Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan

05/10/26

Season 12 Kerajaan mythopia

Chapter 119 Pelayaran Menuju Majapahit

Setelah meninggalkan hutan dan negeri yang jauh dari tanah Majapahit, tibalah rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung di sebuah pelabuhan yang menghadap lautan luas. Angin laut bertiup dari ufuk barat, membawa aroma garam dan suara burung-burung yang berputar di atas tiang-tiang dermaga.

Di sana sebuah kapal besar telah menunggu.

Lambungnya terbuat dari kayu tua yang kokoh, dihiasi ukiran khas Majapahit pada haluan dan buritannya. Tiga tiang tinggi menjulang ke langit, dan layar-layar putih yang terlipat menggantung seperti sayap burung raksasa yang sedang beristirahat.

Begitu melihat rombongan itu mendekat, seorang lelaki berusia setengah baya turun dari geladak. Janggutnya telah memutih di beberapa bagian, sementara wajahnya terbakar matahari dan angin laut. Ia adalah kapten kapal yang ditugaskan membawa sang putri kembali ke Jawa.

Ia memandang Dyah Sekar Tanjung dan rombongannya dengan wajah antara lega dan kesal.

"Kenapa kalian lama sekali?" serunya. "Aku sudah menunggu di pelabuhan ini hampir seminggu!"

Paman Hanggara menghela napas panjang.

"Jangan salahkan kami, Kapten. Kami mengalami sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan."

Kapten mengangkat alis.

"Apa yang terjadi?"

"Kami disergap oleh makhluk kera putih di tengah hutan," jawab Hanggara.

Beberapa awak kapal yang mendengar perkataan itu saling berpandangan.

"Kera putih?" gumam salah seorang dari mereka.

"Jangan banyak bertanya," jawab Hanggara. "Percayalah, makhluk itu bukan binatang biasa."

Dyah Sekar Tanjung tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya tertuju jauh ke arah laut. Di balik ketenangan wajahnya tersimpan kegelisahan yang sejak menerima surat dari Majapahit belum juga pergi.

Pujeng Rarasati berdiri di sampingnya.

"Semoga Ayahanda Prabu Kertawrdhana masih diberikan umur panjang oleh para dewa," ucapnya lirih.

Dyah Sekar menundukkan kepala.

"Semoga demikian."

Ia menggenggam kain jubahnya erat-erat.

"Aku harus segera sampai ke Majapahit."

Kemudian sang putri menoleh kepada kapten.

"Kecepatan penuh, Kapten."

Kapten itu tersenyum tipis.

"Perintah diterima, Paduka Putri."

Ia segera berbalik dan berteriak kepada anak buahnya.

"Buka seluruh layar!"

Para awak kapal bergerak serentak.

Tali-tali ditarik.

Katrol-katrol kayu berderit.

Layar-layar putih yang besar perlahan naik menuju ujung tiang, kemudian mengembang ketika angin laut menerpanya. Kapal bergetar sesaat sebelum akhirnya bergerak meninggalkan pelabuhan.

Semakin jauh mereka dari daratan, semakin luas terbentang lautan di hadapan.

Hari pertama berlalu dengan tenang.

Matahari menggantung tinggi di langit, memantulkan cahaya ke permukaan air hingga lautan tampak seperti hamparan perak yang tak berujung.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah seorang awak.

"Lihat! Ikan!"

Rombongan segera mendekati sisi kapal.

Sekawanan ikan berkilauan melompat dari permukaan laut, berhamburan seperti permata yang dilemparkan ke udara. Di belakang mereka beberapa ekor lumba-lumba berenang dengan cepat, melesat naik turun mengejar kawanan ikan.

Para awak kapal bersorak.

"Kesempatan yang jarang!"

Jala-jala segera disiapkan.

Dengan satu aba-aba, beberapa awak melemparkan jala ke laut.

Jala itu terbentang lebar di udara sebelum jatuh menutupi permukaan air.

Tak lama kemudian mereka menariknya kembali.

Puluhan ikan menggelepar di dalam jaring.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Permukaan laut tiba-tiba berguncang.

Sesuatu yang besar bergerak di bawah kapal.

"Lihat ke sana!" teriak seorang awak.

Dari kejauhan muncul bayangan hitam yang jauh lebih besar daripada kawanan ikan tadi.

Air laut terbelah.

Seekor makhluk raksasa muncul sesaat dari permukaan—tubuhnya gelap, panjang, dan kuat seperti monster dari zaman purba.

"Itu... orca raksasa!"

Makhluk itu mengejar kawanan lumba-lumba dengan kecepatan yang mengerikan.

Kapal mulai berguncang ketika makhluk tersebut berputar di sekelilingnya.

Para awak kapal kehilangan keseimbangan.

"Pegang tali!"

"Jangan sampai jatuh!"

"Turunkan layar!"

Namun arus yang tercipta oleh tubuh raksasa itu membuat kapal terombang-ambing.

Dyah Sekar Tanjung berpegangan pada tiang kapal. Lembayung Ardani dan Pujeng Rarasati berdiri di belakangnya, sementara Paman Hanggara segera memerintahkan para pengawal menjaga sang putri.

Beberapa saat kemudian makhluk itu menghilang ke kedalaman.

Laut kembali tenang.

Tidak ada suara selain deburan ombak.

Para awak kapal terdiam.

Menit berlalu.

Kemudian satu jam.

Tidak terjadi apa-apa.

Akhirnya kapten menghela napas lega.

"Sepertinya makhluk itu telah pergi."

Para penumpang pun mulai tenang.

Beberapa awak kembali bekerja. Sebagian menata ikan hasil tangkapan. Yang lain memperbaiki tali layar yang sempat terlepas.

Mereka bersyukur karena bahaya telah berlalu.

Namun tidak seorang pun di atas kapal mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi.

Jauh di bawah permukaan laut, di tempat yang tidak dapat ditembus cahaya matahari, sesuatu yang jauh lebih besar bergerak perlahan.

Makhluk yang tadi mereka lihat bukanlah penguasa lautan itu.

Ia hanyalah mangsa.

Di kedalaman yang gelap, tubuh raksasa Leviathan Abyssala bergerak dari balik kabut bawah laut.

Rahangnya terbuka.

Dalam satu hentakan dahsyat, ia telah melahap orca raksasa yang tadi mengejar lumba-lumba.

Lumba-lumba yang tersisa berenang menjauh dalam kepanikan.

Leviathan Abyssala tidak mengejar mereka.

Ia hanya berbalik.

Mata besarnya yang pucat menatap ke atas.

Jauh di permukaan, sebuah kapal Majapahit sedang berlayar membawa Putri Dyah Sekar Tanjung pulang menuju Jawa.

Leviathan itu merasakan getaran kapal di atas kepalanya.

Untuk beberapa saat, makhluk purba itu hanya mengikuti dari kejauhan.

Kemudian ia mulai berenang.

Perlahan.

Tanpa suara.

Bayangannya membesar di bawah kapal.

Namun para penumpang tidak menyadarinya.

Mereka mengira lautan telah kembali tenang.

Mereka tidak tahu bahwa di bawah lunas kapal, sebuah makhluk dari zaman yang jauh lebih tua daripada kerajaan-kerajaan manusia sedang mengikuti perjalanan mereka menuju Jawa.
Chapter 120 Langkah Menghindari Kematian

Ledakan itu mengguncangkan seluruh ruang ilusi.

Cahaya putih membutakan mata, disusul gelombang energi yang menyapu hutan, gunung, dan lembah buatan yang selama ini menjadi tempat latihan Isidore. Tanah retak seperti kaca. Pepohonan raksasa tercabut dari akarnya dan terlempar ke udara. Gunung-gunung ilusi runtuh menjadi debu cahaya.

Klon Rasvatar telah meledakkan dirinya sendiri.

Untuk sesaat, tidak ada yang terdengar selain gemuruh kehancuran.

Kemudian keheningan turun.

Di antara puing-puing ruang ilusi, Isidore tergeletak di atas tanah. Tubuhnya dipenuhi debu, napasnya berat, dan pedang cahayanya telah kembali menjadi keris emas yang tergeletak beberapa langkah darinya.

Ia mencoba menggerakkan tangannya.

Kemudian perlahan bangkit.

"Aku... masih hidup."

Di hadapannya, sosok Cheon Myeong muncul dari kabut cahaya.

Sang ksatria berdiri tegak dengan ketenangan seorang prajurit yang telah melewati ribuan peperangan.

"Isidore," katanya, "kau terlalu banyak mengandalkan kekuatan serangan."

Isidore menatapnya.

"Padahal kekuatanku belum cukup untuk mengalahkan Rasvatar."

"Bukan itu persoalannya."

Cheon Myeong menggeleng.

"Seorang pendekar sejati tidak selalu menang dengan menahan serangan lawannya. Ada saat ketika pedang harus menghindar, bukan melawan."

Ia melangkah maju.

"Penghindaran adalah bagian dari kemenangan."

Kemudian Cheon Myeong bergerak.

Tidak ada suara langkah.

Tubuhnya tiba-tiba melesat seperti kilat.

Dalam satu kedipan mata ia telah berada puluhan langkah di depan Isidore. Kemudian tubuhnya berputar, melompat, dan seolah-olah menghilang dari dunia.

Di udara terbuka sebuah celah tipis seperti ruang kosong.

Cheon Myeong masuk ke dalamnya.

Sesaat kemudian ia muncul kembali di tempat lain.

Isidore membelalakkan mata.

"Itu..."

"Langkah Kosong Rasvatar."

Cheon Myeong berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Jangan melawan ruang. Gunakan kekosongan yang berada di antara dua tempat."

Isidore menarik napas panjang.

Ia mencoba meniru gerakan tersebut.

Sekali.

Gagal.

Dua kali.

Tubuhnya hanya bergerak beberapa langkah sebelum kehilangan keseimbangan.

Cheon Myeong tidak tertawa.

"Ulangi."

Isidore mencoba lagi.

Kali ini ia berlari lebih cepat.

Tubuhnya melesat seperti anak panah, kemudian melompat.

Sesaat sebelum menyentuh tanah, ia memusatkan seluruh pikirannya.

Ruang di hadapannya bergetar.

Sebuah celah kecil terbuka.

Isidore memasuki kekosongan itu.

Tubuhnya menghilang.

Namun hanya sesaat.

Ia muncul kembali beberapa langkah jauhnya dan jatuh berlutut.

Napasnya tersengal.

Cheon Myeong mengangguk.

"Lebih baik."

Di kejauhan, Raja Alam Wardana memperhatikan dengan wajah tenang.

"Jangan terburu-buru, Isidore. Klon Rasvatar memang jauh lebih kuat daripada dirimu saat ini. Tetapi bukan berarti ia tidak dapat dikalahkan."

Isidore menatap sang raja.

"Bagaimana caranya?"

"Berlatih."

Wardana tersenyum tipis.

"Jika kau terus berlatih hingga pikiran, tubuh, dan energi batinmu bergerak sebagai satu kesatuan, suatu hari kau akan mampu mengalahkan klon Rasvatar."

Di luar ruang latihan, Ki Surya Dahana berdiri terdiam.

Ia baru saja menyaksikan pertarungan tersebut.

Matanya masih tertuju pada kehancuran ruang ilusi.

"Mustahil..."

Ia menghela napas.

"Ruang ini dibangun untuk menahan energi para pendekar tingkat tinggi. Namun ledakan klon Rasvatar bahkan mampu menghancurkannya."

Ia menggeleng perlahan.

"Kalau Isidore terus berkembang seperti ini, ia sendiri bisa menjadi ancaman bagi ruang latihan ini."

Ki Surya Dahana kemudian berbalik menuju sebuah meja batu.

Di atasnya terdapat sebuah mangkuk keramik.

Ia telah menyiapkan ramuan herbal khusus untuk Isidore.

Cairannya berwarna hijau pekat. Uap tipis mengepul dari permukaannya dan aroma tumbuh-tumbuhan yang kuat memenuhi udara.

Ki Surya Dahana membawa mangkuk itu kepada Isidore.

"Minumlah."

Isidore memandang cairan tersebut dengan curiga.

"Ramuan apa ini, Guru?"

"Ramuan untuk mengembalikan tenaga."

Ki Surya Dahana menyerahkan mangkuk itu.

"Dan jangan banyak bertanya."

Isidore mencium aromanya.

Wajahnya langsung berubah.

"Bau ini..."

"Pahit."

Ki Surya Dahana tersenyum.

"Sangat pahit."

Isidore menatap gurunya beberapa saat.

Kemudian ia menarik napas dalam-dalam, menutup hidungnya, dan meneguk sedikit.

Wajahnya langsung mengernyit.

"Ugh..."

Ki Surya Dahana menahan tawa.

"Habiskan."

Isidore menutup mata.

Dengan keberanian seorang ksatria yang menghadapi naga, ia mengangkat mangkuk itu dan meminum seluruh ramuan sampai tetes terakhir.

Ia menurunkan mangkuk dengan wajah menahan kepahitan.

"Sudah."

"Bagus."

Ki Surya Dahana mengambil mangkuk tersebut.

Kemudian ia berjalan menuju sebuah dinding batu yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh Isidore.

Ia mengangkat tangannya.

Sebuah lingkaran cahaya hijau muncul di permukaan batu.

WUUUUMM...

Dinding itu bergetar.

Kemudian terbuka perlahan.

Di baliknya terbentang sebuah tempat latihan yang sama sekali berbeda.

Air mengalir dari tebing tinggi membentuk air terjun yang jernih. Sungai-sungai kecil bercabang dari aliran utama dan mengelilingi bebatuan besar. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air. Suara gemericik sungai terdengar seperti nyanyian yang menenangkan setelah pertempuran yang dahsyat.

Ki Surya Dahana menunjuk ke dalam.

"Masuklah."

Isidore melangkah mendekati pintu.

"Tempat apa ini?"

"Tempat untuk memulihkan tubuhmu."

Ki Surya Dahana memandangnya dengan serius.

"Jangan gunakan kekuatanmu untuk menyerang."

Ia menunjuk kepada air terjun.

"Duduklah di sana. Tenangkan pikiranmu. Kemudian alirkan energi batinmu ke seluruh tubuh."

Isidore mengangguk.

"Dan ramuan tadi?"

"Rasakan khasiatnya."

Ki Surya Dahana menatap mata Isidore.

"Jangan paksa tubuhmu. Biarkan ramuan itu mengalir bersama darah dan energi dalam tubuhmu. Air, udara, tanah, dan seluruh unsur di tempat itu akan membantumu."

Isidore kemudian berjalan menuju air terjun.

Ia duduk bersila di atas batu besar.

Air jatuh dari ketinggian dan menghantam tubuhnya.

BYURR!

Isidore memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya sejak pertarungan melawan klon Rasvatar, ia tidak memikirkan pedang.

Tidak memikirkan kemenangan.

Tidak memikirkan kekalahan.

Ia hanya mendengarkan suara air.

Napasnya perlahan menjadi teratur.

Energi yang sebelumnya kacau mulai bergerak perlahan di dalam tubuhnya.

Dari dalam dadanya muncul cahaya putih yang sangat lembut.

Raja Alam Wardana mengamati dari kejauhan.

Cheon Myeong berdiri di sampingnya.

"Dia mulai memahami," ujar Cheon Myeong.

Wardana mengangguk.

"Ya."

Matanya tertuju kepada Isidore.

"Pertarungan melawan Rasvatar bukanlah akhir dari latihan ini."

Ia tersenyum tipis.

"Itu baru permulaannya."

Dan di bawah derasnya air terjun, Isidore terus bermeditasi, sementara kekuatan yang baru saja ia terima perlahan menyatu dengan tubuh dan jiwanya.
Chapter 121 Misi Pertama Isidore: Bangsa Zhar'Kor

Di bawah derasnya air terjun, Isidore tetap duduk dalam keheningan.

Air jatuh dari tebing tinggi, membasahi rambut dan jubahnya. Namun ia tidak bergerak sedikit pun.

Pikirannya telah kembali kepada pelajaran-pelajaran pertama yang diberikan Rasvatar.

Jangan melihat serangan.

Lihat niat yang melahirkan serangan itu.

Dahulu Isidore mengira seorang pendekar harus membaca arah pedang, gerakan kaki, atau perubahan posisi tubuh lawan. Namun Rasvatar mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Serangan hanyalah akibat.

Niat adalah awalnya.

Jika niat seorang musuh dapat dibaca sebelum tubuhnya bergerak, maka serangan yang paling cepat sekalipun tidak lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan.

Isidore menarik napas panjang.

"Fokus pada kehendak musuh... bukan pada serangannya."

Energi putih perlahan menyelimuti tubuhnya.

Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.

Tubuh Isidore bergetar.

Satu bayangan muncul di sampingnya.

Kemudian bayangan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Dalam beberapa saat, sepuluh sosok Isidore telah duduk bersila di sepanjang sungai.

Mereka semua memiliki wajah, pakaian, dan aura yang sama.

Sepuluh Isidore.

Sepuluh kesadaran.

Sepuluh tempat untuk belajar.

Namun kali ini ia tidak menggunakan teknik tersebut untuk bertarung.

Ia menggunakannya untuk belajar.

Di dalam ruang ilusi, sepuluh Isidore seolah kembali ke masa lampau.

Di hadapan mereka berdiri para guru Rasvatar.

Satu demi satu mereka mengajarkan ilmu yang berbeda.

Ada yang mengajarkan cara membaca gerakan tubuh.

Ada yang mengajarkan pengendalian napas.

Ada yang mengajarkan penggunaan unsur alam.

Ada yang mengajarkan seni pedang.

Ada yang mengajarkan cara menyembunyikan niat membunuh.

Ada yang mengajarkan bagaimana merasakan energi sebelum serangan dilepaskan.

Ada pula yang hanya mengajarkan satu hal sederhana:

Diam.

Para guru itu silih berganti datang.

Jumlah mereka mencapai seratus.

Bagi manusia biasa, mempelajari seluruh ilmu tersebut mungkin membutuhkan puluhan tahun.

Namun sepuluh Isidore mempelajarinya secara bersamaan.

Satu mempelajari langkah.

Satu mempelajari pernapasan.

Satu mempelajari pengendalian unsur.

Satu mempelajari pedang.

Satu mempelajari penghindaran.

Yang lainnya mempelajari cara membaca niat.

Setelah satu pelajaran selesai, pengetahuan itu mengalir kembali kepada Isidore yang lain.

Kemudian mereka mengujinya.

Gagal.

Mengulang.

Gagal lagi.

Mengulang kembali.

Sedikit demi sedikit, gerakan yang dahulu terasa asing mulai menjadi naluri.

Hari demi hari berlalu di dalam ruang ilusi.

Sepuluh Isidore berlatih tanpa mengenal lelah.

Mereka kemudian membawa seluruh ilmu itu ke tempat yang paling berbahaya dalam ingatan mereka.

Tempat Rasvatar menunggu.

Rasvatar berdiri sendirian di tengah lembah.

Sepuluh Isidore mengepungnya.

Namun kali ini mereka tidak menyerang terlebih dahulu.

Mereka mengamati.

Gerakan bahu.

Pernapasan.

Tatapan.

Getaran energi.

Bahkan perubahan kecil pada udara di sekitar Rasvatar.

Kemudian Isidore mulai memahami.

Niat datang sebelum gerakan.

Ketika Rasvatar berniat melangkah, Isidore sudah bergerak.

Ketika Rasvatar berniat menghunus pedang, Isidore telah menghilang.

Ketika Rasvatar hendak menggunakan energi, Isidore telah berpindah ke tempat lain.

Untuk pertama kalinya, Isidore tidak sekadar mencoba mengikuti Rasvatar.

Ia mulai memahami alasan di balik gerakan sang guru.

Di dunia nyata, Ki Surya Dahana memperhatikan semuanya dari kejauhan.

Ia terdiam.

Matanya perlahan membesar.

Di bawah air terjun kini terdapat sepuluh Isidore yang sedang bermeditasi.

Namun ada sesuatu yang lebih aneh lagi.

Seekor burung kecil terbang turun dan hinggap di kepala salah satu Isidore.

Beberapa saat kemudian, burung itu mulai membawa ranting.

Kemudian ranting lain.

Burung kedua datang.

Lalu burung ketiga.

Tidak lama kemudian, burung-burung itu mulai membuat sarang di atas kepala Isidore.

Ki Surya Dahana menggaruk kepalanya.

"Apakah kepalanya terlalu panas?"

Ia mengamati beberapa saat.

Atau mungkin..."

Ia menghela napas.

"Burung-burung itu mengira kepala Isidore adalah tempat paling aman di seluruh ruang latihan."

Ki Surya Dahana hampir tertawa.

Namun ia segera kembali serius.

Sebab ia menyadari bahwa apa yang dilakukan Isidore bukanlah meditasi biasa.

Anak muda itu sedang mempercepat proses pembelajaran dengan cara yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya.

Tiba-tiba udara berubah.

Cahaya putih muncul di belakang mereka.

Ki Surya Dahana menoleh.

Sosok tua berdiri di sana.

Rambutnya bergerak perlahan diterpa angin yang tidak berasal dari mana pun.

Tatapannya tenang.

Rasvatar telah datang.

Ia memandang sepuluh Isidore yang masih bermeditasi.

Beberapa saat ia tidak berkata apa-apa.

Kemudian tersenyum.

"Dia sudah siap."

Ki Surya Dahana menoleh.

"Siap untuk apa?"

Rasvatar memandang jauh ke dalam ruang ilusi.

"Untuk misi pertamanya."

"Misi?"

Rasvatar mengangguk.

"Bangsa Zhar'Kor."

Nama itu membuat wajah Ki Surya Dahana berubah serius.

Zhar'Kor.

Bangsa kosmik yang berasal dari planet Varkhos.

Mereka percaya bahwa logam bukan sekadar bahan mati.

Bagi mereka, logam adalah bentuk kehidupan tertinggi.

Tubuh mereka telah menyatu dengan mineral hidup. Tulang, darah, dan daging telah berubah menjadi jaringan logam yang mampu beregenerasi. Mesin bagi Zhar'Kor bukanlah sesuatu yang mereka ciptakan.

Mesin adalah tubuh mereka sendiri.

Rasvatar melanjutkan,

"Mereka telah mulai bergerak."

"Mereka sedang mencari sumber mineral langka di dunia kita."

Ki Surya Dahana mengepalkan tangan.

"Dan Isidore akan menghadapi mereka?"

"Bukan sendirian."

Rasvatar menoleh kepadanya.

"Siapkan pasukan khusus."

Ki Surya Dahana mengangguk.

"Aku sudah memilikinya."

Ia memberi isyarat kepada para penjaga.

Dari balik gerbang batu muncullah sekelompok ksatria elit.

Mereka mengenakan zirah hitam dan perak. Senjata mereka berbeda-beda, tetapi seluruhnya memiliki satu kesamaan: mereka bukan pasukan biasa.

Mereka telah melalui ritual penguatan tubuh dan memiliki kemampuan untuk bertahan dari luka yang seharusnya mematikan seorang manusia.

"Pasukan ini tidak mudah mati," ujar Ki Surya Dahana.

Rasvatar memandang mereka satu per satu.

Kemudian tatapannya kembali kepada Isidore.

"Aku tidak ingin kehilangan anak itu."

Ki Surya Dahana mengangguk.

"Jadi apa perintahmu?"

Rasvatar menjawab dengan suara tenang.

"Hancurkan pasukan Zhar'Kor yang menghalangi jalan kalian."

Ia berhenti sejenak.

"Habiskan kekuatan mereka."

Kemudian matanya berubah tajam.

"Tetapi jangan bunuh pemimpinnya."

Ki Surya Dahana memahami maksudnya.

"Pemimpin Zhar'Kor harus ditangkap hidup-hidup."

"Benar."

Rasvatar menatap Isidore yang masih duduk dalam meditasi.

"Kita membutuhkan jawaban."

Ia melangkah perlahan mendekati air terjun.

"Dan hanya pemimpin mereka yang dapat memberikannya."

Kesepuluh Isidore membuka mata secara bersamaan.

Sepasang mata mereka memancarkan cahaya keperakan.

Burung yang sedang membuat sarang di atas salah satu kepala Isidore terkejut dan terbang menjauh.

Isidore berdiri.

Kesepuluh sosok itu kemudian bergerak mendekat dan menyatu kembali menjadi satu tubuh.

Cahaya putih perlahan menghilang.

Isidore menatap Rasvatar.

"Guru."

Rasvatar mengangguk.

"Sudah waktunya."

Isidore mengambil keris emasnya.

"Ke mana kita pergi?"

Rasvatar memandang ke arah gerbang yang mulai terbuka.

"Ke tempat di mana logam hidup sedang bermimpi menjadikan dunia ini milik mereka."

Angin dingin berhembus dari balik gerbang.

Di kejauhan terdengar suara gemuruh seperti ribuan pedang baja bergesekan.

Rasvatar berkata,

"Selamat datang di perangmu yang pertama, Isidore."

Chapter 122 Bayang-Bayang Zhar'Kor di Lembah Besi

Di sebuah lembah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi, dahulu berdiri sebuah desa yang hidup dalam kedamaian.

Air sungai mengalir jernih dari celah-celah batu. Hutan tumbuh lebat di lereng gunung, dan pada pagi hari asap tipis mengepul dari rumah-rumah penduduk.

Namun kedamaian itu telah lama berlalu.

Kini lembah tersebut dipenuhi suara cangkul dan batu yang dihantam tanpa henti.

Tak! Tak! Tak!

Ratusan manusia bekerja sejak matahari terbit hingga langit berubah merah di ufuk barat.

Sebagian menggali tanah dengan cangkul.

Sebagian lain menggunakan sekop sederhana.

Bahkan mereka yang tidak memiliki alat menggali dengan tangan kosong, mencakar tanah hingga kuku mereka pecah dan telapak tangan dipenuhi luka.

Ada pula anak-anak yang diberi sendok dan peralatan kecil, mengais tanah di antara bebatuan untuk mencari serpihan logam atau batu permata.

Tanah yang telah digali dimasukkan ke dalam karung-karung besar.

Karung-karung itu kemudian dipanggul menuju tempat penampungan di tengah lembah.

