Tampilkan postingan dengan label kerajaan mythopia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerajaan mythopia. Tampilkan semua postingan

03/07/26

Season 11 Kerajaan mythopia

Chapter 102 Kepulangan Sang Pendekar Bayangan

Enam hari dan enam malam telah berlalu tanpa jeda.

Di antara kabut lembah, hutan yang sunyi, dan jalan panjang yang tak berujung, sang Pendekar Bayangan terus berlari membawa satu amanat penting. Tubuhnya telah letih, napasnya berat, namun tekadnya tidak pernah padam.

Akhirnya, ketika cahaya matahari pagi menyentuh puncak Bukit Kemuning, sosoknya muncul di hadapan gerbang perkemahan.

Para penjaga yang melihat kedatangannya segera memberi jalan.

Di tempat itu, Putri Dyah Sekar Tanjung telah menunggu dengan penuh kecemasan. Bersamanya berdiri Lembayung Ardani, Pujeng Rarasati, Rakai Jaya Langgana, dan Paman Hanggara.

Pendekar Bayangan menundukkan kepala dengan hormat.

> “Ampun, Tuan Putri. Hamba telah kembali membawa kabar dari perjalanan.”

Putri Dyah Sekar Tanjung melangkah maju.

> “Katakanlah. Bagaimana keadaan mereka?”
Pendekar Bayangan menarik napas sejenak.
> “Misi berhasil, Tuan Putri. Tuan Isidore dan para ksatria Mythopia telah menerima obat yang tuan putri kirimkan. Luka mereka telah pulih, dan mereka kembali mendapatkan kekuatan mereka.”
Wajah Putri Dyah Sekar Tanjung tampak lega.
Lembayung Ardani tersenyum bahagia sambil menatap langit.
> “Syukurlah... semoga para ksatria agung itu selalu berada dalam lindungan para leluhur. Aku sungguh ingin bertemu mereka kembali. Rasanya sudah lama sekali sejak cahaya mereka menerangi medan pertempuran.”
Pujeng Rarasati yang biasanya tenang menundukkan wajahnya.
Ada senyum kecil di bibirnya.
> “Aku pun merasakan hal yang sama...”
Lembayung menoleh penasaran.
> “Kau merindukan mereka juga?”
Pujeng Rarasati tersipu kecil.

> “Mungkin... aku hanya merasa perjalanan mereka belum selesai. Dan entah mengapa, hatiku berharap suatu hari nanti kita akan mendengar kisah mereka lagi.”
Sebelum percakapan berlanjut, terdengar kepakan sayap dari atas.
Seekor merpati putih turun membawa gulungan kecil.
Rakai Jaya Langgana mengambil surat itu dan membukanya perlahan.
Namun seketika wajahnya berubah serius.
> “Tuan Putri... ini surat dari kerajaan Majapahit.”
Putri Dyah Sekar Tanjung mendekat.
Rakai Jaya Langgana membaca isi surat tersebut.
> “Sudah sebulan semenjak kepergianmu dari istana, putriku. Ayahanda kini jatuh sakit keras. Dalam tidurnya, namamu terus dipanggil. Pulanglah segera sebelum waktu membawa kita pada perpisahan yang tidak diinginkan.”
Suasana menjadi hening.
Angin bukit berhembus pelan.
Paman Hanggara maju dengan wajah penuh kekhawatiran.
> “Tuan Putri... sudah waktunya kita kembali. Ayahandamu membutuhkanmu. Tidak ada seorang anak pun yang ingin terlambat memberikan pelukan terakhir kepada orang tuanya.”
Putri Dyah Sekar Tanjung terdiam.
Matanya memandang jauh ke arah pegunungan tempat Isidore berada.
Dalam hatinya masih tersimpan kenangan tentang ksatria muda itu—tentang keberaniannya, kebaikannya, dan cahaya yang terpancar dari dirinya.
Namun akhirnya ia menarik napas panjang.
> “Baiklah... kita akan kembali ke Majapahit.”
Ia tersenyum lembut.
> “Tetapi perjalanan ini bukanlah akhir.”
Putri menggenggam hiasan kupu-kupu emas yang pernah ia berikan kepada Isidore.
> “Suatu hari nanti... aku percaya takdir akan mempertemukan kami kembali.”
Pendekar Bayangan menundukkan kepala.
> “Kami akan mengawal perjalanan tuan putri.”
Rombongan pun bersiap meninggalkan Bukit Kemuning.
Di balik kabut pagi, jejak mereka perlahan menghilang.
Namun jauh di dalam hati Putri Dyah Sekar Tanjung, sebuah harapan tetap menyala—
bahwa kisah antara sang putri dan ksatria Mythopia belum berakhir.

Chapter 103 — Hutan Kabut Jelangga

Di atas dahan tertinggi sebuah pohon beringin purba, duduk seekor makhluk yang belum pernah dicatat dalam kitab mana pun.

Tubuhnya menyerupai seekor kera putih, namun wajahnya adalah wajah seorang manusia. Matanya menyimpan kesedihan yang begitu dalam, sementara bulunya yang seputih salju berkilau diterpa cahaya senja.

Dialah Jelangga.

Air mata jatuh perlahan membasahi kulit kayu tempat ia duduk.

«"Mengapa aku dilahirkan berbeda..." bisiknya lirih.»

Ayah dan ibunya, kawanan kera penghuni hutan itu, telah mengusirnya. Mereka menganggap wajah manusianya sebagai kutukan para roh hutan. Sejak hari itu, Jelangga hidup sendirian, berteman hanya dengan angin dan kesunyian.

Namun kesepian itu tidak berlangsung lama.

Dari balik pepohonan, kabut putih perlahan mengalir, bukan tertiup angin, melainkan bergerak seolah memiliki kehendaknya sendiri.

Kabut itu kemudian membentuk sosok-sosok tinggi kurus dengan wajah manusia yang pucat. Mata mereka hitam legam tanpa cahaya, sementara tubuhnya hanyalah gumpalan kabut yang terus berubah bentuk.

Merekalah Wangkara.

Tanpa sepatah kata, mereka menghampiri Jelangga.

Makhluk-makhluk itu mulai berputar mengelilinginya, menari di antara cabang-cabang pohon yang menjulang tinggi. Jelangga ikut melompat dari dahan ke dahan sambil tertawa riang.

Akan tetapi...

Suara tawanya bercampur dengan isak tangis Wangkara.

Terdengar seolah seluruh hutan sedang tertawa dan menangis pada saat yang sama.

Semakin lama tarian itu berlangsung, semakin tebal kabut memenuhi seluruh rimba. Pepohonan menghilang ditelan putih kelabu, dan cahaya matahari lenyap seperti ditelan malam.

---

Di jalan setapak yang membelah hutan, rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung mendadak menghentikan langkah.

Kuda-kuda mereka meringkik gelisah.

Lembayung Ardani memeluk lengannya sendiri.

«"Putri... hutan ini terasa berbeda. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang memandang kita."»

Pujeng Rarasati mengangguk perlahan.

«"Kabut ini bukan kabut biasa. Ada roh-roh yang sedang bermain."»

Paman Hanggara menggenggam gagang pedangnya.

«"Semua tetap dalam formasi! Jangan ada yang berjalan sendirian!"»

Para Pendekar Bayangan segera bergerak ke depan, membentuk dinding pelindung mengitari sang putri.

Pada saat itulah...

Dari atas pohon terdengar suara tawa kecil.

Jelangga melihat sosok Putri Dyah Sekar Tanjung.

Matanya berbinar penuh kegembiraan.

«"Teman..."»

Dengan lompatan ringan, ia turun dari cabang pohon dan mendarat beberapa langkah di depan rombongan.

Ia tersenyum polos.

Tangannya terulur seperti seorang anak kecil yang hanya ingin mengajak bermain.

Namun para Pendekar Bayangan bergerak lebih cepat.

Mereka menghunus senjata dan berdiri di antara makhluk itu dengan sang putri.

Senyum Jelangga perlahan menghilang.

Kesedihan di matanya berubah menjadi amarah.

Tubuhnya mulai membesar.

Bulu putihnya berdiri tegak seperti hamparan salju yang diterpa badai.

Dalam beberapa helaan napas, sosok mungil itu telah menjelma menjadi raksasa setinggi pepohonan.

«DUUUM!»

Satu hentakan kakinya mengguncang bumi.

Tanah bergetar bagaikan diguncang gempa.

Pepohonan bergoyang keras.

Para prajurit kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah.

Belum sempat mereka bangkit...

Wangkara berdatangan dari segala penjuru.

Puluhan...

Ratusan...

Kabut putih pekat berputar mengelilingi mereka.

Dalam sekejap, seluruh hutan lenyap dari pandangan.

Langit tak lagi terlihat.

Pepohonan menghilang.

Jalan pulang pun sirna.

Suara satu sama lain terdengar jauh, seakan dipisahkan oleh dunia yang berbeda.

Paman Hanggara menggenggam pedangnya erat.

«"Jangan bergerak sembarangan!"»

Namun suaranya hanya bergema di dalam kabut.

Tak seorang pun tahu dari arah mana suara itu berasal.

Mereka telah memasuki wilayah Wangkara—

tempat di mana arah kehilangan makna, dan siapa pun yang lengah akan tersesat di antara kenyataan dan ilusi.
Chapter 104 Cerita Rangga wulung 

Api tungku penempaan masih menyala redup. Cahaya merahnya memantul pada senjata-senjata para ksatria yang baru selesai ditempa ulang oleh Rangga Wulung. Suasana di dalam gua menjadi hening ketika sang empu mengangkat pandangannya.

"Ada satu hal yang selama ini belum pernah kuceritakan kepada kalian," ucap Rangga Wulung perlahan.

Semua mata tertuju kepadanya.

Isidore melangkah mendekat.

"Apa itu, Guru Wulung?"

Rangga Wulung menarik napas panjang.

"Seribu tahun yang lalu... dunia pernah berada di ambang kehancuran."

Nyala api di tungku seakan ikut bergoyang ketika ia mulai berkisah.

"Musibah pertama datang bersama Nagagini, naga emas raksasa yang mengamuk tanpa sebab. Sayapnya menutupi langit, dan setiap kepakan membelah gunung. Sisiknya tak dapat ditembus baja biasa, sehingga seluruh ksatria Mythopia mengerahkan senjata-senjata pusaka terbaik yang pernah ditempa. Hanya senjata yang diberkati cahaya leluhur yang mampu membuat sang naga berlutut."

Para ksatria mendengarkan tanpa berkedip.

"Tetapi kemenangan itu hanya berlangsung sesaat."

Wajah Rangga Wulung menjadi muram.

"Belum sempat bumi pulih, muncullah Barong Lodra."

"Makhluk itu tidak menghancurkan kota dengan taring atau cakarnya."

"Ia membawa wabah."

"Udara berubah menjadi racun. Sungai-sungai menjadi keruh. Anak-anak, orang tua, bahkan para pendekar mulai tumbang satu demi satu. Para ksatria mampu mengalahkan monster, tetapi mereka tidak mampu menghentikan penyakit yang menjalar lebih cepat daripada pedang."

Surya Wikrama menundukkan kepala.

"Musuh yang tak terlihat... memang selalu yang paling menakutkan."

Rangga Wulung mengangguk pelan.

"Lalu datanglah malapetaka yang paling mengerikan."

Api di tungku tiba-tiba berdesis.

"Namanya... Kala Rambat."

Keheningan menyelimuti ruangan.

"Makhluk itu bukan sekadar raksasa atau iblis. Ia adalah penguasa aliran waktu."

"Di hadapannya, siang dapat berubah menjadi malam dalam sekejap. Seorang anak dapat menua menjadi renta hanya dalam satu helaan napas, sementara seorang ksatria dapat kembali menjadi bocah tanpa daya."

Isidore mengepalkan tangannya.

"Bagaimana para leluhur mengalahkannya?"

Rangga Wulung menggeleng perlahan.

"Itulah misteri terbesar sejarah."

"Tidak pernah ada kemenangan."

"Tidak pernah pula ada kekalahan."

"Seakan seluruh dunia... diulang kembali."

Semua yang hadir saling berpandangan.

"Peradaban lenyap."

"Kitab-kitab ilmu menghilang."

"Kota-kota runtuh."

"Nama para pahlawan terlupakan."

"Manusia kembali hidup seperti bayi yang baru mengenal dunia."

"Itulah yang oleh para leluhur disebut sebagai Titik Gelap Manusia."

Suara Rangga Wulung terdengar berat.

"Hingga hari ini, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa yang menghentikan Kala Rambat... atau apakah makhluk itu benar-benar telah dikalahkan."

Rakajati memejamkan mata, merasakan desir akar-akar bumi.

"Aku sependapat."

Ia membuka matanya perlahan.

"Makhluk-makhluk sebesar itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya."

"Selalu ada tangan yang menggerakkan mereka dari balik kegelapan."

Ucapan itu membuat semua ksatria terdiam.

Isidore memandang keris pusakanya.

"Apakah Rasvatar?"

Rangga Wulung menggeleng.

"Entahlah. Bahkan mungkin ada kekuatan yang lebih tua daripada Rasvatar."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Kemudian Rakajati menancapkan tongkat kayunya ke tanah.

Akar-akar pohon merambat perlahan, membentuk sebuah peta pegunungan di permukaan batu.

Salah satu akar berhenti pada sebuah gunung yang menjulang megah.

"Di sinilah jawaban berikutnya menunggu."

Rakajati menunjuk puncak itu.

"Gunung Merbabu."

"Di sana tertidur Arya Wiratma..."

"...Ksatria Agung Sang Perancang Strategi."

"Apabila benar musuh yang akan kita hadapi adalah kekuatan yang mampu mengguncang peradaban, maka pedang saja tidak akan cukup."

"Kita membutuhkan seseorang yang mampu melihat seratus langkah sebelum perang dimulai."

Surya Wikrama menghunus pedangnya yang memancarkan cahaya keemasan.

"Kalau begitu, jangan biarkan ia menunggu lebih lama."

Para ksatria bangkit serempak.

Isidore menggenggam keris pusakanya.

Tatapannya mengarah ke utara, ke puncak Gunung Merbabu yang menjulang di balik awan.

"Kalau begitu..."

"Kita berangkat membangunkan Arya Wiratma."

Chapter 105 Kebangkitan Arya wiratma 

Di dalam gua penempaan, api tungku perlahan meredup. Senjata-senjata para ksatria yang telah ditempa kembali memancarkan kilau baru, seakan ikut menantikan perjalanan berikutnya. Rangga Wulung berjalan menuju sebuah ruangan di bagian terdalam gua. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah Batu Lompatan, tersusun dari batu kristal hitam yang dikelilingi lingkaran ukiran kuno. Puluhan urat kristal putih menjalar di permukaannya, berdenyut perlahan seperti aliran nadi bumi.Rangga Wulung tersenyum. «"Batu Lompatan ini kutempa sendiri berabad-abad yang lalu. Ia terhubung dengan seluruh jalur rahasia para ksatria Mythopia."»

Ia menoleh kepada Surya Wikrama.

«"Saudaraku... kini biarlah cahaya pedangmu membimbing kita menuju Gunung Merbabu."»

Surya Wikrama melangkah ke tengah lingkaran batu.

Ia mengangkat pedang pusakanya tinggi-tinggi.

Cahaya keemasan memancar dari bilah pedang, mengalir memasuki ukiran-ukiran kuno.

Seluruh ruangan bergetar.

Kristal-kristal mulai bersinar satu demi satu.

«DRAAAAK!!»

Petir putih menyambar dari langit-langit gua, menyelimuti seluruh rombongan.

Dalam sekejap, cahaya menelan pandangan mereka.

Tak ada lagi tanah.

Tak ada lagi langit.

Yang terdengar hanyalah gemuruh energi purba yang menghubungkan satu gunung dengan gunung lainnya.

Sesaat kemudian...

Mereka kembali menginjak tanah.

Namun udara yang mereka hirup telah berbeda.

Mereka telah tiba di Gunung Merbabu.

Di hadapan mereka berdiri sebuah aula bawah tanah yang begitu megah.

Kristal-kristal putih sebesar pohon memancarkan cahaya lembut, menerangi ruangan tanpa api maupun pelita.

Dinding-dindingnya dipahat dari marmer putih yang begitu halus hingga menyerupai cermin. Setiap garis ukirannya presisi, membentuk pola bintang, rasi langit, dan lingkaran-lingkaran geometri yang belum pernah dilihat Isidore sebelumnya.

Di sepanjang lorong tergantung peta-peta dunia kuno.

Bukan hanya peta daratan...

Melainkan pula peta lautan, gugusan bintang, bahkan lukisan planet-planet yang mengitari langit malam.

Isidore memandangnya dengan takjub.

«"Siapa yang membuat semua ini...?"»

Rangga Wulung menjawab pelan.

«"Arya Wiratma."»

«"Tak ada seorang pun di Mythopia yang memahami dunia lebih dalam darinya."»

Rakajati menancapkan tongkat kayunya ke lantai.

Akar-akar pohon menjalar menembus batuan, menyusuri setiap rongga bumi.

Beberapa saat kemudian akar itu berhenti pada satu titik.

Rakajati membuka matanya.

«"Kutemukan dia."»

«"Ia tidak berada di balik dinding..."»

«"...melainkan jauh di bawah kaki kita."»

Jagat Dirgantara maju sambil menggenggam palunya.

Ia meletakkan telapak tangannya di atas lantai batu.

Tanah bergetar pelan.

Terdengar bunyi roda-roda batu kuno yang telah tertidur selama berabad-abad.

Perlahan sebuah lempengan marmer bergeser dengan sendirinya.

Di bawahnya terbentang tangga batu yang menurun ke kedalaman bumi.

Mereka pun turun.

Semakin dalam mereka melangkah, udara menjadi semakin sejuk.

Dinding lorong dipenuhi batu-batu hijau bercahaya yang memancarkan sinar lembut laksana zamrud hidup.

Di ujung lorong terbuka sebuah ruang bundar yang sunyi.

Di tengah ruangan berdiri sebuah kristal raksasa sebening embun.

Di dalamnya tampak seorang lelaki berjubah putih keemasan sedang duduk bersila dengan mata terpejam.

Wajahnya tenang.

Seolah ia hanya tertidur semalam, bukan selama berabad-abad.

Isidore melangkah perlahan.

Ia mengangkat Keris Pusaka Mythopia.

Cahaya putih memenuhi seluruh ruangan.

Dari cahaya itu muncul sosok Raja Alam Wardana.

Suara sang leluhur bergema memenuhi ruang batu.

«"Arya Wiratma..."»

«"Bangkitlah dari tidur panjangmu."»

«"Kerajaan Mythopia kembali membutuhkan kebijaksanaanmu."»

«"Kembalilah berbakti kepada Raja Muda..."»

«"...Isidore, putra Raja Itharius."»

Kristal itu mulai dipenuhi kabut putih yang berputar seperti awan.

Retakan-retakan halus menjalar di seluruh permukaannya.

«KRAAAK...!»

Dengan dentuman lembut, kristal itu pecah menjadi ribuan serpihan cahaya yang melayang di udara sebelum lenyap menjadi butiran-butiran sinar.

Sosok di dalamnya perlahan membuka mata.

Sepasang mata yang tajam namun penuh ketenangan memandang Isidore.

Ia bangkit berdiri.

Jubah putih keemasannya berkibar pelan, meski tak ada angin yang berembus di dalam ruangan.

Arya Wiratma kemudian berlutut dengan satu kaki di hadapan Isidore.

Ia menundukkan kepala.

«"Hamba, Arya Wiratma..."»

«"Ksatria Perancang Strategi Mythopia..."»

«"Siap mengabdikan seluruh ilmu, kebijaksanaan, dan hidup hamba kepada Paduka Raja Muda Isidore, putra Raja Itharius."»

Ruangan kembali hening.

Namun seluruh ksatria mengetahui...

Dengan bangkitnya Arya Wiratma, bukan hanya seorang ksatria yang kembali.

Melainkan otak terbesar yang pernah dimiliki Kerajaan Mythopia.

Chapter 106 Cerita Arya wiratma 

Suasana di ruang kristal yang berada jauh di bawah Gunung Merbabu berubah hangat.

Setelah tidur panjang selama seribu tahun, Arya Wiratma berdiri kembali di tengah saudara-saudaranya.

Surya Wikrama adalah orang pertama yang memeluknya.

"Selamat datang kembali, saudaraku."

Disusul Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, Guntur Wisesa, Sagara Putra, Jagat Dirgantara, Rakajati, dan Rangga Wulung. Satu demi satu mereka saling berpelukan, seolah waktu seribu tahun hanyalah satu malam yang panjang.

Arya Wiratma tersenyum tipis.

"Aku bersyukur... masih ada yang bertahan."

Isidore memandang para ksatria itu dengan takjub. Ikatan persaudaraan mereka terasa begitu dalam, melampaui waktu dan kematian.

Arya Wiratma kemudian melangkah menuju meja batu bundar yang dipenuhi peta dunia.

Dengan ujung jarinya, ia menyentuh permukaan peta.

Cahaya putih menyala, membentuk gambaran dunia kuno.

"Raja Muda Isidore..."

"Ada satu kebenaran yang selama ini hilang dari sejarah manusia."

Semua terdiam.

"Seribu tahun yang lalu..."

"Mythopia tidak sedang berperang melawan monster biasa."

Ia mengangkat pandangannya.

"Mythopia adalah benteng terakhir Bumi."

Ruangan menjadi sunyi.

"Kami menghadapi Lima Bangsa Penjajah Antarbintang yang datang dari dunia-dunia jauh untuk menaklukkan planet ini."

Di atas peta muncul lima bola cahaya yang mewakili lima dunia asing.

"Yang pertama adalah Bangsa Zhar'Kor, penakluk dari Planet Varkhos."

Cahaya berubah menjadi gambaran pasukan baja.

"Mereka menguasai logam hidup. Tubuh mereka diselimuti baja yang mampu memulihkan diri. Mereka membangun benteng hanya dalam hitungan jam."

Di belakang mereka tampak Titan Ferrum, raksasa besi setinggi gunung; Drakon Baja, naga mekanis yang memuntahkan logam cair; dan kawanan Belalang Baja yang melahap ladang-ladang hingga tandus.

"Tujuan mereka sederhana."

"Mengubah Bumi menjadi dunia besi."

Cahaya berikutnya berubah menjadi lautan kabut hitam.

"Yang kedua..."

"Bangsa Nyxar dari Planet Umbros."

Sosok Ratu Nyxaleth muncul bagaikan bayangan.

"Mereka menguasai kegelapan, ilusi, dan keputusasaan."

Di belakangnya tampak Bayang Agung, Umbra Hydra, naga berkepala sembilan dari kabut hitam, dan Raja Wangkara yang memimpin jutaan roh kabut.

Mereka ingin menenggelamkan dunia dalam malam yang tak pernah berakhir."

Peta kembali berubah.

Gunung-gunung meletus.

Lautan magma mengalir.

"Itulah bangsa Kragmora dari Planet Ignisar."

"Seluruh pasukan mereka hidup dari api."

Di hadapan mereka berjalan Lelakut Gunung, Gendrawani Bertangan Delapan, dan Naga Lava Ignirax.

"Mereka ingin membentuk ulang Bumi menjadi planet api."

Cahaya kembali berubah.

Kini seluruh ruangan dipenuhi jam-jam raksasa yang berputar sendiri.

Yang keempat..."

"Bangsa Chronarion dari Planet Aeternis."

Arya Wiratma menarik napas panjang.

"Merekalah yang paling sulit dilawan."

"Karena mereka mempermainkan waktu."

Bayangan Kala Rambat muncul, diikuti Chronobeast sang pemakan umur dan Penjaga Jam Abadi yang tubuhnya tersusun dari kristal waktu.

"Mereka tidak sekadar membunuh."

"Mereka menghapus sejarah."

Terakhir...

Seluruh ruangan berubah menjadi hutan arwah.

Pohon-pohon hitam menjulang.

Roh-roh beterbangan di antara akar.

"Bangsa terakhir adalah Sylthar, penguasa jiwa dari Planet Elyss Void."

Ratu Vaelthra berdiri di tengah jutaan arwah.

Di belakangnya tampak Nagagini Emas yang telah dirasuki, Barong Lodra sang pembawa wabah, dan Pohon Arwah yang melahirkan roh-roh pendendam tanpa akhir.

"Mereka ingin mengubah seluruh makhluk hidup menjadi pasukan yang kehilangan kehendak."

Tak seorang pun berbicara.

Bahkan Bhra Anuraga yang biasanya berapi-api pun terdiam.

Arya Wiratma melanjutkan.

"Namun kekuatan mereka bukan hanya terletak pada pasukan."

"Mereka sangat pandai memengaruhi hati para raja manusia."

"Mereka tidak datang sebagai penjajah."

"Mereka datang sebagai penyelamat."

"Mereka menawarkan kemakmuran, ilmu pengetahuan, umur panjang, dan kekuatan."

"Perlahan-lahan para raja mulai saling mencurigai."

Persekutuan kerajaan-kerajaan di Bumi pun hancur."

Rakajati mengepalkan tangan.

"Jadi... mereka memecah belah manusia sebelum menyerang."

Arya Wiratma mengangguk.

"Benar."

"Di saat itulah Rasvatar bangkit."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Rasvatar melihat bahaya yang tidak ingin dipercaya oleh banyak orang."

"Ia mendatangi para raja, memohon agar seluruh kerajaan bersatu."

"Tetapi tidak seorang pun mau mendengarkannya."

"Sebagian menganggap para pendatang hanyalah utusan dari langit."

"Sebagian lagi percaya mereka membawa kemajuan."

"Perpecahan itu membuat Rasvatar marah."

Surya Wikrama menghela napas.

"Itulah awal jalan yang membawanya menuju kegelapan."

Arya Wiratma menatap Isidore.

"Pada akhirnya..."

"Rasvatar bertempur hampir sendirian, hanya ditemani beberapa ksatria dari Majapahit dan para penjaga Mythopia yang masih setia."

"Kami kehilangan begitu banyak saudara."

"Banyak ksatria gugur."

"Banyak kerajaan musnah."

"Namun pengorbanan mereka tidak sia-sia."

"Lima bangsa penjajah akhirnya meninggalkan Bumi."

Ia berhenti sejenak.

"Tetapi..."

"Sampai hari ini..."

"Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah mereka benar-benar dikalahkan..."

"...atau hanya mundur menunggu kesempatan."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Isidore teringat pada Bayang Agung dan Wangkara yang baru saja mereka hadapi.

Arya Wiratma menatap seluruh ksatria.

"Kemunculan Wangkara."

"Kebangkitan Bayang Agung."

"Semua itu bukan kebetulan."

"Aku khawatir..."

"...mereka telah kembali."

Ia kemudian membuka sebuah gulungan peta yang belum pernah dilihat siapa pun.

Ratusan garis cahaya memenuhi seluruh permukaannya.

"Inilah Rancangan Pertahanan Agung Mythopia."

"Aku akan menyusun kembali strategi perang."

Mulai hari ini..."

"Kita tidak lagi hanya berperang demi Mythopia."

"Kita akan berjuang demi seluruh Bumi."

Chapter 107 Pembagian tugas 

Keheningan menyelimuti ruang strategi di bawah Gunung Merbabu. Cahaya dari peta kristal masih berdenyut pelan, namun wajah setiap ksatria berubah muram. Besarnya ancaman yang menanti perlahan mulai mereka pahami.

