Chapter 105 Kebangkitan Arya wiratma
Di dalam gua penempaan, api tungku perlahan meredup. Senjata-senjata para ksatria yang telah ditempa kembali memancarkan kilau baru, seakan ikut menantikan perjalanan berikutnya. Rangga Wulung berjalan menuju sebuah ruangan di bagian terdalam gua. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah Batu Lompatan, tersusun dari batu kristal hitam yang dikelilingi lingkaran ukiran kuno. Puluhan urat kristal putih menjalar di permukaannya, berdenyut perlahan seperti aliran nadi bumi.Rangga Wulung tersenyum. «"Batu Lompatan ini kutempa sendiri berabad-abad yang lalu. Ia terhubung dengan seluruh jalur rahasia para ksatria Mythopia."»
Ia menoleh kepada Surya Wikrama.
«"Saudaraku... kini biarlah cahaya pedangmu membimbing kita menuju Gunung Merbabu."»
Surya Wikrama melangkah ke tengah lingkaran batu.
Ia mengangkat pedang pusakanya tinggi-tinggi.
Cahaya keemasan memancar dari bilah pedang, mengalir memasuki ukiran-ukiran kuno.
Seluruh ruangan bergetar.
Kristal-kristal mulai bersinar satu demi satu.
«DRAAAAK!!»
Petir putih menyambar dari langit-langit gua, menyelimuti seluruh rombongan.
Dalam sekejap, cahaya menelan pandangan mereka.
Tak ada lagi tanah.
Tak ada lagi langit.
Yang terdengar hanyalah gemuruh energi purba yang menghubungkan satu gunung dengan gunung lainnya.
Sesaat kemudian...
Mereka kembali menginjak tanah.
Namun udara yang mereka hirup telah berbeda.
Mereka telah tiba di Gunung Merbabu.
Di hadapan mereka berdiri sebuah aula bawah tanah yang begitu megah.
Kristal-kristal putih sebesar pohon memancarkan cahaya lembut, menerangi ruangan tanpa api maupun pelita.
Dinding-dindingnya dipahat dari marmer putih yang begitu halus hingga menyerupai cermin. Setiap garis ukirannya presisi, membentuk pola bintang, rasi langit, dan lingkaran-lingkaran geometri yang belum pernah dilihat Isidore sebelumnya.
Di sepanjang lorong tergantung peta-peta dunia kuno.
Bukan hanya peta daratan...
Melainkan pula peta lautan, gugusan bintang, bahkan lukisan planet-planet yang mengitari langit malam.
Isidore memandangnya dengan takjub.
«"Siapa yang membuat semua ini...?"»
Rangga Wulung menjawab pelan.
«"Arya Wiratma."»
«"Tak ada seorang pun di Mythopia yang memahami dunia lebih dalam darinya."»
Rakajati menancapkan tongkat kayunya ke lantai.
Akar-akar pohon menjalar menembus batuan, menyusuri setiap rongga bumi.
Beberapa saat kemudian akar itu berhenti pada satu titik.
Rakajati membuka matanya.
«"Kutemukan dia."»
«"Ia tidak berada di balik dinding..."»
«"...melainkan jauh di bawah kaki kita."»
Jagat Dirgantara maju sambil menggenggam palunya.
Ia meletakkan telapak tangannya di atas lantai batu.
Tanah bergetar pelan.
Terdengar bunyi roda-roda batu kuno yang telah tertidur selama berabad-abad.
Perlahan sebuah lempengan marmer bergeser dengan sendirinya.
Di bawahnya terbentang tangga batu yang menurun ke kedalaman bumi.
Mereka pun turun.
Semakin dalam mereka melangkah, udara menjadi semakin sejuk.
Dinding lorong dipenuhi batu-batu hijau bercahaya yang memancarkan sinar lembut laksana zamrud hidup.
Di ujung lorong terbuka sebuah ruang bundar yang sunyi.
Di tengah ruangan berdiri sebuah kristal raksasa sebening embun.
Di dalamnya tampak seorang lelaki berjubah putih keemasan sedang duduk bersila dengan mata terpejam.
Wajahnya tenang.
Seolah ia hanya tertidur semalam, bukan selama berabad-abad.
Isidore melangkah perlahan.
Ia mengangkat Keris Pusaka Mythopia.
Cahaya putih memenuhi seluruh ruangan.
Dari cahaya itu muncul sosok Raja Alam Wardana.
Suara sang leluhur bergema memenuhi ruang batu.
«"Arya Wiratma..."»
«"Bangkitlah dari tidur panjangmu."»
«"Kerajaan Mythopia kembali membutuhkan kebijaksanaanmu."»
«"Kembalilah berbakti kepada Raja Muda..."»
«"...Isidore, putra Raja Itharius."»
Kristal itu mulai dipenuhi kabut putih yang berputar seperti awan.
Retakan-retakan halus menjalar di seluruh permukaannya.
«KRAAAK...!»
Dengan dentuman lembut, kristal itu pecah menjadi ribuan serpihan cahaya yang melayang di udara sebelum lenyap menjadi butiran-butiran sinar.
Sosok di dalamnya perlahan membuka mata.
Sepasang mata yang tajam namun penuh ketenangan memandang Isidore.
Ia bangkit berdiri.
Jubah putih keemasannya berkibar pelan, meski tak ada angin yang berembus di dalam ruangan.
Arya Wiratma kemudian berlutut dengan satu kaki di hadapan Isidore.
Ia menundukkan kepala.
«"Hamba, Arya Wiratma..."»
«"Ksatria Perancang Strategi Mythopia..."»
«"Siap mengabdikan seluruh ilmu, kebijaksanaan, dan hidup hamba kepada Paduka Raja Muda Isidore, putra Raja Itharius."»
Ruangan kembali hening.
Namun seluruh ksatria mengetahui...
Dengan bangkitnya Arya Wiratma, bukan hanya seorang ksatria yang kembali.
Melainkan otak terbesar yang pernah dimiliki Kerajaan Mythopia.
Chapter 106 Cerita Arya wiratmaSuasana di ruang kristal yang berada jauh di bawah Gunung Merbabu berubah hangat.
Setelah tidur panjang selama seribu tahun, Arya Wiratma berdiri kembali di tengah saudara-saudaranya.
Surya Wikrama adalah orang pertama yang memeluknya.
"Selamat datang kembali, saudaraku."
Disusul Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, Guntur Wisesa, Sagara Putra, Jagat Dirgantara, Rakajati, dan Rangga Wulung. Satu demi satu mereka saling berpelukan, seolah waktu seribu tahun hanyalah satu malam yang panjang.
Arya Wiratma tersenyum tipis.
"Aku bersyukur... masih ada yang bertahan."
Isidore memandang para ksatria itu dengan takjub. Ikatan persaudaraan mereka terasa begitu dalam, melampaui waktu dan kematian.
Arya Wiratma kemudian melangkah menuju meja batu bundar yang dipenuhi peta dunia.
Dengan ujung jarinya, ia menyentuh permukaan peta.
Cahaya putih menyala, membentuk gambaran dunia kuno.
"Raja Muda Isidore..."
"Ada satu kebenaran yang selama ini hilang dari sejarah manusia."
Semua terdiam.
"Seribu tahun yang lalu..."
"Mythopia tidak sedang berperang melawan monster biasa."
Ia mengangkat pandangannya.
"Mythopia adalah benteng terakhir Bumi."
Ruangan menjadi sunyi.
"Kami menghadapi Lima Bangsa Penjajah Antarbintang yang datang dari dunia-dunia jauh untuk menaklukkan planet ini."
Di atas peta muncul lima bola cahaya yang mewakili lima dunia asing.
"Yang pertama adalah Bangsa Zhar'Kor, penakluk dari Planet Varkhos."
Cahaya berubah menjadi gambaran pasukan baja.
"Mereka menguasai logam hidup. Tubuh mereka diselimuti baja yang mampu memulihkan diri. Mereka membangun benteng hanya dalam hitungan jam."
Di belakang mereka tampak Titan Ferrum, raksasa besi setinggi gunung; Drakon Baja, naga mekanis yang memuntahkan logam cair; dan kawanan Belalang Baja yang melahap ladang-ladang hingga tandus.
"Tujuan mereka sederhana."
"Mengubah Bumi menjadi dunia besi."
Cahaya berikutnya berubah menjadi lautan kabut hitam.
"Yang kedua..."
"Bangsa Nyxar dari Planet Umbros."
Sosok Ratu Nyxaleth muncul bagaikan bayangan.
"Mereka menguasai kegelapan, ilusi, dan keputusasaan."
Di belakangnya tampak Bayang Agung, Umbra Hydra, naga berkepala sembilan dari kabut hitam, dan Raja Wangkara yang memimpin jutaan roh kabut.
Mereka ingin menenggelamkan dunia dalam malam yang tak pernah berakhir."
Peta kembali berubah.
Gunung-gunung meletus.
Lautan magma mengalir.
"Itulah bangsa Kragmora dari Planet Ignisar."
"Seluruh pasukan mereka hidup dari api."
Di hadapan mereka berjalan Lelakut Gunung, Gendrawani Bertangan Delapan, dan Naga Lava Ignirax.
"Mereka ingin membentuk ulang Bumi menjadi planet api."
Cahaya kembali berubah.
Kini seluruh ruangan dipenuhi jam-jam raksasa yang berputar sendiri.
Yang keempat..."
"Bangsa Chronarion dari Planet Aeternis."
Arya Wiratma menarik napas panjang.
"Merekalah yang paling sulit dilawan."
"Karena mereka mempermainkan waktu."
Bayangan Kala Rambat muncul, diikuti Chronobeast sang pemakan umur dan Penjaga Jam Abadi yang tubuhnya tersusun dari kristal waktu.
"Mereka tidak sekadar membunuh."
"Mereka menghapus sejarah."
Terakhir...
Seluruh ruangan berubah menjadi hutan arwah.
Pohon-pohon hitam menjulang.
Roh-roh beterbangan di antara akar.
"Bangsa terakhir adalah Sylthar, penguasa jiwa dari Planet Elyss Void."
Ratu Vaelthra berdiri di tengah jutaan arwah.
Di belakangnya tampak Nagagini Emas yang telah dirasuki, Barong Lodra sang pembawa wabah, dan Pohon Arwah yang melahirkan roh-roh pendendam tanpa akhir.
"Mereka ingin mengubah seluruh makhluk hidup menjadi pasukan yang kehilangan kehendak."
Tak seorang pun berbicara.
Bahkan Bhra Anuraga yang biasanya berapi-api pun terdiam.
Arya Wiratma melanjutkan.
"Namun kekuatan mereka bukan hanya terletak pada pasukan."
"Mereka sangat pandai memengaruhi hati para raja manusia."
"Mereka tidak datang sebagai penjajah."
"Mereka datang sebagai penyelamat."
"Mereka menawarkan kemakmuran, ilmu pengetahuan, umur panjang, dan kekuatan."
"Perlahan-lahan para raja mulai saling mencurigai."
Persekutuan kerajaan-kerajaan di Bumi pun hancur."
Rakajati mengepalkan tangan.
"Jadi... mereka memecah belah manusia sebelum menyerang."
Arya Wiratma mengangguk.
"Benar."
"Di saat itulah Rasvatar bangkit."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Rasvatar melihat bahaya yang tidak ingin dipercaya oleh banyak orang."
"Ia mendatangi para raja, memohon agar seluruh kerajaan bersatu."
"Tetapi tidak seorang pun mau mendengarkannya."
"Sebagian menganggap para pendatang hanyalah utusan dari langit."
"Sebagian lagi percaya mereka membawa kemajuan."
"Perpecahan itu membuat Rasvatar marah."
Surya Wikrama menghela napas.
"Itulah awal jalan yang membawanya menuju kegelapan."
Arya Wiratma menatap Isidore.
"Pada akhirnya..."
"Rasvatar bertempur hampir sendirian, hanya ditemani beberapa ksatria dari Majapahit dan para penjaga Mythopia yang masih setia."
"Kami kehilangan begitu banyak saudara."
"Banyak ksatria gugur."
"Banyak kerajaan musnah."
"Namun pengorbanan mereka tidak sia-sia."
"Lima bangsa penjajah akhirnya meninggalkan Bumi."
Ia berhenti sejenak.
"Tetapi..."
"Sampai hari ini..."
"Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah mereka benar-benar dikalahkan..."
"...atau hanya mundur menunggu kesempatan."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Isidore teringat pada Bayang Agung dan Wangkara yang baru saja mereka hadapi.
Arya Wiratma menatap seluruh ksatria.
"Kemunculan Wangkara."
"Kebangkitan Bayang Agung."
"Semua itu bukan kebetulan."
"Aku khawatir..."
"...mereka telah kembali."
Ia kemudian membuka sebuah gulungan peta yang belum pernah dilihat siapa pun.
Ratusan garis cahaya memenuhi seluruh permukaannya.
"Inilah Rancangan Pertahanan Agung Mythopia."
"Aku akan menyusun kembali strategi perang."
Mulai hari ini..."
"Kita tidak lagi hanya berperang demi Mythopia."
"Kita akan berjuang demi seluruh Bumi."
Chapter 107 Pembagian tugasKeheningan menyelimuti ruang strategi di bawah Gunung Merbabu. Cahaya dari peta kristal masih berdenyut pelan, namun wajah setiap ksatria berubah muram. Besarnya ancaman yang menanti perlahan mulai mereka pahami.
Isidore menatap satu per satu sahabat seperjuangannya.
"Aku baru menyadari..." ucapnya lirih.
"Musuh yang akan kita hadapi bukan sekadar pasukan monster ataupun kerajaan yang haus kekuasaan."
"Mereka adalah penakluk dunia.
Ia mengepalkan tangan.
"Dengan kekuatan kita saat ini... bahkan seluruh Ksatria Mythopia belum tentu mampu memenangkan perang itu."
Tak seorang pun membantah.
Arya Wiratma melangkah maju. Sorot matanya tetap tenang, sebagaimana seorang ahli strategi yang telah menyaksikan jatuh bangunnya peradaban.
"Karena itulah, Paduka Raja Muda, kita harus mengesampingkan kebencian."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Ada dua orang yang harus Paduka temui."
"Rasvatar... dan Ki Surya Dahana."
Bhra Anuraga langsung menggeleng.
"Mereka telah memilih jalan kegelapan."
Arya Wiratma mengangguk pelan.
"Benar."
"Namun jangan lupakan satu hal."
"Mereka juga pernah berdiri di medan perang yang sama dengan kita."
"Mereka menyaksikan sendiri bagaimana langit terbelah oleh armada para penjajah."
"Mereka mengetahui kelemahan musuh yang bahkan tidak tercatat dalam manuskrip Mythopia."
Surya Wikrama menambahkan dengan suara berat,
"Seorang bijaksana tidak menolak pengetahuan hanya karena datang dari musuhnya."
Arya Wiratma kembali berbicara.
"Rasvatar mungkin telah kehilangan cahaya dalam hatinya."
"Ki Surya Dahana mungkin telah tersesat oleh ambisinya."
"Tetapi pengalaman mereka adalah harta yang tidak dapat digantikan."
"Bila kita ingin menyelamatkan dunia..."
"..maka kita harus berani berbicara dengan mereka."
Isidore menganggukkan kepala.
"Aku akan menemui mereka."
"Lalu bagaimana dengan kalian?"
Arya Wiratma kembali menggerakkan peta kristal.
Sepuluh cahaya muncul mengelilingi Bumi.
"Kita tidak mempunyai waktu."
"Mulai hari ini, setiap ksatria menjalankan tugasnya masing-masing."
Ia menunjuk jalur-jalur cahaya yang menghubungkan gunung-gunung suci.
"Surya Wikrama, Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, Sagara Putra, Guntur Wisesa, Jagat Dirgantara, dan Rangga Wulung."
"Kalian akan berpencar menuju setiap Benteng Batu Lompatan."
"Periksa seluruh Gerbang Langit."
"Pastikan tidak ada celah yang telah ditembus para penjajah."
"Bila menemukan tanda sekecil apa pun..."
"Jangan bertempur sendirian."
"Segera kirim berita kepada Mythopia."
Delapan ksatria mengangguk serempak.
Arya Wiratma kemudian menyentuh sepuluh lambang kerajaan yang bercahaya di atas peta.
"Sementara itu..."
"Aku akan memulai perjalanan diplomasi terbesar dalam sejarah manusia."
Satu demi satu lambang kerajaan menyala.
Kerajaan Agnivarsha, negeri api dan lava yang baranya tak pernah padam.
Kerajaan Tirtamandala, penguasa samudra dan kabut lautan.
Kerajaan Bhumi Raksa, kerajaan batu dan akar gunung purba.
Kerajaan Bayu Arcapada, negeri langit yang terapung di antara awan.
Kerajaan Vajraningrat, tanah badai dan petir abadi.
Kerajaan Cahyanagara, penjaga cahaya suci yang menyambut fajar pertama.
Kerajaan Kalamreta, negeri misterius yang menguasai ruang dan gravitasi.
Kerajaan Simhagiri, tanah para penjinak roh-roh binatang purba.
Kerajaan Astrapura, pusat penempaan senjata suci dan para pandai besi legendaris.
Dan Kekaisaran Nagakartika, tempat naga-naga langit menjaga energi kuno dunia.
Arya Wiratma memandang semuanya.
"Dahulu kerajaan-kerajaan ini pernah berdiri bersama."
"Kini mereka tercerai-berai oleh waktu."
"Aku akan mengetuk kembali pintu-pintu mereka."
"Bila para raja masih mencintai dunia ini..."
"...mereka akan mengangkat panji perang bersama Mythopia."
Rakajati tersenyum tipis.
"Kalau begitu, izinkan aku menjalankan tugasku."
Ia menancapkan tongkat kayunya ke lantai.
Akar-akar bercahaya menjalar ke segala arah, menembus batu, gunung, dan tanah yang tak berujung.
"Aku akan mencari Roh Pohon Dunia, penjaga kehidupan yang telah hidup sejak bumi dilahirkan."
"Bila ia bersedia membantu, seluruh hutan di dunia akan menjadi mata dan telinga kita."
Rakajati mengangkat wajahnya.
"Dan aku juga akan pergi ke Kerajaan Peri, memohon bantuan Bangsa Peri yang selama ribuan tahun menjaga keseimbangan alam."
"Tak ada kurir yang lebih cepat daripada peri."
"Tak ada penyembuh yang lebih lembut daripada embun yang mereka ciptakan."
Ruangan kembali dipenuhi cahaya.
Untuk pertama kalinya sejak kebangkitan para ksatria, mereka tidak lagi hanya mempersiapkan sebuah peperangan.
Mereka sedang membangun Persekutuan Agung Bumi—sebuah aliansi seluruh bangsa, kerajaan, roh alam, dan makhluk suci yang akan menentukan nasib dunia ketika Lima Bangsa Penjajah Antarbintang kembali turun dari langit.
Chapter 108 Bertemu dengan RasvatarFajar belum sepenuhnya merekah ketika seluruh Ksatria Mythopia berkumpul di pelataran Batu Lompatan Agung di bawah Gunung Merbabu. Kristal-kristal putih yang mengelilingi altar memancarkan cahaya lembut, sementara lingkaran rune kuno di lantai berdenyut mengikuti aliran energi bumi.
Hari itu, untuk pertama kalinya sejak mereka dibangkitkan, para ksatria akan berpisah.
Masing-masing memikul amanat yang dapat menentukan nasib dunia.
Surya Wikrama berdiri di hadapan Isidore.
Ia mengangkat pedang sucinya hingga ujung bilahnya menyentuh cahaya kristal.
"Paduka Isidore, kini tiba saatnya Paduka menguasai Batu Lompatan."
Isidore memperhatikan setiap gerakannya.
"Angkat pedangmu."
Isidore menurut.
"Pejamkan matamu."
"Bayangkan tujuan yang ingin kau datangi."
"Rasakan denyut energi gunung itu."
"Satukan dengan auramu."
"Jangan melawan cahaya..."
"Biarkan cahaya yang membawamu."
Perlahan, aura putih mengalir dari tubuh Isidore menuju pedangnya.
Lingkaran rune di bawah kaki mereka mulai menyala.
Petir-petir putih menari di udara.
Surya Wikrama tersenyum.
"Bagus..."
"Kini kau telah menjadi penjaga jalur para ksatria."
Satu demi satu para ksatria berpamitan.
Pangreksa mengepalkan tangan kepada Isidore.
"Semoga kita bertemu kembali di medan kemenangan."
Bhra Anuraga tertawa lebar.
"Jangan kalah sebelum aku kembali."
Bayu Anggana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Sagara Putra menepuk bahu Isidore dengan penuh hormat.
Guntur Wisesa mengangkat pedangnya ke langit sebagai salam perpisahan.
Jagat Dirgantara membungkukkan kepala.
Rangga Wulung menyerahkan sebilah pisau kecil buatannya.
"Tak akan banyak membantu dalam perang besar."
"Tetapi semoga berguna saat Paduka sendirian."
Rakajati menjadi orang terakhir yang berbicara.
"Ikutilah petunjuk yang telah kubuat."
"Akar-akar pohon telah membimbing jalanmu."
"Carilah pohon-pohon yang batangnya ditumbuhi sulur menyerupai rambut manusia."
"Sulur-sulur itu saling bertaut membentuk penunjuk arah."
"Ikuti jalur itu."
"Namun saat kau merasa terus berjalan di tempat yang sama..."
"...jangan takut."
"Itulah tanda bahwa kau telah memasuki wilayah ilusi milik Rasvatar."
Isidore mengangguk mantap.
Tak lama kemudian, para ksatria menghilang satu per satu ditelan cahaya Batu Lompatan.
Tinggallah Arya Wiratma seorang diri.
Ia berjalan mengelilingi ruangan sambil menggambar lambang-lambang kuno di setiap dinding gua.
Cahaya biru menyelimuti seluruh lorong.
"Mulai hari ini..."
"Setiap penyusup yang memasuki gua-gua suci akan diketahui oleh Mythopia."
Segel keamanan kembali aktif setelah tertidur selama seribu tahun.
Arya Wiratma memandang ke arah selatan.
"Saatnya menemui Kerajaan Agnivarsha."
Sesaat kemudian, cahaya keemasan menelan sosoknya.
---
Di Gunung Sinabung...
Petir putih membelah langit.
Kilatan cahaya memenuhi sebuah gua sunyi.
Ketika sinarnya menghilang, Isidore telah berdiri seorang diri.
Ia menarik napas panjang.
Perjalanannya menuju Rasvatar akhirnya dimulai.
Mengikuti petunjuk Rakajati, ia menyusuri hutan lebat.
Benar saja.
Beberapa pohon tua memiliki sulur panjang menyerupai rambut manusia yang saling mengikat dari batang ke batang, membentuk jalur yang hanya dapat dipahami oleh mata yang jeli.
Berjam-jam ia berjalan.
Hingga akhirnya...
Ia merasa telah melewati batu besar yang sama untuk ketiga kalinya.
Pohon yang sama.
Sungai yang sama.
Kabut yang sama.
Isidore berhenti.
"Jadi... inilah ilusi yang dimaksud Rakajati."
Pada saat itulah cahaya putih muncul dari keris pusaka.
Raja Alam Wardana menampakkan diri.
"Berhati-hatilah, Isidore."
"Rasvatar bukan sekadar manusia."
"Ia menguasai hampir seluruh unsur yang pernah dimiliki para ksatria Mythopia."
"Satu kesalahan kecil dapat merenggut nyawamu."
Isidore tersenyum tenang.
"Kalau begitu, kurasa kita akan bermalam di sini."
"Mungkin Rasvatar akan datang bila memang menghendakinya."
Ia memasang jebakan sederhana, kemudian berburu seekor rusa di dalam hutan.
Menjelang malam, api unggun menyala.
Aroma daging panggang memenuhi udara.
Ketika Isidore hendak menyantapnya...
Terdengar suara seorang pria dari balik kabut.
"Bolehkah aku meminta sepotong?"
"Aku sangat lapar."
Isidore menoleh.
Seorang lelaki tua berjubah lusuh berdiri beberapa langkah darinya.
Wajahnya sederhana.
Tatapannya tenang.
Tak sedikit pun memancarkan aura mengerikan.
Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu duduk di dekat api unggun, mengambil sepotong daging, lalu memakannya dengan lahap.
Barulah Isidore bertanya pelan,
"Apakah... Anda Rasvatar?"
Lelaki itu hanya tersenyum.
"Apa menurutmu Rasvatar harus selalu berwajah sama?"
Isidore terdiam.
Lelaki itu menatap kobaran api.
"Dahulu..."
"Aku adalah Maharsi Agung sekaligus penasihat tertinggi Kerajaan Mythopia."
"Aku memilih memperingatkan manusia."
"Namun mereka memilih mendengar suara yang menyenangkan hati mereka."
"Akhirnya..."
"Akulah yang dianggap pengkhianat."
Ia memandang Isidore.
"Katakan."
"Apa tujuanmu datang mencariku?"
Isidore menjawab tanpa ragu.
"Kami telah membangkitkan Arya Wiratma."
"Beliau memintaku mencari Anda."
"Perang yang pernah Anda hadapi tampaknya akan kembali."
"Apa pun kesalahan yang terjadi di masa lalu..."
"...biarlah menjadi pelajaran."
"Kini kami ingin mempersatukan semua kekuatan Bumi untuk menghadapi bangsa penjajah."
Lelaki itu menghabiskan potongan daging terakhir.
Kemudian ia tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"Aku harus memastikan satu hal."
Ia mengulurkan tangannya.
"Maukah kau mempercayaiku?"
Isidore menatap mata lelaki itu.
Tak ada kebencian.
Tak ada tipu daya yang dapat ia rasakan.
Hanya kelelahan seseorang yang telah memikul beban dunia terlalu lama.
"Aku percaya."
Isidore menggenggam tangan itu erat.
Seketika...
Seluruh dunia menghilang.
Gelombang cahaya memenuhi kesadarannya.
Ia melihat armada-armada raksasa turun dari langit.
Gunung-gunung runtuh.
Samudra terbelah.
Naga emas bertempur melawan Titan Besi.
Bayang Agung menelan matahari.
Kala Rambat menghentikan waktu.
Barong Lodra menebarkan wabah yang memusnahkan kota-kota.
Di tengah semua itu berdiri seorang Rasvatar muda.
Bertempur sendirian.
Menguasai api.
Air.
Angin.
Petir.
Tanah.
Cahaya.
Bayangan.
Ruang.
Bahkan aliran energi yang belum pernah dipelajari Isidore.
Semua pengetahuan itu mengalir deras ke dalam dirinya.
Tubuh Isidore bergetar hebat.
Cahaya putih memancar tanpa henti dari setiap pori-porinya.
Ledakan energi mengguncang seluruh hutan.
Kesadarannya tak sanggup lagi menanggung beban ingatan selama ribuan tahun.
Pandangannya menjadi gelap.
Tubuhnya roboh tak sadarkan diri.
Lelaki tua itu memandang Isidore cukup lama.
Lalu, dengan senyum yang nyaris tak terlihat, ia mengangkat tubuh sang raja muda ke pundaknya.
"Barangkali..."
"Untuk pertama kalinya setelah seribu tahun..."
"...aku tidak lagi memikul beban ini sendirian."
Perlahan ia melangkah menembus kabut, menuju sebuah lembah tersembunyi yang bahkan peta-peta kuno Mythopia telah melupakannya.
Chapter 109 Bertemu dengan para leluhurJauh di balik hutan Gunung Sinabung, tersembunyi oleh kabut yang tak pernah tersingkap, berdirilah sebuah gua yang tidak tercatat dalam peta mana pun.
Lorong-lorongnya terus berubah.
Dinding-dinding batunya berpindah tempat seperti makhluk hidup.
Setiap orang yang memasukinya akan berjalan tanpa akhir, kecuali mereka yang mengetahui jalan yang sebenarnya.
Di sanalah Ki Surya Dahana membangun tempat persembunyiannya.
Di tengah ruangan utama, api hijau menyala di bawah sebuah wajan perunggu raksasa. Ramuan-ramuan herbal, akar purba, bunga hitam, dan getah pohon kuno mendidih perlahan, memenuhi gua dengan aroma yang asing sekaligus menenangkan.
Di sekelilingnya berdiri empat sosok yang pernah dikalahkan oleh para Ksatria Mythopia.
Orkaghor, pemimpin Suku Gurnaka.
Lorendis, penguasa tipu daya dari Suku Rakayan.
Mhezzrak, sang pisau tak terlihat dari Suku Jalarang.
Dan Vorthax, si gila darah dari Suku Murkalana.
Segel yang dahulu mengikat jiwa mereka telah hancur.
Bukan karena waktu...
Melainkan karena Ki Surya Dahana kini telah mempelajari sebagian kecil pengetahuan yang diwariskan Rasvatar.
Aura hitam yang dahulu kasar kini bercampur dengan cahaya keunguan yang lebih dalam, lebih tenang, namun jauh lebih berbahaya.
Ia sedang mengaduk ramuan itu dengan tongkat kayunya ketika terdengar langkah kaki memasuki gua.
Kabut di pintu masuk terbelah.
Seorang lelaki berjubah lusuh berjalan perlahan sambil menggendong seorang pemuda yang tak sadarkan diri.
Ki Surya Dahana menoleh sekilas.
"Siapa yang kau bawa?"
Tanpa menjawab, lelaki itu merebahkan sang pemuda di atas dipan batu.
Ki Surya Dahana mendekat.
Begitu melihat wajah pemuda itu, kedua matanya membelalak.
"Isidore...!"
Ia menatap lelaki berjubah itu dengan penuh keterkejutan.
"Dari mana kau menemukannya?"
Lelaki itu duduk tenang di dekat api unggun.
"Aku yang membawanya."
Ki Surya Dahana menghela napas panjang.
"Jadi benar..."
"Kau telah memilihnya."
Lelaki itu tersenyum tipis.