Di sana tanah ditumpahkan ke atas saringan kayu.

Pasir dan tanah halus jatuh ke bawah, sementara serpihan logam dan batu berkilauan tertinggal di atasnya.

Setiap butir berharga segera dikumpulkan.

Bukan untuk keluarga mereka.

Bukan untuk desa.

Melainkan untuk para penguasa baru yang datang dari langit.

Di antara para pekerja berjalan makhluk-makhluk yang bentuknya tidak menyerupai manusia.

Tubuh mereka berkilauan seperti baja hitam.

Namun bentuknya dapat berubah.

Lengan mereka dapat memanjang menjadi bilah.

Jari-jari mereka dapat berubah menjadi alat penggali.

Dada mereka dapat membuka dan menutup seperti lapisan logam hidup.

Dan ketika berbicara, suara mereka terdengar nyaring dan bergema, seperti ribuan keping besi yang digesekkan satu sama lain.

Mereka adalah Zhar'Kor.

Bangsa kosmik dari Varkhos.

Mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang mereka bayangkan ketika pertama kali tiba di Bumi.

Sumber daya mineral yang melimpah.

Bagi Zhar'Kor, tanah Bumi bukanlah sekadar tanah.

Di dalamnya tersimpan besi, tembaga, emas, kristal, dan berbagai mineral yang dapat memperkuat tubuh mereka.

Maka mereka mengambil apa yang mereka inginkan.

Penduduk desa yang pada awalnya menolak segera dipaksa bekerja.

Namun Zhar'Kor tidak selalu menggunakan kekerasan.

Mereka menawarkan sesuatu.

"Kumpulkan logam," kata salah satu makhluk itu dengan suara nyaring.

"Setorkan kepada kami."

"Setelah jumlahnya cukup, kalian akan memperoleh kebebasan."

Sebagian penduduk mempercayainya.

Mereka bekerja lebih keras.

Setiap kali menemukan serpihan logam, mereka menyerahkannya kepada Zhar'Kor.

Sebagai imbalan, mereka menerima alat-alat sederhana.

Pisau.

Kapak.

Cangkul.

Semuanya terbuat dari besi yang jauh lebih kuat daripada peralatan yang pernah mereka miliki.

Bagi penduduk desa yang miskin, benda-benda itu tampak seperti hadiah luar biasa.

Namun perlahan mereka menyadari sesuatu.

Semakin banyak yang mereka gali, semakin banyak pula perintah yang diberikan.

Kebebasan yang dijanjikan tidak pernah datang.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Dan jumlah Zhar'Kor semakin bertambah.

Mereka mendirikan bangunan besar di tengah lembah.

Bangunan itu menjulang ke langit dalam bentuk bertingkat, menyerupai piramida raksasa yang terbuat dari batu hitam dan logam berkilauan.

Setiap lapisannya dipenuhi simbol asing yang bergerak seperti cahaya hidup.

Pada malam hari, seluruh bangunan memancarkan cahaya merah kebiruan yang terlihat hingga puncak gunung.

Penduduk desa mulai menyebutnya Piramida Besi.

Dan bersama bangunan itu, lahirlah sebuah keyakinan baru.

Sebagian penduduk mulai berbisik bahwa Zhar'Kor bukanlah bangsa asing.

Mereka adalah makhluk yang dikirim oleh langit.

"Mungkin mereka adalah dewa," bisik seorang tetua.

"Mereka datang dari bintang."

"Mereka memiliki tubuh yang tidak dapat ditembus senjata manusia."

"Mereka mampu menciptakan benda-benda yang belum pernah kita lihat."

"Mungkin para leluhur mengirim mereka untuk memimpin kita."

Bisikan itu menyebar.

Semakin banyak orang yang mempercayainya.

Dan semakin kuat keyakinan itu tumbuh, semakin sombong pula Zhar'Kor bertindak.

Mereka tidak lagi meminta.

Mereka memerintah.

Mereka tidak lagi memberikan hadiah.

Mereka menuntut upeti.

Setiap keluarga diwajibkan menyerahkan hasil tambang.

Setiap orang yang menolak dipaksa bekerja.

Bahkan tanah yang dahulu menjadi milik masyarakat mulai dianggap sebagai wilayah Zhar'Kor.

Gunung-gunung yang selama berabad-abad menjadi tempat mencari kayu dan berburu kini diberi tanda dengan simbol logam.

Hutan-hutan ditandai.

Sungai-sungai diperiksa.

Tanah digali semakin dalam.

Dan sedikit demi sedikit, lembah yang dahulu hijau berubah menjadi tanah kelabu penuh lubang.

Pada suatu sore, seorang anak kecil berhenti menggali.

Tangannya gemetar.

Ia memandang gunung yang telah kehilangan sebagian lerengnya.

"Apakah mereka benar-benar dewa?" tanyanya kepada ibunya.

Sang ibu tidak segera menjawab.

Ia melihat salah satu Zhar'Kor berdiri di atas bukit, tubuh logamnya memantulkan cahaya matahari.

Kemudian ia melihat tangan anaknya yang terluka.

"Entahlah," jawabnya lirih.

"Tetapi kalau mereka adalah dewa..."

Ia menundukkan kepala.

"...mengapa mereka membuat manusia begitu menderita?"

Di atas Piramida Besi, seorang Zhar'Kor berdiri memandang lembah.

Matanya menyala merah.

Di bawahnya, ribuan manusia terus menggali.

Dan di dalam kedalaman bumi, jauh di bawah kaki mereka, sesuatu yang jauh lebih besar mulai terbangun.

Sebuah cadangan mineral purba.

Sumber daya yang bahkan belum diketahui oleh manusia.

Zhar'Kor belum menyadari bahwa kedatangan mereka telah membangunkan perhatian lain.

Sebab di kejauhan, di balik pegunungan, seorang pemuda bersama pasukan khusus sedang mendekati lembah.

Isidore telah datang.

Chapter 123 Piramida besi 

Di jantung lembah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi, Piramida Besi akhirnya berdiri sempurna.


Menara hitam itu menjulang di antara kabut dan debu, permukaannya dipenuhi ukiran-ukiran asing yang berpendar redup seperti bara di dalam tungku. Tidak ada seorang pun manusia yang memahami untuk apa bangunan itu didirikan. Namun bangsa Zhar’Kor mengetahuinya dengan pasti.


Di dalam ruang terdalam Piramida Besi, Varghul Zhar berdiri di hadapan sebuah lingkaran mesin raksasa. Tubuh logamnya memantulkan cahaya merah dari inti mesin.


“Lembah ini belum memberikan seluruh kekayaannya,” suara Varghul Zhar bergema berat seperti besi yang digesekkan pada batu.


Ia menoleh kepada salah seorang pengikutnya.


“Kharzun Veyr. Engkau adalah Arkhon Mineral. Gali lebih dalam.”


Kharzun Veyr menundukkan kepalanya.


“Perintahmu akan dilaksanakan, Kaisar.”


Varghul Zhar mengangkat tangannya.


“Gunakan Piramida Besi. Biarkan tanah ini terbuka hingga ke urat mineral terdalamnya. Aku ingin seluruh logam yang tersembunyi di bawah lembah ini menjadi milik Zhar’Kor.”


“Kharz Veyron, Zhar’Kor Varnak.”


Metal adalah kehidupan. Zhar’Kor adalah penguasa.


Kharzun Veyr kemudian berjalan menuju pusat kendali.


Tangannya yang terbuat dari logam hitam menekan sebuah keping kristal.


Seketika terdengar suara gemuruh dari dasar Piramida.


GRAAAAMMM!


Mesin-mesin kuno Zhar’Kor mulai berputar.


Sementara itu, di luar Piramida Besi, Zhorak Kel berjalan di antara para manusia yang masih bekerja di tambang.


Hari itu, untuk pertama kalinya, tidak ada perintah untuk menggali.


“Berhenti bekerja!”


Suara Zhorak Kel menggema di lembah.


Para pekerja perlahan menghentikan cangkul mereka.


Beberapa bahkan tidak segera percaya. Mereka telah bekerja sejak matahari terbit. Tangan mereka terluka, punggung mereka terasa seperti patah, dan sebagian dari mereka hampir tidak sanggup berdiri.


Zhorak Kel mengangkat sebuah kantong kecil.


“Usai sudah pekerjaan kalian.”


Para penduduk saling berpandangan.


“Pulanglah ke rumah kalian masing-masing.”


Untuk sesaat, tidak seorang pun bergerak.


Mereka takut bahwa itu hanyalah tipu daya lain.


Kemudian Zhorak Kel melemparkan kantong-kantong kecil kepada mereka.


“Upah kalian.”


Di dalamnya terdapat cincin dan gelang dengan permata berkilauan.


Mata beberapa penduduk desa berbinar.


Sudah lama mereka tidak menerima sesuatu yang tampak begitu berharga.


Seorang lelaki tua menggenggam sebuah cincin.


“Apakah... ini benar-benar milik kami?”


Zhorak Kel hanya menjawab dingin.


“Ambillah.”


Tidak seorang pun mengetahui kebenaran yang tersembunyi di balik pemberian itu.


Pada bagian dalam setiap cincin dan gelang terdapat serpihan logam Zhar’Kor yang sangat kecil. Benda itu bukan perhiasan.


Ia adalah penanda.


Dengan benda-benda itulah Zhar’Kor dapat mengetahui keberadaan manusia yang telah mereka lepaskan dari tambang.


Para penduduk kemudian berjalan pulang.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jalan-jalan desa kembali dipenuhi manusia.


Namun kebebasan itu hanyalah bayangan.


Mereka tidak tahu bahwa mata Zhar’Kor masih mengikuti setiap langkah mereka.


Lalu bumi berguncang.


DUUUM!


Semua penduduk berhenti.


Dari kejauhan terdengar suara yang lebih dahsyat daripada gemuruh gunung.


Piramida Besi telah dihidupkan.


Kharzun Veyr berdiri di ruang kendali dengan kedua tangannya terangkat.


“Zarkh Morveth!”


Aktifkan seluruh persenjataan dan mesin penggalian.


Mesin itu menjawab dengan raungan panjang.


KRRRRAAAAKKK!


Tanah di sekitar Piramida Besi terangkat.


Debu membumbung ke langit seperti badai.


Batu-batu besar terbelah.


Kemudian sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.


Dari dalam perut bumi, urat-urat besi mulai mencair.


Emas yang tersembunyi di bawah lembah mengalir seperti sungai keemasan. Permata-permata pecah dari batu induknya, kemudian meleleh bersama logam lainnya.


Semua cairan mineral itu ditarik menuju Piramida.


Dinding bangunan mulai bergerak.


Lapisan besi hitam mengalir ke atas seperti kulit makhluk hidup.


Piramida itu tumbuh.


Semakin tinggi.


Semakin lebar.


Semakin besar.


Dalam waktu singkat, bangunan yang dahulu hanya menjulang beberapa puluh meter berubah menjadi sesuatu yang menyerupai gunung buatan manusia—sebuah gunung hitam yang berdenyut dengan cahaya merah dan emas.


Para penduduk memandangnya dengan ketakutan.


Sebagian berlutut.


Sebagian lainnya berlari menuju rumah.


Namun tidak seorang pun mengetahui bahwa sesuatu yang lain telah tiba di lembah itu.


Jauh di bawah tanah, tersembunyi di antara lapisan batu yang tidak pernah disentuh cangkul manusia, sebuah lorong kuno perlahan terbuka.


Lorong itu bukan buatan Zhar’Kor.


Ia adalah peninggalan Rasvatar.


Cahaya putih muncul dari kegelapan.


Isidore melangkah keluar terlebih dahulu.


Di belakangnya muncul sepuluh ksatria elit yang telah dipilih untuk mendampinginya.


Wiraguna Raksa membawa perisainya.


Tunggul Arcapada berdiri seperti benteng hidup.


Jayaningrat Wisesa mengepalkan tangannya.


Rudra Kertajaya dikelilingi percikan petir.


Niskala Adiprana hampir tidak meninggalkan suara ketika berjalan.


Mahendra Satyaka memandang ke arah Piramida Besi, mencari jejak energi kehidupan di dalamnya.


Isidore mengangkat wajah.


Di hadapan mereka, Piramida Besi menjulang seperti gunung hitam yang baru lahir dari perut bumi.


“Jadi itulah sarang mereka,” ujar Isidore.


Mahendra Satyaka mengangguk.


“Pemimpin mereka berada di dalam.”


Isidore menggenggam keris emasnya.


Cahaya putih perlahan merambat sepanjang bilahnya.


“Kalau begitu, kita tidak boleh membiarkannya melarikan diri.”


Ia mengingat pesan Rasvatar.


Kalahkan pasukan mereka. Tangkap pemimpinnya hidup-hidup.


Isidore menatap kesepuluh ksatria.


“Jangan kejar kehancuran. Kita membutuhkan pemimpinnya.”


Para ksatria mengangguk.


Lalu Isidore mengangkat tangannya.


“Sekarang.”


Dalam sekejap, mereka bergerak.


Niskala Adiprana menghilang lebih dahulu, menyusup ke dalam bayangan Piramida.


Wira Angkasa melesat ke udara dan mengirimkan tebasan angin yang menghantam para penjaga Zhar’Kor.


Rudra Kertajaya memanggil petir.


BRAAAKK!


Kilatan merah menghantam tanah dan melumpuhkan barisan prajurit Ferrum.


Dharma Nagara menghentakkan kakinya.


Dari bumi muncul rantai-rantai batu yang melilit kaki para Zhar’Kor.


Baskara Jayendra membuka matanya.


Cahaya keemasan menyambar dari pandangannya dan menghantam tubuh logam musuh.


Sementara itu, Tunggul Arcapada maju paling depan.


Tubuhnya berubah menjadi batu hitam.


Ia menghantam barisan Zhar’Kor seperti dinding gunung yang bergerak.


“Kharz Vekth!” teriak para Zhar’Kor.


“Zhar Voktar!”


Serangan balasan pun meledak.


Namun kali ini manusia tidak datang sebagai pekerja tambang.


Mereka datang sebagai pasukan.


Di tengah kekacauan itu, Isidore berjalan maju dengan tenang.


Mata Leluhur Mythopia terbuka.


Kedua matanya berubah menjadi perak.


Sekejap kemudian, dunia di hadapannya berubah.


Ia dapat melihat aliran energi di dalam tubuh para Zhar’Kor.


Ia melihat arah serangan.


Ia melihat kelemahan mereka.


Dan di balik seluruh kekacauan itu, ia melihat satu sosok yang berdiri di ruang tertinggi Piramida Besi.


Kharzun Veyr.


“Di sana,” kata Isidore.


Mahendra Satyaka tersenyum tipis.


“Kita menemukan Arkhon mereka.”


Isidore mengangkat pedangnya.


“Jangan bunuh dia.”


Kesepuluh ksatria bergerak serempak.


Hari itu, untuk pertama kalinya sejak lembah itu jatuh ke tangan Zhar’Kor, suara ketakutan bukan lagi milik manusia.


Untuk pertama kalinya, bangsa penakluk itu merasakan sesuatu yang selama ini mereka anggap mustahil.


Perlawanan.

Chapter 124 Pertempuran itu ternyata bukanlah pertempuran yang mudah.

Pedang berhadapan dengan makhluk yang tubuhnya terbuat dari besi hidup.

Setiap kali bilah pedang menebas tubuh seorang Zhar’Kor hingga terbelah, potongan logam itu tidak jatuh sebagai mayat. Potongan tersebut justru bergerak sendiri, merayap seperti makhluk hidup, lalu menyatu kembali dengan bagian tubuh yang terputus.

KLANG!

Jayaningrat Wisesa menebas seorang prajurit Ferrum hingga tubuhnya terbelah menjadi dua.

Namun belum sempat ia menarik napas, kedua bagian tubuh itu telah bergerak.

Logam hitam mengalir.

Retakan tertutup.

Tubuh Zhar’Kor kembali utuh.

Jayaningrat mengerutkan kening.

“Gila... mereka bisa menyambungkan tubuh mereka kembali.”

Ia mengepalkan tangan.

“Kalau begitu, aku tidak akan menghancurkan tubuhnya dari luar.”

Ia menghantamkan telapak tangannya ke dada seorang Zhar’Kor.

DUUM!

Gelombang getaran menembus logam.

Retakan muncul dari bagian dalam tubuh makhluk itu.

KRAAAK!

Untuk pertama kalinya, regenerasi Zhar’Kor melambat.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Tiba-tiba sebuah suara nyaring menggema di seluruh fasilitas tambang.

WOOOOOOOONNNNG!

Alarm benteng berbunyi.

Korzak Vhal, Komandan Baja, segera menoleh.

Mata logamnya menyala merah.

“Ada penyusup!”

Ia menghantamkan tinjunya ke panel kendali.

“ZARKH MORVETH!”

Aktifkan seluruh unit pertahanan!

Pintu-pintu baja di sepanjang kompleks tambang terbuka secara bersamaan.

Dari dalamnya keluar puluhan, kemudian ratusan prajurit Zhar’Kor.

Mereka membawa tombak logam, meriam energi, bilah yang tumbuh langsung dari lengan, dan tubuh-tubuh baja yang berkilauan di bawah cahaya merah Piramida.

Korzak Vhal berteriak,

“KHARZ VEKTH!”

Serang manusia!

Pasukan Zhar’Kor bergerak maju.

Namun mereka segera berhadapan dengan para ksatria elit Isidore.

Tunggul Arcapada telah berada paling depan.

Tubuhnya telah berubah menjadi batu hitam.

Ia menerjang barisan musuh seperti banteng raksasa.

BUUM!

Lima Zhar’Kor terpental.

“Majulah!” teriak Tunggul.

Di belakangnya, Sena Widyatama mengangkat tangannya.

Puluhan senjata melayang di udara.

Pedang, tombak, kapak, dan cakram berputar seperti kawanan burung pemangsa.

“Cakra Astra Widyatama!”

Senjata-senjata itu melesat.

SWUUSSH!

Satu demi satu prajurit Zhar’Kor dihantam dari berbagai arah.

Namun sebagian tubuh mereka mulai kembali menyatu.

Rudra Kertajaya kemudian maju.

Petir merah berputar di kedua lengannya.

“Kalau mereka dapat menyatukan tubuhnya kembali...”

Ia mengangkat tangannya.

“...maka kita harus menghentikan tenaga yang menggerakkan mereka.”

BRAAAKK!

Petir menghantam barisan Zhar’Kor.

Tubuh mereka mendadak kaku.

Logam yang sebelumnya bergerak mulai berhenti.

Potongan-potongan tubuh yang hendak menyatu kembali terdiam di tanah.

Jayaningrat melihat kesempatan itu.

“Sekarang!”

Ia menghantam musuh yang telah lumpuh.

DUUM!

Tubuh Zhar’Kor pecah menjadi kepingan-kepingan kecil.

Kali ini tidak ada regenerasi.

Rudra tersenyum tipis.

“Petir ini mengacaukan energi di dalam tubuh mereka.”

Namun dari kejauhan terdengar suara lain.

Suara seperti gunung yang sedang ditempa.

GROOOOMMM...

Rhazek Morv, Magister Tempa Hidup, berdiri di depan tungku raksasa.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam cairan logam merah membara.

“Jika prajurit biasa tidak mampu menghentikan mereka...”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Cairan besi terangkat dari tungku.

“...maka kita ciptakan sesuatu yang lebih besar.”

Logam cair berputar.

Membentuk tulang.

Membentuk otot.

Membentuk kepala.

Membentuk sepasang lengan raksasa.

BOOOOM!

Sosok raksasa bangkit dari tungku.

Titan Ferrum.

Makhluk itu menjulang seperti benteng berjalan. Tubuhnya terbuat dari baja hitam yang terus bergerak dan memperbaiki retakan pada permukaannya.

Rhazek Morv tertawa.

“Bangkitlah.”

Titan Ferrum mengeluarkan raungan logam.

GRRRAAAUUUUM!

Tunggul Arcapada menatap ke atas.

“Yang itu besar sekali.”

Sena Widyatama mengangkat senjata-senjatanya.

“Kalau begitu kita jatuhkan yang besar dahulu.”

Pertempuran menjadi semakin dahsyat.

Sementara itu, jauh di bagian terdalam Piramida Besi, Varghul Zhar mendengar semuanya.

KLANG!

BRAAAK!

GRAAAAM!

Suara besi beradu dengan besi mengguncang dinding.

Alarm terus meraung.

Varghul Zhar yang sedang mengawasi proses produksi akhirnya berdiri.

“Apa yang terjadi?”

Korzak Vhal menjawab melalui komunikasi energi.

“Benteng diserang, Kaisar!”

“Berapa jumlah mereka?”

“Tidak diketahui.”

Varghul Zhar terdiam sesaat.

Kemudian ia mendengar suara lain.

Ledakan.

Jeritan pasukan.

Suara logam yang dihancurkan.

Matanya menyala merah.

“Hentikan produksi.”

Mesin-mesin besar mulai berhenti.

“Semua unit bersiap perang.”

Namun perintah itu terlambat.

Semuanya telah berlangsung terlalu cepat.

Satu demi satu penjaga di luar Piramida Besi telah tumbang.

Pasukan elit Isidore telah menembus lapisan pertahanan yang selama ini dianggap tidak dapat ditembus.

Di tengah kekacauan itu, Isidore akhirnya tiba di dinding utama Piramida.

Ia mengangkat keris emasnya.

Cahaya putih keemasan menyelimuti bilahnya.

“Tebasan Fajar Semesta.”

WUSSSHHH!

Satu tebasan membelah dinding Piramida Besi.

Lubang besar terbuka.

Isidore melangkah masuk.

Di balik kepulan asap dan debu, seseorang berdiri.

Varghul Zhar.

Kaisar Zhar’Kor.

Untuk beberapa saat keduanya hanya saling memandang.

Varghul Zhar kemudian tertawa.

Suara tawanya terdengar seperti ribuan keping baja bergesekan.

“Jadi engkau pemimpin para manusia itu?”

Isidore tidak menjawab.

Varghul Zhar maju.

“Menarik.”

Ia memandang tubuh Isidore dari kepala hingga kaki.

“Daging.”

Ia menunjuk dada Isidore.

“Tulang.”

Kemudian ia mengepalkan tangannya.

“Makhluk lemah yang dapat hancur hanya dengan satu pukulan.”

Isidore tetap berdiri tenang.

Varghul Zhar mengangkat kepalanya.

“Sedangkan aku...”

Tubuhnya mulai berubah.

Baja hitam menjalar ke seluruh tubuhnya.

“...adalah bentuk kehidupan tertinggi.”

Lengannya berubah menjadi meriam.

“Tidak ada makhluk di alam semesta yang lebih kuat daripada Zhar’Kor.”

FWOOM!

Besi panas ditembakkan dari lengannya.

“MATI KAU, PENYUSUP!”

Isidore menghilang.

Peluru logam menghantam dinding belakang.

BOOOOM!

Varghul Zhar berbalik.

Tidak ada siapa pun.

Kemudian suara Isidore terdengar dari belakangnya.

“Seranganmu terlalu lambat.”

Mata Leluhur Mythopia bersinar perak.

Isidore menggunakan Langkah Kosong Rasvatar.

Tubuhnya memasuki ruang hampa sesaat, seolah-olah keberadaannya dipisahkan dari dunia.

Kemudian ia muncul tepat di belakang Varghul Zhar.

SLAAASH!

Satu tangan Varghul Zhar terputus.

SLAAASH!

Kedua kakinya tertebas.

Tubuh Kaisar Zhar’Kor jatuh.

Namun Varghul Zhar tidak mati.

Potongan tubuhnya bergerak.

Baja hitam mulai menyatu kembali.

“Tidak mungkin!”

Tubuhnya berubah lagi.

Kedua bahunya terbuka.

Puluhan laras senjata muncul.

Varghul Zhar berputar.

“KAU TIDAK AKAN MELARIKAN DIRI!”

FWOOM! FWOOM! FWOOM!

Peluru-peluru besi panas ditembakkan ke segala arah.

Seratus delapan puluh derajat.

Isidore kembali menghilang.

Ia memasuki ruang hampa.

Peluru-peluru itu melewati tempatnya berdiri beberapa saat sebelumnya.

Varghul Zhar menggeram.

“Di mana kau?!”

Tiba-tiba suara petir terdengar dari lorong.

BRAAAAAKKKK!

Petir merah Rudra Kertajaya menembus dinding Piramida.

Energi itu menghantam tubuh Varghul Zhar.

Untuk pertama kalinya, tubuh Kaisar Zhar’Kor berhenti bergerak.

Seluruh baja di tubuhnya bergetar.

Kemudian membeku.

Rudra berteriak dari kejauhan,

“Sekarang, Isidore!”

Isidore keluar dari ruang hampa.

Mata peraknya menatap tepat ke pusat energi Varghul Zhar.

Ia memahami bagaimana tubuh makhluk itu bekerja.

Ia tidak akan membunuhnya.

Ia harus menangkapnya hidup-hidup.

Isidore mengangkat kedua tangannya.

Cahaya putih mulai membentuk pola kuno di udara.

“Segel Maharsi Agung.”

Lingkaran cahaya muncul di bawah tubuh Varghul Zhar.

Kemudian lingkaran kedua muncul di atas kepalanya.

Yang ketiga mengunci tubuhnya dari belakang.

Varghul Zhar mencoba bergerak.

Tidak bisa.

Ia mencoba mengubah tangannya menjadi senjata.

Tidak berhasil.

Ia mencoba memulihkan tubuhnya.

Energinya terputus.

“Tidak!”

Untuk pertama kalinya, suara Varghul Zhar tidak terdengar seperti suara seorang penguasa.

Terdengar ketakutan.

Isidore melangkah mendekat.

“Pertempuran ini belum berakhir, Kaisar Zhar’Kor.”

Cahaya segel semakin terang.

“Karena aku tidak datang untuk membunuhmu.”

Isidore menatap mata merah Varghul Zhar.

“Aku datang untuk mengetahui mengapa kalian datang ke dunia kami.”

Cahaya putih meledak memenuhi ruangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak Zhar’Kor menginjakkan kaki di bumi, Kaisar mereka jatuh sebagai tawanan.

Chapter 125 Titan Ferrum

Di luar Piramida Besi, pertempuran belum berakhir.

Titan Ferrum mengamuk.

Makhluk baja raksasa itu berlari seperti banteng purba yang terlepas dari rantainya. Setiap langkahnya mengguncang tanah.


DUUM! DUUM! DUUM!


Ia menerjang tanpa mengenal arah.


Sawah-sawah yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan penduduk desa hancur dalam sekejap. Tanah yang telah ditanami berubah menjadi lumpur dan debu ketika kaki Titan Ferrum menginjaknya.


Pohon-pohon besar yang berada di jalurnya tidak mampu bertahan.


KRAAAK!


Satu pohon tumbang.


Kemudian pohon lainnya.


Titan Ferrum bahkan tidak memperlambat langkahnya. Ia menerobos hutan, menghantam batang-batang pohon dengan bahunya, lalu terus berlari menuju permukiman.


Para penduduk berteriak dan berlarian menyelamatkan diri.


“Lari!”


“Jangan ke arah lembah!”


“Makhluk itu akan menghancurkan desa!”


Namun sebelum Titan Ferrum mencapai rumah-rumah penduduk, Tunggul Arcapada berdiri di hadapannya.


Tubuh Tunggul telah berubah menjadi batu hitam.


Ia menjejakkan kedua kakinya ke tanah.


“Berhenti!”


Titan Ferrum tidak peduli.


Ia menundukkan kepalanya dan menerjang.


GRAAAAAAUM!


Tunggul mengangkat kedua tangannya.


BUUUUM!


Benturan dahsyat terjadi.


Tanah di bawah kaki Tunggul retak.


Tubuhnya terdorong beberapa meter ke belakang.


Namun ia tidak jatuh.


“Berat sekali...” gumamnya.


Titan Ferrum kembali menyerang.


Kali ini Jayaningrat Wisesa melompat ke atas tubuh raksasa itu.


Ia menghantam bagian dada Titan Ferrum dengan telapak tangannya.


GETAR VAJRA!


Gelombang getaran masuk ke dalam tubuh baja.


Retakan muncul di dada Titan Ferrum.


Tetapi makhluk itu segera memperbaiki dirinya.


“Regenerasinya terlalu cepat!” teriak Jayaningrat.


Rudra Kertajaya segera mengangkat kedua tangannya.


Petir merah menyambar dari langit.


BRAAAKKK!


Tubuh Titan Ferrum mendadak kaku.


Gerakannya terhenti selama beberapa detik.


“Sekarang!” teriak Rudra.


Dharma Nagara menghentakkan kakinya.


Dari dalam tanah muncul rantai-rantai batu raksasa.


KRAAAK!


Rantai pertama melilit kaki Titan Ferrum.


Kemudian rantai kedua.


Ketiga.


Keempat.


Namun kekuatan Titan Ferrum masih terlalu besar.


Ia meraung dan menarik seluruh rantai itu hingga tanah ikut terangkat.


Sena Widyatama kemudian mengangkat tangannya.


Puluhan senjata melayang di udara.


“Cakra Astra Widyatama!”


Senjata-senjata itu menghantam titik-titik persendian Titan Ferrum.


KLANG! KLANG! KLANG!


Gerakannya mulai melambat.


Tunggul Arcapada kembali menerjang.


Dengan seluruh kekuatannya, ia menghantam dada Titan Ferrum.


DUAAAAAM!


Raksasa baja itu akhirnya jatuh berlutut.


Namun ia masih mencoba bangkit.


Saat itulah Isidore datang.


Ia baru saja selesai menyegel kekuatan Varghul Zhar.


Isidore memandang Titan Ferrum yang mengamuk di tengah sawah yang telah hancur.


“Jangan bunuh makhluk itu.”


Para ksatria menoleh.


“Kita harus menangkapnya hidup-hidup.”


Isidore mengangkat keris emasnya.


Cahaya putih memenuhi bilahnya.


“Makhluk ini bukan sekadar prajurit. Ia adalah ciptaan Zhar’Kor.”


Ia melangkah maju.


“Mungkin dari tubuhnya kita dapat mengetahui bagaimana mereka menciptakan kehidupan dari logam.”


Mata Leluhur Mythopia terbuka.


Mata Isidore berubah menjadi perak.


Ia melihat aliran energi yang bergerak di dalam tubuh Titan Ferrum.


Ada sebuah inti merah di tengah dadanya.


“Di sana.”


Isidore menunjuk pusat tubuh Titan Ferrum.


“Inti kekuatannya.”


Rudra Kertajaya kembali memanggil petir.


Jayaningrat Wisesa menyiapkan Getar Vajra.


Dharma Nagara memperkuat rantai batu.


Sena Widyatama mengarahkan seluruh senjatanya ke tanah di sekitar Titan Ferrum.


Isidore mengangkat tangannya.


“Sekarang!”


Petir Rudra menghantam tubuh Titan Ferrum.


BRAAAAAKKK!


Pada saat yang sama, Jayaningrat menghantam dada makhluk itu.


DUUM!


Gelombang getaran mengacaukan aliran energinya.


Rantai Dharma Nagara mengikat seluruh tubuhnya.


Dan Isidore menghunus pedangnya.


“Segel Maharsi Agung.”


Lingkaran cahaya muncul di bawah Titan Ferrum.


Lingkaran kedua muncul di atas kepalanya.


Kemudian sebuah pola cahaya kuno terbentuk tepat di depan inti merah di dadanya.


Titan Ferrum meraung.


GRRRAAAUUUUM!


Tubuhnya mencoba bergerak.


Namun semakin ia melawan, semakin kuat cahaya segel membelenggunya.


Energi merah di dalam tubuhnya perlahan padam.


Baja yang sebelumnya terus bergerak menjadi diam.


Titan Ferrum akhirnya berhenti.


Tubuh raksasanya tetap berdiri beberapa saat.


Kemudian—


BUUM.


Ia berlutut.


Lalu seluruh tubuhnya membeku seperti patung baja.


Isidore menurunkan pedangnya.


“Sudah selesai.”


Para ksatria memandang raksasa yang kini tidak lagi bergerak.


Titan Ferrum tidak mati.


Ia telah kehilangan seluruh kekuatannya dan tersegel dalam tubuh bajanya sendiri.


Di tengah sawah yang rusak dan pepohonan yang tumbang, berdirilah Titan Ferrum seperti monumen perang—raksasa baja yang dahulu menjadi senjata Zhar’Kor, tetapi kini telah menjadi tawanan.


Isidore memandangnya sejenak.


“Bawa dia ke tempat yang aman.”


Jayaningrat mengangguk.


“Untuk apa?”


Isidore menjawab,


“Karena suatu hari nanti kita harus mengetahui bagaimana Zhar’Kor menciptakan makhluk seperti ini.”


Di kejauhan, Piramida Besi masih bergetar.

Tetapi untuk pertama kalinya, suara gemuruhnya tidak lagi terdengar seperti suara kemenangan.

Zhar’Kor telah kehilangan pasukannya.

Kaisarnya telah ditangkap.

Dan Titan Ferrum—senjata terbesar mereka di medan perang—telah jatuh ke tangan Isidore.

05/09/26

Season 8 Jatmika & portal waktu

Chapter 94: Mesin yang Menunggu

Seiring berjalannya waktu, kompleks baru PT Sinar Ultraviolet akhirnya selesai dibangun.

Pembangunan berlangsung hampir tanpa henti. Siang dan malam, pekerja Indonesia dan tenaga ahli asing bergantian menyelesaikan bagian terakhir dari kompleks tersebut. Bangunan itu tidak lagi tampak seperti kantor biasa. Di bawah permukaannya terdapat ruang kendali, pusat energi, laboratorium teleportasi, serta fasilitas pengamanan yang dirancang untuk menampung teknologi yang belum memiliki padanan di dunia modern.

Di salah satu ruang terdalam, Dmitri Orlov berdiri di depan panel kendali.

"Mulai aktivasi."

Tidak ada suara dramatis. Hanya bunyi mekanis dari sistem yang mulai bekerja.

Lampu indikator berubah satu demi satu.

Hijau.

Biru.

Kemudian putih.

Dmitri memeriksa layar.

"Stasiun energi nuklir mulai memasok daya."

Di ruang lain, sistem kecerdasan buatan milik Rosatom menjalankan pemeriksaan otomatis terhadap seluruh jaringan.

Dr. Aleksandr Petrov memantau sistem pendingin yang dirancangnya.

"Tekanan stabil."

Ia menunggu beberapa detik.

"Temperatur juga stabil."

Irina Sokolova memeriksa material pelindung radiasi yang mengelilingi ruang reaktor. Sensor-sensor menunjukkan tidak ada perubahan struktur.

"Material pelindung dalam kondisi normal."

Sementara itu, Viktor Mikhailov berdiri di depan sistem pompa kriogenik.

"Suhu berada dalam batas operasi."

Ia memperhatikan grafik selama beberapa saat.

"Tidak ada kebocoran pada pipa."

Tidak seorang pun bersorak.

Mereka telah belajar dari pengalaman bahwa sebuah sistem energi tidak menjadi aman hanya karena ia berhasil menyala.

Keamanan baru dimulai setelah mesin berjalan.

---

Dmitri memberikan perintah terakhir.

"Restart seluruh sistem."

Seluruh kompleks menjadi gelap.

Selama beberapa detik, gedung itu seolah kehilangan kehidupannya.

Kemudian—

WUUUMM.

Lampu-lampu menyala kembali.

Lebih terang daripada sebelumnya.

Energi mengalir melalui jaringan listrik menuju laboratorium utama.

Di tengah ruangan berdiri artefak lampu teleportasi.

Tidak ada kabel yang terhubung langsung dengannya.

Namun permukaannya mulai bercahaya.

Emas.

Kemudian kebiruan.

Ny Tien aktif.

«"Sistem navigasi teleportasi siap."»

Jatmika berdiri di depan layar utama.

"Tujuan?"

«"Planet Valtherion."»

Sebuah model tiga dimensi planet muncul di udara.

Jatmika memperhatikan koordinat tersebut.

"Kali ini kita tidak hanya mengirim manusia."

John menatapnya.

"Maksudmu?"

Jatmika menunjuk rancangan kendaraan yang ditampilkan di layar.

"Kita akan mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya."

---

NASA telah menyiapkan sebuah mesin jet eksperimental.

Bentuknya lebih menyerupai kendaraan antariksa kecil daripada pesawat biasa. Sistem propulsinya dirancang untuk digunakan setelah tim berhasil mencapai Valtherion.

Mesin itu telah menjalani berbagai pengujian.

Pengujian pertama: berhasil.

Kedua: berhasil.

Ketiga: berhasil.

Namun ada satu batasan yang tidak dapat diubah.

"Mesin ini hanya bisa digunakan sekali," ujar Michael.

John mengerutkan kening.

"Sekali?"

"Setelah digunakan, beberapa komponen propulsinya harus diganti. Dalam kondisi ekspedisi, kita tidak memiliki fasilitas untuk memperbaikinya."

Jatmika terdiam.

Satu perjalanan.

Satu kesempatan.

Tidak ada percobaan kedua.

Ia kemudian melihat artefak teleportasi.

Selama ini manusia mengira masalah terbesar dalam perjalanan antarbintang adalah jarak.

Tetapi setelah mereka menemukan teleportasi, jarak bukan lagi persoalan utama.

Persoalannya berubah menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih menakutkan:

Apakah manusia dapat kembali setelah berhasil sampai di sana?

Ny Tien tiba-tiba berbicara.

«"Simulasi teleportasi Valtherion siap dijalankan."»

Jatmika menarik napas.

"Mulai simulasi."

Cahaya keemasan perlahan memenuhi ruangan.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Mereka semua menyadari bahwa mesin yang sedang mereka bangun bukan sekadar alat transportasi.

Ia adalah sebuah pertanyaan yang dibuat dari logam, energi, dan matematika.

Dan setiap kali mereka menekan tombol mulai, mereka sedang meminta alam semesta memberikan jawabannya.
Chapter 95 — Harga untuk Menuju Valtherion

Berita mengenai investasi besar-besaran konglomerat Rusia, Victor Aleksandrovich Morozov, terhadap PT Sinar Ultraviolet akhirnya menyebar ke kalangan bisnis internasional.

Morozov dikabarkan telah menggelontorkan dana dalam jumlah fantastis untuk mendukung pengembangan energi, teknologi teleportasi, dan ekspedisi menuju dunia yang selama ini hanya dianggap sebagai bagian dari teori.

Nama Valtherion mulai beredar di kalangan tertentu.

Namun bagi sebagian besar masyarakat, Valtherion tetap menjadi rahasia yang belum dapat dibuktikan.

Bagi Alexander Nathaniel Sterling, berita itu justru merupakan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia tunggu.

Sterling adalah seorang pengusaha teknologi Amerika yang membangun kekayaannya dari industri kecerdasan buatan, teknologi antariksa, satelit, dan sistem penerbangan eksperimental. Ia telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membawa manusia semakin jauh dari Bumi.

Tetapi selama ini, semua jalan yang ia tempuh selalu memiliki batas.

Roket membutuhkan bahan bakar.

Pesawat membutuhkan waktu.

Satelit membutuhkan jalur orbit.

Dan perjalanan antarbintang masih menjadi mimpi.

Sampai ia mendengar tentang PT Sinar Ultraviolet.

Beberapa minggu kemudian, sebuah pesawat pribadi milik Sterling mendarat di fasilitas baru perusahaan di Kalimantan.

Ia datang tanpa rombongan besar.

Hanya beberapa orang kepercayaannya yang ikut mendampinginya.

Jatmika menerima Sterling di ruang konferensi utama. Di ruangan itu telah hadir Pak Toni, John, Prof. Wen Shuyuan, serta beberapa perwakilan tim NASA dan Rusia.

Sterling berdiri di hadapan mereka.

Pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk meminta izin.

Ia terlihat seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum memasuki ruangan.

“Saya sudah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membeli roket, satelit, dan teknologi yang memungkinkan manusia meninggalkan Bumi.”

Alex menatap Jatmika.

“Tapi kalian memiliki sesuatu yang tidak bisa saya beli.”

Jatmika menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Apa itu?”

Sterling tersenyum tipis.

“Jalan pintas menuju bintang-bintang.”

Ruangan mendadak hening.

Alex kemudian duduk.

“Saya tidak datang untuk membeli perusahaan Anda.”

Ia membuka sebuah berkas digital dan meletakkannya di atas meja.

“Saya datang untuk membeli kesempatan.”

Jatmika menatapnya.

“Kesempatan untuk apa?”

“Valtherion.”

Beberapa anggota tim NASA langsung saling berpandangan.

Sterling melanjutkan.

“Sebutkan saja harganya. Berapa biaya yang harus saya bayar agar dapat ikut serta dalam misi ke Valtherion?”

Jatmika tidak menjawab.

Ia justru memandang layar besar di dinding.

Di sana terpampang gambar planet Valtherion, hasil pemetaan dan dokumentasi ekspedisi sebelumnya.

Planet itu indah.

Namun keindahan tersebut menyembunyikan sesuatu yang belum mereka pahami.

“Pak Sterling,” ujar Jatmika akhirnya, “ini bukan perjalanan wisata.”

“Saya tahu.”

“Tidak.”

Jatmika menatapnya lebih tajam.

“Menurut saya, Anda belum benar-benar tahu.”

Sterling terdiam.

“Di sana ada kondisi yang belum sepenuhnya kami pahami. Ada perbedaan waktu. Ada energi yang belum dapat kami jelaskan. Ada makhluk dan peradaban yang mungkin sudah mengetahui keberadaan kita.”

Jatmika berhenti sejenak.

“Dan yang paling penting, kami belum tahu apakah manusia seharusnya berada di sana.”

Sterling menyandarkan tubuhnya.

“Justru karena itu saya ingin pergi.”

Salah seorang perwakilan NASA segera menyela.

“Tidak bisa.”

Sterling menoleh.

Perwakilan NASA itu berdiri.

“Misi Valtherion bukan proyek komersial. Kami tidak akan membiarkan seseorang membeli kursi hanya karena memiliki uang.”

“Bukan itu yang saya tawarkan,” jawab Sterling.

“Lalu apa?”

“Dukungan.”

Sterling menatap seluruh ruangan.

“Jika saya diizinkan ikut, saya akan memberikan dukungan penuh kepada PT Sinar Ultraviolet. Pendanaan penelitian, fasilitas penerbangan, satelit, sistem komunikasi, pengembangan kendaraan, dan teknologi keselamatan.”

Pak Toni mengangkat alis.

“Dan sebagai gantinya Anda ingin ikut?”

“Benar.”

Perwakilan Rusia ikut berbicara.

“Ini ekspedisi ilmiah, bukan penerbangan pribadi.”

Sterling tersenyum kecil.

“Saya tidak pernah mengatakan saya ingin bersantai di sana.”

Perdebatan mulai memanas.

NASA menolak menjadikan ekspedisi tersebut sebagai penerbangan komersial.

Tim Rusia juga keberatan karena keselamatan seluruh kru akan menjadi tanggung jawab bersama.

Jatmika membiarkan mereka berbicara.

Ia memahami kedua pihak.

Valtherion bukan tempat untuk orang kaya yang ingin membeli pengalaman eksotis.

Namun di sisi lain, Sterling bukan sekadar miliarder yang ingin berfoto di planet asing.

Ia memiliki sesuatu yang mungkin berguna.

Beberapa menit kemudian Sterling mengangkat tangannya.

“Saya memiliki satu alasan lagi.”

Semua orang kembali menatapnya.

“Saya membawa sebuah kendaraan.”

John mengerutkan kening.

“Kendaraan?”

Sterling mengangguk.

“Mesin jet eksperimental.”

Pak Toni langsung bertanya.

“Buatan perusahaan Anda?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

Sterling tersenyum.

“Untuk terbang di Valtherion.”

Ruangan kembali hening.

Perwakilan NASA terlihat tidak percaya.

“Kendaraan Anda belum pernah diuji di luar Bumi.”

“Benar.”

“Dan Anda ingin mengujinya di planet asing?”

“Tidak.”

Sterling menatap Jatmika.

“Saya ingin mengujinya sebelum kita menggunakannya di sana.”

Jatmika akhirnya tertarik.

“Seberapa canggih?”

Sterling memberi isyarat kepada asistennya.

Layar konferensi berubah.

Muncul gambar sebuah kendaraan jet futuristis dengan bentuk yang jauh berbeda dari pesawat konvensional.

“Ini bukan pengganti kendaraan NASA,” ujar Sterling. “Anggap saja sebagai alternatif.”

Perwakilan NASA menggeleng.

“Alternatif yang belum terbukti.”

“Karena itu harus diuji.”

Sterling menatap Jatmika.

“Berikan saya kesempatan untuk membuktikannya.”

Jatmika berdiri dan berjalan mendekati layar.

Ia memperhatikan rancangan kendaraan itu.

Tidak ada keputusan yang bisa dibuat dengan tergesa-gesa.

Misi Valtherion telah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ekspedisi.

Rusia membawa teknologi energi.

NASA membawa teknologi antariksa.

PT Sinar Ultraviolet membawa teleportasi.

Dan sekarang seorang konglomerat Amerika datang membawa kendaraan eksperimentalnya sendiri.

Jatmika akhirnya berbalik.

“Pak Sterling.”

“Ya?”

“Saya tidak akan menjual tiket menuju Valtherion.”

Sterling mengangguk.

“Saya sudah menduga.”

“Tapi…”

Jatmika memandang rancangan jet di layar.

“…saya bersedia mempertimbangkan kerja sama.”

Sterling tersenyum.

“Dengan syarat?”

“Tidak ada satu pun teknologi yang boleh digunakan sebelum dinyatakan aman oleh seluruh tim.”

Sterling mengulurkan tangannya.

“Kesepakatan yang adil.”

Jatmika menjabat tangannya.

Namun di dalam pikirannya, satu pertanyaan tetap muncul.

Jika manusia akhirnya memiliki jalan menuju dunia lain, siapa yang berhak menentukan siapa yang boleh melewatinya?

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih sulit adalah:

berapa harga yang pantas untuk sebuah perjalanan menuju dunia yang bahkan belum tentu menginginkan kedatangan manusia?
Chapter 96 — Ujian Mesin Jet Alexander

Pagi itu, fasilitas PT Sinar Ultraviolet di Kalimantan dipenuhi aktivitas.

Di salah satu hanggar terbesar, sebuah kendaraan jet berwarna hitam keperakan berdiri di atas landasan uji. Bentuknya ramping, tanpa sayap konvensional yang terlalu lebar. Beberapa bagian badan pesawat tampak seperti menyatu dengan mesin, sementara di bagian bawahnya terdapat sistem pendorong yang dirancang khusus untuk menghasilkan daya angkat dalam waktu singkat.

Kendaraan itu adalah milik Alexander Nathaniel Sterling.

NASA telah mengirimkan beberapa insinyur untuk mengawasi pengujian. Tim Rusia juga hadir untuk memeriksa sistem energi dan ketahanan struktur.

Alexander berdiri di ruang kontrol bersama Jatmika.

“Berapa kapasitasnya?” tanya Jatmika.

“Lima orang,” jawab Alexander.

“Termasuk pilot?”

“Termasuk pilot.”

Jatmika mengangguk.

Pengujian pertama dilakukan tanpa teleportasi.

Mesin dinyalakan.

Suara dengungan rendah memenuhi hanggar.

Kemudian daya dorong meningkat.

WUUUMMM!

Jet itu terangkat beberapa meter dari permukaan landasan.

Dalam hitungan detik, kendaraan tersebut bergerak maju dengan akselerasi yang membuat beberapa teknisi NASA saling berpandangan.

“Respons mesinnya sangat cepat,” ujar salah seorang insinyur NASA.

“Dan stabil,” jawab rekannya.

Jet melakukan beberapa manuver dasar, kemudian mendarat dengan sempurna.

Alexander tersenyum.

“Sekarang bagian yang sebenarnya.”

Jatmika menatapnya.

“Teleportasi.”

Alexander mengangguk.

Kendaraan tersebut kemudian ditempatkan di dalam ruang teleportasi.

Lima kursi telah dipasang di dalam kabin.

Sistem pengaman dikunci.

Tidak ada manusia di dalamnya.

Untuk pengujian pertama, mereka menggunakan lima manekin dengan sensor lengkap.

Ny. Tien mulai melakukan sinkronisasi.

“Koordinat tujuan dikunci.”

Lampu indikator berubah.

“Energi teleportasi stabil.”

Jatmika memperhatikan layar.

“Mulai.”

Cahaya memenuhi ruangan.

Dalam sekejap, jet itu menghilang.

Beberapa detik kemudian, sensor menerima sinyal.

Objek tiba di titik tujuan.

Semua orang bersorak kecil.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Sistem kendaraan mulai mengirimkan peringatan.

TEMPERATUR BATERAI MENINGKAT.

Alexander segera mendekati layar.

“Berapa?”

“Terus meningkat,” jawab teknisi.

Tim Rusia segera memeriksa data.

“Panas residu dari proses teleportasi masuk ke sistem penyimpanan energi.”

“Bisa didinginkan?” tanya Jatmika.

“Bisa,” jawab teknisi Rusia, “tetapi membutuhkan waktu.”

Beberapa menit kemudian temperatur mulai turun.

Namun hasil analisis membuat semua orang terdiam.

Sistem baterai mengalami degradasi signifikan setelah satu kali teleportasi.

Alexander menatap hasil tersebut.

“Jadi?”

Teknisi menjawab,

“Pesawat bisa melakukan teleportasi satu kali dengan aman. Tetapi tidak direkomendasikan untuk melakukan teleportasi kedua tanpa penggantian atau pemulihan sistem baterai.”

Jatmika menatap Alexander.

“Artinya kendaraan ini hanya bisa sekali jalan.”

Alexander tidak terlihat kecewa.

Justru ia tersenyum.

“Sekali jalan masih lebih baik daripada tidak sama sekali.”

Perwakilan NASA tertawa kecil.

“Setidaknya kita tahu batasnya.”

Uji berikutnya dilakukan dengan lima orang.

Alexander sendiri bersikeras ikut.

Namun Jatmika menolak.

“Belum.”

Alexander menghela napas.

“Baik.”

Mereka akhirnya menggunakan kru penguji yang telah dipersiapkan.

Kelima orang masuk.

Pintu kabin ditutup.

Ny. Tien kembali melakukan sinkronisasi.

“Lima penumpang terdeteksi.”

“Energi cukup,” ujar sistem.

Jatmika memberikan perintah.

“Teleportasi.”

Cahaya kembali memenuhi ruang.

Dalam sepersekian detik, kendaraan dan kelima penumpangnya menghilang.

Di ruang kontrol, semua orang menahan napas.

Beberapa saat kemudian—

Sinyal diterima.

“Berhasil!”

Data muncul di layar.

Kelima penumpang dalam kondisi normal.

Kendaraan juga berhasil melakukan prosedur pendaratan.

Namun temperatur baterai kembali melonjak.

Kali ini lebih tinggi.

Alexander mengangguk perlahan.

“Batasnya sudah jelas.”

Salah seorang insinyur NASA kemudian berkata,

“Untuk kendaraan yang dirancang dari sistem baterai, akselerasinya sangat mengesankan.”

Insinyur Rusia memeriksa data struktural.

“Dan rangkanya mampu menahan perubahan energi selama teleportasi.”

Ia menoleh kepada Alexander.

“Secara keseluruhan, kendaraan ini layak digunakan sebagai kendaraan pendukung.”

Alexander tersenyum.

“Bukan kendaraan utama?”

“Belum.”

Jawaban itu justru membuat Alexander tertawa.

“Saya bisa menerima itu.”

Jatmika mendekati kendaraan yang baru saja kembali dari pengujian.

“Lima orang. Akselerasi tinggi. Bisa digunakan setelah teleportasi.”

Ia menatap Alexander.

“Tapi hanya sekali jalan.”

Alexander mengangguk.

“Kalau begitu jangan buang kesempatan itu.”

Tim NASA dan Rusia akhirnya menyetujui hasil pengujian.

Kendaraan Alexander tidak sempurna.

Namun justru karena keterbatasannya telah diketahui, kendaraan itu menjadi jauh lebih berguna.

Mereka tahu kapan harus menggunakannya.

Mereka tahu batas keselamatannya.

Dan yang paling penting—

mereka tahu bahwa ketika kendaraan itu dibawa ke Valtherion, tidak akan ada perjalanan pulang menggunakan mesin tersebut.

Untuk kembali ke Bumi, mereka tetap harus mengandalkan satu-satunya teknologi yang mereka miliki:

teleportasi.

Di ruang kontrol, Ny. Tien kemudian menampilkan simulasi misi.

Sebuah garis menghubungkan Bumi dengan Valtherion.

Jatmika memandangnya dalam diam.

Perjalanan menuju dunia lain kini bukan lagi sekadar kemungkinan.

Mereka sudah memiliki kendaraan.

Mereka memiliki energi.

Mereka memiliki teknologi teleportasi.

Yang belum mereka miliki hanyalah kepastian bahwa mereka akan kembali dengan selamat.
Chapter 97 — Rencana Kontak Pertama

Sebelum memikirkan keberangkatan menuju Valtherion, Jatmika merasa ada satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Ia mengundang penduduk desa di sekitar fasilitas baru PT Sinar Ultraviolet untuk berkumpul.

Tidak ada panggung megah. Tidak ada pertunjukan. Hanya sebuah acara doa bersama sebagai ungkapan syukur atas selesainya pembangunan fasilitas perusahaan sekaligus peresmian kantor baru.

Pagi itu, halaman utama dipenuhi warga.

Para pekerja perusahaan berdiri berdampingan dengan penduduk desa. Orang-orang yang sebelumnya hanya mengenal kompleks itu sebagai bangunan asing di tengah Kalimantan, kini melihatnya sebagai bagian dari lingkungan mereka sendiri.

Jatmika berdiri di hadapan mereka.

“Tempat ini dibangun bukan hanya untuk perusahaan kami,” katanya. “Kami berharap tempat ini juga membawa manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.”

Doa bersama kemudian dimulai.

Jatmika menundukkan kepala.

Di hadapannya berdiri sebuah kompleks yang menyimpan teknologi yang mungkin mengubah sejarah manusia. Namun untuk sesaat, semua itu terasa jauh.

Ia menyadari bahwa sebesar apa pun teknologi yang mereka miliki, mereka tetap hidup di tengah manusia lain.

Dan mungkin, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia mampu membawa manusia pergi.

Tetapi juga dari seberapa baik ia mampu hidup berdampingan dengan manusia yang ditinggalkannya.

Setelah acara selesai, Jatmika kembali ke pusat kendali.

Di ruang konferensi utama telah menunggu para perwakilan NASA, tim Rusia, Alexander Nathaniel Sterling, Victor Aleksandrovich Morozov, Pak Toni, Prof. Wen Shuyuan, serta beberapa anggota inti PT Sinar Ultraviolet.

Di layar besar terpampang sebuah gambar.

VALTHERION.

Jatmika berdiri di ujung meja.

“Hari ini kita tidak akan membicarakan apakah kita mampu pergi ke Valtherion.”

Ia menekan layar.

Peta planet itu muncul.

“Kita sudah tahu jawabannya.”

Ruangan menjadi hening.

“Kita bisa pergi.”

Jatmika kemudian mengganti tampilan.

Sebuah titik muncul di permukaan planet.

“Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang akan kita lakukan setelah sampai di sana?”

Seorang perwakilan NASA menjawab lebih dulu.

“Kontak pertama.”

Jatmika mengangguk.

“Itulah prioritas utama.”

Ia menunjuk titik yang menandai sebuah kota besar di permukaan Valtherion.

“Kita akan menggunakan mesin jet milik Alexander untuk terbang menuju kota ini. Tujuan kita bukan menjelajah sejauh mungkin. Bukan mencari sumber daya. Dan bukan mengambil artefak.”

Ia berhenti.

“Tujuan kita hanya satu.”

“Berbicara.”

Prof. Wen Shuyuan menatap peta tersebut.

“Kalau kita benar-benar ingin melakukan kontak dengan penduduk Valtherion, saya harus ikut.”

Jatmika menoleh kepadanya.

“Ya.”

Wen tersenyum tipis.

“Saya kira Anda tidak akan memberi saya pilihan.”

“Kita membutuhkan penerjemah.”

Wen kemudian menjelaskan bahwa komunikasi tidak sesederhana menerjemahkan kata demi kata.

“Sebuah bahasa tidak hanya terdiri dari kata,” katanya. “Ada konteks, sejarah, simbol, cara menghormati seseorang, bahkan cara menyampaikan penolakan.”

Ia menunjuk gambar kota Valtherion.

“Jika kita mengatakan sesuatu yang menurut kita sopan, belum tentu mereka memahaminya sebagai sesuatu yang sopan.”

Perwakilan NASA mengangguk.

“Itulah risiko terbesar dalam misi ini.”

Jatmika menatapnya.

“Risiko terbesar bukan senjata?”

“Bukan.”

Pria itu menggeleng.

“Kesalahpahaman.”

Ia kemudian berdiri.

“Bayangkan lima manusia asing muncul di langit sebuah kota dengan kendaraan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka tidak mengetahui siapa kita. Mereka tidak mengetahui tujuan kita. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki konsep tentang Bumi.”

Ia menunjuk layar.

“Jika kita salah melakukan satu tindakan, mereka bisa menganggap kedatangan kita sebagai invasi.”

Tidak ada yang menjawab.

Karena kemungkinan itu masuk akal.

Jatmika kemudian berkata,

“Karena itu kita tidak akan datang sebagai pasukan.”

Ia menampilkan rancangan misi.

“Kelompok pertama hanya terdiri dari beberapa orang.”

Ia menunjuk daftar nama.

“Jatmika. Prof. Wen Shuyuan. Satu anggota NASA. Satu anggota Rusia. Dan satu pilot.”

Alexander mengangkat tangan.

“Pilotnya saya.”

Beberapa orang menoleh kepadanya.

Jatmika tersenyum kecil.

“Anda yakin?”

“Kalau saya sudah membawa pesawatnya, rasanya tidak masuk akal kalau saya hanya melihatnya dari ruang kontrol.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Namun Jatmika kembali serius.

“Kelompok pertama tidak membawa senjata berat.”

Perwakilan NASA langsung menimpali.

“Perlengkapan pertahanan tetap harus ada.”

“Tentu,” jawab Jatmika. “Tapi tidak boleh terlihat sebagai ancaman.”

Ia menggeser tampilan berikutnya.

“Tidak ada pengambilan sumber daya. Tidak ada memasuki bangunan tanpa izin. Tidak ada menyentuh artefak. Tidak ada tindakan militer.”

Ia menatap seluruh peserta rapat.

“Dan tidak ada yang menembak kecuali nyawa kita benar-benar terancam.”

Ruangan kembali hening.

Jatmika kemudian menunjukkan tahap kedua.

“Jika kontak pertama berhasil, kelompok pertama akan kembali memberikan laporan.”

Layar menampilkan dua kelompok berikutnya.

“Kelompok kedua datang untuk memperkuat komunikasi. Mereka membawa peralatan ilmiah dan medis.”

Kemudian tahap ketiga muncul.

“Kelompok ketiga membawa para ahli diplomasi, teknologi, budaya, dan kerja sama.”

Alexander mengangguk.

“Jadi kita tidak langsung mengirim seluruh tim.”

“Benar.”

Jatmika menatap gambar kota Valtherion.

“Kita memberi mereka kesempatan untuk mengenal kita secara bertahap.”

Prof. Wen mengangguk.

“Itu lebih masuk akal.”

Jatmika melanjutkan,

“Jika mereka menerima kita, barulah kita mulai membicarakan kerja sama.”

“Kerja sama seperti apa?” tanya Victor Morozov.

Jatmika tidak langsung menjawab.

Ia melihat gambar planet itu beberapa detik.

“Belum tahu.”

Victor mengerutkan kening.

“Belum tahu?”

“Ya.”

Jatmika tersenyum tipis.

“Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita akan bertemu dengan bangsa yang tidak berasal dari Bumi.”

Ia menatap semua orang di ruangan.

“Kita tidak boleh datang membawa daftar permintaan.”

Jatmika mematikan layar.

“Untuk kontak pertama, kita hanya membawa satu hal.”

Alexander bertanya,

“Apa?”

Jatmika menjawab,

“Kesediaan untuk mendengarkan.”

Tidak seorang pun berbicara setelah itu.

Di luar ruang konferensi, mesin-mesin terus bekerja. Energi mengalir menuju pusat teleportasi. Kendaraan jet eksperimental Alexander telah diperiksa untuk terakhir kalinya.

Semua teknologi yang selama ini mereka bangun akhirnya memiliki satu tujuan.

Bukan untuk menaklukkan dunia lain.

Melainkan untuk menemukan apakah manusia mampu memperkenalkan dirinya kepada dunia lain tanpa terlebih dahulu membuat dunia itu takut kepadanya.

Di layar utama, Valtherion kembali muncul.

Sebuah planet asing.

Sebuah peradaban yang belum mereka kenal.

Dan sebuah pertanyaan yang bahkan belum memiliki bahasa untuk dijawab:

Ketika dua peradaban pertama kali bertemu, siapa yang harus belajar memahami siapa?
Chapter 98 — Tiga Kelompok

Rapat persiapan berlangsung hingga malam.

Di layar utama ruang konferensi, peta Valtherion masih terpampang. Kota yang menjadi tujuan kontak pertama diberi tanda khusus. Tidak ada seorang pun yang menganggap perjalanan ini sebagai ekspedisi biasa.

Jatmika berdiri dan mulai membagi para peserta ke dalam tiga kelompok.

“Untuk mengurangi risiko,” katanya, “kita tidak akan mengirim semua orang sekaligus.”

Ia menekan layar.

Kelompok Pertama — Tim Kontak

Nama-nama muncul satu per satu.

Jatmika
Prof. Wen Shuyuan
Michael — NASA
Sergei Volkov — Roscosmos
Alexander Nathaniel Sterling

Jatmika menjelaskan,

“Kelompok pertama adalah tim kontak. Tugas utama kalian bukan melakukan penelitian besar. Bukan pula menjelajah planet.”

Ia memandang kelima orang tersebut.

“Tujuan kalian hanya satu: mencapai kota, memastikan keberadaan penduduk Valtherion, dan membuka komunikasi pertama.”

Wen Shuyuan mengangguk.

“Saya akan menangani komunikasi.”

Michael memeriksa data perlengkapan.

“Saya bertanggung jawab pada pengamatan dan prosedur NASA.”

Sergei kemudian berkata,

“Dan saya memastikan sistem energi serta keselamatan kendaraan.”

Alexander tersenyum.

“Saya mengurus kendaraan.”

Jatmika tertawa kecil.

“Kurang lebih begitu.”

Ia kemudian mengganti tampilan layar.

Kelompok Kedua — Tim Pendukung

Rizki Mandang
Edward
Dr. Aleksandr Petrov

“Kelompok kedua tidak langsung berangkat,” ujar Jatmika. “Kalian menunggu hasil kelompok pertama.”

Rizki mengangguk.

“Jika terjadi keadaan darurat?”

“Kalian menjadi tim bantuan.”

Edward menambahkan,

“Dan kalau kontak pertama berhasil?”

“Kalian membawa peralatan tambahan dan membantu membangun komunikasi yang lebih stabil.”

Jatmika kemudian menampilkan kelompok terakhir.

Kelompok Ketiga — Tim Penguatan

Joesoef
Irina Sokolova
John
Pak Toni
Victor Aleksandrovich Morozov

Pak Toni memperhatikan daftar tersebut.

“Kenapa saya berada di kelompok ketiga?”

Jatmika tersenyum.

“Karena saya tidak ingin semua orang penting berada di tempat yang sama ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi.”

Pak Toni mengangguk.

“Masuk akal.”

Victor Morozov hanya tersenyum.

“Dan saya?”

Jatmika menatapnya.

“Anda datang setelah kami memastikan bahwa situasinya aman.”

Victor memahami maksudnya.

Ia bukan datang sebagai investor.

Setidaknya belum.

Ia datang sebagai bagian dari sebuah misi yang jauh lebih besar daripada kepentingan bisnis.

---

Simulasi

“Seperti biasa,” kata Jatmika, “sebelum keberangkatan kita melakukan simulasi.”

Ruang konferensi berubah menjadi pusat perencanaan misi.

Tim teknis mulai menjalankan berbagai skenario.

Skenario A — Kontak Berhasil.

Kelompok pertama mencapai kota Valtherion.

Penduduk setempat tidak menunjukkan permusuhan.

Wen Shuyuan berhasil berkomunikasi.

Mereka kemudian memperkenalkan diri sebagai manusia dari sebuah planet bernama Bumi.

Jika skenario ini terjadi, kelompok kedua akan diberangkatkan setelah menerima laporan dari tim pertama.

Kelompok ketiga menyusul hanya setelah situasi benar-benar stabil.

Jatmika kemudian meminta skenario lain.

“Sekarang skenario terburuk.”

Layar berubah.

Skenario B — Kontak Gagal.

Penduduk Valtherion menunjukkan kecurigaan.

Mereka menganggap kendaraan manusia sebagai ancaman.

Jatmika memberikan instruksi.

“Tidak ada perlawanan kecuali kita diserang.”

Michael mengangguk.

“Kita mundur ke titik teleportasi.”

Sergei menambahkan,

“Jika kendaraan mengalami kerusakan?”

“Kita tinggalkan kendaraan,” jawab Jatmika.

Alexander menoleh.

“Pesawat saya?”

Jatmika menatapnya.

“Lebih baik kehilangan satu pesawat daripada kehilangan lima manusia.”

Alexander terdiam beberapa detik.

Kemudian ia mengangguk.

“Setuju.”

Mereka melanjutkan simulasi.

Skenario C — Teleportasi Gagal.

Jika kelompok pertama tidak dapat kembali ke Bumi, kelompok kedua tidak langsung dikirim.

Mereka harus memastikan terlebih dahulu apakah kegagalan berasal dari artefak teleportasi, gangguan energi Valtherion, atau kerusakan sistem di Bumi.

Skenario D — Kehilangan Komunikasi.

Jika seluruh komunikasi terputus, kelompok pertama dianggap berada dalam kondisi tidak diketahui.

Kelompok berikutnya tidak boleh berangkat tanpa perintah.

Jatmika menatap semua peserta.

“Tidak ada improvisasi heroik.”

Beberapa orang tersenyum.

“Kalau sistem mengatakan berhenti, kita berhenti.”

Ia menunjuk layar.

“Valtherion tidak akan menjadi tempat untuk membuktikan siapa yang paling berani.”

---

Pemeriksaan Kesehatan

Setelah simulasi selesai, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan.

Tekanan darah.

Jantung.

Paru-paru.

Kondisi neurologis.

Kepadatan tulang.

Kondisi mata.

Respons tubuh terhadap perubahan tekanan dan percepatan.

Tidak ada satu pun peserta yang boleh berangkat sebelum dinyatakan layak.

Ny. Tien kemudian menggabungkan hasil pemeriksaan dengan data simulasi.

“Semua peserta menjalani pemeriksaan lengkap,” katanya melalui sistem komunikasi.

Jatmika memperhatikan layar.

“Dan hasilnya?”

“Sedang dianalisis.”

Ia menunggu.

Beberapa detik kemudian, laporan awal muncul.

KELOMPOK PERTAMA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.

KELOMPOK KEDUA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.

KELOMPOK KETIGA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.

Jatmika memandang daftar itu.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perjalanan menuju Valtherion sebenarnya sudah dimulai.

Bukan ketika mereka memasuki ruang teleportasi.

Tetapi sejak mereka memutuskan siapa yang akan pergi.

Di luar gedung, malam Kalimantan terasa tenang.

Tidak ada yang terlihat berbeda.

Namun jauh di dalam fasilitas itu, mesin-mesin sedang menghitung energi, jarak, waktu, dan kemungkinan.

Lima manusia akan menjadi yang pertama membawa nama Bumi ke dunia lain.

Dan sebelum mereka berangkat, mereka harus menerima satu kenyataan sederhana:

Tidak ada simulasi yang mampu memberi tahu mereka bagaimana peradaban lain akan bereaksi ketika melihat manusia untuk pertama kalinya.
Chapter 99 — Sehari Sebelum Kontak Pertama

Pagi itu, ruang pusat kendali PT Sinar Ultraviolet kembali dipenuhi suara mesin dan percakapan para teknisi.

Di layar utama berdiri sebuah laporan berwarna hijau.

Ny. Tien telah menyelesaikan pemeriksaan seluruh peserta ekspedisi.

“Analisis kesehatan selesai,” ujar Ny. Tien.

Semua orang menoleh ke layar.

“Seluruh peserta dinyatakan dalam kondisi sehat dan memenuhi persyaratan medis untuk mengikuti misi Valtherion.”

Jatmika mengangguk lega.

“Baik. Kita mulai persiapan keberangkatan.”

Peta Valtherion muncul di layar.

Jatmika kemudian menampilkan pembagian kendaraan.

“Kelompok pertama menggunakan pesawat jet buatan NASA.”

Sebuah gambar pesawat muncul.

“Kelompok kedua dan ketiga menggunakan pesawat jet milik Alexander.”

Alexander yang duduk di ujung meja langsung mengangkat tangan.

“Sebentar.”

Jatmika menoleh.

“Kenapa pesawat saya tidak digunakan oleh kelompok pertama?”

Beberapa orang tersenyum.

Alexander melanjutkan dengan nada serius.

“Bukankah saya membawa kendaraan itu justru untuk misi ini?”

Jatmika menghela napas kecil.

“Pesawat NASA sudah lebih dahulu menjalani serangkaian pengujian. Kita tahu bagaimana perilakunya setelah teleportasi.”

Alexander menyilangkan tangan.

“Sedangkan pesawat saya baru sekali melakukan teleportasi.”

“Bukan berarti pesawatmu buruk,” jawab Jatmika. “Justru karena belum cukup teruji, saya tidak ingin menjadikannya kendaraan utama untuk tim kontak pertama.”

Alexander terdiam.

Kemudian ia mengangguk.

“Masuk akal.”

Ia tersenyum.

“Tapi setelah misi pertama berhasil, saya ingin pesawat saya digunakan.”

Jatmika tertawa kecil.

“Kita lihat nanti.”

Pak Toni yang sejak tadi memperhatikan jadwal kemudian menunjuk kalender digital.

“Kalau begitu, saya punya usulan.”

Semua mata tertuju kepadanya.

“9 September 2026.”

Jatmika melihat kalender.

Pak Toni melanjutkan,

“Menurut saya, itu waktu yang tepat untuk melakukan kontak pertama.”

“Kenapa tanggal itu?” tanya Edward.

Pak Toni tersenyum.

“Tidak ada alasan mistis. Jadwal semua tim sudah siap, simulasi selesai, kendaraan telah diuji, dan kondisi fasilitas memungkinkan.”

Ia menatap Jatmika.

“Kadang-kadang tanggal yang tepat hanyalah tanggal ketika semua persiapan akhirnya selesai.”

Jatmika mengangguk.

“Baik. Kita gunakan tanggal sembilan September.”

Ruangan kemudian berubah sedikit lebih santai.

John bersandar di kursinya.

“Kalau begitu ada satu hal yang perlu kita bicarakan.”

Jatmika menoleh.

“Apa?”

John mengangkat kedua tangannya.

“Kalau kita bertemu alien, jangan langsung bersalaman.”

Beberapa orang tertawa.

Alexander mengernyitkan dahi.

“Kenapa?”

John menjawab serius,

“Saya pernah menonton banyak film alien.”

Pak Toni menahan tawa.

“Dan?”

“Biasanya orang yang pertama kali menyentuh alien justru orang pertama yang kena masalah.”

Ruangan pecah oleh tawa kecil.

John mengangkat telunjuk.

“Saya serius.”

Wen Shuyuan tersenyum.

“John, kita tidak bisa menjadikan film sebagai protokol ilmiah.”

“Saya tahu.”

John mengangguk.

“Tapi saya tetap memilih untuk tidak menjadi orang pertama yang bersalaman.”

Wen kemudian membuka data penelitian.

“Kalau melihat dokumentasi yang kita miliki, saya justru menduga bentuk tubuh mereka kemungkinan besar menyerupai manusia.”

Michael langsung menyela.

“Menyerupai manusia bukan berarti aman untuk disentuh.”

Ia menunjuk data biologis di layar.

“Kita tidak mengetahui mikroorganisme apa yang hidup di Valtherion. Mereka mungkin memiliki virus, bakteri, spora, atau organisme lain yang tidak kita kenal.”

Michael memandang seluruh anggota tim.

“Begitu juga sebaliknya. Kita bisa membawa mikroorganisme Bumi yang mungkin berbahaya bagi mereka.”

Sergei Volkov yang duduk di sebelahnya justru tersenyum lebar.

“Saya hanya ingin bertemu mereka.”

Michael menoleh.

“Kamu tidak khawatir?”

“Khawatir.”

Sergei berdiri.

“Tapi saya sudah menunggu terlalu lama untuk melihat makhluk dari dunia lain.”

John menunjuk Sergei.

“Nah, orang seperti kamu biasanya mati duluan dalam film.”

Sergei tertawa.

“Kalau begitu jangan berdiri terlalu dekat dengan saya.”

Kali ini bahkan Jatmika ikut tersenyum.

Namun ia segera mengangkat tangannya.

“Cukup.”

Suasana kembali tenang.

Jatmika berjalan mendekati layar yang menampilkan gambar Valtherion.

“Kita belum tahu seperti apa makhluk yang akan kita temui.”

Ia menunjuk gambar perkiraan penduduk Valtherion.

“Wen mungkin benar. Mereka mungkin memiliki bentuk tubuh yang menyerupai manusia.”

Kemudian Jatmika menatap Michael.

“Tapi Michael juga benar. Kemiripan fisik tidak berarti kesamaan biologis.”

Ia menatap John.

“Dan John juga punya satu poin.”

John tersenyum bangga.

“Akhirnya ada yang mengakui.”

“Bukan soal film alien,” lanjut Jatmika.

John langsung terdiam.

“Kontak fisik memang tidak perlu dilakukan pada pertemuan pertama.”

Jatmika kembali ke kursinya.

“Jadi protokol awal kita sederhana.”

Ia menampilkan tiga poin di layar.

PERTAMA — Tidak ada kontak fisik tanpa persetujuan.

KEDUA — Tidak ada pertukaran benda tanpa pemeriksaan.

KETIGA — Tidak ada tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai ancaman.

Jatmika kemudian menatap semua peserta.

“Kita datang bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih maju.”

Ia berhenti sejenak.

“Kita datang untuk memperkenalkan diri.”

Ruangan menjadi hening.

Di layar, tanggal keberangkatan terpampang jelas.

09 — 09 — 2026

Besok mereka akan meninggalkan Bumi.

Kelompok pertama akan menjadi manusia pertama yang mencoba berbicara dengan sebuah peradaban dari planet lain.

Tidak ada seorang pun yang tahu apakah mereka akan disambut sebagai tamu.

Tidak ada yang tahu apakah mereka akan dianggap sebagai ancaman.

Dan tidak ada simulasi yang dapat memberikan jawaban untuk satu pertanyaan sederhana:

Bagaimana cara menyapa makhluk asing tanpa membuatnya takut?

Jatmika mematikan layar.

“Besok kita berangkat.”

Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.

Di luar gedung, pesawat-pesawat telah menunggu.

Mesin teleportasi juga telah siap.

Dan di suatu tempat yang sangat jauh dari Bumi, di bawah cahaya tiga bulan Valtherion, mungkin ada seseorang yang juga sedang memandang ke langit—tanpa mengetahui bahwa esok hari, langit mereka akan kedatangan tamu.


Chapter 100— Malam Sebelum Keberangkatan

Sehari sebelum keberangkatan, suasana di kompleks PT Sinar Ultraviolet terasa berbeda.

Tidak ada latihan.

Tidak ada rapat panjang.

Tidak ada simulasi.

Jatmika memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk meninggalkan fasilitas dan bertemu keluarga masing-masing.

Misi menuju Valtherion mungkin hanya berlangsung beberapa jam menurut perhitungan mereka. Namun tidak seorang pun dapat menjamin apa yang sebenarnya akan terjadi setelah mereka melewati portal.

Karena itu, Jatmika merasa setiap orang berhak menghabiskan waktu terakhirnya di Bumi bersama orang-orang yang mereka cintai.

Michael dan Edward segera kembali ke Amerika.

Sergei Volkov juga meninggalkan Kalimantan dan terbang kembali ke Rusia.

Rizki Mandang memilih menggunakan waktunya untuk beristirahat dan mempersiapkan perlengkapan.

Sebagian besar anggota ekspedisi melakukan hal yang sama.

Namun satu orang tetap berada di fasilitas.

Alexander Nathaniel Sterling.

Jatmika menemukannya duduk sendirian di ruang observasi, memandangi landasan tempat pesawat-pesawat ekspedisi dipersiapkan.

Jatmika menghampirinya.

“Kamu tidak pulang?”

Alexander menoleh.

“Tidak.”

Jatmika duduk di sampingnya.

“Bukankah besok kita mungkin melakukan perjalanan terjauh dalam sejarah manusia?”

Alexander tersenyum.

“Mungkin justru itu alasan saya tidak ingin terlalu banyak berpamitan.”

Jatmika terdiam.

Beberapa detik kemudian ia bertanya,

“Keluargamu di mana?”

Alexander tidak langsung menjawab.

Kemudian ia berkata,

“Saya punya keluarga. Tapi mereka tidak berada di sini.”

Jatmika mengangguk pelan.

Alexander kemudian balik bertanya.

“Kalau kamu sendiri?”

Jatmika tersenyum tipis.

“Saya?”

Ia melihat ke luar jendela.

“Saya belum berkeluarga.”

Alexander menatapnya.

“Tidak ada yang menunggumu di rumah?”

Jatmika menggeleng.

“Tidak ada.”

Untuk sesaat mereka hanya duduk dalam diam.

Dua orang dengan kehidupan yang berbeda, tetapi pada malam itu berada dalam posisi yang sama.

Sendirian.

Alexander kemudian berkata,

“Kalau begitu, bolehkah saya tetap di sini bersama kalian?”

Jatmika menoleh.

“Besok kita berangkat bersama. Jadi tentu saja.”

Alexander tersenyum.

“Terima kasih.”

Malam semakin larut.

Setelah meninggalkan ruang observasi, Jatmika menuju ruang penyimpanan artefak.

Ia ingin memastikan semua peninggalan Mythopia berada dalam kondisi aman.

Pintu pengamanan terbuka setelah identitasnya dikenali.

Di dalam ruangan terdapat beberapa artefak yang selama ini disimpan dan dipelajari oleh tim.

Jatmika berjalan menuju tempat penyimpanan keris.

Ia membuka wadah pelindung.

Keris peninggalan Mythopia masih berada di sana.

Jatmika mengangkatnya perlahan.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Hanya permukaan logam tua yang memantulkan cahaya ruangan.

Ia memeriksanya dari pangkal hingga ujung.

Tidak ada kerusakan.

Tidak ada perubahan bentuk.

Namun ketika Jatmika mencoba merasakan energinya, ia menyadari sesuatu.

Energinya tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.

Ia menoleh ke layar pemantau.

Data energi menunjukkan pola yang sangat kecil, tetapi berulang.

Seolah-olah keris itu sedang merespons sesuatu.

Jatmika kemudian mengingat satu benda lain.

Keris peninggalan Raja Isidore.

Ia berbeda.

Benda itu tidak disimpan di tempat yang sama.

Sejak pertama kali ditemukan, keris tersebut selalu menunjukkan karakter energi yang berbeda dari artefak Mythopia lainnya.

Jatmika pernah mencoba menghubungkan keduanya.

Namun hasilnya selalu sama.

Tidak ada respons.

Malam itu ia kembali memikirkannya.

Mengapa dua keris yang berasal dari peradaban yang sama memiliki pola energi berbeda?

Apakah karena pemiliknya?

Ataukah karena fungsi keduanya memang berbeda?

Jatmika menatap keris yang berada di tangannya.

Kemudian ia teringat Valtherion.

Isidore.

Teleportasi.

Dan pesan yang pernah ia terima dalam mimpinya.

Hanya keturunan Mythopia yang dapat menggunakan keris itu.

Jatmika mengerutkan kening.

Ia belum pernah menemukan bukti mengenai siapa dirinya sebenarnya.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjalanan ke Valtherion mungkin akan memberikan jawaban.

Ia mengembalikan keris ke tempatnya.

Sebelum menutup wadah, Jatmika menatapnya sekali lagi.

“Besok,” bisiknya.

Kemudian pintu penyimpanan tertutup.

Di luar ruangan, Alexander masih berada di ruang observasi.

Pesawat telah siap.

Mesin teleportasi telah siap.

Para anggota tim sedang bersiap untuk kembali berkumpul.

Dan di balik semua persiapan itu, Jatmika menyimpan satu pertanyaan yang tidak tercantum dalam dokumen misi.

Siapa sebenarnya Raja Isidore bagi dirinya?

Mungkin jawabannya berada di Valtherion.

Atau mungkin justru jawabannya adalah sesuatu yang selama ini telah berada di tangannya sendiri.
Chapter 101— Keberangkatan

9 September 2026.

Hari yang telah mereka persiapkan akhirnya tiba.

Sejak pagi, kompleks PT Sinar Ultraviolet di Kalimantan dipenuhi aktivitas. Para teknisi memeriksa sistem teleportasi untuk terakhir kalinya. Tim NASA dan Rusia memeriksa instrumen masing-masing. Tidak ada lagi simulasi.

Tidak ada lagi kesempatan untuk berkata, nanti saja.

Para peserta ekspedisi telah kembali dari negara mereka masing-masing.

Michael dan Edward telah kembali dari Amerika.

Sergei Volkov telah kembali dari Rusia.

Mereka semua membawa sesuatu yang tidak tercantum dalam daftar perlengkapan misi: perasaan lega karena telah berpamitan dengan orang-orang yang mereka cintai.

Mereka tidak tahu kapan akan kembali.

Mereka bahkan tidak tahu apakah kata kembali masih memiliki arti yang sama setelah mereka tiba di dunia lain.

Di ruang persiapan, kelima anggota kelompok pertama telah berdiri mengenakan pakaian astronot.

Jatmika.

Alexander Nathaniel Sterling.

Prof. Wen Shuyuan.

Sergei Volkov.

Michael.

Pesawat jet NASA telah selesai menjalani seluruh rangkaian pengujian.

Beberapa kali pesawat tersebut diterbangkan di fasilitas Kalimantan. Sistem pendorong bekerja stabil. Kendali penerbangan tidak mengalami gangguan. Tidak ditemukan masalah yang dapat menghambat penggunaannya dalam misi.

Kini kendaraan itu perlahan didorong masuk ke ruang teleportasi.

Pesawat berhenti tepat di tengah ruangan.

Di sekelilingnya berdiri peralatan pemantauan.

Ny. Tien mulai menjalankan pemeriksaan terakhir.

“Sinkronisasi sistem teleportasi dimulai.”

Layar utama menyala.

“Koordinat Valtherion terkunci.”

Jatmika melihat angka-angka yang bergerak cepat.

“Berapa estimasi waktu perjalanan?”

“Waktu teleportasi tidak bergantung pada jarak tempuh konvensional,” jawab Ny. Tien. “Namun kestabilan portal telah memenuhi parameter yang ditentukan.”

Pak Toni kemudian masuk ke ruang kendali.

Ia membawa laporan terakhir.

“Waktu maksimal sebelum kembali sudah kita tingkatkan menjadi seratus dua puluh menit.”

Alexander menoleh.

“Dua jam?”

“Benar.”

Pak Toni mengangguk.

“Namun jangan menganggap dua jam sebagai waktu aman. Itu batas operasional yang kita tetapkan berdasarkan data yang kita miliki.”

Jatmika menambahkan,

“Dan kalau terjadi masalah?”

Pak Toni menjawab,

“Kelompok kedua akan menjadi tim penjemput.”

Rizki Mandang, Edward, dan Aleksandr Petrov telah bersiap di fasilitas teleportasi kedua.

Mereka tidak ikut dalam keberangkatan pertama.

Mereka menunggu.

Jika kelompok pertama gagal kembali, merekalah yang akan menjadi harapan berikutnya.

Jatmika kemudian menghadap kelima anggota tim.

“Dengarkan.”

Semua orang diam.

“Perjalanan ini bukan tamasya.”

Tidak ada senyum kali ini.

“Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan. Kita tidak tahu bagaimana penduduk Valtherion akan menerima kita. Kita tidak tahu apakah teknologi kita akan bekerja seperti yang kita harapkan.”

Jatmika menarik napas.

“Semoga kita diberi keselamatan dalam perjalanan ini.”

Ia menundukkan kepala.

“Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing.”

Tidak ada perintah tentang bagaimana mereka harus berdoa.

Tidak ada kewajiban untuk menggunakan kata-kata yang sama.

Mereka hanya diberi kesempatan untuk berbicara kepada Tuhan dengan cara masing-masing.

Ruangan menjadi hening.

Untuk beberapa saat, teknologi yang memenuhi tempat itu seakan tidak memiliki arti.

Lima manusia berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kemampuan mereka untuk menghitung.

Setelah doa selesai, Jatmika membuka sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat lima benda.

Keris peninggalan Mythopia.

Ia menyerahkannya satu per satu kepada anggota tim.

“Pegang ini.”

Alexander menerima keris tersebut dengan hati-hati.

Jatmika berkata,

“Simpan. Semoga kalian diberikan keberuntungan.”

Wen memperhatikan bilah keris itu.

“Apakah kita benar-benar membutuhkan ini?”

Jatmika tersenyum tipis.

“Saya tidak tahu.”

Ia menatap keris di tangannya.

“Tapi selama ini artefak ini selalu membawa kita lebih dekat kepada jawaban.”

Tidak ada yang membantah.

Kelima orang menyimpan keris tersebut.

Kemudian pintu pesawat ditutup.

Jatmika masuk terakhir.

Ia duduk di kursinya.

Sabuk pengaman dikunci.

Alexander berada di kursi pilot.

Michael memeriksa instrumen.

Sergei memeriksa sistem energi.

Wen memastikan perangkat penerjemah dan arsip bahasa berada dalam kondisi aktif.

Ny. Tien mengambil alih navigasi.

“Seluruh anggota kelompok pertama terdeteksi.”

Suara mesin mulai terdengar.

“Tujuan: Valtherion.”

Lampu di dalam ruang teleportasi meredup.

Di tengah ruangan, artefak kuno mulai bergetar.

Kemudian—

menyala merah.

Cahaya merah perlahan berubah menjadi emas.

Jatmika menggenggam sabuk pengamannya.

“Ny. Tien?”

“Koordinat terkunci.”

“Mulai.”

Suara Ny. Tien terdengar tenang.

“Hitung mundur dimulai.”

Sepuluh.

Cahaya emas semakin terang.

Sembilan.

Udara di dalam ruangan mulai bergetar.

Delapan.

Petir kecil mulai muncul di sekitar artefak.

Tujuh.

Alexander menatap layar penerbangan.

Enam.

Sergei tersenyum.

“Jadi ini rasanya meninggalkan Bumi.”

Lima.

Michael menjawab,

“Jangan terlalu cepat senang.”

Empat.

Wen memejamkan mata sejenak.

Tiga.

Petir menyambar ke segala arah.

Dua.

Cahaya memenuhi seluruh ruangan.

Satu.

“Teleportasi.”

Ledakan cahaya terjadi tanpa suara.

Pesawat jet NASA menghilang.

Lima manusia di dalamnya ikut menghilang dari Bumi.

---

Valtherion

Di tempat yang sangat jauh, sebuah ruangan kuno berdiri dalam kesunyian.

Dindingnya terbuat dari batu dan kristal.

Di tengah ruangan terdapat sebuah artefak yang telah berusia ribuan tahun.

Tidak ada manusia di sana.

Tidak ada mesin.

Tidak ada suara.

Kemudian—

BRAKK!

Petir menyambar dari langit-langit ruangan.

Cahaya biru menjalar ke seluruh dinding.

Artefak teleportasi tiba-tiba menyala.

Merah.

Kemudian berubah menjadi—

Emas.

Energi memenuhi ruangan.

Udara bergetar.

Sebuah bentuk mulai muncul di tengah lingkaran cahaya.

Perlahan.

Pertama bayangan.

Kemudian struktur pesawat.

Lalu tubuh manusia.

Dalam hitungan detik, kendaraan itu terbentuk sepenuhnya.

Pesawat jet NASA telah tiba.

Petir terakhir menyambar lantai.

Cahaya perlahan menghilang.

Pesawat berdiri diam.

Di dalamnya terdapat lima manusia.

Jatmika.

Alexander.

Wen Shuyuan.

Sergei Volkov.

Michael.

Tidak seorang pun langsung berbicara.

Mereka hanya mendengar suara napas masing-masing.

Alexander memandang layar kokpit.

“Valtherion.”

Sergei tersenyum lebar.

“Kita benar-benar sampai.”

Michael melihat instrumen.

“Semua sistem masih aktif.”

Wen membuka perangkat penerjemah.

“Atmosfer terdeteksi.”

Jatmika perlahan melihat keluar melalui kaca depan.

Di kejauhan, cahaya sebuah kota terlihat di balik pegunungan.

Tiga bulan menggantung di langit.

Dan untuk pertama kalinya, manusia memandang sebuah dunia yang tidak pernah menjadi bagian dari sejarah Bumi.

Jatmika terdiam.

Kemudian ia berkata pelan,

“Selamat datang di Valtherion.”

Namun mereka belum mengetahui satu hal.

Kedatangan mereka tidak sepenuhnya tidak diketahui.

Jauh dari tempat mereka berdiri, sebuah sistem kuno telah mendeteksi energi teleportasi yang baru saja muncul.

Di sebuah menara yang menjulang di atas kota, seseorang membuka matanya.

Para penjaga Valtherion telah mengetahui bahwa ada sesuatu yang baru saja datang dari dunia lain.

Chapter 102 — Langit Valtherion

Pesawat jet NASA masih berada di dalam ruangan kuno itu.

Jatmika turun lebih dahulu dan mengamati pintu batu besar yang berada di ujung ruangan.

“Pesawat ini harus kita keluarkan,” katanya.

Alexander melihat sekeliling.

“Bagaimana caranya?”

“Dorong.”

Sergei tertawa kecil.

“Pesawat antariksa didorong seperti mobil?”

“Untuk sementara,” jawab Jatmika.

Mereka berlima kemudian mendorong kendaraan tersebut perlahan menuju pintu keluar.

Alexander ikut mendorong dari bagian belakang.

“Untung pesawat ini ringan.”

Michael segera menyela.

“Jangan terlalu cepat.”

Ia menunjuk ke arah pesawat.

“Tunggu sampai pesawat ini benar-benar berada di tempat terbuka. Kita tidak tahu kondisi udara di luar.”

Jatmika mengangguk.

Mereka berhenti tepat di depan pintu.

Jatmika kemudian mengambil sebuah papan logam yang telah disiapkan sebelumnya. Pada permukaannya terdapat lapisan material yang dapat merespons medan magnet.

Ia mengambil batang besi magnetik.

“Kalau teori kita benar, segel ini masih dikenali oleh sistem kuno.”

Wen mendekat.

“Dan kalau salah?”

Jatmika tersenyum.

“Kita akan mencari cara lain.”

Ia mulai menggambar simbol.

Garis pertama.

Kemudian lingkaran.

Lalu beberapa pola geometris yang menyerupai simbol kuno Mythopia.

Begitu garis terakhir selesai—

ZZZTTT...

Papan tersebut bergetar.

Sebuah cahaya tipis muncul di permukaannya.

Jatmika menempelkan papan itu ke bagian tengah pintu.

Terdengar suara mekanis yang aneh, meskipun tidak ada roda gigi yang terlihat.

Grrrrrrr...

Pintu batu mulai bergeser.

Celah kecil terbuka.

Kemudian semakin lebar.

Udara malam memasuki ruangan.

Kelima orang itu terdiam.

Di hadapan mereka terbentang sebuah hutan.

Gelap.

Luas.

Dan sama sekali berbeda dari hutan mana pun yang pernah mereka lihat di Bumi.

Pepohonan menjulang tinggi dengan daun yang memancarkan cahaya samar. Kabut tipis bergerak di antara batang-batang pohon.

Di langit terlihat tiga bulan.

Tidak ada suara kota.

Tidak ada suara kendaraan.

Hanya suara angin.

Jatmika melihat jam tangannya.

“Waktu lokal?”

Ny. Tien menjawab melalui komunikasi internal.

“Perkiraan malam hari.”

Michael mengamati lingkungan.

“Atmosfer aman untuk operasi pesawat.”

Alexander sudah berada di dekat kokpit.

“Kalau begitu, mari kita lihat apakah kendaraan ini bisa terbang di planet asing.”

Mereka masuk ke dalam pesawat.

Pintu kabin ditutup.

Alexander duduk di kursi pilot.

Ia memeriksa instrumen satu per satu.

Baginya, menerbangkan pesawat bukan sesuatu yang baru.

Ia telah menghabiskan ribuan jam menerbangkan berbagai jenis pesawat selama kariernya.

Namun kali ini berbeda.

Ia akan menerbangkan pesawat di dunia yang tidak tercatat dalam peta manusia.

Alexander menyalakan sistem utama.

BEEP.

Panel kokpit menyala.

“Semua sistem aktif.”

Ia mengaktifkan mesin.

Dengungan rendah memenuhi kabin.

VMMMMMMMM...

Mesin pendorong mulai menghasilkan aliran udara ke bawah.

Pesawat perlahan terangkat.

Beberapa meter.

Kemudian semakin tinggi.

Alexander mengendalikan kendaraan dengan gerakan kecil.

“Responsnya sangat halus.”

Michael memperhatikan data penerbangan.

“Stabil.”

Pesawat kemudian bergerak maju.

Perlahan.

Kemudian kecepatannya bertambah.

Hutan Valtherion terbentang di bawah mereka.

Jatmika memandang keluar jendela.

Pepohonan bercahaya terlihat seperti lautan hijau di bawah langit gelap.

“Terlalu indah untuk disebut asing,” kata Wen.

Jatmika menunjuk ke depan.

“Kita akan menuju lembah di tengah hutan ini.”

Alexander mengarahkan pesawat mengikuti koordinat.

“Menuju lembah.”

Pesawat bergerak semakin jauh dari tempat teleportasi.

Namun mereka tidak menyadari bahwa sejak kendaraan itu meninggalkan ruangan kuno, sesuatu telah mengawasi mereka.

Di sebuah menara tinggi yang berada di tepi wilayah Valtherion, seorang penjaga berdiri dalam bayangan.

Namanya Rhaegor Valtis.

Ia adalah penjaga gerbang dan wilayah perbatasan Valtherion.

Di tangannya terdapat tombak kristal yang sesekali memancarkan cahaya kebiruan.

Rhaegor memandang langit.

Sebuah benda asing bergerak di antara awan.

Tidak seperti burung.

Tidak seperti kendaraan Valtherion.

Tidak seperti apa pun yang pernah ia lihat.

Ia menutup mata.

Energi asing terasa di udara.

Energi yang sangat tua.

Namun juga sangat asing.

“Teleportasi...”

Rhaegor membuka matanya.

Ia segera berbalik menuju ruang komunikasi.

“Hubungi Aurex Valther.”

Beberapa saat kemudian, saluran komunikasi kuno terbuka.

Sebuah suara terdengar.

“Ada apa?”

Rhaegor menatap langit.

“Penjaga gerbang menemukan penyusup.”

“Di mana?”

“Menuju kota.”

Rhaegor berhenti sejenak.

“Dan mereka datang menggunakan sebuah mesin terbang.”

Hening.

Aurex Valther kemudian bertanya,

“Apakah mereka bersenjata?”

“Saya belum mengetahui jumlahnya.”

Rhaegor menatap kendaraan asing yang semakin menjauh.

“Tapi mereka datang melalui energi teleportasi.”

Aurex terdiam.

Itu bukan informasi biasa.

Energi teleportasi kuno telah lama dianggap sebagai warisan yang hampir tidak pernah lagi digunakan.

“Awasi mereka,” perintah Aurex.

“Jangan menyerang.”

Rhaegor menundukkan kepala.

“Dimengerti.”

Ia kembali menatap pesawat itu.

Sementara itu, jauh di atas hutan, Jatmika dan keempat rekannya terus terbang menuju lembah.

Mereka mengira sedang melakukan perjalanan menuju sebuah kota.

Mereka tidak tahu bahwa sejak pertama kali muncul di Valtherion, mereka telah menjadi objek pengamatan.

Dan bagi para penjaga Valtherion, pertanyaan yang sama mulai muncul:

Siapakah manusia yang datang melalui gerbang kuno itu—dan mengapa mereka kembali menggunakan teknologi yang seharusnya telah lama hilang?

Chapter 103 kontak pertama 
Hamparan hutan membentang sejauh mata memandang.

Dari ketinggian, pemandangan itu hampir menyerupai bumi. Sungai-sungai berkelok di antara pepohonan raksasa, mengalir menuju pegunungan yang diselimuti kabut tipis. Namun semakin lama mereka terbang, semakin jelas bahwa Valtherion bukanlah bumi.

Di bawah mereka, beberapa pohon memiliki daun yang memancarkan cahaya lembut. Di sela-sela kanopi hutan, sesekali terlihat aliran sungai berwarna kebiruan yang berkilauan seperti kaca.

Tiba-tiba—

WUSSSHH!

Seekor burung raksasa muncul dari balik pepohonan dan melintas tepat di depan jet NASA.

Alexander spontan menarik kendali.

“Pegangan!”

Pesawat melakukan manuver tajam. Tubuh mereka terdorong ke samping ketika Alexander memutar jet hampir membentuk lingkaran sebelum kembali ke jalur semula.

Burung raksasa itu mengepakkan sayapnya dan menghilang ke balik pepohonan.

Alexander mengembuskan napas panjang.

“Wah... hampir saja.”

Michael menatap keluar jendela.

“Itu burung atau pesawat tanpa mesin?”

Sergei tertawa kecil.

“Kalau di Rusia, saya mungkin sudah menembaknya.”

“Jangan bercanda,” kata Jatmika.

Sergei mengangkat kedua tangannya.

“Baik. Saya hanya bercanda.”

Prof. Wen Shuyuan masih memandang ke bawah dengan penuh perhatian.

“Ekosistemnya luar biasa. Bentuk kehidupannya mungkin berkembang dengan cara yang sangat berbeda dari bumi.”

Jet terus bergerak maju.

Beberapa menit kemudian, hutan mulai menipis.

Di hadapan mereka terbentang sebuah lembah yang sangat luas.

Sebuah air terjun raksasa jatuh dari tebing tinggi, menciptakan kabut putih yang berkilauan diterpa cahaya tiga bulan di langit.

Namun bukan air terjunnya yang membuat mereka terdiam.

Di atas lembah itu...

sebuah kota melayang.

Bangunan-bangunan kristal berdiri di antara awan. Menara-menara tinggi memancarkan cahaya biru, emas, ungu, dan merah. Jembatan transparan menghubungkan satu struktur dengan struktur lainnya, sementara kendaraan-kendaraan kecil bergerak di antara gedung-gedung tersebut tanpa terlihat menyentuh tanah.

Seluruh kota tampak seperti sebuah peradaban yang dibangun dari cahaya.

Michael terdiam.

Sergei bahkan berdiri dari kursinya.

“Ya Tuhan...”

Prof. Wen mendekat ke kaca jendela.

“Ini bukan reruntuhan.”

Jatmika menatap kota itu dengan mata terpaku.

“Ini masih hidup.”

Beberapa detik tidak ada seorang pun berbicara.

Kemudian Jatmika menunjuk ke arah kota.

“Ayo kita pergi ke sana.”

Alexander tersenyum dan kembali memegang kendali.

“OK. Gas.”

Jet mulai mengarah menuju lembah.

Namun belum sempat mereka mendekati kota, sistem peringatan pesawat berbunyi.

BIP! BIP! BIP!

Alexander melihat layar radar.

“Ada sesuatu di sebelah kanan.”

Sebuah pesawat berwarna perak muncul dari balik awan.

Bentuknya berbeda dengan teknologi bumi. Tidak terlihat sayap konvensional ataupun mesin pendorong. Tubuhnya menyerupai kepingan logam yang mengilap, dengan cahaya biru tipis mengalir di sepanjang permukaannya.

Lalu muncul pesawat kedua.

Ketiga.

Keempat.

Kelima.

Kini lima pesawat perak mengelilingi jet NASA.

Alexander menelan ludah.

“Wah... apakah ini sebuah penyambutan atau sebuah penangkapan?”

Michael langsung memeriksa sistem komunikasi.

“Tidak ada komunikasi.”

Jatmika memperhatikan posisi kelima pesawat itu.

Mereka tidak menyerang.

Mereka hanya mengawal.

“Jangan lakukan apa pun,” kata Jatmika tenang. “Tetap tenang. Ikuti saja mereka.”

Alexander mengangguk.

“Baik.”

Jet NASA memperlambat kecepatannya.

Salah satu pesawat perak bergerak ke depan. Bagian bawahnya tiba-tiba terbuka dan memancarkan cahaya putih kebiruan.

ZZZZZZT!

Sebuah sinar laser mengenai bagian bawah jet NASA.

“Eh, mereka menembak kita!” seru Michael.

“Bukan,” jawab Sergei sambil melihat instrumen. “Tidak ada kerusakan.”

Alexander mencoba mengendalikan pesawat.

“Kontrol saya tidak merespons!”

Jatmika melihat ke layar.

Kecepatan pesawat mulai turun secara otomatis.

Kemudian sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Jet NASA perlahan terangkat.

Bukan karena mesin.

Bukan karena kendali Alexander.

Pesawat itu seperti sedang ditarik oleh sebuah gaya yang tidak terlihat.

Alexander mencoba menggerakkan kendali sekali lagi.

Tidak berhasil.

“Kita ditarik!”

Kelima pesawat perak mulai bergerak secara bersamaan.

Jet NASA mengikuti mereka tanpa bisa melawan.

Di kejauhan, Jatmika melihat sebuah landasan luas muncul di antara dua bangunan kristal.

Pesawat-pesawat perak membawa mereka menuju tempat itu.

Prof. Wen memperhatikan kota yang semakin dekat.

“Jatmika... mereka tidak membawa kita ke pusat kota.”

“Memang.”

“Menurutmu kenapa?”

Jatmika menatap landasan yang semakin besar.

“Mungkin mereka belum tahu apakah kita musuh atau bukan.”

Alexander tersenyum kaku.

“Jadi kita sedang ditangkap dengan cara yang sopan?”

Jatmika tidak menjawab.

Pesawat perlahan turun.

Roda pendaratan jet NASA keluar secara otomatis.

Kemudian—

DUUMM!

Jet mendarat di landasan kristal.

Kelima pesawat perak berhenti mengelilingi mereka.

Pintu-pintu pesawat terbuka.

Sosok-sosok humanoid mulai keluar.

Mereka mengenakan pakaian pelindung berwarna putih keperakan. Beberapa membawa tombak kristal yang memancarkan cahaya tipis.

Michael berbisik,

“Mereka humanoid.”

Prof. Wen menggeleng pelan.

“Bentuknya humanoid. Jangan langsung menyimpulkan bahwa mereka sama seperti manusia.”

Jatmika melepas tangannya dari senjata.

“Kita datang bukan untuk berperang.”

Ia menatap seluruh anggota kelompok.

“Ingat protokol.”

Semua mengangguk.

Di luar jet, para penjaga Valtherion berdiri dalam formasi.

Dari salah satu menara kristal yang jauh, seseorang mengamati mereka.

Rhaegor Valtis.

Tatapannya tertuju pada jet NASA.

Kemudian sebuah suara terdengar melalui kristal komunikasi di tangannya.

“Makhluk-makhluk itu telah mendarat.”

Di tempat lain, Aurex Valther membuka matanya.

“Jangan serang.”

Rhaegor terdiam.

“Jika mereka datang dari jaringan teleportasi kuno, berarti mereka mungkin memiliki hubungan dengan masa lalu yang selama ini kita cari.”

Aurex menatap langit Valtherion.

“Biarkan mereka berbicara.”

Ia berhenti sejenak.

“Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun... mungkin ada seseorang yang datang bukan untuk mengambil sesuatu dari dunia kita.”

Sementara itu, pintu jet NASA mulai terbuka.

Jatmika berdiri paling depan.

Di hadapannya, untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan manusia, berdiri penghuni dunia lain.

Jatmika menarik napas panjang.

Kemudian ia melangkah keluar.

Chapter 104 Kontak pertama 
Pintu jet NASA terbuka perlahan.

Jatmika turun lebih dahulu.

Kakinya menginjak landasan kristal yang terasa kokoh, tetapi memancarkan cahaya lembut di bawah telapak sepatunya. Udara Valtherion terasa dingin dan bersih. Di kejauhan, air terjun raksasa masih terdengar menggelegar, sementara tiga bulan menggantung di langit yang dipenuhi bintang.

Prof. Wen Shuyuan keluar setelahnya.

Kemudian Alexander Nathaniel Sterling, Sergei Volkov, dan Michael menyusul.

Kelima manusia itu berdiri di hadapan barisan prajurit Valtherion.

Para prajurit memegang senjata berbentuk tombak kristal. Beberapa dari mereka mengenakan zirah keperakan, sementara yang lain mengenakan pakaian panjang dengan simbol-simbol kuno di dada.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang menyerang.

Hanya tatapan saling mengamati.

Prof. Wen melangkah maju beberapa meter.

Ia menarik napas.

Kemudian mulai berbicara menggunakan bahasa asing yang telah dipelajarinya dari berbagai catatan kuno.

“Salam. Kami datang dari sebuah planet bernama Bumi. Kami tidak bermaksud melakukan serangan. Kami datang untuk mencari pengetahuan dan membuka hubungan dengan peradaban kalian.”

Para prajurit saling memandang.

Rhaegor Valtis berdiri paling depan.

Tangannya masih menggenggam tombak kristal petir.

Matanya bergerak perlahan dari wajah satu manusia ke manusia lainnya.

Kemudian pandangannya berhenti pada pinggang Jatmika.

Sebuah keris tergantung di sana.

Mata Rhaegor melebar.

“Senjata itu...”

Ia melangkah maju.

Para prajurit langsung memperketat barisan.

Rhaegor mengangkat tombaknya.

“Jangan bergerak!”

Jatmika berhenti.

Rhaegor menunjuk keris tersebut.

“Itu bukan senjata biasa.”

Prof. Wen menerjemahkan perkataan Rhaegor kepada yang lain.

Rhaegor menatap keris itu dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.

“Senjata legendaris Raja Isidore.”

Alexander menoleh kepada Jatmika.

“Dia mengenal kerismu?”

Jatmika tidak menjawab.

Di kejauhan, seorang pria berjubah putih berjalan mendekat.

Namun langkahnya tampak aneh.

Kakinya hampir tidak menyentuh tanah.

Jubah putihnya bergerak perlahan tertiup angin, sementara cahaya kebiruan mengelilingi tubuhnya.

Dialah Aurex Valther, penjaga Segel Langit.

Aurex berhenti di samping Rhaegor.

Ia menatap Jatmika.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian ia berkata,

“Mereka bukan penyusup.”

Rhaegor menoleh.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”

Aurex menjawab dengan tenang.

“Aku bisa melihatnya dari mataku.”

Ia memandang satu per satu anggota rombongan.

“Tidak ada kebencian dalam jiwa mereka.”

Tombak Rhaegor perlahan diturunkan.

Namun sebelum suasana benar-benar mencair, terdengar suara lain.

“Selamat datang di planet Valtherion.”

Semua manusia terdiam.

Bahasa itu...

Bahasa Indonesia.

Prof. Wen langsung menoleh.

Matanya membelalak.

“Loh... kok bisa bahasa Indonesia?”

Seorang pria berjubah putih lainnya berjalan keluar dari barisan.

Usianya sulit ditebak. Wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua daripada manusia.

Ia adalah Seraphion Kael, penjaga Arsip Bintang dan ahli sejarah Valtherion.

Seraphion tersenyum tipis.

“Bahasa kalian bukan sesuatu yang sulit bagi kami.”

Prof. Wen terlihat semakin bingung.

“Bagaimana kalian bisa mempelajarinya?”

Seraphion menatapnya.

“Karena kami telah mempelajari dunia kalian jauh sebelum kalian menyadari keberadaan kami.”

Suasana kembali hening.

Jatmika kemudian maju.

“Saya Jatmika.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Kami datang dari Bumi.”

Kemudian ia memperkenalkan satu per satu.

“Ini Prof. Wen Shuyuan, ahli bahasa dan sejarah.”

Wen mengangguk.

“Ini Alexander Nathaniel Sterling, pilot kami.”

Alexander mengangkat tangan.

“Senang bertemu kalian.”

“Ini Sergei Volkov, ahli teknologi antariksa.”

Sergei mengangguk hormat.

“Dan ini Michael, anggota tim NASA.”

Michael tersenyum tipis.

Seraphion memperhatikan mereka dengan penuh perhatian.

Jatmika melanjutkan,

“Tujuan kami bukan mengambil wilayah kalian. Bukan pula mencari sumber daya untuk kami kuasai.”

Ia melihat ke arah kota kristal yang melayang di atas lembah.

“Kami ingin membangun hubungan. Membuka komunikasi antara dua planet. Jika memungkinkan, kami ingin belajar dari kalian dan berbagi pengetahuan yang kami miliki.”

Seraphion tidak langsung menjawab.

Ia justru berjalan mendekati Jatmika.

Kemudian mengulurkan tangannya.

“Kalau begitu, mari kita mulai dengan sesuatu yang sederhana.”

Ia tersenyum.

“Salam persahabatan.”

Jatmika memandang tangan Seraphion.

Ia teringat protokol yang telah mereka sepakati.

Tidak ada kontak fisik tanpa persetujuan.

Namun Seraphion sudah memberikan izin.

Jatmika akhirnya mengulurkan tangan.

Keduanya berjabat tangan.

Dan saat itulah—

Jatmika membeku.

Matanya terbuka lebar.

Suara di sekelilingnya menghilang.

Landasan kristal menghilang.

Seraphion menghilang.

Yang tersisa hanyalah sebuah dunia yang terbakar.

DUARRR!

Langit dipenuhi kapal perang.

Sebuah kota kuno runtuh dalam kobaran api.

Jatmika melihat pasukan asing bergerak di antara reruntuhan.

Bangsa Zhar'Kor.

Tubuh mereka dilapisi logam hidup. Senjata mereka menghantam pertahanan Mythopia.

Kemudian pemandangan berubah.

Para ksatria Mythopia berdiri di medan perang.

Di hadapan mereka muncul bangsa Nyxar.

Bayangan hitam bergerak seperti kabut hidup.

Pedang beradu.

Ledakan energi mengguncang tanah.

Kemudian—

Kerajaan-kerajaan lain hancur.

Jatmika melihat bangsa Kragmora menyerbu sebuah kota.

Tubuh mereka besar dan kuat.

Benteng batu dihancurkan.

Menara-menara runtuh.

Jeritan terdengar di mana-mana.

Pemandangan berubah lagi.

Bangsa Sylthar berdiri di tengah medan perang.

Mereka mengangkat tangan.

Cahaya aneh keluar dari tubuh para pahlawan yang telah gugur.

Jiwa mereka ditarik keluar.

Dicuri.

Disimpan di dalam kristal-kristal hitam.

Jatmika mencoba berteriak.

“Berhenti!”

Namun tidak ada suara yang keluar.

Kemudian sesuatu yang lebih mengerikan muncul.

Sebuah ruangan gelap.

Di dalamnya berdiri bangsa Chronarion.

Mereka tidak ikut bertempur.

Mereka hanya mengamati.

Di hadapan mereka terdapat peta besar yang menampilkan berbagai kerajaan dan peristiwa.

Satu simbol digeser.

Sebuah kerajaan jatuh.

Simbol lain disentuh.

Sebuah perang dimulai.

Mereka tidak menghancurkan dunia secara langsung.

Mereka mengubah jalannya sejarah.

Mereka memanipulasi berbagai peristiwa dari balik bayangan.

Kemudian Jatmika melihat satu sosok berdiri di antara semua kekacauan itu.

Raja Isidore.

Wajahnya terluka.

Pakaian perangnya penuh debu.

Di tangannya terdapat keris yang sama seperti milik Jatmika.

Isidore menatap lurus ke arahnya.

Seolah-olah...

menatap dirinya.

Kemudian terdengar sebuah suara.

“Warisan itu belum berakhir.”

Jatmika tersentak.

Matanya kembali melihat dunia nyata.

Namun tubuhnya sudah kehilangan kekuatan.

“Jatmika!”

Prof. Wen menangkap bahunya.

Jatmika mencoba berbicara.

“Chronarion...”

Tubuhnya limbung.

“Isidore...”

Kemudian semuanya menjadi gelap.

Bruk!

Jatmika jatuh tak sadarkan diri.

“Jatmika!” seru Michael.

Alexander dan Sergei segera mendekat.

Para prajurit Valtherion sempat mengangkat senjata, tetapi Aurex mengangkat tangannya.

“Jangan.”

Ia menatap tubuh Jatmika.

“Dia tidak diserang.”

Seraphion berdiri membeku.

Wajahnya yang sebelumnya tenang berubah serius.

“Apa yang dia lihat?”

Aurex menatap Seraphion.

“Kau tahu jawabannya.”

Seraphion terdiam.

Kemudian ia berkata pelan,

“Dia melihat sejarah yang seharusnya tidak bisa dilihat manusia.”

Para prajurit segera mengangkat tubuh Jatmika dengan hati-hati.

“Bawa dia ke ruang pemulihan.”

Prof. Wen mengikuti mereka.

“Kami ikut.”

Seraphion mengangguk.

“Tidak ada seorang pun dari kalian yang akan disakiti.”

Mereka dibawa melewati koridor kota kristal.

Dinding-dindingnya memancarkan cahaya biru dan emas. Para prajurit Valtherion tidak memperlakukan mereka sebagai tahanan. Mereka justru menyediakan ruangan yang bersih dan nyaman.

Jatmika dibaringkan di atas tempat tidur yang terbuat dari kristal putih.

Sebuah cahaya lembut menyelimuti tubuhnya.

Tidak ada borgol.

Tidak ada senjata diarahkan kepada mereka.

Hanya penjagaan.

Prof. Wen berdiri di samping tempat tidur.

Ia memandang Jatmika yang masih belum sadar.

“Jatmika... apa sebenarnya yang kau lihat?”

Di luar ruangan, Seraphion berdiri bersama Aurex dan Rhaegor.

Rhaegor masih memandangi keris milik Jatmika.

“Jika benar itu keris Raja Isidore... siapa sebenarnya manusia itu?”

Seraphion menatap pintu kamar.

“Pertanyaan yang lebih penting bukan siapa dia.”

Ia berhenti.

“Melainkan mengapa sejarah Mythopia memilih untuk memperlihatkan dirinya kepada Jatmika.”

Aurex menatap langit Valtherion.

Tiga bulan bersinar di antara awan.

“Dan jika Chronarion memang masih ada...”

Tangannya mengepal.

“...maka perang yang kami kira telah berakhir seribu tahun lalu mungkin sebenarnya belum pernah selesai.”
Chapter 105 Jatmika pingsan 
Hampir dua jam telah berlalu sejak Jatmika jatuh tak sadarkan diri.

Ia masih terbaring di atas tempat tidur kristal putih di ruang pemulihan Valtherion. Cahaya lembut terus menyelimuti tubuhnya, sementara para penjaga sesekali memeriksa kondisinya dari luar ruangan.

Prof. Wen Shuyuan berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan wajah Jatmika yang belum juga menunjukkan tanda-tanda sadar.

Michael melihat jam pada perangkat di tangannya.

“Sudah hampir dua jam.”

Sergei Volkov menoleh.

“Masih belum sadar?”

Michael menggeleng.

“Kondisinya stabil. Tapi kita tidak tahu kapan dia akan bangun.”

Ia kemudian memandang Alexander dan Sergei.

“Kita harus memanggil tim kedua untuk datang kemari.”

Sergei mengangguk.

“Ya. Setidaknya mereka harus tahu bahwa kita berhasil melakukan kontak dengan planet Valtherion.”

Alexander memandang sekeliling ruangan.

“Dan mungkin mereka juga perlu tahu bahwa penduduk planet ini tidak berniat menyerang kita.”

Prof. Wen mengangguk.

Namun kemudian ia teringat sesuatu.

“Kita harus kembali ke titik teleportasi.”

Ia berjalan keluar dari ruangan dan mendekati salah seorang penjaga Valtherion.

“Permisi,” ujar Wen dengan sopan. “Kami perlu kembali sebentar ke tempat kami datang. Teman-teman kami di sana masih menunggu kabar.”

Penjaga itu menoleh kepada Rhaegor Valtis.

Rhaegor berdiri beberapa langkah dari mereka dengan tombak kristal petir di tangannya.

Setelah mendengar permintaan Wen, ia mengangguk.

“Aku akan mengawal kalian.”

Wen sedikit membungkuk.

“Terima kasih.”

Rhaegor kemudian membawa mereka menuju sebuah kendaraan terbang berwarna perak.

Pesawat Valtherion itu tampak jauh lebih kecil daripada jet NASA, tetapi bentuknya sangat berbeda. Tidak terlihat kokpit dengan deretan tuas dan tombol seperti pada pesawat bumi. Bagian dalamnya justru menyerupai ruangan dengan beberapa panel kristal bercahaya.

Alexander masuk terlebih dahulu.

Ia melihat ke depan.

Kemudian ke kanan.

Lalu ke kiri.

Wajahnya mulai kebingungan.

“Sebentar.”

Ia menyentuh beberapa permukaan panel.

“Di mana tuas kendalinya?”

Rhaegor menatapnya.

“Tuasp?”

Alexander menunjuk ke depan.

“Ya. Untuk menerbangkan pesawat.”

Rhaegor justru terlihat heran.

“Tidak diperlukan.”

Alexander mengerutkan kening.

“Tidak diperlukan?”

Rhaegor menunjuk sebuah panel kristal.

“Masukkan tujuan. Pesawat akan melakukan sisanya.”

Alexander terdiam.

“Jadi... tidak ada setir?”

“Tidak.”

“Tidak ada pedal?”

“Tidak.”

Alexander menatap Sergei.

“Pesawat ini bahkan lebih pintar daripada saya.”

Sergei tertawa kecil.

“Untuk pertama kalinya saya setuju denganmu.”

Rhaegor menyentuh panel kristal.

Sebuah peta tiga dimensi langsung muncul di udara.

Ia memasukkan koordinat titik teleportasi kuno.

Dalam sekejap, pesawat bergerak.

WUSSH!

Alexander spontan memegang kursi.

“Wah!”

Pesawat melesat melewati kota kristal.

Menara-menara bercahaya berubah menjadi garis-garis cahaya di belakang mereka. Mereka melaju melewati lembah, hutan, dan air terjun yang sebelumnya mereka lihat dari udara.

Kecepatannya jauh melampaui jet NASA.

Alexander hanya bisa menatap layar.

“Teknologi mereka luar biasa.”

Prof. Wen mengamati pemandangan di luar jendela.

“Mungkin bagi mereka, perjalanan antarkota sudah tidak membutuhkan pilot seperti yang kita kenal.”

Tidak lama kemudian, pesawat memasuki kawasan hutan tempat gua teleportasi kuno berada.

Pesawat turun perlahan di depan mulut gua.

Rhaegor mematikan sistem penerbangan.

Mereka semua turun.

Di dalam gua, dinding-dinding batu kuno masih dipenuhi simbol yang telah berusia ribuan tahun.

Prof. Wen berjalan menuju pusat ruangan.

Ia memandang tempat di mana mereka sebelumnya muncul.

“Di sinilah kita datang.”

Rhaegor berdiri beberapa meter di belakang mereka.

“Jadi inilah pintu yang menghubungkan dunia kalian dengan Valtherion.”

Wen mengangguk.

“Ya.”

Ia kemudian mengaktifkan perangkat komunikasi.

“Tim kedua, jika kalian menerima pesan ini, bersiaplah. Kami telah berhasil melakukan kontak dengan penghuni Valtherion.”

Tidak ada jawaban.

Namun tiba-tiba—

ZZZZTTT!

Cahaya keemasan muncul dari pusat ruangan.

Lingkaran teleportasi kuno mulai menyala.

Cahaya merah dan emas berputar di udara, kemudian membentuk pusaran yang semakin terang.

Alexander mundur selangkah.

“Sepertinya perjalanan pulang sudah siap.”

Sergei melihat ke arah Rhaegor.

“Terima kasih telah mengantar kami.”

Rhaegor mengangguk.

“Pergilah.”

Ia memandang mereka satu per satu.

“Namun kembalilah bersama teman kalian.”

Wen menatapnya.

“Kami akan kembali.”

Rhaegor kemudian memandang ke arah keris yang masih tergantung di pinggang salah seorang dari mereka.

Tatapannya berubah serius.

“Dan jagalah senjata itu.”

Wen mengangguk.

Mereka semua berdiri di tengah lingkaran cahaya.

Dalam hitungan detik, cahaya teleportasi menyelimuti tubuh mereka.

WHOOOM!

Seketika tubuh mereka menghilang dari dalam gua.

Cahaya padam.

Hanya suara angin hutan yang tersisa.

Rhaegor berdiri sendirian.

Ia menatap tempat mereka menghilang.

“Manusia dari Bumi...”

Tangannya menggenggam tombak kristalnya lebih erat.

“Jika kalian benar-benar keturunan dari warisan Isidore...”

Ia menatap langit Valtherion.

“...maka kedatangan kalian mungkin akan mengubah sejarah planet ini untuk kedua kalinya.”

Chapter 106 Kembali ke Bumi
Ruang teleportasi di fasilitas PT Sinar Ultraviolet masih dalam keadaan siaga ketika suara Ny. Tien terdengar dari pengeras suara.

“Navigasi terhubung. Empat individu terdeteksi dalam jalur kepulangan. Tujuan: Bumi.”

John yang sedang memeriksa peralatan segera menoleh.

“Empat?”

Ia menghitung kembali nama-nama anggota tim pertama.

“Loh, kok cuma empat? Kurang satu.”

Pak Toni yang berdiri di dekat panel utama ikut menatap indikator.

“Apakah terjadi sesuatu?”

Ny. Tien menjawab dengan suara yang tetap tenang.

“Identitas empat individu telah terkonfirmasi. Identitas individu kelima tidak terdeteksi pada jalur teleportasi.”

Ruangan seketika menjadi lebih sunyi.

John menatap pintu ruang teleportasi.

“Jatmika.”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Toni langsung mengambil keputusan.

“Tim kedua, bersiap.”

Rizky Mandang, Edward, dan Dr. Aleksandr Petrov segera bergerak menuju ruang persiapan.

Joesoef, Irina Sokolova, John, dan Victor Aleksandrovich Morozov juga mengambil perlengkapan masing-masing.

Mereka belum tahu apa yang terjadi di Valtherion.

Tetapi satu hal sudah jelas.

Jika seseorang tertinggal di planet lain, misi pertama mereka bukan lagi eksplorasi.

Itu adalah penjemputan.

Kemudian artefak lampu teleportasi mulai bergetar.

Cahayanya menyala merah.

Lalu berubah menjadi emas.

Petir menyambar dari langit-langit ruang teleportasi dan menghilang ke dalam lingkaran energi.

BRAKKK!

Empat sosok muncul.

Prof. Wen Shuyuan.

Alexander Nathaniel Sterling.

Sergei Volkov.

Michael.

Tidak ada Jatmika.

Tidak ada jet NASA.

John berlari mendekat.

“Michael!”

Michael mengangkat tangannya.

“Tenang. Misi berlangsung dengan sukses.”

Pak Toni segera menghampiri mereka.

“Di mana Jatmika?”

Sebelum Michael menjawab, Sergei tersenyum lebar.

“Kami berhasil.”

Pak Toni mengerutkan kening.

“Berhasil apa?”

“Kami melakukan kontak dengan penghuni Valtherion.”

Beberapa orang di ruangan itu terdiam.

Sergei mengoreksi dirinya sendiri.

“Dengan makhluk yang selama ini kita sebut alien.”

John menatapnya.

“Jadi benar-benar ada?”

Sergei mengangguk.

“Ada.”

Michael menambahkan,

“Dan mereka bukan makhluk liar atau spesies primitif. Mereka memiliki peradaban, teknologi, sejarah, dan sistem sosial yang sangat maju.”

Pak Toni kembali pada pertanyaan awal.

“Kalau begitu, kemana Jatmika?”

Michael terdiam sejenak.

“Jatmika tidak ikut kembali.”

John langsung mendekat.

“Kenapa?”

Michael menarik napas.

“Karena dia melanggar protokol keselamatan.”

John menatapnya dengan cemas.

“Maksudmu... dia melakukan kontak fisik dengan mereka?”

Michael mengangguk.

“Ya.”

John memandang Wen.

“Dia bersalaman dengan mereka?”

Prof. Wen Shuyuan mengangguk perlahan.

“Tapi ada sesuatu yang perlu kalian pahami.”

Ia memandang seluruh anggota tim.

“Mereka bukan alien seperti yang kita bayangkan.”

John mengerutkan dahi.

“Maksudnya?”

“Mereka sangat mirip manusia.”

Wen berhenti sejenak.

“Namun kemiripan bentuk tidak berarti kesamaan biologis. Karena itu, protokol tetap melarang kontak fisik.”

Pak Toni semakin khawatir.

“Lalu apa yang terjadi kepada Jatmika?”

Alexander menjawab,

“Setelah berjabat tangan dengan salah seorang dari mereka, Jatmika tiba-tiba diam.”

“Diam?”

“Seperti kehilangan kesadaran terhadap lingkungan di sekitarnya.”

Alexander menatap tangannya sendiri, seolah masih mencoba memahami apa yang telah dilihatnya.

“Kemudian dia mengatakan beberapa hal yang aneh.”

“Apa yang dia katakan?” tanya John.

Alexander mengingat kembali kejadian itu.

“Dia menyebut Isidore.”

Semua orang terdiam.

Alexander melanjutkan,

“Lalu dia menyebut Chronarion.”

Pak Toni menatap Wen.

Wen mengangguk.

“Dan setelah itu dia pingsan.”

John memandang ke arah artefak teleportasi.

“Jadi sekarang Jatmika masih di Valtherion?”

“Ya,” jawab Michael.

Pak Toni mengepalkan tangannya.

“Kalau begitu kita jemput dia.”

Ny. Tien tiba-tiba berbicara dari pengeras suara.

“Informasi tambahan.”

Semua orang menoleh ke arah panel.

“Jatmika berada dalam kondisi biologis stabil berdasarkan data yang dikirimkan dari jaringan komunikasi Valtherion.”

John mengembuskan napas lega.

“Syukurlah.”

Namun Ny. Tien melanjutkan,

“Tidak terdapat data yang cukup untuk menjelaskan penyebab hilangnya kesadaran Jatmika.”

Wen menatap layar.

“Dan itu yang paling mengkhawatirkan.”

Sergei bertanya,

“Kenapa?”

Wen menjawab perlahan,

“Karena mungkin Jatmika tidak sekadar melihat sesuatu.”

Ia menatap empat orang yang baru kembali dari Valtherion.

“Mungkin sesuatu telah melihat kembali melalui dirinya.”

Chapter 107 Briefing sebelum misi penjemputan 
Sebelum tim kedua memasuki ruang teleportasi, Prof. Wen Shuyuan meminta semua orang berhenti sejenak.

“Ada sedikit informasi yang perlu kalian ketahui sebelum berangkat.”

John yang sudah mengenakan perlengkapan misi menoleh.

“Informasi apa?”

Wen menarik napas.

“Sebelum kita kembali, saya sempat berbicara dengan Seraphion Kael. Dia bukan hanya penjaga Arsip Bintang. Dia juga menguasai berbagai bahasa dan memiliki pengetahuan yang sangat luas mengenai sejarah Bumi.”

Pak Toni mengangguk.

“Lalu apa yang perlu kita ketahui?”

Wen membuka data yang telah dicatatnya.

“Valtherion memiliki lima pengawas utama yang berkaitan langsung dengan Kuil Valtherion dan peninggalan Raja Isidore.”

Ia kemudian menjelaskan satu per satu.

“Pertama, Aurex Valther.”

Wen menunjukkan catatannya.

“Dia adalah pemimpin para pengawas sekaligus penjaga Segel Langit Isidore. Kemampuannya sangat berkaitan dengan energi teleportasi kuno. Dia mampu membaca jejak energi yang ditinggalkan oleh jaringan teleportasi.”

Rizky memperhatikan dengan serius.

“Jadi dia bisa mengetahui dari mana seseorang datang?”

“Kurang lebih seperti itu,” jawab Wen.

Ia melanjutkan.

“Kedua, Rhaegor Valtis. Dia adalah pengawas gerbang antarplanet. Tugasnya memastikan tidak ada penyusup yang memasuki wilayah suci Valtherion. Senjatanya adalah tombak kristal petir.”

John mengangguk.

“Dia yang mengawal kalian kembali ke gua teleportasi?”

“Benar.”

Wen kemudian melanjutkan.

“Ketiga, Seraphion Kael.”

Nada suara Wen berubah sedikit lebih serius.

“Dia adalah penjaga Arsip Bintang. Menurutnya, dia mengetahui ribuan tahun sejarah Valtherion dan Mythopia. Dia sangat bijaksana, tetapi sulit mempercayai orang asing.”

Pak Toni menyela,

“Termasuk manusia?”

“Terutama manusia,” jawab Wen.

Beberapa orang terdiam.

Wen kemudian melanjutkan.

“Keempat, Tharion Velas. Dia adalah pengawas Hutan Suci Tiga Bulan. Kemampuannya sangat berbeda dari yang lain. Dia dapat berkomunikasi dengan makhluk-makhluk penjaga planet. Selain itu, matanya mampu melihat jejak energi teleportasi.”

Irina Sokolova mengangkat alis.

“Berarti dia bisa melacak seseorang hanya dari sisa energi teleportasinya?”

“Ya.”

Wen menutup catatan sebentar sebelum melanjutkan.

“Dan yang terakhir, Eldric Solvar.”

Ia kembali melihat layar.

“Dia adalah penjaga Ruang Takhta Raja Isidore. Tugasnya melindungi artefak-artefak kerajaan. Dia juga ahli menggunakan pedang dan keris cahaya Valtherion.”

Victor Morozov bersedekap.

“Lima orang ini terdengar seperti bukan sekadar penjaga.”

Wen mengangguk.

“Memang bukan. Mereka tampaknya merupakan bagian penting dari sistem pertahanan dan pengetahuan Valtherion.”

John melihat ke arah portal.

“Dan Jatmika sekarang berada di planet yang dijaga orang-orang seperti mereka.”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Toni akhirnya berbicara.

“Baiklah.”

Ia memandang seluruh anggota tim kedua.

“Kita tidak datang untuk berperang. Kita datang untuk menjemput Jatmika.”

Kemudian ia menatap Wen.

“Kau tetap menjadi penghubung komunikasi.”

Wen mengangguk.

Pak Toni melanjutkan,

“Jangan membuat gerakan yang bisa dianggap sebagai ancaman. Kita sudah berhasil mendapatkan kepercayaan awal mereka. Jangan sampai misi kedua menghancurkannya.”

Rizky memeriksa perlengkapannya.

“Kalau begitu, kita berangkat.”

John berdiri di sampingnya.

“Tim dua siap.”

Ny. Tien segera mengaktifkan sistem navigasi.

“Koordinat Valtherion telah dikunci.”

Artefak lampu teleportasi mulai bergetar.

Cahaya merah muncul dari permukaannya.

Kemudian perlahan berubah menjadi emas.

Suara listrik memenuhi ruangan.

ZZZZTTT...

Pak Toni melihat semua anggota tim untuk terakhir kalinya.

“Bawa Jatmika pulang.”

Cahaya semakin terang.

Kemudian—

BRAKKK!

Petir menyambar di sekitar ruang teleportasi.

Tubuh seluruh anggota Tim 2 menghilang ke dalam cahaya.

Tujuan mereka hanya satu.

Valtherion.

Namun mereka belum mengetahui bahwa kedatangan mereka kali ini akan membawa mereka semakin dekat kepada rahasia yang telah disembunyikan selama seribu tahun.

Chapter 108 Kelompok Kedua — Tim Pendukung

Tim kedua akhirnya diberangkatkan.

Rizky Mandang, Edward, dan Dr. Aleksandr Petrov memiliki dua tujuan. Pertama, menjemput Jatmika yang sebelumnya jatuh tak sadarkan diri. Kedua, melanjutkan hubungan diplomatik yang telah dimulai oleh kelompok pertama.

Ketiganya berdiri di dalam ruang teleportasi.

Ny. Tien telah mengunci koordinat Valtherion.

Cahaya merah muncul dari artefak lampu, kemudian perlahan berubah menjadi emas. Udara di dalam ruangan bergetar. Petir menyambar di antara dinding-dinding fasilitas.

Dalam satu kilatan cahaya, ketiganya menghilang.

---

Mereka muncul di sebuah ruangan yang berbeda dari ruang teleportasi di Bumi.

Udara Valtherion terasa dingin.

Cahaya kebiruan berasal dari kristal-kristal yang tertanam di dinding.

Di hadapan mereka telah menunggu seorang penjaga.

Rhaegor Valtis.

Tombak kristal petir berada di tangannya.

Begitu melihat tiga manusia tersebut, ia tidak mengangkat senjatanya. Ia hanya mengamati.

Rizky segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa mereka tidak membawa niat bermusuhan.

“Saya Rizky Mandang.”

Ia menunjuk Edward dan Aleksandr.

“Ini Edward, dan ini Dr. Aleksandr Petrov. Kami datang dari Bumi.”

Rhaegor memperhatikan mereka.

“Tujuan kalian?”

Rizky menjawab dengan tenang.

“Kami datang untuk bertemu dengan Jatmika. Kami mendapat kabar bahwa dia berada di sini dan sebelumnya kehilangan kesadaran.”

Rhaegor belum sempat menjawab ketika kristal komunikasi di tombaknya menyala.

Sebuah suara terdengar.

“Jatmika telah sadar.”

Rhaegor menatap ketiga manusia itu.

“Teman kalian sudah sadar. Kalian bisa ikut kami.”

Edward mengembuskan napas lega.

“Syukurlah.”

Rhaegor kemudian mengarahkan mereka menuju sebuah pesawat perak.

Mereka naik.

Tidak ada suara mesin seperti yang biasa terdengar pada pesawat Bumi.

Hanya dengungan rendah yang hampir tidak terdengar.

Rhaegor menyentuh sebuah kristal.

Dalam sekejap, pesawat bergerak.

WUSSH!

Pemandangan di luar jendela berubah menjadi garis-garis cahaya.

Edward berpegangan pada kursinya.

“Kecepatannya luar biasa.”

Aleksandr justru memperhatikan panel kendali.

“Tidak ada sistem kendali mekanis.”

Rhaegor menjawab,

“Pesawat membaca kehendak penggunanya.”

Aleksandr mengerutkan kening.

“Jadi tidak ada pilot?”

“Ada. Hanya saja pilot tidak perlu mengendalikan setiap gerakan.”

Jawaban itu membuat Aleksandr semakin tertarik.

Sebagai seorang ahli sistem teknologi, ia segera memahami implikasinya.

Sebuah kendaraan yang tidak membutuhkan kendali mekanis berarti sistem navigasinya harus mampu menerjemahkan perintah manusia menjadi gerakan secara langsung.

Tetapi bagaimana teknologi itu membaca kehendak?

Pertanyaan itu belum sempat ia ajukan.

Pesawat telah tiba.

---

Mereka turun di sebuah kompleks kristal yang dikelilingi taman bercahaya.

Di depan mereka muncul seorang wanita.

Wajahnya sangat indah. Rambutnya bergerak perlahan meskipun hampir tidak ada angin.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Kakinya tidak menyentuh tanah.

Tubuhnya melayang beberapa sentimeter di atas permukaan kristal.

Rizky menatapnya.

Edward juga terdiam.

Rhaegor berkata,

“Jangan khawatir. Dia bukan makhluk hidup.”

Wanita itu tersenyum.

“Selamat datang.”

Suaranya terdengar lembut dan hampir sempurna.

“Dia adalah pelayan robot yang menjaga fasilitas ini,” jelas Rhaegor.

Aleksandr mendekatinya sedikit.

“Robot?”

“Ya.”

Aleksandr memperhatikan gerakannya.

Tidak terlihat roda.

Tidak terlihat mesin pendorong.

Namun robot tersebut dapat bergerak seolah gravitasi tidak berlaku baginya.

“Teknologi yang menarik,” gumamnya.

Robot itu berbalik.

“Silakan ikuti saya.”

Mereka berjalan mengikuti pelayan tersebut melewati lorong panjang.

Dinding kristal memancarkan cahaya yang berubah perlahan sesuai dengan langkah mereka.

Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan.

Pintu terbuka.

Dan di dalamnya—

Jatmika sedang duduk.

Ia memegang sebuah buah berwarna keemasan.

Rizky langsung tersenyum lega.

“Jatmika!”

Jatmika menoleh.

“Oh, kalian sudah datang.”

Edward segera menghampirinya.

“Kami sangat khawatir.”

Jatmika menggigit buah itu sekali lagi.

Rasanya manis dan segar.

Sejak memakannya, tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Rasa lelah yang sebelumnya memenuhi tubuhnya seperti menghilang sedikit demi sedikit.

Rizky memperhatikannya.

“Bagaimana keadaanmu?”

Jatmika mengangkat jempol.

“Sudah membaik. Aku merasa sehat.”

Edward tersenyum.

“Syukurlah. Kami semua sangat khawatir kalau kamu sakit.”

Aleksandr melihat sekeliling ruangan.

Dindingnya terbuat dari kristal transparan. Cahaya mengalir di dalamnya seperti aliran listrik yang tidak pernah berhenti.

Ia kemudian melihat ke luar jendela.

Di kejauhan tampak kota Valtherion.

Menara-menara kristal menjulang di antara awan.

“Luar biasa,” katanya.

Ia menoleh kepada Jatmika.

“Tempat ini benar-benar seperti gabungan antara peradaban kuno dan teknologi yang bahkan belum pernah kita bayangkan.”

Jatmika tersenyum.

“Dan kita baru melihat sebagian kecilnya.”

Rizky bertanya,

“Kamu sudah berkeliling?”

Jatmika menggeleng.

“Belum banyak. Aku lebih banyak berada di ruangan ini.”

Ia berdiri.

Kemudian memandang ketiga rekannya.

“Kalau begitu, ayo kita berkeliling.”

Edward tertawa.

“Baru sadar, langsung jalan-jalan?”

Jatmika tersenyum.

“Kita datang ke planet lain. Sayang kalau hanya melihat satu ruangan.”

Aleksandr mengangguk.

“Setuju.”

Mereka kemudian meninggalkan ruang perawatan.

Di luar, kota kristal Valtherion terbentang di hadapan mereka.

Dan untuk pertama kalinya, Tim Kedua tidak lagi melihat Valtherion sebagai sebuah planet asing.

Mereka mulai melihatnya sebagai sebuah peradaban.

Sebuah peradaban yang mungkin memiliki jawaban atas pertanyaan yang selama ini hanya mampu mereka ajukan kepada artefak-artefak kuno.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Mythopia seribu tahun yang lalu?
Chapter 109 Robot wanita itu menunggu di depan pintu.

Wajahnya menyerupai manusia, tetapi gerakannya terlalu sempurna untuk disebut manusia. Tidak ada suara langkah ketika ia bergerak. Tubuhnya melayang beberapa sentimeter di atas lantai kristal, seolah gravitasi di tempat itu hanyalah sebuah aturan yang boleh dipatuhi atau diabaikan.

“Apakah Anda sudah merasa cukup sehat untuk berjalan?” tanyanya kepada Jatmika.

Jatmika mengangguk.

“Tubuh saya sudah terasa segar kembali. Saya ingin melihat kota ini.”

Robot itu menoleh kepada perawat Valtherion yang berada di dekat pintu.

Perawat tersebut memeriksa kondisi Jatmika melalui kristal kecil di tangannya.

“Tidak ada gangguan pada fungsi tubuhnya. Silakan.”

Jatmika kemudian berdiri.

Rizky, Edward, dan Dr. Aleksandr Petrov sudah menunggunya.

Namun ketika mereka mulai berjalan, Jatmika menyadari bahwa mereka tidak benar-benar sendirian.

Beberapa pengawal Valtherion mengikuti dari belakang.

Mereka tidak mengarahkan senjata kepada rombongan manusia. Mereka hanya menjaga jarak.

Jatmika memahami alasannya.

Mereka masih tamu.

Tetapi mereka juga masih merupakan sesuatu yang belum sepenuhnya dikenal.

Robot wanita itu mengangkat tangannya.

“Silakan ikuti saya. Saya akan memperlihatkan beberapa bagian penting dari kota kristal.”

Mereka berjalan melewati koridor.

Semakin jauh mereka melangkah, semakin sulit bagi Jatmika membedakan mana bagian bangunan yang merupakan teknologi dan mana yang merupakan arsitektur.

Kristal menjadi dinding.

Kristal menjadi jembatan.

Kristal menjadi sumber cahaya.

Bahkan beberapa permukaan kristal tampak menyimpan informasi yang berubah ketika seseorang mendekatinya.

Edward sibuk mengambil gambar.

Rizky mencatat beberapa bentuk bangunan.

Aleksandr justru lebih banyak mengamati sistem energi yang mengalir di dalam dinding.

“Semua bangunan ini menggunakan kristal?” tanyanya.

Robot itu menjawab,

“Tidak seluruhnya. Kristal berfungsi sebagai struktur, media penyimpanan informasi, dan penghantar energi.”

Aleksandr berhenti sejenak.

“Jadi satu material memiliki beberapa fungsi?”

“Benar.”

Ia tersenyum kecil.

“Menarik.”

Mereka kemudian tiba di sebuah ruangan besar.

Di dinding bagian depan terdapat relief yang menggambarkan manusia berdiri di hadapan sebuah lingkaran cahaya.

Di bawahnya terdapat tulisan kuno.

Robot itu berdiri di tengah ruangan.

“Ini adalah ruang sejarah.”

Lampu-lampu di langit-langit meredup.

Sebuah peta tiga dimensi muncul di udara.

Planet Valtherion terlihat sebagai bola bercahaya.

Kemudian sebuah garis energi muncul dari Valtherion menuju sebuah planet lain.

Bumi.

Jatmika mendekat.

“Bumi?”

Robot itu mengangguk.

“Ya.”

Ia menunjuk peta tersebut.

“Kota kristal ini dibangun oleh leluhur bangsa Valtherion. Mereka adalah kerabat jauh Raja Isidore.”

Jatmika terdiam.

Kata-kata itu memiliki arti yang berbeda baginya sekarang.

Ia pernah melihat Isidore dalam penglihatannya.

Ia juga membawa keris yang dipercaya berasal dari raja tersebut.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya, seseorang dari Valtherion mengatakan bahwa Isidore memiliki hubungan darah dengan planet ini.

Robot melanjutkan penjelasannya.

“Leluhur Raja Isidore berasal dari Valtherion. Mereka adalah penduduk asli planet ini sebelum perang besar antargalaksi terjadi.”

Rizky bertanya,

“Kalau begitu, bagaimana mereka bisa sampai ke Bumi?”

“Perpindahan terjadi setelah perang dimulai.”

Sebuah gambaran baru muncul.

Sekelompok penduduk Valtherion memasuki sebuah lingkaran cahaya.

Mereka menghilang.

Kemudian muncul di sebuah planet berwarna biru.

Bumi.

“Raja Itharius,” lanjut robot itu, “ayah Raja Isidore, kemudian menyempurnakan sistem teleportasi kuno yang telah dikembangkan oleh para leluhurnya.”

Gambaran holografis berubah.

Jaringan cahaya menghubungkan planet-planet.

Bukan hanya satu atau dua.

Ratusan titik muncul di seluruh peta.

“Tujuannya adalah menciptakan sistem transportasi yang dapat menghubungkan berbagai dunia dan galaksi.”

Jatmika menatap jaringan tersebut.

“Jadi teleportasi bukan hanya untuk berpindah tempat.”

Robot itu menoleh kepadanya.

“Benar.”

“Lalu apa yang terjadi?”

Cahaya pada peta tiba-tiba berubah.

Beberapa titik menghilang.

Kemudian semakin banyak.

Robot itu menjawab,

“Perang antargalaksi.”

Ruangan menjadi hening.

“Setelah perang pecah, kemampuan teleportasi alami bangsa Valtherion menghilang.”

Aleksandr mengerutkan kening.

“Alami?”

Robot mengangguk.

“Pada masa lalu, penduduk Valtherion tidak sepenuhnya bergantung pada mesin. Mereka memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan energi teleportasi secara langsung.”

Jatmika menatap tangannya sendiri.

“Dan sekarang kemampuan itu sudah tidak ada?”

“Sudah hilang.”

Robot menampilkan gambar beberapa bangsa Valtherion.

Kemampuan mereka terlihat seperti cahaya yang keluar dari tubuh.

Kemudian cahaya itu perlahan meredup.

“Menurut catatan sejarah kami, bangsa Chronarion mengubah kemampuan berbagai bangsa selama perang. Kemampuan yang dahulu menjadi kekuatan utama setiap bangsa dibuat semakin lemah.”

Edward berhenti mencatat.

“Jadi Chronarion bukan hanya menghancurkan kerajaan.”

Robot itu mengangguk.

“Mereka mengubah kemampuan yang membuat setiap bangsa menjadi dirinya sendiri.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Jatmika menatap peta tua tersebut.

Jika sejarah itu benar, maka perang tidak hanya meninggalkan reruntuhan.

Perang telah mengubah siapa yang hidup di dunia ini.

Robot kemudian menampilkan jaringan teleportasi kuno.

“Kami masih tidak memahami bagaimana penduduk Bumi dapat mengaktifkan sistem teleportasi kuno.”

Ia menatap Jatmika.

“Kemampuan tersebut telah hilang dari bangsa kami selama ribuan tahun.”

Jatmika terdiam.

Rizky memandangnya.

Aleksandr juga berhenti mencatat.

Tidak seorang pun mengucapkan apa-apa.

Ada pertanyaan yang sama di kepala mereka.

Mengapa manusia dari Bumi dapat menggunakan teknologi yang bahkan pemilik aslinya sendiri sudah tidak mampu menggunakannya?

Robot itu akhirnya berkata,

“Kami takjub bahwa penduduk Bumi berhasil menghidupkan kembali teknologi tersebut.”

Jatmika memandang relief Raja Isidore.

Ia tidak tahu apakah dirinya sedang melihat sejarah.

Atau sedang melihat awal dari sebuah hubungan yang sebenarnya telah dimulai ribuan tahun sebelumnya.

---

Setelah keluar dari ruang sejarah, mereka memasuki ruangan berikutnya.

Pintu kristal terbuka tanpa suara.

Di baliknya terdapat sebuah ruang pertemuan yang sangat luas.

Jatmika berhenti.

Ruangan itu jauh lebih futuristik daripada bagian kota lainnya.

Meja berbentuk lingkaran berada di tengah. Setiap kursi memiliki panel kristal pribadi. Lampu-lampu kristal menggantung di udara tanpa kabel. Pada dinding terdapat ornamen geometris yang tampak sederhana dari kejauhan, tetapi jika diperhatikan lebih dekat, setiap pola ternyata membentuk simbol tertentu.

Jatmika berjalan perlahan.

“Ini ruang rapat?”

Robot mengangguk.

“Tempat para pemimpin Valtherion mengambil keputusan penting.”

Rizky langsung mengeluarkan perangkat dokumentasinya.

Edward memotret dari berbagai sudut.

Aleksandr memeriksa struktur meja dan sistem proyeksi.

Mereka tidak lagi hanya melihat sebuah kota.

Mereka sedang melihat cara sebuah peradaban berpikir.

Jatmika berdiri di tengah ruangan.

Cahaya kristal jatuh lembut di atas meja.

Untuk sesaat ia membayangkan para pemimpin Valtherion duduk di tempat itu ribuan tahun lalu, ketika perang belum menghancurkan dunia mereka.

Kemudian ia teringat penglihatan yang muncul ketika berjabat tangan dengan Seraphion.

Zhar'Kor.

Nyxar.

Kragmora.

Sylthar.

Chronarion.

Semuanya pernah menjadi bagian dari sejarah yang sama.

Dan kini manusia datang kembali ke planet ini melalui pintu yang dibuat oleh leluhur mereka.

Jatmika menatap jaringan cahaya di dinding.

Mungkin perjalanan mereka ke Valtherion bukanlah penemuan sebuah dunia baru.

Mungkin mereka sedang menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang dari sejarah manusia.
Chapter 110 Ruangan operasional 
Robot wanita itu kembali melayang di depan rombongan.

“Jika kalian ingin memahami bagaimana kota ini bekerja, ada satu tempat yang sebaiknya kalian lihat.”

Jatmika mengangguk.

“Di mana?”

“Ruangan operasional.”

Mereka mengikutinya melewati koridor panjang.

Beberapa pengawal Valtherion tetap berjalan di belakang mereka, menjaga jarak tanpa mengganggu.

Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besar.

Robot itu mendekat.

Sebuah sinar merah menyapu tubuhnya dari kepala hingga bagian bawah.

Bip.

Pintu terbuka.

Apa yang terlihat di baliknya membuat Jatmika dan ketiga rekannya terdiam.

Ruangan itu sangat luas.

Puluhan, mungkin ratusan orang bekerja di dalamnya.

Namun tidak ada meja yang dipenuhi komputer.

Tidak ada papan ketik.

Tidak ada kabel listrik yang menjulur di lantai.

Setiap orang hanya menggunakan suara dan gerakan tangan.

“Buka jaringan transportasi sektor tujuh.”

Sebuah peta tiga dimensi muncul di udara.

“Alihkan energi ke distrik timur.”

Cahaya pada sebuah panel holografis berubah.

Seorang operator menggerakkan tangannya di udara. Beberapa simbol mengikuti gerakannya seperti benda yang memiliki massa.

Yang lain hanya mengucapkan beberapa kata, dan seluruh sistem merespons.

Rizky memandang ke sekeliling.

“Mereka bahkan tidak mengetik.”

Aleksandr Petrov memperhatikan panel-panel hologram dengan mata seorang ilmuwan.

“Antarmukanya tidak membutuhkan perangkat fisik.”

Edward mengangkat alat dokumentasinya.

“Kalau orang di Bumi melihat ini, mereka mungkin mengira kita sedang berada di dalam film fiksi ilmiah.”

Jatmika tidak menjawab.

Perhatiannya tertuju pada lantai.

Di bawah permukaan transparan, terdapat jaringan kristal yang memancarkan cahaya.

Ia mengikuti cahaya itu dengan pandangan.

Tidak ada kabel.

Tidak ada generator konvensional.

Tidak ada baterai besar.

Energi mengalir melalui kristal.

“Jadi ini sumber energinya?” tanya Jatmika.

Robot itu mengangguk.

“Kristal merupakan sumber energi utama fasilitas ini.”

Rizky segera mencatat.

“Berapa lama satu kristal dapat menghasilkan energi?”

Sebelum robot menjawab, terdengar suara dari belakang.

“Pertanyaan yang tepat.”

Aurex Valther memasuki ruangan.

Aura di sekitar tubuhnya memancarkan cahaya samar.

Para pekerja tidak berhenti bekerja. Namun ketika Aurex lewat, beberapa dari mereka menundukkan kepala sebagai tanda hormat.

“Selamat datang di ruangan operasional Valtherion,” katanya.

Jatmika menoleh.

“Suatu kehormatan bagi kami karena diizinkan melihat ruangan ini.”

Aurex tersenyum tipis.

“Kalian datang dari dunia yang telah berhasil menghidupkan kembali teknologi teleportasi yang telah hilang dari planet kami. Kalian berhak melihat bagaimana kami menjaga apa yang tersisa.”

Rizky kemudian memberanikan diri bertanya.

“Apakah kami boleh mempelajari teknologi kristal ini? Setidaknya untuk penelitian di Bumi.”

Aurex menggeleng perlahan.

“Bukan karena kami tidak ingin berbagi.”

Ia menunjuk kristal yang berada di bawah lantai.

“Teknologi ini tidak dapat diterapkan begitu saja di Bumi.”

“Karena teknologinya terlalu sulit?”

“Bukan.”

Aurex memandang Rizky.

“Karena bahan bakunya terbatas.”

Ia menjelaskan bahwa kristal-kristal tersebut terbentuk melalui kondisi alami tertentu di Valtherion. Membuat sistem yang sama di Bumi tanpa sumber kristal tersebut akan menghasilkan teknologi yang tidak efisien.

“Mesin dapat ditiru,” kata Aurex, “tetapi lingkungan yang membuat mesin itu mungkin belum tentu dapat ditiru.”

Aleksandr mengangguk pelan.

Itu adalah persoalan yang familiar bagi seorang ilmuwan: sebuah teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bergantung pada material, energi, dan lingkungan yang memungkinkan teknologi tersebut bekerja.

Tiba-tiba suasana di belakang mereka berubah.

Seraphion Kael datang.

Jubah putihnya bergerak perlahan, dan cahaya lembut tampak menyala di sekitar tubuhnya.

Ia langsung menatap Jatmika.

“Apakah kondisimu sudah lebih baik?”

Jatmika tersenyum.

“Ya. Alhamdulillah, sudah lebih baik.”

Seraphion mengangguk.

Namun wajahnya tidak sepenuhnya tenang.

“Aku ingin menanyakan sesuatu.”

Jatmika menatapnya.

“Apa yang terjadi ketika kamu pingsan?”

Jatmika terdiam.

Ia mengingat kembali peristiwa itu.

“Saat aku bersalaman denganmu...”

Ia berhenti.

“...pandangan saya tiba-tiba menjadi gelap.”

Seraphion tidak berkata apa-apa.

“Setelah itu saya melihat sesuatu.”

“Apa?”

“Saya melihat Bumi.”

Beberapa orang di ruangan tersebut mulai memperhatikan percakapan mereka.

Jatmika melanjutkan.

“Awalnya saya melihat langit.”

Kemudian suaranya menjadi lebih pelan.

“Lalu kapal-kapal besar muncul.”

Ia menggambarkan apa yang dilihatnya.

Kapal-kapal asing memenuhi langit Bumi.

Bayangan raksasa bergerak di antara kota-kota.

Makhluk-makhluk besar turun dari langit.

Kemudian terdengar suara-suara yang tidak ia ketahui berasal dari mana.

Zhar'Kor datang.

Pemandangan berubah.

Nyxar datang.

Kegelapan menutupi langit.

Kemudian—

Kragmora datang.

Tanah bergetar di bawah kaki para manusia.

Pemandangan kembali berubah.

Sylthar datang.

Jatmika melihat sosok-sosok asing berdiri di antara manusia yang ketakutan.

Namun kemudian semuanya menjadi lebih gelap.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Hanya sebuah bayangan yang jauh lebih besar daripada semua yang sebelumnya ia lihat.

“Dan kemudian,” kata Jatmika, “Chronarion muncul.”

Seraphion memejamkan mata.

Jatmika melanjutkan.

“Mereka seperti ancaman terakhir.”

Ruangan operasional yang sebelumnya penuh suara tiba-tiba terasa jauh.

“Aku tidak tahu berapa lama aku melihat semua itu.”

Ia menelan ludah.

“Tapi kemudian aku melihat Raja Isidore.”

Seraphion membuka matanya.

“Di mana?”

“Di tengah pertempuran.”

Jatmika menatap lantai.

“Dia sedang bertarung.”

“Melawan siapa?”

“Aku tidak tahu.”

Jatmika menggeleng.

“Yang kuingat hanya satu.”

“Apa?”

“Isidore berhenti bertarung.”

Seraphion menunggu.

“Dia menoleh.”

Jatmika mengangkat wajahnya.

“Dan dia melihatku.”

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Jatmika melanjutkan,

“Bukan seperti melihat seseorang dari kejauhan.”

Ia menyentuh dadanya.

“Rasanya seperti dia memang sedang menunggu seseorang.”

Seraphion menatap Jatmika cukup lama.

Kemudian ia bertanya dengan suara hampir berbisik,

“Apakah dia mengatakan sesuatu?”

Jatmika mencoba mengingat.

Namun yang muncul hanyalah potongan suara dari penglihatannya.

“Tidak banyak.”

“Apa katanya?”

Jatmika menutup mata.

Kemudian menjawab,

“Warisan itu belum berakhir.”

Seraphion membeku.

Aurex menoleh kepadanya.

Rhaegor yang berada di pintu juga memperhatikan mereka.

Untuk beberapa detik, bahkan sistem operasional Valtherion seolah tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Karena satu kalimat dari seorang manusia Bumi baru saja menghidupkan kembali sesuatu yang telah mereka kubur selama seribu tahun.

Seraphion akhirnya berkata,

“Kalau begitu, yang kau lihat mungkin bukan sekadar masa lalu.”

Jatmika menatapnya.

“Lalu apa?”

Seraphion tidak langsung menjawab.

Ia memandang jaringan kristal yang menyala di bawah lantai.

“Mungkin sebuah peringatan.”

*_^
Namun sebelum percakapan itu berlanjut, mata Seraphion tertuju pada pinggang Jatmika.

Pada keris.

“Itu.”

Jatmika menyentuh gagangnya.

“Ini?”

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Dari sebuah gua teleportasi di Bumi.”

Jatmika menjawab jujur.

“Menurut catatan yang kami miliki, keris itu merupakan milik Raja Isidore.”

Seraphion mendekat.

“Bolehkah aku melihatnya?”

Jatmika melepaskan keris dari pinggangnya dan menyerahkannya.

Seraphion menerimanya dengan kedua tangan.

Ia memejamkan mata.

Cahaya tipis muncul di telapak tangannya.

Kemudian ia mencoba membaca sesuatu dari benda tersebut.

Tidak terjadi apa-apa.

Seraphion membuka mata.

Ia mencoba sekali lagi.

Cahaya di sekelilingnya semakin kuat.

Namun keris itu tetap diam.

Tidak ada gambaran.

Tidak ada suara.

Tidak ada jejak sejarah.

Seraphion mengerutkan kening.

“Aneh.”

Aurex mendekat.

“Apa yang terjadi?”

“Aku tidak dapat membacanya.”

Aurex mengambil keris tersebut.

Ia menggenggam gagangnya.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian—

ZZZTTT!

Keris itu menyala.

Cahaya keemasan memenuhi ruangan.

Jatmika spontan mundur setengah langkah.

“Apa itu?”

Cahaya pada bilah keris semakin terang.

Simbol-simbol kuno muncul di permukaannya, kemudian menghilang kembali sebelum sempat terbaca.

Jatmika menatapnya dengan takjub.

“Aku bahkan tidak tahu keris itu bisa melakukan hal seperti itu.”

Aurex mencoba membaca energi yang muncul.

Namun setelah beberapa saat, cahaya tersebut padam.

Aurex menatap keris itu dengan ekspresi kecewa.

“Tidak.”

Seraphion menatapnya.

“Tidak bisa?”

Aurex menggeleng.

“Energinya sangat tua. Tetapi sejarah yang tersimpan di dalamnya tidak dapat kubaca.”

Ia menyerahkan keris itu kembali kepada Jatmika.

“Kami memiliki kemampuan membaca banyak artefak peninggalan Isidore. Namun benda ini berbeda.”

Jatmika menerima keris tersebut.

“Berbeda bagaimana?”

Aurex menatapnya.

“Seolah-olah ia memilih siapa yang boleh mengetahui ingatannya.”

Ruangan menjadi hening.

Jatmika memandangi keris itu.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa benda yang selama ini dianggapnya hanya sebagai senjata mungkin memiliki fungsi yang bahkan tidak diketahui oleh bangsa yang menciptakannya.

Aurex kemudian berkata,

“Jatmika, aku ingin meminjam keris itu.”

Jatmika menatapnya.

“Untuk mempelajarinya?”

“Ya.”

Jatmika berpikir sejenak.

“Oh, tentu saja boleh.”

Ia kemudian menambahkan,

“Tapi saya punya satu permintaan.”

Aurex menunggu.

“Izinkan kami mengeksplorasi planet ini.”

Jatmika menunjuk Rizky, Edward, dan Aleksandr.

“Kami datang bukan hanya untuk mengambil kembali Jatmika yang sempat pingsan. Kami ingin memahami Valtherion dan membangun hubungan dengan masyarakat kalian.”

Aurex memandang mereka satu per satu.

Akhirnya ia mengangguk.

“Kalian boleh menjelajahi Valtherion.”

Jatmika tersenyum.

“Terima kasih.”

“Tetapi,” lanjut Aurex, “kalian akan selalu ditemani prajurit Valtherion.”

Rizky mengangguk.

“Kami setuju.”

Sementara itu, Rizky melihat jam pada perangkatnya.

Ia terkejut.

“Sudah hampir dua jam.”

Jatmika menoleh.

“Dua jam?”

Rizky mengangguk.

“Kalau kita tidak segera kembali ke titik teleportasi, Tim Ketiga akan kesulitan masuk sesuai jadwal.”

Ia memandang Aurex.

“Kami perlu kembali sebentar. Tim ketiga akan datang bergantian.”

Aurex mengangguk.

“Pergilah.”

Ia menyerahkan kembali keris kepada Jatmika, tetapi tatapannya masih tertuju pada benda itu.

“Bawa keris itu bersamamu.”

Jatmika memasukkannya kembali ke sarung.

“Baik.”

Namun ketika mereka mulai berjalan meninggalkan ruangan, Aurex tetap berdiri di tempatnya.

Ia menatap punggung Jatmika yang semakin jauh.

Ada sesuatu yang tidak ia pahami.

Selama ribuan tahun, banyak artefak Isidore telah melewati tangannya.

Ia mampu membaca energi yang tersimpan di dalamnya.

Ia mampu mengenali jejak teleportasi.

Ia bahkan dapat merasakan sisa-sisa ingatan yang tertinggal pada beberapa benda kuno.

Tetapi keris itu berbeda.

Keris tersebut tidak menolak Aurex.

Ia hanya tidak mengakui dirinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, Aurex mulai mempertanyakan sebuah kemungkinan yang jauh lebih besar:

Mungkin bukan manusia yang menemukan artefak Isidore.

Mungkin artefak itu sendiri yang memilih manusia yang akan menemukannya.

Chapter 111 Tim 3 berangkat 
Suara Ny. Tien terdengar dari ruang kendali.

“Jalur teleportasi aktif. Empat individu terdeteksi dalam perjalanan kembali.”

Pak Toni segera menoleh ke arah artefak lampu.

Cahaya merah muncul dari permukaannya, kemudian berubah menjadi emas yang semakin terang.

ZZZTTT!

Petir menyambar ke segala arah.

Dalam satu kilatan cahaya, tiga sosok muncul dari pusat lingkaran teleportasi.

Rizky Mandang.

Edward.

Dr. Aleksandr Petrov.

Mereka kembali dengan selamat.

Pak Toni segera menghampiri.

“Bagaimana kabar Jatmika?”

Rizky tersenyum.

“Dia sudah jauh lebih baik.”

Edward menambahkan,

“Bahkan dia sudah berjalan-jalan di kota Valtherion.”

Pak Toni menghela napas lega.

“Syukurlah.”

Aleksandr kemudian berkata,

“Ada kabar lain.”

“Apa?”

“Kami mendapat izin dari Aurex Valther untuk mengeksplorasi Valtherion.”

Pak Toni menatapnya.

“Serius?”

Edward mengangguk.

“Ya. Mereka mengizinkan kita menjelajahi planet itu, tentu saja dengan pengawalan.”

Pak Toni berpikir sejenak.

“Kalau begitu, Tim Ketiga sebaiknya segera berangkat.”

Aleksandr mengangguk.

“Jatmika sudah menunggu kita di sana.”

Tidak ada lagi waktu untuk menunda.

Tim Ketiga segera mempersiapkan diri.

Anggotanya terdiri dari:

Joesoef.

Irina Sokolova.

John.

Pak Toni.

Dan Victor Aleksandrovich Morozov.

Ny. Tien mulai mempersiapkan sistem teleportasi.

“Koordinat Valtherion telah dikunci.”

Kelima anggota tim memasuki ruang teleportasi.

John memeriksa perlengkapannya.

Irina memastikan peralatan keselamatan.

Joesoef berdiri tenang tanpa banyak bicara.

Victor memandang artefak lampu dengan rasa ingin tahu.

Sedangkan Pak Toni melihat seluruh anggota tim.

“Tujuan kita bukan mengambil sesuatu dari mereka.”

Ia berhenti sejenak.

“Kita datang untuk mengenal mereka.”

Ny. Tien mulai menghitung mundur.

“Lima.”

Cahaya merah muncul.

“Empat.”

Energi mulai memenuhi ruangan.

“Tiga.”

Petir menyambar di sekitar artefak.

“Dua.”

Cahaya berubah menjadi emas.

“Satu.”

BRAKKK!

Mereka menghilang.

---

Beberapa saat kemudian, cahaya yang sama muncul di ruang teleportasi Valtherion.

Kelima anggota Tim Ketiga muncul dengan selamat.

Jatmika telah menunggu mereka.

“Pak Toni.”

Pak Toni tersenyum.

“Jatmika.”

Mereka saling menghampiri.

Pak Toni segera bertanya,

“Jadi, apakah ada berita terbaru?”

Jatmika mengangguk.

“Ada.”

Ia memandang keris yang tergantung di pinggangnya.

“Kita diberi kebebasan untuk mengeksplorasi planet ini.”

John terlihat senang.

“Serius?”

“Ya.”

Jatmika melanjutkan,

“Tetapi ada satu hal yang masih mereka cari.”

“Apa?”

“Sejarah dari keris Raja Isidore.”

Pak Toni memperhatikan keris tersebut.

“Mereka masih belum bisa membacanya?”

“Belum. Seraphion mencoba. Aurex juga mencoba.”

Jatmika menggeleng.

“Keduanya gagal.”

Victor mendekat.

“Berarti artefak itu menyimpan sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak bisa akses.”

Jatmika mengangguk.

“Mungkin.”

Victor kemudian melihat ke arah kota kristal yang terbentang di kejauhan.

“Semoga kita menemukan sesuatu yang baik di planet ini.”

Jatmika tersenyum.

“Semoga.”

Ia kemudian mengajak mereka berjalan.

“Pesawat kalian sudah disiapkan.”

John menoleh.

“Oleh siapa?”

“Robot penjaga fasilitas.”

Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah landasan.

Sebuah pesawat perak telah menunggu.

Robot wanita yang sebelumnya menjadi pemandu berdiri di sampingnya.

Tubuhnya melayang beberapa sentimeter di atas permukaan landasan.

Ia menundukkan kepala.

“Pesawat siap digunakan.”

Joesoef memandang kendaraan tersebut.

“Tidak ada pilot?”

Jatmika tersenyum.

“Tidak seperti pesawat Bumi.”

Ia menunjuk ke bagian dalam.

“Cukup masukkan tujuan.”

John naik terlebih dahulu.

“Kalau begitu saya ingin melihat apakah teknologi ini benar-benar semudah yang kalian katakan.”

Irina mengikuti.

Pak Toni kemudian masuk bersama Victor dan Joesoef.

Jatmika menjadi orang terakhir yang naik.

Pintu menutup.

Di luar, robot wanita itu berdiri diam.

Kemudian cahaya biru menyala di bawah pesawat.

Pesawat terangkat tanpa suara.

Jatmika melihat kota kristal di balik jendela.

Planet ini memberi mereka sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan akan mereka temukan:

sebuah peradaban yang menganggap perjalanan antargalaksi sebagai bagian dari masa lalu.

Tetapi semakin banyak yang mereka pelajari tentang Valtherion, semakin jelas satu hal.

Mereka tidak sedang menemukan masa depan.

Mereka sedang menemukan teknologi dari masa lalu yang belum dipahami manusia.

Dan mungkin, di balik keris Raja Isidore, tersimpan alasan mengapa teknologi itu pernah hilang.
Chapter 112 Tim 3 tiba di kota kristal 

John memandang keluar melalui jendela pesawat. Hamparan hutan Valtherion terbentang di bawah mereka, begitu luas sehingga batas antara daratan dan langit tampak menghilang. Tiga bulan menggantung jauh di atas cakrawala, sementara cahaya kristal dari kota-kota di kejauhan memantulkan warna kebiruan ke permukaan atmosfer.

“Dengan batas waktu hanya dua jam untuk kembali ke Bumi,” ujar John, “kita tidak akan pernah benar-benar bisa menjelajahi planet ini.”

Jatmika tertawa kecil.

“Bukan kalian yang akan menjelajahi planet ini.”

Ia menoleh kepada mereka dengan senyum yang sulit ditebak.

“Tapi aku sendiri.”

Ia tertawa.

“Hahaha.”

Pak Toni langsung menatapnya.

“Tunggu dulu, Jatmika. Kamu juga punya kewajiban dengan tugasmu di Bumi. Perusahaan tidak bisa berhenti hanya karena kamu menemukan planet baru.”

Jatmika terdiam sejenak.

Ia tahu Pak Toni benar.

Penemuan sebuah planet tidak menghapus tanggung jawab terhadap dunia tempat seseorang dilahirkan. Bahkan teknologi yang mampu membawa manusia melintasi jarak antarbintang tidak mengubah kenyataan sederhana bahwa setiap keputusan tetap memiliki konsekuensi.

Victor justru terlihat semakin bersemangat.

“Aku juga ingin melihat-lihat planet yang indah ini,” katanya. “Kita mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.”

Irina Sokolova, yang sejak tadi memperhatikan pola cahaya di permukaan kota, ikut berbicara.

“Aku penasaran pada satu hal.”

“Apa?” tanya Jatmika.

“Energi.”

Irina menunjuk ke arah kota kristal.

“Bisakah kita memperoleh informasi mengenai teknologi energi yang digunakan Valtherion? Bukan sekadar bagaimana mereka menghasilkan energi, tetapi bagaimana mereka menyimpannya, mendistribusikannya, dan mempertahankan kestabilannya.”

Ia berhenti sejenak.

“Kalau peradaban mereka memang telah menggunakan teknologi seperti itu selama ribuan tahun, mungkin ada prinsip yang belum pernah kita temukan di Bumi.”

Jatmika memandang Irina.

“Itu juga yang ingin aku ketahui.”

Pesawat terus bergerak tanpa suara mesin.

Tidak ada getaran seperti pada pesawat Bumi. Tidak ada suara turbin. Tidak ada bahan bakar yang terbakar.

Hanya gerakan.

Bagi manusia Bumi, penerbangan selalu berarti melawan gravitasi. Di Valtherion, tampaknya gravitasi bukan sesuatu yang harus dilawan, melainkan sesuatu yang dapat dinegosiasikan.

Joesoef tiba-tiba menunjuk ke depan.

“Lihat!”

Semua orang menoleh.

Di balik lembah, sebuah kota muncul perlahan dari balik kabut.

Menara-menara kristal menjulang ke langit. Jembatan transparan menghubungkan bangunan-bangunan yang tampak melayang di antara udara dan daratan. Cahaya berwarna biru, putih, dan keemasan mengalir di dalam struktur kristal seperti darah yang bergerak melalui pembuluh.

“Itu kota kristal,” ujar Joesoef dengan suara hampir berbisik.

Pesawat mereka semakin dekat.

Jatmika tidak mengatakan apa-apa.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin manusia tidak sedang menemukan masa depan.

Mereka sedang menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang.

Dan jika itu benar, maka pertanyaan terbesar bukanlah bagaimana Valtherion membangun kota seperti ini.

Pertanyaan sebenarnya adalah:

Mengapa peradaban yang telah mencapai sejauh ini pernah kehilangan semuanya?

Jatmika menyentuh keris Isidore yang tersimpan di pinggangnya.

Jawabannya mungkin telah menunggu selama ribuan tahun di dalam benda itu.


Chapter 113 Menonton Video 

Pesawat perak itu menurunkan kecepatannya ketika memasuki wilayah kota.

Tidak terdengar suara mesin.

Tidak ada kepulan udara panas dari pendorong. Pesawat hanya melambat, seolah-olah ruang di sekelilingnya ikut mengizinkan benda itu berhenti.

Beberapa detik kemudian, roda pendaratan menyentuh landasan kristal.

Jatmika turun lebih dahulu, diikuti John, Irina Sokolova, Victor Aleksandrovich Morozov, Joesoef, dan Pak Toni.

Di ujung landasan, seseorang telah menunggu.

Aurex Valter.

Pemimpin Lima Pengawas Kuil Valtherion berdiri dengan tenang, mengenakan pakaian panjang berwarna putih keperakan. Di belakangnya, menara-menara kristal menjulang begitu tinggi hingga ujungnya tampak menyatu dengan langit.

“Selamat datang di planet Valtherion,” ujar Aurex.

Jatmika mengangguk.

“Terima kasih sudah menerima kami kembali.”

Tatapan Aurex kemudian berpindah kepada keris yang tergantung di pinggang Jatmika.

“Jatmika,” katanya, “bolehkah aku meminjam kerismu sekali lagi?”

Jatmika melepas keris itu dari pinggangnya.

“Tentu saja.”

Ia menyerahkannya kepada Aurex.

Ketika tangan Aurex menyentuh gagang keris, permukaan logamnya memancarkan cahaya keemasan yang sangat tipis.

Aurex mengamati cahaya tersebut.

“Artefak ini masih menyimpan sesuatu yang belum dapat kami baca.”

“Sejarahnya?” tanya Jatmika.

“Bukan hanya sejarah,” jawab Aurex. “Mungkin juga ingatan.”

Jatmika terdiam.

Ada perbedaan antara sebuah benda yang menyimpan informasi dan sebuah benda yang menyimpan ingatan.

Informasi dapat disalin.

Ingatan, jika benar-benar merupakan bagian dari suatu sistem, mungkin memiliki konteks yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan benda itu sendiri.

Aurex kemudian mengembalikan perhatiannya kepada mereka.

“Dan satu hal lagi. Jika kalian ingin menjelajahi planet ini, kalian tidak harus terus mengenakan pakaian astronot.”

Ia menunjuk robot wanita yang melayang beberapa meter di belakangnya.

“Dia akan mengantar kalian ke ruang ganti.”

John memandang pakaian astronotnya sendiri.

“Sejujurnya, saya sudah mulai merasa seperti berjalan membawa kulkas di punggung.”

Robot itu menoleh kepadanya.

“Perbandingan tersebut tidak memiliki dasar teknis yang jelas.”

John terdiam.

Victor tertawa.

Jatmika tersenyum.

Namun kemudian ia kembali mengingat waktu.

“Apakah kami bisa mengelilingi planet ini dengan cepat?” tanyanya. “Kami hanya memiliki waktu sekitar dua jam sebelum harus kembali ke Bumi.”

Aurex menggeleng perlahan.

“Tentu saja kami bisa.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Tetapi pertanyaannya bukan apakah pesawat kami mampu melakukannya.”

Aurex berhenti.

“Pertanyaannya adalah apakah tubuh kalian mampu bertahan terhadap perjalanan tersebut.”

Ruangan seakan menjadi lebih sunyi.

“Gravitasi Valtherion berbeda dengan Bumi,” lanjutnya. “Perbedaan kecil dalam gravitasi mungkin tidak terasa ketika kalian berdiri. Tetapi ketika tubuh dipaksa bergerak dengan kecepatan tinggi, setiap perbedaan menjadi jauh lebih berarti.”

Pak Toni mengangguk.

“Jadi perjalanan langsung mengelilingi planet tidak aman.”

“Bagi kalian, belum tentu.”

Aurex menunjuk ke arah bangunan kristal di belakang mereka.

“Tetapi kami memiliki rekaman perjalanan.”

Jatmika menatapnya.

“Rekaman?”

“Jika waktu kalian terbatas, kalian tidak harus mengalami seluruh perjalanan itu secara fisik.”

Pak Toni segera menyela.

“Saya rasa kita melihat rekaman terlebih dahulu.”

Ia memandang Jatmika.

“Demi keamanan.”

Jatmika akhirnya mengangguk.

“Baik.”

Robot wanita itu segera melayang mendekat.

“Ikuti saya.”

Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang sebelumnya mereka kenal sebagai ruang rapat.

Dindingnya masih sama.

Meja kristal masih berada di tengah ruangan.

Namun ketika robot mengangkat salah satu tangannya, sesuatu berubah.

Dari telapak tangannya muncul cahaya merah tipis.

Cahaya itu menyentuh dinding.

Dalam hitungan detik, permukaan kristal berubah menjadi layar raksasa. Kursi-kursi muncul dari lantai. Pencahayaan ruangan meredup. Bahkan susunan meja menghilang, digantikan oleh tempat duduk yang menghadap ke depan.

John memandang sekeliling dengan mata terbuka lebar.

“Apa yang baru saja terjadi?”

Robot itu menurunkan tangannya.

“Ruangan ini memiliki sistem perubahan lingkungan.”

John mengerutkan dahi.

“Dan kamu mengubahnya hanya dengan gerakan tangan?”

“Perintah diberikan melalui antarmuka cahaya.”

“Jadi ruangan ini bisa berubah sesuai kebutuhan?”

“Benar.”

John menatap dinding.

“Kenapa kita tidak punya teknologi seperti ini di Bumi?”

Robot itu diam selama beberapa detik.

“Saya tidak mengetahui alasan mengapa manusia Bumi belum mengembangkannya.”

John tidak menjawab.

Jawaban sederhana itu justru terasa lebih mengganggu daripada penjelasan panjang.

Karena mungkin teknologi bukan selalu persoalan kemampuan.

Kadang-kadang sebuah peradaban hanya belum memiliki alasan untuk menciptakannya.

Robot kemudian menyalakan rekaman.

Seluruh dinding di depan mereka berubah menjadi gambar.

Bukan layar datar.

Bukan proyektor.

Sebuah hologram raksasa memenuhi ruangan.

Mereka tiba-tiba melihat Valtherion dari udara.

Pesawat yang merekam bergerak dengan kecepatan tinggi melewati pegunungan, lembah, hutan, lautan, dan kota-kota kristal. Tiga bulan Valtherion terlihat di langit dengan posisi yang berbeda-beda.

Joesoef berdiri tanpa sadar.

“Luar biasa.”

Gambar terus bergerak.

Mereka melihat sungai-sungai yang membelah benua seperti urat berwarna perak. Hutan luas yang dipenuhi cahaya alami. Pegunungan kristal. Kota-kota yang dibangun di atas tebing. Struktur raksasa yang tampaknya tidak memiliki fungsi yang dapat segera dikenali oleh manusia Bumi.

Irina memperhatikan semuanya dengan saksama.

“Perhatikan jaringan energinya.”

Victor menoleh.

“Yang mana?”

“Di bawah kota.”

Ia menunjuk lapisan cahaya yang mengalir jauh di bawah permukaan tanah.

“Seperti jaringan distribusi.”

Jatmika mendekat.

Cahaya itu bergerak teratur.

Tidak seperti sungai.

Tidak seperti listrik yang pernah mereka lihat.

Lebih mirip sistem peredaran darah dalam tubuh makhluk hidup.

Sementara mereka menyaksikan dunia Valtherion dari rekaman yang bergerak mengelilingi planet, di sebuah ruangan lain, Aurex berdiri di hadapan sebuah meja kristal.

Di atasnya terletak keris milik Raja Isidore.

Beberapa pekerja Valtherion berdiri mengelilinginya.

Di tengah meja terdapat sebuah alat berbentuk lingkaran yang terbuat dari kristal transparan. Di dalamnya terdapat lapisan-lapisan simbol kuno yang berputar perlahan.

Aurex mengangkat tangannya.

“Mulai.”

Salah seorang pekerja mengaktifkan perangkat.

Kristal di bawah keris menyala.

Cahaya putih bergerak dari ujung bilah menuju gagangnya.

Kemudian berhenti.

Tidak ada respons lain.

Pekerja pertama melihat hasil pembacaan.

“Tidak ada rekaman.”

Aurex mengerutkan kening.

“Ulangi.”

Perangkat kembali bekerja.

Kali ini cahaya berubah menjadi emas.

Simbol-simbol Mythopia muncul di udara.

Satu.

Dua.

Lima.

Kemudian puluhan.

Aurex mendekat.

“Itu bukan sekadar tulisan.”

“Apa maksudmu?”

Aurex menatap simbol-simbol tersebut.

“Ini adalah struktur koordinat.”

Ruangan menjadi hening.

“Koordinat menuju sesuatu.”

Salah seorang pekerja mencoba memperbesar pola tersebut.

Tiba-tiba keris bergetar.

Cahaya keemasan memenuhi ruangan.

Aurex mundur setengah langkah.

Untuk sesaat, ia melihat sesuatu di dalam cahaya itu.

Bukan gambar.

Bukan tulisan.

Melainkan sebuah tempat.

Sebuah kota kuno.

Menara-menara yang telah lama hilang dari sejarah.

Dan di tengah kota itu berdiri seorang pria yang mengenakan mahkota.

Isidore.

Kemudian suara yang sangat samar terdengar dari dalam artefak.

“Warisan itu belum berakhir.”

Aurex membeku.

Mesin kristal mati.

Cahaya menghilang.

Ruangan kembali gelap.

Aurex memandang keris tersebut cukup lama.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu Jatmika, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan yang sebelumnya tidak berani ia pikirkan:

Mungkin keris itu bukan peninggalan masa lalu.

Mungkin keris itu adalah pesan yang belum selesai dikirim.