Isidore menatap satu per satu sahabat seperjuangannya.

"Aku baru menyadari..." ucapnya lirih.

"Musuh yang akan kita hadapi bukan sekadar pasukan monster ataupun kerajaan yang haus kekuasaan."

"Mereka adalah penakluk dunia.

Ia mengepalkan tangan.

"Dengan kekuatan kita saat ini... bahkan seluruh Ksatria Mythopia belum tentu mampu memenangkan perang itu."

Tak seorang pun membantah.

Arya Wiratma melangkah maju. Sorot matanya tetap tenang, sebagaimana seorang ahli strategi yang telah menyaksikan jatuh bangunnya peradaban.

"Karena itulah, Paduka Raja Muda, kita harus mengesampingkan kebencian."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Ada dua orang yang harus Paduka temui."

"Rasvatar... dan Ki Surya Dahana."

Bhra Anuraga langsung menggeleng.

"Mereka telah memilih jalan kegelapan."

Arya Wiratma mengangguk pelan.

"Benar."

"Namun jangan lupakan satu hal."

"Mereka juga pernah berdiri di medan perang yang sama dengan kita."

"Mereka menyaksikan sendiri bagaimana langit terbelah oleh armada para penjajah."

"Mereka mengetahui kelemahan musuh yang bahkan tidak tercatat dalam manuskrip Mythopia."

Surya Wikrama menambahkan dengan suara berat,

"Seorang bijaksana tidak menolak pengetahuan hanya karena datang dari musuhnya."

Arya Wiratma kembali berbicara.

"Rasvatar mungkin telah kehilangan cahaya dalam hatinya."

"Ki Surya Dahana mungkin telah tersesat oleh ambisinya."

"Tetapi pengalaman mereka adalah harta yang tidak dapat digantikan."

"Bila kita ingin menyelamatkan dunia..."

"..maka kita harus berani berbicara dengan mereka."

Isidore menganggukkan kepala.

"Aku akan menemui mereka."

"Lalu bagaimana dengan kalian?"

Arya Wiratma kembali menggerakkan peta kristal.

Sepuluh cahaya muncul mengelilingi Bumi.

"Kita tidak mempunyai waktu."

"Mulai hari ini, setiap ksatria menjalankan tugasnya masing-masing."

Ia menunjuk jalur-jalur cahaya yang menghubungkan gunung-gunung suci.

"Surya Wikrama, Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, Sagara Putra, Guntur Wisesa, Jagat Dirgantara, dan Rangga Wulung."

"Kalian akan berpencar menuju setiap Benteng Batu Lompatan."

"Periksa seluruh Gerbang Langit."

"Pastikan tidak ada celah yang telah ditembus para penjajah."

"Bila menemukan tanda sekecil apa pun..."

"Jangan bertempur sendirian."

"Segera kirim berita kepada Mythopia."

Delapan ksatria mengangguk serempak.

Arya Wiratma kemudian menyentuh sepuluh lambang kerajaan yang bercahaya di atas peta.

"Sementara itu..."

"Aku akan memulai perjalanan diplomasi terbesar dalam sejarah manusia."

Satu demi satu lambang kerajaan menyala.

Kerajaan Agnivarsha, negeri api dan lava yang baranya tak pernah padam.

Kerajaan Tirtamandala, penguasa samudra dan kabut lautan.

Kerajaan Bhumi Raksa, kerajaan batu dan akar gunung purba.

Kerajaan Bayu Arcapada, negeri langit yang terapung di antara awan.

Kerajaan Vajraningrat, tanah badai dan petir abadi.

Kerajaan Cahyanagara, penjaga cahaya suci yang menyambut fajar pertama.

Kerajaan Kalamreta, negeri misterius yang menguasai ruang dan gravitasi.

Kerajaan Simhagiri, tanah para penjinak roh-roh binatang purba.

Kerajaan Astrapura, pusat penempaan senjata suci dan para pandai besi legendaris.

Dan Kekaisaran Nagakartika, tempat naga-naga langit menjaga energi kuno dunia.

Arya Wiratma memandang semuanya.

"Dahulu kerajaan-kerajaan ini pernah berdiri bersama."

"Kini mereka tercerai-berai oleh waktu."

"Aku akan mengetuk kembali pintu-pintu mereka."

"Bila para raja masih mencintai dunia ini..."

"...mereka akan mengangkat panji perang bersama Mythopia."

Rakajati tersenyum tipis.

"Kalau begitu, izinkan aku menjalankan tugasku."

Ia menancapkan tongkat kayunya ke lantai.

Akar-akar bercahaya menjalar ke segala arah, menembus batu, gunung, dan tanah yang tak berujung.

"Aku akan mencari Roh Pohon Dunia, penjaga kehidupan yang telah hidup sejak bumi dilahirkan."

"Bila ia bersedia membantu, seluruh hutan di dunia akan menjadi mata dan telinga kita."

Rakajati mengangkat wajahnya.

"Dan aku juga akan pergi ke Kerajaan Peri, memohon bantuan Bangsa Peri yang selama ribuan tahun menjaga keseimbangan alam."

"Tak ada kurir yang lebih cepat daripada peri."

"Tak ada penyembuh yang lebih lembut daripada embun yang mereka ciptakan."

Ruangan kembali dipenuhi cahaya.

Untuk pertama kalinya sejak kebangkitan para ksatria, mereka tidak lagi hanya mempersiapkan sebuah peperangan.

Mereka sedang membangun Persekutuan Agung Bumi—sebuah aliansi seluruh bangsa, kerajaan, roh alam, dan makhluk suci yang akan menentukan nasib dunia ketika Lima Bangsa Penjajah Antarbintang kembali turun dari langit.

Chapter 108 Bertemu dengan Rasvatar 

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika seluruh Ksatria Mythopia berkumpul di pelataran Batu Lompatan Agung di bawah Gunung Merbabu. Kristal-kristal putih yang mengelilingi altar memancarkan cahaya lembut, sementara lingkaran rune kuno di lantai berdenyut mengikuti aliran energi bumi.

Hari itu, untuk pertama kalinya sejak mereka dibangkitkan, para ksatria akan berpisah.

Masing-masing memikul amanat yang dapat menentukan nasib dunia.

Surya Wikrama berdiri di hadapan Isidore.

Ia mengangkat pedang sucinya hingga ujung bilahnya menyentuh cahaya kristal.

"Paduka Isidore, kini tiba saatnya Paduka menguasai Batu Lompatan."

Isidore memperhatikan setiap gerakannya.

"Angkat pedangmu."

Isidore menurut.

"Pejamkan matamu."

"Bayangkan tujuan yang ingin kau datangi."

"Rasakan denyut energi gunung itu."

"Satukan dengan auramu."

"Jangan melawan cahaya..."

"Biarkan cahaya yang membawamu."

Perlahan, aura putih mengalir dari tubuh Isidore menuju pedangnya.

Lingkaran rune di bawah kaki mereka mulai menyala.

Petir-petir putih menari di udara.

Surya Wikrama tersenyum.

"Bagus..."

"Kini kau telah menjadi penjaga jalur para ksatria."

Satu demi satu para ksatria berpamitan.

Pangreksa mengepalkan tangan kepada Isidore.

"Semoga kita bertemu kembali di medan kemenangan."

Bhra Anuraga tertawa lebar.

"Jangan kalah sebelum aku kembali."

Bayu Anggana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

Sagara Putra menepuk bahu Isidore dengan penuh hormat.

Guntur Wisesa mengangkat pedangnya ke langit sebagai salam perpisahan.

Jagat Dirgantara membungkukkan kepala.

Rangga Wulung menyerahkan sebilah pisau kecil buatannya.

"Tak akan banyak membantu dalam perang besar."

"Tetapi semoga berguna saat Paduka sendirian."

Rakajati menjadi orang terakhir yang berbicara.

"Ikutilah petunjuk yang telah kubuat."

"Akar-akar pohon telah membimbing jalanmu."

"Carilah pohon-pohon yang batangnya ditumbuhi sulur menyerupai rambut manusia."

"Sulur-sulur itu saling bertaut membentuk penunjuk arah."

"Ikuti jalur itu."

"Namun saat kau merasa terus berjalan di tempat yang sama..."

"...jangan takut."

"Itulah tanda bahwa kau telah memasuki wilayah ilusi milik Rasvatar."

Isidore mengangguk mantap.

Tak lama kemudian, para ksatria menghilang satu per satu ditelan cahaya Batu Lompatan.

Tinggallah Arya Wiratma seorang diri.

Ia berjalan mengelilingi ruangan sambil menggambar lambang-lambang kuno di setiap dinding gua.

Cahaya biru menyelimuti seluruh lorong.


"Mulai hari ini..."

"Setiap penyusup yang memasuki gua-gua suci akan diketahui oleh Mythopia."

Segel keamanan kembali aktif setelah tertidur selama seribu tahun.

Arya Wiratma memandang ke arah selatan.

"Saatnya menemui Kerajaan Agnivarsha."

Sesaat kemudian, cahaya keemasan menelan sosoknya.

---

Di Gunung Sinabung...

Petir putih membelah langit.

Kilatan cahaya memenuhi sebuah gua sunyi.

Ketika sinarnya menghilang, Isidore telah berdiri seorang diri.

Ia menarik napas panjang.

Perjalanannya menuju Rasvatar akhirnya dimulai.

Mengikuti petunjuk Rakajati, ia menyusuri hutan lebat.

Benar saja.

Beberapa pohon tua memiliki sulur panjang menyerupai rambut manusia yang saling mengikat dari batang ke batang, membentuk jalur yang hanya dapat dipahami oleh mata yang jeli.

Berjam-jam ia berjalan.

Hingga akhirnya...

Ia merasa telah melewati batu besar yang sama untuk ketiga kalinya.

Pohon yang sama.

Sungai yang sama.

Kabut yang sama.

Isidore berhenti.

"Jadi... inilah ilusi yang dimaksud Rakajati."

Pada saat itulah cahaya putih muncul dari keris pusaka.

Raja Alam Wardana menampakkan diri.

"Berhati-hatilah, Isidore."

"Rasvatar bukan sekadar manusia."

"Ia menguasai hampir seluruh unsur yang pernah dimiliki para ksatria Mythopia."

"Satu kesalahan kecil dapat merenggut nyawamu."

Isidore tersenyum tenang.

"Kalau begitu, kurasa kita akan bermalam di sini."

"Mungkin Rasvatar akan datang bila memang menghendakinya."

Ia memasang jebakan sederhana, kemudian berburu seekor rusa di dalam hutan.

Menjelang malam, api unggun menyala.

Aroma daging panggang memenuhi udara.

Ketika Isidore hendak menyantapnya...

Terdengar suara seorang pria dari balik kabut.

"Bolehkah aku meminta sepotong?"

"Aku sangat lapar."

Isidore menoleh.

Seorang lelaki tua berjubah lusuh berdiri beberapa langkah darinya.

Wajahnya sederhana.

Tatapannya tenang.

Tak sedikit pun memancarkan aura mengerikan.

Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu duduk di dekat api unggun, mengambil sepotong daging, lalu memakannya dengan lahap.

Barulah Isidore bertanya pelan,

"Apakah... Anda Rasvatar?"

Lelaki itu hanya tersenyum.

"Apa menurutmu Rasvatar harus selalu berwajah sama?"

Isidore terdiam.

Lelaki itu menatap kobaran api.

"Dahulu..."

"Aku adalah Maharsi Agung sekaligus penasihat tertinggi Kerajaan Mythopia."

"Aku memilih memperingatkan manusia."

"Namun mereka memilih mendengar suara yang menyenangkan hati mereka."

"Akhirnya..."

"Akulah yang dianggap pengkhianat."

Ia memandang Isidore.

"Katakan."

"Apa tujuanmu datang mencariku?"

Isidore menjawab tanpa ragu.

"Kami telah membangkitkan Arya Wiratma."

"Beliau memintaku mencari Anda."

"Perang yang pernah Anda hadapi tampaknya akan kembali."

"Apa pun kesalahan yang terjadi di masa lalu..."

"...biarlah menjadi pelajaran."

"Kini kami ingin mempersatukan semua kekuatan Bumi untuk menghadapi bangsa penjajah."

Lelaki itu menghabiskan potongan daging terakhir.

Kemudian ia tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"Aku harus memastikan satu hal."

Ia mengulurkan tangannya.

"Maukah kau mempercayaiku?"

Isidore menatap mata lelaki itu.

Tak ada kebencian.

Tak ada tipu daya yang dapat ia rasakan.

Hanya kelelahan seseorang yang telah memikul beban dunia terlalu lama.

"Aku percaya."

Isidore menggenggam tangan itu erat.

Seketika...

Seluruh dunia menghilang.

Gelombang cahaya memenuhi kesadarannya.

Ia melihat armada-armada raksasa turun dari langit.

Gunung-gunung runtuh.

Samudra terbelah.

Naga emas bertempur melawan Titan Besi.

Bayang Agung menelan matahari.

Kala Rambat menghentikan waktu.

Barong Lodra menebarkan wabah yang memusnahkan kota-kota.

Di tengah semua itu berdiri seorang Rasvatar muda.

Bertempur sendirian.

Menguasai api.

Air.

Angin.

Petir.

Tanah.

Cahaya.

Bayangan.

Ruang.

Bahkan aliran energi yang belum pernah dipelajari Isidore.

Semua pengetahuan itu mengalir deras ke dalam dirinya.

Tubuh Isidore bergetar hebat.

Cahaya putih memancar tanpa henti dari setiap pori-porinya.

Ledakan energi mengguncang seluruh hutan.

Kesadarannya tak sanggup lagi menanggung beban ingatan selama ribuan tahun.

Pandangannya menjadi gelap.

Tubuhnya roboh tak sadarkan diri.

Lelaki tua itu memandang Isidore cukup lama.

Lalu, dengan senyum yang nyaris tak terlihat, ia mengangkat tubuh sang raja muda ke pundaknya.

"Barangkali..."

"Untuk pertama kalinya setelah seribu tahun..."

"...aku tidak lagi memikul beban ini sendirian."

Perlahan ia melangkah menembus kabut, menuju sebuah lembah tersembunyi yang bahkan peta-peta kuno Mythopia telah melupakannya.

Chapter 109 Bertemu dengan para leluhur 

Jauh di balik hutan Gunung Sinabung, tersembunyi oleh kabut yang tak pernah tersingkap, berdirilah sebuah gua yang tidak tercatat dalam peta mana pun.


Lorong-lorongnya terus berubah.


Dinding-dinding batunya berpindah tempat seperti makhluk hidup.


Setiap orang yang memasukinya akan berjalan tanpa akhir, kecuali mereka yang mengetahui jalan yang sebenarnya.


Di sanalah Ki Surya Dahana membangun tempat persembunyiannya.


Di tengah ruangan utama, api hijau menyala di bawah sebuah wajan perunggu raksasa. Ramuan-ramuan herbal, akar purba, bunga hitam, dan getah pohon kuno mendidih perlahan, memenuhi gua dengan aroma yang asing sekaligus menenangkan.


Di sekelilingnya berdiri empat sosok yang pernah dikalahkan oleh para Ksatria Mythopia.


Orkaghor, pemimpin Suku Gurnaka.


Lorendis, penguasa tipu daya dari Suku Rakayan.


Mhezzrak, sang pisau tak terlihat dari Suku Jalarang.


Dan Vorthax, si gila darah dari Suku Murkalana.


Segel yang dahulu mengikat jiwa mereka telah hancur.


Bukan karena waktu...


Melainkan karena Ki Surya Dahana kini telah mempelajari sebagian kecil pengetahuan yang diwariskan Rasvatar.


Aura hitam yang dahulu kasar kini bercampur dengan cahaya keunguan yang lebih dalam, lebih tenang, namun jauh lebih berbahaya.


Ia sedang mengaduk ramuan itu dengan tongkat kayunya ketika terdengar langkah kaki memasuki gua.


Kabut di pintu masuk terbelah.


Seorang lelaki berjubah lusuh berjalan perlahan sambil menggendong seorang pemuda yang tak sadarkan diri.


Ki Surya Dahana menoleh sekilas.


"Siapa yang kau bawa?"


Tanpa menjawab, lelaki itu merebahkan sang pemuda di atas dipan batu.


Ki Surya Dahana mendekat.


Begitu melihat wajah pemuda itu, kedua matanya membelalak.


"Isidore...!"


Ia menatap lelaki berjubah itu dengan penuh keterkejutan.


"Dari mana kau menemukannya?"


Lelaki itu duduk tenang di dekat api unggun.


"Aku yang membawanya."


Ki Surya Dahana menghela napas panjang.


"Jadi benar..."


"Kau telah memilihnya."


Lelaki itu tersenyum tipis.


"Bukankah sudah kukatakan?"


"Aku akan membangkitkan kembali Mythopia."


"Bukan dengan dendam."


"Bukan pula dengan kehancuran."


"Melainkan dengan memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan."


Ki Surya Dahana terdiam.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menemukan kata-kata untuk membantah gurunya.


---


Sementara itu...


Di dalam alam mimpinya, Isidore merasa sedang berjalan di sebuah padang rumput yang diterangi cahaya keemasan.


Tak ada perang.


Tak ada kabut.


Tak ada suara pedang.


Di hadapannya berdiri para leluhur Kerajaan Mythopia.


Raja-raja terdahulu.


Para maharsi.


Dan ksatria-ksatria yang telah lama kembali menjadi cahaya.


Mereka memandang Isidore dengan senyum penuh kasih.


Seorang leluhur melangkah maju.


"Ingatlah, cucuku..."


"Kekuatan terbesar bukanlah kemampuan untuk mengalahkan musuh."


"Tetapi kemampuan untuk tidak berubah menjadi musuh."


Leluhur lain menyentuh bahunya.


"Jadilah raja yang mampu memaafkan."


"Namun jangan pernah berhenti melindungi mereka yang lemah."


Satu per satu para leluhur menyalami Isidore.


Kemudian mereka memeluknya.


Setiap pelukan memenuhi tubuh Isidore dengan cahaya yang hangat.


Seolah ribuan tahun kebijaksanaan mengalir ke dalam jiwanya.


---


Di dunia nyata...


Tubuh Isidore tiba-tiba memancarkan cahaya putih.


Sekali.


Kemudian dua kali.


Lalu berkali-kali.


Setiap denyut cahaya membuat seluruh gua bergetar pelan.


Ki Surya Dahana mengamatinya tanpa berkedip.


Ia merasakan aliran energi yang terus bertambah, melampaui batas yang pernah dimiliki Isidore sebelumnya.


"Menakjubkan..."


Ia berbisik pelan.


"Dia sedang melewati batas kemampuan tubuh manusianya."


Rasvatar hanya menatap Isidore dengan tenang.


"Ingatan selama seribu tahun sedang menyatu dengan jiwanya."


"Bila ia berhasil menanggung semuanya..."


"...maka akan lahir seorang raja yang belum pernah disaksikan dunia sejak zaman para pendiri Mythopia."

Ki Surya Dahana tersenyum tipis.

Ia menggenggam tongkat kayunya.

"Kalau begitu..."

"Aku akan menunggu sampai ia sadar."

Sorot matanya berubah tajam.

"Dan setelah itu...

"Aku sendiri yang akan menguji apakah Isidore benar-benar layak memikul warisan para leluhur Mythopia."

Di sudut ruangan, keempat kepala suku saling berpandangan.

Mereka dapat merasakan satu hal yang sama.

Saat Isidore membuka matanya nanti...

Dunia tidak akan lagi menghadapi raja muda yang mereka kenal sebelumnya.

Chapter 110 Kerajaan Agnivarsha 

Cahaya Batu Lompatan perlahan memudar.

Sesaat sebelumnya Arya Wiratma masih berdiri di ruang kristal Gunung Merbabu. Kini, ia telah menginjak tanah Kerajaan Agnivarsha, negeri yang sejak dahulu dikenal sebagai kerajaan api, tempat sungai lava mengalir di antara pegunungan hitam dan bara tak pernah benar-benar padam.

Benteng-benteng besi menjulang tinggi mengelilingi ibu kota. Asap tipis keluar dari cerobong penempaan, sementara panji-panji merah keemasan berkibar diterpa angin panas.

Namun hari itu suasana kerajaan jauh berbeda.

Para prajurit berjaga dalam jumlah berlipat.

Ketapel raksasa diarahkan ke langit.

Pemanah memenuhi menara-menara pengawas.

Bahkan setiap orang yang memasuki gerbang diperiksa tanpa terkecuali.

Komandan penjaga mengangkat tombaknya, menghalangi langkah Arya Wiratma.

"Maaf, Tuan. Kerajaan sedang dalam keadaan siaga. Mohon tunjukkan identitas Anda."

Arya Wiratma hanya membuka sedikit jubah putih keemasannya.

Lambang kuno Mythopia yang terukir di dada zirahnya memancarkan cahaya lembut.

Para penjaga seketika terdiam.

Seorang prajurit senior membelalakkan mata.

"Itu... lambang Ksatria Agung Mythopia."

Komandan segera berlutut.

"Maafkan kelancangan kami, Tuan Arya Wiratma."

"Kami tidak menyangka seorang ksatria Mythopia masih berjalan di dunia ini."

Arya Wiratma mengangguk sopan.

Aku memahami kewaspadaan kalian."

"Apa yang sedang terjadi di kerajaan ini?"

Komandan menghela napas berat.

"Tiga malam yang lalu seorang penyusup berhasil memasuki istana."

"Ia mencuri Biji Pohon Dunia, pusaka yang selama berabad-abad kami jaga."

"Yang lebih mengerikan..."

"...ia juga membawa kabur seekor naga, hewan koleksi sekaligus sahabat pribadi Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata."

Sorot mata Arya Wiratma berubah tajam.

"Seekor naga..."

Ia mulai menyadari bahwa pergerakan musuh telah dimulai.

Tanpa membuang waktu, para penjaga segera mengantar Arya Wiratma menuju istana.

---

Istana Agnivarsha berdiri megah di atas lautan batu vulkanik.

Pilar-pilar besinya dihiasi ukiran naga dan kobaran api.

Namun kemegahan itu kini ternoda.

Beberapa dinding retak.

Patung-patung penjaga roboh.

Lantai aula dipenuhi bekas pertempuran.

Jelas terlihat bahwa penyusup itu bukan pencuri biasa.

Di depan sebuah pintu baja raksasa, komandan penjaga berhenti.

Ia mengetuk pintu sebanyak tiga kali.

TOK... TOK... TOK...

Suara berat bergema.

"Masuk."

Pintu perlahan terbuka.

Di dalam aula singgasana duduk Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata.

Tubuhnya besar dan kokoh, mengenakan zirah merah menyala dengan mahkota emas berbentuk kobaran api. Wajahnya masih menyisakan kemarahan sekaligus kesedihan akibat musibah yang baru menimpa kerajaannya.

Seorang pengawal berbisik pelan.

"Paduka, utusan dari Mythopia telah tiba."

Sang Maharaja mengangkat kepala.

Ketika pandangannya bertemu Arya Wiratma, ia tertegun.

Matanya membesar karena tak percaya.

"...Mustahil."

"Seribu tahun telah berlalu..."

"Namun wajahmu..."

"...tidak berubah sedikit pun."

Arya Wiratma membungkukkan badan dengan hormat.

"Salam sejahtera, Paduka Maharaja."

"Aku bersyukur masih dapat bertemu dengan keturunan Raja Agnibrata."

Kemurkaan di wajah sang raja sedikit mereda.

Ia mempersilakan Arya Wiratma duduk.

Sebagai penghormatan kepada tamu agung, berbagai hidangan khas Agnivarsha pun disajikan. Teh rempah hangat dituangkan ke dalam cawan batu, sementara roti bara dan daging panggang memenuhi meja perjamuan.


Setelah adat penyambutan selesai, suasana kembali menjadi hening.


Maharaja memandang lurus ke arah Arya Wiratma.


"Ada keperluan apakah seorang Ksatria Agung Mythopia datang ke kerajaanku?"


Arya Wiratma berdiri perlahan.


Ia mengeluarkan gulungan peta kristal yang memancarkan cahaya.

"Paduka."

"Mythopia sedang membangun Aliansi Agung Bumi."

"Musuh yang pernah menghilang seribu tahun lalu kini mulai kembali."

Ia mengangkat tangannya.

Bayangan Planet Ignisar muncul di udara.

"Yang paling mengkhawatirkan..."

"..aku mengetahui bahwa Kerajaan Agnivarsha telah menjalin hubungan dengan Bangsa Kragmora dari Planet Ignisar."

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa menteri saling berpandangan.

Arya Wiratma melanjutkan,

"Mereka memang menawarkan teknologi, kekuatan, dan pengetahuan."

"Tetapi semua itu hanyalah umpan."

"Tujuan mereka bukan membantu Agnivarsha."

"Tujuan mereka adalah menjadikan Bumi sebagai dunia api kedua."


Sang Maharaja mengepalkan tangan.


"Engkau datang pada saat yang buruk, Arya."


"Kami baru saja kehilangan Biji Pohon Dunia."


"Naga penjaga kerajaan pun telah dicuri."


"Sebagian besar kekuatan pertahanan kami ikut lenyap."


Ia menghela napas panjang.


"Dalam keadaan seperti ini..."


"...aku tidak bisa mengambil keputusan yang menentukan nasib kerajaanku."


Arya Wiratma menganggukkan kepala.

"Aku memahami kesulitan Paduka."

"Namun waktu tidak berpihak kepada kita.

"Setiap hari yang terbuang memberi kesempatan kepada Kragmora untuk menancapkan pengaruhnya lebih dalam."

Ia melangkah mendekati singgasana.


"Paduka tidak perlu memberikan jawaban sekarang."


"Aku hanya memohon satu hal."


"Hentikan sementara segala bentuk kerja sama dengan Bangsa Kragmora."


"Selidikilah siapa penyusup yang mencuri Biji Pohon Dunia dan naga penjaga."


"Bila dugaanku benar..."

"...pencurian itu bukan dilakukan untuk melemahkan Agnivarsha."

"Melainkan untuk membuka jalan bagi invasi yang jauh lebih besar."

Arya Wiratma kemudian membungkukkan badan.

"Aku akan menunggu keputusan Paduka."

"Semoga ketika kita bertemu kembali..."

"...Agnivarsha berdiri sebagai sekutu Bumi, bukan sebagai bidak para penjajah antarbintang."

Maharaja Adityawarman Agnibrata tidak segera menjawab.

Tatapannya beralih ke singgasana kosong di sampingnya—tempat naga sahabatnya biasa beristirahat.

Untuk pertama kalinya, benih keraguan mulai tumbuh di dalam hati sang raja terhadap bangsa yang selama ini mengaku sebagai sahabat dari langit.

09/04/26

Season 10 Kerajaan mythopia

Chapter 89 Ksatria terluka

Di sudut gua yang remang, jauh dari dentuman pedang yang terus menggema, Surya Wikrama berlutut di tengah lingkar cahaya keemasan.
Tangannya terangkat, perlahan namun pasti, menyalurkan energi hangat yang mengalir seperti matahari pagi—lembut, namun penuh daya hidup.
Satu per satu para ksatria terbaring di sekelilingnya.
Pangreksa—tak sadarkan diri, napasnya tipis seperti benang yang hampir putus. Cahaya putih di dadanya hanya tersisa bara kecil, nyaris padam.
Bhra Anuraga—terduduk dengan tubuh bersandar pada batu, api di dalam dirinya meredup, seperti bara yang kehilangan kayu.
Bayu Anggana—terbaring diam, dadanya naik turun berat, seolah setiap napas adalah perjuangan melawan badai yang telah ia lepaskan sendiri.
Sagara Putra—tidak terluka parah secara jasmani, namun matanya kosong. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seakan masih merasakan air yang pernah menjadi sahabatnya… kini menjadi alat perpisahan.
Surya Wikrama memejamkan mata.
“Kalian telah melampaui batas tubuh dan jiwa…”
bisiknya pelan.
“Kini biarkan aku menahan retaknya.”
Cahaya emasnya menguat.
Luka-luka mulai menutup perlahan, energi yang tercerai dikumpulkan kembali—namun bahkan Surya tahu, tidak semua yang retak bisa disatukan sepenuhnya.
Di sisi lain lingkar itu, hanya dua yang masih berdiri.
Guntur Wisesa, dengan sisa kilat yang masih berderak pelan di tubuhnya.
Dan Jagat Dirgantara, yang berdiri kokoh seperti pilar dunia, meski retakan halus terlihat di lengannya.
Mereka menatap ke arah kegelapan.
Ke arah tempat di mana suara pertempuran tak pernah berhenti.
Di sana—
Isidore.
Tak terlihat jelas oleh mata biasa.
Hanya terdengar—
KLANG!
KRAANG!
SHRAAANG!
Benturan besi dengan besi.
Cahaya yang menyambar seperti kilat sesaat.
Bayangan yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti.
Tiga kepala suku mengurungnya.
Orkaghor menyerang dengan kebrutalan liar.
Mhezzrak menghilang dan muncul seperti bayangan yang mengintai kematian.
Vorthax menghantam dengan kekuatan yang mampu merobek batu.
Namun di tengah mereka—
Isidore berdiri.
Pedangnya menari.
Bukan lagi sekadar jurus.
Bukan lagi sekadar teknik.
Melainkan irama.
Langkahnya ringan seperti angin, namun setiap tebasan mengandung berat dunia. Serangan datang dari segala arah—namun selalu ada satu jalur sempit yang terbuka… dan Isidore selalu berada di sana.
Cahaya dari pedangnya kini tak lagi sekadar biru.
Ia mulai berubah.
Keemasan samar menyelinap di antara kilauannya—seperti fajar yang lahir dari malam panjang.
Dari kejauhan, Cheon Myeong berbisik pelan, suaranya nyaris hilang dalam gema perang:
“Ia mulai terbangun…”
“Bukan sebagai murid… tapi sebagai pewaris.”
Benturan semakin cepat.
Udara bergetar.
Tanah retak.
Dan untuk pertama kalinya—
para kepala suku mulai terdorong mundur.
Isidore tidak tampak lelah.
Napasnya stabil.
Tatapannya tajam.
Namun jauh di dalam dirinya, sesuatu sedang bangkit—
bukan kemarahan…
bukan keputusasaan…
melainkan kehendak yang tak tergoyahkan.
Di belakangnya, Guntur Wisesa melangkah maju.
“Kita tidak bisa membiarkannya sendiri.”
Jagat Dirgantara mengangguk.
Tanah bergetar pelan di bawah kakinya.
“Maka kita akan menjadi dindingnya.”
Keduanya melangkah ke dalam bayangan pertempuran.
Dan saat mereka masuk—
cahaya Isidore menyala lebih terang.
Pertempuran belum mencapai puncaknya.
Namun semua yang hadir di sana tahu—
momen penentuan sudah dekat.
Chapter 90 Akhir dari pertarungan kepala suku
Dentuman besi kembali menggema.
Namun kali ini—
Isidore tidak sendiri.
Dari sisi kiri, Guntur Wisesa melangkah masuk, kilat merayap di lengannya seperti naga yang terbangun.
Dari kanan, Jagat Dirgantara menghentakkan kaki—tanah merespons, bergetar pelan seperti makhluk purba yang membuka mata.
Tiga kepala suku menoleh.
Lalu… tersenyum.
“Akhirnya,” geram Vorthax.
“Pertarungan yang layak.”
Mereka maju bersamaan.
Orkaghor menerjang seperti binatang liar.
Mhezzrak menghilang dalam sela bayangan.
Vorthax mengangkat pedang raksasanya, siap menghancurkan segalanya.
Namun—
Isidore tidak bergerak.
Ia mengamati.
Matanya berubah.
Bukan lagi biru.
Bukan emas.
Melainkan keperakan—jernih, dingin, seperti cahaya bulan di atas pedang.
Di matanya, dunia melambat.
Setiap ayunan pedang terlihat jelas.
Setiap langkah memiliki jalur.
Dan setiap musuh… memiliki titik lemah.
“Ke kanan… dua langkah,” bisiknya pelan.
Guntur bergerak seketika.
Kilat menyambar tepat saat Orkaghor membuka sisi tubuhnya—ledakan cahaya memaksa sang kepala suku mundur setengah langkah.
“Sekarang.”
Jagat menghantam tanah.
DUUUM—!!
Getaran merambat, tak terlihat namun pasti.
Pertarungan berlanjut cepat—terlalu cepat untuk mata biasa. Cahaya putih, biru, dan percikan api beradu dalam tarian maut.
Namun tanpa disadari—
tanah di bawah kaki para kepala suku berubah.
Retakan halus menjalar.
Tekstur mengeras.
Energi bumi mengunci perlahan.
Mereka terlalu menikmati pertarungan itu.
Terlalu tenggelam dalam euforia kekuatan.
Hingga—
terlambat.
Kaki mereka terjebak.
Batu menggigit pergelangan, menjalar ke betis, lalu mengunci seperti belenggu dunia itu sendiri.
“Apa—?!”
Jagat Dirgantara berdiri tegak.
“Bumi… tidak pernah berpihak pada perusak.”
Saat itu—
Guntur Wisesa mengangkat tangannya ke langit gua.
Cahaya putih muncul.
Bukan satu.
Bukan dua.
Melainkan rentetan kilat yang jatuh tanpa henti.
KRAK!! KRAK!! KRAAASH!!
Petir menyambar kepala mereka, berulang, membakar, menghanguskan. Tubuh mereka gosong, daging terkoyak, namun—mereka tidak mati.
Keabadian mereka menahan kehancuran.
Namun juga—
menahan mereka dalam penderitaan itu.
Mereka tidak bisa bergerak.
Tidak bisa melawan.
Hanya berdiri…
terkunci…
terbakar.
Dan di tengah cahaya yang menyilaukan itu—
Isidore melangkah maju.
Tenang.
Sunyi.
Pedangnya terangkat.
Gerakannya sederhana.
Namun sempurna.
Satu langkah.
Satu putaran.
Satu tebasan—
lalu dua—
lalu tiga.
Tak ada suara.
Tak ada dentuman.
Hanya garis cahaya tipis yang melintas di tubuh para kepala suku.
Dan sesaat kemudian—
tubuh mereka terpisah.
Bersih.
Tanpa jeritan.
Tanpa perlawanan.
Keabadian mereka tidak hilang—
namun kini mereka hanyalah potongan tubuh yang tak lagi memiliki kehendak untuk bangkit.
Keheningan jatuh.
Petir berhenti.
Tanah kembali diam.
Isidore berdiri di antara sisa pertarungan, matanya perlahan kembali normal.
Guntur menurunkan tangannya, napasnya berat.
Jagat menarik palunya, retakan tanah menutup perlahan.
“Selesai…”
gumam Jagat.
Namun Isidore tidak menjawab.
Ia menatap ke depan.
Ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari sebelumnya.
Karena ia tahu—
ini belum akhir.
Dan dari balik bayangan yang belum tersentuh cahaya—
seseorang…
masih menunggu
Chapter 91 Ki Surya dahana terdesak 
Di kedalaman gua yang mulai retak oleh sisa pertempuran, Ki Surya Dahana berdiri dalam diam.
Namun diamnya bukan kelemahan—
melainkan kesadaran.
Ia dapat merasakan satu per satu—
ikatan jiwa para kepala suku yang telah padam.
Wajahnya tidak berubah.
Hanya matanya yang sedikit menyipit.
“Jadi… sejauh ini kalian melangkah.”
Namun sebelum ia bergerak—
tanah di bawahnya berdenyut.
Akar-akar pohon tua menerobos dari dasar gua, melilit kaki dan tubuhnya dengan cepat, keras, dan hidup.
Rakajati telah menemukannya.
“Tidak ada lagi bayangan untuk bersembunyi, Surya Dahana,”
ucap Rakajati, suaranya berat seperti tanah yang menua.
Akar mengencang.
Namun Ki Surya Dahana hanya mengangkat tongkatnya.
Dengan satu sentuhan ringan—
Srek.
Akar-akar itu terpotong. Bukan dihancurkan—melainkan diputus dari kehendaknya, seolah kehidupan di dalamnya dipadamkan.
Ia melangkah mundur.
Namun sudah terlambat.
Dari lorong yang hancur—
Isidore datang.
Diikuti Guntur Wisesa, Jagat Dirgantara, dan Rakajati di sisinya. Cahaya dan tekanan dari kehadiran mereka memenuhi ruang, membuat udara terasa berat.
Di kejauhan, langkah lain bergema.
Pandika.
Akhirnya ia tiba, bergabung tanpa kata—pedangnya terangkat, matanya tajam.
Rakajati menghentakkan tongkatnya sekali lagi.
Dari lantai gua, sebuah pohon raksasa tumbuh dengan kekuatan brutal, menembus batu dan menghancurkan pintu rahasia yang selama ini menjadi jalur pelarian.
BOOM—!!
Jalan tertutup.
Ki Surya Dahana kini benar-benar terdesak.
Ia menatap mereka semua.
Lalu—
tatapannya berhenti pada Isidore.
Dan untuk pertama kalinya—
ada kejutan di wajahnya.
Mata Isidore.
Keperakan.
Dingin. Dalam. Dan… kuno.
Seperti mata para leluhur Mythopia.
Seperti—
Rasvatar.
Isidore melangkah maju, pedangnya terarah lurus.
“Sudah berakhir sekarang, Surya Dahana.”
“Pilih—menyerah… atau mati.”
Keheningan menggantung.
Lalu—
Ki Surya Dahana tersenyum tipis.
“Aku… menyerah.”
Para ksatria tidak bergerak.
Namun atmosfer berubah—bukan menjadi tenang, melainkan lebih waspada.
“Namun,” lanjutnya pelan,
“dengarkan satu hal sebelum kalian menghakimi.”
Ia menatap Isidore dalam-dalam.
“Berhati-hatilah pada Rasvatar.”
“Kalian mengira kalian sedang memburu bayangan…”
“padahal kalian berjalan… ke dalam kehendaknya.”
Guntur Wisesa menggeram.
“Cukup. Jangan coba bermain kata.”
Namun Ki Surya Dahana hanya tertawa kecil.
“Dan satu lagi…”
“kalian tidak akan pernah—”
Isidore sudah bergerak.
Tanpa suara.
Tanpa peringatan.
Pedangnya melintas seperti kilat senyap, membelah ruang di antara mereka.
Slaaash—
Jubah Ki Surya Dahana terbelah.
Namun—
tak ada tubuh di dalamnya.
Kosong.
Hanya kain yang jatuh perlahan ke tanah.
Angin dingin berhembus dari kegelapan.
Pandika menegang.
“Ilusi lagi…?”
Rakajati menutup mata sejenak, merasakan akar-akar bumi.
Lalu ia membuka kembali dengan ekspresi berat.
“Bukan ilusi…”
“Ia sudah pergi… sebelum kita menyadarinya.”
Isidore berdiri diam.
Matanya yang keperakan menatap ke depan—menembus ruang kosong yang ditinggalkan.
Kata-kata Ki Surya Dahana masih bergema di benaknya.
“Kalian berjalan… ke dalam kehendaknya.”
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—
Isidore tidak mengejar.
Ia hanya berkata pelan:
“Rasvatar…”
Di kejauhan, jauh dari jangkauan mereka—
sesuatu bergerak.
Dan permainan yang lebih besar…
baru saja dimulai.
Chapter 92 Perkumpulan sesat Sinabung runtuh
Kabar kepergian Ki Surya Dahana menyebar seperti api di musim kemarau.
Di lorong-lorong gua Gunung Sinabung yang remang, kegemparan tak terelakkan. Para tetua dan anggota perkumpulan kegelapan berlarian tanpa arah—wajah mereka pucat, napas tersengal, hati dipenuhi ketakutan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Mereka telah melihat—
atau setidaknya mendengar—
bagaimana para kepala suku, yang selama ini mereka anggap setara dengan dewa, tumbang satu per satu.
Dan di balik semua itu…
hanya satu nama yang bergaung:
Isidore.
Namun bukan Isidore yang menghancurkan sisa harapan mereka—
melainkan Pandika.
Di mulut gua, ia berdiri seperti bayangan yang menolak pergi. Pedangnya terangkat perlahan, lalu tubuhnya mulai bergerak.
Tarian Bulan.
Gerakan yang lembut—namun mengandung kehancuran.
Langkahnya mengalir seperti air, berputar seperti angin malam, dan setiap ayunan pedangnya memanggil cahaya pucat yang memanjang di udara.
Kemudian—
BRAAAK—!!
Dinding gua runtuh.
Batu-batu besar pecah, debu berhamburan, lorong-lorong rahasia yang dulu tersembunyi kini terbuka dan hancur tanpa sisa.
Jeritan memenuhi ruang.
Para anggota sekte berlutut, sebagian menangis, sebagian lagi memohon ampun.
Pandika berhenti.
Pedangnya menunjuk ke arah mereka.
“Dengarkan aku.”
Suaranya tidak keras—
namun cukup untuk membuat semua diam.
“Gunung ini bukan lagi tempat bagi kegelapan.”
“Jika satu saja dari kalian kembali menapaki jalan lama…”
Ia menurunkan pedangnya perlahan, matanya dingin.
“Aku sendiri yang akan mengakhiri kalian.”
Tak ada yang berani membantah.
Hari itu—
perkumpulan sesat Sinabung runtuh, bukan hanya oleh kekuatan, tetapi oleh ketakutan dan kesadaran.
Sebagian memilih pergi.
Sebagian memilih bertobat.
Dan sebagian lagi… menghilang tanpa jejak.
Sementara itu, jauh dari keramaian dan kehancuran—
di sebuah celah gua yang lebih tenang, di mana akar-akar tua menjuntai seperti tirai alam—
Isidore duduk bersila.
Matanya terpejam.
Napasnya perlahan mulai teratur, meski sesekali getaran halus masih merambat di tubuhnya—sisa dari kekuatan yang terlalu besar untuk manusia biasa.
Di sekelilingnya, para ksatria Mythopia beristirahat.
Pangreksa masih terbaring tak sadarkan diri.
Bhra Anuraga bersandar, tubuhnya masih memancarkan sisa panas.
Bayu Anggana menarik napas panjang, lelah hingga ke tulang.
Sagara Putra duduk diam, pikirannya masih dihantui pertempuran.
Hanya Guntur Wisesa dan Jagat Dirgantara yang tetap berjaga, meski kelelahan juga mulai menggerogoti mereka.
Di tengah keheningan itu—
Rakajati berjalan perlahan.
Ia tidak membawa senjata.
Hanya ranting, daun layu, dan tanah yang tampak biasa.
Ia berlutut, menyentuhkan telapak tangannya ke bumi.
Sejenak… tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
tanah itu menghangat.
Dari dalamnya, perlahan muncul ubi jalar madu, matang oleh panas yang merambat dari akar-akar dalam bumi. Kulitnya sedikit hangus, namun aroma manisnya segera memenuhi udara gua.
Rakajati mengambilnya satu per satu, membersihkan dengan daun, lalu membelahnya.
Uap hangat naik ke udara.
Manis.
Sederhana.
Namun… menenangkan.
Ia membagikannya kepada para ksatria tanpa banyak kata.
Guntur menerima dengan anggukan kecil.
Jagat tersenyum tipis.
Bayu memakannya perlahan, seolah itu adalah makanan terbaik yang pernah ia rasakan.
Ketika Rakajati sampai di depan Isidore—
ia tidak langsung memberikannya.
Ia hanya meletakkannya di dekatnya.
“Kau membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan,”
ucapnya pelan.
“Kau juga membutuhkan ketenangan.”
Isidore tidak membuka mata.
Namun napasnya… menjadi lebih ringan.
Di luar gua, hujan mulai turun perlahan, menetes di atas daun dan batu, membersihkan sisa-sisa pertempuran.
Namun di balik ketenangan itu—
sebuah bayangan besar masih bergerak di kejauhan.
Dan semua yang telah terjadi di Sinabung…
mungkin hanyalah permulaan.
Chapter 93 misi pasukan. Bayangan 
Angin senja berdesir di antara pucuk ilalang, membelah jalan bagi sosok yang melaju secepat bayangan.
Dialah pendekar bayangan kedua, utusan setia Putri Dyah Sekar Tanjung—pewaris darah sunyi dari keluarga yang hidup di antara terang dan gelap. Sejak kecil ia telah ditempa oleh ayahnya, diajari berjalan tanpa suara, berlari tanpa jejak, dan bertarung tanpa terlihat.
Kini, seluruh ajaran itu diuji.
“Misi ini harus berhasil… aku tidak boleh mengecewakan beliau.”
Tiga hari tiga malam ia berlari tanpa henti.
Ranting pohon hanyalah pijakan.
Padang ilalang hanyalah bayangan yang terbelah oleh langkahnya.
Lapar dan lelah ia abaikan, digantikan oleh tekad yang tak tergoyahkan.
Dan akhirnya—
Gunung Sinabung tampak di hadapannya.
Gelap.
Diam.
Namun menyimpan gema kekacauan.
Di lerengnya, ia sempat berpapasan dengan rombongan penduduk—orang tua dan anak-anak, wajah mereka letih namun penuh harap. Mereka berjalan mengikuti seekor makhluk besar menyerupai serigala, yang melangkah tenang seakan memahami arah keselamatan.
Pendekar bayangan itu berhenti sejenak.
“Di mana ksatria bernama Isidore?” tanyanya singkat.
Seorang anak kecil mengangkat tangan, menunjuk ke arah gunung di belakangnya.
“Di sana… dekat sekali.”
Tanpa menunggu lebih lama, ia kembali melesat.
Saat ia mencapai mulut gua—
suara ledakan mengguncang udara.
BRAK—!!
Atap batu runtuh, debu membumbung tinggi. Orang-orang berlarian keluar dengan wajah panik, pakaian mereka lusuh—tanda bahwa mereka adalah bagian dari sekte yang baru saja runtuh.
Di tengah kekacauan itu—
ia melihat sosok yang tak asing.
Pandika.
Pedangnya berkilau di antara debu dan cahaya, gerakannya seperti tarian yang memanggil kehancuran. Setiap ayunan menghancurkan sisa-sisa tempat persembunyian, seolah ia ingin memastikan tidak ada lagi kegelapan yang tertinggal.
Pendekar bayangan itu tidak gegabah.
Ia menunggu.
Diam.
Hingga tarian itu berhenti.
Saat debu mulai turun dan gua kembali sunyi, ia melangkah mendekat.
“Ksatria,” ucapnya hormat.
“Di mana Isidore berada?”
Pandika menoleh sekilas, menilai tanpa banyak kata.
Lalu ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah barat.
“Di sana. Gua yang tenang… kau akan menemukannya.”
Tanpa basa-basi, pendekar bayangan itu mengangguk dan kembali berlari.
Lorong demi lorong ia lalui.
Instingnya menuntun langkahnya—bukan mata, bukan suara, melainkan sesuatu yang lebih dalam, warisan dari garis keturunannya.
Dan benar—
ia menemukannya.
Di dalam gua yang sunyi dan hangat oleh akar-akar tua, Isidore duduk bersila, dikelilingi para ksatria yang tengah memulihkan diri. Cahaya redup menari di dinding batu, dan aroma tanah yang hangat bercampur dengan sisa pertempuran yang belum sepenuhnya hilang.
Pendekar bayangan itu melangkah masuk, lalu berlutut.
Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah wadah kecil.
“Titah Putri Dyah Sekar Tanjung,” ucapnya pelan.
“Obat untuk menstabilkan energi dan menyembuhkan luka dalam.”
Ia menyerahkannya kepada Isidore.
Perlahan, Isidore membuka mata.
Tatapannya masih menyimpan sisa cahaya keperakan—namun kini lebih tenang.
Ia menerima obat itu tanpa banyak kata, namun anggukan kecilnya cukup untuk menyampaikan rasa terima kasih.
Obat itu kemudian dibagikan.
Satu per satu para ksatria merasakannya—hangatnya merambat dalam tubuh, menenangkan energi yang liar, menguatkan kembali jiwa yang hampir goyah.
Keheningan menyelimuti gua.
Namun kali ini—
bukan keheningan sebelum badai.
Melainkan keheningan…
setelah seseorang berhasil menyelesaikan tugasnya.
Pendekar bayangan itu menundukkan kepala.
“Akhirnya… misiku selesai.”
Namun di dalam hatinya—
ia tahu.
Perjalanan ini…
belum benar-benar berakhir.
Chapter 94 obat dari putri Dyah 
Di dalam gua yang dilindungi akar-akar tua, para ksatria duduk dalam lingkaran yang hening.
Tidak ada suara selain tetes air dari langit-langit batu… dan napas yang perlahan menjadi selaras.
Mereka memejamkan mata.
Mengarahkan kesadaran ke dalam diri.
Mengumpulkan kembali serpihan kekuatan yang tercerai-berai akibat pertempuran.
Obat yang dibawa oleh pendekar bayangan—ramuan dari tangan lembut Putri Dyah Sekar Tanjung—bekerja perlahan. Bukan seperti sihir yang meledak, melainkan seperti aliran sungai yang sabar: menyusup, menenangkan, dan menyembuhkan dari dalam.
Energi yang tadinya liar mulai tunduk.
Luka-luka dalam mulai mereda.
Pikiran yang kacau kembali jernih.
Cahaya mulai muncul.
Satu per satu.
Namun—
yang paling mengejutkan adalah Pangreksa.
Tubuhnya yang sebelumnya terbaring lemah kini bergetar halus. Napasnya yang sempat nyaris hilang kini kembali dalam ritme yang stabil.
Di sekelilingnya, hawa dingin perlahan menyebar.
Embun tipis terbentuk di lantai batu.
Uap dingin keluar dari tubuhnya.
Dan kemudian—
cahaya putih kebiruan menyala.
Lembut.
Dingin.
Namun penuh kehidupan.
Pangreksa membuka matanya perlahan.
Kilau es kembali hidup di dalamnya.
“Aku… kembali…”
Suaranya lirih, namun cukup untuk membuat para ksatria lain membuka mata mereka.
Bayu Anggana tersenyum lemah.
Guntur Wisesa mengangguk puas.
Sagara Putra menghela napas lega.
Namun mereka semua tahu—
kekuatan itu belum sepenuhnya pulih.
Cahaya es Pangreksa masih lebih redup dari sebelumnya.
Alirannya belum stabil sepenuhnya.
Tetapi—
itu cukup.
Cukup untuk berdiri kembali.
Cukup untuk bertarung lagi.
Cukup untuk tidak menyerah.
Rakajati yang sejak tadi diam, memandang Pangreksa dengan mata dalam.
“Kekuatan yang kembali dari kehancuran…”
“seringkali lebih bijak daripada yang belum pernah runtuh.”
Isidore, yang duduk di pusat lingkaran, membuka matanya.
Cahaya keperakan itu masih ada—
namun kini lebih terkendali.
Ia memandang Pangreksa, lalu ke seluruh ksatria.
“Kita belum selesai.”
Suaranya tenang.
Namun mengandung tekad yang tak tergoyahkan.
“Musuh kita… lebih besar dari yang kita hadapi di sini.”
Keheningan kembali turun.
Namun kali ini—
bukan keheningan karena lelah.
Melainkan keheningan…
sebelum mereka melangkah ke takdir yang lebih besar.
Dan di sudut gua, pendekar bayangan itu mengamati.
Melihat bagaimana para ksatria bangkit kembali.
Dan dalam hatinya, satu keyakinan tumbuh:
Perjuangan ini… layak untuk diperjuangkan.
Chapter 95 ucapan terima kasih 
Keheningan di dalam gua masih terjaga, hanya ditemani cahaya redup dan sisa hangat dari pemulihan para ksatria.
Isidore perlahan bangkit dari duduk bersilanya.
Tubuhnya masih menyimpan lelah, namun langkahnya kini lebih mantap. Cahaya keperakan di matanya telah mereda, meninggalkan kilau tenang yang sulit dibaca—antara kekuatan dan kesadaran.
Ia melangkah mendekati pendekar bayangan.
Sesaat, ia terdiam… seolah memilih kata yang tepat.
Lalu ia menundukkan kepala sedikit—sebuah penghormatan yang jarang ia berikan.
“Sampaikan terima kasihku… kepada tuan putrimu.”
Suaranya rendah, namun tulus.
Ia menatap lurus, namun dalam sorot matanya tersimpan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa hormat.
“Ramuan ini… bukan hanya menyembuhkan luka kami,”
“tetapi juga menjaga kami tetap berdiri.”
Pendekar bayangan itu menunduk dalam.
Isidore melanjutkan, kini suaranya lebih lembut—seakan berbicara bukan hanya kepada utusan, tetapi kepada sosok yang jauh di sana.
“Titipkan pula salamku kepada Putri Dyah Sekar Tanjung.”
Sejenak ia berhenti.
Angin kecil berhembus dari celah gua, mengangkat sedikit ujung jubahnya.
“Semoga beliau senantiasa berada dalam lindungan Barata Yudha…”
“dan dijauhkan dari bayang-bayang kegelapan yang kini mulai bangkit.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun berat.
Seperti doa yang tidak diucapkan dengan lantang—
melainkan ditanam dalam diam.
Pendekar bayangan itu mengangguk.
“Akan saya sampaikan, tuan.”
Ia memahami—lebih dari yang diucapkan.
Bahwa dalam kalimat itu, tersimpan bukan hanya rasa terima kasih…
tetapi juga perhatian yang tulus.
Isidore berbalik, kembali ke lingkaran para ksatria.
Namun untuk sesaat—
langkahnya terhenti.
Dan tanpa menoleh, ia berkata pelan:
“Jika takdir mengizinkan… kami akan bertemu kembali.”
Di luar gua, hujan telah reda.
Langit mulai terang.
Namun di antara cahaya yang muncul—
sebuah benang tak terlihat telah terjalin, menghubungkan dua hati yang kini berjalan di jalan yang berbeda…
namun menuju arah yang sama.
Chapter 96 perpisahan dengan Pandika 
Akar-akar tua masih bernafas pelan di dalam gua, seakan bumi sendiri ikut merasakan kelegaan setelah badai pertempuran mereda.
Rakajati berjalan perlahan di antara para ksatria.
Matanya tajam, namun langkahnya tenang—memeriksa satu per satu kondisi mereka. Ia tidak banyak bicara, tetapi dari anggukan kecilnya, terlihat bahwa keadaan telah jauh membaik.
Akhirnya ia berhenti di tengah lingkaran.
“Luka kalian mulai pulih… aliran tenaga sudah kembali selaras,”
ucapnya pelan.
“Kita tidak bisa berlama-lama di sini.”
Ia menatap ke arah luar gua, ke arah pegunungan yang jauh.
“Saatnya kita melanjutkan perjalanan… ke Gunung Semeru.”
“Di sanalah Rangga Wulung, sang ahli senjata, menunggu takdirnya.”
Nama itu menggantung di udara—seperti gema yang membawa harapan baru.
Pangreksa tersenyum tipis, meski tubuhnya masih menyimpan sisa dingin.
“Terlalu lama diam… darahku terasa membeku,”
katanya.
“Aku harus kembali bergerak.”
Embun tipis kembali muncul di ujung jarinya—tanda bahwa kekuatannya mulai bangkit.
Di sisi lain, Bhra Anuraga tertawa kecil, api kecil menyala di telapak tangannya.
“Aku sudah tidak sabar bertemu Wulung,”
ujarnya penuh semangat.
“Aku ingin sebuah golok… yang mampu menahan panas amarahku.”
Surya Wikrama melangkah maju, menatap Rakajati.
“Ada batu lompatan menuju Semeru,” katanya.
“Tidak jauh dari Sinabung. Tunjukkan jalannya, Rakajati.”
Rakajati mengangguk.
Ia mengangkat tongkat kayunya, lalu menancapkannya ke tanah.
Duk.
Sejenak—sunyi.
Lalu—
akar-akar halus merambat dari ujung tongkatnya, menyusup ke dalam tanah, menyebar seperti jaringan kehidupan yang mencari sesuatu yang tersembunyi.
Tanah bergetar pelan.
Seolah bumi sedang berbisik kepadanya.
Sementara itu, Isidore mendekati pendekar bayangan.
“Kembalilah,” ucapnya tenang.
“Sampaikan kepada Putri Dyah Sekar Tanjung… bahwa kami dalam keadaan baik.”
Pendekar bayangan itu menunduk hormat.
Ia tidak banyak bicara—namun dalam diamnya, ia memahami beban kata-kata itu.
Tanpa menunggu lama, ia mundur… lalu lenyap di antara bayangan, kembali menjadi angin yang tak terlihat.
Di sisi lain, Pandika berdiri menghadap Isidore.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—ia tidak memegang pedangnya.
“Terima kasih,” ujarnya singkat.
“Telah mengizinkanku berjalan bersama kalian.”
Isidore mengangguk.
Namun Pandika melanjutkan—
“Namun jalanku belum selesai di sini.”
“Masih ada urusan… yang harus aku tuntaskan sendiri.”
Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
Dua ksatria.
Dua jalan.
Namun satu tujuan.
Isidore mengulurkan tangan.
Pandika menyambutnya.
Genggaman itu kuat.
Bukan sekadar perpisahan—
melainkan janji tanpa kata.
“Jika takdir mempertemukan kita lagi…”
kata Pandika.
“Kita akan bertarung di sisi yang sama,”
jawab Isidore.
Mereka saling melepaskan.
Pandika berbalik, melangkah menjauh tanpa menoleh.
Sosoknya perlahan hilang di balik cahaya senja yang mulai masuk ke mulut gua.
Di belakang, akar-akar Rakajati berhenti bergerak.
Ia membuka mata.
“Aku menemukannya.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Batu lompatan… menunggu kita.”
Isidore menatap ke arah luar.
Gunung Sinabung kini mulai sunyi.
Namun di kejauhan—
Gunung Semeru berdiri.
Tinggi.
Agung.
Dan menyimpan rahasia berikutnya.
“Kalau begitu…”
ucap Isidore pelan.
Ia melangkah maju.
“Perjalanan kita belum berakhir.”
Dan dengan itu—
para ksatria Mythopia kembali bergerak, meninggalkan jejak lama… menuju takdir yang baru.
Chapter 97 perjalanan menuju Semeru 
Langit di atas Sinabung mulai meredup, ketika para ksatria berdiri di hadapan sebuah pohon tua raksasa—batangnya berliku seperti waktu yang membeku, akarnya menjulur dalam, menembus rahasia bumi yang tak tersentuh manusia.
Rakajati mengangkat tongkatnya.
Tanpa kata, ia menancapkannya ke tanah.
Akar-akar pun menjawab.
Mereka bergerak…
bukan sekadar tumbuh,
melainkan membuka jalan.
Batang pohon raksasa itu bergetar, lalu terbelah perlahan—menyingkap rongga gelap di dalamnya, seperti gerbang menuju perut dunia.
“Ikuti aku,” ujar Rakajati.
Satu per satu, para ksatria melangkah masuk.
Isidore di depan.
Disusul Guntur Wisesa, Jagat Dirgantara, Pangreksa, Bhra Anuraga, Bayu Anggana, dan Sagara Putra.
Begitu langkah terakhir masuk—
pohon itu menutup kembali.
Gelap menyelimuti.
Namun tidak lama.
Dari tangan Rakajati, cahaya lembut merambat melalui akar-akar yang mengelilingi lorong. Dinding-dinding hidup itu bersinar kehijauan, memperlihatkan jalur yang berliku, seolah mereka sedang berjalan di dalam nadi bumi.
Akar-akar itu tidak diam.
Mereka membimbing.
Mengalir…
menuntun…
hingga akhirnya—
cahaya muncul di depan.
Mereka keluar dari batang pohon lain.
Namun tempat ini berbeda.
Udara lebih dingin.
Batu-batu lebih padat.
Dan di hadapan mereka—
sebuah gua kuno berdiri diam, tertutup oleh pintu batu yang diukir simbol-simbol purba.
Inilah—
batu lompatan.
Surya Wikrama melangkah maju.
Ia mengangkat pedangnya.
Cahaya emas mulai menyala dari bilahnya—awalnya lembut, lalu semakin terang, hingga seperti matahari kecil yang lahir di dalam gua.
Ia mengayunkan pedangnya perlahan, menggambar segel di udara.
“Bersiaplah,” ucapnya.
Pedangnya menyentuh permukaan batu.
Seketika—
ukiran-ukiran di pintu gua menyala.
Satu per satu simbol itu hidup, memancarkan cahaya keemasan yang menjalar ke seluruh ruangan.
Pintu batu terbuka.
Di dalamnya—
terdapat lingkaran batu besar, dipenuhi garis-garis energi yang kini mulai berdenyut.
Surya Wikrama melangkah ke tengahnya.
Pedangnya diangkat tinggi.
“Masuk ke dalam lingkaran!”
Para ksatria mengikuti.
Begitu semua berdiri di dalam—
cahaya emas dari pedang Surya Wikrama meledak keluar, menyelimuti seluruh ruang.
Batu teleportasi bersinar.
Energi berkumpul.
Udara bergetar.
Dan kemudian—
petir menyambar.
Bukan dari langit—
melainkan dari dalam ruang itu sendiri.
KRAAAK—!!
Satu sambaran.
Dua.
Puluhan.
Cahaya emas bercampur dengan kilat putih, berputar seperti pusaran badai yang terkurung dalam lingkaran batu.
Tanah bergetar hebat.
Tubuh mereka terasa ringan—
seolah terlepas dari dunia.
Isidore memejamkan mata.
Ia merasakan—
bukan hanya perpindahan ruang.
Tetapi juga…
pergeseran takdir.
Dan dalam sekejap—
semuanya lenyap.
Sunyi.
Lalu—
mereka muncul kembali.
Namun kini—
udara berbeda.
Lebih tipis.
Lebih dingin.
Lebih… tinggi.
Mereka berdiri di dalam gua lain—lebih luas, dengan dinding batu berwarna keabu-abuan yang memantulkan cahaya redup.
Di luar, melalui celah gua—
terlihat puncak yang menjulang tinggi, diselimuti kabut dan awan yang berarak lambat.
Angin gunung berhembus masuk, membawa aroma tanah vulkanik dan sesuatu yang lebih tua… lebih dalam.
Gunung Semeru.
Rakajati menatap ke depan.
“Kita telah tiba.”
Surya Wikrama menurunkan pedangnya, cahaya emas perlahan meredup.
Pangreksa menarik napas dalam.
“Udara di sini… berbeda.”
Bhra Anuraga tersenyum.
“Dan aku menyukainya.”
Isidore melangkah keluar gua, menatap luasnya dunia dari ketinggian.
Di hadapan mereka—
bukan hanya gunung.
Tetapi babak baru.
“Rangga Wulung…”
gumamnya.
Dan jauh di dalam pegunungan itu—
seorang ahli senjata sedang menunggu,
tanpa tahu bahwa takdir telah berjalan… menuju dirinya.
Chapter 98 Gua Rangga Wulung 
Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Semeru, menari perlahan di antara tebing-tebing curam yang menjulang seperti dinding dunia.
Di hadapan mereka—
sebuah tebing raksasa berdiri tegak, seolah memisahkan langit dan bumi.
Permukaannya dipenuhi ukiran kuno.
Pedang.
Kampak.
Panah.
Simbol-simbol itu tidak sekadar pahatan—
melainkan jejak peradaban lama…
dan saksi dari peperangan yang telah lama dilupakan.
Rakajati mengangkat tangannya, menunjuk ke puncak tebing.
“Di sanalah… guanya,” ujarnya pelan.
Bhra Anuraga mendongak, matanya menyipit.
“Ya ampun… setinggi itu?”
“Bagaimana kita bisa naik ke sana?”
Rakajati tidak menjawab dengan kata.
Ia hanya menancapkan tongkatnya ke tanah.
Sekejap—
akar-akar pohon menyembul dari sisi tebing.
Mereka tumbuh dengan cepat, melilit batu, saling terjalin, membentuk tangga hidup yang menjulur ke atas seperti jalan yang diciptakan oleh bumi sendiri.
“Naik,” kata Rakajati singkat.
Satu per satu mereka melangkah.
Angin gunung berhembus kencang, membawa dingin yang menusuk, namun akar-akar itu kokoh—tidak goyah, tidak rapuh.
Semakin tinggi mereka mendaki—
semakin sunyi dunia di bawah mereka.
Hingga akhirnya—
mereka tiba di mulut gua.
Pintu gua itu tertutup rapat.
Batu besar, gelap, dan dipenuhi ukiran yang lebih halus—simbol-simbol senjata yang saling bertaut, seolah mengunci sesuatu yang tidak boleh dibuka sembarangan.
Surya Wikrama melangkah maju.
Ia mengangkat pedangnya.
Cahaya emas kembali menyala.
Dengan gerakan perlahan, ia menggambar segel kuno di udara, lalu menempelkannya pada pintu batu.
Sejenak—
tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
ukiran itu mulai bersinar.
Garis-garis cahaya menjalar seperti urat kehidupan.
Dan dengan suara berat yang dalam—
GRUUUMM—
pintu gua terbuka.
Dari dalamnya, anak-anak tangga batu muncul perlahan, menjulur keluar dari tepi tebing—seolah mengundang mereka masuk.
Udara di dalam gua berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih dalam.
Lebih… tua.
Mereka melangkah masuk.
Cahaya dari luar perlahan memudar, digantikan oleh kilau samar dari batu-batu kristal yang tertanam di dinding.
Dan di ujung ruang—
mereka melihatnya.
Sebuah kristal raksasa berdiri tegak.
Jernih… namun berpendar dari dalam.
Di dalamnya—
tertidur seorang pria.
Tubuhnya tegap, meski diam dalam keheningan waktu. Rambutnya panjang, terikat sederhana. Wajahnya tenang—namun menyimpan kekuatan yang terasa bahkan tanpa ia bergerak.
Di sekeliling kristal itu—
terpajang berbagai senjata.
Pedang dengan bilah berliku.
Kampak berat berukir naga.
Panah yang masih memancarkan energi halus.
Semuanya… seolah menunggu tuannya.
Rangga Wulung.
Sang ahli senjata.
Sang penempa takdir.
Tidak ada yang berani bicara.
Bahkan Bhra Anuraga, yang biasanya penuh api, kini hanya terdiam.
Pangreksa merasakan hawa dingin yang berbeda—bukan dari es, melainkan dari waktu yang membeku.
Guntur Wisesa menatap tajam, merasakan energi yang terpendam seperti badai yang belum dilepaskan.
Isidore melangkah maju.
Perlahan.
Tatapannya tertuju pada sosok di dalam kristal.
Dan saat ia semakin dekat—
kristal itu… bergetar.
Sangat halus.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup—
untuk memberi tahu satu hal.
Ia… masih hidup.
Dan mungkin—
sedang menunggu.
Chapter 99 Kebangkitan Rangga wulung
Isidore melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan kristal raksasa itu.
Cahaya redup dari dinding gua memantul di permukaannya, memperlihatkan sosok yang tertidur di dalam—sunyi, namun tidak benar-benar mati.
Ia menarik napas dalam.
Perlahan—
ia mengangkat kerisnya.
Bilah itu bergetar.
Bukan karena tangan Isidore…
melainkan karena sesuatu yang menjawab dari dalamnya.
Udara di dalam gua berubah.
Hening…
namun berat.
Dan dari balik cahaya yang perlahan menguat—
