01/06/26

Season 7 Jatmika & Portal waktu

Di dalam ruang karantina, udara terasa lebih dingin daripada ruang laboratorium biasa. Dindingnya dilapisi panel logam putih dengan lampu biru lembut yang menyala stabil tanpa suara. Di sudut ruangan, beberapa alat pemindai milik NASA terus bergerak perlahan mengelilingi tubuh Jatmika, memancarkan cahaya hijau tipis seperti sedang membaca sesuatu yang berada di balik kulit manusia.
Seorang dokter wanita dari NASA memperhatikan layar datanya cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Jatmika duduk di tepi ranjang karantina. Ia tampak sehat, tetapi matanya menunjukkan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan hanya oleh perjalanan fisik.
“Aku sulit tidur,” jawabnya pelan.
Dokter itu mengangkat pandangan.
“Karena rasa sakit?”
Jatmika menggeleng.
“Karena mimpi.”
“Mimpi seperti apa?”
Jatmika terdiam beberapa saat, seolah berusaha menentukan apakah pengalaman itu pantas disebut mimpi.
“Aku terus melihat masa lalu,” katanya akhirnya. “Bukan masa laluku. Masa lalu orang lain.”
Dokter menekan beberapa tombol di perangkatnya.
“Kamu mengalami halusinasi visual setelah teleportasi?”
“Tidak.” Jatmika menatap lurus ke arah alat pemindai yang berputar perlahan. “Itu terasa terlalu jelas untuk disebut halusinasi.”
“Coba jelaskan.”
Jatmika menarik napas panjang.
“Aku melihat para ksatria Mythopia,” katanya. “Mereka memakai zirah dan membawa senjata yang mengeluarkan cahaya seperti teleportasi. Aku melihat perang. Aku melihat langit yang terbuka… dan sesuatu yang bukan manusia.”
Dokter itu tidak langsung menjawab.
“Apakah sebelum ini kamu pernah mengalami gangguan tidur?”
“Tidak.”
“Apakah kamu merasa mendengar suara-suara?”
“Kadang.”
“Suara siapa?”
“Seorang pria.” Jatmika menunduk pelan. “Dia mengaku sebagai Raja Isidore.”
Dokter berhenti mencatat.
Di balik kaca ruang observasi, beberapa peneliti NASA saling berpandangan singkat.
“Apakah suara itu memerintahmu melakukan sesuatu?” tanya dokter hati-hati.
“Tidak.”
Jatmika menggeleng lagi.
“Dia hanya… berbicara seperti seseorang yang sedang menjaga warisan.”
Dokter mendekatkan alat pemindai kecil ke dada Jatmika. Cahaya biru muncul, lalu berubah menjadi kuning keemasan selama beberapa detik sebelum kembali normal.
“Itu aneh,” gumamnya pelan.
“Ada masalah?”
“Detak jantungmu normal,” jawab dokter itu. “Tekanan darah normal. Paparan radiasi mulai turun.” Ia menatap layar lagi. “Tapi aktivitas gelombang otakmu meningkat setiap kali kamu menyebut artefak atau kerajaan Mythopia.”
Jatmika tersenyum tipis.
“Mungkin otakku belum kembali dari Callisto.”
Dokter itu ikut tersenyum kecil, meski jelas ia masih berpikir keras.
“Apakah kamu takut?”
Pertanyaan itu membuat Jatmika diam cukup lama.
“Aku lebih takut kalau semua itu nyata,” katanya akhirnya. “Karena kalau benar nyata… berarti teleportasi bukan teknologi yang baru ditemukan manusia.”
Ruangan kembali sunyi.
Di balik kaca observasi, John berdiri bersama Pak Toni memperhatikan proses pemeriksaan.
“Dia berubah,” kata John pelan.
Pak Toni mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
“Bukan tubuhnya yang berubah,” jawabnya. “Cara dia melihat dunia.”

---

Bab: Sepuluh Planet Warisan Mythopia

Dua puluh empat jam setelah seluruh data dari Callisto dimasukkan ke dalam sistem, ruang analisis PT Sinar Ultraviolet berubah menjadi tempat yang nyaris menyerupai pusat komando antariksa.

Ratusan prosesor bekerja tanpa henti. Dinding-dinding layar dipenuhi simulasi lintasan teleportasi, model gravitasi, dan peta koordinat yang tidak dikenal dalam katalog astronomi modern.

Di tengah ruangan, Ny. Tien menjalankan proses yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Ia tidak sedang mencari planet.

Ia sedang mencari pola.

Karena menurut hasil terjemahan Profesor Wen Shuyuan, kerajaan Mythopia tidak pernah mencatat lokasi dunia-dunia itu berdasarkan jarak. Mereka mencatatnya berdasarkan hubungan energi dalam jaringan teleportasi.

Sebuah konsep yang lebih mirip jaringan saraf daripada peta antarbintang.

Tepat pukul 03.17 dini hari, suara Ny. Tien terdengar di seluruh laboratorium.

"Pencarian selesai."

Semua orang yang masih terjaga menoleh ke layar utama.

Bahkan Pak Toni yang hampir tertidur langsung berdiri.

"Berapa banyak?" tanyanya.

"Sepuluh lokasi utama."

Layar berubah.

Muncul sepuluh titik cahaya mengelilingi model galaksi yang diproyeksikan di udara.

Untuk sesaat tidak ada yang berbicara.

Karena yang mereka lihat bukan sekadar planet.

Melainkan sesuatu yang tampak seperti cabang-cabang dari sebuah peradaban yang telah menyebar ke bintang-bintang.


---

Planet Aurelion

Dunia Matahari Kedua

Planet pertama berwarna emas terang.

Atmosfernya memantulkan cahaya hingga membuat seluruh permukaannya tampak seperti matahari kecil.

"Penghuni: Suku Auren."

Makhluk humanoid dengan kulit keemasan.

Menurut catatan Mythopia, mereka mampu menyimpan energi cahaya dalam tubuh mereka.

Di sana berdiri peninggalan kuno bernama Benteng Surya Wikrama.

Jatmika memperhatikan gambar simulasi itu cukup lama.

"Jika catatan ini benar," katanya perlahan, "maka manusia bukan satu-satunya spesies yang menggunakan energi sebagai bagian dari biologinya."


---

Planet Krysalis

Dunia Es Abadi

Sebuah planet putih kebiruan muncul berikutnya.

Lautannya membeku.

Pegunungannya tersusun dari kristal es raksasa.

Di sana berdiri Istana Pangreksa, benteng yang konon dibangun oleh ksatria penguasa es.


---

Planet Venthara

Dunia Angin

Planet ketiga tampak dipenuhi badai yang bergerak membentuk pola geometris.

Catatan Mythopia menyebut penghuni dunia ini dapat mendengar suara dari jarak yang tidak masuk akal.

"Seolah atmosfer mereka sendiri berfungsi sebagai jaringan komunikasi," gumam seorang peneliti.


---

Planet Ignarok

Dunia Api

Lautan magma.

Benua-benua vulkanik.

Awan yang terbentuk dari abu dan kilatan listrik.

Di sana berdiri Kuil Bhra Anuraga.

Untuk pertama kalinya para ilmuwan menyadari bahwa para ksatria Mythopia mungkin bukan sekadar tokoh sejarah.

Mereka mungkin pernah menjadi penguasa dunia lain.


---

Planet Terragard

Dunia Batu

Planet dengan gravitasi lebih tinggi daripada bumi.

Pegunungan setinggi puluhan kilometer.

Penghuninya mampu merasakan getaran yang bahkan tidak dapat dideteksi instrumen manusia.

Peninggalan di sana dikenal sebagai Benteng Jagat Dirgantara.


---

Planet Oceanis

Dunia Samudra

Nyaris seluruh permukaannya tertutup air.

Hanya sedikit pulau yang terlihat.

Di dasar laut terdalam berdiri Istana Sagara Putra.

John menatap simulasi itu sambil menggeleng.

"Kalau benar ada jaringan teleportasi di sana, berarti Mythopia pernah menjelajah dasar samudra antarbintang."


---

Planet Voltaris

Dunia Petir

Layar dipenuhi warna biru terang.

Petir menyambar tanpa henti dari satu belahan planet ke belahan lain.

Energi atmosfernya begitu besar hingga membuat instrumen laboratorium menghasilkan gangguan kecil.

"Peninggalan: Menara Guntur Wisesa."


---

Planet Sylvaris

Dunia Hutan Raksasa

Pepohonannya setinggi gunung.

Kanopinya menutupi hampir seluruh planet.

Menurut arsip, dunia ini dijaga oleh keturunan Rakajati.

Makhluk yang dapat berbicara dengan tumbuhan.

Ruangan menjadi sunyi.

Karena untuk pertama kalinya para ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa kehidupan cerdas tidak harus berkembang melalui teknologi.


---

Planet Astryon

Dunia Bintang

Planet ini berbeda.

Ia tampak hampir transparan.

Medan energinya berdenyut seperti jantung.

Peninggalannya adalah Observatorium Arya Wiratma.

Menurut catatan kuno, penghuni dunia ini mempelajari masa depan bukan melalui ramalan.

Mereka membaca kemungkinan statistik yang tercipta dari setiap keputusan yang diambil makhluk hidup.

Profesor Wen menatap layar dengan kagum.

"Itu terdengar lebih dekat kepada matematika daripada sihir."


---

Planet Valtherion

Dunia Para Penjaga

Planet terakhir muncul.

Dan seluruh ruangan mendadak terdiam.

Karena dunia itu tampak sangat mirip dengan bumi.

Laut.

Benua.

Awan.

Atmosfer.

Bahkan ukuran planetnya hampir identik.

Di tengah salah satu benuanya berdiri sebuah struktur raksasa yang terdeteksi dari orbit.

Ny. Tien memperbesar gambar.

Muncullah siluet bangunan yang menyerupai istana terapung.

"Istana Langit Raja Isidore."

Tidak seorang pun berbicara selama beberapa detik.

Kemudian Jatmika memecahkan kesunyian.

"Jadi..." katanya.

"Jika semua ini nyata, Mythopia bukanlah sebuah kerajaan."

Ia menatap sepuluh dunia yang berputar perlahan di udara.

"Bukan kerajaan di bumi."

"Bukan kerajaan Nusantara."

"Bahkan bukan kerajaan manusia."

Ia menarik napas panjang.

"Mereka adalah peradaban antarbintang."

Di layar, sepuluh titik cahaya terus berdenyut.

Dan untuk pertama kalinya sejak teleportasi ditemukan, para ilmuwan PT Sinar Ultraviolet menyadari bahwa penemuan terbesar mereka bukanlah cara berpindah tempat.

Melainkan kenyataan bahwa umat manusia mungkin baru saja menemukan sisa-sisa dari sebuah peradaban yang pernah menghubungkan banyak dunia—lalu menghilang tanpa meninggalkan penjelasan mengapa.

Tidak ada komentar: