Langit di atas Kerajaan Agnivarsha berubah menjadi lautan awan yang membara.
Naga tua itu mengepakkan sayapnya yang telah pulih, melesat semakin tinggi hingga menembus gumpalan awan merah yang diterangi cahaya matahari senja. Tubuhnya yang besar laksana gunung terbang meninggalkan jejak bara yang memanjang di angkasa.
Di belakangnya, pasukan berkuda naga dari Laskar Bara Naga terus memburu tanpa mengenal lelah.
Para pengejar mulai kehilangan harapan.
“Kecepatannya semakin bertambah!”
“Kita tidak akan mampu menyusulnya!”
Salah seorang ksatria menggertakkan gigi.
“Itulah Rakhtavira, Naga Api Purba. Tak ada makhluk bersayap yang mampu menandingi kecepatannya.”
Di barisan paling depan terbang Mahapati Rudra Agnivega, panglima perang Agnivarsha. Dialah salah satu dari sedikit manusia yang berhasil bertahan menjalani ritual Darah Naga.
Banyak ksatria pernah mencoba menerima darah makhluk purba itu. Sebagian tubuh mereka hangus terbakar dari dalam, sebagian lagi berubah menjadi monster tanpa akal sebelum akhirnya mati mengenaskan.
Hanya segelintir yang mampu mengendalikan kekuatan tersebut.
Rudra Agnivega adalah salah satunya.
Darah naga telah mengubah seluruh tubuhnya.
Penglihatannya mampu menembus kabut dan melihat sasaran dari kejauhan.
Pendengarannya dapat menangkap desir sayap di balik awan.
Ketika menghadapi bahaya, kulitnya berubah menjadi sisik naga merah kehitaman yang sanggup menahan tebasan pedang dan hujan anak panah.
Namun bahkan dengan kekuatan itu, mengejar Rakhtavira bukanlah perkara mudah.
Sang naga tua tiba-tiba memperlambat kepakan sayapnya.
Matanya yang menyala merah menoleh ke belakang.
“Aku masih bisa merasakan kalian…”
“Begitu keras kepala mengejar kebebasan yang telah kuraih.”
Rakhtavira menarik napas panjang.
Dadanya memancarkan cahaya merah keemasan.
Udara di sekelilingnya bergetar oleh panas yang luar biasa.
Para ksatria yang mengejar mulai menyadari apa yang akan terjadi.
“Menjauh!”
“Ia sedang mengumpulkan Inti Api!”
Terlambat.
Dengan raungan yang mengguncang langit, Rakhtavira memuntahkan bola api raksasa ke arah bumi.
Ledakan cahaya membelah awan.
Bola api itu meluncur bagaikan matahari yang jatuh dari langit.
DUUUAARRR!
Ledakannya mengguncang pegunungan.
Gelombang panas menyapu hutan dan bebatuan.
Beberapa ksatria Laskar Bara Naga yang berada paling depan tak sempat menghindar. Mereka lenyap ditelan kobaran api.
Sementara mereka yang selamat segera mengaktifkan kekuatan Darah Naga.
Sisik merah muncul menutupi tubuh mereka, dan bayangan naga kecil menyelimuti sosok mereka untuk menahan panas yang mematikan.
Meski demikian, banyak di antara mereka tetap terluka parah.
Api Rakhtavira terus berkobar.
Anehnya, kobaran itu tidak padam meski diterpa hujan dan angin gunung.
Selama tujuh hari tujuh malam, nyala merah itu terus membakar lembah tempat bola api jatuh, meninggalkan tanah hitam yang tak lagi ditumbuhi kehidupan.
Rakhtavira menatap ke belakang untuk terakhir kalinya.
“Aku tidak lagi terikat oleh rantai manusia.”
“Mulai hari ini, langit adalah kerajaanku.”
Dengan satu kepakan sayap yang dahsyat, naga tua itu kembali melesat menuju ufuk barat.
Di balik pegunungan yang tak pernah dijelajahi manusia, terbentang tujuan akhirnya—
Sarang Para Naga, negeri purba tempat keturunan naga terakhir masih menjaga warisan leluhur mereka, jauh dari jangkauan kerajaan-kerajaan manusia.
Pagi menjelang ketika sinar matahari menembus celah-celah kanopi hutan. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, sementara suara burung bersahutan menyambut hari baru. Pandika, Si Maung, dan Si Oren kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Di tengah perjalanan, Pandika memecah keheningan.
"Seperti apa Kerajaan Bayu Arcapada?"
Si Maung yang berjalan paling depan menjawab tanpa menoleh.
"Itu adalah negeri langit dan angin yang tak terjangkau. Kerajaannya berdiri di puncak tebing-tebing tinggi, seolah menggantung di antara bumi dan langit."
Si Oren tersenyum, seolah mengenang tempat itu.
"Indah sekali. Awan terasa begitu dekat hingga seakan bisa disentuh dengan tangan. Udaranya sangat dingin, meskipun salju tak pernah turun. Penduduknya memanfaatkan kincir-kincir angin raksasa untuk memompa air dari lembah menuju kota di atas gunung."
Ia melanjutkan,
"Negeri itu dipimpin oleh Prabu Langitpawana Dirgantara, yang bergelar Pengembara Langit Utara. Konon beliau mampu membaca arah angin hanya dari desir dedaunan."
Pandika mengangguk kagum.
"Kalau begitu, bagaimana kita bisa sampai ke sana? Gunung setinggi itu tentu sulit didaki."
Si Oren terkekeh.
"Aku punya teman di sebuah tempat bernama Desa Wangi. Ia memelihara seekor Garuda sejak masih kecil. Mungkin ia bersedia mengantar kita terbang menuju Bayu Arcapada."
---
Menjelang siang mereka tiba di Desa Wangi.
Begitu memasuki desa itu, Pandika segera mengerti mengapa tempat itu dinamai demikian.
Udara dipenuhi aroma pandan yang lembut dan menenangkan. Rumah-rumah dibangun di atas akar dan batang pohon beringin raksasa, sementara tanaman pandan tumbuh subur di setiap sudut desa.
Pandika kembali dibuat terkejut.
Teman Si Oren ternyata bukan manusia.
Melainkan seekor musang pandan berwarna cokelat keemasan yang dapat berbicara layaknya manusia.
Sebelum mengetuk pintu rumahnya, Si Oren mengeluarkan beberapa buah dari dalam kantongnya.
Cherry merah mengilap.
Mangga harum.
Dan alpukat yang matang sempurna.
"Ini makanan kesukaannya," bisik Si Oren.
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka.
Musang itu mengangkat sebelah alisnya.
"Halo, Sobat!" seru Si Oren sambil tersenyum lebar. "Aku membawakan hadiah untukmu."
Musang pandan itu menyilangkan kedua tangannya.
"Aku curiga dengan kedatanganmu."
"Kenapa tidak memberi kabar lebih dulu? Aku bahkan belum sempat mempersiapkan penyambutan."
Si Oren tertawa kecil.
"Aku sedang menjalankan misi dari Roh Penjaga Pohon Dunia."
"Kami membutuhkan bantuanmu."
"Bisakah kau mengantar kami ke Kerajaan Bayu Arcapada? Kami sudah lama mencarinya tetapi belum menemukan jalannya."
Musang itu mengusap dagunya.
"Bisa saja..."
"Tapi biayanya tidak murah."
Si Oren tersenyum licik.
"Bagaimana kalau pembayaran ini?"
Ia mengeluarkan sebutir biji ajaib pemberian Roh Penjaga Rimba.
"Cobalah."
Musang itu menerimanya dengan ragu.
"Aku coba dulu. Jangan-jangan kau sedang menipuku."
Ia memakan biji tersebut.
Sesaat kemudian matanya membelalak.
"Eh?"
"Buah apa ini?"
"Aku belum pernah merasakan makanan seperti ini."
Perutnya terasa hangat dan kenyang, seolah baru saja menikmati hidangan besar.
"Wah..."
"Ini luar biasa."
Si Oren hanya tersenyum.
"Itu rahasia."
Musang pandan akhirnya tertawa puas.
"Baiklah."
"Aku akan mengantar kalian ke Bayu Arcapada."
Ia lalu berdiri di halaman rumah dan mengeluarkan siulan panjang yang menggema ke seluruh lembah.
Tak lama kemudian—
langit menjadi gelap oleh bayangan besar.
Angin bertiup sangat kencang.
Pepohonan beringin bergoyang hebat.
Daun-daun beterbangan memenuhi udara.
Dari balik awan, turun seekor Garuda raksasa dengan bentangan sayap yang begitu luas hingga menutupi cahaya matahari.
Bulu-bulunya berwarna emas kecokelatan, sementara paruh dan cakarnya berkilau seperti logam.
Burung agung itu mendarat dengan anggun di depan mereka.
Musang pandan menepuk leher Garuda dengan penuh kasih.
"Sudah lama kita tidak bepergian bersama, sahabatku."
Ia lalu menoleh kepada Pandika dan kawan-kawannya.
"Naiklah ke dalam keranjang di punggungnya."
"Aku akan duduk di atas leher Garuda untuk menunjukkan jalan."
Pandika menatap langit yang luas.
Di balik lautan awan itu, Kerajaan Bayu Arcapada menanti mereka—negeri yang menjadi tujuan berikutnya dalam pencarian Biji Pohon Dunia.
Lalu, dengan satu kepakan sayapnya yang perkasa, angin berputar menjadi pusaran dahsyat. Pohon-pohon raksasa bergoyang hebat seakan diterjang badai. Daun-daun beterbangan memenuhi udara, sementara ranting-ranting kecil patah dan melayang mengikuti arus angin.
Perlahan, tubuh Garuda terangkat dari bumi.
Semakin tinggi.
Semakin tinggi.
Tak lama kemudian, hutan di bawah mereka berubah menjadi hamparan hijau yang tampak sekecil lumut.
Pandika memandang ke bawah dengan takjub.
"Belum pernah aku melihat dunia setinggi ini..."
Mereka menembus lapisan awan putih yang tebal. Kabut dingin menyelimuti wajah mereka hingga jarak pandang hanya beberapa langkah. Namun setelah beberapa saat, cahaya matahari kembali menyinari perjalanan.
Di balik lautan awan itu, terbentang sebuah negeri yang menakjubkan.
Di atas puncak-puncak gunung berdiri sebuah kota megah dengan benteng batu putih yang kokoh. Menara-menara tinggi menjulang ke langit, sementara puluhan kincir angin raksasa terus berputar mengikuti hembusan angin pegunungan. Saluran-saluran air mengalir dari menara menuju taman-taman yang hijau, membuat seluruh kota tampak hidup di tengah awan.
"Itulah..." bisik Si Maung.
"Kerajaan Bayu Arcapada."
Pandika terdiam beberapa saat, terpukau oleh keindahan negeri yang seolah menggantung di antara langit dan bumi.
Garuda tidak langsung menuju gerbang kota.
Sebaliknya, ia melayang mengitari kerajaan sebelum turun perlahan di sebuah hutan kecil di luar tembok kota. Seekor pohon besar yang tumbuh di tepi jurang dipilih sebagai tempat mendarat agar kedatangan mereka tidak menarik perhatian para penjaga.
Musang pandan turun lebih dahulu dari punggung Garuda.
Ia mencabut sehelai bulu emas dari sayap sahabatnya, lalu menyerahkannya kepada Si Oren.
"Entah apa yang akan kalian lakukan di dalam kerajaan itu," katanya pelan. "Terimalah bulu Garuda ini. Semoga keberanian dan keberuntungan selalu menyertai kalian."
Si Oren menerima bulu itu dengan penuh hormat.
"Terima kasih, Sobat."
"Kami hanya ingin mengambil sesuatu dari dalam istana. Jika misi ini berhasil, aku akan memberimu hadiah yang lebih baik daripada pembayaran tadi."
Musang pandan tersenyum tipis.
"Aku akan menunggu di sini."
"Tetapi ingat, bila keadaan berubah menjadi terlalu berbahaya, aku dan Garuda akan terbang pergi. Kami tidak boleh ikut terseret dalam urusan kerajaan."
Si Oren tertawa kecil.
"Tenang saja."
"Semua akan berjalan sesuai rencana."
---
Tak lama kemudian, ketiganya berjalan menuju gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada.
Di depan gerbang batu yang menjulang tinggi, para penjaga memeriksa setiap pendatang. Pedagang, pengelana, dan utusan dari kerajaan lain harus menunjukkan surat izin sebelum diperbolehkan masuk.
Melihat penjagaan yang ketat, Si Oren segera menyusun siasat.
Ia mengenakan celemek lusuh, memanggul keranjang besar berisi roti hangat yang baru dipanggang, lalu mengubah sikapnya menjadi ramah dan penuh senyum.
"Roti hangat! Roti madu pegunungan!" serunya nyaring. "Baru matang! Cocok untuk para ksatria yang berjaga sejak pagi!"
Pandika dan Si Maung saling berpandangan.
Keduanya sudah hafal.
Setiap kali menghadapi penjagaan yang ketat, Si Oren selalu memiliki cara yang tidak terduga untuk membuka jalan. Dan kali ini, penyamarannya sebagai seorang penjual roti menjadi awal dari penyusupan mereka ke negeri langit, tempat Biji Pohon Dunia berikutnya menanti untuk ditemukan.
Si Oren merapikan celemeknya, lalu memanggul keranjang rotinya sambil berjalan santai menuju pos pemeriksaan di gerbang utama Kerajaan Bayu Arcapada. Aroma roti yang masih hangat segera menarik perhatian para penjaga.
"Roti hangat! Roti cokelat baru keluar dari oven! Cocok untuk menghangatkan tubuh di udara pegunungan!" serunya riang.
Seorang penjaga mengangkat tangan.
"Tunggu dulu."
Ia mengambil sepotong roti dari keranjang Si Oren.
"Roti apa ini? Seingatku, baru kali ini aku melihatmu berjualan di sini."
Si Oren membungkuk hormat.
"Saya hanya pedagang dari desa sebelah, Tuan. Di sana pembelinya sedikit sekali. Saya membuat roti cokelat yang dipanggang dalam oven batu. Silakan dicicipi, gratis khusus untuk para penjaga yang telah bekerja keras."
Para penjaga saling berpandangan.
Salah seorang menggigit roti itu perlahan.
Sesaat kemudian matanya membelalak.
"Walah..."
"Rasanya... luar biasa!"
"Maknyus... enak tenan!"
Saking nikmatnya, ia sampai melompat-lompat kecil dan berputar kegirangan, membuat rekan-rekannya tertawa terbahak-bahak.
Tanpa mereka sadari, Si Oren tersenyum kecil dalam hati.
"Bubuk rempah pemberian Musang Pandan memang tidak pernah gagal."
Penjaga itu mengusap remah-remah roti di bibirnya.
"Baiklah."
"Kau boleh masuk ke dalam kota."
"Tapi ingat, jangan sekali-kali mendekati kawasan istana."
"Berjualanlah di sekitar permukiman penduduk."
Si Oren mengangguk sopan.
"Terima kasih, Tuan Penjaga."
---
Gerbang kerajaan pun terbuka.
Si Oren melangkah memasuki Kerajaan Bayu Arcapada untuk pertama kalinya.
Jalan-jalan batu yang bersih membelah permukiman penduduk.
Di setiap rumah berdiri kincir angin kayu yang berputar tanpa henti, memompa air dari lembah menuju bak-bak penampungan di atas bukit.
Udara pegunungan terasa sejuk dan segar.
Ladang-ladang umbi, kentang, talas, dan berbagai tanaman dataran tinggi menghijau sejauh mata memandang.
Penduduk hidup sederhana, namun wajah mereka tampak damai.
"Negeri ini benar-benar diberkahi angin," gumam Si Oren kagum.
Ia terus berkeliling sambil menjajakan roti hingga seluruh dagangannya habis terjual.
Sore mulai berganti malam ketika ia meninggalkan kota melalui gerbang yang sama.
Di luar tembok kerajaan, Pandika dan Si Maung masih bersembunyi di atas sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jurang.
Begitu melihat Si Oren datang, keduanya segera turun.
"Bagaimana?" tanya Si Maung.
Si Oren mengangguk.
"Di dalam aman."
Pandika mengernyit.
"Tolong jelaskan maksudmu dengan aman."
Si Oren mulai menjelaskan apa yang dilihatnya.
"Gerbang utama dijaga oleh prajurit bersenjata pedang."
"Di setiap menara pengawas berdiri pemanah yang terus mengawasi langit dan jalan masuk."
"Selain itu, ada beberapa anjing penjaga yang memiliki penciuman sangat tajam. Mereka berpatroli di sekitar pintu gerbang dan halaman istana."
Si Maung mengangguk pelan sambil memandang tembok kerajaan yang mulai diterangi obor.
"Kalau begitu..."
"Kita tidak akan masuk melalui gerbang."
"Kita menunggu sampai tengah malam."
"Saat angin pegunungan bertiup paling kencang dan para penjaga mulai lengah."
Tatapan Si Maung berubah tajam.
"Malam ini... kita akan menyusup ke dalam istana Prabu Langitpawana Dirgantara."
Di kejauhan, baling-baling kincir angin terus berputar diterpa angin malam, seolah menjadi irama yang mengiringi dimulainya misi berikutnya untuk menemukan Biji Pohon Dunia.
Angin pegunungan berembus semakin kencang, membuat kincir-kincir angin raksasa terus berputar sambil mengeluarkan bunyi berderit yang menggema di antara tebing-tebing tinggi. Kabut perlahan turun dari langit, menyelimuti puncak-puncak menara hingga hanya siluetnya yang tampak diterangi cahaya bulan.
Di bawah sebuah pohon tua, musang pandan memandang ketiga sahabat itu dengan wajah serius.
"Berhati-hatilah."
"Istana Pawana Dirgantara bukan seperti kerajaan lain."
"Istana itu menggantung di bibir tebing langit dan hanya dihubungkan oleh jembatan-jembatan tali raksasa. Kabut dan angin selalu berputar mengelilingi menara-menara putihnya."
Musang itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Dan waspadailah Senapati Bayusena Jagadwipa."
"Ia adalah panglima perang kerajaan, seorang pendekar langit yang mampu bergerak secepat badai."
"Jangan pula meremehkan Garuda Putih, pasukan ksatria elit yang mengenakan sayap kain suci. Mereka ahli bertempur di udara dan sanggup mengejar musuh melintasi jurang."
Ia menatap langit yang mulai dipenuhi awan.
"Bila matahari terbit dan kalian belum kembali..."
"...aku akan pergi dari tempat ini."
Si Oren menepuk bahu sahabatnya sambil tersenyum.
"Tenang saja, Sobat."
"Kami pasti kembali dengan selamat."
Musang pandan hanya mengangguk pelan.
---
Pandika kemudian menoleh kepada Si Maung.
"Apakah kau sudah dapat mencium bau Biji Pohon Dunia?"
Si Maung menutup mata sejenak, mengendus udara malam yang dipenuhi aroma embun dan pinus.
Beberapa saat kemudian ia membuka matanya.
"Ya."
"Aromanya sangat jelas."
"Biji itu berada... di dalam istana."
Kalimat itu membuat ketiganya saling berpandangan.
"Mari berangkat," bisik Si Maung.
Seketika kabut tipis keluar dari tubuhnya.
Perlahan-lahan kabut itu menyelimuti Pandika, Si Maung, dan Si Oren hingga ketiganya seolah lenyap dari pandangan.
Pandika menarik napas panjang.
Lalu ia mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.
Tubuhnya melesat secepat angin malam.
Si Maung dan Si Oren yang kembali ke wujud kucing kecil bertengger di kedua bahunya agar tidak menghambat pergerakannya.
Ia berlari melewati semak, batu, dan jalan setapak tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Di pos penjagaan pertama, beberapa prajurit tiba-tiba menoleh.
"Hm?"
"Barusan... seperti ada angin yang lewat."
Seorang penjaga mengangkat obornya.
"Tidak ada siapa-siapa."
"Mungkin hanya angin gunung."
Mereka kembali berjaga tanpa menyadari bahwa penyusup telah melewati mereka.
Pandika terus melesat hingga mencapai tembok luar kerajaan.
Dengan satu lompatan ringan ia meraih bibir tembok batu, merayap perlahan di atasnya, lalu turun tanpa suara ke halaman dalam.
Di hadapannya terbentang pemandangan yang membuatnya terdiam.
Sesuai cerita musang pandan, Istana Pawana Dirgantara benar-benar berdiri di atas tebing raksasa.
Jurang menganga di bawahnya, sementara jembatan-jembatan tali raksasa menghubungkan halaman kerajaan dengan bangunan utama.
Kabut berputar di antara menara-menara putih, membuat seluruh istana tampak melayang di atas awan.
Namun setiap jembatan dijaga oleh prajurit bersenjata lengkap.
Pandika menarik napas dalam.
Sekali lagi ia mengaktifkan Langkah-Langkah Mendominasi.
Gerakannya menjadi seringan embusan angin.
Ia menahan napas ketika menapaki jembatan tali, memastikan tak satu pun papan kayu berderit.
Di ujung jembatan, pintu utama istana masih tertutup rapat.
Beberapa penjaga yang bertugas di sana tampak berbincang santai sambil menghangatkan diri dengan secangkir minuman.
Pandika segera berlindung di balik salah satu pilar batu.
Ia menunggu dengan sabar.
"Jangan gegabah," bisik Si Maung sangat pelan.
"Cepat atau lambat... seseorang pasti akan membuka pintu itu."
Mereka pun menahan napas dalam keheningan malam, sementara angin pegunungan terus bersiul mengitari Istana Pawana Dirgantara, membawa pertanda bahwa ujian berikutnya telah menanti di balik gerbang yang masih tertutup.
Satu jam telah berlalu.
Tak seorang pun keluar ataupun masuk melalui pintu utama Istana Pawana Dirgantara. Para penjaga masih berjaga sambil berbincang santai, sama sekali tidak menyadari bahwa tiga penyusup sedang menunggu hanya beberapa langkah dari mereka.
Si Oren mulai kehilangan kesabaran.
"Cukup menunggu," bisiknya. "Kalau begini sampai fajar pun pintu itu tidak akan terbuka."
Seketika tubuhnya membesar menjadi seekor kucing liar raksasa. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerjang para penjaga.
Buk! Buk!
Sebelum mereka sempat berteriak, satu per satu penjaga roboh tak sadarkan diri.
Di saat yang sama, Pandika bergerak menggunakan Langkah-Langkah Mendominasi. Ia melumpuhkan beberapa penjaga lain yang datang dari lorong samping, lalu mengikat mereka di kursi-kursi kayu sehingga dari kejauhan tampak seolah mereka masih berjaga seperti biasa.
Pandika mencoba mendorong pintu istana.
Pintu itu tidak bergeming.
"Macet..." gumamnya.
Si Maung maju beberapa langkah.
Tok... tok... tok...
Ia mengetuk pintu perlahan.
Tak lama kemudian terdengar suara kunci diputar dari dalam.
Pintu terbuka sedikit.
Seorang penjaga mengintip keluar dengan wajah heran.
"Siapa di lu—"
Belum sempat kalimatnya selesai, Si Oren menariknya masuk ke dalam.
Bruk!
Penjaga itu langsung pingsan.
"Cepat!"
"Mari masuk!"
Mereka segera menutup kembali pintu besar itu.
---
Bagian dalam Istana Pawana Dirgantara jauh lebih megah daripada yang mereka bayangkan.
Lantainya terbuat dari marmer putih berkilau.
Pilar-pilar tinggi menjulang hingga langit-langit, dihiasi ukiran awan, burung garuda, dan pusaran angin.
Lorong-lorong terbuka menghadap jurang, membuat angin pegunungan bebas berembus ke seluruh ruangan. Hembusan itu melewati celah-celah pilar dan menghasilkan bunyi merdu, seakan seluruh istana sedang memainkan musik alam.
Namun...
Anehnya hampir tidak ada seorang pun yang terlihat.
Si Maung memimpin perjalanan.
"Hidungku sudah menangkap aromanya."
"Ikut aku."
