Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan

03/08/26

Season 7 Kisah Pandika dari Kerajaan Cakram

Langit di atas Kerajaan Agnivarsha berubah menjadi lautan awan yang membara.

Naga tua itu mengepakkan sayapnya yang telah pulih, melesat semakin tinggi hingga menembus gumpalan awan merah yang diterangi cahaya matahari senja. Tubuhnya yang besar laksana gunung terbang meninggalkan jejak bara yang memanjang di angkasa.

Di belakangnya, pasukan berkuda naga dari Laskar Bara Naga terus memburu tanpa mengenal lelah.

Para pengejar mulai kehilangan harapan.

“Kecepatannya semakin bertambah!”

“Kita tidak akan mampu menyusulnya!”

Salah seorang ksatria menggertakkan gigi.

“Itulah Rakhtavira, Naga Api Purba. Tak ada makhluk bersayap yang mampu menandingi kecepatannya.”

Di barisan paling depan terbang Mahapati Rudra Agnivega, panglima perang Agnivarsha. Dialah salah satu dari sedikit manusia yang berhasil bertahan menjalani ritual Darah Naga.

Banyak ksatria pernah mencoba menerima darah makhluk purba itu. Sebagian tubuh mereka hangus terbakar dari dalam, sebagian lagi berubah menjadi monster tanpa akal sebelum akhirnya mati mengenaskan.

Hanya segelintir yang mampu mengendalikan kekuatan tersebut.

Rudra Agnivega adalah salah satunya.

Darah naga telah mengubah seluruh tubuhnya.

Penglihatannya mampu menembus kabut dan melihat sasaran dari kejauhan.

Pendengarannya dapat menangkap desir sayap di balik awan.

Ketika menghadapi bahaya, kulitnya berubah menjadi sisik naga merah kehitaman yang sanggup menahan tebasan pedang dan hujan anak panah.

Namun bahkan dengan kekuatan itu, mengejar Rakhtavira bukanlah perkara mudah.

Sang naga tua tiba-tiba memperlambat kepakan sayapnya.

Matanya yang menyala merah menoleh ke belakang.

“Aku masih bisa merasakan kalian…”

“Begitu keras kepala mengejar kebebasan yang telah kuraih.”

Rakhtavira menarik napas panjang.

Dadanya memancarkan cahaya merah keemasan.

Udara di sekelilingnya bergetar oleh panas yang luar biasa.

Para ksatria yang mengejar mulai menyadari apa yang akan terjadi.

“Menjauh!”

“Ia sedang mengumpulkan Inti Api!”

Terlambat.

Dengan raungan yang mengguncang langit, Rakhtavira memuntahkan bola api raksasa ke arah bumi.

Ledakan cahaya membelah awan.

Bola api itu meluncur bagaikan matahari yang jatuh dari langit.

DUUUAARRR!

Ledakannya mengguncang pegunungan.

Gelombang panas menyapu hutan dan bebatuan.

Beberapa ksatria Laskar Bara Naga yang berada paling depan tak sempat menghindar. Mereka lenyap ditelan kobaran api.

Sementara mereka yang selamat segera mengaktifkan kekuatan Darah Naga.

Sisik merah muncul menutupi tubuh mereka, dan bayangan naga kecil menyelimuti sosok mereka untuk menahan panas yang mematikan.

Meski demikian, banyak di antara mereka tetap terluka parah.

Api Rakhtavira terus berkobar.

Anehnya, kobaran itu tidak padam meski diterpa hujan dan angin gunung.

Selama tujuh hari tujuh malam, nyala merah itu terus membakar lembah tempat bola api jatuh, meninggalkan tanah hitam yang tak lagi ditumbuhi kehidupan.

Rakhtavira menatap ke belakang untuk terakhir kalinya.

“Aku tidak lagi terikat oleh rantai manusia.”

“Mulai hari ini, langit adalah kerajaanku.”

Dengan satu kepakan sayap yang dahsyat, naga tua itu kembali melesat menuju ufuk barat.

Di balik pegunungan yang tak pernah dijelajahi manusia, terbentang tujuan akhirnya—

Sarang Para Naga, negeri purba tempat keturunan naga terakhir masih menjaga warisan leluhur mereka, jauh dari jangkauan kerajaan-kerajaan manusia.
Pagi menjelang ketika sinar matahari menembus celah-celah kanopi hutan. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, sementara suara burung bersahutan menyambut hari baru. Pandika, Si Maung, dan Si Oren kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Di tengah perjalanan, Pandika memecah keheningan.

"Seperti apa Kerajaan Bayu Arcapada?"

Si Maung yang berjalan paling depan menjawab tanpa menoleh.

"Itu adalah negeri langit dan angin yang tak terjangkau. Kerajaannya berdiri di puncak tebing-tebing tinggi, seolah menggantung di antara bumi dan langit."

Si Oren tersenyum, seolah mengenang tempat itu.

"Indah sekali. Awan terasa begitu dekat hingga seakan bisa disentuh dengan tangan. Udaranya sangat dingin, meskipun salju tak pernah turun. Penduduknya memanfaatkan kincir-kincir angin raksasa untuk memompa air dari lembah menuju kota di atas gunung."

Ia melanjutkan,

"Negeri itu dipimpin oleh Prabu Langitpawana Dirgantara, yang bergelar Pengembara Langit Utara. Konon beliau mampu membaca arah angin hanya dari desir dedaunan."

Pandika mengangguk kagum.

"Kalau begitu, bagaimana kita bisa sampai ke sana? Gunung setinggi itu tentu sulit didaki."

Si Oren terkekeh.

"Aku punya teman di sebuah tempat bernama Desa Wangi. Ia memelihara seekor Garuda sejak masih kecil. Mungkin ia bersedia mengantar kita terbang menuju Bayu Arcapada."


---

Menjelang siang mereka tiba di Desa Wangi.

Begitu memasuki desa itu, Pandika segera mengerti mengapa tempat itu dinamai demikian.

Udara dipenuhi aroma pandan yang lembut dan menenangkan. Rumah-rumah dibangun di atas akar dan batang pohon beringin raksasa, sementara tanaman pandan tumbuh subur di setiap sudut desa.

Pandika kembali dibuat terkejut.

Teman Si Oren ternyata bukan manusia.

Melainkan seekor musang pandan berwarna cokelat keemasan yang dapat berbicara layaknya manusia.

Sebelum mengetuk pintu rumahnya, Si Oren mengeluarkan beberapa buah dari dalam kantongnya.

Cherry merah mengilap.

Mangga harum.

Dan alpukat yang matang sempurna.

"Ini makanan kesukaannya," bisik Si Oren.

Tak lama kemudian pintu rumah terbuka.

Musang itu mengangkat sebelah alisnya.

"Halo, Sobat!" seru Si Oren sambil tersenyum lebar. "Aku membawakan hadiah untukmu."

Musang pandan itu menyilangkan kedua tangannya.

"Aku curiga dengan kedatanganmu."

"Kenapa tidak memberi kabar lebih dulu? Aku bahkan belum sempat mempersiapkan penyambutan."

Si Oren tertawa kecil.

"Aku sedang menjalankan misi dari Roh Penjaga Pohon Dunia."

"Kami membutuhkan bantuanmu."

"Bisakah kau mengantar kami ke Kerajaan Bayu Arcapada? Kami sudah lama mencarinya tetapi belum menemukan jalannya."

Musang itu mengusap dagunya.

"Bisa saja..."

"Tapi biayanya tidak murah."

Si Oren tersenyum licik.

"Bagaimana kalau pembayaran ini?"

Ia mengeluarkan sebutir biji ajaib pemberian Roh Penjaga Rimba.

"Cobalah."

Musang itu menerimanya dengan ragu.

"Aku coba dulu. Jangan-jangan kau sedang menipuku."

Ia memakan biji tersebut.

Sesaat kemudian matanya membelalak.

"Eh?"

"Buah apa ini?"

"Aku belum pernah merasakan makanan seperti ini."

Perutnya terasa hangat dan kenyang, seolah baru saja menikmati hidangan besar.

"Wah..."

"Ini luar biasa."

Si Oren hanya tersenyum.

"Itu rahasia."

Musang pandan akhirnya tertawa puas.

"Baiklah."

"Aku akan mengantar kalian ke Bayu Arcapada."

Ia lalu berdiri di halaman rumah dan mengeluarkan siulan panjang yang menggema ke seluruh lembah.

Tak lama kemudian—

langit menjadi gelap oleh bayangan besar.

Angin bertiup sangat kencang.

Pepohonan beringin bergoyang hebat.

Daun-daun beterbangan memenuhi udara.

Dari balik awan, turun seekor Garuda raksasa dengan bentangan sayap yang begitu luas hingga menutupi cahaya matahari.

Bulu-bulunya berwarna emas kecokelatan, sementara paruh dan cakarnya berkilau seperti logam.

Burung agung itu mendarat dengan anggun di depan mereka.

Musang pandan menepuk leher Garuda dengan penuh kasih.

"Sudah lama kita tidak bepergian bersama, sahabatku."

Ia lalu menoleh kepada Pandika dan kawan-kawannya.

"Naiklah ke dalam keranjang di punggungnya."

"Aku akan duduk di atas leher Garuda untuk menunjukkan jalan."

Pandika menatap langit yang luas.

Di balik lautan awan itu, Kerajaan Bayu Arcapada menanti mereka—negeri yang menjadi tujuan berikutnya dalam pencarian Biji Pohon Dunia.
Garuda raksasa itu mengeluarkan pekikan yang menggema di seluruh lembah.

Lalu, dengan satu kepakan sayapnya yang perkasa, angin berputar menjadi pusaran dahsyat. Pohon-pohon raksasa bergoyang hebat seakan diterjang badai. Daun-daun beterbangan memenuhi udara, sementara ranting-ranting kecil patah dan melayang mengikuti arus angin.

Perlahan, tubuh Garuda terangkat dari bumi.

Semakin tinggi.

Semakin tinggi.

Tak lama kemudian, hutan di bawah mereka berubah menjadi hamparan hijau yang tampak sekecil lumut.

Pandika memandang ke bawah dengan takjub.

"Belum pernah aku melihat dunia setinggi ini..."

Mereka menembus lapisan awan putih yang tebal. Kabut dingin menyelimuti wajah mereka hingga jarak pandang hanya beberapa langkah. Namun setelah beberapa saat, cahaya matahari kembali menyinari perjalanan.

Di balik lautan awan itu, terbentang sebuah negeri yang menakjubkan.

Di atas puncak-puncak gunung berdiri sebuah kota megah dengan benteng batu putih yang kokoh. Menara-menara tinggi menjulang ke langit, sementara puluhan kincir angin raksasa terus berputar mengikuti hembusan angin pegunungan. Saluran-saluran air mengalir dari menara menuju taman-taman yang hijau, membuat seluruh kota tampak hidup di tengah awan.

"Itulah..." bisik Si Maung.

"Kerajaan Bayu Arcapada."

Pandika terdiam beberapa saat, terpukau oleh keindahan negeri yang seolah menggantung di antara langit dan bumi.

Garuda tidak langsung menuju gerbang kota.

Sebaliknya, ia melayang mengitari kerajaan sebelum turun perlahan di sebuah hutan kecil di luar tembok kota. Seekor pohon besar yang tumbuh di tepi jurang dipilih sebagai tempat mendarat agar kedatangan mereka tidak menarik perhatian para penjaga.

Musang pandan turun lebih dahulu dari punggung Garuda.

Ia mencabut sehelai bulu emas dari sayap sahabatnya, lalu menyerahkannya kepada Si Oren.

"Entah apa yang akan kalian lakukan di dalam kerajaan itu," katanya pelan. "Terimalah bulu Garuda ini. Semoga keberanian dan keberuntungan selalu menyertai kalian."

Si Oren menerima bulu itu dengan penuh hormat.

"Terima kasih, Sobat."

"Kami hanya ingin mengambil sesuatu dari dalam istana. Jika misi ini berhasil, aku akan memberimu hadiah yang lebih baik daripada pembayaran tadi."

Musang pandan tersenyum tipis.

"Aku akan menunggu di sini."

"Tetapi ingat, bila keadaan berubah menjadi terlalu berbahaya, aku dan Garuda akan terbang pergi. Kami tidak boleh ikut terseret dalam urusan kerajaan."