muncullah sosok tua berjubah agung, berpendar seperti bayangan cahaya yang hidup.
Raja Alam Wardhana.
Tatapannya dalam, menembus waktu.
Ia memandang kristal itu… lalu memandang Isidore.
“Saatnya telah tiba,” ucapnya, suaranya bergema seperti dari langit yang jauh.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya putih mengalir dari telapak tangannya, menyentuh kristal.
“Wahai ksatria yang terikat oleh waktu…”
“Rangga Wulung…”
Suasana menjadi semakin sunyi.
Bahkan napas pun terasa tertahan.
“Bangkitlah.”
“Dan kembali berbakti kepada raja muda Mythopia…”
“Isidore, putra dari Raja Itharius.”
Sejenak—
dunia seperti berhenti.
Lalu—
keris di tangan Isidore bergetar kuat.
Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi—
keris itu terlepas.
Melayang.
Berputar perlahan di udara, diselimuti cahaya putih yang semakin terang.
Isidore menatapnya—tanpa berusaha menahan.
Karena ia tahu—
ini bukan lagi kehendaknya.
Ini adalah… kehendak takdir.
Keris itu melesat.
CRAAAK—!!
Menancap tepat di tengah kristal.
Retakan muncul.
Satu garis…
menjadi dua…
lalu menjalar ke seluruh permukaan.
Cahaya putih meledak dari dalam.
Kristal itu tidak pecah biasa—
ia hancur seperti kaca yang membebaskan waktu.
Serpihan-serpihan berpendar melayang di udara, menghilang seperti debu cahaya.
Dan dari dalamnya—
sosok itu bergerak.
Rangga Wulung membuka matanya.
Cahaya putih masih menyelimuti tubuhnya.
Ia menarik napas pertama setelah tidur panjangnya—napas yang terdengar seperti angin tua yang kembali berhembus di dunia.
Perlahan—
ia melangkah keluar dari sisa-sisa cahaya.
Kakinya menyentuh tanah.
Gua bergetar halus.
Aura yang keluar darinya… bukan sekadar kekuatan—
melainkan kehadiran seorang legenda.
Senjata-senjata di sekeliling ruangan bergetar, seolah mengenali tuannya.
Pedang berbisik.
Kampak berdentum pelan.
Panah bergetar seperti ingin dilepaskan.
Rangga Wulung memandang tangannya.
Lalu menatap ke depan.
Tatapannya jatuh pada Isidore.
Dan untuk sesaat—
tidak ada kata.
Hanya pengakuan…
yang tidak perlu diucapkan.
Ia melangkah maju.
Lalu—
berlutut.
Satu lutut menyentuh tanah.
Kepalanya tertunduk.
“Hamba… telah kembali.”
Suaranya dalam. Tegas.
Namun sarat hormat.
“Rangga Wulung… siap berbakti.”
“Kepada Raja Isidore… pewaris tahta Mythopia.”
Cahaya dari keris kembali ke tangan Isidore.
Kini lebih tenang.
Namun terasa… lebih berat.
Lebih hidup.
Di belakangnya, para ksatria terdiam.
Mereka tahu—
dengan kebangkitan ini…
keseimbangan kekuatan telah berubah.
Dan perang yang akan datang—
tidak lagi sama.
Chapter 100 Pengujian Senjata para Ksatria oleh Rangga Wulung 
Cahaya di dalam gua perlahan meredup.
Hanya tersisa kilau putih dari keris Isidore… dan pantulan samar dari kristal yang telah hancur.
Rangga Wulung berdiri tegak.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Bukan seperti seorang prajurit melihat sekutu—
melainkan seperti seorang penempa takdir yang menilai bahan mentah.
Ia mengangkat tangannya.
Perlahan.
Senjata-senjata di dinding bergetar… lalu diam.
Seolah tunduk.
“Senjata… bukan sekadar besi,” ucapnya dalam suara berat.
“Ia adalah cermin jiwa pemiliknya.”
Ia melangkah mendekati Surya Wikrama.
Pedang emas itu berpendar hangat.
Rangga Wulung tidak menyentuhnya.
Hanya mendekatkan telapak tangannya.
Cahaya emas tiba-tiba menyala lebih terang.
Namun—
bergetar.
“Cahayamu besar,” katanya pelan.
“Namun masih terikat pada belas kasihan.”
Ia menoleh.
“Dalam perang besar… belas kasihan yang ragu akan membunuhmu lebih dulu.”
Surya Wikrama terdiam.
Namun tidak membantah.
Ia beralih ke Pangreksa.
Pedang es itu dingin… bahkan udara di sekitarnya membeku tipis.
Rangga Wulung menyentuh bilahnya.
Sekejap—
es itu retak halus.
“Hatimu… pernah hancur,” ujarnya.
“Dan kau membekukannya agar tidak merasakan lagi.”
Ia menatap Pangreksa dalam.
“Namun es yang terlalu dingin… akan retak sebelum pertempuran berakhir.”
Pangreksa menggenggam pedangnya lebih erat.
Tatapannya menurun.
Kini giliran Bhra Anuraga.
Api di tubuhnya langsung menyala liar—merah membara, hampir tak terkendali.
Rangga Wulung bahkan tidak mendekat.
Ia hanya berdiri.
Dan api itu… mendadak meninggi.
“Kemarahan,” katanya.
“Adalah pedang paling tajam… sekaligus paling rapuh.”
Ia mengangkat sedikit alisnya.
“Jika kau tidak mengendalikannya—”
“kau akan menjadi abu… sebelum musuhmu jatuh.”
Api Bhra bergetar.
Lalu perlahan mereda.
Bayu Anggana.
Angin berputar halus di sekelilingnya.
Ringan.
Cepat.
Namun tak terarah.
Rangga Wulung mengibaskan tangannya.
Angin itu langsung tercerai.
“Kau bebas,” katanya.
“Namun kebebasan tanpa tujuan… adalah kehampaan.”
Bayu terdiam.
Untuk pertama kalinya… anginnya berhenti.
Guntur Wisesa.
Petir kecil berkilat di udara.
Kasar. Liar. Berisik.
Rangga Wulung menatapnya lama.
Kemudian—
BUZZZ—
petir itu langsung padam sejenak.
“Kekuatanmu besar,” ujarnya datar.
“Namun kau menggunakannya untuk menghancurkan… bukan memahami.”
Ia melangkah mendekat.
“Petir sejati… tidak hanya menyambar.”
“Ia menentukan kapan dunia harus diam.”
Guntur mengepalkan tangannya.
Sagara Putra.
Air mengalir tenang di kakinya.
Namun di dalamnya—terdapat gelombang yang dalam.
Rangga Wulung menyentuh air itu.
Airnya bergetar… lalu tenang kembali.
“Kesedihanmu dalam,” katanya pelan.
“Namun kau memilih tetap mengalir.”
Ia mengangguk kecil.
“Itulah kekuatanmu.”
Sagara menunduk hormat.
Jagat Dirgantara.
Tanah di bawahnya terasa berat.
Padat.
Tak tergoyahkan.
Rangga Wulung mengetuk tanah dengan kakinya.
DUK.
Seluruh gua bergetar halus.
“Kau adalah pondasi,” katanya.
“Namun ingat—bahkan gunung pun bisa runtuh… bila terlalu kaku.”
Jagat hanya mengangguk.
Terakhir—
Rangga Wulung berdiri di hadapan Isidore.
Semua menjadi sunyi.
Keris di tangan Isidore bergetar pelan.
Rangga Wulung menatapnya—
lalu menatap mata Isidore.
Keperakan.
Dalam.
Dan… bukan sepenuhnya milik manusia.
Untuk pertama kalinya—
Rangga Wulung menyipitkan mata.
“Ah…”
Ia menghela napas pelan.
“Jadi… ini yang dibicarakan para leluhur.”
Ia tidak menyentuh keris itu.
Tidak juga menguji.
Ia hanya berkata—
“Senjatamu… belum memilih bentuknya.”
Semua ksatria terdiam.
Rangga Wulung melanjutkan—
“Karena jiwamu… belum memilih jalan.”
Ia berbalik.
Jubahnya bergerak pelan.
“Namun satu hal pasti—”
“ketika waktunya tiba…”
Ia berhenti sejenak.
Tanpa menoleh.
“Senjata itu… tidak akan menjadi pedang biasa.”
Cahaya di dalam gua kembali berdenyut.
Lebih kuat.
Lebih dalam.
“Bersiaplah,” ujar Rangga Wulung.
“Aku tidak hanya akan menguji senjata kalian…”
Ia mengangkat tangannya.
Api, air, angin, petir, es, tanah—semuanya bergetar serentak.
“Aku akan menempa ulang mereka.”
Chapter 101 Rangga Wulung menempa senjata ksatria 
Gua itu berubah.
Bukan lagi sekadar tempat sunyi—
melainkan tungku para dewa.
Di tengah ruangan, Rangga Wulung berdiri di hadapan sebuah landasan batu hitam pekat—permukaannya dipenuhi guratan kuno, seolah pernah menahan ribuan senjata legendaris dari zaman yang telah dilupakan.
Ia mengangkat tangannya.
Tanah di bawah mereka bergetar.
Perlahan—
dari celah-celah batu, muncul peti-peti besar yang terkunci oleh segel kuno.
Satu demi satu terbuka.
Cahaya aneh keluar dari dalamnya.
Bukan cahaya biasa—
melainkan kilau mineral langit.
Batu-batu itu berwarna tak lazim:
ungu gelap yang berdenyut seperti jantung,
biru pekat seperti kedalaman samudra,
emas pucat yang memancarkan panas tanpa api.
“Ini bukan berasal dari bumi,” ujar Rangga Wulung.
“Ini adalah serpihan dari langit… sisa-sisa perang para dewa yang jatuh ke dunia.”
Para ksatria terdiam.
Bahkan Guntur Wisesa pun merasakan sesuatu yang berbeda—petirnya bergetar tanpa dipanggil.
“Letakkan senjata kalian.”
Satu per satu—
pedang, keris, tombak—semua diletakkan di atas landasan.
Untuk sesaat…
mereka tampak seperti benda biasa.
Namun Rangga Wulung tahu—
di dalamnya, terdapat jiwa yang belum sempurna.
Ia mengangkat palu besarnya.
Bukan palu biasa—
melainkan palu yang ujungnya berpendar seperti bintang mati.
“Penempaan ini akan berlangsung… tiga hari tiga malam.”
“Dan selama itu—kalian tidak hanya menunggu.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Kalian akan menghadapi diri kalian sendiri.”
Hari Pertama — Retakan Jiwa
Api dinyalakan.
Bukan api merah—
melainkan api putih kebiruan yang tidak memakan, namun memurnikan.
Senjata-senjata itu dimasukkan ke dalamnya.
Dan saat logam mulai memerah—
para ksatria merasakan sesuatu.
Rasa sakit.
Bukan di tubuh—
melainkan di dalam.
Surya Wikrama melihat dirinya ragu di medan perang.
Pangreksa merasakan kembali kehilangan yang ia kubur.
Bhra Anuraga hampir kehilangan kendali atas apinya.
Bayu kehilangan arah dalam kehampaan.
Guntur melihat kehancuran yang ia sebabkan.
Sagara tenggelam dalam kesedihan lama.
Jagat berdiri sendiri… tak tergoyahkan namun kesepian.
Rangga Wulung memukul.
DENTANG—!!
Setiap pukulan—
adalah retakan yang diperbaiki.
Hari Kedua — Penyelarasan Jiwa
Mineral langit dilebur.
Cair… namun bercahaya.
Rangga Wulung menuangkannya ke dalam senjata.
Saat itu terjadi—
energi masing-masing ksatria menyatu dengan logam.
Api Bhra menjadi lebih dalam, bukan liar.
Es Pangreksa menjadi kuat, bukan rapuh.
Angin Bayu mulai menemukan arah.
Petir Guntur menjadi terfokus.
Air Sagara menjadi tenang namun mematikan.
Tanah Jagat menjadi kokoh namun hidup.
Rangga Wulung berbicara—
“Senjata sejati… bukan yang paling kuat.”
“Melainkan yang paling selaras.”
Hari Ketiga — Kelahiran Kembali
Api dipadamkan.
Sunyi.
Lalu—
satu per satu senjata diangkat.
Kini…
mereka berbeda.
Bukan hanya lebih tajam.
Melainkan… hidup.
⚔️ Nama Senjata Baru Para Ksatria
Surya Wikrama
Pedang emasnya kini bernama:
“Aditya Prakasha” — Cahaya Matahari Penentu Takdir
Cahayanya tidak lagi ragu—ia menyala hanya saat kebenaran benar-benar dipilih.
Pangreksa
Pedang esnya berubah menjadi:
“Himavanta Shard” — Pecahan Es Abadi
Esnya tidak akan retak oleh luka… karena kini ia menerima rasa sakitnya.
Bhra Anuraga
Pedangnya menyala merah keemasan:
“Agni Rudra” — Api Murka yang Terkendali
Api yang tidak lagi membakar tanpa arah—melainkan menghancurkan dengan tujuan.
Bayu Anggana
Senjatanya menjadi ringan tak terlihat:
“Vayu Nirmala” — Angin Suci Tanpa Jejak
Gerakannya kini memiliki arah… dan tak bisa ditebak.
Guntur Wisesa
Pedangnya dipenuhi kilat putih:
“Vajra Indraka” — Petir Penghakiman Langit
Petirnya kini memilih… siapa yang layak disambar.
Sagara Putra
Senjatanya mengalir seperti air hidup:
“Samudra Vara” — Gelombang Penebus Jiwa
Airnya tidak hanya menghancurkan—tetapi juga menyegel.
Jagat Dirgantara
Palu dan tanahnya kini menyatu:
“Bhumi Garjana” — Gemuruh Bumi Tak Tergoyahkan
Setiap pijakannya adalah hukum.
Semua ksatria terdiam.
Mereka merasakan—
senjata itu bukan lagi milik mereka.
Melainkan… bagian dari diri mereka.
Terakhir—
Rangga Wulung menatap Isidore.
Namun—
tidak ada senjata baru diberikan.
Hanya keris itu… yang kini bersinar samar.
“Belum,” ujarnya pelan.
Ia berbalik.
“Senjatamu… belum selesai ditempa.”
Ia menatap langit melalui celah gua.
“Karena takdirmu… belum sepenuhnya terungkap.”
Angin gunung berhembus masuk.
Membawa aroma dunia luar.
Dan jauh di kejauhan—
sesuatu sedang bangkit.