Malam itu, setelah tiga malam dan tiga fajar berlalu, tunas kecil yang dijaga Pandika akhirnya membuka daun pertamanya. Daun itu bersinar kehijauan di bawah cahaya bulan, lembut seperti zamrud muda yang baru lahir dari rahim bumi.
Angin hutan berembus pelan.
Tak ada lagi amarah di dalamnya.
Akar-akar purba yang sebelumnya menjulur seperti cambuk kini kembali menyusup ke dalam tanah. Pepohonan tua bergemerisik pelan, seolah sedang berbisik satu sama lain.
Roh Penjaga Rimba telah melihat keteguhan hati Pandika.
Dari kedalaman rimba, cahaya hijau keemasan turun perlahan seperti hujan kunang-kunang. Sosok Roh Penjaga muncul di hadapan Pandika, Si Maung, dan Oren. Tubuhnya menjulang laksana pohon dunia yang hidup—bermahkota cabang dan berurat cahaya.
“Engkau telah membuktikan dirimu, wahai pengembara,” sabdanya, suaranya menggema hingga ke akar gunung.
“Engkau tidak hanya mampu bertarung… tetapi juga menjaga kehidupan.”
Pandika menundukkan kepala hormat.
“Jika demikian,” lanjut Roh itu, “aku memiliki permohonan yang bahkan para roh rimba tak mampu menyelesaikannya.”
Kabut hijau berkumpul di udara, membentuk bayangan sebuah pohon raksasa yang akarnya menembus bumi dan cabangnya menyentuh langit.
Itulah Pohon Dunia.
Batangnya sebesar gunung. Daunnya memancarkan cahaya seperti bintang malam. Dari pohon itu dahulu lahir keseimbangan Mythopia—angin, hujan, musim, dan kehidupan.
Namun bayangan pohon itu tampak mulai mengering.
Daun-daunnya gugur perlahan.
Pandika memandang dengan cemas.
“Apa yang terjadi?”
Roh Penjaga menundukkan kepalanya yang besar.
“Anak-anakku telah dicuri.”
“Anak-anak?” tanya Oren bingung.
Roh itu membuka telapak tangannya. Di atasnya muncul cahaya kecil berbentuk biji-bijian berwarna emas dan hijau.
“Biji-Biji Pohon Dunia.”
Suasana menjadi sunyi.
“Mahluk-mahluk rakus mencurinya dari akar dunia. Tanpa biji-bijian itu, Pohon Dunia perlahan akan mati. Bila ia mati… maka keseimbangan seluruh negeri akan runtuh.”
Si Maung menyipitkan matanya.
“Siapa yang berani melakukan dosa sebesar itu?”
Kabut di sekitar Roh mulai bergerak, membentuk peta dunia Mythopia. Sepuluh cahaya muncul di berbagai penjuru benua.
“Biji-biji itu tersebar ke sepuluh kerajaan besar.”
Satu demi satu nama kerajaan bergema di udara seperti mantra kuno:
🔥 Kerajaan Agnivarsha — negeri api dan lava, tempat bara tak pernah padam.
🌊 Kerajaan Tirtamandala — penguasa samudra dan kabut lautan.
🌿 Kerajaan Bhumi Raksa — kerajaan batu dan akar gunung purba.
🌪️ Kerajaan Bayu Arcapada — negeri langit dan angin yang tak terjangkau.
⚡ Kerajaan Vajraningrat — tanah badai dan petir abadi.
🌕 Kerajaan Cahyanagara — kerajaan cahaya suci penjaga fajar.
🌑 Kerajaan Kalamreta — negeri misterius penguasa ruang dan gravitasi.
🐅 Kerajaan Simhagiri — tanah para penjinak roh binatang buas.
⚔️ Kerajaan Astrapura — pusat senjata suci dan pandai besi legendaris.
🐉 Kekaisaran Nagakartika — negeri naga langit dan energi kuno.
Setiap nama memunculkan gambaran singkat di udara: gunung berapi menyala, badai petir, lautan tanpa ujung, hingga naga yang terbang di atas awan.
Pandika menatap semuanya dengan napas tertahan.
“Itu berarti…” katanya perlahan, “kami harus menjelajahi seluruh Mythopia.”
Roh Penjaga mengangguk.
“Setiap kerajaan memegang satu biji. Ada yang menjaganya karena keserakahan. Ada yang bahkan tidak mengetahui kekuatan yang mereka simpan.”
“Dan bila seluruh biji berhasil dikembalikan?” tanya Si Maung.
Cahaya Pohon Dunia kembali berpendar.
“Maka kehidupan akan diselamatkan.”
Pandika menggenggam erat sarung pedangnya.
“Aku akan berusaha mencarinya.”
Si Maung melangkah maju dengan gagah.
“Raja Kucing Gunung Leuser akan ikut.”
Oren menyeringai sambil menyilangkan tangan.