Si Oren tertawa kecil.

"Tenang saja."

"Semua akan berjalan sesuai rencana."


---

Tak lama kemudian, ketiganya berjalan menuju gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada.

Di depan gerbang batu yang menjulang tinggi, para penjaga memeriksa setiap pendatang. Pedagang, pengelana, dan utusan dari kerajaan lain harus menunjukkan surat izin sebelum diperbolehkan masuk.

Melihat penjagaan yang ketat, Si Oren segera menyusun siasat.

Ia mengenakan celemek lusuh, memanggul keranjang besar berisi roti hangat yang baru dipanggang, lalu mengubah sikapnya menjadi ramah dan penuh senyum.

"Roti hangat! Roti madu pegunungan!" serunya nyaring. "Baru matang! Cocok untuk para ksatria yang berjaga sejak pagi!"

Pandika dan Si Maung saling berpandangan.

Keduanya sudah hafal.

Setiap kali menghadapi penjagaan yang ketat, Si Oren selalu memiliki cara yang tidak terduga untuk membuka jalan. Dan kali ini, penyamarannya sebagai seorang penjual roti menjadi awal dari penyusupan mereka ke negeri langit, tempat Biji Pohon Dunia berikutnya menanti untuk ditemukan.
Si Oren merapikan celemeknya, lalu memanggul keranjang rotinya sambil berjalan santai menuju pos pemeriksaan di gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada. Aroma roti yang masih hangat segera menarik perhatian para penjaga.

"Roti hangat! Roti cokelat baru keluar dari oven! Cocok untuk menghangatkan tubuh di udara pegunungan!" serunya riang.

Seorang penjaga mengangkat tangan.

"Tunggu dulu."

Ia mengambil sepotong roti dari keranjang Si Oren.

"Roti apa ini? Seingatku, baru kali ini aku melihatmu berjualan di sini."

Si Oren membungkuk hormat.

"Saya hanya pedagang dari desa sebelah, Tuan. Di sana pembelinya sedikit sekali. Saya membuat roti cokelat yang dipanggang dalam oven batu. Silakan dicicipi, gratis khusus untuk para penjaga yang telah bekerja keras."

Para penjaga saling berpandangan.

Salah seorang menggigit roti itu perlahan.

Sesaat kemudian matanya membelalak.

"Walah..."

"Rasanya... luar biasa!"

"Maknyus... enak tenan!"

Saking nikmatnya, ia sampai melompat-lompat kecil dan berputar kegirangan, membuat rekan-rekannya tertawa terbahak-bahak.

Tanpa mereka sadari, Si Oren tersenyum kecil dalam hati.

"Bubuk rempah pemberian Musang Pandan memang tidak pernah gagal."

Penjaga itu mengusap remah-remah roti di bibirnya.

"Baiklah."

"Kau boleh masuk ke dalam kota."

"Tapi ingat, jangan sekali-kali mendekati kawasan istana."

"Berjualanlah di sekitar permukiman penduduk."

Si Oren mengangguk sopan.

"Terima kasih, Tuan Penjaga."


---

Gerbang kerajaan pun terbuka.

Si Oren melangkah memasuki Kerajaan Bayu Arcapada untuk pertama kalinya.

Jalan-jalan batu yang bersih membelah permukiman penduduk.

Di setiap rumah berdiri kincir angin kayu yang berputar tanpa henti, memompa air dari lembah menuju bak-bak penampungan di atas bukit.

Udara pegunungan terasa sejuk dan segar.

Ladang-ladang umbi, kentang, talas, dan berbagai tanaman dataran tinggi menghijau sejauh mata memandang.

Penduduk hidup sederhana, namun wajah mereka tampak damai.

"Negeri ini benar-benar diberkahi angin," gumam Si Oren kagum.

Ia terus berkeliling sambil menjajakan roti hingga seluruh dagangannya habis terjual.

Sore mulai berganti malam ketika ia meninggalkan kota melalui gerbang yang sama.

Di luar tembok kerajaan, Pandika dan Si Maung masih bersembunyi di atas sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jurang.

Begitu melihat Si Oren datang, keduanya segera turun.

"Bagaimana?" tanya Si Maung.

Si Oren mengangguk.

"Di dalam aman."

Pandika mengernyit.

"Tolong jelaskan maksudmu dengan aman."

Si Oren mulai menjelaskan apa yang dilihatnya.

"Gerbang utama dijaga oleh prajurit bersenjata pedang."

"Di setiap menara pengawas berdiri pemanah yang terus mengawasi langit dan jalan masuk."

"Selain itu, ada beberapa anjing penjaga yang memiliki penciuman sangat tajam. Mereka berpatroli di sekitar pintu gerbang dan halaman istana."

Si Maung mengangguk pelan sambil memandang tembok kerajaan yang mulai diterangi obor.

"Kalau begitu..."

"Kita tidak akan masuk melalui gerbang."

"Kita menunggu sampai tengah malam."

"Saat angin pegunungan bertiup paling kencang dan para penjaga mulai lengah."

Tatapan Si Maung berubah tajam.

"Malam ini... kita akan menyusup ke dalam istana Prabu Langitpawana Dirgantara."

Di kejauhan, baling-baling kincir angin terus berputar diterpa angin malam, seolah menjadi irama yang mengiringi dimulainya misi berikutnya untuk menemukan Biji Pohon Dunia.
Malam menyelimuti Kerajaan Bayu Arcapada dengan kesunyian yang agung.

Angin pegunungan berembus semakin kencang, membuat kincir-kincir angin raksasa terus berputar sambil mengeluarkan bunyi berderit yang menggema di antara tebing-tebing tinggi. Kabut perlahan turun dari langit, menyelimuti puncak-puncak menara hingga hanya siluetnya yang tampak diterangi cahaya bulan.

Di bawah sebuah pohon tua, musang pandan memandang ketiga sahabat itu dengan wajah serius.

"Berhati-hatilah."

"Istana Pawana Dirgantara bukan seperti kerajaan lain."

"Istana itu menggantung di bibir tebing langit dan hanya dihubungkan oleh jembatan-jembatan tali raksasa. Kabut dan angin selalu berputar mengelilingi menara-menara putihnya."

Musang itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan waspadailah Senapati Bayusena Jagadwipa."

"Ia adalah panglima perang kerajaan, seorang pendekar langit yang mampu bergerak secepat badai."

"Jangan pula meremehkan Garuda Putih, pasukan ksatria elit yang mengenakan sayap kain suci. Mereka ahli bertempur di udara dan sanggup mengejar musuh melintasi jurang."

Ia menatap langit yang mulai dipenuhi awan.

"Bila matahari terbit dan kalian belum kembali..."

"...aku akan pergi dari tempat ini."

Si Oren menepuk bahu sahabatnya sambil tersenyum.

"Tenang saja, Sobat."

"Kami pasti kembali dengan selamat."

Musang pandan hanya mengangguk pelan.


---

Pandika kemudian menoleh kepada Si Maung.

"Apakah kau sudah dapat mencium bau Biji Pohon Dunia?"

Si Maung menutup mata sejenak, mengendus udara malam yang dipenuhi aroma embun dan pinus.

Beberapa saat kemudian ia membuka matanya.

"Ya."

"Aromanya sangat jelas."

"Biji itu berada... di dalam istana."

Kalimat itu membuat ketiganya saling berpandangan.

"Mari berangkat," bisik Si Maung.

Seketika kabut tipis keluar dari tubuhnya.

Perlahan-lahan kabut itu menyelimuti Pandika, Si Maung, dan Si Oren hingga ketiganya seolah lenyap dari pandangan.

Pandika menarik napas panjang.

Lalu ia mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.

Tubuhnya melesat secepat angin malam.

Si Maung dan Si Oren yang kembali ke wujud kucing kecil bertengger di kedua bahunya agar tidak menghambat pergerakannya.

Ia berlari melewati semak, batu, dan jalan setapak tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Di pos penjagaan pertama, beberapa prajurit tiba-tiba menoleh.

"Hm?"

"Barusan... seperti ada angin yang lewat."

Seorang penjaga mengangkat obornya.

"Tidak ada siapa-siapa."

"Mungkin hanya angin gunung."

Mereka kembali berjaga tanpa menyadari bahwa penyusup telah melewati mereka.

Pandika terus melesat hingga mencapai tembok luar kerajaan.

Dengan satu lompatan ringan ia meraih bibir tembok batu, merayap perlahan di atasnya, lalu turun tanpa suara ke halaman dalam.

Di hadapannya terbentang pemandangan yang membuatnya terdiam.

Sesuai cerita musang pandan, Istana Pawana Dirgantara benar-benar berdiri di atas tebing raksasa.

Jurang menganga di bawahnya, sementara jembatan-jembatan tali raksasa menghubungkan halaman kerajaan dengan bangunan utama.

Kabut berputar di antara menara-menara putih, membuat seluruh istana tampak melayang di atas awan.

Namun setiap jembatan dijaga oleh prajurit bersenjata lengkap.

Pandika menarik napas dalam.

Sekali lagi ia mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.

Gerakannya menjadi seringan embusan angin.

Ia menahan napas ketika menapaki jembatan tali, memastikan tak satu pun papan kayu berderit.

Di ujung jembatan, pintu utama istana masih tertutup rapat.

Beberapa penjaga yang bertugas di sana tampak berbincang santai sambil menghangatkan diri dengan secangkir minuman.

Pandika segera berlindung di balik salah satu pilar batu.

Ia menunggu dengan sabar.

"Jangan gegabah," bisik Si Maung sangat pelan.

"Cepat atau lambat... seseorang pasti akan membuka pintu itu."

Mereka pun menahan napas dalam keheningan malam, sementara angin pegunungan terus bersiul mengitari Istana Pawana Dirgantara, membawa pertanda bahwa ujian berikutnya telah menanti di balik gerbang yang masih tertutup.
Keheningan malam terus berlanjut.

Satu jam telah berlalu.

Tak seorang pun keluar ataupun masuk melalui pintu utama Istana Pawana Dirgantara. Para penjaga masih berjaga sambil berbincang santai, sama sekali tidak menyadari bahwa tiga penyusup sedang menunggu hanya beberapa langkah dari mereka.

Si Oren mulai kehilangan kesabaran.

"Cukup menunggu," bisiknya. "Kalau begini sampai fajar pun pintu itu tidak akan terbuka."

Seketika tubuhnya membesar menjadi seekor kucing liar raksasa. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerjang para penjaga.

Buk! Buk!

Sebelum mereka sempat berteriak, satu per satu penjaga roboh tak sadarkan diri.

Di saat yang sama, Pandika bergerak menggunakan Langkah-Langkah Mendominasi. Ia melumpuhkan beberapa penjaga lain yang datang dari lorong samping, lalu mengikat mereka di kursi-kursi kayu sehingga dari kejauhan tampak seolah mereka masih berjaga seperti biasa.

Pandika mencoba mendorong pintu istana.

Pintu itu tidak bergeming.

"Macet..." gumamnya.

Si Maung maju beberapa langkah.

Tok... tok... tok...

Ia mengetuk pintu perlahan.

Tak lama kemudian terdengar suara kunci diputar dari dalam.

Pintu terbuka sedikit.

Seorang penjaga mengintip keluar dengan wajah heran.

"Siapa di lu—"

Belum sempat kalimatnya selesai, Si Oren menariknya masuk ke dalam.

Bruk!

Penjaga itu langsung pingsan.

"Cepat!"

"Mari masuk!"

Mereka segera menutup kembali pintu besar itu.


---

Bagian dalam Istana Pawana Dirgantara jauh lebih megah daripada yang mereka bayangkan.

Lantainya terbuat dari marmer putih berkilau.

Pilar-pilar tinggi menjulang hingga langit-langit, dihiasi ukiran awan, burung garuda, dan pusaran angin.

Lorong-lorong terbuka menghadap jurang, membuat angin pegunungan bebas berembus ke seluruh ruangan. Hembusan itu melewati celah-celah pilar dan menghasilkan bunyi merdu, seakan seluruh istana sedang memainkan musik alam.

Namun...

Anehnya hampir tidak ada seorang pun yang terlihat.

Si Maung memimpin perjalanan.

"Hidungku sudah menangkap aromanya."

"Ikut aku."

