20/02/26

Season 5 Kisah Pandika dari Kerajaan Cakram

Setelah menunaikan tugasnya di dunia peri, Pandika kembali menapakkan kaki di tanah Majapahit bersama si Maung. Namanya kini mulai berembus dari mulut ke mulut—dikenal sebagai penolong rakyat yang pernah menumpas para penculik dan penjahat di lorong-lorong gelap kota. Namun bagi Pandika, kemasyhuran hanyalah bayang yang berlalu; hatinya tetap mencari perjalanan baru.
Suatu petang, ketika matahari condong ke barat dan langit berwarna tembaga, si Maung berkata dengan suara dalam namun bersahabat,
“Wahai Pandika, sudah lama engkau menemaniku dalam perjalananmu. Kini izinkan aku membawamu ke tanah asalku—Gunung Leuser—tempat akar sejarahku bermula.”
Pandika tersenyum. “Aku belum pernah menapaki Gunung Leuser. Hatiku memang ingin melihatnya. Mari kita berangkat.”
Maka berlarilah si Maung dengan kecepatan yang hanya dimiliki makhluk penjaga zaman purba. Mereka melesat menembus rimba yang lebat, melewati batang-batang pohon tinggi yang menjulang seperti tiang istana hutan, dan menyibak semak belukar yang berkilau oleh embun.
Setelah perjalanan panjang, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi. Di sana terbentang suatu pemandangan yang membuat Pandika terdiam.
Desa itu… penuh dengan kucing.
Ratusan, bahkan ribuan kucing liar berkeliaran dengan bebas. Ada yang memanjat pohon tinggi dengan lincah, ada yang mengendap menangkap tikus di rerumputan, dan ada pula yang duduk tenang memandangi langit seakan sedang bermeditasi. Namun tak satu pun manusia tampak di sana.
“Jadi… di manakah rumahmu?” tanya Pandika heran.
“Tidak jauh lagi,” jawab si Maung sambil berjalan menuju sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjuntai seperti tirai alam. “Di balik pohon itu.”
Di sanalah berdiri Desa Kucing, rumah-rumahnya tersusun dari daun besar, ranting, dan semak yang dirangkai dengan keterampilan mengagumkan. Bentuknya melengkung dan berlapis, seakan tumbuh alami dari tanah, bukan dibangun oleh tangan biasa.
Tiba-tiba seekor kucing belang mendekat dan berkata,
“Salam datang, Raja.”
Pandika terperanjat. “Mereka… berbicara?”
Si Maung menoleh dengan sorot mata tenang. “Karena engkau bersamaku, engkau aman dan dapat memahami bahasa kami.”
Ia kemudian berdiri tegap di tengah desa itu. “Akulah Raja Kucing di lembah ini. Beratus-ratus abad lamanya aku menjaga wilayah ini dari ancaman luar.”
Pandika memandangnya dengan takjub yang tak tersembunyi.
Ketika ia memasuki kediaman sang raja, keheranannya bertambah. Interior rumah itu indah dan anggun—dindingnya dihiasi anyaman daun halus, karpet lembut membentang di lantai, dan lukisan-lukisan tergantung rapi, menggambarkan hutan, bulan, dan sosok-sosok peri.
“Dari mana semua ini?” tanya Pandika perlahan.
“Hadiah dari bangsa peri,” jawab si Maung. “Sebagai balasan atas tugas-tugas yang kuselesaikan bagi mereka.”
Pandika mengangguk kagum, lalu—dengan nada setengah bercanda—bertanya,
“Jadi… apakah engkau telah memiliki pasangan? Maksudku, seorang permaisuri?”
Si Maung mengibaskan ekornya dengan anggun.
“Permaisuriku ada seratus. Dan anak-anakku… lebih dari seribu.”
Pandika terdiam sejenak, lalu tertawa kecil penuh keheranan.
“Benar-benar luar biasa, sahabatku.”
Di luar, angin Gunung Leuser berhembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan tua. Namun di balik kehangatan desa kucing itu, takdir baru tampaknya mulai berdenyut—sebab setiap kerajaan, sekecil apa pun, selalu menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Malam turun perlahan di lembah Gunung Leuser. Kabut tipis merayap dari sela-sela akar beringin tua, dan bulan menggantung pucat di antara puncak-puncak pohon. Desa Kucing yang siang tadi riuh oleh lompatan dan dengkuran kini diselimuti keheningan waspada.
Pandika sedang duduk di beranda rumah daun sang Raja ketika si Maung tiba-tiba mengangkat kepalanya. Bulu di tengkuknya meremang.
“Ada yang salah,” gumamnya pelan.
Angin berubah arah.
Dari kejauhan terdengar suara yang bukan suara hutan—bukan desir daun, bukan pula langkah rusa. Itu seperti bisikan panjang, serak, dan dingin… seolah bayangan sendiri sedang bergerak.
Seekor kucing penjaga berlari tergesa.
“Paduka! Dari sisi utara! Bayangan hitam turun dari pepohonan!”
Belum sempat kata-kata itu selesai, langit di atas lembah meredup, seakan awan gelap menelan cahaya bulan. Dari antara batang-batang pohon meluncur sosok-sosok tinggi kurus, tubuhnya seperti asap pekat, matanya merah menyala bagai bara yang ditiup angin malam.
Mereka bukan hewan. Bukan pula roh biasa.
“Makhluk Bayang Hutan,” desis si Maung. “Mereka pelayan kegelapan purba… dan sudah lama tidak berani mendekat ke wilayahku.”
Salah satu makhluk melompat turun ke tanah. Rumput yang disentuhnya menghitam dan layu. Seekor anak kucing yang terlalu lambat menghindar nyaris tersentuh kabut hitam sebelum Pandika bergerak.
Kilatan cahaya pedang memecah malam.
Pandika melangkah maju, bilahnya menyala lembut oleh cahaya bulan yang terpantul.
“Berlindunglah di dalam rumah-rumah!” serunya kepada para kucing. “Tutup semua pintu daun!”
Si Maung mengaum—raungan yang mengguncang akar-akar tanah. Seketika puluhan kucing dewasa membentuk barisan melingkar, mata mereka memancarkan cahaya hijau keemasan. Mereka bukan sekadar penghuni desa; mereka adalah penjaga yang terlatih dalam seni kuno cakar dan lompatan.
Makhluk bayangan menyerbu.
Pertempuran pun meletus.
Pandika bergerak seperti saat di dunia roh—langkahnya ringan, menghindar dan menyergap. Setiap ayunan pedang menorehkan cahaya yang membuat tubuh bayangan terbelah dan menguap menjadi asap tipis. Namun untuk setiap satu yang tumbang, dua lagi muncul dari kegelapan hutan.
Si Maung menerjang pemimpin mereka—sosok paling tinggi dengan tanduk kabut melengkung di kepalanya. Cakar sang Raja Kucing menyala perak ketika menghantam dada makhluk itu. Benturan mereka menimbulkan gelombang angin yang menjatuhkan dedaunan dari pohon-pohon.
“Ini bukan serangan biasa!” teriak Pandika di sela pertempuran. “Mereka dipanggil!”
Si Maung menggeram, mendorong lawannya mundur beberapa langkah.
“Ya… dan hanya satu kekuatan yang mampu memanggil mereka kembali ke dunia ini.”
Nama itu tak perlu diucapkan. Keduanya memahami.
Bayang Agung.
Tiba-tiba tanah di tengah desa retak. Dari celah itu muncul pusaran kabut hitam, lebih pekat dari yang lain. Suara rendah bergema, seperti gema dari gua terdalam bumi.
“Raja Kucing… waktumu telah lama berlalu.”
Makhluk-makhluk bayangan berhenti bergerak, seakan menunggu perintah.
Pandika berdiri di sisi si Maung, pedangnya menyala lebih terang.
“Kita tidak akan membiarkan desa ini jatuh,” katanya tegas.
Si Maung menoleh, mata birunya berkilau oleh tekad.
“Kalau begitu, sahabatku… malam ini Gunung Leuser akan mengingat nama kita.”
Kabut berputar semakin cepat.
Dan pertempuran yang lebih besar dari sekadar serangan malam pun dimulai—pertarungan yang bukan hanya untuk Desa Kucing, tetapi untuk membuka tabir rencana gelap yang telah lama bergerak di balik bayangan hutan.
Malam di Gunung Leuser menjadi lebih gelap daripada hitam itu sendiri. Seolah-olah langit telah dilapisi tirai pekat yang dirajut dari kebencian purba. Kabut Bayang Agung merayap rendah, menelan cahaya bulan dan membungkam suara jangkrik.
Namun di tengah kegelapan itu, satu hal tetap bersinar.
Mata-mata kucing.
Ratusan cahaya hijau dan keemasan menyala di antara pepohonan, seperti gugusan bintang yang turun ke bumi. Dalam keheningan mencekam, tubuh-tubuh kecil itu mulai berubah. Satu demi satu, para kucing membesar—tulang dan otot mereka memanjang, bulu mereka menebal, dan taring-taring putih berkilat di antara geraman rendah. Kini mereka berdiri lebih besar dari serigala hutan, cakar mereka memanjang bagai belati melengkung.
Dengan raungan yang mengguncang akar pepohonan, mereka menerjang roh-roh tersesat yang dipanggil oleh Bayang Agung.
Cakar bertemu kabut. Taring mencabik bayangan. Setiap lompatan meninggalkan jejak cahaya di udara malam.
Di tengah pusaran itu, Pandika berdiri diam.
Ia memejamkan mata.
Bayang Agung menekan kegelapan semakin pekat, berusaha menelan bahkan nyala mata kucing. Namun di jantung malam itu, Pandika mengangkat pedangnya dan memulai Tarian Bulan.
Gerakan pertamanya lembut—seperti angin yang membelah kabut tipis. Bilah pedangnya menyala lebih terang dari sinar bulan yang tersembunyi di balik awan. Cahaya itu tidak sekadar menerangi; ia mengusir.
Ketika ia menyibakkan pedangnya ke samping, kegelapan terbelah, seolah tirai malam terkoyak oleh tangan tak terlihat. Sejenak hutan kembali tampak—pohon, tanah, dan para pejuang kucing.
Namun kegelapan kembali menyerbu.
Pandika melangkah ke tahap berikutnya. Gerakannya semakin cepat, semakin dalam. Setiap putaran meninggalkan lingkaran cahaya di tanah. Pedangnya kini seperti pecahan rembulan yang jatuh ke tangannya.
Raja roh muncul dari pusaran kabut—tinggi, bermahkota tanduk bayangan, matanya merah menyala oleh kegilaan yang bukan miliknya sendiri, melainkan titipan Bayang Agung.
Ia mengaum, dan kegelapan menekan dari segala arah.
Tetapi Pandika tidak berhenti.
Ia memasuki tahap akhir.
Gerakannya menjadi tak terbaca—anggun sekaligus mengerikan. Cahaya pedangnya membesar, bukan lagi sekadar sinar, melainkan arus yang mengalir deras dari jiwanya sendiri. Tanah bergetar. Angin berputar mengelilinginya.
Dengan satu putaran terakhir—sempurna dan penuh tekad—Pandika mengayunkan pedangnya lurus ke jantung malam.
Cahaya meledak.
Ia bukan hanya menebas makhluk di hadapannya, melainkan mencabik-cabik kegelapan itu sendiri. Kabut hitam terurai seperti kain tua yang disobek oleh tangan tak terlihat. Pekatnya malam retak oleh garis-garis cahaya.
Raja roh mundur, tubuhnya terbelah oleh kilatan pedang yang tak terlihat oleh mata biasa. Api merah di matanya padam perlahan.
“Apa… engkau ini…” desisnya, suaranya kini lebih menyerupai angin yang kehilangan arah.
Pandika berdiri tegak, napasnya berat namun matanya jernih.
“Aku hanyalah manusia yang menolak tunduk pada kegelapan.”
Raja roh berlutut. Kabut di sekelilingnya tercerai-berai.
“Aku menyerah… bukan pada kegilaanmu… tetapi pada cahaya yang kau bawa.”
Dengan kata-kata itu, tubuhnya hancur menjadi serpihan asap yang terangkat ke langit dan lenyap.
Kegelapan tersisa pun memudar.
Bulan kembali bersinar di atas Gunung Leuser.
Para kucing perlahan kembali ke wujud semula, napas mereka terengah namun mata mereka penuh kemenangan. Si Maung berdiri di sisi Pandika, bulunya masih berkilau oleh sisa pertempuran.
Malam itu, hutan mengingat.
Dan jauh di balik bayangan yang belum sepenuhnya musnah, Bayang Agung pun mulai menyadari bahwa manusia bernama Pandika bukan lagi sekadar pengembara… melainkan ancaman nyata bagi kegelapan yang hendak bangkit.

Tidak ada komentar: