Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan

20/02/26

Season 5 Kisah Pandika dari Kerajaan Cakram

Setelah menunaikan tugasnya di dunia peri, Pandika kembali menapakkan kaki di tanah Majapahit bersama si Maung. Namanya kini mulai berembus dari mulut ke mulut—dikenal sebagai penolong rakyat yang pernah menumpas para penculik dan penjahat di lorong-lorong gelap kota. Namun bagi Pandika, kemasyhuran hanyalah bayang yang berlalu; hatinya tetap mencari perjalanan baru.
Suatu petang, ketika matahari condong ke barat dan langit berwarna tembaga, si Maung berkata dengan suara dalam namun bersahabat,
“Wahai Pandika, sudah lama engkau menemaniku dalam perjalananmu. Kini izinkan aku membawamu ke tanah asalku—Gunung Leuser—tempat akar sejarahku bermula.”
Pandika tersenyum. “Aku belum pernah menapaki Gunung Leuser. Hatiku memang ingin melihatnya. Mari kita berangkat.”
Maka berlarilah si Maung dengan kecepatan yang hanya dimiliki makhluk penjaga zaman purba. Mereka melesat menembus rimba yang lebat, melewati batang-batang pohon tinggi yang menjulang seperti tiang istana hutan, dan menyibak semak belukar yang berkilau oleh embun.
Setelah perjalanan panjang, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi. Di sana terbentang suatu pemandangan yang membuat Pandika terdiam.
Desa itu… penuh dengan kucing.
Ratusan, bahkan ribuan kucing liar berkeliaran dengan bebas. Ada yang memanjat pohon tinggi dengan lincah, ada yang mengendap menangkap tikus di rerumputan, dan ada pula yang duduk tenang memandangi langit seakan sedang bermeditasi. Namun tak satu pun manusia tampak di sana.
“Jadi… di manakah rumahmu?” tanya Pandika heran.
“Tidak jauh lagi,” jawab si Maung sambil berjalan menuju sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti tirai alam. “Di balik pohon itu.”
Di sanalah berdiri Desa Kucing, rumah-rumahnya tersusun dari daun besar, ranting, dan semak yang dirangkai dengan keterampilan mengagumkan. Bentuknya melengkung dan berlapis, seakan tumbuh alami dari tanah, bukan dibangun oleh tangan biasa.
Tiba-tiba seekor kucing belang mendekat dan berkata,
“Salam datang, Raja.”
Pandika terperanjat. “Mereka… berbicara?”
Si Maung menoleh dengan sorot mata tenang. “Karena engkau bersamaku, engkau aman dan dapat memahami bahasa kami.”
Ia kemudian berdiri tegap di tengah desa itu. “Akulah Raja Kucing di lembah ini. Beratus-ratus abad lamanya aku menjaga wilayah ini dari ancaman luar.”
Pandika memandangnya dengan takjub yang tak tersembunyi.
Ketika ia memasuki kediaman sang raja, keheranannya bertambah. Interior rumah itu indah dan anggun—dindingnya dihiasi anyaman daun halus, karpet lembut membentang di lantai, dan lukisan-lukisan tergantung rapi, menggambarkan hutan, bulan, dan sosok-sosok peri.
“Dari mana semua ini?” tanya Pandika perlahan.
“Hadiah dari bangsa peri,” jawab si Maung. “Sebagai balasan atas tugas-tugas yang kuselesaikan bagi mereka.”
Pandika mengangguk kagum, lalu—dengan nada setengah bercanda—bertanya,
“Jadi… apakah engkau telah memiliki pasangan? Maksudku, seorang permaisuri?”
Si Maung mengibaskan ekornya dengan anggun.
“Permaisuriku ada seratus. Dan anak-anakku… lebih dari seribu.”
Pandika terdiam sejenak, lalu tertawa kecil penuh keheranan.
“Benar-benar luar biasa, sahabatku.”
Di luar, angin Gunung Leuser berhembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan tua. Namun di balik kehangatan desa kucing itu, takdir baru tampaknya mulai berdenyut—sebab setiap kerajaan, sekecil apa pun, selalu menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Malam turun perlahan di lembah Gunung Leuser. Kabut tipis merayap dari sela-sela akar beringin tua, dan bulan menggantung pucat di antara puncak-puncak pohon. Desa Kucing yang siang tadi riuh oleh lompatan dan dengkuran kini diselimuti keheningan waspada.
Pandika sedang duduk di beranda rumah daun sang Raja ketika si Maung tiba-tiba mengangkat kepalanya. Bulu di tengkuknya meremang.
“Ada yang salah,” gumamnya pelan.
Angin berubah arah.
Dari kejauhan terdengar suara yang bukan suara hutan—bukan desir daun, bukan pula langkah rusa. Itu seperti bisikan panjang, serak, dan dingin… seolah bayangan sendiri sedang bergerak.
Seekor kucing penjaga berlari tergesa.
“Paduka! Dari sisi utara! Bayangan hitam turun dari pepohonan!”
Belum sempat kata-kata itu selesai, langit di atas lembah meredup, seakan awan gelap menelan cahaya bulan. Dari antara batang-batang pohon meluncur sosok-sosok tinggi kurus, tubuhnya seperti asap pekat, matanya merah menyala bagai bara yang ditiup angin malam.
Mereka bukan hewan. Bukan pula roh biasa.
“Makhluk Bayang Hutan,” desis si Maung. “Mereka pelayan kegelapan purba… dan sudah lama tidak berani mendekat ke wilayahku.”
Salah satu makhluk melompat turun ke tanah. Rumput yang disentuhnya menghitam dan layu. Seekor anak kucing yang terlalu lambat menghindar nyaris tersentuh kabut hitam sebelum Pandika bergerak.
Kilatan cahaya pedang memecah malam.
Pandika melangkah maju, bilahnya menyala lembut oleh cahaya bulan yang terpantul.
“Berlindunglah di dalam rumah-rumah!” serunya kepada para kucing. “Tutup semua pintu daun!”
Si Maung mengaum—raungan yang mengguncang akar-akar tanah. Seketika puluhan kucing dewasa membentuk barisan melingkar, mata mereka memancarkan cahaya hijau keemasan. Mereka bukan sekadar penghuni desa; mereka adalah penjaga yang terlatih dalam seni kuno cakar dan lompatan.
Makhluk bayangan menyerbu.
Pertempuran pun meletus.
Pandika bergerak seperti saat di dunia roh—langkahnya ringan, menghindar dan menyergap. Setiap ayunan pedang menorehkan cahaya yang membuat tubuh bayangan terbelah dan menguap menjadi asap tipis. Namun untuk setiap satu yang tumbang, dua lagi muncul dari kegelapan hutan.
Si Maung menerjang pemimpin mereka—sosok paling tinggi dengan tanduk kabut melengkung di kepalanya. Cakar sang Raja Kucing menyala perak ketika menghantam dada makhluk itu. Benturan mereka menimbulkan gelombang angin yang menjatuhkan dedaunan dari pohon-pohon.
“Ini bukan serangan biasa!” teriak Pandika di sela pertempuran. “Mereka dipanggil!”
Si Maung menggeram, mendorong lawannya mundur beberapa langkah.
“Ya… dan hanya satu kekuatan yang mampu memanggil mereka kembali ke dunia ini.”
Nama itu tak perlu diucapkan. Keduanya memahami.
Bayang Agung.
Tiba-tiba tanah di tengah desa retak. Dari celah itu muncul pusaran kabut hitam, lebih pekat dari yang lain. Suara rendah bergema, seperti gema dari gua terdalam bumi.
“Raja Kucing… waktumu telah lama berlalu.”
Makhluk-makhluk bayangan berhenti bergerak, seakan menunggu perintah.
Pandika berdiri di sisi si Maung, pedangnya menyala lebih terang.
“Kita tidak akan membiarkan desa ini jatuh,” katanya tegas.
Si Maung menoleh, mata birunya berkilau oleh tekad.
“Kalau begitu, sahabatku… malam ini Gunung Leuser akan mengingat nama kita.”
Kabut berputar semakin cepat.
Dan pertempuran yang lebih besar dari sekadar serangan malam pun dimulai—pertarungan yang bukan hanya untuk Desa Kucing, tetapi untuk membuka tabir rencana gelap yang telah lama bergerak di balik bayangan hutan.
Malam di Gunung Leuser menjadi lebih gelap daripada hitam itu sendiri. Seolah-olah langit telah dilapisi tirai pekat yang dirajut dari kebencian purba. Kabut Bayang Agung merayap rendah, menelan cahaya bulan dan membungkam suara jangkrik.
Namun di tengah kegelapan itu, satu hal tetap bersinar.
Mata-mata kucing.
Ratusan cahaya hijau dan keemasan menyala di antara pepohonan, seperti gugusan bintang yang turun ke bumi. Dalam keheningan mencekam, tubuh-tubuh kecil itu mulai berubah. Satu demi satu, para kucing membesar—tulang dan otot mereka memanjang, bulu mereka menebal, dan taring-taring putih berkilat di antara geraman rendah. Kini mereka berdiri lebih besar dari serigala hutan, cakar mereka memanjang bagai belati melengkung.
Dengan raungan yang mengguncang akar pepohonan, mereka menerjang roh-roh tersesat yang dipanggil oleh Bayang Agung.
Cakar bertemu kabut. Taring mencabik bayangan. Setiap lompatan meninggalkan jejak cahaya di udara malam.
Di tengah pusaran itu, Pandika berdiri diam.
Ia memejamkan mata.
Bayang Agung menekan kegelapan semakin pekat, berusaha menelan bahkan nyala mata kucing. Namun di jantung malam itu, Pandika mengangkat pedangnya dan memulai Tarian Bulan.
Gerakan pertamanya lembut—seperti angin yang membelah kabut tipis. Bilah pedangnya menyala lebih terang dari sinar bulan yang tersembunyi di balik awan. Cahaya itu tidak sekadar menerangi; ia mengusir.
Ketika ia menyibakkan pedangnya ke samping, kegelapan terbelah, seolah tirai malam terkoyak oleh tangan tak terlihat. Sejenak hutan kembali tampak—pohon, tanah, dan para pejuang kucing.
Namun kegelapan kembali menyerbu.
Pandika melangkah ke tahap berikutnya. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam. Setiap putaran meninggalkan lingkaran cahaya di tanah. Pedangnya kini seperti pecahan rembulan yang jatuh ke tangannya.
Raja roh muncul dari pusaran kabut—tinggi, bermahkota tanduk bayangan, matanya merah menyala oleh kegilaan yang bukan miliknya sendiri, melainkan titipan Bayang Agung.
Ia mengaum, dan kegelapan menekan dari segala arah.
Tetapi Pandika tidak berhenti.
Ia memasuki tahap akhir.
Gerakannya menjadi tak terbaca—anggun sekaligus mengerikan. Cahaya pedangnya membesar, bukan lagi sekadar sinar, melainkan arus yang mengalir deras dari jiwanya sendiri. Tanah bergetar. Angin berputar mengelilinginya.
Dengan satu putaran terakhir—sempurna dan penuh tekad—Pandika mengayunkan pedangnya lurus ke jantung malam.
Cahaya meledak.
Ia bukan hanya menebas makhluk di hadapannya, melainkan mencabik-cabik kegelapan itu sendiri. Kabut hitam terurai seperti kain tua yang disobek oleh tangan tak terlihat. Pekatnya malam retak oleh garis-garis cahaya.
Raja roh mundur, tubuhnya terbelah oleh kilatan pedang yang tak terlihat oleh mata biasa. Api merah di matanya padam perlahan.
“Apa… engkau ini…” desisnya, suaranya kini lebih menyerupai angin yang kehilangan arah.
Pandika berdiri tegak, napasnya berat namun matanya jernih.
“Aku hanyalah manusia yang menolak tunduk pada kegelapan.”
Raja roh berlutut. Kabut di sekelilingnya tercerai-berai.
“Aku menyerah… bukan pada kegilaanmu… tetapi pada cahaya yang kau bawa.”
Dengan kata-kata itu, tubuhnya hancur menjadi serpihan asap yang terangkat ke langit dan lenyap.
Kegelapan tersisa pun memudar.
Bulan kembali bersinar di atas Gunung Leuser.
Para kucing perlahan kembali ke wujud semula, napas mereka terengah namun mata mereka penuh kemenangan. Si Maung berdiri di sisi Pandika, bulunya masih berkilau oleh sisa pertempuran.
Malam itu, hutan mengingat.
Dan jauh di balik bayangan yang belum sepenuhnya musnah, Bayang Agung pun mulai menyadari bahwa manusia bernama Pandika bukan lagi sekadar pengembara… melainkan ancaman nyata bagi kegelapan yang hendak bangkit.
Di ambang hutan yang masih bergetar oleh sisa pertempuran, suara Bayang Agung bergema lirih, seperti gema dari jurang yang dalam.
“Desa ini selamat… bukan karena kekuatanmu semata, Raja Kucing,” bisiknya dari balik kabut yang menipis, “melainkan karena hadirnya seorang pengembara… yang membawa cahaya tak terduga.”
Bayangan hitam itu perlahan tercerai-berai, menyusut menjadi asap tipis yang tertiup angin malam. Namun para warga kucing—yang darahnya masih berdenyut oleh semangat tempur—tidak tinggal diam. Dengan geraman rendah dan mata menyala, mereka mengejar sisa-sisa kabut kegelapan hingga ke batas hutan, seakan belum rela membiarkan musuh pergi begitu saja.
Akan tetapi si Maung, Raja Kucing Gunung Leuser, berdiri di atas batu besar dan mengangkat kepalanya dengan wibawa.
“Cukup!” serunya, suaranya dalam dan bergema seperti genderang purba.
“Kegelapan telah mundur. Jangan biarkan amarah menuntun langkahmu lebih jauh dari kebijaksanaan.”
Para penjaga segera kembali dan membentuk barisan di sekeliling desa. Dengan sigap mereka memperkuat pertahanan—menempatkan pengintai di cabang-cabang tertinggi dan penjaga di setiap jalur masuk lembah.
Malam yang tadinya mencekam kini berubah menjadi malam syukur.
Sebagai tamu kehormatan dan penyelamat desa, Pandika dipersilakan menginap di kediaman agung sang Raja. Di tengah lapangan terbuka, api unggun dinyalakan, cahayanya menari di antara wajah-wajah kucing yang kini berseri.
Disajikanlah hidangan yang jarang terlihat oleh manusia: seekor ikan bakar raksasa, tertangkap dari sungai terdalam di kaki gunung. Aromanya harum, dagingnya lembut dan berkilau oleh bumbu hutan yang kaya rasa.
“Terimalah jamuan ini,” ujar si Maung dengan anggukan hormat. “Sebagai tanda terima kasih kami.”
Pandika menerima dengan hati hangat. Ia tak pernah membayangkan akan duduk di antara bangsa kucing, merasakan persaudaraan yang lahir dari pertempuran bersama.
Kemudian para penari kucing memasuki lingkaran cahaya api unggun. Dengan langkah ringan dan lompatan anggun, mereka menari mengikuti irama tabuhan kayu dan dentingan batu. Gerakan mereka meliuk seperti bayangan daun tertiup angin, namun penuh semangat kemenangan.
Tawa dan sorak-sorai memenuhi lembah.
Si Maung duduk di sisi Pandika, mahkota bulunya berkilau dalam cahaya api. Malam itu bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan perayaan persahabatan antara dua dunia—manusia dan bangsa kucing—yang dipersatukan oleh cahaya di tengah kegelapan.
Dan jauh di balik hutan yang kembali sunyi, sisa-sisa bayangan yang melarikan diri membawa kabar kepada tuannya:
Bahwa cahaya kini telah menemukan pembawanya.
Dan malam tidak lagi tak terkalahkan.
Di lereng sunyi Gunung Leuser, ketika kabut pagi masih menggantung seperti tirai perak di antara pepohonan purba, Pandika berdiri seorang diri. Angin gunung menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah basah dan lumut tua. Telah lama ia menyadari—otot-ototnya mulai kehilangan ketajaman, geraknya tak lagi setajam dulu karena jarang diasah dalam latihan.
Maka di bawah naungan rimba yang agung itu, ia kembali meniti jalan pedangnya.
Ia memulai dengan Jurus Langkah-Langkah Mendominasi.
Gerakan Pertama: Berlari Meninggalkan Bayangan.
Tubuhnya melesat menembus sela-sela pepohonan, begitu cepat hingga bayangannya tertinggal sepersekian detik di tanah—seolah ada dua Pandika berjalan berdampingan.
Gerakan Kedua: Menghilang dari Kejaran.
Ia memutar langkah, dan dalam sekejap tubuhnya lenyap dari pandangan, menyatu dengan celah cahaya dan bayang dedaunan.
Gerakan Ketiga: Lompatan Zig-Zag Angin Hutan.
Pandika meloncat dari akar ke dahan, dari batu ke batang kayu, lintasannya tak dapat ditebak—bagai kilat yang menari.
Gerakan Keempat: Menyatu dengan Alam.
Ia berhenti. Sunyi. Napasnya mengikuti irama dedaunan. Tubuhnya tak lagi terpisah dari rimba; ia menjadi bagian dari denyut hutan itu sendiri.
Gerakan Kelima: Menjadi Bayang Hitam.
Dan pada puncaknya, ia seakan melebur ke dalam kegelapan. Hanya desir angin yang menandai keberadaannya.
Latihan itu tak luput dari perhatian warga Desa Kucing. Mata-mata mereka yang tajam berkilau di antara semak dan dahan. Banyak yang mencoba meniru langkah-langkah sang pengembara, namun setiap usaha berakhir dalam kegagalan. Jurus itu bukan sekadar gerak tubuh—ia adalah keselarasan jiwa dan rimba.
Tak lama kemudian, dari kerumunan muncullah seorang ksatria berbulu jingga menyala, gagah dan tegap. Ia melangkah maju dengan percaya diri.
“Aku Oren,” ujarnya lantang. “Perkenankan aku menjajal latihanmu. Biarlah aku menjadi lawan sparring-mu.”
Ia tak membawa senjata apa pun.
Pandika menoleh dan tersenyum tipis.
“Baiklah. Tangkap aku—itulah latihannya.”
Oren tersenyum lebar. Dalam benaknya, tugas itu terasa mudah. Menangkap seorang manusia tanpa senjata? Sebuah permainan belaka.
Namun permainan itu segera berubah menjadi ujian.
Oren menerjang. Pandika melesat—melompat tinggi dan menghilang di antara cabang. Dengan hidung tajamnya, Oren mengendus jejak samar di udara.
“Di atas!” geramnya.
Ia meloncat ke pucuk pohon, tetapi Pandika telah menjatuhkan diri ke tanah, berguling, lalu menghilang lagi di balik batang-batang raksasa.
Rasa kesal mulai membakar dada Oren. Dengan geraman yang mengguncang rimba, tubuhnya berubah—membesar, memanjang, hingga menjadi serigala raksasa berbulu oranye menyala seperti api senja. Gerakannya kini melampaui mata biasa; ia berlari secepat badai.
Hutan pun berguncang.
Pohon-pohon tumbang diterjang tubuh besarnya. Tanah terbelah oleh lompatan dan hentakan. Daun-daun beterbangan seperti hujan hijau.
Namun tetap saja, Pandika tak tersentuh.
Ia muncul di satu tempat, lenyap di tempat lain—kadang hanya bayangan, kadang hanya desir angin. Seakan-akan Oren mengejar ilusi.
Matahari merangkak tinggi, menggantikan kabut pagi dengan panas siang. Nafas Oren memburu, tubuh raksasanya kembali mengecil perlahan. Ia berdiri terengah, memandang hutan yang kini porak-poranda.
“Aku menyerah,” katanya akhirnya, suaranya tak lagi membara, melainkan penuh hormat. “Engkau terlalu hebat, Pandika.”
Pandika melangkah keluar dari balik batang tua, wajahnya tenang, keringat membasahi pelipisnya.
“Aku pun berterima kasih, Ksatria Oren,” jawabnya. “Latihan ini telah mengasah kembali ketajamanku.”
Di antara pohon-pohon tumbang dan cahaya siang yang jatuh seperti emas cair, keduanya saling memberi hormat. Dan hutan, meski terluka oleh keganasan latihan, menyimpan kisah itu dalam bisikan daun dan akar yang dalam.
Namun rimba tua tak pernah diam menerima luka.
Ketika senja turun perlahan di lereng Gunung Leuser, angin berubah dingin dan berat, seakan membawa keluhan yang tak terdengar oleh telinga biasa. Dari kedalaman tanah yang berurat akar purba, sesuatu terbangun.
Ia adalah Roh Penjaga Rimba—entitas tua yang usianya melampaui kerajaan-kerajaan fana. Konon, roh itu pernah bersahabat dengan seorang ksatria agung dari Mythopia: Rakajati, Sang Ksatria Kayu, yang memahami bahasa akar dan bisikan daun.
Kini roh itu marah.
Tanah bergetar.
Akar-akar raksasa menyembul dari bumi seperti ular-ular kayu yang hidup. Mereka melilit kaki para warga kucing sebelum sempat melarikan diri. Teriakan mengeong memecah udara senja, menggema di antara batang-batang yang terluka.
Daun-daun berguguran tanpa angin. Langit meredup, seakan cahaya pun enggan menyaksikan kemurkaan rimba.
Dari tengah kekacauan itu muncullah Si Maung, Raja Kucing, langkahnya berat namun berwibawa. Matanya menyapu hutan yang porak-poranda—batang tumbang, cabang patah, tanah tercabik.
“Siapakah yang telah membangunkan murka rimba?” suaranya bergema, dalam dan tegas.
Dari kabut kehijauan yang berputar di antara akar-akar menjulang, terdengar suara Roh Penjaga—bukan suara dalam arti biasa, melainkan getaran yang merasuk ke dalam dada.
“Hutan dilukai. Akar-akar dicabik. Pohon-pohon diruntuhkan. Keseimbangan diguncang. Tuntutlah pertanggungjawaban.”
Si Maung mengangguk pelan, memahami beratnya kesalahan yang telah terjadi.
Ia pun mencari Pandika dan Ksatria Oren.
Tak lama kemudian, keduanya berdiri di hadapannya—Oren dengan bulu jingga yang kini redup, Pandika dengan wajah yang masih menyimpan sisa letih latihan.
“Apa yang telah kalian lakukan?” tanya Si Maung, suaranya tak meninggi, namun sarat wibawa. “Hutan telah marah.”
Oren menunduk.
“Kami hanya berlatih lari, Paduka. Tiada niat menghancurkan.”
Namun niat tak menghapus akibat.
Roh Penjaga kembali bergetar di udara:
“Pohon yang roboh harus ditegakkan. Cabang yang patah harus ditanam kembali. Luka rimba harus disembuhkan.”
Si Maung menatap keduanya tajam.
“Kalian mendengar kehendak rimba. Pergilah. Perbaikilah apa yang telah kalian rusak. Sebab tanpa hutan, tak ada desa, tak ada kehidupan.”
Maka Pandika dan Oren pun berjalan kembali ke kedalaman hutan yang terluka. Di bawah langit yang mulai gelap, mereka menegakkan batang-batang muda, menanam ulang akar yang tercerabut, dan mengikat cabang-cabang patah dengan hati-hati.
Oren menggunakan kekuatan lengannya yang besar untuk mengangkat pohon tumbang. Pandika, dengan ketelitian dan kesabaran, menanam kembali tunas-tunas kecil di tanah yang telah diratakan.
Kerja mereka berlangsung hingga malam turun sepenuhnya.
Perlahan, getaran murka mereda. Akar-akar yang melilit para kucing kembali menyusup ke dalam tanah. Angin berubah lembut. Di kejauhan, terdengar bisikan daun—bukan lagi amarah, melainkan pengawasan.
Namun di kedalaman rimba, Roh Penjaga belum sepenuhnya tenang.
Sebab ia merasakan sesuatu yang lain…
Jejak kekuatan yang berbeda dari sekadar latihan.
Sebuah takdir yang tengah bergerak—dan mungkin, suatu hari, akan mengguncang bukan hanya hutan, tetapi seluruh Mythopia.

03/12/25

Season 5 Jatmika & Portal Waktu

---

Peningkatan ekonomi tidak datang dengan gemuruh, melainkan dengan tanda-tanda kecil yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang memperhatikannya.
Pemesanan lampu untuk gedung-gedung bertingkat mulai meningkat—sebuah indikator yang sederhana, tapi tak pernah keliru. Di layar monitor ruang administrasi, grafik permintaan melengkung naik perlahan, seolah menggambar denyut kehidupan yang kembali stabil.

Email dan pesan WhatsApp berdatangan tanpa henti. Permintaan untuk layanan teleportasi melonjak—bukan hanya dari kalangan ilmuwan atau pejabat, tetapi juga dari perusahaan swasta dan lembaga riset daerah. Setiap pesan yang masuk terasa seperti bukti kecil bahwa teknologi yang dulu dianggap mustahil kini mulai diterima sebagai bagian dari keseharian manusia.

Bisnis berjalan kembali, bukan karena keajaiban, tetapi karena ketekunan sistem dan orang-orang di baliknya.
Jatmika memimpin rapat siang itu di ruang konferensi utama, dinding kaca memantulkan cahaya biru dari artefak lampu energi Nusantara yang terpasang di sudut ruangan. Para pendamping pengunjung duduk berjejer dengan catatan di tangan. Mereka bukan hanya operator, tetapi mediator antara dunia lama dan cara baru berpindah tempat.

“Untuk minggu ini,” kata Jatmika dengan suara yang tenang namun tegas, “kita akan menerima lebih banyak tamu dari dalam negeri. Kalian harus siap dengan pertanyaan mereka—tentang keamanan, etika, bahkan tentang hal-hal yang belum bisa dijawab dengan angka. Dan minggu depan, rombongan dari Cina, Amerika, Rusia, dan Jepang akan datang. Mereka tidak hanya melihat teknologi kita, tapi cara kita memahami maknanya.”

Beberapa kepala mengangguk pelan. Tak ada tepuk tangan, hanya kesadaran akan tanggung jawab.
“Kami akan menaikkan gaji para pendamping,” lanjutnya, “asalkan tidak ada kesalahan dalam pelayanan dan komunikasi. Kalian bukan hanya wajah perusahaan ini—kalian jembatan antara manusia dan ruang.”

Di akhir rapat, Jatmika menatap layar besar yang menampilkan rancangan gedung kantor pusat baru di Jalan Sudirman.
“Bulan depan bangunan ini selesai,” katanya. “Kita akan pindah ke sana. Bukan sekadar perubahan alamat, tapi langkah menuju cara baru memahami jarak.”

Di luar, langit Jakarta sore itu terlihat tenang. Cahaya matahari memantul di jendela gedung-gedung tinggi—seolah kota ini perlahan belajar berdamai dengan masa depan yang dulu hanya hidup di dalam teori.

---

Sore itu hujan turun tanpa jeda sejak pagi. Butiran air membentuk pola di jendela laboratorium, seperti data yang belum selesai diproses. Genangan mulai terbentuk di jalan-jalan sekitar kompleks industri, sementara di Jakarta, banjir kembali menjadi berita utama di setiap saluran televisi. Namun di pelataran PT. Sinar Ultraviolet, deretan bus berhenti satu per satu dengan pengawalan polisi.

Dari dalam bus, turun para pejabat, anggota DPR, menteri, dan akademisi. Mereka datang bukan sekadar untuk melihat hasil riset, tetapi untuk menyaksikan kemungkinan masa depan yang kini telah berwujud nyata: teleportasi instan energi Nusantara.

Hujan tidak menghentikan diskusi, hanya membuatnya lebih lambat dan dalam.
“Jika teknologi ini sudah ditemukan tahun lalu,” salah satu pejabat bertanya, “mengapa sempat ditutup?”

Jatmika menatap layar hologram di hadapannya sebelum menjawab.
“Masalahnya bukan pada mesin,” katanya perlahan. “Ketidakpastian selalu ada—bukan hanya pada keamanan, tapi juga pada reaksi sosial. Dunia belum siap untuk berpindah tanpa jarak. Karena itu, aktivitas kami sempat dihentikan sementara.”

Seorang menteri muda mengangguk sambil mencatat sesuatu di tabletnya. “Lalu mengapa tarif teleportasi begitu tinggi? Satu juta rupiah untuk satu kali perjalanan, bukankah itu terlalu mahal untuk rakyat?”

Jatmika tersenyum tipis. “Harga itu mencakup konsumsi energi dan stabilitas sistem. Setiap perpindahan memerlukan aliran daya setara menyalakan seluruh gedung bertingkat selama beberapa menit.”
Ia tidak menambahkan satu hal penting: bahwa timnya telah menemukan cara baru untuk mengefisienkan daya—teknologi yang masih ia rahasiakan bahkan dari pemerintah.

Para pejabat dan anggota DPR memasuki gedung utama, jas mereka basah di ujung lengan, sepatu mengeluarkan bunyi lembap di lantai marmer.
Rombongan pertama, yang terdiri atas para menteri dan wakil rakyat, dipimpin langsung oleh Jatmika. Rombongan kedua, para akademisi, didampingi oleh John, yang kini lebih banyak diam, matanya memantulkan cahaya lampu laboratorium.

Di ruang inti teleportasi, cahaya dari artefak Ny Tien—program kecerdasan buatan yang menjadi pusat kendali sistem—berpendar lembut. Warna emas, biru, dan hijau silih berganti seperti denyut nadi buatan. Suara lembut Ny Tien terdengar dari speaker tersembunyi:

> “Koordinat telah diset. Perpindahan dimulai dalam tiga, dua, satu—”



Hujan masih turun di luar. Tapi di dalam ruangan itu, di tengah dentum halus listrik yang mengalir di udara, manusia sedang menantang salah satu batas tertuanya: jarak.
Anggota DPR mulai merancang sebuah undang-undang yang akan menjadi fondasi bagi masa depan teleportasi. Bagi mereka, teknologi ini bukan sekadar kemajuan ilmiah, tetapi sebuah infrastruktur baru yang mengubah cara manusia berpindah, bekerja, dan melintasi batas negara.

Dalam pembahasan awal, muncul satu kekhawatiran yang segera dianggap mendesak: arus perpindahan manusia yang tak lagi terdeteksi oleh mekanisme konvensional. Jika teleportasi dapat membawa seseorang melintasi jarak ratusan kilometer dalam sekejap, maka konsep perbatasan perlu didefinisikan ulang.

Karena itu, para legislator berpendapat bahwa kantor teleportasi harus memiliki fungsi serupa bandara. Petugas imigrasi perlu ditempatkan di setiap fasilitas—bukan hanya sebagai pemeriksa dokumen, tetapi sebagai penjaga keteraturan di tengah teknologi yang dapat memindahkan tubuh lebih cepat daripada birokrasi mampu memprosesnya.

Di balik diskusi itu, terselip kesadaran lain: bahwa hukum selalu tertinggal dari teknologi, dan usaha mereka sekarang hanyalah mencoba mengejar sesuatu yang sudah mulai mengubah dunia jauh sebelum paragraf pertama undang-undang itu ditulis.


---

---

Bulan Desember membawa hujan yang hampir tidak berhenti. Genangan air di jalan membuat kendaraan bergerak seperti mempertimbangkan setiap meter yang mereka tempuh. Di tengah perubahan musim itu, Jatmika baru saja membeli mobil listrik generasi terbaru—keputusan yang ia buat dengan diam-diam, seperti halnya perintahnya kepada John untuk menjual beberapa keping emas dari gua teleportasi. Bagi Jatmika, emas itu bukan sekadar nilai materi, tetapi jejak dari sebuah teknologi yang masih belum sepenuhnya dipahami asal-usulnya.

Sementara itu, gedung baru PT Sinar Ultraviolet akhirnya selesai dibangun. Seratus lantai menjulang di atas kota, seolah menjadi penanda bahwa dunia bergerak menuju sesuatu yang berbeda dari masa lalu. Namun, kabar yang lebih mengejutkan datang dari cabang perusahaan di Tiongkok: gedung mereka bahkan lebih besar, lebih kompleks, dan lebih berani dalam memanfaatkan teknologi teleportasi sebagai pusat operasional.

Dalam suasana itu, Jatmika sedang menata ulang struktur organisasinya. Ia menolak mengikuti pola hierarki perusahaan tradisional. Menurutnya, struktur yang adil bukan dibangun dari senioritas atau gelar, tetapi dari partisipasi nyata—dari jumlah tindakan yang benar-benar memberi dampak. Ia merancang sistem di mana posisi tertinggi diberikan kepada mereka yang paling banyak berkontribusi secara terukur.

Untuk menandai hierarki itu, ia memilih simbol-simbol yang tidak biasa. Di puncak ia menempatkan naga putih, simbol yang mewakili dirinya sendiri—bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga keseimbangan sistem. Di bawahnya ada naga merah untuk Pak Toni, dan naga hijau untuk kepala cabang Tiongkok, Prof. Wen Shuyuan. Tongkat safir merah diberikan kepada John, sebagai pengelola teknis dan konseptual teleportasi.

Setiap anggota dari Tim Sepuluh memakai logo kapak emas, tanda bagi mereka yang menjalankan pekerjaan lapangan dan riset intensif.

Sistem itu bekerja seperti algoritma moral: setiap kontribusi tercatat, setiap keputusan memiliki konsekuensi yang dapat diukur. Level naga dan safir memiliki otoritas tertinggi, tetapi otoritas itu bukan hak istimewa, melainkan hasil dari akumulasi tindakan yang tidak bisa dipalsukan.

Dalam pikiran Jatmika, inilah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa teknologi sebesar teleportasi tidak dikuasai oleh status, tetapi oleh kompetensi dan tanggung jawab—dua hal yang, baginya, jauh lebih dapat dipercaya daripada gelar atau jabatan.

---

Hari itu, Jatmika membuka rapat dengan para investor yang datang dari berbagai negara. Mereka bukan hanya penasaran, tetapi juga terpesona oleh prospek ekonomi yang ditawarkan teleportasi. Di antara mereka, seorang pengusaha Amerika menyampaikan ketertarikannya untuk membeli seluruh sistem—sebuah tawaran yang dalam konteks bisnis konvensional mungkin sulit ditolak.

Namun Jatmika menjawab dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa teleportasi bukan sekadar teknologi yang dapat dipindahkan seperti perangkat elektronik. Sistem itu, menurut pengamatannya, terikat pada kondisi tertentu di Indonesia—kondisi fisik ataupun nonfisik yang belum sepenuhnya dipahami. Ia tidak menyebutkannya sebagai rahasia dagang, tetapi lebih sebagai batasan fundamental yang masih menunggu penjelasan ilmiah.

Para investor menatapnya dengan ragu, tetapi juga dengan rasa ingin tahu yang tumbuh. Jatmika melanjutkan bahwa perusahaan sedang mengembangkan tahap berikutnya dari teleportasi: perpindahan lintas negara melalui titik-titik yang tidak lagi bergantung pada gua kuno, dan bahkan uji coba awal untuk lintas planet telah dimulai.

Ia tidak menyampaikan janji, hanya kemungkinan—dan kemungkinan itu sendiri sudah cukup untuk mengubah cara dunia menghitung masa depannya.

Bagi sebagian investor, itu adalah peluang. Bagi Jatmika, itu adalah pengingat bahwa setiap teknologi besar selalu membawa konsekuensi yang lebih luas daripada yang mampu diperkirakan oleh pemiliknya. Dan untuk saat ini, ia memilih untuk menjaga agar pusat gravitasi teknologi itu tetap berada di tanah tempat ia menemukannya.


---
Sore hari di lantai 60 gedung baru PT. Sinar Ultraviolet.
Hujan turun tipis, seperti bayangan yang jatuh perlahan di atas kaca. Dari kejauhan, lampu kota berpendar seperti jaringan saraf yang hidup.

Jatmika berdiri menatap jendela, sementara John duduk di kursi, memegang secangkir kopi yang mulai mendingin.

“Perusahaan Amerika itu datang lagi,” kata John akhirnya. “Penawaran mereka naik dua kali lipat. Kalau dihitung secara kasar… kita bisa membiayai penelitian puluhan tahun ke depan.”

Jatmika tersenyum samar, tidak memalingkan pandangan dari hujan. “Ketika mereka bilang ‘membeli sistem teleportasi’, apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Mesin? Rumusnya? Atau… kendali atasnya?”

John mengangkat bahu. “Dalam bisnis, semua itu dianggap sama.”

“Ya,” Jatmika menanggapi pelan. “Itulah masalahnya. Mereka mengira teleportasi ini adalah sesuatu yang sepenuhnya dapat dimiliki. Mereka tidak mengerti bahwa apa yang kita temukan tidak pernah sepenuhnya milik kita. Ia hanya kebetulan berada di tangan kita dulu.”

John menatapnya lebih serius. “Jadi jawabannya tetap tidak?”

“Tidak,” kata Jatmika tegas tetapi lembut. “Teknologi ini tidak dijual. Bukan karena nasionalisme… tapi karena setiap teknologi radikal membawa tanggung jawab. Kalau kita menjualnya, kita sama saja melepaskan tanggung jawab itu kepada orang yang mungkin tak siap menanggung konsekuensinya.”

John menghela napas. “Kadang aku bertanya-tanya… apakah manusia pernah benar-benar siap?”

Jatmika tertawa kecil. “Pertanyaan yang bagus. Mungkin tidak. Tapi setidaknya kita bisa memilih siapa yang pertama kali memikulnya.”

Ia kembali ke meja, membuka sebuah berkas. “Kita sudah menerima satu juta karyawan, dan kita akan membuka lowongan lagi. Koki, pramusaji, kebersihan, satpam. Bahkan yang berusia 90 tahun pun kita terima jika masih mampu bekerja.”

John mengernyit, separuh tersenyum. “Sistem kita mulai terdengar seperti eksperimen sosial.”

“Mungkin memang begitu,” jawab Jatmika. “Jika teleportasi mengubah cara manusia bergerak, bukankah wajar kalau kita mulai memikirkan kembali cara manusia bekerja?”

Ia menambahkan, “Aku juga ingin sebagian pekerja dilatih secara militer. Bukan untuk kekerasan, tapi untuk disiplin. Bukan disiplin yang menindas… tapi yang menata.”

John memutar cangkirnya. “Kalau orang-orang tahu kau berpikir sejauh itu, mereka akan bilang kau ingin membangun peradaban baru.”

“Bukan,” kata Jatmika pelan. “Aku hanya ingin memastikan teknologi ini tidak membuat kita kehilangan jati diri. Kalau sampai kita berubah, setidaknya kita berubah dengan sadar, bukan karena didorong oleh ketamakan atau ketakutan.”

John termenung lama sebelum berkata, “Dan perusahaan Amerika itu… mereka belum mengerti itu?”

“Mereka melihat teleportasi sebagai komoditas,” jawab Jatmika. “Aku melihatnya sebagai warisan. Sesuatu yang harus dijaga, bukan diperdagangkan.”

Hujan masih turun, lebih pelan dari sebelumnya. Seolah dunia pun sedang mempertimbangkan kata-kata itu.

“Kadang,” kata John, “aku merasa kita tak sedang membangun perusahaan… tapi sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari kita.”

Jatmika menatapnya. “Mungkin memang begitu, John. Dan itu sebabnya kita tidak bisa menjualnya. Apa yang lahir di tanah ini, akan diwariskan kembali kepada anak-anak bangsa ini. Itu bukan slogan. Itu… keseimbangan.”

Dan untuk sejenak, suara hujan yang jatuh di kaca adalah satu-satunya suara yang mengisi ruangan—seperti jeda panjang dalam eksperimen besar yang belum selesai.

---

Iklan itu muncul di televisi nasional tanpa musik latar, hanya suara narator yang datar namun tegas:

> “ANDA TELAH MENGANGGUR SEKIAN LAMA.
ANDA SUDAH BOSAN MENGIRIM CV TANPA JAWABAN.
PT. SINAR ULTRAVIOLET MEMBUKA KESEMPATAN BARU.
USIA BUKAN BATASAN.
YANG KAMI BUTUHKAN ADALAH SEMANGAT BERPARTISIPASI.
GAJI HANYA ANGKA.
PARTISIPASI ANDA ADALAH NILAI YANG SEBENARNYA.
DATANGLAH MENGENAKAN BAJU OLAHRAGA.”



Tak ada janji berlebihan. Tak ada visual dramatis. Hanya pesan yang terasa seperti undangan untuk ikut serta dalam eksperimen sosial berskala besar.


---

Siang itu, langit tampak seperti lembar kaca abu-abu yang belum dipoles.

Gerimis menggantung, namun ribuan pelamar berdiri berbaris di depan gedung PT Sinar Ultraviolet—sebuah struktur 100 lantai yang memantulkan siluet kota seperti memori yang disusun ulang.

Mereka datang dengan baju olahraga, membawa CV dalam map plastik yang sudah berkali-kali dipakai sebelumnya. Di antara kerumunan, seorang lelaki renta berusia 90 tahun berdiri tegak. Nafasnya pendek, tapi matanya tak kehilangan fokusnya.

Beberapa pelamar muda melempar cibiran kecil.

“Serius, Pak?” bisik seseorang.
“Tangga seratus lantai…” gumam yang lain.

Lelaki tua itu hanya tersenyum tipis, seolah komentar itu hanyalah angin kecil yang lewat di antara suara kota.


---

Di depan barisan, seorang instruktur berseragam militer berdiri.

Ia memegang pengeras suara yang mengeluarkan dentingan statis sebelum suaranya terdengar.

“Letakkan semua CV di meja registrasi. Tidak akan ada wawancara. Tidak ada tes tertulis. Hanya satu evaluasi: kemampuan mengikuti instruksi.”

Pelamar mulai bergerak, tumpukan CV tumbuh cepat di atas meja panjang yang tampak seperti alat ukur diam terhadap nasib ribuan orang.

“Berbaris rapi!” teriak instruktur.
“Tes akan dimulai tepat pukul 07.00.”

Jam digital di depan gedung menunjukkan 06.56.
Hujan rintik-rintik seakan menunggu aba-aba.


---

Tepat pukul 07.00, peluit dibunyikan.

Instruktur berbicara lagi:

“Tugas kalian sederhana.
Naiki tangga gedung ini sampai lantai 100.
Lalu turun kembali.
Siapa pun yang tidak mampu menyelesaikan, dinyatakan gugur.”

Tidak ada yang mempertanyakan mengapa tesnya demikian.
Mungkin karena di perusahaan ini, batas kemampuan bukan hanya dinilai dari tenaga fisik, tapi dari cara seseorang merespons sesuatu yang tampak tidak masuk akal—seperti teleportasi itu sendiri.

Sebagian peserta saling berbisik, mencoba merumuskan strategi.
Yang lain diam, menyiapkan napas.
Lelaki tua itu berdiri paling belakang, kedua tangannya meremas topi kecil di genggamannya.

Ketika peluit dibunyikan, barisan meletup seperti gelombang energi. Para pelamar mulai berlari menuju pintu tangga darurat, langkah mereka bergema seperti denyut nadi raksasa yang baru terbangun.


---
---

Tes Dimulai

Pada menit-menit pertama, suara langkah kaki para peserta memenuhi lorong tangga darurat seperti gema dari ruang mesin raksasa yang baru dihidupkan. Tidak ada kipas angin, tidak ada AC; dinding beton menyerap panas tubuh ratusan orang dan memantulkannya kembali seperti gelombang tak terlihat.

Di lantai 5, peluh mulai bercucuran dari wajah sebagian peserta. Seseorang mengipas-ngipas dirinya dengan CV kosong yang baru saja dikumpulkan. Aroma keringat bercampur debu membuat udara terasa lebih berat dari biasanya.

Tak ada yang diberikan selain instruksi tunggal: naik sampai lantai 100, lalu turun kembali.

Tidak ada air minum.
Tidak ada kursi untuk berhenti.
Tidak ada musik penyemangat seperti dalam acara maraton televisi.

Kesuksesan tes ini, sebagaimana teknologi teleportasi, tampaknya bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan ritme yang nyaris tidak masuk akal—ritme yang menguji hubungan seseorang dengan tubuhnya sendiri.


---

Lelaki 90 Tahun

Di antara peserta, langkah paling lambat tapi paling konsisten adalah milik lelaki tua berusia 90 tahun itu. Tangannya menelusuri pagar besi sebagai penyangga, dan setiap lima langkah ia berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk menstabilkan napasnya.

Beberapa peserta yang melewatinya menatap iba, sebagian lainnya memandangnya seperti anomali yang menantang logika rekrutmen modern.

Dan entah bagaimana, ia tetap melangkah.
Lantai demi lantai.
Seolah ujian ini bukan tentang kemampuan fisik, tapi tentang hubungan seseorang dengan waktu.


---

Lantai 37: Titik Putus

Di lantai 37, puluhan peserta menyerah dan duduk di anak tangga, memegang lutut sambil menunduk. Ada yang memaki keputusan datang ke sini. Ada yang bertanya-tanya apakah perusahaan sengaja menciptakan tes yang “mustahil” untuk melihat siapa yang tetap mencoba.

Seorang pemuda yang berhenti hampir terjatuh saat mencoba berdiri kembali. Ia melihat ke atas—dan melihat lelaki 90 tahun itu menyusulnya perlahan, langkah demi langkah.

Tatapan mereka bertemu.
Tanpa kata-kata, si pemuda kembali berdiri.
Entah apa yang ia lihat pada lelaki itu—keteguhan, pengingat tentang martabat, atau kemungkinan kecil bahwa hidup bisa berubah di lantai berikutnya.


---

Lantai 100

Begitu mencapai lantai 100, tidak ada panitia yang menunggu.
Tidak ada bendera, tidak ada tepuk tangan.

Hanya sebuah kertas A4 ditempel di dinding:

> “TURUN KEMBALI.”



Bagi sebagian orang, ini lebih menghancurkan daripada naik seratus lantai.
Beberapa berdiri lama memandangi kertas itu, seolah mencoba membaca makna tersembunyi di balik kalimat sederhana tersebut.

Lelaki 90 tahun itu tiba belakangan, tubuhnya bergetar, namun matanya memandang tulisan itu dengan ketenangan yang hanya dimiliki seseorang yang telah melewati kesulitan yang lebih besar dalam hidupnya.

Ia mengangguk kecil, lalu mulai menuruni tangga.


---

Penurunan: Ujian Sebenarnya

Jika naik menguji kekuatan, maka turun menguji kestabilan. Lutut mulai lemah, telapak kaki terasa terbakar, dan pandangan sebagian peserta mulai berkunang-kunang.

Beberapa peserta mengambil risiko dengan berlari menuruni tangga agar “mencapai garis akhir lebih cepat,” hanya untuk hampir terpeleset di tikungan sempit.

Sementara itu, langkah lelaki tua itu tetap sama: perlahan, terukur, dan penuh kehati-hatian.

Di lantai 12, seorang perempuan muda hampir pingsan. Ia bersandar ke dinding, napasnya terputus-putus. Lelaki tua itu berhenti di sampingnya, menawarkan saputangannya yang basah keringat.

“Masih jauh, Nak,” katanya pelan, “tapi tidak perlu cepat.”

Kata-kata sederhana itu membuat perempuan itu kembali berdiri.


---

Kembalinya Ke Lobi

Ketika peserta pertama menjejakkan kaki kembali di lobi, instruktur militer hanya mengangguk.

Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada drama.

Nama peserta hanya dicatat.
Begitu saja.
Tes ini tidak mengagungkan siapa pun, tidak merendahkan siapa pun.
Ia hanya memperlihatkan siapa yang bersedia bertahan.

Dan saat lelaki 90 tahun itu akhirnya tiba—berjalan dengan langkah kecil, namun tetap tegak—ruangan yang dingin dan formal itu menjadi sedikit berbeda.

Seolah ketahanan dapat hadir dalam banyak bentuk, bukan hanya milik mereka yang muda dan bertenaga.


---

---

Tes Kejujuran

Pada menit ke-120 sejak tes dimulai, sistem pemantau internal mengubah pola laporan. Kamera di setiap tikungan tangga—yang awalnya hanya merekam jalannya proses—mulai menandai anomali: peserta yang tiba-tiba muncul kembali di lantai bawah meskipun belum pernah terekam melewati lantai 70, 80, atau 90.

Algoritma pengawasan yang disusun Ny Tien tidak dibuat untuk menghukum, hanya untuk mencatat. Tapi pada pagi itu, catatan itu menjadi bukti bahwa beberapa peserta memilih jalan pintas. Mereka turun sebelum mencapai lantai 100.

Para instruktur diam. Mereka tidak mengejar, tidak meneriaki, tidak menegur. Tes ini memang mengandung satu variabel tersembunyi: kejujuran dalam tekanan.

Ketika peserta curang itu tiba di lobi dengan napas terengah-engah, beberapa bahkan berpura-pura kelelahan ekstrem, satu instruktur hanya berkata:

> “Silakan duduk di area sebelah kiri.”



Mereka tidak tahu bahwa area itu disiapkan bagi peserta yang akan didiskualifikasi.

Di sisi lain, peserta yang pingsan digotong ke ruang kesehatan.
Tidak ada kata-kata yang menyalahkan.
Namun mereka tetap dianggap gagal tes pagi itu.


---

Menjelang Tengah Hari

Sementara matahari bergerak ke titik tertinggi dan hujan mulai berhenti, sisa peserta—jumlahnya tidak lebih dari seperlima total awal—masih berjuang menyelesaikan penurunan. Ketika jam hampir menyentuh pukul 12, peserta terakhir akhirnya menjejak lantai dasar.

Ruang lobi terasa seperti tempat yang baru saja dilewati badai: wajah pucat, napas tersengal, CV berserakan dalam tumpukan besar di meja resepsionis.

Instruktur memberikan kode ke Ny Tien melalui terminal kecil. Dalam beberapa detik, sistem menandai siapa saja yang menamatkan, siapa yang gagal, dan siapa yang curang. Semuanya terekam tanpa emosi—seperti hukum fisika sederhana.


---

Pemeriksaan CV

Jatmika dan tim HRD memasuki ruangan evaluasi. Mereka duduk mengelilingi meja panjang, layar besar di dinding menampilkan nama-nama peserta yang lulus.

CV para peserta yang tersisa dikumpulkan kembali.

Seorang staf HRD tiba-tiba mengernyit.

“Pak… ini ada beberapa CV yang… aneh.”

Jatmika menoleh.
“Kenapa?”

Staf itu menunjukkan dua lembar CV yang masih bersih dari keringat atau lipatan.

“Orang-orang ini masih bekerja di perusahaan kita, Pak. Mereka staf operasional, tapi ikut mendaftar sebagai pelamar baru.”

Jatmika mengambil kedua CV itu, membaca sebentar. Informasi diri, riwayat pendidikan, nomor KTP—semuanya asli.

“Apa tujuan mereka ikut tes ini?” tanya staf HRD lain.

Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menuntut jawaban lebih dalam dari sekadar alasan administratif.

Jatmika menghela napas pelan, seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan skenario-skenario di kepala.

“Barangkali,” katanya akhirnya, “mereka ingin kesempatan kedua. Atau mungkin mereka ingin membuktikan sesuatu… tentang diri mereka sendiri. Tes ini tidak hanya tentang mendapatkan pekerjaan. Bagi sebagian orang, mungkin ini cara untuk mengukur nilai mereka.”

John, yang berdiri di belakang, menambahkan lirih,
“Atau mereka takut tertinggal. Dunia berubah terlalu cepat dalam dua tahun terakhir. Teleportasi, kantor baru, ekspansi besar-besaran… tidak semua orang tahu apakah posisi mereka masih aman.”

Jatmika menatap layar daftar kelulusan. Ada keheningan kecil, seperti jeda antara satu keputusan penting dan keputusan berikutnya.

---
Hari itu, bagian HRD bekerja seperti pusat kendali lalu lintas yang mencoba menata arus manusia. Dian Sastro Wardoyo, sebagai kepala divisi, memimpin proses seleksi dengan ketelitian yang hampir menyerupai eksperimen ilmiah. Setiap CV dibaca bukan hanya sebagai daftar keterampilan, tetapi sebagai jejak keputusan hidup: usia, pengalaman kerja, jeda pengangguran, dan alasan berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.
Proses ini tidak selesai dalam sehari. Dibutuhkan waktu hampir seminggu untuk memetakan kecocokan tiap peserta—bukan hanya dengan posisi yang tersedia, tetapi dengan masa depan perusahaan itu sendiri.
PT Sinar Ultraviolet bukan lagi perusahaan biasa. Ia telah berubah menjadi ekosistem: sebagian orang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan, sebagian lain untuk menjelajah ketidakpastian.
Di tengah proses seleksi itu, Jatmika mengusulkan satu variabel baru.
Ia tidak menyampaikannya sebagai kebijakan, melainkan sebagai pilihan.
“Kami akan membagi dua jalur,” katanya dalam rapat internal.
“Jalur pertama: karyawan. Mereka bekerja seperti perusahaan pada umumnya—operasional, produksi, layanan, manajemen.
Jalur kedua: petarung.”
Beberapa staf HRD terdiam. Kata itu terdengar keras, hampir primitif.
Jatmika melanjutkan, suaranya tetap datar.
“Petarung bukan untuk berkelahi. Mereka menjalankan misi perusahaan—eksplorasi gua, pengamanan artefak, pengujian lokasi teleport, dan tugas-tugas yang tidak bisa dimasukkan ke dalam deskripsi kerja biasa. Risiko mereka lebih besar. Karena itu, kompensasinya juga berbeda.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:
“Dan tidak semua orang cocok untuk jalur ini. Bahkan yang kuat secara fisik sekalipun.”
Dengan demikian, seleksi tidak lagi hanya tentang lulus atau gagal, melainkan tentang memilih jenis masa depan.
Hari pengumuman tiba.
Para peserta yang tersisa berkumpul di aula utama. Tidak ada musik pembangkit semangat. Tidak ada tepuk tangan pembuka. Hanya layar besar yang menampilkan logo PT Sinar Ultraviolet dan daftar nama yang belum muncul.
Jatmika berdiri di depan mereka.
“Hari ini,” katanya, “kami tidak hanya mengumumkan siapa yang diterima bekerja. Kami juga mengumumkan siapa yang dipercaya.”
Ia menjelaskan kembali dua jalur itu, dengan bahasa yang sederhana dan tanpa glorifikasi.
“Karyawan akan membangun perusahaan ini agar tetap berdiri.
Petarung akan membawa perusahaan ini ke tempat-tempat yang belum kita pahami sepenuhnya.”
Nama-nama mulai muncul di layar, satu per satu, terbagi dalam dua kolom.
Beberapa peserta tersenyum lega ketika melihat namanya tercantum sebagai karyawan.
Sebagian lain terdiam lama ketika melihat namanya berada di kolom petarung—bukan karena bangga, tetapi karena menyadari konsekuensi yang menyertainya.
Dan ada pula yang tidak menemukan namanya sama sekali.
Jatmika menutup pengumuman dengan satu kalimat yang tidak tercantum di poster rekrutmen mana pun:
“Perusahaan ini tidak mencari orang yang paling kuat atau paling pintar. Kami mencari orang yang memahami pilihan yang mereka ambil—dan bersedia menanggung akibatnya.”
Tidak ada tepuk tangan.
Namun keheningan itu justru menjadi tanda bahwa kata-katanya dipahami.

Nama pria itu muncul paling bawah dalam kolom Petarung.
Usianya tercatat: 90 tahun.
Beberapa peserta lain menoleh, seolah sistem telah melakukan kesalahan. Namun Ny. Tien tidak pernah salah dalam membaca data biologis. Detak jantungnya stabil. Kepadatan tulangnya di atas rata-rata pria setengah usianya. Ototnya tidak besar, tetapi serabutnya padat—sejenis kekuatan yang tidak berasal dari latihan kebugaran modern, melainkan dari kebiasaan bertahan hidup terlalu lama.
Jatmika memanggilnya ke depan.
“Bapak tahu,” katanya hati-hati, “jalur ini bukan pekerjaan biasa.”
Pria itu mengangguk. Gerakannya pelan, tetapi tidak ragu.
“Saya tahu,” jawabnya. “Karena itu saya memilihnya.”
Latar belakangnya sederhana. Mantan tentara, pensiun sebelum kata pascatrauma dikenal sebagai diagnosis. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam rutinitas yang jelas: bangun, bergerak, berjaga, tidur. Setelah pensiun, rutinitas itu menghilang satu per satu—hingga yang tersisa hanya rumah yang terlalu sunyi.
Istrinya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak ada anak yang tinggal bersamanya. Waktu menjadi ruang kosong yang sulit diisi.
“Saya sudah mencoba berhenti,” katanya kemudian, seolah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan.
“Tapi tubuh saya tidak tahu caranya.”
Tes fisik membuktikan ucapannya. Ia menyelesaikan tanjakan tangga dengan langkah konstan, tanpa tergesa, tanpa berhenti. Peserta lain berlari, lalu kehabisan napas. Ia berjalan—dan terus berjalan.
Bukan karena ingin cepat sampai, tetapi karena ia tidak melihat alasan untuk berhenti.
John, yang menyaksikan dari balik kaca observasi, berbisik pada Jatmika, “Dia seperti mesin yang sudah lama disetel sempurna.”
Jatmika menggeleng pelan.
“Bukan mesin,” katanya. “Dia orang yang belum menemukan tempat untuk pulang.”
Ketika ditanya mengapa memilih jalur petarung, pria itu tidak menjawab dengan kata-kata besar.
“Kalau saya diam terlalu lama,” katanya, “saya mulai mengingat hal-hal yang tidak bisa diperbaiki.”
Ia tidak menyebut perang. Tidak menyebut kehilangan. Ia hanya menyebut diam—seolah itu lebih berbahaya daripada medan apa pun yang pernah ia hadapi.
Ny. Tien menandai satu catatan tambahan dalam profilnya:
Subjek menunjukkan stabilitas mental tinggi dalam kondisi berisiko.
Motivasi bukan ambisi, melainkan kontinuitas eksistensial.
Dalam bahasa manusia: ia tidak ingin menjadi penonton dari sisa hidupnya sendiri.
Saat pengumuman resmi selesai, Jatmika mendekatinya sekali lagi.
“Bapak yakin?” tanyanya. “Misi bisa membawa Anda ke tempat yang… tidak tercatat.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Dulu, semua tempat yang penting juga tidak tercatat,” katanya.
“Kalau harus berhenti di suatu tempat, saya lebih memilih tempat yang masih membutuhkan saya.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Jatmika tidak melihat teknologi sebagai pusat cerita ini. Ia melihat manusia—dan alasan mengapa, bahkan di usia sembilan puluh, seseorang masih memilih langkah ke depan dibandingkan kursi yang nyaman.
Tidak semua peserta menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Beberapa berdiri dari kursinya. Ada yang bersuara lantang, ada pula yang memilih nada getir—keduanya sama-sama lahir dari kekecewaan yang tak sempat direncanakan.
“Kami melamar sebagai karyawan,” kata seorang pria muda. “Bukan sebagai petarung.”
Jatmika mendengarkan tanpa memotong. Ia telah belajar bahwa kemarahan sering kali bukan tentang apa yang ditolak, melainkan tentang harapan yang tidak pernah diuji sejak awal.
“Posisi karyawan sudah penuh,” katanya akhirnya. “Bukan karena kalian kurang mampu, tapi karena struktur perusahaan tidak bisa menampung semua bentuk keinginan sekaligus.”
Seorang peserta lain menyela, “Jadi kami dipaksa?”
Jatmika menggeleng pelan.
“Tidak. Kalian diberi pilihan yang tersisa.”
Ruangan menjadi sunyi dengan cara yang berbeda—bukan karena semua orang setuju, melainkan karena mereka menyadari bahwa tidak semua pintu ditutup dengan suara keras. Ada pintu yang ditutup dengan kejelasan.
“Jika kalian ingin mundur,” lanjut Jatmika, “tidak ada konsekuensi apa pun. Tidak ada catatan buruk. Tidak ada stigma. Tapi jika kalian memilih bertahan, maka kalian harus menerima peran yang dibutuhkan perusahaan saat ini, bukan peran yang kalian bayangkan.”
Beberapa keluar ruangan tanpa menoleh. Yang lain tetap duduk, menimbang sesuatu yang lebih berat dari sekadar jabatan: makna keberlanjutan.
Jatmika kemudian menampilkan struktur pangkat di layar besar.
Bukan bagan organisasi biasa.
Tidak ada kotak-kotak kaku, tidak ada anak panah naik turun berdasarkan usia atau masa kerja.
Hanya simbol.
Kapak Emas — pangkat awal petarung.
Mereka yang menjalankan misi, menjaga titik teleportasi, dan memasuki ruang yang belum dipetakan.
Di atasnya, pangkat-pangkat lain—nama-nama yang tidak merujuk pada jabatan, melainkan pada tanggung jawab.
Dan paling atas, hanya satu simbol:
Naga.
“Kapak Emas bukan tanda kekerasan,” kata Jatmika. “Ia tanda keputusan. Kalian memotong jalan yang belum pernah dilalui.”
“Dan Naga?” tanya seseorang.
Jatmika berhenti sejenak, seolah ingin memastikan bahwa kata-kata berikutnya tidak terdengar seperti janji kosong.
“Naga bukan pemimpin karena kekuasaan,” katanya.
“Ia pemimpin karena ia bertahan cukup lama untuk memahami akibat dari setiap perintah.”
Ia menatap para peserta satu per satu.
“Setiap misi, setiap temuan, setiap keputusan akan dicatat oleh sistem. Pangkat tidak diberikan—ia muncul, sebagai konsekuensi dari apa yang kalian lakukan ketika tidak ada yang menonton.”
Ny. Tien menambahkan dengan suara netral, nyaris tanpa emosi:
Kenaikan pangkat berbasis partisipasi, risiko, dan integritas keputusan.
Dalam bahasa manusia: tidak semua yang kuat naik pangkat. Hanya yang konsisten.
Sebagian peserta masih tampak ragu. Yang lain menunduk, mencerna.
Petarung lansia berdiri tanpa suara, memegang lambang Kapak Emas di tangannya sejenak, lalu mengangguk.
“Ini cukup,” katanya. “Saya tidak butuh lebih.”
Jatmika menatapnya dan menyadari sesuatu yang sederhana namun mengganggu:
Tidak semua orang mengejar Naga.
Sebagian hanya ingin tempat di mana langkah mereka masih berarti.
Dan bagi perusahaan yang bermain di batas teknologi dan mitologi, itu mungkin modal paling berharga.
Misi pertama tidak diawali dengan perjalanan, melainkan dengan tanda tangan.
Satu per satu para Kapak Emas membubuhkan nama mereka pada perjanjian yang disusun dengan bahasa yang nyaris tanpa metafora. Isinya sederhana, hampir kering: menjaga kerahasiaan perusahaan, bertanggung jawab atas setiap konsekuensi, dan menerima bahwa tidak semua akibat bisa diprediksi sebelum sebuah pintu dibuka.
Tidak ada ancaman tertulis. Tidak ada janji imbalan yang dilebihkan. Justru itulah yang membuat dokumen itu terasa berat. Setiap kalimat seolah menyiratkan bahwa ketidaktahuan bukanlah pembelaan.
Jatmika memperhatikan wajah-wajah mereka. Ia tahu, bagi sebagian orang, misi ini akan terasa seperti pekerjaan. Bagi yang lain, seperti takdir yang akhirnya menemukan bentuk.
Di ruang rapat utama, Jatmika duduk bersama Pak Toni dan Prof. Wen Shuyuan. Di hadapan mereka, proyeksi tiga dimensi berputar perlahan—bukan peta bumi, melainkan susunan planet yang selama ini hanya dikenal lewat buku pelajaran dan teleskop.
“Gua teleportasi di China,” kata Prof. Wen, “memiliki sesuatu yang tidak kami temukan di sini.”
Ia menampilkan gambar dinding gua: pahatan kuno, garis-garis yang tidak menyerupai rasi bintang, melainkan urutan. Planet-planet digambarkan berjajar, bukan sebagai simbol astrologi, melainkan seperti tujuan perjalanan.
“Kami awalnya mengira ini mitologi,” lanjutnya. “Tapi Ny. Tien membaca pola koordinat.”
Ny. Tien segera menimpali, suaranya datar namun presisi:
Koordinat valid terdeteksi. Titik tujuan: orbit Jupiter. Probabilitas kesalahan rendah. Kendala utama: transmisi sinyal lintas jarak ekstrem.
John, yang ikut mendengarkan dari sisi ruangan, bertanya, “Jadi teleportasi tidak cukup hanya dengan energi?”
“Energi selalu cukup,” jawab Jatmika pelan. “Yang sering tidak cukup adalah arah.”
Masalahnya bukan pada kemampuan membuka gerbang, melainkan pada menjaganya tetap sinkron. Semakin jauh tujuan, semakin rapuh hubungan antara titik asal dan titik tujuan. Jupiter bukan sekadar jauh; ia berada di wilayah di mana sinyal menjadi konsep yang tidak stabil.
“Kami butuh satelit yang lebih kuat,” kata Prof. Wen. “Bukan hanya untuk navigasi, tapi untuk mempertahankan kontinuitas.”
Jatmika mengangguk. Ia sudah menduga ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.
“Dan sekarang,” lanjut Prof. Wen, “kami memilikinya.”
Ia menjelaskan kerja sama yang baru saja terjalin dengan sebuah perusahaan antariksa asal Amerika. Kesepakatannya tidak menyangkut teknologi teleportasi—itu tetap dirahasiakan—melainkan peminjaman infrastruktur satelit hingga orbit Jupiter.
Pak Toni tersenyum tipis. “Ironis,” katanya. “Mereka pikir kita hanya ingin meminjam mata. Padahal kita sedang membangun jalan.”
Jatmika memandang kembali ke layar, ke planet raksasa yang berputar dalam diam.
Teleportasi ke Jupiter bukan sekadar pencapaian teknis. Itu adalah pernyataan filosofis: bahwa manusia tidak lagi bertanya apakah kita bisa pergi sejauh itu, melainkan apa yang pantas kita bawa ketika sampai.
Ia menoleh ke para Kapak Emas yang menunggu di luar ruang rapat.
“Misi pertama,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain, “bukan tentang tiba di Jupiter.”
Ia berhenti sejenak.
“Melainkan tentang memastikan bahwa ketika kita membuka pintu sejauh itu, kita masih mengenali siapa diri kita saat melangkah masuk.”
Permintaan itu datang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai koreksi logis.
Pengusaha satelit asal Amerika itu, setelah mengetahui bahwa satelitnya akan digunakan bukan sekadar untuk navigasi antarbenua, melainkan sebagai penopang teleportasi menuju planet luar, mengajukan satu syarat tambahan: para penelitinya harus dilibatkan.