Mereka menaiki tangga demi tangga yang bercabang ke berbagai arah, sebagian bahkan melintang di atas jurang yang dalam.

Semakin tinggi mereka mendaki, aroma Biji Pohon Dunia semakin terasa kuat.

Hingga akhirnya...

Mereka tiba di sebuah taman rahasia yang tersembunyi di jantung istana.

Pepohonan langka tumbuh subur di sana.

Bunga-bunga berwarna biru bergoyang mengikuti irama angin.

Di tengah taman berdiri seekor Garuda berkepala tiga yang dirantai dengan belenggu baja hitam.

Ketiga kepalanya membuka mata secara bersamaan.

"Aku tahu..."

"...kalian adalah tamu yang tak diundang."

Si Maung melangkah maju.

"Perkenalkan."

"Aku Si Maung, Raja Kucing dan sahabat para binatang."

"Kami sedang menjalankan misi menyelamatkan Pohon Dunia yang sedang sekarat."

"Bantulah kami menemukan Biji Pohon Dunia."

"Sebagai balasannya, kami akan membebaskanmu."

Garuda itu menghela napas panjang.

"Kalian memang pemberani."

"Tetapi cepat atau lambat para ksatria tingkat tinggi kerajaan ini akan menemukan kalian."

"Aku sendiri tidak mampu membantu banyak."

"Lihatlah."

"Rantai besi ini telah mengurungku selama bertahun-tahun."

Pandika mengeluarkan sebutir biji ajaib dari kantongnya.

"Cobalah makan ini."

Garuda menelan biji itu.

Tak lama kemudian cahaya keemasan memancar dari tubuhnya.

Bulu-bulu yang semula rontok mulai tumbuh kembali.

Sayapnya menjadi gagah.

Paruhnya yang retak kembali utuh dan mengilap.

Garuda itu mengangkat salah satu kepalanya.

"Aku telah mendapatkan kembali sebagian kekuatanku."

"Biji yang kalian cari..."

"...berada di dasar jurang, di bawah akar Pohon Angin Purba."

Dengan sekali hentakan paruhnya...

KRAAAK!

Rantai baja yang mengikat tubuhnya hancur berkeping-keping.

"Naiklah ke punggungku."

"Aku akan mengantar kalian."

Mereka segera menaiki punggung Garuda.

Dengan kepakan sayap yang dahsyat, Garuda terbang menuruni jurang.

Angin berputar menjadi pusaran besar, membuat dedaunan beterbangan seperti badai.

Di dasar jurang, di sela-sela akar pohon purba, tampak cahaya hijau keemasan berdenyut lembut.

"Itu dia!" seru Si Maung.

Ia melompat dari punggung Garuda, mendarat di atas akar raksasa, lalu dengan cakarnya mencungkil Biji Pohon Dunia dengan sangat hati-hati agar tidak merusaknya.

Setelah berhasil mengambilnya, ia kembali melompat ke atas punggung Garuda.

"Aku berterima kasih atas bantuanmu," kata Si Maung.

Sementara itu, Si Oren mengeluarkan sehelai bulu emas Garuda yang dititipkan musang pandan.

"Ini untukmu."

"Temanmu masih hidup dan menunggu di luar kerajaan."

Ketiga kepala Garuda itu tersenyum haru.

"Ternyata... ia tidak melupakanku."

Namun pada saat yang sama, suasana istana berubah.

Satu demi satu lentera dan obor di atas menara menyala terang.

Suara lonceng peringatan bergema memecah malam.

Para penjaga telah sadar bahwa ada penyusup di dalam istana.

Pandika segera menggenggam pedangnya.

"Kita harus pergi. Sekarang!"

Garuda mengepakkan kedua sayapnya dengan sekuat tenaga.

Pusaran angin raksasa menyapu halaman istana, menerbangkan debu, daun, bahkan beberapa penjaga yang baru tiba.

Di balik badai angin itu, Pandika, Si Maung, dan Si Oren memulai pelarian mereka, sementara Garuda berkepala tiga akhirnya kembali menghirup udara kebebasan setelah sekian lama menjadi tawanan Kerajaan Bayu Arcapada.
Pandika, Si Maung, dan Si Oren segera melompat dari punggung Garuda Berkepala Tiga begitu mereka tiba di bibir jurang.

Garuda itu mengepakkan sayapnya sekali, lalu mengangkat ketiga kepalanya ke langit.

Raungan yang mengguncang pegunungan pun pecah.

Bertahun-tahun ia dirantai di tebing Istana Pawana Dirgantara. Sayapnya dipasung, darah sucinya diambil sedikit demi sedikit hingga tubuhnya melemah. Kini, setelah memperoleh kembali kekuatannya, seluruh amarah yang dipendamnya meledak bagaikan badai.

Dengan kepakan sayap yang dahsyat, pusaran angin menghantam menara-menara penjaga. Batu-batu beterbangan, sementara para prajurit berusaha bertahan agar tidak tersapu angin.

Di saat yang sama, lonceng bahaya berdentang di seluruh kerajaan.

Dari puncak istana melesat seorang pendekar berpakaian putih kebiruan.

Dialah Senapati Bayusena Jagadwipa, Panglima Perang Kerajaan Bayu Arcapada.

Pedang panjangnya berkilau diterpa cahaya bulan.

Tatapannya tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa.

"Itu dia penyusupnya!"

Pandika segera mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.

Kabut putih yang dikeluarkan Si Maung kembali menyelimuti mereka bertiga.

Namun, Bayusena hanya tersenyum tipis.

"Kabut tidak akan mampu menipu mata yang telah ditempa oleh angin."

Dalam sekejap ia melesat.

Kecepatannya hampir menyamai hembusan badai.

Sraaang!

Pedangnya menebas sosok Pandika.

Namun tubuh itu buyar menjadi kepulan asap.

"Hanya bayangan..." gumam sang panglima.

Pandika ternyata telah bergerak lebih dahulu.

Dengan langkah yang begitu ringan, ia berlari di atas kepala para prajurit yang berbaris rapat, memanfaatkan helm dan perisai mereka sebagai pijakan.

Setiap kali seorang prajurit hendak mengayunkan pedang, Pandika telah berada beberapa tombak di depan.

Di atas pundaknya, Si Maung dan Si Oren tetap mempertahankan wujud kucing kecil.

"Jangan berubah sekarang," bisik Pandika.

"Semakin besar tubuh kalian, semakin mudah kita dikepung."

Keduanya mengangguk.

Sementara itu, di langit malam, pertempuran sengit telah dimulai.

Pasukan elit Garuda Putih mengepakkan sayap kain suci mereka, mengelilingi Garuda Berkepala Tiga dari segala arah.

Anak-anak panah melesat bagaikan hujan.

Tombak-tombak bermata perak berkilauan di udara.

Namun Garuda yang telah pulih sepenuhnya bukan lagi tawanan yang lemah.

Ketiga kepalanya membuka paruh secara bersamaan.

SKRIIIIAAAA!

Pekikan suci itu mengguncang langit.

Gelombang suara menghantam para ksatria udara.

Sayap kain mereka kehilangan keseimbangan.

Satu demi satu mereka jatuh dari udara ke halaman istana, tak mampu bangkit karena tubuh mereka seolah dilumpuhkan oleh kekuatan pekikan Garuda.

Melihat pasukan elitnya terdesak, Senapati Bayusena menghentikan pengejaran terhadap Pandika.

Ia berbalik menatap Garuda.

"Kalau begitu..."

"Aku sendiri yang akan menghadapi monster itu."

Di sisi lain, para pemanah di setiap menara terus melepaskan hujan panah ke arah jembatan yang baru saja dilalui Pandika.

Mereka memang tidak dapat melihat penyusup itu secara jelas, tetapi hembusan angin dan jejak langkah di papan kayu cukup menjadi petunjuk.

Panah-panah menghantam jembatan bertubi-tubi.

Tak! Tak! Tak!

Pandika terus berlari.

Tubuhnya mulai diselimuti asap putih.

Penggunaan Langkah-Langkah Mendominasi dalam waktu lama mulai menguras tenaganya. Kabut yang diciptakan Si Maung pun perlahan menipis hingga akhirnya menghilang sama sekali.

"Kita terlihat!" seru Si Maung.

Tanpa ragu, Si Oren melompat turun dari pundak Pandika.

Tubuhnya membesar seketika menjadi seekor serigala raksasa berbulu jingga.

"Naik!"

Pandika dan Si Maung segera menaiki punggungnya.

Si Oren melesat secepat angin.

Gerakannya berbelok-belok tajam, berlari zig-zag menghindari hujan panah yang terus memburu mereka.

Beberapa anak panah hanya berjarak sejengkal dari tubuh Pandika sebelum menancap di tanah berbatu.

Dengan satu lompatan besar, Si Oren berhasil melewati gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada.

Namun pengejaran belum berakhir.

Di kejauhan, para ksatria elit kembali bangkit dan mulai mengejar mereka.


---

Dari atas pohon besar di luar kerajaan, musang pandan yang sejak tadi menunggu mulai gelisah.

Ia melihat bayangan jingga berlari sekencang angin.

"Itu Si Oren!"

"Celaka... mereka dikejar!"

Tanpa membuang waktu, ia bersiul nyaring.

Garuda peliharaannya segera menukik dari puncak pohon.

Burung raksasa itu terbang sangat rendah, nyaris menyentuh rerumputan.

Saat Si Oren melompat melewati sebuah tebing, Garuda mengulurkan kedua cakarnya yang kokoh.

Dalam satu gerakan yang tepat, ia mengangkat Pandika, Si Maung, dan Si Oren ke udara.

Beberapa anak panah terakhir melintas di bawah mereka tanpa mengenai sasaran.

Dengan kepakan sayap yang perkasa, Garuda membawa mereka menjauh dari Kerajaan Bayu Arcapada, sementara di belakang mereka suara terompet perang masih bergema, menandakan bahwa hilangnya Biji Pohon Dunia dan lolosnya Garuda Berkepala Tiga akan menjadi peristiwa yang dikenang oleh kerajaan negeri langit itu selama bertahun-tahun.
Menjelang fajar, Garuda raksasa terus mengepakkan sayapnya membelah lautan awan. Di punggungnya, Pandika, Si Maung, Si Oren, dan musang pandan akhirnya dapat mengembuskan napas lega.

Di kejauhan, beberapa Ksatria Elit Garuda Putih masih mencoba mengejar. Namun ketika Garuda terbang semakin tinggi, menembus lapisan awan yang tebal dan memasuki arus angin pegunungan, para ksatria itu akhirnya menghentikan pengejaran.

"Terlalu jauh..."

"Kita tidak akan mampu mengejarnya!"

Dengan berat hati mereka berbalik kembali menuju Kerajaan Bayu Arcapada.


---

Tak lama kemudian, rombongan itu tiba kembali di Desa Wangi.

Garuda mendarat dengan anggun di bawah pohon beringin raksasa yang menjadi rumah musang pandan. Begitu kakinya menyentuh tanah, burung agung itu mengibaskan sayapnya hingga dedaunan beterbangan, lalu menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada sahabat lamanya.

Musang pandan segera mengajak semua tamunya masuk ke rumah.

Rumah kayu itu dipenuhi aroma pandan yang harum dan menenangkan.

Di atas meja telah tersaji hidangan sederhana namun menggugah selera.

Segelas arak tape yang hangat.

Serta bolu pandan yang baru matang dari tungku.

"Mari," kata musang pandan sambil tersenyum. "Kita rayakan keberhasilan misi kalian."

Mereka pun duduk melingkari meja.

Tawa memenuhi ruangan ketika Si Oren mulai menceritakan kembali bagaimana ia berpura-pura menjadi penjual roti hingga bagaimana mereka hampir tertangkap oleh para ksatria elit.

"Ekspresi wajah para penjaga saat Garuda mengamuk itu..." ujar Si Oren sambil tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak akan pernah melupakannya."

Pandika ikut tersenyum.

"Kalau bukan karena Garuda dan bantuan kalian, mungkin sekarang kita masih terjebak di istana."

Musang pandan mengangguk.

"Ketika Garuda terbang tinggi melewati awan, para ksatria itu memang tidak punya pilihan selain mundur."

Suasana kembali tenang.

Musang pandan menyesap minumannya sebelum bertanya,

"Kalau begitu... dari sini kalian akan pergi ke mana lagi?"

Si Oren menjawab lebih dulu.

"Tujuan kami berikutnya adalah Kerajaan Vajraningrat, negeri badai dan petir abadi."

Si Maung menggigit sepotong bolu pandan.

Matanya langsung berbinar.

"Wah..."

"Arak tape dan bolu pandan ini luar biasa enaknya."

"Kau benar-benar pandai memasak."

Si Oren tertawa kecil.

"Tentu saja."

"Musang pandan dulu adalah seorang chef yang sangat terkenal."

Musang pandan menggeleng sambil tersipu.

"Jangan membesar-besarkan."

"Aku hanyalah seorang koki biasa... itu pun sudah lama sekali."

Pandika menatapnya penasaran.

"Kalau begitu, mengapa kau berhenti menjadi koki?"

Musang pandan tersenyum tipis.

"Aku merasa kemampuanku mulai tumpul."

"Masakan yang dulu kubanggakan tidak lagi terasa istimewa bagiku."

"Sejak saat itu aku memilih hidup tenang di Desa Wangi."

Si Oren segera menyela.

"Aneh sekali."

"Menurutku tidak mungkin ada orang yang mengatakan masakanmu tidak enak."

Semua tertawa.

Tiba-tiba musang pandan menatap Si Oren dengan wajah pura-pura serius.

"Ngomong-ngomong..."

"Bukankah kau pernah berjanji akan memberiku hadiah?"

Si Oren menepuk dahinya.

"Astaga! Aku hampir lupa."

Ia merogoh kantongnya, lalu mengeluarkan sebutir Buah Pohon Dunia yang memancarkan cahaya lembut.

"Ini hadiah untukmu."

"Semoga kau menyukainya."

Musang pandan menerimanya dengan kedua tangan.

Matanya berbinar penuh rasa syukur.

"Terima kasih, Sahabat."

Belum lama suasana hening, Si Maung kembali membuka pembicaraan.

"Apakah kau bersedia mengantar kami lagi?"

"Kali ini menuju Kerajaan Vajraningrat."

Musang pandan mengusap dagunya sambil tersenyum jahil.

"Itu... tergantung seberapa besar hadiah yang akan kudapat."

Si Maung tertawa.

"Tenang saja."

"Kalau misi ini berhasil, aku akan memberimu hadiah yang jauh lebih istimewa daripada buah itu."

Musang pandan mengangguk pelan.

"Kalau begitu..."

"Besok pagi, saat angin timur mulai bertiup, kita akan kembali mengudara."

Di luar rumah, Garuda raksasa memejamkan matanya di bawah cahaya bulan, beristirahat setelah perjalanan panjang. Sementara jauh di ufuk timur, awan-awan gelap mulai berkumpul, seolah memberi pertanda bahwa Kerajaan Vajraningrat, negeri petir abadi, telah menanti kedatangan mereka.

15/03/26

Season 6 jatmika & portal waktu

Persiapan dilakukan dengan ketelitian yang hampir obsesif. Keselamatan para petarung perusahaan dan para astronot dari NASA menjadi pertimbangan utama. Untuk itu, kapasitas listrik fasilitas teleportasi dinaikkan hingga mendekati batas maksimum yang secara teoritis masih bisa ditahan oleh sistem.
Mesin generator militer yang dipinjam dari Amerika dipasang sebagai sumber energi tambahan. Bahkan dengan semua itu, kebutuhan daya masih berada pada ambang yang sulit dipertahankan. Teleportasi menuju bulan Callisto—salah satu satelit dari Jupiter—ternyata bukan sekadar masalah koordinat ruang, melainkan persoalan energi yang hampir melampaui kemampuan teknologi yang mereka miliki.
Bangunan laboratorium diperkuat kembali setelah insiden sebelumnya. Pada percobaan terdahulu, lonjakan energi yang dilepaskan artefak teleportasi memicu ledakan listrik menyerupai petir buatan. Dinding beton gedung tidak mampu menahannya. Kini seluruh ruang teleportasi dilapisi baja paduan khusus yang dirancang untuk menyerap pelepasan energi ekstrem.
Meski demikian, hasilnya tetap mengecewakan.
Ratusan percobaan telah dilakukan. Dalam setiap percobaan, sistem berhasil mengirimkan objek uji—biasanya boneka sensor—ke koordinat yang telah diprogram menuju Callisto. Namun sistem tidak pernah berhasil mengonfirmasi keberadaan target secara stabil.
Benda-benda itu, dalam istilah teknis yang mulai terasa mengganggu, “hilang dari sistem.”
Pak Toni menatap layar pemantau yang menampilkan grafik energi yang terus naik turun.
“Semua boneka yang kita kirimkan,” katanya pelan, “hilang kontak.”
NASA akhirnya menetapkan batas waktu. Jika teleportasi tidak berhasil sebelum akhir bulan, proyek akan dihentikan.
Di ruang kontrol yang hampir selalu dipenuhi dengung mesin pendingin dan generator listrik, Jatmika berdiri memandangi panel data.
“Apakah sistem Ny. Tien masih tidak bisa mendeteksi keberadaan boneka yang kita kirim?” tanyanya.
Pak Toni menghela napas sejenak sebelum menjawab.
“Kadang sistem mendeteksinya,” katanya. “Masalahnya adalah waktu.”
Ia menunjuk grafik pemrosesan sinyal.
“Untuk jarak sejauh Callisto, pembacaan koordinat mengalami perlambatan ekstrem. Sistem kadang membutuhkan hampir satu hari penuh untuk memastikan posisi objek.”
Jatmika terdiam.
“Jadi… boneka-boneka itu sebenarnya sampai di sana?”
Pak Toni mengangguk perlahan.
“Ya. Sistem akhirnya menemukan mereka.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Tapi ketika koordinat itu akhirnya terbaca, waktu untuk membuka jalur teleportasi balik sudah lewat.”
Dengan kata lain, objek uji itu tidak benar-benar hilang.
Mereka hanya berada terlalu jauh bagi manusia untuk menyusulnya tepat waktu.
Dan kesadaran itu membuat ruangan laboratorium terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.
Di ruang laboratorium utama, sistem pemindaian artefak sedang berjalan dalam mode analisis mendalam. Cahaya biru kehijauan dari perangkat sensor memantul di permukaan logam meja penelitian, sementara data energi mengalir di layar-layar transparan.
Keris itu terletak di tengah meja.
Ketika sistem pengukuran diaktifkan, sesuatu yang tak terduga muncul pada grafik energi.
Pola gelombangnya tidak asing.
Jatmika menatap layar dengan dahi berkerut.
“Ny. Tien,” katanya perlahan, “apakah energi dari keris ini cocok dengan energi yang digunakan sistem teleportasi?”
Beberapa detik berlalu sebelum AI itu menjawab dengan suara yang tenang.
“Analisis spektrum energi menunjukkan kesamaan sebesar 97,3 persen dengan pola energi artefak lampu teleportasi.”
Ruangan menjadi sunyi.
John adalah orang pertama yang memecah keheningan.
“Kalau begitu…” katanya pelan, hampir seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri, “keris itu bukan sekadar benda pusaka.”
Ia memandang Jatmika.
“Energinya identik dengan sistem teleportasi kita.”
Jatmika masih menatap layar.
“Ny. Tien,” katanya lagi, “apakah artefak lampu dapat mendeteksi keberadaan keris ini sebagai bagian dari sistem?”
AI itu menjawab tanpa ragu.
“Ya. Sistem teleportasi dapat mengenali keris tersebut sebagai sumber energi yang kompatibel.”
John menghela napas panjang.
“Tidak salah lagi,” ujarnya. “Kalau sistem ini membutuhkan sumber energi seperti itu, mungkin hanya kamu yang bisa melakukan percobaan teleportasi ke Callisto.”
Callisto—salah satu bulan dari Jupiter—kembali menjadi tujuan yang selama ini terasa terlalu jauh.
Namun Pak Toni segera menggelengkan kepala.
“Tunggu dulu,” katanya tegas. “Ini terlalu berisiko.”
Ia menunjuk grafik energi yang masih bergerak di layar.
“Kita belum memahami sepenuhnya bagaimana artefak itu bekerja. Menggunakannya langsung untuk teleportasi jarak planet bisa berakhir sangat buruk.”
John tidak membantah, tetapi ia mengingatkan sesuatu yang tidak kalah penting.
“Waktu kita terbatas,” katanya. “NASA sudah memberi tenggat. Jika kita tidak berhasil sebelum akhir bulan, mereka bisa saja mencabut dukungan mereka dari proyek ini.”
Ruangan kembali hening.
Pak Toni akhirnya menyilangkan tangan, berpikir sejenak sebelum berbicara lagi.
“Baik,” katanya.
“Tapi kita tidak akan melakukannya sekarang.”
Ia berbalik menuju konsol utama sistem.
“Tunggu sampai aku selesai memperbarui algoritma sistem teleportasi. Aku ingin memastikan bahwa jaringan energi antara artefak lampu dan keris ini bisa disinkronkan dengan aman.”
Ia menatap Jatmika dan John secara bergantian.
“Setelah itu,” lanjutnya, “barulah kita mempertimbangkan percobaan teleportasi menggunakan keris tersebut.”
Di layar laboratorium, grafik energi keris masih berdenyut perlahan—seperti sesuatu yang telah menunggu sangat lama untuk digunakan kembali.

Beberapa jam setelah analisis energi dilakukan, sistem akhirnya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak dipahami oleh para peneliti.
Ny. Tien memproses ulang data dari keris dan artefak lampu teleportasi. Ketika pola energinya dibandingkan, kesamaannya tidak hanya berada pada spektrum daya.
Ada pola lain yang lebih spesifik.
“Analisis tambahan menunjukkan kemungkinan fungsi lain dari artefak keris,” ujar Ny. Tien dengan suara yang tetap tenang.
Jatmika dan John menoleh ke layar.
“Apa maksudmu?” tanya Jatmika.
“Pola resonansi energi keris tidak hanya kompatibel dengan sistem teleportasi,” lanjut AI itu. “Ia juga mengandung struktur koordinat yang menyerupai sistem navigasi kuno.”
John mendekat ke layar, membaca grafik yang muncul.
“Seperti kunci?” katanya pelan.
“Interpretasi tersebut memiliki tingkat probabilitas sebesar 82 persen.”
Jika analisis itu benar, maka keris tersebut bukan sekadar artefak energi.
Ia adalah kunci koordinat—sebuah perangkat yang mungkin digunakan oleh peradaban Mythopia untuk menentukan tujuan teleportasi mereka.
Tak lama setelah itu, Pak Toni akhirnya keluar dari ruang kontrol utama. Ia baru saja menyelesaikan sinkronisasi sistem antara artefak lampu dan keris.
“Algoritma navigasi sudah diperbarui,” katanya.
Ia menatap mereka berdua dengan ekspresi serius.
“Kita siap melakukan uji coba.”
Namun sebelum percobaan itu dimulai, sesuatu yang aneh terjadi pada Jatmika.
Di ruang istirahat laboratorium, ia sempat tertidur tanpa sengaja.
Dalam tidurnya, ia melihat sebuah pemandangan yang terasa begitu jelas—terlalu jelas untuk sekadar disebut mimpi.
Ia berdiri di sebuah dataran batu yang luas. Kabut tipis bergerak perlahan di sekitar kaki para prajurit yang berbaris dengan tenang. Mereka mengenakan armor yang dihiasi ukiran kuno, dan di tangan masing-masing terdapat keris yang memancarkan cahaya lembut.
Para ksatria itu tampak bersiap melakukan sesuatu.
Kemudian satu per satu dari mereka mengangkat kerisnya.
Udara di depan mereka terbelah seperti permukaan air yang digerakkan oleh tangan yang tak terlihat. Cahaya putih muncul, membentuk pintu yang berkilau.
Para ksatria itu melangkah masuk ke dalamnya.
Teleportasi.
Di antara barisan itu, seorang pria melangkah maju. Ia mengenakan armor yang lebih rumit daripada yang lain. Di kepalanya terdapat mahkota sederhana yang terbuat dari logam gelap.
Ketika ia berbicara, suaranya terdengar tenang namun memiliki wibawa yang sulit dijelaskan.
“Aku adalah raja dari Mythopia.”
Jatmika tidak tahu bagaimana ia bisa memahami kata-kata itu, tetapi maknanya terasa jelas di dalam pikirannya.
“Kami meninggalkan warisan ini untuk masa depan,” lanjut sang raja. “Warisan Nusantara harus dijaga.”
Ia menatap langsung ke arah Jatmika.
“Engkau terpilih bukan karena darah keturunan,” katanya. “Tetapi karena kemampuanmu setara dengan para ksatria kami.”
Pemandangan itu memudar perlahan.
Dan tak lama kemudian, Jatmika terbangun.
“Jatmika.”
Suara John memanggilnya dari dekat.
Ia membuka mata dan menyadari bahwa dirinya kembali berada di ruang laboratorium.
John berdiri di sampingnya.
“Sistem sudah siap,” katanya.
Di ruang kontrol, Pak Toni menunggu di depan panel utama.
“Sebelum kita mulai,” ujar Pak Toni, “aku harus menanyakan satu hal.”
Ia menatap Jatmika dengan serius.
“Percobaan ini berisiko tinggi. Jika koordinatnya salah, kita mungkin tidak bisa menarikmu kembali.”
Ruangan menjadi sunyi.
Jatmika bangkit perlahan dari kursinya.
“Aku siap,” katanya.
John memperhatikan wajahnya.
“Kamu kelihatan lebih tenang,” ujar John.
Jatmika mengangguk pelan.
“Aku baru saja bermimpi.”
“Mimpi?”
Jatmika ragu sejenak sebelum menjawab.
“Aku bertemu seseorang yang mengaku sebagai raja Mythopia.”
Ia menghela napas pelan.
“Mungkin itu hanya bunga tidur.”
Namun ketika ia mengingat kembali kata-kata yang didengarnya dalam mimpi itu, perasaan yang muncul bukanlah keraguan.
“Entah kenapa,” katanya pelan, “mimpi itu terasa… nyata.”
Di ruang kontrol, keris yang diletakkan di dalam lingkaran teleportasi mulai memancarkan cahaya merah yang perlahan semakin terang—seolah-olah sistem yang telah lama tertidur akhirnya menemukan kembali tujuannya.

Malam itu laboratorium terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Para peneliti dari NASA sudah kembali ke penginapan mereka, meninggalkan ruang kontrol yang kini hanya diisi oleh tiga orang: Jatmika, John, dan Pak Toni.
Jatmika memandang ruang teleportasi yang diterangi cahaya artefak lampu.
“Kurasa kita bisa melakukan percobaan ini tanpa mereka,” katanya pelan. “Para peneliti NASA sudah pulang.”
Pak Toni tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati panel energi yang menampilkan grafik konsumsi listrik yang terus meningkat.
Di ruang ganti kecil yang terletak di samping laboratorium, Jatmika mengenakan armor lama yang selama ini disimpan di lemari kantornya—armor yang pernah ia temukan bersama artefak dari gua teleportasi. Di atasnya, ia mengenakan pakaian astronot modern yang dibuat oleh NASA.
Kombinasi itu terasa aneh.
Namun entah mengapa, ia merasa seolah sedang mengikuti sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.
Persis seperti dalam mimpinya.
Ia mengenakan cincin batu merah di jarinya. Di tangannya ia menggenggam keris yang kini menjadi pusat dari seluruh eksperimen itu.
Pak Toni menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis.
“Apakah kamu sudah membuat wasiat sebelum perjalanan ini?” tanyanya setengah bercanda.
Jatmika tertawa kecil.
“Tentu saja,” jawabnya. “Sebagian hartaku untuk keluargaku. Sebagian lagi untuk membantu korban bencana di Sumatra.”
John yang berdiri di dekat konsol navigasi menatap ruang teleportasi dengan ekspresi serius.
“Apakah ini saatnya,” katanya perlahan, “teleportasi pertama manusia ke Callisto?”
Callisto—salah satu bulan dari Jupiter—terletak hampir dua miliar kilometer dari Bumi.
Pak Toni memeriksa kembali indikator sistem.
“Aku rasa semuanya akan baik-baik saja,” katanya akhirnya. “Sistem bekerja sempurna.”
Namun sebelum percobaan utama dimulai, ia mengangkat tangan.
“Kita mulai dengan tes kecil dulu.”
John mengangguk.
“Ny. Tien, siapkan koordinat uji.”
Lampu indikator di ruang kontrol menyala.
“Koordinat diterima,” jawab Ny. Tien. “Perhitungan navigasi dimulai.”
Hitung mundur dimulai.
Artefak lampu di ruang teleportasi perlahan berubah warna—dari merah redup menjadi kuning keemasan. Energi listrik mulai berderak di udara, seperti petir kecil yang muncul di antara permukaan logam.
Jatmika mengangkat kerisnya.
Pada saat yang sama, keris itu memancarkan energi listrik yang menjalar di sepanjang bilahnya.
Lalu sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya terjadi.
Tubuh Jatmika menghilang—lalu muncul kembali.
Lalu menghilang lagi.
Dalam beberapa detik saja, sistem teleportasi memindahkannya ke sepuluh lokasi berbeda yang telah diprogram sebagai uji coba. Semua perpindahan itu terjadi begitu cepat hingga hampir tidak terlihat oleh mata manusia.
Kemudian, dalam kilatan cahaya terakhir, Jatmika kembali berdiri di ruang laboratorium.
Pak Toni menatap layar dengan napas tertahan.
“Aku melihat sistem bekerja tanpa jeda waktu,” katanya pelan. “Artefak keris itu benar-benar berfungsi.”
Jatmika tampak sedikit bingung.
“Benarkah?” katanya. “Aku merasa seperti melihat cahaya emas… dan cahaya itu menyatu ke dalam tubuhku. Hangat.”
Pak Toni segera menunjuk ke pemindai artefak.
“Biarkan sistem memeriksa tubuhmu.”
Cahaya dari artefak lampu menyapu tubuh Jatmika dari kepala hingga kaki.
Beberapa detik kemudian suara Ny. Tien terdengar.
“Hasil pemindaian menunjukkan kondisi tubuh subjek stabil. Tingkat kesehatan: 100 persen.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan.
“Terdapat gelombang energi yang kuat terdeteksi di area dada dan perut.”
Pak Toni dan John saling memandang.
Pak Toni akhirnya menarik napas panjang.
“Baiklah,” katanya. “Saatnya kita melakukan percobaan sebenarnya.”
John berdiri di konsol navigasi.
“Ny. Tien, tentukan koordinat tujuan.”
“Koordinat menuju Callisto sedang dihitung.”
Di seluruh gedung perusahaan, lampu mulai berkedip. Sistem listrik bekerja pada kapasitas maksimum karena AI itu menggunakan hampir seluruh energi yang tersedia.
Artefak lampu di ruang teleportasi kembali menyala.
Merah.
Kemudian berubah menjadi kuning keemasan yang jauh lebih terang dari sebelumnya.
Energi listrik berderak di udara seperti badai kecil.
Jatmika berdiri di tengah lingkaran teleportasi. Ia mengangkat kerisnya tinggi-tinggi.
Dengan suara yang menggema di dalam ruangan, ia berteriak:
“Callisto… aku datang.”
Dan untuk sesaat, seolah-olah seluruh ruang di sekitarnya menahan napas.
Teleportasi itu terjadi begitu cepat hingga tidak menyisakan pengalaman yang bisa sepenuhnya dipahami oleh indra manusia.
Di laboratorium, tubuh Jatmika telah lama menghilang. Namun jejaknya tidak benar-benar lenyap. Kilatan listrik masih menari di udara, seperti sisa dari sesuatu yang belum sepenuhnya selesai. Bahkan satu jam setelahnya, sensor masih mencatat residu energi yang berdenyut pelan.
Di sisi lain, Ny. Tien kehilangan jejak navigasi.
Koordinat terakhir Jatmika tercatat, tetapi setelah itu—tidak ada apa-apa.
Seolah-olah ia telah berpindah ke tempat yang berada di luar jangkauan sistem.
Ketika kesadaran Jatmika kembali, hal pertama yang ia rasakan bukanlah dingin, melainkan ringan.
Ia berdiri.
Atau setidaknya, ia mencoba berdiri.
Gravitasi di tempat itu terasa berbeda—tidak cukup kuat untuk menahannya sepenuhnya, namun cukup untuk membuatnya tetap berpijak. Setiap langkah yang ia ambil membuat tubuhnya sedikit terangkat, seperti bergerak di dalam mimpi yang terlalu lambat.
Ia menoleh ke sekeliling.
Sebuah gua.
Namun bukan gua seperti yang ia kenal di Bumi.
Dindingnya halus, hampir seperti dipahat dengan presisi yang mustahil dilakukan secara alami. Cahaya samar memancar dari batuan di sekitarnya—bukan cahaya putih atau biru, melainkan cahaya redup yang memiliki rona kehijauan.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah artefak.
Bentuknya berbeda dari artefak lampu yang ia kenal di Bumi. Struktur utamanya lebih besar, dengan cabang-cabang kristal yang menyebar seperti akar yang membeku di dalam waktu.
Artefak itu tidak hanya memancarkan cahaya.
Ia berdenyut.
Seperti sesuatu yang hidup.
Jatmika menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
“Ny. Tien?” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak ada respons.
Saat itu ia menyadari sesuatu yang sederhana namun mengganggu: koneksinya dengan Ny. Tien telah terputus.
Ia sendirian.
Di Callisto—bulan dari Jupiter yang selama ini hanya ia lihat dalam data dan simulasi.
Jatmika mulai bergerak, perlahan, berhati-hati dengan setiap langkah yang bisa membuatnya melayang lebih tinggi dari yang ia inginkan. Ia menyusuri lorong gua, berharap menemukan sesuatu—apa pun yang bisa menjelaskan tempat ini.
Dan ia menemukannya.
Sebuah ruangan.
Berbeda dari bagian gua lainnya.
Ruang itu memiliki struktur yang terlalu teratur untuk disebut alami. Permukaannya datar, sudut-sudutnya presisi, dan pola pada dindingnya tersusun dalam bentuk yang berulang.
Futuristik.
Namun pada saat yang sama, terasa kuno.
Seolah-olah teknologi dan sejarah bertemu di satu titik yang sama.
“Apakah ini buatan manusia…” gumamnya pelan.
Ia berhenti sejenak.
“Atau sesuatu yang lain?”
Di dinding ruangan itu terdapat relief—barisan simbol yang diukir dengan sangat halus. Jatmika mendekat, mencoba memahami bentuk-bentuk tersebut.
Beberapa simbol tampak familiar.
Seperti variasi dari pola yang pernah ia lihat di gua-gua di Bumi.
Namun sebagian besar tidak dapat ia pahami.
Seolah-olah ia hanya melihat sebagian kecil dari sebuah bahasa yang lebih besar.
Ia menyentuh salah satu ukiran itu.
Dingin.
Nyaris tidak terasa sebagai benda padat.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di sana, menyadari satu hal yang sederhana namun penting.
Teleportasi itu berhasil.
Ia telah sampai.
Namun keberhasilan itu segera diikuti oleh pertanyaan yang jauh lebih sulit.
Bagaimana cara kembali?
Dan untuk pertama kalinya sejak ia memulai perjalanan ini, Jatmika menyadari bahwa mungkin—tidak semua perjalanan diciptakan dengan jaminan untuk pulang.
Pagi di laboratorium terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah seluruh sistem menahan napas. Padahal layar-layar tetap menyala, grafik tetap bergerak, dan Ny. Tien terus melakukan perhitungan tanpa henti. Namun bagi Pak Toni, keheningan itu bukan ketiadaan suara—melainkan ketiadaan kepastian.
Jejak Jatmika masih belum stabil. Ia seperti ada, namun tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh sistem.
Di sisi lain ruangan, John berhadapan dengan delegasi NASA. Percakapan mereka tidak berlangsung keras, tetapi setiap kata mengandung tekanan yang sulit diabaikan.
Michael, perwakilan senior itu, berbicara dengan nada yang ditahan.
“Kalian mengirim manusia… dalam sistem yang bahkan belum bisa menjamin sinkronisasi waktu,” katanya. “Itu bukan eksperimen. Itu perjudian.”
John tidak segera menjawab. Ia memahami bahwa dalam kerangka pikir Michael, teleportasi hanyalah persoalan koordinat dan energi. Namun apa yang mereka hadapi kini—lebih menyerupai bahasa yang belum sepenuhnya dipahami.
“Kami tidak sepenuhnya buta,” jawab John akhirnya. “Kami hanya… membaca sesuatu yang belum sempat dijelaskan oleh sains modern.”
Michael menghela napas, seolah mencoba menerima kemungkinan yang tidak ia sukai.
Lalu, tanpa peringatan, suara sistem terdengar.
“Deteksi ulang berhasil.”
Semua kepala menoleh.
Grafik yang sebelumnya kacau kini mulai membentuk pola. Titik koordinat muncul kembali—lemah, berdenyut, namun konsisten.
“Subjek teridentifikasi,” lanjut Ny. Tien. “Lokasi: Callisto. Bersama objek tambahan… 147 unit.”
“Boneka,” gumam Pak Toni, hampir tidak terdengar. “Semua yang kita kirim… masih ada.”
Kesunyian berubah bentuk. Kini bukan lagi ketidakpastian—melainkan keputusan yang harus diambil.
Michael melangkah maju.
“Kita tidak bisa lagi menunggu,” katanya. “Jika dia hidup di sana, maka kita harus memastikan.”
Ia menatap langsung ke arah inti sistem, seolah berbicara kepada sesuatu yang lebih dari sekadar mesin.
“Kirim saya ke sana.”
Pak Toni menggeleng pelan. “Kita belum tahu stabilitas jalurnya. Bahkan untuk menarik satu objek saja, sistem membutuhkan waktu—”
“Waktu adalah hal yang relatif dalam kasus ini,” potong Michael. “Dan jika kalian benar tentang… perbedaan sinkronisasi itu, maka setiap detik di sini bisa berarti jam di sana.”
John memandang Pak Toni. Tidak ada kata yang diucapkan, tetapi keduanya memahami: ini bukan lagi eksperimen perusahaan. Ini telah menjadi titik temu antara keyakinan dan konsekuensi.
Akhirnya, Pak Toni mengangguk.
“Ny. Tien, siapkan jalur dua arah. Prioritas: pemulangan instan.”
“Perintah diterima.”
Lampu di seluruh laboratorium meredup, bukan karena kekurangan daya, tetapi karena energi sedang dialihkan ke satu titik. Artefak menyala—merah, lalu keemasan—seperti mengingat sesuatu yang jauh lebih tua dari listrik itu sendiri.
Michael mengenakan helmnya.
“Jika saya tidak kembali,” katanya singkat, “lanjutkan tanpa saya.”
“Semua yang dikirim akan kembali,” jawab John pelan. “Itu prinsip sistem ini.”
Michael tidak menjawab. Ia hanya berdiri di dalam lingkaran energi, menunggu.
Hitungan mundur dimulai.
Di saat yang sama, Pak Toni memasukkan parameter baru—sesuatu yang belum pernah diuji sebelumnya.
“Durasi keberadaan target: satu detik,” katanya.
John menatapnya. “Satu detik?”
“Cukup untuk menarik dua kesadaran kembali,” jawab Pak Toni. “Jika… mereka masih sinkron.”
Kilatan pertama muncul—lebih terang dari sebelumnya.
Dan dalam satu momen yang hampir tidak bisa dibedakan antara terjadi atau tidak, Michael menghilang.
Namun kali ini, tidak seperti sebelumnya—
jejak petir tidak bertahan lama.
Ia lenyap… seolah sistem akhirnya belajar cara menutup luka ruang yang selama ini ia buka.
Di Callisto, waktu terasa seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya bergerak maju. Ia mengalir, tetapi tidak selalu searah dengan yang dipahami manusia.
Jatmika berdiri di dalam ruang batu yang telah ia dokumentasikan dengan cermat—relief, pola, dan tata ruang yang tampak seperti perpaduan antara arsitektur purba dan teknologi yang belum pernah ia kenal. Setiap garis ia rekam, seolah-olah takut bahwa pemahaman akan tempat ini bisa hilang begitu saja jika tidak segera ditangkap.
Ia melirik indikator oksigen di pergelangan tangannya.
Sembilan puluh persen.
Masih cukup. Untuk sekarang.
Namun pertanyaan yang lebih mendesak tidak berkaitan dengan udara, melainkan arah.
Bagaimana cara kembali?
Ia menoleh ke tumpukan boneka yang telah ia kumpulkan. Semua objek uji itu tetap utuh, diam, dan tak memberi jawaban. Mereka adalah bukti bahwa teleportasi berhasil—dan pada saat yang sama, bukti bahwa keberhasilan tidak menjamin kepulangan.
Langkahnya membawa ia kembali ke artefak.
Artefak lampu di ruangan itu berbeda dari yang ada di Bumi. Lebih besar, lebih kompleks, dan—yang paling mengganggu—lebih responsif terhadap kehadirannya.
Jatmika mengangkat kerisnya.
Ketika bilah itu mendekati artefak, muncul percikan kecil—listrik statis yang tidak cukup kuat untuk melukai, tetapi cukup untuk menunjukkan adanya pengenalan.
Ia tidak menarik tangannya.
Sebaliknya, ia mendekatkan keris itu lebih jauh.
Artefak itu bereaksi.
Cahaya merah muncul terlebih dahulu, seperti peringatan. Lalu berubah menjadi kuning keemasan—warna yang telah ia kenal sebagai tanda aktivasi.
Dan tanpa transisi yang jelas, ruang di depannya terlipat.
Seseorang muncul.
Michael.
Ia berdiri dengan sedikit goyah, pakaian astronotnya masih menyimpan sisa energi teleportasi yang berkilat samar di permukaan.
Jatmika mundur satu langkah, bukan karena takut, melainkan karena pikirannya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
“Mengapa… mereka mengirim Anda?” tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Michael.
Michael belum sempat menjawab.
Artefak itu kembali berubah.
Kali ini lebih terang.
Cahaya hijau muncul—warna yang belum pernah dilihat Jatmika dalam proses teleportasi sebelumnya.
Keris di tangannya mulai bergetar.
Bukan seperti benda yang akan terlepas, tetapi seperti sesuatu yang sedang menerima—atau mungkin menyerap.
Listrik statis di ruangan itu berkumpul, mengalir menuju bilah keris, lalu menghilang ke dalamnya. Untuk sesaat, Jatmika merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan—bukan panas, bukan dingin, melainkan sensasi bahwa tubuhnya sedang diselaraskan dengan sesuatu yang lebih besar.
Dan kemudian—
suara itu kembali.
“Sinkronisasi tercapai.”
Ny. Tien.
Jatmika menutup matanya sejenak, bukan karena lelah, tetapi karena lega.
“Koneksi stabil. Jalur pulang tersedia.”
Ia membuka matanya kembali.
Michael menatapnya, kali ini dengan ekspresi yang tidak lagi sepenuhnya skeptis.
“Jadi… ini bukan sekadar mesin,” katanya pelan.
Jatmika menggeleng tipis.
“Ini… lebih seperti sistem yang mengingat kita.”
Tidak ada waktu untuk penjelasan lebih lanjut.
Artefak itu telah mencapai puncak energinya. Cahaya keemasan kini bercampur dengan hijau, membentuk pola yang tidak lagi acak—melainkan terarah.
Jatmika menggenggam kerisnya lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti pengguna teknologi.
Ia merasa seperti bagian darinya.
“Sekarang,” kata Ny. Tien.
Cahaya itu menyambar.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini tidak ada sensasi terpecah atau terlempar. Yang ada hanyalah satu momen singkat di mana ruang dan tubuh tampak sepakat untuk berpindah bersama.
Dan kemudian—
mereka kembali.
Laboratorium muncul kembali di sekeliling mereka, lengkap dengan suara mesin, cahaya lampu, dan napas manusia yang akhirnya terdengar lagi.
Tidak ada sorakan besar.
Tidak ada perayaan instan.
Hanya keheningan sesaat yang dipenuhi kesadaran sederhana:
Mereka telah pergi terlalu jauh—
dan berhasil pulang.
Namun, di dalam genggaman Jatmika, keris itu masih terasa hangat.
Seolah perjalanan itu belum benar-benar selesai.
Kembalinya Jatmika dan Michael bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase pemahaman yang lebih rumit.
Di laboratorium, artefak masih menyisakan cahaya redup—seolah sistem itu sendiri sedang memulihkan diri setelah memanggil sesuatu dari jarak yang terlalu jauh untuk dianggap wajar. Ratusan boneka uji tersusun kembali, utuh, menjadi bukti bahwa eksperimen itu berhasil secara teknis.
Namun tidak semua yang kembali bisa langsung dianggap aman.
Pada permukaan pakaian astronot, tim dari NASA menemukan residu cahaya hijau—bukan sekadar pantulan energi, melainkan jejak radiasi yang tidak sepenuhnya dikenal. Ia tidak agresif, tidak langsung merusak, tetapi cukup asing untuk menuntut kehati-hatian.
“Ini bukan radiasi biasa,” ujar salah satu peneliti, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Seolah… membawa pola.”
Tanpa banyak perdebatan, keputusan diambil.
Karantina.
Jatmika dan Michael dipisahkan dalam ruang khusus, dilapisi material yang bahkan belum pernah digunakan sebelumnya di laboratorium itu. Bagi Jatmika, ruangan itu terasa lebih sunyi daripada gua di Callisto—karena di sini, ia memiliki terlalu banyak waktu untuk berpikir.
Sementara itu, di ruang analisis utama, pekerjaan yang berbeda sedang berlangsung.
Dokumentasi yang dibawa Jatmika diproyeksikan ke layar besar: relief, simbol, dan struktur ruang yang sebelumnya hanya bisa ditebak kini menjadi data yang bisa dipelajari.
Wen Shuyuan berdiri di depan layar, memperhatikan setiap detail dengan kesabaran seorang yang terbiasa membaca sesuatu yang tidak ingin dibaca.
Ia tidak langsung berbicara.
Ia menunggu—seolah memastikan bahwa apa yang ia pahami benar-benar stabil di dalam pikirannya.
“Apa yang kita lihat ini,” akhirnya ia berkata, “bukan sekadar bahasa.”
Ia menunjuk pada rangkaian simbol yang berulang.
“Ini adalah instruksi.”
Ruangan menjadi lebih hening.
“Lebih tepatnya,” lanjutnya, “ini adalah sistem operasi.”
Kata-kata itu menggantung, berat, karena konsekuensinya.
“Teleportasi yang kita kembangkan,” tambahnya pelan, “mungkin hanya sebuah… antarmuka sederhana dari sesuatu yang jauh lebih besar.”
John menyilangkan tangan, mencoba menyusun ulang pemahamannya.
“Maksud Anda… mereka tidak hanya berpindah tempat di Bumi?”
Wen Shuyuan menggeleng tipis.
“Jika sistem ini benar-benar utuh seperti yang saya duga,” katanya, “maka kerajaan Mythopia tidak hanya memahami ruang.”
Ia berhenti sejenak.
“Mereka memahami jarak… sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan.”
Di sudut ruangan, Pak Toni memperhatikan tanpa menyela. Ia telah melihat cukup banyak keajaiban dalam beberapa bulan terakhir, namun kali ini terasa berbeda.
“Jadi… mereka sudah sampai ke luar angkasa?” tanya John.
“Bukan ‘sampai’,” jawab Wen Shuyuan. “Mungkin… mereka tidak pernah menganggap itu sebagai tujuan yang jauh.”
Keheningan kembali hadir, tetapi kali ini dipenuhi kemungkinan.
Akhirnya, John menarik napas panjang.
“Kalau begitu,” katanya, “dengan hasil ini… kemungkinan besar kerja sama dengan NASA akan diperpanjang.”
Ia tidak terdengar optimis, hanya realistis.
Pak Toni mengangguk pelan.
“Kita lihat nanti,” jawabnya. “Semua tergantung pada satu hal.”
Ia menatap ke arah ruang karantina, meskipun dinding memisahkan pandangannya.
“Bagaimana kondisi Jatmika… setelah semua ini.”
Di dalam ruang karantina, Jatmika duduk diam.
Cahaya hijau itu masih samar terlihat di permukaan baju astronotnya—seperti sisa dari sesuatu yang belum sepenuhnya pergi.
Ia menatap tangannya sendiri.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia mulai menyadari satu hal yang lebih mengganggu daripada radiasi apa pun:
Perjalanan itu mungkin tidak hanya mengubah tempatnya berada—
tetapi juga cara dirinya dikenali oleh sistem yang lebih tua dari sejarah manusia.

20/02/26

Season 5 Kisah Pandika dari Kerajaan Cakram

Setelah menunaikan tugasnya di dunia peri, Pandika kembali menapakkan kaki di tanah Majapahit bersama si Maung. Namanya kini mulai berembus dari mulut ke mulut—dikenal sebagai penolong rakyat yang pernah menumpas para penculik dan penjahat di lorong-lorong gelap kota. Namun bagi Pandika, kemasyhuran hanyalah bayang yang berlalu; hatinya tetap mencari perjalanan baru.
Suatu petang, ketika matahari condong ke barat dan langit berwarna tembaga, si Maung berkata dengan suara dalam namun bersahabat,
“Wahai Pandika, sudah lama engkau menemaniku dalam perjalananmu. Kini izinkan aku membawamu ke tanah asalku—Gunung Leuser—tempat akar sejarahku bermula.”
Pandika tersenyum. “Aku belum pernah menapaki Gunung Leuser. Hatiku memang ingin melihatnya. Mari kita berangkat.”
Maka berlarilah si Maung dengan kecepatan yang hanya dimiliki makhluk penjaga zaman purba. Mereka melesat menembus rimba yang lebat, melewati batang-batang pohon tinggi yang menjulang seperti tiang istana hutan, dan menyibak semak belukar yang berkilau oleh embun.
Setelah perjalanan panjang, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi. Di sana terbentang suatu pemandangan yang membuat Pandika terdiam.
Desa itu… penuh dengan kucing.
Ratusan, bahkan ribuan kucing liar berkeliaran dengan bebas. Ada yang memanjat pohon tinggi dengan lincah, ada yang mengendap menangkap tikus di rerumputan, dan ada pula yang duduk tenang memandangi langit seakan sedang bermeditasi. Namun tak satu pun manusia tampak di sana.
“Jadi… di manakah rumahmu?” tanya Pandika heran.
“Tidak jauh lagi,” jawab si Maung sambil berjalan menuju sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti tirai alam. “Di balik pohon itu.”
Di sanalah berdiri Desa Kucing, rumah-rumahnya tersusun dari daun besar, ranting, dan semak yang dirangkai dengan keterampilan mengagumkan. Bentuknya melengkung dan berlapis, seakan tumbuh alami dari tanah, bukan dibangun oleh tangan biasa.
Tiba-tiba seekor kucing belang mendekat dan berkata,
“Salam datang, Raja.”
Pandika terperanjat. “Mereka… berbicara?”
Si Maung menoleh dengan sorot mata tenang. “Karena engkau bersamaku, engkau aman dan dapat memahami bahasa kami.”
Ia kemudian berdiri tegap di tengah desa itu. “Akulah Raja Kucing di lembah ini. Beratus-ratus abad lamanya aku menjaga wilayah ini dari ancaman luar.”
Pandika memandangnya dengan takjub yang tak tersembunyi.
Ketika ia memasuki kediaman sang raja, keheranannya bertambah. Interior rumah itu indah dan anggun—dindingnya dihiasi anyaman daun halus, karpet lembut membentang di lantai, dan lukisan-lukisan tergantung rapi, menggambarkan hutan, bulan, dan sosok-sosok peri.
“Dari mana semua ini?” tanya Pandika perlahan.
“Hadiah dari bangsa peri,” jawab si Maung. “Sebagai balasan atas tugas-tugas yang kuselesaikan bagi mereka.”
Pandika mengangguk kagum, lalu—dengan nada setengah bercanda—bertanya,
“Jadi… apakah engkau telah memiliki pasangan? Maksudku, seorang permaisuri?”
Si Maung mengibaskan ekornya dengan anggun.
“Permaisuriku ada seratus. Dan anak-anakku… lebih dari seribu.”
Pandika terdiam sejenak, lalu tertawa kecil penuh keheranan.
“Benar-benar luar biasa, sahabatku.”
Di luar, angin Gunung Leuser berhembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan tua. Namun di balik kehangatan desa kucing itu, takdir baru tampaknya mulai berdenyut—sebab setiap kerajaan, sekecil apa pun, selalu menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Malam turun perlahan di lembah Gunung Leuser. Kabut tipis merayap dari sela-sela akar beringin tua, dan bulan menggantung pucat di antara puncak-puncak pohon. Desa Kucing yang siang tadi riuh oleh lompatan dan dengkuran kini diselimuti keheningan waspada.
Pandika sedang duduk di beranda rumah daun sang Raja ketika si Maung tiba-tiba mengangkat kepalanya. Bulu di tengkuknya meremang.
“Ada yang salah,” gumamnya pelan.
Angin berubah arah.
Dari kejauhan terdengar suara yang bukan suara hutan—bukan desir daun, bukan pula langkah rusa. Itu seperti bisikan panjang, serak, dan dingin… seolah bayangan sendiri sedang bergerak.
Seekor kucing penjaga berlari tergesa.
“Paduka! Dari sisi utara! Bayangan hitam turun dari pepohonan!”
Belum sempat kata-kata itu selesai, langit di atas lembah meredup, seakan awan gelap menelan cahaya bulan. Dari antara batang-batang pohon meluncur sosok-sosok tinggi kurus, tubuhnya seperti asap pekat, matanya merah menyala bagai bara yang ditiup angin malam.
Mereka bukan hewan. Bukan pula roh biasa.
“Makhluk Bayang Hutan,” desis si Maung. “Mereka pelayan kegelapan purba… dan sudah lama tidak berani mendekat ke wilayahku.”
Salah satu makhluk melompat turun ke tanah. Rumput yang disentuhnya menghitam dan layu. Seekor anak kucing yang terlalu lambat menghindar nyaris tersentuh kabut hitam sebelum Pandika bergerak.
Kilatan cahaya pedang memecah malam.
Pandika melangkah maju, bilahnya menyala lembut oleh cahaya bulan yang terpantul.
“Berlindunglah di dalam rumah-rumah!” serunya kepada para kucing. “Tutup semua pintu daun!”
Si Maung mengaum—raungan yang mengguncang akar-akar tanah. Seketika puluhan kucing dewasa membentuk barisan melingkar, mata mereka memancarkan cahaya hijau keemasan. Mereka bukan sekadar penghuni desa; mereka adalah penjaga yang terlatih dalam seni kuno cakar dan lompatan.
Makhluk bayangan menyerbu.
Pertempuran pun meletus.
Pandika bergerak seperti saat di dunia roh—langkahnya ringan, menghindar dan menyergap. Setiap ayunan pedang menorehkan cahaya yang membuat tubuh bayangan terbelah dan menguap menjadi asap tipis. Namun untuk setiap satu yang tumbang, dua lagi muncul dari kegelapan hutan.
Si Maung menerjang pemimpin mereka—sosok paling tinggi dengan tanduk kabut melengkung di kepalanya. Cakar sang Raja Kucing menyala perak ketika menghantam dada makhluk itu. Benturan mereka menimbulkan gelombang angin yang menjatuhkan dedaunan dari pohon-pohon.
“Ini bukan serangan biasa!” teriak Pandika di sela pertempuran. “Mereka dipanggil!”
Si Maung menggeram, mendorong lawannya mundur beberapa langkah.
“Ya… dan hanya satu kekuatan yang mampu memanggil mereka kembali ke dunia ini.”
Nama itu tak perlu diucapkan. Keduanya memahami.
Bayang Agung.
Tiba-tiba tanah di tengah desa retak. Dari celah itu muncul pusaran kabut hitam, lebih pekat dari yang lain. Suara rendah bergema, seperti gema dari gua terdalam bumi.
“Raja Kucing… waktumu telah lama berlalu.”
Makhluk-makhluk bayangan berhenti bergerak, seakan menunggu perintah.
Pandika berdiri di sisi si Maung, pedangnya menyala lebih terang.
“Kita tidak akan membiarkan desa ini jatuh,” katanya tegas.
Si Maung menoleh, mata birunya berkilau oleh tekad.
“Kalau begitu, sahabatku… malam ini Gunung Leuser akan mengingat nama kita.”
Kabut berputar semakin cepat.
Dan pertempuran yang lebih besar dari sekadar serangan malam pun dimulai—pertarungan yang bukan hanya untuk Desa Kucing, tetapi untuk membuka tabir rencana gelap yang telah lama bergerak di balik bayangan hutan.
Malam di Gunung Leuser menjadi lebih gelap daripada hitam itu sendiri. Seolah-olah langit telah dilapisi tirai pekat yang dirajut dari kebencian purba. Kabut Bayang Agung merayap rendah, menelan cahaya bulan dan membungkam suara jangkrik.
Namun di tengah kegelapan itu, satu hal tetap bersinar.
Mata-mata kucing.
Ratusan cahaya hijau dan keemasan menyala di antara pepohonan, seperti gugusan bintang yang turun ke bumi. Dalam keheningan mencekam, tubuh-tubuh kecil itu mulai berubah. Satu demi satu, para kucing membesar—tulang dan otot mereka memanjang, bulu mereka menebal, dan taring-taring putih berkilat di antara geraman rendah. Kini mereka berdiri lebih besar dari serigala hutan, cakar mereka memanjang bagai belati melengkung.
Dengan raungan yang mengguncang akar pepohonan, mereka menerjang roh-roh tersesat yang dipanggil oleh Bayang Agung.
Cakar bertemu kabut. Taring mencabik bayangan. Setiap lompatan meninggalkan jejak cahaya di udara malam.
Di tengah pusaran itu, Pandika berdiri diam.
Ia memejamkan mata.
Bayang Agung menekan kegelapan semakin pekat, berusaha menelan bahkan nyala mata kucing. Namun di jantung malam itu, Pandika mengangkat pedangnya dan memulai Tarian Bulan.
Gerakan pertamanya lembut—seperti angin yang membelah kabut tipis. Bilah pedangnya menyala lebih terang dari sinar bulan yang tersembunyi di balik awan. Cahaya itu tidak sekadar menerangi; ia mengusir.
Ketika ia menyibakkan pedangnya ke samping, kegelapan terbelah, seolah tirai malam terkoyak oleh tangan tak terlihat. Sejenak hutan kembali tampak—pohon, tanah, dan para pejuang kucing.
Namun kegelapan kembali menyerbu.
Pandika melangkah ke tahap berikutnya. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam. Setiap putaran meninggalkan lingkaran cahaya di tanah. Pedangnya kini seperti pecahan rembulan yang jatuh ke tangannya.
Raja roh muncul dari pusaran kabut—tinggi, bermahkota tanduk bayangan, matanya merah menyala oleh kegilaan yang bukan miliknya sendiri, melainkan titipan Bayang Agung.
Ia mengaum, dan kegelapan menekan dari segala arah.
Tetapi Pandika tidak berhenti.
Ia memasuki tahap akhir.
Gerakannya menjadi tak terbaca—anggun sekaligus mengerikan. Cahaya pedangnya membesar, bukan lagi sekadar sinar, melainkan arus yang mengalir deras dari jiwanya sendiri. Tanah bergetar. Angin berputar mengelilinginya.
Dengan satu putaran terakhir—sempurna dan penuh tekad—Pandika mengayunkan pedangnya lurus ke jantung malam.
Cahaya meledak.
Ia bukan hanya menebas makhluk di hadapannya, melainkan mencabik-cabik kegelapan itu sendiri. Kabut hitam terurai seperti kain tua yang disobek oleh tangan tak terlihat. Pekatnya malam retak oleh garis-garis cahaya.
Raja roh mundur, tubuhnya terbelah oleh kilatan pedang yang tak terlihat oleh mata biasa. Api merah di matanya padam perlahan.
“Apa… engkau ini…” desisnya, suaranya kini lebih menyerupai angin yang kehilangan arah.
Pandika berdiri tegak, napasnya berat namun matanya jernih.
“Aku hanyalah manusia yang menolak tunduk pada kegelapan.”
Raja roh berlutut. Kabut di sekelilingnya tercerai-berai.
“Aku menyerah… bukan pada kegilaanmu… tetapi pada cahaya yang kau bawa.”
Dengan kata-kata itu, tubuhnya hancur menjadi serpihan asap yang terangkat ke langit dan lenyap.
