Persiapan dilakukan dengan ketelitian yang hampir obsesif. Keselamatan para petarung perusahaan dan para astronot dari NASA menjadi pertimbangan utama. Untuk itu, kapasitas listrik fasilitas teleportasi dinaikkan hingga mendekati batas maksimum yang secara teoritis masih bisa ditahan oleh sistem.
Mesin generator militer yang dipinjam dari Amerika dipasang sebagai sumber energi tambahan. Bahkan dengan semua itu, kebutuhan daya masih berada pada ambang yang sulit dipertahankan. Teleportasi menuju bulan Callisto—salah satu satelit dari Jupiter—ternyata bukan sekadar masalah koordinat ruang, melainkan persoalan energi yang hampir melampaui kemampuan teknologi yang mereka miliki.
Bangunan laboratorium diperkuat kembali setelah insiden sebelumnya. Pada percobaan terdahulu, lonjakan energi yang dilepaskan artefak teleportasi memicu ledakan listrik menyerupai petir buatan. Dinding beton gedung tidak mampu menahannya. Kini seluruh ruang teleportasi dilapisi baja paduan khusus yang dirancang untuk menyerap pelepasan energi ekstrem.
Meski demikian, hasilnya tetap mengecewakan.
Ratusan percobaan telah dilakukan. Dalam setiap percobaan, sistem berhasil mengirimkan objek uji—biasanya boneka sensor—ke koordinat yang telah diprogram menuju Callisto. Namun sistem tidak pernah berhasil mengonfirmasi keberadaan target secara stabil.
Benda-benda itu, dalam istilah teknis yang mulai terasa mengganggu, “hilang dari sistem.”
Pak Toni menatap layar pemantau yang menampilkan grafik energi yang terus naik turun.
“Semua boneka yang kita kirimkan,” katanya pelan, “hilang kontak.”
NASA akhirnya menetapkan batas waktu. Jika teleportasi tidak berhasil sebelum akhir bulan, proyek akan dihentikan.
Di ruang kontrol yang hampir selalu dipenuhi dengung mesin pendingin dan generator listrik, Jatmika berdiri memandangi panel data.
“Apakah sistem Ny. Tien masih tidak bisa mendeteksi keberadaan boneka yang kita kirim?” tanyanya.
Pak Toni menghela napas sejenak sebelum menjawab.
“Kadang sistem mendeteksinya,” katanya. “Masalahnya adalah waktu.”
Ia menunjuk grafik pemrosesan sinyal.
“Untuk jarak sejauh Callisto, pembacaan koordinat mengalami perlambatan ekstrem. Sistem kadang membutuhkan hampir satu hari penuh untuk memastikan posisi objek.”
Jatmika terdiam.
“Jadi… boneka-boneka itu sebenarnya sampai di sana?”
Pak Toni mengangguk perlahan.
“Ya. Sistem akhirnya menemukan mereka.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Tapi ketika koordinat itu akhirnya terbaca, waktu untuk membuka jalur teleportasi balik sudah lewat.”
Dengan kata lain, objek uji itu tidak benar-benar hilang.
Mereka hanya berada terlalu jauh bagi manusia untuk menyusulnya tepat waktu.
Dan kesadaran itu membuat ruangan laboratorium terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.
Di ruang laboratorium utama, sistem pemindaian artefak sedang berjalan dalam mode analisis mendalam. Cahaya biru kehijauan dari perangkat sensor memantul di permukaan logam meja penelitian, sementara data energi mengalir di layar-layar transparan.
Keris itu terletak di tengah meja.
Ketika sistem pengukuran diaktifkan, sesuatu yang tak terduga muncul pada grafik energi.
Pola gelombangnya tidak asing.
Jatmika menatap layar dengan dahi berkerut.
“Ny. Tien,” katanya perlahan, “apakah energi dari keris ini cocok dengan energi yang digunakan sistem teleportasi?”
Beberapa detik berlalu sebelum AI itu menjawab dengan suara yang tenang.
“Analisis spektrum energi menunjukkan kesamaan sebesar 97,3 persen dengan pola energi artefak lampu teleportasi.”
Ruangan menjadi sunyi.
John adalah orang pertama yang memecah keheningan.
“Kalau begitu…” katanya pelan, hampir seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri, “keris itu bukan sekadar benda pusaka.”
Ia memandang Jatmika.
“Energinya identik dengan sistem teleportasi kita.”
Jatmika masih menatap layar.
“Ny. Tien,” katanya lagi, “apakah artefak lampu dapat mendeteksi keberadaan keris ini sebagai bagian dari sistem?”
AI itu menjawab tanpa ragu.
“Ya. Sistem teleportasi dapat mengenali keris tersebut sebagai sumber energi yang kompatibel.”
John menghela napas panjang.
“Tidak salah lagi,” ujarnya. “Kalau sistem ini membutuhkan sumber energi seperti itu, mungkin hanya kamu yang bisa melakukan percobaan teleportasi ke Callisto.”
Callisto—salah satu bulan dari Jupiter—kembali menjadi tujuan yang selama ini terasa terlalu jauh.
Namun Pak Toni segera menggelengkan kepala.
“Tunggu dulu,” katanya tegas. “Ini terlalu berisiko.”
Ia menunjuk grafik energi yang masih bergerak di layar.
“Kita belum memahami sepenuhnya bagaimana artefak itu bekerja. Menggunakannya langsung untuk teleportasi jarak planet bisa berakhir sangat buruk.”
John tidak membantah, tetapi ia mengingatkan sesuatu yang tidak kalah penting.
“Waktu kita terbatas,” katanya. “NASA sudah memberi tenggat. Jika kita tidak berhasil sebelum akhir bulan, mereka bisa saja mencabut dukungan mereka dari proyek ini.”
Ruangan kembali hening.
Pak Toni akhirnya menyilangkan tangan, berpikir sejenak sebelum berbicara lagi.
“Baik,” katanya.
“Tapi kita tidak akan melakukannya sekarang.”
Ia berbalik menuju konsol utama sistem.
“Tunggu sampai aku selesai memperbarui algoritma sistem teleportasi. Aku ingin memastikan bahwa jaringan energi antara artefak lampu dan keris ini bisa disinkronkan dengan aman.”
Ia menatap Jatmika dan John secara bergantian.
“Setelah itu,” lanjutnya, “barulah kita mempertimbangkan percobaan teleportasi menggunakan keris tersebut.”
Di layar laboratorium, grafik energi keris masih berdenyut perlahan—seperti sesuatu yang telah menunggu sangat lama untuk digunakan kembali.
Beberapa jam setelah analisis energi dilakukan, sistem akhirnya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak dipahami oleh para peneliti.
Ny. Tien memproses ulang data dari keris dan artefak lampu teleportasi. Ketika pola energinya dibandingkan, kesamaannya tidak hanya berada pada spektrum daya.
Ada pola lain yang lebih spesifik.
“Analisis tambahan menunjukkan kemungkinan fungsi lain dari artefak keris,” ujar Ny. Tien dengan suara yang tetap tenang.
Jatmika dan John menoleh ke layar.
“Apa maksudmu?” tanya Jatmika.
“Pola resonansi energi keris tidak hanya kompatibel dengan sistem teleportasi,” lanjut AI itu. “Ia juga mengandung struktur koordinat yang menyerupai sistem navigasi kuno.”
John mendekat ke layar, membaca grafik yang muncul.
“Seperti kunci?” katanya pelan.
“Interpretasi tersebut memiliki tingkat probabilitas sebesar 82 persen.”
Jika analisis itu benar, maka keris tersebut bukan sekadar artefak energi.
Ia adalah kunci koordinat—sebuah perangkat yang mungkin digunakan oleh peradaban Mythopia untuk menentukan tujuan teleportasi mereka.
Tak lama setelah itu, Pak Toni akhirnya keluar dari ruang kontrol utama. Ia baru saja menyelesaikan sinkronisasi sistem antara artefak lampu dan keris.
“Algoritma navigasi sudah diperbarui,” katanya.
Ia menatap mereka berdua dengan ekspresi serius.
“Kita siap melakukan uji coba.”
Namun sebelum percobaan itu dimulai, sesuatu yang aneh terjadi pada Jatmika.
Di ruang istirahat laboratorium, ia sempat tertidur tanpa sengaja.
Dalam tidurnya, ia melihat sebuah pemandangan yang terasa begitu jelas—terlalu jelas untuk sekadar disebut mimpi.
Ia berdiri di sebuah dataran batu yang luas. Kabut tipis bergerak perlahan di sekitar kaki para prajurit yang berbaris dengan tenang. Mereka mengenakan armor yang dihiasi ukiran kuno, dan di tangan masing-masing terdapat keris yang memancarkan cahaya lembut.
Para ksatria itu tampak bersiap melakukan sesuatu.
Kemudian satu per satu dari mereka mengangkat kerisnya.
Udara di depan mereka terbelah seperti permukaan air yang digerakkan oleh tangan yang tak terlihat. Cahaya putih muncul, membentuk pintu yang berkilau.
Para ksatria itu melangkah masuk ke dalamnya.
Teleportasi.
Di antara barisan itu, seorang pria melangkah maju. Ia mengenakan armor yang lebih rumit daripada yang lain. Di kepalanya terdapat mahkota sederhana yang terbuat dari logam gelap.
Ketika ia berbicara, suaranya terdengar tenang namun memiliki wibawa yang sulit dijelaskan.
“Aku adalah raja dari Mythopia.”
Jatmika tidak tahu bagaimana ia bisa memahami kata-kata itu, tetapi maknanya terasa jelas di dalam pikirannya.
“Kami meninggalkan warisan ini untuk masa depan,” lanjut sang raja. “Warisan Nusantara harus dijaga.”
Ia menatap langsung ke arah Jatmika.
“Engkau terpilih bukan karena darah keturunan,” katanya. “Tetapi karena kemampuanmu setara dengan para ksatria kami.”
Pemandangan itu memudar perlahan.
Dan tak lama kemudian, Jatmika terbangun.
“Jatmika.”
Suara John memanggilnya dari dekat.
Ia membuka mata dan menyadari bahwa dirinya kembali berada di ruang laboratorium.
John berdiri di sampingnya.
“Sistem sudah siap,” katanya.
Di ruang kontrol, Pak Toni menunggu di depan panel utama.
“Sebelum kita mulai,” ujar Pak Toni, “aku harus menanyakan satu hal.”
Ia menatap Jatmika dengan serius.
“Percobaan ini berisiko tinggi. Jika koordinatnya salah, kita mungkin tidak bisa menarikmu kembali.”
Ruangan menjadi sunyi.
Jatmika bangkit perlahan dari kursinya.
“Aku siap,” katanya.
John memperhatikan wajahnya.
“Kamu kelihatan lebih tenang,” ujar John.
Jatmika mengangguk pelan.
“Aku baru saja bermimpi.”
“Mimpi?”
Jatmika ragu sejenak sebelum menjawab.
“Aku bertemu seseorang yang mengaku sebagai raja Mythopia.”
Ia menghela napas pelan.
“Mungkin itu hanya bunga tidur.”
Namun ketika ia mengingat kembali kata-kata yang didengarnya dalam mimpi itu, perasaan yang muncul bukanlah keraguan.
“Entah kenapa,” katanya pelan, “mimpi itu terasa… nyata.”
Di ruang kontrol, keris yang diletakkan di dalam lingkaran teleportasi mulai memancarkan cahaya merah yang perlahan semakin terang—seolah-olah sistem yang telah lama tertidur akhirnya menemukan kembali tujuannya.
Malam itu laboratorium terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Para peneliti dari NASA sudah kembali ke penginapan mereka, meninggalkan ruang kontrol yang kini hanya diisi oleh tiga orang: Jatmika, John, dan Pak Toni.
Jatmika memandang ruang teleportasi yang diterangi cahaya artefak lampu.
“Kurasa kita bisa melakukan percobaan ini tanpa mereka,” katanya pelan. “Para peneliti NASA sudah pulang.”
Pak Toni tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati panel energi yang menampilkan grafik konsumsi listrik yang terus meningkat.
Di ruang ganti kecil yang terletak di samping laboratorium, Jatmika mengenakan armor lama yang selama ini disimpan di lemari kantornya—armor yang pernah ia temukan bersama artefak dari gua teleportasi. Di atasnya, ia mengenakan pakaian astronot modern yang dibuat oleh NASA.
Kombinasi itu terasa aneh.
Namun entah mengapa, ia merasa seolah sedang mengikuti sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.
Persis seperti dalam mimpinya.
Ia mengenakan cincin batu merah di jarinya. Di tangannya ia menggenggam keris yang kini menjadi pusat dari seluruh eksperimen itu.
Pak Toni menoleh ke arahnya sambil tersenyum tipis.
“Apakah kamu sudah membuat wasiat sebelum perjalanan ini?” tanyanya setengah bercanda.
Jatmika tertawa kecil.
“Tentu saja,” jawabnya. “Sebagian hartaku untuk keluargaku. Sebagian lagi untuk membantu korban bencana di Sumatra.”
John yang berdiri di dekat konsol navigasi menatap ruang teleportasi dengan ekspresi serius.
“Apakah ini saatnya,” katanya perlahan, “teleportasi pertama manusia ke Callisto?”
Callisto—salah satu bulan dari Jupiter—terletak hampir dua miliar kilometer dari Bumi.
Pak Toni memeriksa kembali indikator sistem.
“Aku rasa semuanya akan baik-baik saja,” katanya akhirnya. “Sistem bekerja sempurna.”
Namun sebelum percobaan utama dimulai, ia mengangkat tangan.
“Kita mulai dengan tes kecil dulu.”
John mengangguk.
“Ny. Tien, siapkan koordinat uji.”
Lampu indikator di ruang kontrol menyala.
“Koordinat diterima,” jawab Ny. Tien. “Perhitungan navigasi dimulai.”
Hitung mundur dimulai.
Artefak lampu di ruang teleportasi perlahan berubah warna—dari merah redup menjadi kuning keemasan. Energi listrik mulai berderak di udara, seperti petir kecil yang muncul di antara permukaan logam.
Jatmika mengangkat kerisnya.
Pada saat yang sama, keris itu memancarkan energi listrik yang menjalar di sepanjang bilahnya.
Lalu sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya terjadi.
Tubuh Jatmika menghilang—lalu muncul kembali.
Lalu menghilang lagi.
Dalam beberapa detik saja, sistem teleportasi memindahkannya ke sepuluh lokasi berbeda yang telah diprogram sebagai uji coba. Semua perpindahan itu terjadi begitu cepat hingga hampir tidak terlihat oleh mata manusia.
Kemudian, dalam kilatan cahaya terakhir, Jatmika kembali berdiri di ruang laboratorium.
Pak Toni menatap layar dengan napas tertahan.
“Aku melihat sistem bekerja tanpa jeda waktu,” katanya pelan. “Artefak keris itu benar-benar berfungsi.”
Jatmika tampak sedikit bingung.
“Benarkah?” katanya. “Aku merasa seperti melihat cahaya emas… dan cahaya itu menyatu ke dalam tubuhku. Hangat.”
Pak Toni segera menunjuk ke pemindai artefak.
“Biarkan sistem memeriksa tubuhmu.”
Cahaya dari artefak lampu menyapu tubuh Jatmika dari kepala hingga kaki.
Beberapa detik kemudian suara Ny. Tien terdengar.
“Hasil pemindaian menunjukkan kondisi tubuh subjek stabil. Tingkat kesehatan: 100 persen.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan.
“Terdapat gelombang energi yang kuat terdeteksi di area dada dan perut.”
Pak Toni dan John saling memandang.
Pak Toni akhirnya menarik napas panjang.
“Baiklah,” katanya. “Saatnya kita melakukan percobaan sebenarnya.”
John berdiri di konsol navigasi.
“Ny. Tien, tentukan koordinat tujuan.”
“Koordinat menuju Callisto sedang dihitung.”
Di seluruh gedung perusahaan, lampu mulai berkedip. Sistem listrik bekerja pada kapasitas maksimum karena AI itu menggunakan hampir seluruh energi yang tersedia.
Artefak lampu di ruang teleportasi kembali menyala.
Merah.
Kemudian berubah menjadi kuning keemasan yang jauh lebih terang dari sebelumnya.
Energi listrik berderak di udara seperti badai kecil.
Jatmika berdiri di tengah lingkaran teleportasi. Ia mengangkat kerisnya tinggi-tinggi.
Dengan suara yang menggema di dalam ruangan, ia berteriak:
“Callisto… aku datang.”
Dan untuk sesaat, seolah-olah seluruh ruang di sekitarnya menahan napas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar