04/01/26

Season 9 Kerajaan mythopia

Chapter 71 Semedi di Ambang Cahaya

Isidore duduk bersila di atas tanah yang masih hangat oleh sisa pertempuran. Napasnya belum sepenuhnya teratur; luapan energi dari Bayang Agung dan sentuhan kekuatan Rasvatar masih berputar liar di dalam nadinya, seperti arus sungai yang meluap setelah badai besar. Keris di pangkuannya berkilau redup, seolah turut beristirahat bersama tuannya.
Para ksatria membentuk lingkaran pelindung.
Pangreksa menurunkan suhu udara di sekelilingnya, menenangkan panas yang membara di tubuh Isidore. Bayu Anggana mengalirkan angin lembut, ritmis seperti napas bumi. Sagara Putra meneteskan air suci ke tanah, menciptakan gema sunyi yang menenangkan jiwa. Guntur Wisesa menahan kilat di dalam dirinya, meredam getar yang berlebihan. Bhra Anuraga memadamkan bara amarah, sementara Rakajati menumbuhkan akar tipis yang menghubungkan Isidore dengan denyut kehidupan hutan.
“Tenanglah,” ujar Rakajati lirih. “Biarkan bumi memikul sebagian bebanmu.”
Perlahan, Isidore memejamkan mata. Napasnya menyatu dengan irama alam. Cahaya di sekelilingnya meredup, dan dunia pun menjauh.
Mimpi Leluhur Mythopia
Isidore berdiri di sebuah dataran luas yang disinari cahaya keperakan. Langit di atasnya bertabur bintang yang tak pernah ia kenal, dan angin membawa nyanyian lama—lagu yang hanya hidup dalam ingatan darah. Dari kabut cahaya, muncullah sosok-sosok berjubah putih dan emas, wajah mereka tenang, mata mereka menyimpan kebijaksanaan zaman.
Mereka adalah leluhur Mythopia.
Salah seorang melangkah maju, suaranya lembut namun bergema hingga ke relung jiwa:
“Isidore, pewaris cahaya dan penjaga batas. Jalanmu berat karena hatimu luas.”
Isidore menunduk hormat.
“Aku berusaha menjaga dunia ini, meski kegelapan selalu kembali.”
Sosok lain mengangkat tangannya, menunjuk ke arah bayangan jauh yang berdenyut gelap.
“Jagalah selalu hatimu dari keburukan. Kekuatan terbesar bukan pada pedang atau mantra, melainkan pada niat yang tak ternoda.”
Yang tertua di antara mereka mendekat, sorot matanya tegas namun penuh kasih.
“Berhati-hatilah bila kelak engkau bertemu Rasvatar lagi. Ia menguasai keburukan bukan karena kuat, melainkan karena manusia memberinya celah. Jangan biarkan amarah, ketakutan, atau kesombongan membuka pintu baginya.”
Isidore mengangkat wajahnya.
“Bagaimana aku bertahan, jika kegelapan menyentuh hatiku?”
Jawaban itu datang seperti embun pagi:
“Ingatlah siapa dirimu, dan untuk apa engkau berdiri. Selama engkau memilih welas asih di atas kuasa, cahaya akan menemukan jalannya.”
Cahaya di sekeliling mereka memudar perlahan. Nyanyian leluhur menjauh, meninggalkan satu kalimat terakhir yang menggema:
“Kau tidak berjalan sendiri.”
Isidore membuka mata. Lingkaran para ksatria masih setia menjaga. Hutan tampak lebih terang, dan beban di dadanya terasa berkurang. Ia menarik napas panjang, bangkit perlahan—lebih tenang, lebih jernih.
Di kejauhan, angin membawa bisikan masa depan.
Perjalanan belum usai, namun kini Isidore tahu: selama hatinya terjaga, kegelapan takkan berkuasa sepenuhnya.
Chapter 72 Jejak di Hutan Sinabung

Sementara Isidore masih duduk bersila dalam istirahatnya, berjuang menata kembali sirkulasi energi yang bergejolak di dalam tubuhnya, Pandika telah melangkah menjauh dari lingkaran para ksatria. Wajahnya serius, matanya tajam menembus kegelapan hutan Sinabung. Misi yang diembannya berbeda—sunyi, berbahaya, dan tak kalah penting: mencari para sandera yang direnggut oleh gerombolan kegelapan.
Angin malam membawa bau tanah basah dan darah lama. Namun tak satu pun jejak manusia dapat ia tangkap.
Dengan helaan napas panjang, Pandika merogoh sebuah kantong kecil berhiaskan sulaman cahaya, pemberian bangsa peri dari masa silam. Ia membukanya perlahan.
Dari dalam kantong itu, muncul seekor anak kucing hitam, perutnya gendut dan matanya setengah terpejam, seolah baru terbangun dari tidur panjang.
Namun makhluk itu bukanlah kucing biasa.
Tubuhnya mulai membesar—perlahan namun pasti. Tulangnya memanjang, ototnya mengeras, bulunya menebal seperti malam yang menggulung. Dalam sekejap, ia telah menjelma menjadi makhluk sebesar serigala raksasa, dengan sorot mata emas yang cerdas dan senyum malas penuh sindiran.
“Gelap sekali di dalam kantong itu,” gerutu makhluk itu dengan suara berat namun malas.
“Kenapa lama sekali aku dikeluarkan, hah, Pandika?”
Pandika menunduk sedikit, rasa bersalah terlintas di wajahnya.
“Mohon maafkan aku. Aku terlupa… tapi kini aku sungguh membutuhkanmu. Para sandera masih belum kutemukan. Hutan ini seperti menelan jejak mereka.”
Si Maung Kucing menguap lebar, memperlihatkan taringnya yang berkilau.
“Hm. Untuk pekerjaan sepenting ini… kau berutang satu kilo ikan segar.”
Pandika tersenyum tipis.
“Itu mudah. Sekarang cepatlah, endus jejak mereka.”
Makhluk itu menundukkan kepalanya, hidungnya bergerak-gerak menghirup udara. Ia berjalan beberapa langkah, lalu mendengus kesal.
“Kau ini menyusahkan. Terlalu lambat jika berjalan seperti manusia.”
Ia menoleh tajam.
“Naik saja ke punggungku.”
Tanpa banyak bicara, Pandika memanjat punggung si Maung Kucing. Tubuh makhluk itu kokoh dan hangat, denyut kekuatannya terasa seperti binatang purba yang telah lama menjaga hutan ini.
Dengan satu lompatan panjang, mereka melesat menembus semak dan akar, bayangan hitam melaju di antara pepohonan. Daun-daun beterbangan, dan tanah bergetar pelan di bawah langkah sang penjaga malam.
Di hadapan mereka, hutan Sinabung terbentang luas—sunyi, gelap, dan menyimpan jeritan yang belum terjawab.
Dan perburuan pun dimulai.
Chapter 73 Kekhawatiran di Bukit Kemuning

Sementara bayang-bayang peperangan masih menggantung di hutan Sinabung, Putri Dyah Sekar Tanjung memilih untuk tidak kembali ke Majapahit. Ia tetap berada di Bukit Kemuning, bersama kelompok pengawal setianya. Angin senja mengibaskan rambutnya, dan matanya menatap jauh ke arah pegunungan, seolah ingin menembus jarak dan kegelapan yang memisahkannya dari Isidore.
“Aku ingin tahu,” ucap sang Putri pelan namun tegas,
“musuh seperti apa yang dihadapi Isidore.”
Pendekar Bayangan Pertama, yang berdiri setengah tersembunyi di balik pepohonan, menundukkan kepalanya sedikit.
“Apa pun makhluk itu, Paduka Putri… jelas bukan manusia. Kegelapan yang ia keluarkan terlalu pekat, terlalu tua. Seperti malam yang hidup.”
Paman Hanggono melangkah maju, wajahnya diliputi kecemasan.
“Putri, sebaiknya kita kembali ke Majapahit. Ayah dan ibumu pasti sangat khawatir bila Paduka tak kunjung pulang.”
Namun Dyah Sekar Tanjung menggeleng perlahan.
“Paman,” katanya lembut namun berani,
“aku bukan lagi gadis yang hanya bersembunyi di balik dinding istana. Aku telah belajar ilmu bela diri. Aku bisa melindungi diriku sendiri.”
Belum sempat paman Hanggono menjawab, kupu-kupu hias berlapis emas yang selalu setia di sisi sang Putri tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan gelisah. Cahaya lembut memancar dari tubuh mungilnya, dan serbuk sari keemasan berpendar di udara.
Wajah sang Putri seketika memucat.
“Tidak…” bisiknya gemetar.
“Isidore…”
Ia merasakan pesan yang disampaikan kupu-kupu itu—keadaan Isidore sedang tidak stabil, aliran tenaga dalamnya bergejolak hebat, seperti sungai yang meluap tanpa tepi.
“Jika ini dibiarkan…” suaranya bergetar,
“kekasihku bisa mati.”
Ia menoleh cepat kepada Pendekar Bayangan Kedua, matanya menyala oleh keteguhan.
“Cepat. Antar pil ajaib ini kepada Isidore. Obat ini dapat menstabilkan kembali energinya. Jangan biarkan siapa pun menghalangimu.”
Pendekar Bayangan Kedua berlutut satu lutut, mengepalkan tangan di dada.
“Baik, Paduka Putri. Dengan nyawa saya sendiri, obat ini akan sampai.”
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, ia lenyap ke dalam rimbunnya hutan, menyatu dengan bayangan dan angin malam.
Putri Dyah Sekar Tanjung menatap kepergiannya, lalu menggenggam dadanya sendiri, berdoa dalam diam—
agar cahaya yang masih tersisa di dunia ini tidak padam sebelum waktunya.

03/12/25

Season 5 Jatmika & Portal Waktu

---

Peningkatan ekonomi tidak datang dengan gemuruh, melainkan dengan tanda-tanda kecil yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang memperhatikannya.
Pemesanan lampu untuk gedung-gedung bertingkat mulai meningkat—sebuah indikator yang sederhana, tapi tak pernah keliru. Di layar monitor ruang administrasi, grafik permintaan melengkung naik perlahan, seolah menggambar denyut kehidupan yang kembali stabil.

Email dan pesan WhatsApp berdatangan tanpa henti. Permintaan untuk layanan teleportasi melonjak—bukan hanya dari kalangan ilmuwan atau pejabat, tetapi juga dari perusahaan swasta dan lembaga riset daerah. Setiap pesan yang masuk terasa seperti bukti kecil bahwa teknologi yang dulu dianggap mustahil kini mulai diterima sebagai bagian dari keseharian manusia.

Bisnis berjalan kembali, bukan karena keajaiban, tetapi karena ketekunan sistem dan orang-orang di baliknya.
Jatmika memimpin rapat siang itu di ruang konferensi utama, dinding kaca memantulkan cahaya biru dari artefak lampu energi Nusantara yang terpasang di sudut ruangan. Para pendamping pengunjung duduk berjejer dengan catatan di tangan. Mereka bukan hanya operator, tetapi mediator antara dunia lama dan cara baru berpindah tempat.

“Untuk minggu ini,” kata Jatmika dengan suara yang tenang namun tegas, “kita akan menerima lebih banyak tamu dari dalam negeri. Kalian harus siap dengan pertanyaan mereka—tentang keamanan, etika, bahkan tentang hal-hal yang belum bisa dijawab dengan angka. Dan minggu depan, rombongan dari Cina, Amerika, Rusia, dan Jepang akan datang. Mereka tidak hanya melihat teknologi kita, tapi cara kita memahami maknanya.”

Beberapa kepala mengangguk pelan. Tak ada tepuk tangan, hanya kesadaran akan tanggung jawab.
“Kami akan menaikkan gaji para pendamping,” lanjutnya, “asalkan tidak ada kesalahan dalam pelayanan dan komunikasi. Kalian bukan hanya wajah perusahaan ini—kalian jembatan antara manusia dan ruang.”

Di akhir rapat, Jatmika menatap layar besar yang menampilkan rancangan gedung kantor pusat baru di Jalan Sudirman.
“Bulan depan bangunan ini selesai,” katanya. “Kita akan pindah ke sana. Bukan sekadar perubahan alamat, tapi langkah menuju cara baru memahami jarak.”

Di luar, langit Jakarta sore itu terlihat tenang. Cahaya matahari memantul di jendela gedung-gedung tinggi—seolah kota ini perlahan belajar berdamai dengan masa depan yang dulu hanya hidup di dalam teori.

---

Sore itu hujan turun tanpa jeda sejak pagi. Butiran air membentuk pola di jendela laboratorium, seperti data yang belum selesai diproses. Genangan mulai terbentuk di jalan-jalan sekitar kompleks industri, sementara di Jakarta, banjir kembali menjadi berita utama di setiap saluran televisi. Namun di pelataran PT. Sinar Ultraviolet, deretan bus berhenti satu per satu dengan pengawalan polisi.

Dari dalam bus, turun para pejabat, anggota DPR, menteri, dan akademisi. Mereka datang bukan sekadar untuk melihat hasil riset, tetapi untuk menyaksikan kemungkinan masa depan yang kini telah berwujud nyata: teleportasi instan energi Nusantara.

Hujan tidak menghentikan diskusi, hanya membuatnya lebih lambat dan dalam.
“Jika teknologi ini sudah ditemukan tahun lalu,” salah satu pejabat bertanya, “mengapa sempat ditutup?”

Jatmika menatap layar hologram di hadapannya sebelum menjawab.
“Masalahnya bukan pada mesin,” katanya perlahan. “Ketidakpastian selalu ada—bukan hanya pada keamanan, tapi juga pada reaksi sosial. Dunia belum siap untuk berpindah tanpa jarak. Karena itu, aktivitas kami sempat dihentikan sementara.”

Seorang menteri muda mengangguk sambil mencatat sesuatu di tabletnya. “Lalu mengapa tarif teleportasi begitu tinggi? Satu juta rupiah untuk satu kali perjalanan, bukankah itu terlalu mahal untuk rakyat?”

Jatmika tersenyum tipis. “Harga itu mencakup konsumsi energi dan stabilitas sistem. Setiap perpindahan memerlukan aliran daya setara menyalakan seluruh gedung bertingkat selama beberapa menit.”
Ia tidak menambahkan satu hal penting: bahwa timnya telah menemukan cara baru untuk mengefisienkan daya—teknologi yang masih ia rahasiakan bahkan dari pemerintah.

Para pejabat dan anggota DPR memasuki gedung utama, jas mereka basah di ujung lengan, sepatu mengeluarkan bunyi lembap di lantai marmer.
Rombongan pertama, yang terdiri atas para menteri dan wakil rakyat, dipimpin langsung oleh Jatmika. Rombongan kedua, para akademisi, didampingi oleh John, yang kini lebih banyak diam, matanya memantulkan cahaya lampu laboratorium.

Di ruang inti teleportasi, cahaya dari artefak Ny Tien—program kecerdasan buatan yang menjadi pusat kendali sistem—berpendar lembut. Warna emas, biru, dan hijau silih berganti seperti denyut nadi buatan. Suara lembut Ny Tien terdengar dari speaker tersembunyi:

> “Koordinat telah diset. Perpindahan dimulai dalam tiga, dua, satu—”



Hujan masih turun di luar. Tapi di dalam ruangan itu, di tengah dentum halus listrik yang mengalir di udara, manusia sedang menantang salah satu batas tertuanya: jarak.
Anggota DPR mulai merancang sebuah undang-undang yang akan menjadi fondasi bagi masa depan teleportasi. Bagi mereka, teknologi ini bukan sekadar kemajuan ilmiah, tetapi sebuah infrastruktur baru yang mengubah cara manusia berpindah, bekerja, dan melintasi batas negara.

Dalam pembahasan awal, muncul satu kekhawatiran yang segera dianggap mendesak: arus perpindahan manusia yang tak lagi terdeteksi oleh mekanisme konvensional. Jika teleportasi dapat membawa seseorang melintasi jarak ratusan kilometer dalam sekejap, maka konsep perbatasan perlu didefinisikan ulang.

Karena itu, para legislator berpendapat bahwa kantor teleportasi harus memiliki fungsi serupa bandara. Petugas imigrasi perlu ditempatkan di setiap fasilitas—bukan hanya sebagai pemeriksa dokumen, tetapi sebagai penjaga keteraturan di tengah teknologi yang dapat memindahkan tubuh lebih cepat daripada birokrasi mampu memprosesnya.

Di balik diskusi itu, terselip kesadaran lain: bahwa hukum selalu tertinggal dari teknologi, dan usaha mereka sekarang hanyalah mencoba mengejar sesuatu yang sudah mulai mengubah dunia jauh sebelum paragraf pertama undang-undang itu ditulis.


---

---

Bulan Desember membawa hujan yang hampir tidak berhenti. Genangan air di jalan membuat kendaraan bergerak seperti mempertimbangkan setiap meter yang mereka tempuh. Di tengah perubahan musim itu, Jatmika baru saja membeli mobil listrik generasi terbaru—keputusan yang ia buat dengan diam-diam, seperti halnya perintahnya kepada John untuk menjual beberapa keping emas dari gua teleportasi. Bagi Jatmika, emas itu bukan sekadar nilai materi, tetapi jejak dari sebuah teknologi yang masih belum sepenuhnya dipahami asal-usulnya.

Sementara itu, gedung baru PT Sinar Ultraviolet akhirnya selesai dibangun. Seratus lantai menjulang di atas kota, seolah menjadi penanda bahwa dunia bergerak menuju sesuatu yang berbeda dari masa lalu. Namun, kabar yang lebih mengejutkan datang dari cabang perusahaan di Tiongkok: gedung mereka bahkan lebih besar, lebih kompleks, dan lebih berani dalam memanfaatkan teknologi teleportasi sebagai pusat operasional.

Dalam suasana itu, Jatmika sedang menata ulang struktur organisasinya. Ia menolak mengikuti pola hierarki perusahaan tradisional. Menurutnya, struktur yang adil bukan dibangun dari senioritas atau gelar, tetapi dari partisipasi nyata—dari jumlah tindakan yang benar-benar memberi dampak. Ia merancang sistem di mana posisi tertinggi diberikan kepada mereka yang paling banyak berkontribusi secara terukur.

Untuk menandai hierarki itu, ia memilih simbol-simbol yang tidak biasa. Di puncak ia menempatkan naga putih, simbol yang mewakili dirinya sendiri—bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga keseimbangan sistem. Di bawahnya ada naga merah untuk Pak Toni, dan naga hijau untuk kepala cabang Tiongkok, Prof. Wen Shuyuan. Tongkat safir merah diberikan kepada John, sebagai pengelola teknis dan konseptual teleportasi.

Setiap anggota dari Tim Sepuluh memakai logo kapak emas, tanda bagi mereka yang menjalankan pekerjaan lapangan dan riset intensif.

Sistem itu bekerja seperti algoritma moral: setiap kontribusi tercatat, setiap keputusan memiliki konsekuensi yang dapat diukur. Level naga dan safir memiliki otoritas tertinggi, tetapi otoritas itu bukan hak istimewa, melainkan hasil dari akumulasi tindakan yang tidak bisa dipalsukan.

Dalam pikiran Jatmika, inilah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa teknologi sebesar teleportasi tidak dikuasai oleh status, tetapi oleh kompetensi dan tanggung jawab—dua hal yang, baginya, jauh lebih dapat dipercaya daripada gelar atau jabatan.

---

Hari itu, Jatmika membuka rapat dengan para investor yang datang dari berbagai negara. Mereka bukan hanya penasaran, tetapi juga terpesona oleh prospek ekonomi yang ditawarkan teleportasi. Di antara mereka, seorang pengusaha Amerika menyampaikan ketertarikannya untuk membeli seluruh sistem—sebuah tawaran yang dalam konteks bisnis konvensional mungkin sulit ditolak.

Namun Jatmika menjawab dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa teleportasi bukan sekadar teknologi yang dapat dipindahkan seperti perangkat elektronik. Sistem itu, menurut pengamatannya, terikat pada kondisi tertentu di Indonesia—kondisi fisik ataupun nonfisik yang belum sepenuhnya dipahami. Ia tidak menyebutkannya sebagai rahasia dagang, tetapi lebih sebagai batasan fundamental yang masih menunggu penjelasan ilmiah.

Para investor menatapnya dengan ragu, tetapi juga dengan rasa ingin tahu yang tumbuh. Jatmika melanjutkan bahwa perusahaan sedang mengembangkan tahap berikutnya dari teleportasi: perpindahan lintas negara melalui titik-titik yang tidak lagi bergantung pada gua kuno, dan bahkan uji coba awal untuk lintas planet telah dimulai.

Ia tidak menyampaikan janji, hanya kemungkinan—dan kemungkinan itu sendiri sudah cukup untuk mengubah cara dunia menghitung masa depannya.

Bagi sebagian investor, itu adalah peluang. Bagi Jatmika, itu adalah pengingat bahwa setiap teknologi besar selalu membawa konsekuensi yang lebih luas daripada yang mampu diperkirakan oleh pemiliknya. Dan untuk saat ini, ia memilih untuk menjaga agar pusat gravitasi teknologi itu tetap berada di tanah tempat ia menemukannya.


---
Sore hari di lantai 60 gedung baru PT. Sinar Ultraviolet.
Hujan turun tipis, seperti bayangan yang jatuh perlahan di atas kaca. Dari kejauhan, lampu kota berpendar seperti jaringan saraf yang hidup.

Jatmika berdiri menatap jendela, sementara John duduk di kursi, memegang secangkir kopi yang mulai mendingin.

“Perusahaan Amerika itu datang lagi,” kata John akhirnya. “Penawaran mereka naik dua kali lipat. Kalau dihitung secara kasar… kita bisa membiayai penelitian puluhan tahun ke depan.”

Jatmika tersenyum samar, tidak memalingkan pandangan dari hujan. “Ketika mereka bilang ‘membeli sistem teleportasi’, apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Mesin? Rumusnya? Atau… kendali atasnya?”

John mengangkat bahu. “Dalam bisnis, semua itu dianggap sama.”

“Ya,” Jatmika menanggapi pelan. “Itulah masalahnya. Mereka mengira teleportasi ini adalah sesuatu yang sepenuhnya dapat dimiliki. Mereka tidak mengerti bahwa apa yang kita temukan tidak pernah sepenuhnya milik kita. Ia hanya kebetulan berada di tangan kita dulu.”

John menatapnya lebih serius. “Jadi jawabannya tetap tidak?”

“Tidak,” kata Jatmika tegas tetapi lembut. “Teknologi ini tidak dijual. Bukan karena nasionalisme… tapi karena setiap teknologi radikal membawa tanggung jawab. Kalau kita menjualnya, kita sama saja melepaskan tanggung jawab itu kepada orang yang mungkin tak siap menanggung konsekuensinya.”

John menghela napas. “Kadang aku bertanya-tanya… apakah manusia pernah benar-benar siap?”

Jatmika tertawa kecil. “Pertanyaan yang bagus. Mungkin tidak. Tapi setidaknya kita bisa memilih siapa yang pertama kali memikulnya.”

Ia kembali ke meja, membuka sebuah berkas. “Kita sudah menerima satu juta karyawan, dan kita akan membuka lowongan lagi. Koki, pramusaji, kebersihan, satpam. Bahkan yang berusia 90 tahun pun kita terima jika masih mampu bekerja.”

John mengernyit, separuh tersenyum. “Sistem kita mulai terdengar seperti eksperimen sosial.”

“Mungkin memang begitu,” jawab Jatmika. “Jika teleportasi mengubah cara manusia bergerak, bukankah wajar kalau kita mulai memikirkan kembali cara manusia bekerja?”

Ia menambahkan, “Aku juga ingin sebagian pekerja dilatih secara militer. Bukan untuk kekerasan, tapi untuk disiplin. Bukan disiplin yang menindas… tapi yang menata.”

John memutar cangkirnya. “Kalau orang-orang tahu kau berpikir sejauh itu, mereka akan bilang kau ingin membangun peradaban baru.”

“Bukan,” kata Jatmika pelan. “Aku hanya ingin memastikan teknologi ini tidak membuat kita kehilangan jati diri. Kalau sampai kita berubah, setidaknya kita berubah dengan sadar, bukan karena didorong oleh ketamakan atau ketakutan.”

John termenung lama sebelum berkata, “Dan perusahaan Amerika itu… mereka belum mengerti itu?”

“Mereka melihat teleportasi sebagai komoditas,” jawab Jatmika. “Aku melihatnya sebagai warisan. Sesuatu yang harus dijaga, bukan diperdagangkan.”

Hujan masih turun, lebih pelan dari sebelumnya. Seolah dunia pun sedang mempertimbangkan kata-kata itu.

“Kadang,” kata John, “aku merasa kita tak sedang membangun perusahaan… tapi sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari kita.”

Jatmika menatapnya. “Mungkin memang begitu, John. Dan itu sebabnya kita tidak bisa menjualnya. Apa yang lahir di tanah ini, akan diwariskan kembali kepada anak-anak bangsa ini. Itu bukan slogan. Itu… keseimbangan.”

Dan untuk sejenak, suara hujan yang jatuh di kaca adalah satu-satunya suara yang mengisi ruangan—seperti jeda panjang dalam eksperimen besar yang belum selesai.

---

Iklan itu muncul di televisi nasional tanpa musik latar, hanya suara narator yang datar namun tegas:

> “ANDA TELAH MENGANGGUR SEKIAN LAMA.
ANDA SUDAH BOSAN MENGIRIM CV TANPA JAWABAN.
PT. SINAR ULTRAVIOLET MEMBUKA KESEMPATAN BARU.
USIA BUKAN BATASAN.
YANG KAMI BUTUHKAN ADALAH SEMANGAT BERPARTISIPASI.
GAJI HANYA ANGKA.
PARTISIPASI ANDA ADALAH NILAI YANG SEBENARNYA.
DATANGLAH MENGENAKAN BAJU OLAHRAGA.”



Tak ada janji berlebihan. Tak ada visual dramatis. Hanya pesan yang terasa seperti undangan untuk ikut serta dalam eksperimen sosial berskala besar.


---

Siang itu, langit tampak seperti lembar kaca abu-abu yang belum dipoles.

Gerimis menggantung, namun ribuan pelamar berdiri berbaris di depan gedung PT Sinar Ultraviolet—sebuah struktur 100 lantai yang memantulkan siluet kota seperti memori yang disusun ulang.

Mereka datang dengan baju olahraga, membawa CV dalam map plastik yang sudah berkali-kali dipakai sebelumnya. Di antara kerumunan, seorang lelaki renta berusia 90 tahun berdiri tegak. Nafasnya pendek, tapi matanya tak kehilangan fokusnya.

Beberapa pelamar muda melempar cibiran kecil.

“Serius, Pak?” bisik seseorang.
“Tangga seratus lantai…” gumam yang lain.

Lelaki tua itu hanya tersenyum tipis, seolah komentar itu hanyalah angin kecil yang lewat di antara suara kota.


---

Di depan barisan, seorang instruktur berseragam militer berdiri.

Ia memegang pengeras suara yang mengeluarkan dentingan statis sebelum suaranya terdengar.

“Letakkan semua CV di meja registrasi. Tidak akan ada wawancara. Tidak ada tes tertulis. Hanya satu evaluasi: kemampuan mengikuti instruksi.”

Pelamar mulai bergerak, tumpukan CV tumbuh cepat di atas meja panjang yang tampak seperti alat ukur diam terhadap nasib ribuan orang.

“Berbaris rapi!” teriak instruktur.
“Tes akan dimulai tepat pukul 07.00.”

Jam digital di depan gedung menunjukkan 06.56.
Hujan rintik-rintik seakan menunggu aba-aba.


---

Tepat pukul 07.00, peluit dibunyikan.

Instruktur berbicara lagi:

“Tugas kalian sederhana.
Naiki tangga gedung ini sampai lantai 100.
Lalu turun kembali.
Siapa pun yang tidak mampu menyelesaikan, dinyatakan gugur.”

Tidak ada yang mempertanyakan mengapa tesnya demikian.
Mungkin karena di perusahaan ini, batas kemampuan bukan hanya dinilai dari tenaga fisik, tapi dari cara seseorang merespons sesuatu yang tampak tidak masuk akal—seperti teleportasi itu sendiri.

Sebagian peserta saling berbisik, mencoba merumuskan strategi.
Yang lain diam, menyiapkan napas.
Lelaki tua itu berdiri paling belakang, kedua tangannya meremas topi kecil di genggamannya.

Ketika peluit dibunyikan, barisan meletup seperti gelombang energi. Para pelamar mulai berlari menuju pintu tangga darurat, langkah mereka bergema seperti denyut nadi raksasa yang baru terbangun.


---
---

Tes Dimulai

Pada menit-menit pertama, suara langkah kaki para peserta memenuhi lorong tangga darurat seperti gema dari ruang mesin raksasa yang baru dihidupkan. Tidak ada kipas angin, tidak ada AC; dinding beton menyerap panas tubuh ratusan orang dan memantulkannya kembali seperti gelombang tak terlihat.

Di lantai 5, peluh mulai bercucuran dari wajah sebagian peserta. Seseorang mengipas-ngipas dirinya dengan CV kosong yang baru saja dikumpulkan. Aroma keringat bercampur debu membuat udara terasa lebih berat dari biasanya.

Tak ada yang diberikan selain instruksi tunggal: naik sampai lantai 100, lalu turun kembali.

Tidak ada air minum.
Tidak ada kursi untuk berhenti.
Tidak ada musik penyemangat seperti dalam acara maraton televisi.

Kesuksesan tes ini, sebagaimana teknologi teleportasi, tampaknya bergantung pada kemampuan untuk mempertahankan ritme yang nyaris tidak masuk akal—ritme yang menguji hubungan seseorang dengan tubuhnya sendiri.


---

Lelaki 90 Tahun

Di antara peserta, langkah paling lambat tapi paling konsisten adalah milik lelaki tua berusia 90 tahun itu. Tangannya menelusuri pagar besi sebagai penyangga, dan setiap lima langkah ia berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk menstabilkan napasnya.

Beberapa peserta yang melewatinya menatap iba, sebagian lainnya memandangnya seperti anomali yang menantang logika rekrutmen modern.

Dan entah bagaimana, ia tetap melangkah.
Lantai demi lantai.
Seolah ujian ini bukan tentang kemampuan fisik, tapi tentang hubungan seseorang dengan waktu.


---

Lantai 37: Titik Putus

Di lantai 37, puluhan peserta menyerah dan duduk di anak tangga, memegang lutut sambil menunduk. Ada yang memaki keputusan datang ke sini. Ada yang bertanya-tanya apakah perusahaan sengaja menciptakan tes yang “mustahil” untuk melihat siapa yang tetap mencoba.

Seorang pemuda yang berhenti hampir terjatuh saat mencoba berdiri kembali. Ia melihat ke atas—dan melihat lelaki 90 tahun itu menyusulnya perlahan, langkah demi langkah.

Tatapan mereka bertemu.
Tanpa kata-kata, si pemuda kembali berdiri.
Entah apa yang ia lihat pada lelaki itu—keteguhan, pengingat tentang martabat, atau kemungkinan kecil bahwa hidup bisa berubah di lantai berikutnya.


---

Lantai 100

Begitu mencapai lantai 100, tidak ada panitia yang menunggu.
Tidak ada bendera, tidak ada tepuk tangan.

Hanya sebuah kertas A4 ditempel di dinding:

> “TURUN KEMBALI.”



Bagi sebagian orang, ini lebih menghancurkan daripada naik seratus lantai.
Beberapa berdiri lama memandangi kertas itu, seolah mencoba membaca makna tersembunyi di balik kalimat sederhana tersebut.

Lelaki 90 tahun itu tiba belakangan, tubuhnya bergetar, namun matanya memandang tulisan itu dengan ketenangan yang hanya dimiliki seseorang yang telah melewati kesulitan yang lebih besar dalam hidupnya.

Ia mengangguk kecil, lalu mulai menuruni tangga.


---

Penurunan: Ujian Sebenarnya

Jika naik menguji kekuatan, maka turun menguji kestabilan. Lutut mulai lemah, telapak kaki terasa terbakar, dan pandangan sebagian peserta mulai berkunang-kunang.

Beberapa peserta mengambil risiko dengan berlari menuruni tangga agar “mencapai garis akhir lebih cepat,” hanya untuk hampir terpeleset di tikungan sempit.

Sementara itu, langkah lelaki tua itu tetap sama: perlahan, terukur, dan penuh kehati-hatian.

Di lantai 12, seorang perempuan muda hampir pingsan. Ia bersandar ke dinding, napasnya terputus-putus. Lelaki tua itu berhenti di sampingnya, menawarkan saputangannya yang basah keringat.

“Masih jauh, Nak,” katanya pelan, “tapi tidak perlu cepat.”

Kata-kata sederhana itu membuat perempuan itu kembali berdiri.


---

Kembalinya Ke Lobi

Ketika peserta pertama menjejakkan kaki kembali di lobi, instruktur militer hanya mengangguk.

Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada drama.

Nama peserta hanya dicatat.
Begitu saja.
Tes ini tidak mengagungkan siapa pun, tidak merendahkan siapa pun.
Ia hanya memperlihatkan siapa yang bersedia bertahan.

Dan saat lelaki 90 tahun itu akhirnya tiba—berjalan dengan langkah kecil, namun tetap tegak—ruangan yang dingin dan formal itu menjadi sedikit berbeda.

Seolah ketahanan dapat hadir dalam banyak bentuk, bukan hanya milik mereka yang muda dan bertenaga.


---

---

Tes Kejujuran

Pada menit ke-120 sejak tes dimulai, sistem pemantau internal mengubah pola laporan. Kamera di setiap tikungan tangga—yang awalnya hanya merekam jalannya proses—mulai menandai anomali: peserta yang tiba-tiba muncul kembali di lantai bawah meskipun belum pernah terekam melewati lantai 70, 80, atau 90.

Algoritma pengawasan yang disusun Ny Tien tidak dibuat untuk menghukum, hanya untuk mencatat. Tapi pada pagi itu, catatan itu menjadi bukti bahwa beberapa peserta memilih jalan pintas. Mereka turun sebelum mencapai lantai 100.

Para instruktur diam. Mereka tidak mengejar, tidak meneriaki, tidak menegur. Tes ini memang mengandung satu variabel tersembunyi: kejujuran dalam tekanan.

Ketika peserta curang itu tiba di lobi dengan napas terengah-engah, beberapa bahkan berpura-pura kelelahan ekstrem, satu instruktur hanya berkata:

> “Silakan duduk di area sebelah kiri.”



Mereka tidak tahu bahwa area itu disiapkan bagi peserta yang akan didiskualifikasi.

Di sisi lain, peserta yang pingsan digotong ke ruang kesehatan.
Tidak ada kata-kata yang menyalahkan.
Namun mereka tetap dianggap gagal tes pagi itu.


---

Menjelang Tengah Hari

Sementara matahari bergerak ke titik tertinggi dan hujan mulai berhenti, sisa peserta—jumlahnya tidak lebih dari seperlima total awal—masih berjuang menyelesaikan penurunan. Ketika jam hampir menyentuh pukul 12, peserta terakhir akhirnya menjejak lantai dasar.

Ruang lobi terasa seperti tempat yang baru saja dilewati badai: wajah pucat, napas tersengal, CV berserakan dalam tumpukan besar di meja resepsionis.

Instruktur memberikan kode ke Ny Tien melalui terminal kecil. Dalam beberapa detik, sistem menandai siapa saja yang menamatkan, siapa yang gagal, dan siapa yang curang. Semuanya terekam tanpa emosi—seperti hukum fisika sederhana.


---

Pemeriksaan CV

Jatmika dan tim HRD memasuki ruangan evaluasi. Mereka duduk mengelilingi meja panjang, layar besar di dinding menampilkan nama-nama peserta yang lulus.

CV para peserta yang tersisa dikumpulkan kembali.

Seorang staf HRD tiba-tiba mengernyit.

“Pak… ini ada beberapa CV yang… aneh.”

Jatmika menoleh.
“Kenapa?”

Staf itu menunjukkan dua lembar CV yang masih bersih dari keringat atau lipatan.

“Orang-orang ini masih bekerja di perusahaan kita, Pak. Mereka staf operasional, tapi ikut mendaftar sebagai pelamar baru.”

Jatmika mengambil kedua CV itu, membaca sebentar. Informasi diri, riwayat pendidikan, nomor KTP—semuanya asli.

“Apa tujuan mereka ikut tes ini?” tanya staf HRD lain.

Pertanyaan itu menggantung di udara, seolah menuntut jawaban lebih dalam dari sekadar alasan administratif.

Jatmika menghela napas pelan, seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan skenario-skenario di kepala.

“Barangkali,” katanya akhirnya, “mereka ingin kesempatan kedua. Atau mungkin mereka ingin membuktikan sesuatu… tentang diri mereka sendiri. Tes ini tidak hanya tentang mendapatkan pekerjaan. Bagi sebagian orang, mungkin ini cara untuk mengukur nilai mereka.”

John, yang berdiri di belakang, menambahkan lirih,
“Atau mereka takut tertinggal. Dunia berubah terlalu cepat dalam dua tahun terakhir. Teleportasi, kantor baru, ekspansi besar-besaran… tidak semua orang tahu apakah posisi mereka masih aman.”

Jatmika menatap layar daftar kelulusan. Ada keheningan kecil, seperti jeda antara satu keputusan penting dan keputusan berikutnya.

---
Hari itu, bagian HRD bekerja seperti pusat kendali lalu lintas yang mencoba menata arus manusia. Dian Sastro Wardoyo, sebagai kepala divisi, memimpin proses seleksi dengan ketelitian yang hampir menyerupai eksperimen ilmiah. Setiap CV dibaca bukan hanya sebagai daftar keterampilan, tetapi sebagai jejak keputusan hidup: usia, pengalaman kerja, jeda pengangguran, dan alasan berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.
Proses ini tidak selesai dalam sehari. Dibutuhkan waktu hampir seminggu untuk memetakan kecocokan tiap peserta—bukan hanya dengan posisi yang tersedia, tetapi dengan masa depan perusahaan itu sendiri.
PT Sinar Ultraviolet bukan lagi perusahaan biasa. Ia telah berubah menjadi ekosistem: sebagian orang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan, sebagian lain untuk menjelajah ketidakpastian.
Di tengah proses seleksi itu, Jatmika mengusulkan satu variabel baru.
Ia tidak menyampaikannya sebagai kebijakan, melainkan sebagai pilihan.
“Kami akan membagi dua jalur,” katanya dalam rapat internal.
“Jalur pertama: karyawan. Mereka bekerja seperti perusahaan pada umumnya—operasional, produksi, layanan, manajemen.
Jalur kedua: petarung.”
Beberapa staf HRD terdiam. Kata itu terdengar keras, hampir primitif.
Jatmika melanjutkan, suaranya tetap datar.
“Petarung bukan untuk berkelahi. Mereka menjalankan misi perusahaan—eksplorasi gua, pengamanan artefak, pengujian lokasi teleport, dan tugas-tugas yang tidak bisa dimasukkan ke dalam deskripsi kerja biasa. Risiko mereka lebih besar. Karena itu, kompensasinya juga berbeda.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:
“Dan tidak semua orang cocok untuk jalur ini. Bahkan yang kuat secara fisik sekalipun.”
Dengan demikian, seleksi tidak lagi hanya tentang lulus atau gagal, melainkan tentang memilih jenis masa depan.
Hari pengumuman tiba.
Para peserta yang tersisa berkumpul di aula utama. Tidak ada musik pembangkit semangat. Tidak ada tepuk tangan pembuka. Hanya layar besar yang menampilkan logo PT Sinar Ultraviolet dan daftar nama yang belum muncul.
Jatmika berdiri di depan mereka.
“Hari ini,” katanya, “kami tidak hanya mengumumkan siapa yang diterima bekerja. Kami juga mengumumkan siapa yang dipercaya.”
Ia menjelaskan kembali dua jalur itu, dengan bahasa yang sederhana dan tanpa glorifikasi.
“Karyawan akan membangun perusahaan ini agar tetap berdiri.
Petarung akan membawa perusahaan ini ke tempat-tempat yang belum kita pahami sepenuhnya.”
Nama-nama mulai muncul di layar, satu per satu, terbagi dalam dua kolom.
Beberapa peserta tersenyum lega ketika melihat namanya tercantum sebagai karyawan.
Sebagian lain terdiam lama ketika melihat namanya berada di kolom petarung—bukan karena bangga, tetapi karena menyadari konsekuensi yang menyertainya.
Dan ada pula yang tidak menemukan namanya sama sekali.
Jatmika menutup pengumuman dengan satu kalimat yang tidak tercantum di poster rekrutmen mana pun:
“Perusahaan ini tidak mencari orang yang paling kuat atau paling pintar. Kami mencari orang yang memahami pilihan yang mereka ambil—dan bersedia menanggung akibatnya.”
Tidak ada tepuk tangan.
Namun keheningan itu justru menjadi tanda bahwa kata-katanya dipahami.

Nama pria itu muncul paling bawah dalam kolom Petarung.
Usianya tercatat: 90 tahun.
Beberapa peserta lain menoleh, seolah sistem telah melakukan kesalahan. Namun Ny. Tien tidak pernah salah dalam membaca data biologis. Detak jantungnya stabil. Kepadatan tulangnya di atas rata-rata pria setengah usianya. Ototnya tidak besar, tetapi serabutnya padat—sejenis kekuatan yang tidak berasal dari latihan kebugaran modern, melainkan dari kebiasaan bertahan hidup terlalu lama.
Jatmika memanggilnya ke depan.
“Bapak tahu,” katanya hati-hati, “jalur ini bukan pekerjaan biasa.”
Pria itu mengangguk. Gerakannya pelan, tetapi tidak ragu.
“Saya tahu,” jawabnya. “Karena itu saya memilihnya.”
Latar belakangnya sederhana. Mantan tentara, pensiun sebelum kata pascatrauma dikenal sebagai diagnosis. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam rutinitas yang jelas: bangun, bergerak, berjaga, tidur. Setelah pensiun, rutinitas itu menghilang satu per satu—hingga yang tersisa hanya rumah yang terlalu sunyi.
Istrinya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak ada anak yang tinggal bersamanya. Waktu menjadi ruang kosong yang sulit diisi.
“Saya sudah mencoba berhenti,” katanya kemudian, seolah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan.
“Tapi tubuh saya tidak tahu caranya.”
Tes fisik membuktikan ucapannya. Ia menyelesaikan tanjakan tangga dengan langkah konstan, tanpa tergesa, tanpa berhenti. Peserta lain berlari, lalu kehabisan napas. Ia berjalan—dan terus berjalan.
Bukan karena ingin cepat sampai, tetapi karena ia tidak melihat alasan untuk berhenti.
John, yang menyaksikan dari balik kaca observasi, berbisik pada Jatmika, “Dia seperti mesin yang sudah lama disetel sempurna.”
Jatmika menggeleng pelan.
“Bukan mesin,” katanya. “Dia orang yang belum menemukan tempat untuk pulang.”
Ketika ditanya mengapa memilih jalur petarung, pria itu tidak menjawab dengan kata-kata besar.
“Kalau saya diam terlalu lama,” katanya, “saya mulai mengingat hal-hal yang tidak bisa diperbaiki.”
Ia tidak menyebut perang. Tidak menyebut kehilangan. Ia hanya menyebut diam—seolah itu lebih berbahaya daripada medan apa pun yang pernah ia hadapi.
Ny. Tien menandai satu catatan tambahan dalam profilnya:
Subjek menunjukkan stabilitas mental tinggi dalam kondisi berisiko.
Motivasi bukan ambisi, melainkan kontinuitas eksistensial.
Dalam bahasa manusia: ia tidak ingin menjadi penonton dari sisa hidupnya sendiri.
Saat pengumuman resmi selesai, Jatmika mendekatinya sekali lagi.
“Bapak yakin?” tanyanya. “Misi bisa membawa Anda ke tempat yang… tidak tercatat.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Dulu, semua tempat yang penting juga tidak tercatat,” katanya.
“Kalau harus berhenti di suatu tempat, saya lebih memilih tempat yang masih membutuhkan saya.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Jatmika tidak melihat teknologi sebagai pusat cerita ini. Ia melihat manusia—dan alasan mengapa, bahkan di usia sembilan puluh, seseorang masih memilih langkah ke depan dibandingkan kursi yang nyaman.
Tidak semua peserta menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Beberapa berdiri dari kursinya. Ada yang bersuara lantang, ada pula yang memilih nada getir—keduanya sama-sama lahir dari kekecewaan yang tak sempat direncanakan.
“Kami melamar sebagai karyawan,” kata seorang pria muda. “Bukan sebagai petarung.”
Jatmika mendengarkan tanpa memotong. Ia telah belajar bahwa kemarahan sering kali bukan tentang apa yang ditolak, melainkan tentang harapan yang tidak pernah diuji sejak awal.
“Posisi karyawan sudah penuh,” katanya akhirnya. “Bukan karena kalian kurang mampu, tapi karena struktur perusahaan tidak bisa menampung semua bentuk keinginan sekaligus.”
Seorang peserta lain menyela, “Jadi kami dipaksa?”
Jatmika menggeleng pelan.
“Tidak. Kalian diberi pilihan yang tersisa.”
Ruangan menjadi sunyi dengan cara yang berbeda—bukan karena semua orang setuju, melainkan karena mereka menyadari bahwa tidak semua pintu ditutup dengan suara keras. Ada pintu yang ditutup dengan kejelasan.
“Jika kalian ingin mundur,” lanjut Jatmika, “tidak ada konsekuensi apa pun. Tidak ada catatan buruk. Tidak ada stigma. Tapi jika kalian memilih bertahan, maka kalian harus menerima peran yang dibutuhkan perusahaan saat ini, bukan peran yang kalian bayangkan.”
Beberapa keluar ruangan tanpa menoleh. Yang lain tetap duduk, menimbang sesuatu yang lebih berat dari sekadar jabatan: makna keberlanjutan.
Jatmika kemudian menampilkan struktur pangkat di layar besar.
Bukan bagan organisasi biasa.
Tidak ada kotak-kotak kaku, tidak ada anak panah naik turun berdasarkan usia atau masa kerja.
Hanya simbol.
Kapak Emas — pangkat awal petarung.
Mereka yang menjalankan misi, menjaga titik teleportasi, dan memasuki ruang yang belum dipetakan.
Di atasnya, pangkat-pangkat lain—nama-nama yang tidak merujuk pada jabatan, melainkan pada tanggung jawab.
Dan paling atas, hanya satu simbol:
Naga.
“Kapak Emas bukan tanda kekerasan,” kata Jatmika. “Ia tanda keputusan. Kalian memotong jalan yang belum pernah dilalui.”
“Dan Naga?” tanya seseorang.
Jatmika berhenti sejenak, seolah ingin memastikan bahwa kata-kata berikutnya tidak terdengar seperti janji kosong.
“Naga bukan pemimpin karena kekuasaan,” katanya.
“Ia pemimpin karena ia bertahan cukup lama untuk memahami akibat dari setiap perintah.”
Ia menatap para peserta satu per satu.
“Setiap misi, setiap temuan, setiap keputusan akan dicatat oleh sistem. Pangkat tidak diberikan—ia muncul, sebagai konsekuensi dari apa yang kalian lakukan ketika tidak ada yang menonton.”
Ny. Tien menambahkan dengan suara netral, nyaris tanpa emosi:
Kenaikan pangkat berbasis partisipasi, risiko, dan integritas keputusan.
Dalam bahasa manusia: tidak semua yang kuat naik pangkat. Hanya yang konsisten.
Sebagian peserta masih tampak ragu. Yang lain menunduk, mencerna.
Petarung lansia berdiri tanpa suara, memegang lambang Kapak Emas di tangannya sejenak, lalu mengangguk.
“Ini cukup,” katanya. “Saya tidak butuh lebih.”
Jatmika menatapnya dan menyadari sesuatu yang sederhana namun mengganggu:
Tidak semua orang mengejar Naga.
Sebagian hanya ingin tempat di mana langkah mereka masih berarti.
Dan bagi perusahaan yang bermain di batas teknologi dan mitologi, itu mungkin modal paling berharga.
Misi pertama tidak diawali dengan perjalanan, melainkan dengan tanda tangan.
Satu per satu para Kapak Emas membubuhkan nama mereka pada perjanjian yang disusun dengan bahasa yang nyaris tanpa metafora. Isinya sederhana, hampir kering: menjaga kerahasiaan perusahaan, bertanggung jawab atas setiap konsekuensi, dan menerima bahwa tidak semua akibat bisa diprediksi sebelum sebuah pintu dibuka.
Tidak ada ancaman tertulis. Tidak ada janji imbalan yang dilebihkan. Justru itulah yang membuat dokumen itu terasa berat. Setiap kalimat seolah menyiratkan bahwa ketidaktahuan bukanlah pembelaan.
Jatmika memperhatikan wajah-wajah mereka. Ia tahu, bagi sebagian orang, misi ini akan terasa seperti pekerjaan. Bagi yang lain, seperti takdir yang akhirnya menemukan bentuk.
Di ruang rapat utama, Jatmika duduk bersama Pak Toni dan Prof. Wen Shuyuan. Di hadapan mereka, proyeksi tiga dimensi berputar perlahan—bukan peta bumi, melainkan susunan planet yang selama ini hanya dikenal lewat buku pelajaran dan teleskop.
“Gua teleportasi di China,” kata Prof. Wen, “memiliki sesuatu yang tidak kami temukan di sini.”
Ia menampilkan gambar dinding gua: pahatan kuno, garis-garis yang tidak menyerupai rasi bintang, melainkan urutan. Planet-planet digambarkan berjajar, bukan sebagai simbol astrologi, melainkan seperti tujuan perjalanan.
“Kami awalnya mengira ini mitologi,” lanjutnya. “Tapi Ny. Tien membaca pola koordinat.”
Ny. Tien segera menimpali, suaranya datar namun presisi:
Koordinat valid terdeteksi. Titik tujuan: orbit Jupiter. Probabilitas kesalahan rendah. Kendala utama: transmisi sinyal lintas jarak ekstrem.
John, yang ikut mendengarkan dari sisi ruangan, bertanya, “Jadi teleportasi tidak cukup hanya dengan energi?”
“Energi selalu cukup,” jawab Jatmika pelan. “Yang sering tidak cukup adalah arah.”
Masalahnya bukan pada kemampuan membuka gerbang, melainkan pada menjaganya tetap sinkron. Semakin jauh tujuan, semakin rapuh hubungan antara titik asal dan titik tujuan. Jupiter bukan sekadar jauh; ia berada di wilayah di mana sinyal menjadi konsep yang tidak stabil.
“Kami butuh satelit yang lebih kuat,” kata Prof. Wen. “Bukan hanya untuk navigasi, tapi untuk mempertahankan kontinuitas.”
Jatmika mengangguk. Ia sudah menduga ke arah mana pembicaraan ini akan berujung.
“Dan sekarang,” lanjut Prof. Wen, “kami memilikinya.”
Ia menjelaskan kerja sama yang baru saja terjalin dengan sebuah perusahaan antariksa asal Amerika. Kesepakatannya tidak menyangkut teknologi teleportasi—itu tetap dirahasiakan—melainkan peminjaman infrastruktur satelit hingga orbit Jupiter.
Pak Toni tersenyum tipis. “Ironis,” katanya. “Mereka pikir kita hanya ingin meminjam mata. Padahal kita sedang membangun jalan.”
Jatmika memandang kembali ke layar, ke planet raksasa yang berputar dalam diam.
Teleportasi ke Jupiter bukan sekadar pencapaian teknis. Itu adalah pernyataan filosofis: bahwa manusia tidak lagi bertanya apakah kita bisa pergi sejauh itu, melainkan apa yang pantas kita bawa ketika sampai.
Ia menoleh ke para Kapak Emas yang menunggu di luar ruang rapat.
“Misi pertama,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain, “bukan tentang tiba di Jupiter.”
Ia berhenti sejenak.
“Melainkan tentang memastikan bahwa ketika kita membuka pintu sejauh itu, kita masih mengenali siapa diri kita saat melangkah masuk.”
Permintaan itu datang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai koreksi logis.
Pengusaha satelit asal Amerika itu, setelah mengetahui bahwa satelitnya akan digunakan bukan sekadar untuk navigasi antarbenua, melainkan sebagai penopang teleportasi menuju planet luar, mengajukan satu syarat tambahan: para penelitinya harus dilibatkan.
“Bukan untuk mengendalikan,” katanya dalam sambungan konferensi, “hanya untuk memahami.”
Pak Toni langsung menyatakan keberatannya. Kesepakatan awal, menurutnya, jelas dan tertutup. Satelit dipinjam, data tetap milik mereka. Tidak ada klausul tentang partisipasi manusia tambahan.
“Teknologi ini belum stabil secara sosial,” ujar Pak Toni. “Menambah pihak berarti menambah variabel.”
Prof. Wen Shuyuan memandang persoalan itu dari sudut yang berbeda. Ia tidak membantah risiko, tetapi menghitung waktu.
“Mencari rekanan baru,” katanya, “berarti mengulang negosiasi, pengujian kompatibilitas sistem, dan membangun kepercayaan dari nol. Itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Jupiter tidak akan menjauh, tapi momentum kita bisa hilang.”
Perdebatan itu tidak menghasilkan kesimpulan. Karena itu, Jatmika memutuskan untuk tidak menunggu.
Ia berangkat ke Amerika bukan sebagai ilmuwan, juga bukan semata sebagai pengusaha, melainkan sebagai seseorang yang memahami bahwa teknologi sebesar ini tidak bisa hanya dimiliki—ia harus dinegosiasikan.
Pertemuan dilakukan di ruang yang dindingnya penuh layar orbit dan lintasan satelit. Sang pengusaha tampak lebih tertarik daripada curiga. Ia bukan orang yang ingin mencuri rahasia; ia ingin berada di dalam cerita sejak awal.
Jatmika tidak langsung berbicara tentang Jupiter. Ia berbicara tentang struktur.
“Perusahaan kami,” katanya, “tidak dibangun berdasarkan kepemilikan, melainkan partisipasi.”
Ia lalu mengajukan proposal yang tidak tercantum dalam draf mana pun sebelumnya.
Satelit dipinjamkan tanpa biaya. Sebagai gantinya, sang pengusaha—dan perusahaannya—menjadi bagian dari PT. Sinar Ultraviolet. Bukan sebagai pemegang kendali, melainkan sebagai simpul dalam jaringan yang lebih besar.
“Dan akses teleportasi?” tanya sang pengusaha.
“Diberikan,” jawab Jatmika. “Dengan batasan yang sama seperti kami membatasi diri sendiri.”
Tidak ada janji eksploitasi. Tidak ada klaim supremasi teknologi. Yang ditawarkan adalah kesempatan untuk hadir—pada sesuatu yang mungkin akan mengubah cara manusia memahami jarak.
Sang pengusaha terdiam lama. Ia memahami risikonya. Ia juga memahami bahwa menolak berarti hanya akan membaca sejarah dari luar.
Akhirnya ia mengangguk.
“Kami setuju.”
Ketika Jatmika kembali, Pak Toni masih terlihat khawatir.
“Kita membuka pintu terlalu lebar,” katanya.
Jatmika menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya. “Kita hanya memilih siapa yang berdiri di ambang pintu bersama kita.”
Dan di kejauhan, Jupiter tetap berputar, tak menyadari bahwa keputusan di sebuah ruang rapat di bumi telah membuatnya, untuk pertama kalinya, menjadi tujuan yang sungguh mungkin.
Pelatihan para petarung bertitel Kapak Emas dimulai tanpa seremoni.
Tidak ada pidato heroik, tidak ada janji kejayaan. Jatmika hanya mengatakan satu hal: bahwa siapa pun yang berada di tempat itu telah memilih jalan yang tidak bisa dijalani setengah-setengah.
Pelatihan dibagi menjadi tiga lapis yang tidak terpisah: fisik, akademik, dan bertahan diri. Ketiganya dirancang bukan untuk menciptakan prajurit yang patuh, melainkan individu yang mampu membuat keputusan di bawah tekanan ekstrem.
Di antara para peserta, dua nama segera menonjol.
Risky Mandang, karyawan internal yang sebelumnya nyaris tak diperhitungkan, menunjukkan nilai tertinggi dalam pengujian teori dan adaptasi lapangan. Ia bukan yang terkuat, tetapi ia selalu tahu kapan harus berhenti, kapan harus maju, dan kapan harus mengorbankan tenaga untuk hari berikutnya.
Yang lain adalah Joesoef, mantan tentara berusia sembilan puluh tahun. Tubuhnya tidak lagi muda, tetapi geraknya efisien—tanpa pemborosan. Ia tidak berlari paling cepat, namun selalu tiba. Seolah tubuhnya telah lama berdamai dengan rasa sakit.
Untuk bela diri, Jatmika mendatangkan seorang ahli mixed martial art dari Uzbekistan. Pria itu tidak banyak bicara. Ia mengajarkan bahwa bertarung bukan tentang menyerang, melainkan tentang bertahan cukup lama hingga lawan membuat kesalahan.
Latihan dijalankan tanpa kompromi.
Para peserta dipaksa berlari menanjak gunung hingga napas mereka terasa seperti api, lalu turun kembali dengan kaki gemetar. Mereka berenang menyusuri sungai berarus deras, melompat dari air terjun tanpa jaminan pendaratan yang sempurna. Dalam satu sesi tertentu, mereka bahkan harus berhadapan dengan beruang dari Rusia—bukan untuk mengalahkannya, melainkan untuk belajar membaca ketakutan mereka sendiri.
Tidak ada pendingin udara. Tidak ada batas waktu resmi. Tidak ada akhir yang jelas.
Hari demi hari, tubuh mereka berubah. Tetapi yang berubah lebih dahulu adalah cara mereka memahami kelelahan. Rasa sakit tidak lagi menjadi sinyal untuk berhenti, melainkan informasi—tentang batas, tentang risiko, tentang konsekuensi.
Beberapa peserta mundur. Tidak sedikit yang terluka. Namun yang bertahan mulai memahami bahwa pelatihan ini tidak dirancang untuk membuat mereka kuat.
Pelatihan ini dirancang untuk mengajarkan satu hal sederhana namun kejam:
bahwa hidup memang hanya sekali, tetapi pilihan—dan tanggung jawab atas pilihan itu—datang setiap hari, tanpa akhir.
Dan bagi para Kapak Emas, latihan bukan lagi fase persiapan.
Ia telah menjadi cara hidup.
Para peneliti utusan dari pengusaha Amerika datang dalam jumlah yang sulit diabaikan—seratus orang, masing-masing membawa keahlian, asumsi, dan keyakinan tentang bagaimana teknologi seharusnya bekerja.
Mereka tidak langsung dibawa ke ruang presentasi.
Jatmika justru menyerahkan mereka kepada Tim 10, dengan satu instruksi sederhana: perlakukan mereka bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pembelajar. Teleportasi, menurutnya, tidak bisa dipahami lewat diagram atau simulasi. Ia harus dialami, lengkap dengan ketidaknyamanannya.
Pelatihan dimulai dari hal paling dasar: bagaimana berdiri, bagaimana bernapas, dan bagaimana menerima bahwa tidak semua perpindahan bisa dijelaskan secara instan. Banyak dari para peneliti itu terbiasa mengendalikan variabel; di sini, mereka justru diminta mengakui adanya faktor yang tidak sepenuhnya tunduk pada perhitungan.
Satu per satu, mereka diteleportasikan ke beberapa gua yang berbeda.
Tidak ada dua pengalaman yang sama. Sebagian merasakan jeda yang terlalu singkat untuk disadari, sebagian lain mengalami seolah ada detik yang memanjang. Beberapa keluar dengan wajah pucat, bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran bahwa orientasi ruang yang selama ini mereka yakini ternyata rapuh.
Di dalam gua, Tim 10 tidak banyak menjelaskan. Mereka hanya menunjukkan jalur, simbol segel, dan batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Para peneliti mencatat, mengukur, merekam—namun pada titik tertentu, mereka kehabisan istilah teknis untuk menggambarkan apa yang mereka alami.
Teleportasi itu bekerja. Tetapi tidak seperti yang mereka bayangkan.
Pada akhir hari, sebagian dari mereka mulai memahami bahwa teknologi ini bukan sekadar persoalan energi dan koordinat. Ia adalah pertemuan antara sistem, manusia, dan sesuatu yang belum sepenuhnya dapat diberi nama.
Dan di situlah, Jatmika tahu, kerja sama ini baru benar-benar dimulai.
Sesuai dengan janji awal, pengusaha Amerika itu menyediakan akses satelit, bekerja sama langsung dengan NASA. Biaya yang terlibat mencapai ratusan miliar rupiah—angka yang, bagi sebagian orang, terdengar seperti penghalang. Namun bagi proyek ini, angka itu justru menjadi pernyataan: bahwa manusia bersedia membayar mahal demi melampaui batas yang selama ini dianggap final.
Proyek tersebut segera dipahami sebagai sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bukan sekadar misi ilmiah, melainkan langkah pertama umat manusia menjelajah tata surya bukan dengan roket, melainkan dengan pemahaman baru tentang ruang.
Namun Prof. Wen Shuyuan segera mengoreksi asumsi yang berkembang.
Tujuan mereka bukanlah planet Jupiter.
Ia menjelaskan bahwa Jupiter, dengan radiasi ekstrem dan gravitasi masif, adalah lingkungan yang tidak memberi ruang bagi kesalahan. Sebaliknya, Callisto, salah satu bulannya, menawarkan kondisi yang lebih masuk akal: radiasi relatif rendah, medan gravitasi lebih ringan, dan permukaan yang stabil. Callisto bukan tujuan yang heroik, tetapi tujuan yang memungkinkan manusia untuk bertahan.
Bagi Wen Shuyuan, itu sudah cukup.
Jatmika meneruskan temuan tersebut kepada para peneliti Amerika. Respons mereka bukan sorak-sorai, melainkan keheningan yang diisi oleh perhitungan ulang. Mengubah tujuan berarti mengubah banyak hal—tetapi juga membuka kemungkinan yang sebelumnya tertutup.
Di sela diskusi teknis itu, perhatian Jatmika tertarik pada sesuatu yang lebih sederhana: baju astronot buatan Amerika. Ia mengamatinya bukan sebagai simbol status, melainkan sebagai lapisan perlindungan tipis antara tubuh manusia dan lingkungan yang tidak diciptakan untuknya.
“Apakah mungkin,” tanyanya kemudian, “kami mendapatkan baju seperti ini untuk orang-orang kami? Sekitar seratus orang.”
Michael, staf senior NASA, menjawab dengan hati-hati. Ia menjelaskan bahwa baju itu dirancang untuk menahan radiasi tinggi dan panas ekstrem, dengan biaya yang tidak kecil. Permintaan tersebut, menurut prosedur, hampir pasti tidak akan disetujui.
Jatmika mengangguk, seolah telah menduga jawabannya.
Namun malam itu, ia menghubungi pengusaha Amerika tersebut melalui sambungan pribadi—bukan untuk membahas spesifikasi teknis, melainkan visi jangka panjang. Percakapan mereka singkat, tanpa retorika berlebihan.
Lima hari kemudian, konfirmasi datang.
Seratus baju astronot akan dikirim.
Bagi Jatmika, keputusan itu bukan soal perlengkapan. Itu adalah pengakuan diam-diam bahwa proyek ini tidak lagi berdiri di pinggir kemungkinan, melainkan telah melangkah ke wilayah yang menuntut kesiapan penuh—baik secara teknologi, maupun sebagai manusia yang akan menggunakannya.

03/11/25

Season 4 kisah pandika dari kerajaan cakram

---

Fajar menyingsing di atas tembok tinggi kota Trowulan ketika Pandika menuntun para tawanan menuju alun-alun kerajaan. Penduduk yang telah mendengar kabar penangkapan para penculik itu berkerumun di sepanjang jalan, wajah mereka penuh amarah dan dendam lama yang belum terbayar.

Ketika para penjahat itu lewat, tangan-tangan rakyat mengayunkan batu dan tanah. Batu-batu menghantam tubuh para pelaku; teriakan mereka bercampur dengan seruan murka rakyat yang anak-anaknya telah direnggut. Namun Pandika tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya berjalan tegak, wajahnya tenang seperti batu di tepi sungai. Ia tahu, keadilan harus dijalankan bukan oleh amarah, tetapi oleh hukum.

Di depan balairung pengadilan Majapahit, para penjaga membuka pintu besar yang diukir dengan lambang naga emas. Para pejabat kerajaan telah menanti, dan hakim tertinggi duduk di kursi batu, di bawah bendera merah Majapahit yang berkibar megah.

Satu per satu para penculik diseret ke hadapan pengadilan. Bukti kejahatan mereka dibacakan, dan kesaksian anak-anak yang selamat membuat seisi ruangan terdiam pilu. Tidak ada pembelaan, tidak ada belas kasihan.

“Karena telah berulang kali menebar kegelapan di tanah kerajaan, dan mencemarkan darah anak-anak Majapahit,” ucap sang hakim dengan suara berat, “maka hukum menjatuhkan vonis mati. Hukuman ini akan dilaksanakan saat matahari tenggelam.”

Sorak kemenangan rakyat menggema di luar balairung. Keadilan telah ditegakkan.

Ketika semuanya usai, Pandika meninggalkan tempat itu tanpa mencari pujian. Di luar gerbang kota, para keluarga anak-anak yang diselamatkan telah menunggu, mata mereka basah oleh air mata syukur. Seorang petani tua menghampirinya sambil membawa sekarung beras.

“Ini janji kami,” katanya dengan suara bergetar. “Engkau telah menyelamatkan anakku dan anak-anak kami semua. Terimalah, wahai penolong dari langit.”

Pandika menunduk rendah, lalu tersenyum.
“Hadiah kalian terlalu besar untuk seorang pengembara seperti aku. Tapi akan aku terima, agar bisa memberi manfaat bagi yang lain.”

Ia memanggul karung beras itu di bahunya dan berjalan menyusuri pasar. Di jalanan Trowulan yang ramai, ia melihat para pengemis duduk di bawah jembatan, kulit mereka kurus, mata mereka kosong oleh lapar. Tanpa ragu, Pandika membuka karungnya dan membagikan beras itu segenggam demi segenggam.

“Ambillah, kawan-kawan,” katanya lembut. “Rezeki ini bukan milikku, melainkan milik mereka yang lebih membutuhkan.”

Para pengemis itu tertegun, lalu bersujud penuh hormat. Seorang di antara mereka—tua, berjanggut panjang, dengan mata jernih bagaikan air sungai dalam—menatap Pandika dengan kagum.

“Engkau bukan ksatria biasa,” katanya lirih. “Karena dari tanganmu mengalir cahaya kebaikan.”

Ia menunduk lebih dekat. “Sebagai balasan, izinkan aku memberi kabar yang mungkin engkau cari. Di antara para pengembara dan peminta-minta, beredar kisah lama tentang seorang ksatria suci. Mereka menyebutnya Prabu Galang Siwah, seorang pendekar yang lenyap dari dunia fana. Ada yang bersumpah melihat sosok berjubah putih bertapa di gunung berapi di tanah Merapi, di mana api bumi bertemu langit.”

Pandika menatapnya penuh perhatian. “Gunung Merapi, katamu?”

Sang pengemis mengangguk. “Ya, di sanalah para roh lama berkumpul dan bumi sendiri bernafas dalam bara. Jika benar dialah yang kau cari, maka langkahmu berikutnya adalah menuju api abadi itu.”

Pandika menunduk dalam-dalam.
“Terima kasih, sahabat. Semoga dewata memberkati langkahmu.”

Ia berjalan pergi meninggalkan pasar yang perlahan hidup kembali, karung berasnya kini kosong, namun dadanya terasa penuh oleh rasa damai. Di atas tembok kota, matahari mulai memanjat tinggi, dan dari kejauhan Gunung Merapi tampak samar di balik kabut, seperti janji baru yang menanti untuk ditepati.


---

Kabut turun tipis menyelimuti tanah saat Pandika dan Si Maung meninggalkan gerbang timur Majapahit. Jalan menuju utara membentang di antara ladang-ladang padi yang mulai menguning, hingga perlahan berganti menjadi hutan rimba yang lebat. Di kejauhan, puncak Gunung Merapi menjulang hitam dan berasap, seolah langit sendiri sedang menyimpan rahasia.

Suara gemuruh dari perut bumi terdengar lirih, seperti napas panjang raksasa yang sedang tidur. Setiap langkah Pandika seakan membawa hawa panas yang makin terasa. Burung-burung hutan tak lagi bernyanyi, dan hanya desir angin yang terdengar, berputar aneh di antara pepohonan.

Si Maung berhenti di tengah jalan setapak, telinganya tegak, matanya menyipit.
“Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa,” gumamnya dengan nada rendah. “Udara di sini berputar. Ada benteng gaib yang menjaga wilayah gunung ini.”

Pandika menatap ke sekeliling. Tak ada apa pun selain hutan hijau dan kabut yang menebal, namun langkah kakinya mulai terasa berat, seolah bumi menahannya.
“Benteng gaib?” tanyanya.

Si Maung mengangguk. “Ya. Ini bukan buatan manusia. Aku mengenal aroma sihir tua — kuno, bahkan lebih tua dari Majapahit sendiri. Formasi pelindung ini diciptakan untuk menyesatkan para pendaki yang berniat jahat. Bila kita melangkah tanpa arah, kita akan berputar dan kembali ke tempat yang sama.”

Mereka berhenti sejenak. Pandika menutup mata, merasakan desir udara di wajahnya. Dalam keheningan itu, samar terdengar bisikan — bukan dari manusia, tapi dari alam: suara dedaunan, desau angin, bahkan batu yang bergetar.

“Langit dan bumi tidak menolak yang datang dengan hati bersih,” ucap Pandika lirih. Ia lalu menggenggam pedang pemberian Ratu Peri, mengangkatnya ke langit. Cahaya lembut memancar dari bilahnya, menembus kabut yang menggantung.

Sekejap, kabut di depan mereka berputar, membentuk pusaran cahaya. Si Maung mendengkur pelan — bukan karena takut, melainkan kagum.
“Kau membuka jalur,” katanya pelan.

Dari pusaran kabut itu, muncul jalan batu berlumut, mengarah ke lereng gunung. Di tepi jalan, obor-obor kecil menyala tanpa api, hanya cahaya biru yang bergetar lembut. Suara gamelan jauh terdengar samar di udara — bukan dari manusia, tapi dari alam gaib yang menjaga gunung suci.

“Gunung Merapi,” bisik Pandika, menatap puncak yang kini tampak jelas di balik kabut. “Inilah tempat di mana bumi berbicara dan para roh menjaga keseimbangan dunia.”

Si Maung menatap ke langit. “Aku dapat merasakan banyak mata memandang kita — bukan musuh, tapi penjaga. Bersiaplah, Pandika. Setiap langkah di sini akan diuji bukan oleh pedang, tapi oleh kemurnian hatimu.”

Mereka melangkah bersama ke jalur batu yang berliku. Di kiri kanan, akar-akar besar menjuntai seperti ular tidur, dan batu-batu tua berukir huruf kuno menyala samar ketika dilewati. Angin membawa bisikan nama-nama lama yang terlupakan: nama ksatria, pertapa, dan roh yang telah lama menyatu dengan gunung.

Semakin tinggi mereka mendaki, semakin nyata kehadiran kekuatan gaib di sekeliling mereka.

Dan ketika malam turun, puncak Merapi bersinar dengan cahaya merah lembut — bukan dari api, tapi dari sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam: jiwa gunung itu sendiri.


---

Jalan batu itu akhirnya berakhir di sebuah lembah tersembunyi di lereng Gunung Merapi. Di sana, di antara kabut yang menari dan udara panas yang menggigit, berdiri sebuah batu besar, seolah menjadi bagian dari gunung itu sendiri. Namun ada sesuatu yang berbeda — udara di sekitarnya bergetar lembut, seperti sedang menjaga sesuatu yang suci.

Si Maung berhenti di depan batu itu, matanya menyipit, hidungnya bergerak cepat mengendus udara.
“Pandika,” ujarnya perlahan, suaranya seperti bisikan di tengah kabut, “tempat ini… ada aroma lama, aroma darah ksatria dan dupa suci. Aku mengenal bau ini. Ia pernah berkelana bersama para leluhur—Prabu Galang Siwah.”

Pandika menatap batu besar itu. Ia meraba permukaannya yang lembap, tertutup lumut hijau tebal. Namun di balik lapisan itu, ia merasakan sesuatu yang bukan sekadar batu — permukaan yang lebih halus, hampir seperti kulit.

Perlahan, dengan tangan gemetar, Pandika mulai membersihkan lumut itu. Sedikit demi sedikit, bentuk wajah manusia muncul — mata tertutup rapat, hidung kokoh, bibir membeku dalam ketenangan abadi. Rambut panjangnya terurai hingga menyentuh tanah, telah menyatu dengan akar-akar pepohonan. Pakaian putih yang dulu mungkin suci, kini memudar dan berdebu, tapi tetap utuh.

Si Maung mendekat, menatap sosok itu dengan penuh hormat. “Tak salah lagi,” katanya. “Dialah Prabu Galang Siwah, sang ksatria agung Majapahit. Namun... tubuhnya dingin, tak ada denyut kehidupan, dan napasnya telah lama tiada.”

Pandika berlutut di hadapan sosok itu, hatinya bergetar antara kagum dan sedih.
“Bila ini benar dia,” katanya lirih, “maka misi bangsa peri belum selesai. Mereka menantikan sang ksatria untuk kembali, bukan untuk berperang, tapi untuk memberi jawaban.”

Angin berhembus pelan, membawa aroma belerang dan bunga hutan yang aneh. Dari kejauhan, suara gunung bergemuruh pelan, seperti sedang menyetujui kata-kata Pandika.

“Tubuhnya tidak membusuk,” kata Si Maung. “Lihatlah kulitnya — masih segar, seolah ia hanya tidur. Mungkin jiwanya belum pergi, hanya tersesat di alam lain.”

Pandika menunduk, lalu mengangguk mantap. “Kalau begitu, kita bawa dia. Mungkin bangsa peri tahu cara membangunkannya.”

Si Maung mendesis pendek, lalu mengubah wujudnya. Tubuhnya perlahan membesar — dari seekor kucing, menjadi serigala perak sebesar kuda, matanya berkilat bagai bintang tua. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh Prabu Galang Siwah ke punggungnya.

“Beratnya bukan karena daging dan tulang,” gumam Si Maung, “tapi karena kekuatan yang tertidur di dalamnya.”

Pandika menatap lembah itu sekali lagi sebelum mereka berangkat. Kabut berputar di sekeliling mereka, seolah gunung itu sendiri enggan melepas sang ksatria tua dari pelukannya.

“Aku berjanji,” bisik Pandika kepada gunung, “akan membawanya pulang — ke tempat ia semestinya berada.”

Lalu mereka berdua, Pandika dan Si Maung, perlahan menuruni gunung dalam kesunyian. Di belakang mereka, lembah kembali tertutup kabut, dan hanya angin yang tahu bahwa sang legenda lama kini dibawa turun kembali menuju dunia manusia.


---

Di bawah sinar bulan yang pucat, Si Maung berlari menembus gelap malam, membawa Pandika dan tubuh Prabu Galang Siwah di punggungnya. Angin berdesir di telinga mereka, menciptakan nyanyian panjang yang terdengar seperti doa para leluhur yang terhembus dari alam lain.

Langkah-langkah Si Maung memantul di atas tanah, lalu melesat menembus hutan yang lebat — pepohonan menyingkir seolah tunduk kepada makhluk agung yang melintas. Daun-daun beterbangan, ranting berderak, dan di antara bayangan, mata-mata binatang hutan berkilat heran, menyaksikan sosok besar berwarna perak yang membawa cahaya samar dalam punggungnya.

“Pegangan yang erat, Pandika,” kata Si Maung dengan suara berat namun tenang. “Perjalanan ini akan panjang. Kita harus menyeberangi lautan, melewati tanah tandus dan gurun abu.”

Pandika menunduk sedikit, memeluk tubuh Prabu Galang Siwah agar tidak terjatuh. “Aku siap. Demi tugas ini, bahkan gunung dan lautan akan kulewati.”

Mereka menembus batas hutan, menuju daratan luas yang gersang — bekas tanah yang pernah dilalap api gunung berapi. Di sana, bintang-bintang tampak lebih dekat, seolah ingin menyaksikan perjalanan mereka. Pasir hitam berputar di belakang langkah Si Maung, membentuk pusaran panjang bagai ekor naga.

Ketika fajar hampir tiba, mereka mencapai tepian laut. Ombak menggulung tinggi, namun Si Maung tidak berhenti. Ia menatap lautan lebar itu, lalu menurunkan tubuhnya sedikit. “Pegang erat. Kita menyeberang.”

Dengan satu lompatan besar, Si Maung meluncur ke atas permukaan air. Tapak kakinya memantul di atas gelombang, menciptakan riak bercahaya keperakan. Laut itu seolah tunduk pada kekuatan gaib yang menyelimutinya. Pandika hanya bisa tertegun, melihat cakrawala terbentang luas dan bulan terpantul di permukaan laut yang bergetar.

Beberapa makhluk laut besar muncul dari kedalaman — ikan-ikan bercahaya, naga air, bahkan paus raksasa yang mengeluarkan bunyi lembut, seperti menyambut perjalanan mereka.

Berhari-hari mereka menempuh perjalanan tanpa henti. Kadang melewati lembah berkabut, kadang menapaki padang bunga liar yang hanya mekar di bawah cahaya bulan. Di setiap tempat, udara terasa berbeda — seolah mereka telah menembus batas dunia manusia.

Hingga akhirnya, di kejauhan tampak bayangan besar menjulang tinggi ke langit: Gunung Rinjani. Puncaknya diselimuti awan tipis yang berkilau seperti kristal, dan dari lerengnya mengalir sungai berwarna biru muda.

Si Maung berhenti di tepi hutan kaki gunung. Ia mengangkat kepalanya tinggi, menatap puncak suci itu dengan hormat. “Kita sudah dekat,” katanya perlahan. “Di puncak itulah tempat bangsa peri bersemayam. Di sanalah, mungkin, sang ksatria ini akan bangun dari tidurnya.”

Pandika turun dari punggung Si Maung, menatap tubuh Prabu Galang Siwah yang tampak lebih tenang — kulitnya kini seolah memancarkan cahaya lembut.

“Lihat,” kata Pandika lirih. “Ia… mulai berubah. Seolah tubuhnya merespons panggilan dari gunung ini.”

Si Maung mengangguk, matanya berkilau lembut. “Gunung suci memanggil jiwanya pulang.”

Kabut putih perlahan turun dari puncak Rinjani, melingkupi mereka bertiga, membawa aroma bunga hutan dan suara samar yang terdengar seperti nyanyian kuno bangsa peri.


---

---

Kabut lembut menyelimuti kaki Gunung Rinjani ketika Si Maung menapakkan kakinya di tanah kerajaan bangsa peri. Udara di sana harum oleh wangi bunga liar dan aroma kemenyan suci yang dibawa angin gunung. Cahaya keperakan turun dari langit, memantul di atas dedaunan, membuat seluruh lembah seolah diselimuti permata halus.

Di antara kabut yang berpendar itu, muncullah para peri — jelita dan anggun, mengenakan kebaya tipis berwarna lembut dan kain batik halus yang mengalun di udara. Di pinggang mereka, tersampir kain tipis bercahaya menyerupai sayap, berkibar pelan setiap kali mereka melangkah. Suara gelang perak di pergelangan kaki mereka berdenting lembut seperti nyanyian embun.

Peri pertama yang melangkah maju menundukkan kepala dengan hormat.
“Selamat datang, Pandika dari dunia manusia,” ujarnya lembut. “Aku Wulanratih Sekarwangi, penjaga gerbang timur kerajaan Rinjani.”
Suara lembutnya seperti desir angin di antara serumpun bambu, menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Dari belakangnya, seorang peri lain berjalan mendekat, mengenakan kebaya berwarna hijau daun muda, dengan mata seindah embun pagi.
“Aku Cempakalirna Dwimaya,” katanya seraya tersenyum. “Kami telah mendengar kisahmu dari angin. Kau datang membawa sesuatu yang sangat berharga bagi bangsa kami.”

Pandika menunduk sopan. Ia masih menahan tubuh Prabu Galang Siwah yang terkulai di pelukannya, sementara Si Maung berdiri tegak di belakang mereka, bulunya berkilau di bawah cahaya rembulan.
“Benar,” ujar Pandika dengan suara pelan namun mantap. “Inilah Prabu Galang Siwah, ksatria suci yang telah lama dicari oleh Ratu kalian. Ia ditemukan di Gunung Merapi dalam keadaan terlelap dalam tidur panjang.”

Para peri saling berpandangan, wajah mereka berubah antara takjub dan haru. Cempakalirna Dwimaya menangkupkan tangan di depan dada.
“Syukur kepada Sang Cahaya,” bisiknya. “Ratu Safiranindya Prameswara telah menantikan kabar ini selama berabad-abad. Mari, kami akan menunjukkan jalan menuju kediaman sang Ratu.”

Dengan gerakan anggun, para peri mengangkat tangan mereka. Jalan di depan yang semula tertutup kabut perlahan terbuka — terbentuk dari kelopak bunga berwarna ungu dan biru yang menyala lembut di bawah pijar bulan. Di kejauhan tampak istana kristal Rinjani: berdiri di atas puncak awan, dikelilingi air terjun yang berjatuhan dari udara, mengalir tanpa henti seperti tabir mutiara.

Pandika menatap kagum. “Indah sekali… seperti negeri dalam mimpi.”

Wulanratih Sekarwangi tersenyum. “Karena ini memang negeri di antara mimpi dan kenyataan, Pandika. Hanya mereka yang datang dengan hati suci yang dapat melihat wujud sejatinya.”

Si Maung melangkah perlahan mengikuti para peri yang menuntun jalan, sementara Pandika memeluk tubuh Prabu Galang Siwah dengan hati-hati. Cahaya dari istana semakin terang, menerangi wajah tua sang prabu yang kini tampak lebih damai, seolah cahaya itu memanggil jiwanya untuk kembali.

Malam itu, perjalanan menuju istana Ratu Safiranindya Prameswara dimulai — perjalanan menuju jawaban, takdir, dan rahasia yang telah lama tersembunyi di balik kabut abadi Gunung Rinjani.


---
---

Istana kristal Rinjani berdiri di tepian danau yang bening, permukaannya memantulkan cahaya bulan seperti cermin dari alam dewa. Di tengah kabut lembut yang bergulir di atas air, Ratu Safiranindya Prameswara duduk di singgasananya — terbuat dari bunga melati raksasa yang mekar sempurna. Cahaya lembut memancar dari wajahnya, matanya sejernih embun fajar, dan rambutnya berkilau seperti benang perak yang menyatu dengan cahaya bintang.

Ketika Pandika bersama Si Maung membawa tubuh Prabu Galang Siwah ke hadapannya, sang Ratu berdiri, mengenakan jubah sutra tembus pandang berwarna biru langit, berhiaskan taburan cahaya seperti debu bintang.
“Wahai Pandika,” ucapnya dengan suara yang bergema lembut di seluruh danau, “bangsa peri berhutang budi padamu. Kau telah menemukan sosok yang kami nanti selama berabad lamanya — sang Prabu Galang Siwah, penjaga harmoni antara dunia manusia dan dunia kami.”

Pandika menunduk dalam, penuh hormat.
“Saya hanya menjalankan tugas dan takdir yang dipilihkan oleh alam, Paduka Ratu,” ujarnya rendah hati.

Sang Ratu tersenyum, lalu memandang tubuh Prabu Galang Siwah yang kini dibaringkan di atas batu suci di tengah danau. “Ia belum mati,” katanya lirih, “melainkan tertidur dalam pertapaan panjang — jiwanya berkelana di antara alam semesta, menunggu saat panggilannya tiba.”

Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan suara lembut mulai terdengar dari segala penjuru. Para peri muncul satu per satu, mengenakan pakaian upacara berwarna perak dan hijau zamrud. Mereka membentuk lingkaran di sekeliling danau, sementara air mulai beriak seolah bernapas.

“Sekarang,” bisik Ratu Safiranindya Prameswara, “upacara pemanggilan akan dimulai.”

Sebuah cahaya biru muda muncul di telapak tangan sang Ratu, berputar perlahan seperti pusaran air, lalu melayang di atas tubuh sang Prabu. Para peri serentak melantunkan mantra kuno dengan bahasa yang nyaris tak bisa dimengerti — lembut, bergelombang, dan penuh harmoni seperti lagu angin yang menembus dedaunan.

Air danau terangkat sedikit demi sedikit, mengelilingi tubuh Prabu Galang Siwah, membentuk selubung cahaya biru kehijauan. Si Maung menggeram pelan, merasakan kekuatan magis yang begitu besar, sedangkan Pandika menatap tak berkedip, matanya memantulkan cahaya upacara yang mempesona.

Ratu Safiranindya mengatupkan kedua tangannya, lalu berkata dengan suara nyaring bagaikan lonceng suci:
“Wahai Prabu Galang Siwah, penjaga keseimbangan bumi dan langit, dengarlah panggilan kami. Kembalilah dari alam sunyi. Bangkitlah, sebab dunia telah berubah dan membutuhkan cahayamu sekali lagi.”

Seketika, kilatan cahaya menyambar dari langit. Air danau berputar hebat, membentuk pusaran cahaya yang naik ke udara. Para peri menunduk, rambut dan sayap mereka berkibar ditiup angin yang muncul dari tengah lingkaran.

Tubuh Prabu Galang Siwah bergetar perlahan. Lumut dan kerikil yang menempel di tubuhnya luruh ke air. Dari dadanya, muncul sinar lembut — berdenyut pelan, seperti nadi kehidupan yang baru saja kembali berdetak.

Ratu Safiranindya menatap lembut, meneteskan air mata kristal.
“Selamat datang kembali, wahai Prabu dari Cahaya Timur…”

Danau kini berpendar seperti lautan bintang, dan malam itu, Gunung Rinjani menjadi saksi kebangkitan seorang legenda yang telah lama tertidur dalam diam waktu.


---
---

Kabut tipis masih menari di atas permukaan danau ketika cahaya biru perlahan meredup. Para peri menunduk penuh hormat; udara dipenuhi wangi melati dan suara gemericik air yang tenang kembali. Tubuh Prabu Galang Siwah kini perlahan bergerak—matanya terbuka, menatap langit dengan sorot dalam yang memantulkan kebijaksanaan masa lampau.

Kulitnya berkilau samar, rambut dan janggut panjangnya bergoyang ditiup angin lembut. Pandika berlutut di hadapannya, menundukkan kepala dalam-dalam, sementara Si Maung duduk tegak di sisinya, menatap dengan tatapan waspada tapi penuh takzim.

Prabu Galang Siwah menatap sekeliling, matanya yang redup seolah mengenali setiap wajah peri yang berdiri di tepi danau. Dengan suara serak namun berwibawa, ia berkata pelan,
“Sudah berapa lama... dunia ini berputar tanpaku?”

Ratu Safiranindya mendekat dan membungkuk.
“Berabad lamanya, wahai Prabu. Dunia telah banyak berubah. Namun kini saatnya engkau kembali, sebab bayangan kejahatan yang dulu kau rasakan mulai bangkit kembali di timur.”

Prabu Galang Siwah mengangguk perlahan. “Aku telah merasakannya,” ujarnya lirih. “Bahkan dalam tidur panjangku, bayangan itu masih membisikkan kebusukan ke bumi. Ada sesuatu yang bergerak dari bawah kawah Merapi—sebuah kekuatan lama yang seharusnya tak pernah bangkit lagi.”

Ia menatap Pandika, yang masih berlutut di hadapannya. “Dan kau… anak muda. Akulah yang seharusnya berterima kasih. Kau membawaku kembali dari batas antara hidup dan mati. Katakan namamu.”

“Namaku Pandika, hamba hanyalah pengembara biasa,” jawabnya dengan rendah hati.

Prabu Galang Siwah tersenyum, meski sorot matanya tajam seperti pedang. “Tidak ada yang biasa dalam diri seseorang yang berani menapaki jalan sunyi kebenaran. Aku melihat jiwamu, wahai Pandika—jernih, tapi belum ditempa. Kau belum memiliki penguasaan ilmu tinggi, namun hatimu lurus dan tenagamu bersih.”

Pandika menunduk. “Saya hanya belajar bela diri sederhana, dari para petani dan pengawal desa. Tidak lebih.”

“Justru karena itulah,” ujar Prabu Galang Siwah sambil menepuk bahunya dengan lembut, “kau layak menerima warisan ilmu Majapahit yang sejati. Ilmu bukan untuk berkuasa, melainkan untuk menjaga keseimbangan dunia.”

Ia menatap ke arah Ratu Safiranindya, yang mengangguk setuju. “Jika engkau bersedia,” lanjut sang Prabu, “aku akan mewariskan seluruh ilmu bela diri dan kebijaksanaan yang telah kutimba dalam ratusan tahun pengembaraan dan pertapaan.”

Pandika menatap sang Prabu, ada campuran kagum dan kerendahan hati dalam pandangannya. Ia menunduk hormat.
“Bila itu kehendak Paduka, maka saya bersedia menjadi muridmu, dan menjalankan apa pun yang diperintahkan.”

Senyum lembut menghiasi wajah tua Prabu Galang Siwah. “Mulai hari ini, engkau bukan lagi pengembara tanpa nama. Engkau adalah murid dari Galang Siwah, penjaga keseimbangan Majapahit dan penjaga rahasia bangsa peri.”

Ratu Safiranindya mengangkat tangannya ke langit. Dari udara turun butiran cahaya lembut yang melingkupi keduanya. Cahaya itu berputar, membentuk lingkaran seperti pusaran waktu—menandai dimulainya babak baru dalam takdir Pandika.

Dan di tepi danau suci Rinjani, dengan saksi para peri dan gunung yang bergaung lembut, lahirlah ikatan guru dan murid antara dua zaman: sang legenda masa lampau dan sang pengembara yang ditakdirkan menjaga masa depan.


---
---

Hari-hari di negeri para peri terasa panjang namun damai. Di bawah langit biru Rinjani, Prabu Galang Siwah mulai melatih Pandika dalam seni tertua Majapahit—ilmu pedang yang memadukan jiwa dan napas alam.

Di halaman berlapis batu hijau di tepi danau, sang prabu berdiri tegak dengan rambut putihnya terurai bagai asap dupa. Ia menghunus pedangnya, bilahnya berkilau seolah memantulkan cahaya matahari sekaligus rembulan.

“Perhatikan,” ucapnya lirih namun tegas. “Pedang bukanlah alat membunuh, melainkan perpanjangan tangan dari kehendak dan nuranimu. Gerakannya adalah bahasa jiwa.”

Ia menapakkan kakinya perlahan, tubuhnya berputar lembut, dan bilah pedang menari di udara—menyapu angin, menciptakan pusaran lembut bagai tarian air. Pandika berdiri tak jauh, mengikuti setiap gerakan dengan saksama. Gerakan itu tampak sederhana, namun tiap ayunan mengandung keseimbangan antara napas, tenaga, dan keheningan.

Hari demi hari, Pandika menirukan gerakan itu. Awalnya kaku dan terbata, tapi setiap langkah membawanya lebih dekat pada keselarasan yang diajarkan gurunya.

“Rasakan angin di sekitarmu,” ujar Prabu Galang Siwah. “Biarkan pedangmu menuntunmu, bukan sebaliknya.”

Ketika dasar-dasar ilmu itu mulai tertanam, sang prabu melanjutkan ke tingkatan yang lebih tinggi. Ia mengangkat pedangnya, dan tiba-tiba udara di sekitar bergetar. Gerakan pedangnya kini nyaris mustahil diikuti oleh mata biasa—setiap ayunan melahirkan seribu bayangan pedang, berkilauan bagai serpihan bintang.

Walau gerakannya tampak lamban, cahaya dari bilahnya membentuk garis lurus di udara, dan apa pun yang disentuh cahaya itu—batu, ranting, bahkan udara—terbelah tanpa suara.

Pandika terdiam, kagum sekaligus gentar. “Guru, bagaimana saya bisa melakukan itu?”

Prabu Galang Siwah menatapnya dalam. “Ilmu ini bukan soal kecepatan tangan, melainkan kejernihan hati. Bila jiwamu belum diam, pedangmu akan selalu bergetar.”

Pandika berlatih tanpa henti, namun setiap kali mencoba, bayangan pedangnya tak pernah lebih dari sepuluh. Ia menghela napas, peluh membasahi tubuhnya.

“Jangan terburu,” ucap sang prabu lembut. “Ada waktunya kau akan menguasainya. Sekarang, saatnya kau belajar hal yang lebih dalam—kekuatan batin Majapahit.”

Mereka duduk bersila di tepi danau. Air beriak pelan, daun-daun beterbangan ditiup angin lembut.
“Ini adalah ilmu melepas dan menarik,” kata Prabu Galang Siwah. “Segala yang hidup terhubung oleh napas semesta. Bila kau mampu menyatu dengannya, maka batu, air, bahkan besi akan menuruti panggilanmu.”

Ia mengangkat telapak tangannya, dan sebongkah batu kecil di tanah terangkat perlahan, melayang di udara seolah tak berbobot. Lalu dengan gerakan ringan, batu itu melesat jauh sebelum kembali ke telapak tangannya, patuh seperti seekor burung jinak.

“Latih dirimu hingga kau mampu melakukan ini tanpa berpikir,” ucap sang prabu. “Karena kekuatan sejati bukan datang dari otot, melainkan dari keselarasan antara niat dan napas dunia.”

Pandika mencoba. Tangannya bergetar, napasnya terengah. Batu di hadapannya hanya bergetar sedikit sebelum jatuh lagi ke tanah. Namun Prabu Galang Siwah hanya tersenyum.
“Tak apa,” katanya lembut. “Setiap gunung dimulai dari segenggam tanah.”

Dan demikianlah hari-hari Pandika berlalu di bawah bimbingan sang legenda Majapahit. Ia belum menjadi seorang ahli, namun setiap fajar yang datang membuatnya semakin dekat dengan makna sejati kekuatan dan kedamaian.


---
---

Hari-hari berganti, dan cahaya mentari di negeri para peri seakan menjadi saksi bisu atas ketekunan seorang manusia muda bernama Pandika. Di bawah bimbingan Prabu Galang Siwah, ia menempuh latihan yang menguji bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwanya.

Setiap fajar, ia berdiri di tepi danau yang diselimuti kabut lembut. Udara berembus membawa aroma bunga dan tanah basah. Di sanalah ia mengulang pelajaran tentang ilmu melepas dan menarik, hingga jemarinya mengerti bagaimana memanggil kekuatan dari udara dan mengembalikannya pada keheningan.

Awalnya, batu-batu di hadapannya hanya bergetar tanpa arah. Namun kini, dengan napas yang teratur dan hati yang tenang, batu-batu itu melayang perlahan, berputar di sekeliling dirinya seolah menari.
“Bagus,” ujar Prabu Galang Siwah. “Kau mulai memahami bahasa dunia.”

Latihannya berlanjut ke tahap yang lebih tinggi—pertarungan tanding dengan bangsa peri. Di lapangan luas di bawah pohon-pohon bercahaya, para peri mengelilinginya dengan mata penuh penasaran. Mereka mengenakan pakaian berwarna hijau zamrud dan perak, pedang kayu mereka berkilau seolah bernafas.

“Jangan berharap belas kasihan,” ujar salah satu peri dengan senyum lembut, lalu menghilang dari pandangan mata.

Pandika menutup matanya, menenangkan diri. Ia mendengarkan bisikan angin, langkah ringan yang hampir tak terdengar, dan detak jantungnya sendiri. Ketika pedang kayu datang menyerang dari sisi kanan, tangannya bergerak tanpa ragu—ilmu menarik bekerja, membuat serangan itu tertahan di udara, lalu ia melepaskan tenaga kecil yang memantulkan lawannya ke belakang.

Pertarungan berlangsung lama. Sekali, dua kali, sepuluh kali—hingga seratus kali mereka beradu pedang kayu, suara benturannya menggema bagai musik perang yang suci. Pandika jatuh, bangkit, jatuh lagi, namun tak pernah menyerah.

Akhirnya, pada benturan keseratus, tubuhnya bergerak dengan keheningan yang sempurna. Pedangnya berayun, ringan namun pasti, menahan serangan dan sekaligus membalas dengan tenaga yang terukur. Peri lawannya terhenti, lalu tersenyum lebar, menundukkan kepala tanda hormat.

Suara tepuk tangan lembut bergema di antara pepohonan. Cahaya siang menembus kanopi dedaunan, menyinari Pandika yang berdiri dengan napas teratur dan mata bersinar tenang.

Prabu Galang Siwah mendekat, menepuk bahunya.
“Kau telah melampaui batas tubuhmu sendiri,” katanya dengan suara yang sarat makna. “Sekarang kau tak lagi hanya manusia biasa. Kau telah menjadi bagian dari keselarasan antara dunia nyata dan alam gaib.”

Pandika menunduk rendah. “Guru, aku masih jauh dari sempurna.”

Prabu tersenyum samar. “Kesempurnaan bukan tujuan, Pandika. Ia hanyalah bayangan dari keabadian. Yang penting adalah langkahmu yang terus maju.”

Dan di bawah langit senja yang berwarna keemasan, Pandika berdiri di antara bangsa peri, tubuhnya lelah namun hatinya dipenuhi cahaya baru—cahaya seorang murid yang mulai memahami arti sejati dari kekuatan dan kehormatan.


---
---

Setelah hari-hari panjang berlalu di negeri para peri, Prabu Galang Siwah memandang muridnya dengan mata yang tenang, namun dalam sorotnya tersembunyi kebijaksanaan seorang guru tua yang telah menempuh jalan panjang ilmu dan penderitaan.

“Pandika,” ujarnya perlahan, suaranya bergema lembut di antara pepohonan berkilau. “Ilmu yang telah kau kuasai kini sudah cukup baik untuk seorang pemula. Namun apa yang kutanamkan padamu bukanlah ilmu biasa. Ini adalah warisan pedang tingkat tinggi, ilmu yang hanya bisa dijalankan oleh tubuh dan jiwa yang telah menyatu dalam satu napas dengan alam.”

Pandika menunduk hormat. “Aku siap belajar lebih dalam, guru.”

Prabu Galang Siwah tersenyum tipis.
“Baik. Maka tibalah waktunya untuk ujian terakhirmu.”

Ia menancapkan pedangnya ke tanah. Cahaya lembut merambat dari bilahnya, membentuk lingkaran cahaya yang berputar di sekitar mereka. Udara mendadak berubah dingin, dan kabut tebal naik dari tanah seperti nafas bumi yang purba.

“Dunia yang akan kita masuki bukan dunia manusia,” lanjutnya. “Ini adalah Ranah Mistis, tempat roh, makhluk purba, dan bayangan pikiran manusia bersemayam. Di sanalah kekuatanmu akan diuji—bukan oleh pedang, melainkan oleh hatimu sendiri.”

Si Maung yang setia berdiri di samping mereka, menundukkan kepala. “Guru, apakah aman bagi Pandika? Ranah itu tidak ramah pada manusia.”

“Tidak ada pelajaran tanpa risiko,” jawab sang Prabu datar. “Jika ia ingin menapaki jalan ksatria sejati, maka ia harus berani melangkah ke dalam ketidakpastian.”

Prabu Galang Siwah menengadahkan tangannya ke langit. Petir menyambar tanpa suara, dan langit seolah terbelah. Sebuah gerbang cahaya terbuka di hadapan mereka—seolah tirai antara dunia manusia dan dunia roh tersibak. Dari dalamnya terdengar bisikan-bisikan samar, nyanyian lembut namun mengguncang hati.

“Masuklah, Pandika,” ujar sang Prabu. “Apa yang akan kau temui di sana bukan musuh yang bisa kau tebas dengan pedang, melainkan bayangan dirimu sendiri.”

Pandika menarik napas panjang. Ia menatap gerbang cahaya itu dengan hati berdebar. Tanpa ragu, ia melangkah maju, diikuti oleh si Maung yang mengaum rendah, menandai kesiapan mereka menghadapi apa pun yang menanti.

Langit berputar, tanah seolah lenyap di bawah pijakan, dan dunia berganti wajah—menjadi sebuah tempat asing di mana siang dan malam bersatu dalam keheningan abadi.

Di kejauhan, berdiri sosok-sosok kabur yang bentuknya menyerupai manusia, namun dengan mata bercahaya merah, melayang tanpa suara. Pandika menegakkan tubuh, memegang pedangnya erat.

Prabu Galang Siwah berdiri di belakangnya, suaranya bergema seperti dari dua dunia sekaligus:
“Di sinilah, Pandika… ujian sejati seorang ksatria dimulai.”


---

---

Pandika melangkah memasuki Dunia Roh.

Sekilas tempat itu tampak serupa dengan bumi—pepohonan masih tegak, bukit-bukit terbentang, sungai berkilau seperti perak cair. Namun semuanya terasa… berbeda. Angin yang berhembus membawa suara-suara masa lalu, dan waktu berputar dengan arah yang tak lazim: matahari bergerak dari barat ke timur, seolah menghapus hari lebih cepat daripada menciptakannya; sementara bulan purnama menggantung besar di langit, begitu dekat hingga tampak seperti sebuah bola cahaya putih yang ingin menyentuh puncak-puncak pohon.

Di dunia itu setiap detik memanjang, lalu memendek, lalu memanjang lagi. Pandika merasa seakan-akan berada di antara dua napas waktu yang tak pernah berhenti bergeser.

Di belakangnya terdengar bisikan Prabu Galang Siwah—bukan dari mulut sang guru, melainkan dari udara itu sendiri:

“Lepaskan armormu, Pandika. Dunia roh tidak mengenal besi,
dan besi tidak mengenal roh.”

Pandika patuh. Ia melepaskan zirah baja yang selama ini melindungi tubuhnya. Begitu armor itu menyentuh tanah roh, ia lenyap menjadi debu cahaya, seolah tak pernah ada.

“Sekarang rasakan tanah di bawah telapak kakimu,” lanjut suara sang prabu.
“Dan rasakan pedangmu bukan sebagai logam, melainkan sebagai bagian dari jiwamu.
Dalam dunia ini, kekuatan tidak lahir dari otot—melainkan dari kesadaran.”

Si Maung—yang dalam dunia roh berubah jauh lebih besar, dengan bulu seperti asap dan mata biru menyala—mendekat. Tubuhnya tampak melayang setengah jengkal di atas tanah. Ia menunduk memberi hormat kepada Pandika.

“Naiklah,” gumamnya dengan suara yang bergema seperti dua harimau berbicara serentak.
“Aku akan membawamu menuju mereka yang menantikanmu.”

Pandika melompat ke punggung si Maung. Begitu ia duduk, dunia di sekitar mereka berubah seperti riak di permukaan air. Ia memejamkan mata, mengingat semua pelajaran yang ditanamkan Prabu Galang Siwah selama enam bulan—gerak napas, keseimbangan batin, dan teknik pedang yang lebih mirip tarian daripada serangan.

Ia menarik napas panjang.

Ketika membuka mata, pedang di tangannya menyala—bukan oleh api, bukan oleh cahaya matahari, tetapi oleh cahaya kesadaran yang lahir dari hati. Bilahnya tampak seperti terbuat dari sinar bulan yang mengalir.

Dari balik pepohonan kabur muncul siluet-siluet makhluk roh—tinggi kurus, mata merah menyala, namun tak satu pun dari mereka bergerak maju.

Pandika turun dari punggung si Maung.

Ia berdiri tegak.

Lalu mulai menari.

Tarian Bulan.

Gerakan yang diajarkan Prabu Galang Siwah: sederhana pada permulaan, namun sarat makna; pelan, namun setiap ayunan menggetarkan udara; indah, namun mematikan. Setiap langkah dan hembusan napas membuat tanah di bawahnya berpendar samar.

Cahaya pedangnya meninggalkan garis-garis tipis di udara, seperti goresan kuas di langit malam.

Makhluk-makhluk roh yang semula menatap dari kejauhan kini mundur beberapa langkah, tubuh mereka meriap, mata mereka meredup. Tidak satu pun berani keluar dari persembunyian.

Karena di hadapan mereka berdiri seorang manusia yang tidak lagi sepenuhnya manusia.

Pandika menyelesaikan satu putaran gerakan terakhir. Pedangnya meredup kembali, menyatu dengan denyut jantungnya.

Dari kejauhan terdengar suara Prabu Galang Siwah, rendah namun penuh kebanggaan:

“Bagus, Pandika.
Kini mereka mengakui keberadaanmu.
Ujian berikutnya akan segera datang…”


---

Pandika melangkah maju dengan napas teratur, tubuhnya sudah menyatu sepenuhnya dengan irama Tarian Bulan.

Tahap pertama ia lakukan dengan lembut, gerakan sehalus embun di pucuk dedaunan dunia roh. Setiap ayunan pedang tampak seperti mengikuti tarian cahaya bulan yang menggantung besar di langit.

Tahap kedua, langkah-langkahnya berubah. Tidak lagi sekadar mengalir—kini mendominasi. Setiap hentakan kaki menciptakan bayangan yang berlapis, membuat roh penjaga kesulitan menebak arah datangnya serangan.

Tahap ketiga, tubuhnya berubah seperti angin—muncul dan hilang, menghindar dan menyergap. Cahaya pedang biru keperakan memotong udara dan meninggalkan garis cahaya yang lenyap secepat munculnya.

Ketika ia memasuki tahap keempat, sebuah aura kokoh muncul dari tubuhnya, seolah dinding tak terlihat melapisi kulitnya. Serangan kampak roh penjaga yang sebelumnya mampu mengguncang tanah, kini hanya menimbulkan percikan energi saat mengenai perisai tak kasat mata itu.

Lalu tibalah tahap kelima—jurus pedang kematian. Semua suara di dunia roh seakan menghilang. Angin berhenti. Bayangan membeku. Hanya sinar bulan di langit yang menyaksikan.

Pandika merendahkan tubuh, memusatkan seluruh kekuatan latihan enam bulannya ke dalam satu titik. Pedangnya menyala terang seperti pecahan bintang.

Roh penjaga—bertubuh raksasa, bersenjata kampak hitam pekat—mengangkat senjatanya tinggi. Ia mengaum, suara seperti gemuruh ribuan batu runtuh.

Keduanya bertabrakan.

Benturan pertama membuat gelombang energi merambat hingga pepohonan roh menggoyang hebat. Pandika terdorong mundur satu langkah… lalu dua langkah… namun tatapannya tetap fokus. Roh penjaga menyerang lagi, lebih cepat, lebih berat.

Pandika menangkis. Satu. Dua. Tiga pukulan kuat. Dan pada pukulan keempat, gerakan Pandika berubah—lebih halus, lebih cepat, dan lebih tajam dari sebelumnya.

Ia memutar, menghindar sepersekian detik dari ayunan kampak, lalu melayangkan serangan balik yang membuat raksasa itu mundur untuk pertama kalinya.

Roh penjaga menatap Pandika, kemudian tertawa—tawa berat penuh rasa hormat.

“Akhirnya… manusia yang mampu menembus lima tahap Tarian Bulan tanpa terhenti,” gumamnya. “Kekuatanku mengakui dirimu, Pandika.”

Raksasa itu menancapkan kampaknya ke tanah sebagai tanda tunduk. Energinya menyusut perlahan, berubah menjadi cahaya biru yang mengalir ke pedang Pandika.

Dengan langkah mantap, Pandika berdiri tegak. Tubuhnya masih bergetar oleh sisa energi, namun matanya menyala penuh keyakinan.

Ia telah diakui oleh penjaga dunia roh.

Ia telah melampaui ujian terakhirnya.


---

Prabu Galang Siwah membisik lirih, namun suaranya bergema seakan bersumber dari kedalaman zaman, “Cukuplah, Pandika. Kekuatanmu telah teruji. Kini saatnya kembali menuju gerbang cahaya.”

Pandika menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Dengan hati yang penuh syukur ia berpaling kepada sang penjaga roh, raksasa purba yang kini meredup menjadi bayangan kebiruan.
“Terima kasih atas ujian dan kehormatan ini,” ucapnya. Suaranya melayang di udara dunia roh yang selalu bergetar oleh aliran waktu yang aneh.

Penjaga itu membalas dengan anggukan perlahan, seolah gunung sedang tunduk pada angin malam. “Pergilah, wahai murid pedang bulan. Jalurmu kini terbuka.”

Si Maung—sang makhluk agung berkulit hitam bergaris cahaya perak—mendekat dengan langkah senyap. Matanya memantulkan dua rembulan yang menggantung di langit dunia roh. Dengan lembut namun penuh wibawa, ia membiarkan Pandika naik ke punggungnya.

Dalam satu lompatan yang melintasi bayang-bayang dan sinar, si Maung membawa Pandika melintasi padang bintang, menembus kabut yang berputar, dan menuju sebuah celah yang memancarkan sinar putih hangat: Gerbang Cahaya.

Cahaya itu berkibar seperti tirai yang dijahit dari untaian pagi.

Saat mereka memasuki gerbang tersebut, dunia roh memudar seperti mimpi yang terlepas dari genggaman, dan Pandika kembali pada kehangatan dunia peri—tempat di mana takdir barunya telah menunggu dengan sayap-sayap terang.


---

Pandika berdiri tegak di hadapan Prabu Galang Siwah, cahaya lembut dari pepohonan peri jatuh di atas wajahnya. Dengan penuh hormat ia menunduk dalam, lalu berkata,
“Guru… terima kasih atas segala ilmu, pedang maupun pengetahuan, yang engkau tanamkan dalam diriku. Aku tidak akan melupakan bimbinganmu.”

Prabu Galang Siwah memandangnya, mata sang kesatria berkilau seperti bara yang tak pernah padam.
“Pandika,” ujarnya dengan suara yang tenang namun mengandung kekuatan kuno, “engkau kini adalah muridku, sebagaimana aku menjadi gurumu. Bila kelak engkau kembali ke Majapahit, sampaikanlah kepada saudaraku bahwa aku hidup sehat, dan bahwa suatu hari—bila angin takdir menghendaki—aku akan kembali mengunjungi tanah leluhur itu.”

Ia kemudian mengangkat tangan, seakan memberkati perjalanan sang murid.
“Semoga engkau menemukan tujuan hidupmu, sebagaimana pedang menemukan cahaya yang menuntunnya.”

Pandika menunduk sekali lagi, lebih dalam dari sebelumnya, memberi hormat kepada sang prabu dan juga kepada para peri yang berdiri anggun di bawah kemilau sayap kain mereka. Para peri membalas dengan senyum lembut, seolah alam sendiri mengiringi perpisahan itu.

Dengan langkah mantap ia menuju si Maung—makhluk agung yang telah menjadi sahabat setianya. Si Maung bergerak mendekat, bulunya bergetar ringan dihembus angin hutan peri.

Dalam keheningan yang penuh harapan, Pandika naik ke punggung si Maung, dan bersama-sama mereka berangkat, meninggalkan kerajaan peri. Jalan menuju Majapahit membentang di hadapan mereka, panjang, purba, dan penuh takdir yang belum terungkap.