Kegelapan tersisa pun memudar.
Bulan kembali bersinar di atas Gunung Leuser.
Para kucing perlahan kembali ke wujud semula, napas mereka terengah namun mata mereka penuh kemenangan. Si Maung berdiri di sisi Pandika, bulunya masih berkilau oleh sisa pertempuran.
Malam itu, hutan mengingat.
Dan jauh di balik bayangan yang belum sepenuhnya musnah, Bayang Agung pun mulai menyadari bahwa manusia bernama Pandika bukan lagi sekadar pengembara… melainkan ancaman nyata bagi kegelapan yang hendak bangkit.
Di ambang hutan yang masih bergetar oleh sisa pertempuran, suara Bayang Agung bergema lirih, seperti gema dari jurang yang dalam.
“Desa ini selamat… bukan karena kekuatanmu semata, Raja Kucing,” bisiknya dari balik kabut yang menipis, “melainkan karena hadirnya seorang pengembara… yang membawa cahaya tak terduga.”
Bayangan hitam itu perlahan tercerai-berai, menyusut menjadi asap tipis yang tertiup angin malam. Namun para warga kucing—yang darahnya masih berdenyut oleh semangat tempur—tidak tinggal diam. Dengan geraman rendah dan mata menyala, mereka mengejar sisa-sisa kabut kegelapan hingga ke batas hutan, seakan belum rela membiarkan musuh pergi begitu saja.
Akan tetapi si Maung, Raja Kucing Gunung Leuser, berdiri di atas batu besar dan mengangkat kepalanya dengan wibawa.
“Cukup!” serunya, suaranya dalam dan bergema seperti genderang purba.
“Kegelapan telah mundur. Jangan biarkan amarah menuntun langkahmu lebih jauh dari kebijaksanaan.”
Para penjaga segera kembali dan membentuk barisan di sekeliling desa. Dengan sigap mereka memperkuat pertahanan—menempatkan pengintai di cabang-cabang tertinggi dan penjaga di setiap jalur masuk lembah.
Malam yang tadinya mencekam kini berubah menjadi malam syukur.
Sebagai tamu kehormatan dan penyelamat desa, Pandika dipersilakan menginap di kediaman agung sang Raja. Di tengah lapangan terbuka, api unggun dinyalakan, cahayanya menari di antara wajah-wajah kucing yang kini berseri.
Disajikanlah hidangan yang jarang terlihat oleh manusia: seekor ikan bakar raksasa, tertangkap dari sungai terdalam di kaki gunung. Aromanya harum, dagingnya lembut dan berkilau oleh bumbu hutan yang kaya rasa.
“Terimalah jamuan ini,” ujar si Maung dengan anggukan hormat. “Sebagai tanda terima kasih kami.”
Pandika menerima dengan hati hangat. Ia tak pernah membayangkan akan duduk di antara bangsa kucing, merasakan persaudaraan yang lahir dari pertempuran bersama.
Kemudian para penari kucing memasuki lingkaran cahaya api unggun. Dengan langkah ringan dan lompatan anggun, mereka menari mengikuti irama tabuhan kayu dan dentingan batu. Gerakan mereka meliuk seperti bayangan daun tertiup angin, namun penuh semangat kemenangan.
Tawa dan sorak-sorai memenuhi lembah.
Si Maung duduk di sisi Pandika, mahkota bulunya berkilau dalam cahaya api. Malam itu bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan perayaan persahabatan antara dua dunia—manusia dan bangsa kucing—yang dipersatukan oleh cahaya di tengah kegelapan.
Dan jauh di balik hutan yang kembali sunyi, sisa-sisa bayangan yang melarikan diri membawa kabar kepada tuannya:
Bahwa cahaya kini telah menemukan pembawanya.
Dan malam tidak lagi tak terkalahkan.
Di lereng sunyi Gunung Leuser, ketika kabut pagi masih menggantung seperti tirai perak di antara pepohonan purba, Pandika berdiri seorang diri. Angin gunung menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah basah dan lumut tua. Telah lama ia menyadari—otot-ototnya mulai kehilangan ketajaman, geraknya tak lagi setajam dulu karena jarang diasah dalam latihan.
Maka di bawah naungan rimba yang agung itu, ia kembali meniti jalan pedangnya.
Ia memulai dengan Jurus Langkah-Langkah Mendominasi.
Gerakan Pertama: Berlari Meninggalkan Bayangan.
Tubuhnya melesat menembus sela-sela pepohonan, begitu cepat hingga bayangannya tertinggal sepersekian detik di tanah—seolah ada dua Pandika berjalan berdampingan.
Gerakan Kedua: Menghilang dari Kejaran.
Ia memutar langkah, dan dalam sekejap tubuhnya lenyap dari pandangan, menyatu dengan celah cahaya dan bayang dedaunan.
Gerakan Ketiga: Lompatan Zig-Zag Angin Hutan.
Pandika meloncat dari akar ke dahan, dari batu ke batang kayu, lintasannya tak dapat ditebak—bagai kilat yang menari.
Gerakan Keempat: Menyatu dengan Alam.
Ia berhenti. Sunyi. Napasnya mengikuti irama dedaunan. Tubuhnya tak lagi terpisah dari rimba; ia menjadi bagian dari denyut hutan itu sendiri.
Gerakan Kelima: Menjadi Bayang Hitam.
Dan pada puncaknya, ia seakan melebur ke dalam kegelapan. Hanya desir angin yang menandai keberadaannya.
Latihan itu tak luput dari perhatian warga Desa Kucing. Mata-mata mereka yang tajam berkilau di antara semak dan dahan. Banyak yang mencoba meniru langkah-langkah sang pengembara, namun setiap usaha berakhir dalam kegagalan. Jurus itu bukan sekadar gerak tubuh—ia adalah keselarasan jiwa dan rimba.
Tak lama kemudian, dari kerumunan muncullah seorang ksatria berbulu jingga menyala, gagah dan tegap. Ia melangkah maju dengan percaya diri.
“Aku Oren,” ujarnya lantang. “Perkenankan aku menjajal latihanmu. Biarlah aku menjadi lawan sparring-mu.”
Ia tak membawa senjata apa pun.
Pandika menoleh dan tersenyum tipis.
“Baiklah. Tangkap aku—itulah latihannya.”
Oren tersenyum lebar. Dalam benaknya, tugas itu terasa mudah. Menangkap seorang manusia tanpa senjata? Sebuah permainan belaka.
Namun permainan itu segera berubah menjadi ujian.
Oren menerjang. Pandika melesat—melompat tinggi dan menghilang di antara cabang. Dengan hidung tajamnya, Oren mengendus jejak samar di udara.
“Di atas!” geramnya.
Ia meloncat ke pucuk pohon, tetapi Pandika telah menjatuhkan diri ke tanah, berguling, lalu menghilang lagi di balik batang-batang raksasa.
Rasa kesal mulai membakar dada Oren. Dengan geraman yang mengguncang rimba, tubuhnya berubah—membesar, memanjang, hingga menjadi serigala raksasa berbulu oranye menyala seperti api senja. Gerakannya kini melampaui mata biasa; ia berlari secepat badai.
Hutan pun berguncang.
Pohon-pohon tumbang diterjang tubuh besarnya. Tanah terbelah oleh lompatan dan hentakan. Daun-daun beterbangan seperti hujan hijau.
Namun tetap saja, Pandika tak tersentuh.
Ia muncul di satu tempat, lenyap di tempat lain—kadang hanya bayangan, kadang hanya desir angin. Seakan-akan Oren mengejar ilusi.
Matahari merangkak tinggi, menggantikan kabut pagi dengan panas siang. Nafas Oren memburu, tubuh raksasanya kembali mengecil perlahan. Ia berdiri terengah, memandang hutan yang kini porak-poranda.
“Aku menyerah,” katanya akhirnya, suaranya tak lagi membara, melainkan penuh hormat. “Engkau terlalu hebat, Pandika.”
Pandika melangkah keluar dari balik batang tua, wajahnya tenang, keringat membasahi pelipisnya.
“Aku pun berterima kasih, Ksatria Oren,” jawabnya. “Latihan ini telah mengasah kembali ketajamanku.”
Di antara pohon-pohon tumbang dan cahaya siang yang jatuh seperti emas cair, keduanya saling memberi hormat. Dan hutan, meski terluka oleh keganasan latihan, menyimpan kisah itu dalam bisikan daun dan akar yang dalam.
Namun rimba tua tak pernah diam menerima luka.
Ketika senja turun perlahan di lereng Gunung Leuser, angin berubah dingin dan berat, seakan membawa keluhan yang tak terdengar oleh telinga biasa. Dari kedalaman tanah yang berurat akar purba, sesuatu terbangun.
Ia adalah Roh Penjaga Rimba—entitas tua yang usianya melampaui kerajaan-kerajaan fana. Konon, roh itu pernah bersahabat dengan seorang ksatria agung dari Mythopia: Rakajati, Sang Ksatria Kayu, yang memahami bahasa akar dan bisikan daun.
Kini roh itu marah.
Tanah bergetar.
Akar-akar raksasa menyembul dari bumi seperti ular-ular kayu yang hidup. Mereka melilit kaki para warga kucing sebelum sempat melarikan diri. Teriakan mengeong memecah udara senja, menggema di antara batang-batang yang terluka.
Daun-daun berguguran tanpa angin. Langit meredup, seakan cahaya pun enggan menyaksikan kemurkaan rimba.
Dari tengah kekacauan itu muncullah Si Maung, Raja Kucing, langkahnya berat namun berwibawa. Matanya menyapu hutan yang porak-poranda—batang tumbang, cabang patah, tanah tercabik.
“Siapakah yang telah membangunkan murka rimba?” suaranya bergema, dalam dan tegas.
Dari kabut kehijauan yang berputar di antara akar-akar menjulang, terdengar suara Roh Penjaga—bukan suara dalam arti biasa, melainkan getaran yang merasuk ke dalam dada.
“Hutan dilukai. Akar-akar dicabik. Pohon-pohon diruntuhkan. Keseimbangan diguncang. Tuntutlah pertanggungjawaban.”
Si Maung mengangguk pelan, memahami beratnya kesalahan yang telah terjadi.
Ia pun mencari Pandika dan Ksatria Oren.
Tak lama kemudian, keduanya berdiri di hadapannya—Oren dengan bulu jingga yang kini redup, Pandika dengan wajah yang masih menyimpan sisa letih latihan.
“Apa yang telah kalian lakukan?” tanya Si Maung, suaranya tak meninggi, namun sarat wibawa. “Hutan telah marah.”
Oren menunduk.
“Kami hanya berlatih lari, Paduka. Tiada niat menghancurkan.”
Namun niat tak menghapus akibat.
Roh Penjaga kembali bergetar di udara:
“Pohon yang roboh harus ditegakkan. Cabang yang patah harus ditanam kembali. Luka rimba harus disembuhkan.”
Si Maung menatap keduanya tajam.
“Kalian mendengar kehendak rimba. Pergilah. Perbaikilah apa yang telah kalian rusak. Sebab tanpa hutan, tak ada desa, tak ada kehidupan.”
Maka Pandika dan Oren pun berjalan kembali ke kedalaman hutan yang terluka. Di bawah langit yang mulai gelap, mereka menegakkan batang-batang muda, menanam ulang akar yang tercerabut, dan mengikat cabang-cabang patah dengan hati-hati.
Oren menggunakan kekuatan lengannya yang besar untuk mengangkat pohon tumbang. Pandika, dengan ketelitian dan kesabaran, menanam kembali tunas-tunas kecil di tanah yang telah diratakan.
Kerja mereka berlangsung hingga malam turun sepenuhnya.
Perlahan, getaran murka mereda. Akar-akar yang melilit para kucing kembali menyusup ke dalam tanah. Angin berubah lembut. Di kejauhan, terdengar bisikan daun—bukan lagi amarah, melainkan pengawasan.
Namun di kedalaman rimba, Roh Penjaga belum sepenuhnya tenang.
Sebab ia merasakan sesuatu yang lain…
Jejak kekuatan yang berbeda dari sekadar latihan.
Sebuah takdir yang tengah bergerak—dan mungkin, suatu hari, akan mengguncang bukan hanya hutan, tetapi seluruh Mythopia.