sedangkan kedua sayapnya mampu menghasilkan hembusan angin yang membuat pepohonan bergoyang.

"Naik!" seru Musang Pandan.

Pandika, Si Maung, dan Si Oren masuk ke dalam keranjang yang tergantung di bawah tubuh Garuda.

Musang Pandan sendiri duduk di leher Garuda sambil memegang bulu-bulu di tengkuknya.

"Siap?"

Garuda mengepakkan sayap.

WHUUUSSH!

Mereka terangkat meninggalkan Desa Wangi.


---

Perjalanan berlangsung selama beberapa waktu.

Semakin jauh mereka terbang ke timur, langit perlahan berubah.

Pandika melihat sesuatu yang aneh.

Di kejauhan terbentang sebuah wilayah yang diselimuti awan hitam pekat.

Namun di luar wilayah itu, langit justru biru dan cerah.

Pandika menunjuk ke arah awan.

"Kenapa awan hitam itu hanya berkumpul di satu tempat?"

Si Maung mengamati dengan saksama.

"Itulah Vajraningrat."

Pandika mengernyit.

"Cuacanya aneh sekali."

Musang Pandan segera memberi aba-aba.

"Jangan terbang menembus awan itu!"

"Turunkan ketinggian!"

Garuda segera menukik.

"Terbang rendah di bawah awan. Kita tidak tahu seberapa kuat badai di atas sana."

Mereka melaju rendah di atas pepohonan.

Di bawah mereka terbentang tanah yang sangat subur. Sawah dan ladang menghijau, sementara sungai-sungai mengalir deras dari pegunungan.

"Tanah mereka subur karena hujan turun hampir sepanjang tahun," jelas Si Maung.

Pandika kembali memandang awan hitam di atas mereka.

Petir menyala jauh di balik awan.

KILAT!

Sesaat kemudian terdengar suara guruh yang mengguncang lembah.

DUUUUUMMM!

Garuda mempercepat kepakannya.

"Jangan terlalu dekat!" seru Musang Pandan.

Akhirnya mereka mencapai hutan di kaki pegunungan.

Garuda menurunkan tubuhnya dan mendarat di sebuah pohon raksasa.

BRUUUK!

Ranting-ranting berguncang keras.

Pandika turun dari keranjang dan memandang ke arah gunung.

Di balik kabut dan pepohonan, samar-samar terlihat siluet sebuah benteng hitam yang menjulang di puncak gunung.

Kemudian...

BRAAAAK!

Petir menyambar salah satu menaranya.

Cahaya putih menerangi seluruh langit.

Pandika menelan ludah.

"Itu..."

"Benteng Gunturjaya."

Si Maung mengendus udara.

Wajahnya tiba-tiba berubah serius.

"Aku mencium sesuatu."

Pandika menoleh.

"Apa?"

Si Maung menatap ke arah benteng yang jauh di atas mereka.

"Biji Pohon Dunia."

"Baunya ada di sana."

Mereka bertiga saling berpandangan.

Misi berikutnya telah dimulai.
Chapter 88 Kerajaan Vajraningrat 

Hujan akhirnya turun.

Setelah kilat raksasa membelah langit, awan hitam di atas Kerajaan Vajraningrat menumpahkan air dengan derasnya. Hujan jatuh seperti tirai perak yang menutupi jalan-jalan kerajaan.

GROOOOM!

Guruh bergemuruh di antara gunung-gunung.

Pandika, Si Maung, dan Musang Pandan tetap berlindung di bawah pepohonan, sementara Si Oren bersiap menjalankan tugasnya.

"Aku akan memeriksa gerbang," ujar Si Oren.

"Jangan terlalu lama," pesan Pandika.

Si Oren mengangguk.

"Aku akan kembali sebelum kalian sempat merindukanku."

Ia lalu berjalan seorang diri menuju pos pemeriksaan.


---

Ketika tiba di dekat gerbang, Si Oren mengubah penampilannya menjadi pedagang mainan keliling.

Di atas sebuah meja kecil yang dibawanya terdapat berbagai mainan sederhana. Namun yang paling menarik perhatian adalah sebuah yoyo kayu yang dihiasi ukiran petir.

Ia menghampiri penjaga.

"Permisi, Tuan."

Penjaga menatapnya curiga.

"Siapa kau?"

"Saya pedagang mainan dari desa sebelah. Mau mencoba sesuatu yang menarik?"

Si Oren mengeluarkan yoyo.

"Apa itu?"

"Yoyo."

Ia memperagakan cara memainkannya.

Yoyo meluncur ke bawah, kemudian kembali ke telapak tangannya.

Salah seorang penjaga langsung tertarik.

"Boleh aku mencoba?"

"Tentu saja."

Penjaga itu mengambil yoyo.

Percobaan pertama gagal.

Plak!

Yoyo jatuh ke tanah.

Percobaan kedua pun gagal.

Percobaan ketiga...

Masih gagal.

Para penjaga tertawa.

"Ha-ha-ha!"

Namun penjaga itu tidak menyerah.

Ia mencoba berkali-kali hingga akhirnya gerakannya mulai teratur.

Putaran yoyo semakin cepat.

"Berhasil!"

Yoyo kembali tepat ke telapak tangannya.

"Ha-ha! Aku bisa!"

Si Oren tersenyum.

"Kalau begitu, ambillah."

"Gratis?"

"Anggap saja hadiah untuk penjaga kerajaan."

Penjaga itu tampak senang.

"Pedagang yang baik."

Ia kemudian memberi isyarat kepada penjaga gerbang.

"Biarkan dia masuk."

Gerbang Vajraningrat pun terbuka.


---

Si Oren segera memasuki wilayah kerajaan.

Namun hujan semakin deras.

BYURRR!

Bulu tubuhnya menjadi basah kuyup.

Mainan-mainan yang dibawanya pun mulai terkena air.

"Kalau begini terus, daganganku bisa rusak semua."

Ia memandang ke sepanjang jalan.

Di kejauhan terlihat sebuah warung makan sederhana yang masih buka.

"Bagus."

Si Oren segera berlari ke sana.

Begitu masuk, ia mengguncangkan tubuhnya.

Brusss!

Air hujan beterbangan ke segala arah.

Pemilik warung menatapnya dengan heran.

"Waduh, Kucing! Jangan mengguncang bulumu di dalam!"

"Maaf, maaf."

Si Oren duduk di dekat tungku.

Uap hangat segera menyelimuti tubuhnya.

Aroma makanan panas memenuhi ruangan.

Ia membuka tas dagangannya dan mulai memeriksa mainan-mainannya.

"Untung belum rusak."

Di luar, petir kembali menggelegar.

DUUUUUM!

Si Oren menatap jendela warung.

Di balik tirai hujan, ia dapat melihat siluet tembok hitam dan menara-menara baja yang sesekali diterangi kilatan petir.

Benteng Gunturjaya.

Si Oren menyipitkan mata.

"Jadi di sanalah biji Pohon Dunia berada..."

Ia kemudian tersenyum tipis.

"Tapi sebelum itu..."

"...aku harus mencari tahu bagaimana caranya masuk ke benteng tanpa membuat seluruh Laskar Halilintar mengejarku."

Di luar warung, kilat kembali menyambar.

Dan di atas gunung, sesuatu yang sangat besar bergerak sesaat di balik awan hitam.
Chapter 89 Penjagaan ketat 
Setelah cukup lama mengamati keadaan, Si Oren akhirnya meninggalkan Kerajaan Vajraningrat. Ia kembali menyusuri jalan yang basah dan segera menuju tempat persembunyian mereka di balik pepohonan.

Begitu tiba, Pandika dan Si Maung langsung menghampirinya.

"Bagaimana keadaan di dalam?" tanya Pandika.

Si Oren menggeleng.

"Penjagaan istana sangat ketat. Para prajurit berjaga hampir di setiap sudut. Penduduknya juga sangat tertutup terhadap orang asing. Sulit sekali mendapatkan informasi."

Pandika menghela napas.

"Kalau begitu, kita terpaksa menggunakan cara lama."

"Terobos saja?"

Si Oren tersenyum.

"Sepertinya begitu."

Si Maung menatap langit.

"Tunggu sampai malam. Saat penjagaan mulai lengah, kita bergerak."


---

Malam akhirnya tiba.

Awan hitam yang sejak pagi menyelimuti Vajraningrat perlahan bergerak menjauh. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, bulan purnama tampak sempurna di atas langit.

Cahayanya menerangi pegunungan, sementara sisa-sisa hujan menetes dari dedaunan.

Pandika berdiri dan menggenggam pedangnya.

"Sudah waktunya."

Si Maung mengaktifkan kabut putihnya.

Kabut tipis merayap di antara pepohonan, menyelimuti ketiganya.

Pandika kemudian melesat.

Langkah-Langkah Mendominasi.

Tubuhnya bergerak begitu cepat hingga hanya meninggalkan bayangan samar. Dengan bantuan kabut Si Maung, mereka melewati pos-pos penjagaan dan menyusup di antara barikade para prajurit.

Tak seorang pun menyadari kehadiran mereka.

Mereka akhirnya tiba di depan Benteng Gunturjaya.

Anehnya, pintu istana malam itu tidak tertutup.

"Keberuntungan berpihak kepada kita," bisik Si Oren.

Pandika masuk.

Di dalam benteng, suasana jauh lebih sunyi.

Tangga batu menjulang tinggi menuju lantai-lantai atas. Namun di setiap lantai selalu terdapat beberapa penjaga.

"Jangan berhenti," bisik Si Maung.

"Panjat terus."

Pandika berlari menaiki tangga tanpa menimbulkan suara.

Satu lantai.

Dua lantai.

Tiga lantai.

Semakin tinggi mereka naik, semakin kuat aroma yang tercium oleh Si Maung.

"Aku mendapatkannya."

"Aromanya berasal dari lantai paling atas."

Pandika mempercepat langkahnya.

Akhirnya mereka tiba di lantai tertinggi.

Di sana terdapat sebuah ruangan luas menyerupai taman rahasia. Pohon-pohon aneh tumbuh di antara batu-batu hitam, dan cahaya kebiruan memenuhi udara.

Namun perhatian mereka segera tertuju kepada sesuatu di tengah taman.

Sesosok makhluk besar duduk dalam keadaan terikat.

Listrik berwarna biru terus merambat di sekeliling tubuhnya.

Si Oren berbisik,

"Itu... Vajrakaal Rudrapati."

"Makhluk mistis penguasa petir."

Pandika memperhatikannya dengan waspada.

Tiba-tiba kedua mata makhluk itu terbuka.

KRAK!

Percikan listrik menyambar udara.

"Hai, penyusup!"

"Antek-antek asing, apa yang kalian lakukan di sini?"

Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti membawa arus listrik. Udara bergetar dan rambut Pandika berdiri.

"Hati-hati!" seru Si Oren.

"Jangan terlalu dekat. Suaranya saja bisa menghantarkan listrik!"

Si Maung melompat dari pundak Pandika.

Dalam sekejap tubuh kecilnya berubah menjadi kucing besar.

"Tenanglah, makhluk mistis."

"Perkenalkan, aku Si Maung, Raja Kucing dan sahabat para binatang."

"Kami tidak datang untuk menyakitimu."

"Kami sedang menjalankan misi untuk menyelamatkan Pohon Dunia yang sedang sekarat."

"Kami membutuhkan bijinya."

"Jika kau membantu kami, kami akan membebaskanmu."

Makhluk itu tertawa.

KRAHAHA... KRAK!

Percikan listrik keluar dari tubuhnya.

"Lucu sekali."

"Bagaimana mungkin kalian membebaskanku?"

Ia menunjuk tubuhnya.

"Aku dipaku dengan Paku Petir."

"Selama bertahun-tahun aku terkurung di sini."

"Mereka bahkan mengambil darahku hingga kekuatanku semakin lemah."

Si Maung memandangnya dengan iba.

"Kalau begitu, makanlah ini."

Ia mengeluarkan sebutir biji ajaib.

"Biji Pohon Dunia dapat memulihkan kekuatanmu."

Si Maung melemparkannya.

Makhluk itu menangkapnya dengan mulut dan langsung menelannya.

Sesaat kemudian...

BOOOM!

Gelombang listrik menyebar ke seluruh ruangan.

Cahaya biru memenuhi taman.

Tubuh Vajrakaal Rudrapati membesar, dan kilat kembali mengalir kuat di antara tanduk serta lengannya.

"Sudah lama..."

"Aku tidak merasakan kekuatan seperti ini."

Sementara itu, Si Maung telah menemukan sesuatu.

Ia mengendus batang pohon aneh di sudut taman.

"Di sini!"

"Biji Pohon Dunia!"

Dengan cakarnya, ia mulai mengeruk batang pohon tersebut.

Serpihan kayu berjatuhan.

Beberapa saat kemudian, cahaya hijau keemasan muncul dari dalam batang.

"Ketemu!"

Si Maung segera mengambil biji itu dan menyerahkannya kepada Pandika.

Namun Vajrakaal Rudrapati masih belum dapat bergerak.

Ia mengerahkan seluruh kekuatannya.

KRAAAK!

Petir menyambar Paku Petir.

Tetapi paku itu tetap kokoh.

"Aku tidak mampu menghancurkannya."

Pandika maju.

"Kalau begitu, biarkan aku mencoba."

Ia menggenggam pedangnya.

Tubuhnya mengambil posisi awal Tarian Bulan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Gerakannya semakin cepat.

Cahaya putih mulai menyelimuti pedangnya.

Vajrakaal Rudrapati memandang dengan takjub.

"Apa itu?"

"Tarian Bulan."

Pandika melakukan gerakan terakhir.

Pedangnya membentuk garis cahaya lurus.

SRAAAANG!

DUAARRR!

Paku Petir terbelah menjadi dua.

Gelombang listrik menyambar seluruh taman.

Vajrakaal Rudrapati akhirnya bebas.

Namun ia tidak langsung pergi.

"Aku sudah terlalu lama berada di tempat ini."

"Aku bahkan tidak tahu bagaimana keluar dari benteng ini tanpa membangunkan seluruh kerajaan."

Pandika membuka kantong ajaibnya.

"Kalau begitu, ikutlah bersama kami."

Makhluk itu menatap kantong kecil tersebut dengan heran.

"Ke dalam benda sekecil itu?"

"Percayalah."

Vajrakaal Rudrapati akhirnya mengangguk.

"Baiklah."

Tubuhnya berubah menjadi cahaya listrik, lalu masuk ke dalam kantong ajaib Pandika.

Si Maung segera mengambil Biji Pohon Dunia.

"Sudah dua urusan kita selesaikan."

Si Oren menoleh ke arah lorong.

"Tapi kurasa kita punya masalah baru."

Pandika terdiam.

Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki.

Tak... tak... tak...

Kemudian suara terompet penjaga menggema di seluruh benteng.

WOOOOOONG!

Si Maung menatap Pandika.

"Sepertinya mereka tahu ada sesuatu yang terjadi."

Pandika menggenggam pedangnya.

"Kalau begitu..."

"Kita harus keluar sebelum seluruh Laskar Halilintar datang."
Chapter 90 Pelarian dari Benteng Gunturjaya

Belum sempat Pandika, Si Maung, dan Si Oren meninggalkan ruangan tertinggi Benteng Gunturjaya, suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Tak! Tak! Tak!

Seorang prajurit muncul di ambang pintu.

Matanya membelalak melihat keadaan taman yang telah porak-poranda.

"Ada penyusup!"

"Vajrakaal Rudrapati telah menghilang!"

Teriakannya menggema ke seluruh benteng.

Dalam sekejap, suara terompet perang meraung dari menara-menara.

WOOOOOONG!

Pandika segera berbalik.

"Kita pergi!"

Ia melesat menuruni tangga dengan Langkah-Langkah Mendominasi.

Namun baru beberapa langkah ia berlari—

BRAAAK!

Petir menyambar tepat di hadapannya.

Pandika melompat menghindar.

Di ujung lorong berdiri seorang lelaki bertubuh tegap dengan jubah perang hitam keperakan. Di tangannya tergenggam sebuah palu raksasa yang dikelilingi kilatan listrik.

Dialah Adipati Vajrakusuma, pemegang Palu Petir legendaris.

Tatapannya tajam.

"Berhenti!"

Pandika tidak menjawab.

Vajrakusuma mengangkat palunya ke langit.

KRAAAAK!

Petir turun dari awan, mengalir melalui palu, lalu ditembakkan lurus ke arah Pandika.

DUAAARRR!

Tubuh Pandika terpental.

Ia berguling beberapa kali di lantai batu sebelum akhirnya menghentikan tubuhnya dengan satu tangan.

Pandika terengah.

Namun ia kembali berdiri.

"Kekuatan petir..."

Belum sempat ia menarik napas, Vajrakusuma kembali mengangkat palunya.

"Tangkap penyusup itu!"

"Jangan biarkan dia keluar!"

Dari lorong-lorong bermunculan sepuluh Ksatria Elit Laskar Halilintar.

Mereka membawa tombak bercahaya listrik.

Dengan satu gerakan, para ksatria melompat ke udara.

Petir menyelimuti tubuh mereka.

Mereka tidak berlari.

Mereka terbang.

Pandika menatap ke belakang.

"Sepuluh orang sekaligus?"

Si Maung mendesis.

"Jangan dilawan di tempat terbuka!"

Pandika segera mengambil keputusan.

Ia menggenggam pedangnya.

Cahaya putih muncul pada bilahnya.

SRAAAANG!

Satu tebasan menghantam dinding baja hitam.

BRAK!

Tembok Benteng Gunturjaya jebol.

Pandika melompat keluar melalui lubang tersebut.

Angin malam langsung menerpa tubuhnya.

Namun di bawah sana...

Puluhan prajurit telah menunggu.

Pedang terangkat.

Busur telah ditarik.

"Dia di sana!"

"Jangan biarkan dia lolos!"

Pandika masih jatuh dari ketinggian.

Ia melihat barisan prajurit di bawahnya.

Tak ada waktu untuk menghindar.

Ia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan.

Kemudian mengayunkannya ke bawah.

DUAAAAARRR!

Gelombang kekuatan menghantam tanah.

Tanah pecah dan batu-batu beterbangan.

Puluhan prajurit terpental ke segala arah.

Barisan mereka porak-poranda dalam sekejap.

Pandika terus jatuh.

Namun sebelum tubuhnya mencapai tanah—

Sebuah bayangan raksasa melintas di atasnya.

KRAAAAAA!

Garuda datang menukik dari langit.

Musang Pandan berada di punggungnya.

"Garuda!"

"Tangkap Pandika!"

Garuda membentangkan cakarnya.

Dengan gerakan tepat, ia menangkap tubuh Pandika sebelum jatuh ke tanah.

"Pegang erat!"

Pandika segera mencengkeram bulu emas Garuda.

Namun pengejaran belum berakhir.

Sepuluh Ksatria Elit Laskar Halilintar telah keluar dari benteng.

Mereka terbang di udara dengan tombak petir menyala.

"Kejar!"

"Jangan biarkan mereka kabur!"

Petir ditembakkan bertubi-tubi.

KRAK! KRAK! KRAK!

Satu sambaran mengenai sayap Garuda.

Burung raksasa itu meraung kesakitan.

Matanya berubah penuh amarah.

"Garuda, jangan!"

Namun terlambat.

Garuda berbalik.

Ketiga kepalanya mengeluarkan pekikan dahsyat.

SKRIIIIAAAAAA!

Ia menerjang para ksatria.

Salah satu Laskar Halilintar mencoba menusukkan tombaknya.

Garuda mengibaskan sayap.

WHOOOOSH!

Ksatria itu terpental.

Dua lainnya mencoba mengepung dari belakang.

Garuda berputar tajam dan menghantam mereka dengan sayapnya.

Pertempuran udara pun berubah menjadi kekacauan.

Sementara itu, Musang Pandan melihat sesuatu dari sudut matanya.

Para ksatria yang tersisa mulai mengejar mereka lagi.

Ia merogoh kantong.

Sebuah benda kecil berbentuk bulat muncul di tangannya.

Si Oren memandangnya.

"Itu apa?"

Musang Pandan tersenyum.

"Hadiah dari dapur."

Ia melempar benda tersebut ke belakang.

BOOOM!

Awan asap hitam pekat langsung meledak di udara.

Bukan hanya asap.

Bau menyengat memenuhi langit.

Para Laskar Halilintar terbatuk-batuk.

"Batuk!"

"Apa ini?!"

"Aku tidak bisa melihat!"

Salah seorang kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Yang lain berusaha terbang keluar dari awan asap, tetapi bau menyengat membuat mereka panik dan kacau.

Beberapa akhirnya terjerembab ke tanah.

Garuda tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Ia mengepakkan kedua sayapnya sekuat tenaga.

WHUUUUUSSSHHH!

Angin badai tercipta.

Debu beterbangan.

Panah-panah yang ditembakkan dari benteng terpental ke segala arah.

Pandika berpegangan erat.

Si Maung dan Si Oren juga mencengkeram bulu Garuda.

Perlahan, Benteng Gunturjaya semakin jauh di belakang mereka.

Di puncak benteng, Adipati Vajrakusuma berdiri memandangi langit.

Tangannya masih menggenggam Palu Petir.

Matanya mengikuti bayangan Garuda yang semakin kecil.

"Jadi..."

"Ini bukan sekadar pencuri biasa."

Ia menatap langit yang mulai kembali diselimuti awan.

"Mereka membawa pergi Vajrakaal Rudrapati."

"Dan mengambil sesuatu yang lebih berharga dari seluruh harta kerajaan."

Sementara itu, jauh di atas pegunungan, Pandika menatap kantong ajaib yang berisi Vajrakaal Rudrapati.

Si Maung tersenyum.

"Biji Pohon Dunia sudah kita dapatkan."

Si Oren menghela napas lega.

"Dan kita masih hidup."

Musang Pandan tertawa.

"Jangan terlalu cepat bersyukur."

Pandika menatapnya.

"Kenapa?"

Musang Pandan menunjuk ke arah cakrawala.

"Karena sekarang kita sudah membuat Kerajaan Vajraningrat marah."

Di kejauhan, petir kembali menyambar gunung.

KRAAAAK!

Dan dari balik awan, terdengar suara gemuruh panjang seperti raungan perang.

Perjalanan mereka menuju kerajaan berikutnya baru saja dimulai.
Chapter 91 Pesta di Desa Wangi

Malam telah turun ketika Garuda akhirnya kembali menuju Desa Wangi.

Dari kejauhan, cahaya lampu-lampu rumah mulai tampak di antara pepohonan. Setelah perjalanan panjang dan pengejaran yang melelahkan, Garuda menurunkan ketinggiannya perlahan.

Wuuusshhh...

Kedua sayapnya mengepak sekali lagi sebelum tubuh raksasanya mendarat dengan sempurna di tanah lapang di depan rumah Musang Pandan.

Pandika segera turun dari keranjang.

Si Maung dan Si Oren menyusul, sementara Musang Pandan melompat dari leher Garuda.

Mereka semua menghela napas lega.

"Selamat datang kembali di Desa Wangi," ujar Musang Pandan.

Si Oren mengangkat kedua kakinya dengan gembira.

"Kita berhasil!"

"Kita harus berpesta malam ini!"

Musang Pandan tertawa.

"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu."

Ternyata ia memang telah mempersiapkan semuanya.

Di dalam rumah, meja panjang telah dipenuhi hidangan.

Ada kue cokelat hangat yang baru keluar dari tungku, minuman jahe panas dengan rasa pedas yang menghangatkan tubuh, serta ikan bakar yang dilumuri bumbu halus dan ditaburi daun bawang.

Aroma masakan memenuhi seluruh rumah.

Si Maung langsung duduk.

"Setelah perjalanan sejauh itu, makanan seperti ini adalah harta yang lebih berharga daripada emas."

Si Oren tertawa.

"Benar!"

Pandika ikut tersenyum.

Namun sebelum mereka mulai makan, Pandika teringat sesuatu.

Ia mengeluarkan kantong ajaibnya.

"Coba kalian lihat."

Pandika membuka kantong itu.

Cahaya biru menyembur keluar.

Sesaat kemudian, sesosok makhluk besar muncul dari dalamnya.

Vajrakaal Rudrapati.

Tubuhnya masih memancarkan percikan listrik, tetapi wajahnya kini tidak lagi menunjukkan kemarahan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia berdiri tanpa rantai, tanpa paku petir, dan tanpa dinding penjara yang mengurungnya.

Ia memandang langit malam.

Bulan bersinar di antara dedaunan.

Vajrakaal terdiam cukup lama.

"Aneh..."

Pandika mendekatinya.

"Apa yang kau rasakan?"

Vajrakaal menarik napas dalam-dalam.

"Kebebasan."

"Sudah begitu lama aku tidak merasakan angin malam menyentuh tubuhku."

Ia kemudian duduk di dekat perapian.

Musang Pandan menyodorkan makanan kepadanya.

"Makanlah."

Vajrakaal memandang hidangan itu dengan bingung.

"Aku... tidak terbiasa makan bersama orang lain."

Si Oren menyenggolnya.

"Kalau begitu, mulai sekarang biasakan."

Vajrakaal akhirnya mengambil makanan.

Setelah beberapa saat, Pandika bertanya dengan hati-hati.

"Vajrakaal... tadi kau mengatakan bahwa kau tidak mengenal orang tuamu."

Makhluk itu terdiam.

Percikan listrik kecil muncul di ujung jarinya.

"Aku memang tidak mengenal mereka."

"Ketika aku masih kecil, aku diculik."

"Yang menculikku adalah bangsa Kragmora."

"Mereka menjualku sebagai makhluk langka."

Suasana meja mendadak hening.

"Mereka membawaku dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya aku jatuh ke tangan Kerajaan Vajraningrat."

"Aku tidak pernah tahu siapa ayah dan ibuku."

Pandika menundukkan kepala.

"Itu pasti sangat berat."

Vajrakaal menatap api.

"Selama bertahun-tahun aku hanya mengenal rantai."

"Ketika mereka mengambil darahku, tubuhku semakin lemah."

"Aku bahkan mulai berpikir bahwa kebebasan hanyalah sebuah mimpi."

Musang Pandan kemudian berkata,

"Kalau begitu, kau tidak perlu kembali ke sana."

Vajrakaal menatapnya.

"Kau bisa tinggal di Desa Wangi."

"Di sini tidak ada yang akan merantaimu."

Si Oren ikut berbicara.

"Atau..."

"Kalau kau ingin melihat dunia, ikutlah bersama kami."

Vajrakaal menoleh kepada Pandika, Si Maung, dan Si Oren.

"Ke mana kalian akan pergi?"

Pandika menjawab,

"Kami sedang mencari biji-biji Pohon Dunia."

"Pohon itu sedang sekarat."

"Perjalanan kami masih panjang."

Vajrakaal tersenyum untuk pertama kalinya.

"Kalau begitu..."

"Sudah lama aku tidak merasakan kebebasan seperti ini."

"Aku ingin melihat dunia."

Si Oren langsung mengangkat gelasnya.

"Berarti kau ikut!"

Musang Pandan tertawa.

"Kalau begitu, jangan biarkan makanan menjadi dingin."

Mereka semua mulai makan.

Ikan bakar berpindah dari satu piring ke piring lain. Kue cokelat hangat disantap bersama minuman jahe yang pedas dan menghangatkan tubuh.

Di luar rumah, malam semakin dalam.

Suara jangkrik bersahut-sahutan.

Burung malam berkicau dari kejauhan.

Katak bernyanyi di dekat sungai.

Dedaunan bergesekan tertiup angin.

Semua suara itu berpadu menjadi sebuah irama alami, seolah seluruh hutan sedang ikut merayakan kebebasan Vajrakaal Rudrapati.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Vajrakaal tertawa.

Bukan sebagai tawanan.

Bukan sebagai makhluk yang diperdagangkan.

Melainkan sebagai makhluk bebas yang akhirnya memiliki tempat untuk pulang.

Dan malam itu, di sebuah desa kecil yang tersembunyi di tengah hutan, sebuah persahabatan baru telah dimulai.
Chapter 92 Pulau Sarang Naga

Jauh di sebelah barat, di atas samudra yang luas dan tak bertepi, Naga Api Rakhtavira terbang menembus awan.

Sayapnya yang lebar menggetarkan udara, sementara bara merah masih menyala di sela-sela sisiknya. Dari ketinggian, ia melihat sebuah pulau yang hampir seluruhnya tersembunyi di balik kabut putih keabu-abuan.

Pulau itu tidak tercantum pada peta manusia.

Di tengahnya menjulang sebuah gunung hitam, dengan puncak yang menusuk awan. Dari lerengnya terlihat beberapa lubang besar seperti mulut gua.

Itulah sarang para naga.

Rakhtavira memperlambat kepakan sayapnya.

"Sudah lama aku tidak kembali ke sini..."

Namun semakin dekat ia terbang, semakin aneh perasaannya.

Tidak terdengar raungan naga.

Tidak terdengar kepakan sayap.

Tidak ada cahaya api yang biasanya menerangi lereng gunung.

Hanya kesunyian.

Rakhtavira akhirnya melihat sesuatu di tanah.

Bekas pertempuran.

Batu-batu besar pecah.

Pepohonan tumbang.

Cakar-cakar raksasa meninggalkan goresan panjang di tanah.

Beberapa batu bahkan tampak meleleh seperti pernah terkena kekuatan yang sangat besar.

Rakhtavira menggeram.

"Ini bukan pertarungan antar naga."

Ia menurunkan tubuhnya, hendak mendarat di dekat pintu gua terbesar.

Namun sebelum cakarnya menyentuh tanah—

BERHENTI!

Suara itu tidak terdengar melalui telinga.

Ia muncul langsung di dalam pikirannya.

Rakhtavira membeku di udara.

Telepati naga.

"Siapa kau?"

Tidak ada jawaban selama beberapa saat.

Kemudian suara lain terdengar, jauh dan berat, seperti gema dari dasar gunung.

"Rakhtavira... jangan mendarat."

Rakhtavira menatap gua-gua kosong di lereng gunung.

"Di mana kalian?"

"Kami telah pergi."

"Pergi?"

"Mereka datang."

Rakhtavira merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya meskipun darah naganya membara.

"Siapa?"

Suara itu menjawab dengan penuh kehati-hatian.

"Kragmora."

Nama itu membuat Rakhtavira terdiam.

Bangsa yang selama ini dikenal sebagai pemburu dan pedagang makhluk mistis.

Makhluk-makhluk yang tidak hanya menangkap naga, tetapi juga menjual darah, tulang, sisik, dan bagian tubuh mereka kepada kerajaan-kerajaan yang bersedia membayar mahal.

"Berapa banyak naga yang ditangkap?"

"Terlalu banyak."

Telepati itu semakin lemah.

"Mereka menemukan jalan menuju sarang kami."

"Satu demi satu saudara kita ditangkap."

"Sebagian melawan..."

Suara itu terputus sesaat.

"...tetapi mereka membawa senjata yang mampu melemahkan darah naga."

Rakhtavira mengepalkan cakarnya.

Ia memandang pulau yang telah menjadi rumah leluhurnya.

Kini tempat itu hanya menyisakan kehancuran.

"Apakah masih ada naga di sana?"

"Jangan mencari kami."

"Pergilah."