“Dan perjalanan tanpa pertarungan terdengar membosankan. Aku ikut juga.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Roh Penjaga tersenyum.
Hutan pun membuka jalannya.
Dan demikianlah dimulai perjalanan besar Pandika—pengembaraan melintasi sepuluh kerajaan Mythopia demi mengembalikan Biji-Biji Pohon Dunia sebelum kegelapan dan kerakusan memakan seluruh kehidupan.
Fajar merekah perlahan di lereng Gunung Leuser. Cahaya matahari pagi menyusup di antara pucuk-pucuk pohon purba, menjadikan embun pada daun berkilau seperti butiran emas.
Kabut malam mulai surut ke dalam lembah, sementara nyanyian burung hutan menyambut hari baru.
Di bawah Pohon Penjaga yang akarnya menjulur seperti ular raksasa, Roh Penjaga Rimba berdiri menanti kepergian mereka.
Dari telapak tangannya tumbuh beberapa biji bercahaya kehijauan. Bentuknya kecil, namun memancarkan aroma segar seperti hutan selepas hujan.
“Bawalah ini.”
Pandika menerima biji-biji itu dengan kedua tangannya.
“Biji Kehidupan,” sabda Roh itu.
“Satu butir cukup untuk mengenyangkan tubuh selama berhari-hari. Ia juga akan melindungi kalian dari racun makanan dan air tercemar.”
Si Maung mengendus salah satu biji lalu mengangguk kagum.
“Energinya kuat… bahkan bangsa peri jarang memiliki makanan seperti ini.”
Oren segera memasukkan beberapa biji ke kantung kulitnya.
“Kalau begitu kita tak perlu takut mati kelaparan di negeri asing.”
Namun Roh Penjaga belum selesai.
Mata hijaunya menatap Pandika dalam-dalam.
“Perjalanan ini bukan sekadar mencari biji Pohon Dunia. Setiap negeri memiliki keserakahan, rahasia, dan perang mereka sendiri. Hati-hatilah terhadap kekuasaan.”
Angin pagi berembus pelan.
Dan ketika matahari akhirnya muncul sepenuhnya di ufuk timur, memandikan rimba dengan cahaya keemasan, Pandika, Si Maung, dan Oren pun memulai perjalanan mereka.
Mereka berjalan meninggalkan Desa Kucing melewati jalan setapak berbatu. Kabut tipis masih menggantung di antara akar dan semak.
Untuk beberapa lama, hanya suara langkah kaki dan desir daun yang terdengar.
Hingga akhirnya Pandika membuka percakapan.
“Ke kerajaan mana kita harus pergi lebih dahulu?”
Si Maung berjalan paling depan, ekornya bergoyang perlahan.
“Aku mengenal jalan-jalan tua Mythopia,” katanya. “Tetapi memilih tujuan pertama bukan perkara mudah.”
Oren menyilangkan tangan di belakang kepala sambil berjalan santai.
“Kalau menurutku,” katanya, “jangan langsung mendatangi negeri paling berbahaya. Kita bahkan belum tahu bagaimana cara memasuki kerajaan-kerajaan itu.”
Pandika memandang keduanya.
“Bukankah kita hanya perlu meminta baik-baik?”
Mendengar itu, Oren tertawa keras.
“Ini bukan desa petani, Pandika. Kerajaan-kerajaan besar tak akan menyerahkan sesuatu yang mereka anggap berharga hanya karena diminta.”
Si Maung mengangguk pelan.
“Benar. Beberapa negeri bahkan membunuh orang asing sebelum sempat berbicara.”
Suasana menjadi lebih serius.
“Kerajaan Agnivarsha,” lanjut Oren, “diperintah para bangsawan api yang curiga kepada pendatang. Sedikit kesalahan bisa membuatmu dilempar ke kawah lava.”
“Sedangkan Kalamreta,” ujar Si Maung, “adalah negeri yang bahkan sulit ditemukan. Banyak pengembara masuk ke sana… lalu tak pernah kembali.”
Pandika terdiam.
Ia memang telah belajar ilmu pedang dari Prabu Galang Siwah dan menghadapi roh-roh dunia gaib. Namun memasuki kerajaan asing adalah perkara lain.
Ilmu bela diri tak selalu membuka gerbang istana.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, “kita membutuhkan cara agar diterima.”
Si Maung berhenti di sebuah bukit kecil dan memandang jauh ke cakrawala.
Di kejauhan tampak asap gunung berapi menjulang merah ke langit.
“Itu arah Agnivarsha,” ujarnya.
Oren menyipitkan mata.
“Kerajaan api… tempat para pandai besi suci menempa senjata legenda.”
“Dan mungkin,” lanjut Si Maung, “tempat terbaik untuk memulai.”
“Kenapa?” tanya Pandika.
Si Maung menoleh perlahan.
“Karena pedangmu akan segera membutuhkan kekuatan baru.”
Angin gunung kembali bertiup.
Dan di bawah langit pagi Mythopia yang luas, tiga pengembara itu melangkah menuju kerajaan pertama—tanah api dan bara, tempat ujian baru telah menunggu.
Semakin jauh mereka berjalan ke arah timur, tanah hijau perlahan berubah menjadi hamparan pasir hitam dan batu-batu merah hangus. Udara terasa panas dan kering. Bahkan angin yang berembus membawa aroma belerang dari gunung-gunung api di kejauhan.
Langit di atas Kerajaan Agnivarsha berwarna kemerahan, seolah senja tak pernah benar-benar pergi dari negeri itu.
Pandika memandang takjub ketika akhirnya mereka tiba di gerbang perbatasan kerajaan.
Sebuah jembatan raksasa dari besi hitam membentang di atas sungai lava yang mengalir perlahan seperti darah bumi. Rantai-rantai baja sebesar batang pohon menggantung di sisi jembatan, sementara tiang-tiang penjaga dihiasi api yang tak pernah padam.
Di kejauhan terdengar dentang palu para pandai besi Agnivarsha—bergaung seperti genderang perang.
Antrian panjang memenuhi gerbang.
Para pedagang asing, pengembara, tentara bayaran, dan utusan kerajaan lain berdiri menunggu pemeriksaan identitas oleh prajurit berjubah merah-hitam.
Prajurit Agnivarsha bertubuh besar dan mengenakan zirah besi gelap dengan garis pijar seperti bara di sela-selanya. Mata mereka tajam dan penuh curiga.
Di depan Pandika, seorang pengelana tua sedang diperiksa.
“Identitas?” tanya penjaga dengan suara berat.
“A-aku hanya pedagang keliling…”
Penjaga itu mendecak dingin.
“Pedagang biasa dikenai pajak masuk lima keping emas.”
Wajah lelaki tua itu pucat.
“Aku… tak punya emas sebanyak itu.”
Penjaga segera menunjuk keluar gerbang.
“Kalau begitu pergi. Agnivarsha bukan negeri untuk pengemis.”
Orang tua itu pun diusir tanpa belas kasihan.
Pandika mengernyit pelan. Ia lalu berbisik kepada Si Maung,
“Tenang saja. Aku masih punya berkilo-kilo emas di kantong ajaibku. Hadiah dari Kerajaan Sunda masih banyak.”
Namun Si Maung segera mengibaskan ekornya.
“Tunggu dulu. Jangan keluarkan emas terlalu banyak di tempat seperti ini.”
“Kenapa?” tanya Pandika.
“Kau ingin dirampok sebelum masuk kota?”
Pandika terdiam.
Si Maung lalu mengeluarkan sebuah lencana kecil dari balik bulunya. Lambang matahari Majapahit terukir pada logam tua itu.
“Aku punya identitas yang lebih tinggi,” katanya santai. “Lambang kerajaan Majapahit.”
Mata Pandika membelalak.
“Hei! Itu aku juga punya!”
“Tapi wajahmu terlalu jujur untuk seorang bangsawan,” jawab Si Maung datar.
Oren tertawa keras sampai bahunya berguncang.
“Kalau begitu bagaimana denganku?”
Si Maung menoleh.
“Kau tetap harus bayar.”
“Apa?!”
“Wajahmu terlihat seperti pembuat masalah.”
Pandika menahan tawa sambil diam-diam merogoh kantung ajaib pemberian Ratu Peri. Dari dalam ruang kecil yang tampak mustahil itu, ia mengambil beberapa keping emas dan menyelipkannya ke tangan Oren.
“Pegang ini.”
Oren menyeringai puas.
“Sekarang aku terlihat terhormat.”
Ketika giliran mereka tiba, penjaga gerbang memandang ketiganya dengan curiga.
“Tujuan memasuki Agnivarsha?”
Si Maung melompat naik ke bahu Pandika dan memperlihatkan lambang Majapahit.
“Kami pengembara dari timur.”
Para penjaga segera berubah sikap ketika melihat lambang itu.
“Majapahit…” gumam salah seorang penjaga. “Kerajaan besar dari seberang lautan.”
Mereka tetap melakukan pemeriksaan ketat—memeriksa tas, zirah, bahkan pedang Pandika yang memancarkan aura aneh.
Salah seorang penjaga sempat menyipitkan mata ketika melihat pedang itu.
“Pedang ini bukan buatan biasa…”
Namun sebelum pertanyaan bertambah panjang, Si Maung berkata tenang,
“Kami datang bukan untuk mencari masalah.”
Akhirnya gerbang baja perlahan dibuka.
Suara rantai besi bergemuruh memenuhi udara.
Pandika, Si Maung, dan Oren pun melangkah masuk ke Agnivarsha—negeri api dan baja, tempat gunung-gunung menyala siang dan malam, dan di mana kekuatan seseorang diukur bukan dari kata-kata… melainkan dari panas bara yang mampu mereka tahan.