Mereka menaiki tangga demi tangga yang bercabang ke berbagai arah, sebagian bahkan melintang di atas jurang yang dalam.
Semakin tinggi mereka mendaki, aroma Biji Pohon Dunia semakin terasa kuat.
Hingga akhirnya...
Mereka tiba di sebuah taman rahasia yang tersembunyi di jantung istana.
Pepohonan langka tumbuh subur di sana.
Bunga-bunga berwarna biru bergoyang mengikuti irama angin.
Di tengah taman berdiri seekor Garuda berkepala tiga yang dirantai dengan belenggu baja hitam.
Ketiga kepalanya membuka mata secara bersamaan.
"Aku tahu..."
"...kalian adalah tamu yang tak diundang."
Si Maung melangkah maju.
"Perkenalkan."
"Aku Si Maung, Raja Kucing dan sahabat para binatang."
"Kami sedang menjalankan misi menyelamatkan Pohon Dunia yang sedang sekarat."
"Bantulah kami menemukan Biji Pohon Dunia."
"Sebagai balasannya, kami akan membebaskanmu."
Garuda itu menghela napas panjang.
"Kalian memang pemberani."
"Tetapi cepat atau lambat para ksatria tingkat tinggi kerajaan ini akan menemukan kalian."
"Aku sendiri tidak mampu membantu banyak."
"Lihatlah."
"Rantai besi ini telah mengurungku selama bertahun-tahun."
Pandika mengeluarkan sebutir biji ajaib dari kantongnya.
"Cobalah makan ini."
Garuda menelan biji itu.
Tak lama kemudian cahaya keemasan memancar dari tubuhnya.
Bulu-bulu yang semula rontok mulai tumbuh kembali.
Sayapnya menjadi gagah.
Paruhnya yang retak kembali utuh dan mengilap.
Garuda itu mengangkat salah satu kepalanya.
"Aku telah mendapatkan kembali sebagian kekuatanku."
"Biji yang kalian cari..."
"...berada di dasar jurang, di bawah akar Pohon Angin Purba."
Dengan sekali hentakan paruhnya...
KRAAAK!
Rantai baja yang mengikat tubuhnya hancur berkeping-keping.
"Naiklah ke punggungku."
"Aku akan mengantar kalian."
Mereka segera menaiki punggung Garuda.
Dengan kepakan sayap yang dahsyat, Garuda terbang menuruni jurang.
Angin berputar menjadi pusaran besar, membuat dedaunan beterbangan seperti badai.
Di dasar jurang, di sela-sela akar pohon purba, tampak cahaya hijau keemasan berdenyut lembut.
"Itu dia!" seru Si Maung.
Ia melompat dari punggung Garuda, mendarat di atas akar raksasa, lalu dengan cakarnya mencungkil Biji Pohon Dunia dengan sangat hati-hati agar tidak merusaknya.
Setelah berhasil mengambilnya, ia kembali melompat ke atas punggung Garuda.
"Aku berterima kasih atas bantuanmu," kata Si Maung.
Sementara itu, Si Oren mengeluarkan sehelai bulu emas Garuda yang dititipkan musang pandan.
"Ini untukmu."
"Temanmu masih hidup dan menunggu di luar kerajaan."
Ketiga kepala Garuda itu tersenyum haru.
"Ternyata... ia tidak melupakanku."
Namun pada saat yang sama, suasana istana berubah.
Satu demi satu lentera dan obor di atas menara menyala terang.
Suara lonceng peringatan bergema memecah malam.
Para penjaga telah sadar bahwa ada penyusup di dalam istana.
Pandika segera menggenggam pedangnya.
"Kita harus pergi. Sekarang!"
Garuda mengepakkan kedua sayapnya dengan sekuat tenaga.
Pusaran angin raksasa menyapu halaman istana, menerbangkan debu, daun, bahkan beberapa penjaga yang baru tiba.
Di balik badai angin itu, Pandika, Si Maung, dan Si Oren memulai pelarian mereka, sementara Garuda berkepala tiga akhirnya kembali menghirup udara kebebasan setelah sekian lama menjadi tawanan Kerajaan Bayu Arcapada.