"Mereka mungkin masih mengawasi pulau ini."

Rakhtavira segera mengangkat tubuhnya lebih tinggi.

Kabut di sekitar pulau bergerak perlahan, seakan menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada gunung.

Untuk sesaat, Rakhtavira melihat bayangan-bayangan hitam di antara pepohonan.

Ia tidak menunggu lebih lama.

Dengan satu kepakan dahsyat—

WHOOOOSH!

Rakhtavira melesat meninggalkan pulau.

Ia tidak menuju sarang naga lain.

Tidak pula menuju kerajaan manusia.

Pikirannya justru tertuju kepada satu sosok yang beberapa waktu lalu telah memberinya kembali kebebasan.

Pandika.

Dan di samping pemuda itu ada seekor makhluk yang lebih dikenalnya sebagai sahabat para binatang.

Si Maung, Raja Kucing.

Rakhtavira teringat bagaimana mereka membebaskannya dari rantai besi. Ia juga teringat biji ajaib yang telah memulihkan tubuhnya.

"Aku harus menemukan mereka."

Jika bangsa Kragmora benar-benar telah mulai memburu naga, maka Pandika dan kawan-kawannya mungkin berada dalam bahaya.

Rakhtavira membentangkan sayapnya.

Api menyala dari sela-sela sisiknya.

Ia mengarahkan tubuhnya menuju daratan.

Jauh di belakangnya, pulau berkabut itu kembali ditelan kesunyian.

Namun dari dalam salah satu gua yang gelap, terdengar suara rantai bergeser.

Krek...

Kemudian suara napas berat.

Seolah-olah masih ada sesuatu yang tertinggal di sana.

Sesuatu yang belum diketahui oleh Rakhtavira.

Sesuatu yang sedang menunggu waktu untuk bangkit.

Chapter 93 Sarang Naga — Rencana Bangsa Kragmora

Jauh di balik kabut yang menyelimuti gunung purba, di tempat yang dahulu menjadi kediaman para naga, kini hanya tersisa kehancuran.

Batu-batu hitam berserakan di tanah. Rantai-rantai besar membelenggu gua-gua tempat para naga pernah bersemayam. Asap tipis mengepul dari celah gunung, sementara beberapa naga yang telah ditaklukkan terbaring dalam kurungan besi.

Di tengah ruang batu yang luas berdiri seorang makhluk asing berzirah gelap.

Dialah Magister Vulkanis Drak'Zor Ignivar, penguasa sihir lava dari bangsa Kragmora, bangsa asing yang datang dari dunia yang jauh.

Di hadapannya berdiri sebuah alat komunikasi kuno berbentuk lingkaran batu hitam. Di dalam lingkaran itu berputar cahaya merah seperti bara matahari.

Drak'Zor menekan sebuah kristal di tengah alat tersebut.

Cahaya merah menyala.

Sesaat kemudian terdengar suara berat dari balik cahaya.

"Laporkan keadaanmu, Drak'Zor."

Drak'Zor menundukkan kepala.

"Paduka Raja Magmorak, para naga telah berhasil kami taklukkan. Gunung ini kini berada di bawah kendali Kragmora. Namun pekerjaan kami belum selesai."

Bayangan besar muncul di dalam cahaya kristal.

Magmorak, Raja Kragmora.

Wajahnya keras seperti batu gunung berapi, sementara matanya menyala merah seperti magma yang baru keluar dari perut bumi.

"Aku tidak menginginkan alasan. Berapa lama lagi sampai gunung itu sepenuhnya menjadi milik kita?"

"Beberapa waktu lagi, Paduka. Kami masih bekerja secara sembunyi-sembunyi."

Magmorak terdiam.

Kemudian suaranya terdengar lebih rendah.

"Bagus. Jangan biarkan penduduk bumi mengetahui keberadaan kita terlalu cepat."

Drak'Zor menatap keluar dari gua.

Di kejauhan, seekor naga tua masih meronta dalam belenggu.

"Kami juga telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada gunung ini, Paduka."

"Apa?"

"Para naga."

Mata Magmorak menyipit.

Drak'Zor melanjutkan.

"Darah mereka memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan memanfaatkannya, kami dapat memperkuat pasukan dan mengendalikan gunung-gunung api di dunia ini."

Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara bara yang meletup.

Lalu Magmorak berkata:

"Jangan berhenti di sana."

Bayangan wajahnya semakin mendekat.

"Bumi harus diubah."

Drak'Zor menundukkan kepala.

"Diubah menjadi apa, Paduka?"

Jawaban Magmorak terdengar seperti gema dari dalam gunung.

"Menjadi dunia api."

"Gunung-gunungnya akan bangkit."

"Lautannya akan mendidih."

"Hutannya akan menjadi abu."

"Dan langitnya akan berwarna merah."

Drak'Zor tersenyum tipis.

"Planet Ignisar akan memiliki saudara baru."

Namun Magmorak belum selesai.

"Ada satu masalah."

"Apa itu, Paduka?"

"Bumi bukan dunia kosong."

"Benar."

"Ada kekuatan kuno yang bersemayam di sana. Dan jika kekuatan itu mengetahui keberadaan kita, bangsa-bangsa lain akan datang."

Drak'Zor terdiam.

Magmorak melanjutkan:

"Bangsa lain tidak boleh mendapatkan kesempatan untuk ikut campur."

"Dimengerti."

"Bekerjalah cepat."