"Bukankah sudah kukatakan?"
"Aku akan membangkitkan kembali Mythopia."
"Bukan dengan dendam."
"Bukan pula dengan kehancuran."
"Melainkan dengan memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan."
Ki Surya Dahana terdiam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menemukan kata-kata untuk membantah gurunya.
---
Sementara itu...
Di dalam alam mimpinya, Isidore merasa sedang berjalan di sebuah padang rumput yang diterangi cahaya keemasan.
Tak ada perang.
Tak ada kabut.
Tak ada suara pedang.
Di hadapannya berdiri para leluhur Kerajaan Mythopia.
Raja-raja terdahulu.
Para maharsi.
Dan ksatria-ksatria yang telah lama kembali menjadi cahaya.
Mereka memandang Isidore dengan senyum penuh kasih.
Seorang leluhur melangkah maju.
"Ingatlah, cucuku..."
"Kekuatan terbesar bukanlah kemampuan untuk mengalahkan musuh."
"Tetapi kemampuan untuk tidak berubah menjadi musuh."
Leluhur lain menyentuh bahunya.
"Jadilah raja yang mampu memaafkan."
"Namun jangan pernah berhenti melindungi mereka yang lemah."
Satu per satu para leluhur menyalami Isidore.
Kemudian mereka memeluknya.
Setiap pelukan memenuhi tubuh Isidore dengan cahaya yang hangat.
Seolah ribuan tahun kebijaksanaan mengalir ke dalam jiwanya.
---
Di dunia nyata...
Tubuh Isidore tiba-tiba memancarkan cahaya putih.
Sekali.
Kemudian dua kali.
Lalu berkali-kali.
Setiap denyut cahaya membuat seluruh gua bergetar pelan.
Ki Surya Dahana mengamatinya tanpa berkedip.
Ia merasakan aliran energi yang terus bertambah, melampaui batas yang pernah dimiliki Isidore sebelumnya.
"Menakjubkan..."
Ia berbisik pelan.
"Dia sedang melewati batas kemampuan tubuh manusianya."
Rasvatar hanya menatap Isidore dengan tenang.
"Ingatan selama seribu tahun sedang menyatu dengan jiwanya."
"Bila ia berhasil menanggung semuanya..."
"...maka akan lahir seorang raja yang belum pernah disaksikan dunia sejak zaman para pendiri Mythopia."
Ki Surya Dahana tersenyum tipis.
Ia menggenggam tongkat kayunya.
"Kalau begitu..."
"Aku akan menunggu sampai ia sadar."
Sorot matanya berubah tajam.
"Dan setelah itu...
"Aku sendiri yang akan menguji apakah Isidore benar-benar layak memikul warisan para leluhur Mythopia."
Di sudut ruangan, keempat kepala suku saling berpandangan.
Mereka dapat merasakan satu hal yang sama.
Saat Isidore membuka matanya nanti...
Dunia tidak akan lagi menghadapi raja muda yang mereka kenal sebelumnya.
Chapter 110 Kerajaan AgnivarshaSesaat sebelumnya Arya Wiratma masih berdiri di ruang kristal Gunung Merbabu. Kini, ia telah menginjak tanah Kerajaan Agnivarsha, negeri yang sejak dahulu dikenal sebagai kerajaan api, tempat sungai lava mengalir di antara pegunungan hitam dan bara tak pernah benar-benar padam.
Benteng-benteng besi menjulang tinggi mengelilingi ibu kota. Asap tipis keluar dari cerobong penempaan, sementara panji-panji merah keemasan berkibar diterpa angin panas.
Namun hari itu suasana kerajaan jauh berbeda.
Para prajurit berjaga dalam jumlah berlipat.
Ketapel raksasa diarahkan ke langit.
Pemanah memenuhi menara-menara pengawas.
Bahkan setiap orang yang memasuki gerbang diperiksa tanpa terkecuali.
Komandan penjaga mengangkat tombaknya, menghalangi langkah Arya Wiratma.
"Maaf, Tuan. Kerajaan sedang dalam keadaan siaga. Mohon tunjukkan identitas Anda."
Arya Wiratma hanya membuka sedikit jubah putih keemasannya.
Lambang kuno Mythopia yang terukir di dada zirahnya memancarkan cahaya lembut.
Para penjaga seketika terdiam.
Seorang prajurit senior membelalakkan mata.
"Itu... lambang Ksatria Agung Mythopia."
Komandan segera berlutut.
"Maafkan kelancangan kami, Tuan Arya Wiratma."
"Kami tidak menyangka seorang ksatria Mythopia masih berjalan di dunia ini."
Arya Wiratma mengangguk sopan.
Aku memahami kewaspadaan kalian."
"Apa yang sedang terjadi di kerajaan ini?"
Komandan menghela napas berat.
"Tiga malam yang lalu seorang penyusup berhasil memasuki istana."
"Ia mencuri Biji Pohon Dunia, pusaka yang selama berabad-abad kami jaga."
"Yang lebih mengerikan..."
"...ia juga membawa kabur seekor naga, hewan koleksi sekaligus sahabat pribadi Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata."
Sorot mata Arya Wiratma berubah tajam.
"Seekor naga..."
Ia mulai menyadari bahwa pergerakan musuh telah dimulai.
Tanpa membuang waktu, para penjaga segera mengantar Arya Wiratma menuju istana.
---
Istana Agnivarsha berdiri megah di atas lautan batu vulkanik.
Pilar-pilar besinya dihiasi ukiran naga dan kobaran api.
Namun kemegahan itu kini ternoda.
Beberapa dinding retak.
Patung-patung penjaga roboh.
Lantai aula dipenuhi bekas pertempuran.
Jelas terlihat bahwa penyusup itu bukan pencuri biasa.
Di depan sebuah pintu baja raksasa, komandan penjaga berhenti.
Ia mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
TOK... TOK... TOK...
Suara berat bergema.
"Masuk."
Pintu perlahan terbuka.
Di dalam aula singgasana duduk Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata.
Tubuhnya besar dan kokoh, mengenakan zirah merah menyala dengan mahkota emas berbentuk kobaran api. Wajahnya masih menyisakan kemarahan sekaligus kesedihan akibat musibah yang baru menimpa kerajaannya.
Seorang pengawal berbisik pelan.
"Paduka, utusan dari Mythopia telah tiba."
Sang Maharaja mengangkat kepala.
Ketika pandangannya bertemu Arya Wiratma, ia tertegun.
Matanya membesar karena tak percaya.
"...Mustahil."
"Seribu tahun telah berlalu..."
"Namun wajahmu..."
"...tidak berubah sedikit pun."
Arya Wiratma membungkukkan badan dengan hormat.
"Salam sejahtera, Paduka Maharaja."
"Aku bersyukur masih dapat bertemu dengan keturunan Raja Agnibrata."
Kemurkaan di wajah sang raja sedikit mereda.
Ia mempersilakan Arya Wiratma duduk.
Sebagai penghormatan kepada tamu agung, berbagai hidangan khas Agnivarsha pun disajikan. Teh rempah hangat dituangkan ke dalam cawan batu, sementara roti bara dan daging panggang memenuhi meja perjamuan.
Setelah adat penyambutan selesai, suasana kembali menjadi hening.
Maharaja memandang lurus ke arah Arya Wiratma.
"Ada keperluan apakah seorang Ksatria Agung Mythopia datang ke kerajaanku?"
Arya Wiratma berdiri perlahan.
Ia mengeluarkan gulungan peta kristal yang memancarkan cahaya.
"Paduka."
"Mythopia sedang membangun Aliansi Agung Bumi."
"Musuh yang pernah menghilang seribu tahun lalu kini mulai kembali."
Ia mengangkat tangannya.
Bayangan Planet Ignisar muncul di udara.
"Yang paling mengkhawatirkan..."
"..aku mengetahui bahwa Kerajaan Agnivarsha telah menjalin hubungan dengan Bangsa Kragmora dari Planet Ignisar."
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa menteri saling berpandangan.
Arya Wiratma melanjutkan,
"Mereka memang menawarkan teknologi, kekuatan, dan pengetahuan."
"Tetapi semua itu hanyalah umpan."
"Tujuan mereka bukan membantu Agnivarsha."
"Tujuan mereka adalah menjadikan Bumi sebagai dunia api kedua."
Sang Maharaja mengepalkan tangan.
"Engkau datang pada saat yang buruk, Arya."
"Kami baru saja kehilangan Biji Pohon Dunia."
"Naga penjaga kerajaan pun telah dicuri."
"Sebagian besar kekuatan pertahanan kami ikut lenyap."
Ia menghela napas panjang.
"Dalam keadaan seperti ini..."
"...aku tidak bisa mengambil keputusan yang menentukan nasib kerajaanku."
Arya Wiratma menganggukkan kepala.
"Aku memahami kesulitan Paduka."
"Namun waktu tidak berpihak kepada kita.
"Setiap hari yang terbuang memberi kesempatan kepada Kragmora untuk menancapkan pengaruhnya lebih dalam."
Ia melangkah mendekati singgasana.
"Paduka tidak perlu memberikan jawaban sekarang."
"Aku hanya memohon satu hal."
"Hentikan sementara segala bentuk kerja sama dengan Bangsa Kragmora."
"Selidikilah siapa penyusup yang mencuri Biji Pohon Dunia dan naga penjaga."
"Bila dugaanku benar..."
"...pencurian itu bukan dilakukan untuk melemahkan Agnivarsha."
"Melainkan untuk membuka jalan bagi invasi yang jauh lebih besar."
Arya Wiratma kemudian membungkukkan badan.
"Aku akan menunggu keputusan Paduka."
"Semoga ketika kita bertemu kembali..."
"...Agnivarsha berdiri sebagai sekutu Bumi, bukan sebagai bidak para penjajah antarbintang."
Maharaja Adityawarman Agnibrata tidak segera menjawab.
Tatapannya beralih ke singgasana kosong di sampingnya—tempat naga sahabatnya biasa beristirahat.
Untuk pertama kalinya, benih keraguan mulai tumbuh di dalam hati sang raja terhadap bangsa yang selama ini mengaku sebagai sahabat dari langit.