“Bukan untuk mengendalikan,” katanya dalam sambungan konferensi, “hanya untuk memahami.”
Pak Toni langsung menyatakan keberatannya. Kesepakatan awal, menurutnya, jelas dan tertutup. Satelit dipinjam, data tetap milik mereka. Tidak ada klausul tentang partisipasi manusia tambahan.
“Teknologi ini belum stabil secara sosial,” ujar Pak Toni. “Menambah pihak berarti menambah variabel.”
Prof. Wen Shuyuan memandang persoalan itu dari sudut yang berbeda. Ia tidak membantah risiko, tetapi menghitung waktu.
“Mencari rekanan baru,” katanya, “berarti mengulang negosiasi, pengujian kompatibilitas sistem, dan membangun kepercayaan dari nol. Itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Jupiter tidak akan menjauh, tapi momentum kita bisa hilang.”
Perdebatan itu tidak menghasilkan kesimpulan. Karena itu, Jatmika memutuskan untuk tidak menunggu.
Ia berangkat ke Amerika bukan sebagai ilmuwan, juga bukan semata sebagai pengusaha, melainkan sebagai seseorang yang memahami bahwa teknologi sebesar ini tidak bisa hanya dimiliki—ia harus dinegosiasikan.
Pertemuan dilakukan di ruang yang dindingnya penuh layar orbit dan lintasan satelit. Sang pengusaha tampak lebih tertarik daripada curiga. Ia bukan orang yang ingin mencuri rahasia; ia ingin berada di dalam cerita sejak awal.
Jatmika tidak langsung berbicara tentang Jupiter. Ia berbicara tentang struktur.
“Perusahaan kami,” katanya, “tidak dibangun berdasarkan kepemilikan, melainkan partisipasi.”
Ia lalu mengajukan proposal yang tidak tercantum dalam draf mana pun sebelumnya.
Satelit dipinjamkan tanpa biaya. Sebagai gantinya, sang pengusaha—dan perusahaannya—menjadi bagian dari PT. Sinar Ultraviolet. Bukan sebagai pemegang kendali, melainkan sebagai simpul dalam jaringan yang lebih besar.
“Dan akses teleportasi?” tanya sang pengusaha.
“Diberikan,” jawab Jatmika. “Dengan batasan yang sama seperti kami membatasi diri sendiri.”
Tidak ada janji eksploitasi. Tidak ada klaim supremasi teknologi. Yang ditawarkan adalah kesempatan untuk hadir—pada sesuatu yang mungkin akan mengubah cara manusia memahami jarak.
Sang pengusaha terdiam lama. Ia memahami risikonya. Ia juga memahami bahwa menolak berarti hanya akan membaca sejarah dari luar.
Akhirnya ia mengangguk.
“Kami setuju.”
Ketika Jatmika kembali, Pak Toni masih terlihat khawatir.
“Kita membuka pintu terlalu lebar,” katanya.
Jatmika menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya. “Kita hanya memilih siapa yang berdiri di ambang pintu bersama kita.”
Dan di kejauhan, Jupiter tetap berputar, tak menyadari bahwa keputusan di sebuah ruang rapat di bumi telah membuatnya, untuk pertama kalinya, menjadi tujuan yang sungguh mungkin.
Pelatihan para petarung bertitel Kapak Emas dimulai tanpa seremoni.
Tidak ada pidato heroik, tidak ada janji kejayaan. Jatmika hanya mengatakan satu hal: bahwa siapa pun yang berada di tempat itu telah memilih jalan yang tidak bisa dijalani setengah-setengah.
Pelatihan dibagi menjadi tiga lapis yang tidak terpisah: fisik, akademik, dan bertahan diri. Ketiganya dirancang bukan untuk menciptakan prajurit yang patuh, melainkan individu yang mampu membuat keputusan di bawah tekanan ekstrem.
Di antara para peserta, dua nama segera menonjol.
Risky Mandang, karyawan internal yang sebelumnya nyaris tak diperhitungkan, menunjukkan nilai tertinggi dalam pengujian teori dan adaptasi lapangan. Ia bukan yang terkuat, tetapi ia selalu tahu kapan harus berhenti, kapan harus maju, dan kapan harus mengorbankan tenaga untuk hari berikutnya.
Yang lain adalah Joesoef, mantan tentara berusia sembilan puluh tahun. Tubuhnya tidak lagi muda, tetapi geraknya efisien—tanpa pemborosan. Ia tidak berlari paling cepat, namun selalu tiba. Seolah tubuhnya telah lama berdamai dengan rasa sakit.
Untuk bela diri, Jatmika mendatangkan seorang ahli mixed martial art dari Uzbekistan. Pria itu tidak banyak bicara. Ia mengajarkan bahwa bertarung bukan tentang menyerang, melainkan tentang bertahan cukup lama hingga lawan membuat kesalahan.
Latihan dijalankan tanpa kompromi.
Para peserta dipaksa berlari menanjak gunung hingga napas mereka terasa seperti api, lalu turun kembali dengan kaki gemetar. Mereka berenang menyusuri sungai berarus deras, melompat dari air terjun tanpa jaminan pendaratan yang sempurna. Dalam satu sesi tertentu, mereka bahkan harus berhadapan dengan beruang dari Rusia—bukan untuk mengalahkannya, melainkan untuk belajar membaca ketakutan mereka sendiri.
Tidak ada pendingin udara. Tidak ada batas waktu resmi. Tidak ada akhir yang jelas.
Hari demi hari, tubuh mereka berubah. Tetapi yang berubah lebih dahulu adalah cara mereka memahami kelelahan. Rasa sakit tidak lagi menjadi sinyal untuk berhenti, melainkan informasi—tentang batas, tentang risiko, tentang konsekuensi.
Beberapa peserta mundur. Tidak sedikit yang terluka. Namun yang bertahan mulai memahami bahwa pelatihan ini tidak dirancang untuk membuat mereka kuat.
Pelatihan ini dirancang untuk mengajarkan satu hal sederhana namun kejam:
bahwa hidup memang hanya sekali, tetapi pilihan—dan tanggung jawab atas pilihan itu—datang setiap hari, tanpa akhir.
Dan bagi para Kapak Emas, latihan bukan lagi fase persiapan.
Ia telah menjadi cara hidup.
Para peneliti utusan dari pengusaha Amerika datang dalam jumlah yang sulit diabaikan—seratus orang, masing-masing membawa keahlian, asumsi, dan keyakinan tentang bagaimana teknologi seharusnya bekerja.
Mereka tidak langsung dibawa ke ruang presentasi.
Jatmika justru menyerahkan mereka kepada Tim 10, dengan satu instruksi sederhana: perlakukan mereka bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pembelajar. Teleportasi, menurutnya, tidak bisa dipahami lewat diagram atau simulasi. Ia harus dialami, lengkap dengan ketidaknyamanannya.
Pelatihan dimulai dari hal paling dasar: bagaimana berdiri, bagaimana bernapas, dan bagaimana menerima bahwa tidak semua perpindahan bisa dijelaskan secara instan. Banyak dari para peneliti itu terbiasa mengendalikan variabel; di sini, mereka justru diminta mengakui adanya faktor yang tidak sepenuhnya tunduk pada perhitungan.
Satu per satu, mereka diteleportasikan ke beberapa gua yang berbeda.
Tidak ada dua pengalaman yang sama. Sebagian merasakan jeda yang terlalu singkat untuk disadari, sebagian lain mengalami seolah ada detik yang memanjang. Beberapa keluar dengan wajah pucat, bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran bahwa orientasi ruang yang selama ini mereka yakini ternyata rapuh.
Di dalam gua, Tim 10 tidak banyak menjelaskan. Mereka hanya menunjukkan jalur, simbol segel, dan batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Para peneliti mencatat, mengukur, merekam—namun pada titik tertentu, mereka kehabisan istilah teknis untuk menggambarkan apa yang mereka alami.
Teleportasi itu bekerja. Tetapi tidak seperti yang mereka bayangkan.
Pada akhir hari, sebagian dari mereka mulai memahami bahwa teknologi ini bukan sekadar persoalan energi dan koordinat. Ia adalah pertemuan antara sistem, manusia, dan sesuatu yang belum sepenuhnya dapat diberi nama.
Dan di situlah, Jatmika tahu, kerja sama ini baru benar-benar dimulai.
Sesuai dengan janji awal, pengusaha Amerika itu menyediakan akses satelit, bekerja sama langsung dengan NASA. Biaya yang terlibat mencapai ratusan miliar rupiah—angka yang, bagi sebagian orang, terdengar seperti penghalang. Namun bagi proyek ini, angka itu justru menjadi pernyataan: bahwa manusia bersedia membayar mahal demi melampaui batas yang selama ini dianggap final.
Proyek tersebut segera dipahami sebagai sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bukan sekadar misi ilmiah, melainkan langkah pertama umat manusia menjelajah tata surya bukan dengan roket, melainkan dengan pemahaman baru tentang ruang.
Namun Prof. Wen Shuyuan segera mengoreksi asumsi yang berkembang.
Tujuan mereka bukanlah planet Jupiter.
Ia menjelaskan bahwa Jupiter, dengan radiasi ekstrem dan gravitasi masif, adalah lingkungan yang tidak memberi ruang bagi kesalahan. Sebaliknya, Callisto, salah satu bulannya, menawarkan kondisi yang lebih masuk akal: radiasi relatif rendah, medan gravitasi lebih ringan, dan permukaan yang stabil. Callisto bukan tujuan yang heroik, tetapi tujuan yang memungkinkan manusia untuk bertahan.
Bagi Wen Shuyuan, itu sudah cukup.
Jatmika meneruskan temuan tersebut kepada para peneliti Amerika. Respons mereka bukan sorak-sorai, melainkan keheningan yang diisi oleh perhitungan ulang. Mengubah tujuan berarti mengubah banyak hal—tetapi juga membuka kemungkinan yang sebelumnya tertutup.
Di sela diskusi teknis itu, perhatian Jatmika tertarik pada sesuatu yang lebih sederhana: baju astronot buatan Amerika. Ia mengamatinya bukan sebagai simbol status, melainkan sebagai lapisan perlindungan tipis antara tubuh manusia dan lingkungan yang tidak diciptakan untuknya.
“Apakah mungkin,” tanyanya kemudian, “kami mendapatkan baju seperti ini untuk orang-orang kami? Sekitar seratus orang.”
Michael, staf senior NASA, menjawab dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa baju itu dirancang untuk menahan radiasi tinggi dan panas ekstrem, dengan biaya yang tidak kecil. Permintaan tersebut, menurut prosedur, hampir pasti tidak akan disetujui.
Jatmika mengangguk, seolah telah menduga jawabannya.
Namun malam itu, ia menghubungi pengusaha Amerika tersebut melalui sambungan pribadi—bukan untuk membahas spesifikasi teknis, melainkan visi jangka panjang. Percakapan mereka singkat, tanpa retorika berlebihan.
Lima hari kemudian, konfirmasi datang.
Seratus baju astronot akan dikirim.
Bagi Jatmika, keputusan itu bukan soal perlengkapan. Itu adalah pengakuan diam-diam bahwa proyek ini tidak lagi berdiri di pinggir kemungkinan, melainkan telah melangkah ke wilayah yang menuntut kesiapan penuh—baik secara teknologi, maupun sebagai manusia yang akan menggunakannya.