"Dan bekerja dalam diam."

Cahaya komunikasi mulai meredup.

Sebelum hubungan itu terputus, Drak'Zor mengangkat kepalanya.

"Semua akan terlaksana sesuai perintah Paduka."

Cahaya merah padam.

Kesunyian kembali memenuhi sarang naga.

Drak'Zor berjalan menuju sebuah jendela batu yang menghadap gunung.

Di bawah sana, para prajurit Kragmora sedang memasang menara-menara logam di lereng gunung. Di kejauhan, lava mulai dialirkan menuju saluran buatan.

Namun tanpa diketahui oleh Drak'Zor, jauh di balik awan di atas gunung...

sepasang mata naga membuka perlahan.

Sang naga belum mati.

Dan ia telah mendengar semuanya.

Chapter 94🐉 Ghorakara — Naga Bayangan Abadi

Di balik awan hitam yang menggantung di atas gunung, sesuatu bergerak tanpa suara.

Tidak ada kepakan sayap.

Tidak ada bayangan tubuh.

Hanya sepasang mata keemasan yang perlahan terbuka di tengah kegelapan.

Dialah Ghorakara, Naga Bayangan Abadi.

Tubuhnya telah berubah menjadi bayangan murni. Sisiknya tidak lagi dapat disentuh, bahkan cahaya bulan pun menembus tubuhnya seolah ia hanyalah kabut yang hidup.

Dari ketinggian, Ghorakara mengamati sarang naga yang telah berubah menjadi tempat penyiksaan.

Puluhan naga terbelenggu oleh rantai hitam.

Sebagian tidak lagi mampu mengangkat kepala.

Sebagian lainnya mengamuk tanpa kendali, matanya merah dan napasnya tersengal-sengal.

Ghorakara telah melihat semua itu.

Dan dialah yang sebelumnya mengirimkan telepati kepada Rakhtavira.

Pergilah.

Jangan kembali ke pulau ini.

Bangsa asing telah datang.

Kini Ghorakara memahami siapa mereka.

Kragmora.

Makhluk-makhluk asing dari dunia lava yang datang ke Bumi dengan tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menangkap naga.

Ghorakara menyusup di antara kabut.

Tak seorang pun prajurit Kragmora menyadari keberadaannya.

Ia mengamati sebuah mesin besar yang berdiri di dekat lereng gunung.

Sebuah aliran magma dituangkan ke dalam wadah logam.

Kemudian terdengar suara mendengung.

Grrrrrrr...

Lava yang panas berubah bentuk.

Mengeras.

Memanjang.

Dan dalam beberapa saat berubah menjadi rantai logam hitam yang sangat kuat.

Ghorakara terdiam.

"Jadi itulah cara mereka membelenggu naga."

Namun ada sesuatu yang lebih mengerikan.

Di dekat kandang naga berdiri sebuah alat berbentuk menara kecil.

Dari dalamnya keluar suara aneh.

Wiiiiing... nggggg...

Gelombang suara tak terlihat menyebar ke seluruh ruangan.

Salah satu naga tiba-tiba mengamuk.

Ia menghantamkan kepalanya ke dinding.

Naga lain meraung dan mencakar tubuhnya sendiri.

Ghorakara segera memahami maksud alat itu.

"Pengendali pikiran..."

Mereka tidak hanya menangkap naga.

Mereka sedang mematahkan kehendak mereka.

Ghorakara menatap ke arah puncak gunung.

Di sana, para Kragmora sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar.

Sebuah menara raksasa mengelilingi kawah gunung.

Pipa-pipa logam menjalar ke segala arah.

Lava mulai dialirkan ke dalamnya.

Ghorakara akhirnya memahami rencana mereka.

"Mereka ingin membangunkan seluruh gunung berapi."

"Jika mereka berhasil..."

"Bumi akan berubah menjadi dunia api."

Untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, Ghorakara merasakan kemarahan yang begitu besar.

Namun ia tidak menyerang.

Belum.

Naga Bayangan Abadi tahu bahwa kekuatan tidak selalu berarti menyerang lebih dahulu.

Ia harus mengetahui kelemahan mereka.

Ia harus mengetahui dari mana mereka datang.

Dan yang paling penting...

Ia membutuhkan sekutu.

Ghorakara memejamkan matanya.

Ia menghirup udara malam.

Di antara aroma asap, lava, dan besi panas, ia menemukan sesuatu yang masih dikenalnya.

Aroma api naga.

Rakhtavira.

Jauh di sebelah barat.

Rakhtavira telah terbang sangat jauh.

Ghorakara membuka matanya.

"Tunggu aku, Rakhtavira."

Tubuhnya perlahan berubah menjadi kabut hitam.

Kemudian bayangan itu melesat menembus awan.

Tidak ada suara.

Tidak ada jejak.

Hanya sekelebat kegelapan yang menghilang di antara bintang-bintang.

Ghorakara terbang mengejar Rakhtavira.

Namun dalam hatinya ia telah menyusun sebuah rencana.

Bukan untuk sekadar menyelamatkan naga.

Bukan pula untuk menghancurkan satu gunung.

Ia ingin menemukan cara untuk mengusir bangsa Kragmora dari Bumi.

Dan untuk melakukan itu...

Ghorakara membutuhkan bantuan seorang manusia.

Seorang pendekar yang telah membebaskan naga dari rantai.

Pandika.