Chapter 94: Mesin yang Menunggu
Seiring berjalannya waktu, kompleks baru PT Sinar Ultraviolet akhirnya selesai dibangun.
Pembangunan berlangsung hampir tanpa henti. Siang dan malam, pekerja Indonesia dan tenaga ahli asing bergantian menyelesaikan bagian terakhir dari kompleks tersebut. Bangunan itu tidak lagi tampak seperti kantor biasa. Di bawah permukaannya terdapat ruang kendali, pusat energi, laboratorium teleportasi, serta fasilitas pengamanan yang dirancang untuk menampung teknologi yang belum memiliki padanan di dunia modern.
Di salah satu ruang terdalam, Dmitri Orlov berdiri di depan panel kendali.
"Mulai aktivasi."
Tidak ada suara dramatis. Hanya bunyi mekanis dari sistem yang mulai bekerja.
Lampu indikator berubah satu demi satu.
Hijau.
Biru.
Kemudian putih.
Dmitri memeriksa layar.
"Stasiun energi nuklir mulai memasok daya."
Di ruang lain, sistem kecerdasan buatan milik Rosatom menjalankan pemeriksaan otomatis terhadap seluruh jaringan.
Dr. Aleksandr Petrov memantau sistem pendingin yang dirancangnya.
"Tekanan stabil."
Ia menunggu beberapa detik.
"Temperatur juga stabil."
Irina Sokolova memeriksa material pelindung radiasi yang mengelilingi ruang reaktor. Sensor-sensor menunjukkan tidak ada perubahan struktur.
"Material pelindung dalam kondisi normal."
Sementara itu, Viktor Mikhailov berdiri di depan sistem pompa kriogenik.
"Suhu berada dalam batas operasi."
Ia memperhatikan grafik selama beberapa saat.
"Tidak ada kebocoran pada pipa."
Tidak seorang pun bersorak.
Mereka telah belajar dari pengalaman bahwa sebuah sistem energi tidak menjadi aman hanya karena ia berhasil menyala.
Keamanan baru dimulai setelah mesin berjalan.
---
Dmitri memberikan perintah terakhir.
"Restart seluruh sistem."
Seluruh kompleks menjadi gelap.
Selama beberapa detik, gedung itu seolah kehilangan kehidupannya.
Kemudian—
WUUUMM.
Lampu-lampu menyala kembali.
Lebih terang daripada sebelumnya.
Energi mengalir melalui jaringan listrik menuju laboratorium utama.
Di tengah ruangan berdiri artefak lampu teleportasi.
Tidak ada kabel yang terhubung langsung dengannya.
Namun permukaannya mulai bercahaya.
Emas.
Kemudian kebiruan.
Ny Tien aktif.
«"Sistem navigasi teleportasi siap."»
Jatmika berdiri di depan layar utama.
"Tujuan?"
«"Planet Valtherion."»
Sebuah model tiga dimensi planet muncul di udara.
Jatmika memperhatikan koordinat tersebut.
"Kali ini kita tidak hanya mengirim manusia."
John menatapnya.
"Maksudmu?"
Jatmika menunjuk rancangan kendaraan yang ditampilkan di layar.
"Kita akan mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya."
---
NASA telah menyiapkan sebuah mesin jet eksperimental.
Bentuknya lebih menyerupai kendaraan antariksa kecil daripada pesawat biasa. Sistem propulsinya dirancang untuk digunakan setelah tim berhasil mencapai Valtherion.
Mesin itu telah menjalani berbagai pengujian.
Pengujian pertama: berhasil.
Kedua: berhasil.
Ketiga: berhasil.
Namun ada satu batasan yang tidak dapat diubah.
"Mesin ini hanya bisa digunakan sekali," ujar Michael.
John mengerutkan kening.
"Sekali?"
"Setelah digunakan, beberapa komponen propulsinya harus diganti. Dalam kondisi ekspedisi, kita tidak memiliki fasilitas untuk memperbaikinya."
Jatmika terdiam.
Satu perjalanan.
Satu kesempatan.
Tidak ada percobaan kedua.
Ia kemudian melihat artefak teleportasi.
Selama ini manusia mengira masalah terbesar dalam perjalanan antarbintang adalah jarak.
Tetapi setelah mereka menemukan teleportasi, jarak bukan lagi persoalan utama.
Persoalannya berubah menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih menakutkan:
Apakah manusia dapat kembali setelah berhasil sampai di sana?
Ny Tien tiba-tiba berbicara.
«"Simulasi teleportasi Valtherion siap dijalankan."»
Jatmika menarik napas.
"Mulai simulasi."
Cahaya keemasan perlahan memenuhi ruangan.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Mereka semua menyadari bahwa mesin yang sedang mereka bangun bukan sekadar alat transportasi.
Ia adalah sebuah pertanyaan yang dibuat dari logam, energi, dan matematika.
Dan setiap kali mereka menekan tombol mulai, mereka sedang meminta alam semesta memberikan jawabannya.
Berita mengenai investasi besar-besaran konglomerat Rusia, Victor Aleksandrovich Morozov, terhadap PT Sinar Ultraviolet akhirnya menyebar ke kalangan bisnis internasional.
Morozov dikabarkan telah menggelontorkan dana dalam jumlah fantastis untuk mendukung pengembangan energi, teknologi teleportasi, dan ekspedisi menuju dunia yang selama ini hanya dianggap sebagai bagian dari teori.
Nama Valtherion mulai beredar di kalangan tertentu.
Namun bagi sebagian besar masyarakat, Valtherion tetap menjadi rahasia yang belum dapat dibuktikan.
Bagi Alexander Nathaniel Sterling, berita itu justru merupakan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia tunggu.
Sterling adalah seorang pengusaha teknologi Amerika yang membangun kekayaannya dari industri kecerdasan buatan, teknologi antariksa, satelit, dan sistem penerbangan eksperimental. Ia telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membawa manusia semakin jauh dari Bumi.
Tetapi selama ini, semua jalan yang ia tempuh selalu memiliki batas.
Roket membutuhkan bahan bakar.
Pesawat membutuhkan waktu.
Satelit membutuhkan jalur orbit.
Dan perjalanan antarbintang masih menjadi mimpi.
Sampai ia mendengar tentang PT Sinar Ultraviolet.
Beberapa minggu kemudian, sebuah pesawat pribadi milik Sterling mendarat di fasilitas baru perusahaan di Kalimantan.
Ia datang tanpa rombongan besar.
Hanya beberapa orang kepercayaannya yang ikut mendampinginya.
Jatmika menerima Sterling di ruang konferensi utama. Di ruangan itu telah hadir Pak Toni, John, Prof. Wen Shuyuan, serta beberapa perwakilan tim NASA dan Rusia.
Sterling berdiri di hadapan mereka.
Pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk meminta izin.
Ia terlihat seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum memasuki ruangan.
“Saya sudah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membeli roket, satelit, dan teknologi yang memungkinkan manusia meninggalkan Bumi.”
Alex menatap Jatmika.
“Tapi kalian memiliki sesuatu yang tidak bisa saya beli.”
Jatmika menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Apa itu?”
Sterling tersenyum tipis.
“Jalan pintas menuju bintang-bintang.”
Ruangan mendadak hening.
Alex kemudian duduk.
“Saya tidak datang untuk membeli perusahaan Anda.”
Ia membuka sebuah berkas digital dan meletakkannya di atas meja.
“Saya datang untuk membeli kesempatan.”
Jatmika menatapnya.
“Kesempatan untuk apa?”
“Valtherion.”
Beberapa anggota tim NASA langsung saling berpandangan.
Sterling melanjutkan.
“Sebutkan saja harganya. Berapa biaya yang harus saya bayar agar dapat ikut serta dalam misi ke Valtherion?”
Jatmika tidak menjawab.
Ia justru memandang layar besar di dinding.
Di sana terpampang gambar planet Valtherion, hasil pemetaan dan dokumentasi ekspedisi sebelumnya.
Planet itu indah.
Namun keindahan tersebut menyembunyikan sesuatu yang belum mereka pahami.
“Pak Sterling,” ujar Jatmika akhirnya, “ini bukan perjalanan wisata.”
“Saya tahu.”
“Tidak.”
Jatmika menatapnya lebih tajam.
“Menurut saya, Anda belum benar-benar tahu.”
Sterling terdiam.
“Di sana ada kondisi yang belum sepenuhnya kami pahami. Ada perbedaan waktu. Ada energi yang belum dapat kami jelaskan. Ada makhluk dan peradaban yang mungkin sudah mengetahui keberadaan kita.”
Jatmika berhenti sejenak.
“Dan yang paling penting, kami belum tahu apakah manusia seharusnya berada di sana.”
Sterling menyandarkan tubuhnya.
“Justru karena itu saya ingin pergi.”
Salah seorang perwakilan NASA segera menyela.
“Tidak bisa.”
Sterling menoleh.
Perwakilan NASA itu berdiri.
“Misi Valtherion bukan proyek komersial. Kami tidak akan membiarkan seseorang membeli kursi hanya karena memiliki uang.”
“Bukan itu yang saya tawarkan,” jawab Sterling.
“Lalu apa?”
“Dukungan.”
Sterling menatap seluruh ruangan.
“Jika saya diizinkan ikut, saya akan memberikan dukungan penuh kepada PT Sinar Ultraviolet. Pendanaan penelitian, fasilitas penerbangan, satelit, sistem komunikasi, pengembangan kendaraan, dan teknologi keselamatan.”
Pak Toni mengangkat alis.
“Dan sebagai gantinya Anda ingin ikut?”
“Benar.”
Perwakilan Rusia ikut berbicara.
“Ini ekspedisi ilmiah, bukan penerbangan pribadi.”
Sterling tersenyum kecil.
“Saya tidak pernah mengatakan saya ingin bersantai di sana.”
Perdebatan mulai memanas.
NASA menolak menjadikan ekspedisi tersebut sebagai penerbangan komersial.
Tim Rusia juga keberatan karena keselamatan seluruh kru akan menjadi tanggung jawab bersama.
Jatmika membiarkan mereka berbicara.
Ia memahami kedua pihak.
Valtherion bukan tempat untuk orang kaya yang ingin membeli pengalaman eksotis.
Namun di sisi lain, Sterling bukan sekadar miliarder yang ingin berfoto di planet asing.
Ia memiliki sesuatu yang mungkin berguna.
Beberapa menit kemudian Sterling mengangkat tangannya.
“Saya memiliki satu alasan lagi.”
Semua orang kembali menatapnya.
“Saya membawa sebuah kendaraan.”
John mengerutkan kening.
“Kendaraan?”
Sterling mengangguk.
“Mesin jet eksperimental.”
Pak Toni langsung bertanya.
“Buatan perusahaan Anda?”
“Ya.”
“Untuk apa?”
Sterling tersenyum.
“Untuk terbang di Valtherion.”
Ruangan kembali hening.
Perwakilan NASA terlihat tidak percaya.
“Kendaraan Anda belum pernah diuji di luar Bumi.”
“Benar.”
“Dan Anda ingin mengujinya di planet asing?”
“Tidak.”
Sterling menatap Jatmika.
“Saya ingin mengujinya sebelum kita menggunakannya di sana.”
Jatmika akhirnya tertarik.
“Seberapa canggih?”
Sterling memberi isyarat kepada asistennya.
Layar konferensi berubah.
Muncul gambar sebuah kendaraan jet futuristis dengan bentuk yang jauh berbeda dari pesawat konvensional.
“Ini bukan pengganti kendaraan NASA,” ujar Sterling. “Anggap saja sebagai alternatif.”
Perwakilan NASA menggeleng.
“Alternatif yang belum terbukti.”
“Karena itu harus diuji.”
Sterling menatap Jatmika.
“Berikan saya kesempatan untuk membuktikannya.”
Jatmika berdiri dan berjalan mendekati layar.
Ia memperhatikan rancangan kendaraan itu.
Tidak ada keputusan yang bisa dibuat dengan tergesa-gesa.
Misi Valtherion telah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ekspedisi.
Rusia membawa teknologi energi.
NASA membawa teknologi antariksa.
PT Sinar Ultraviolet membawa teleportasi.
Dan sekarang seorang konglomerat Amerika datang membawa kendaraan eksperimentalnya sendiri.
Jatmika akhirnya berbalik.
“Pak Sterling.”
“Ya?”
“Saya tidak akan menjual tiket menuju Valtherion.”
Sterling mengangguk.
“Saya sudah menduga.”
“Tapi…”
Jatmika memandang rancangan jet di layar.
“…saya bersedia mempertimbangkan kerja sama.”
Sterling tersenyum.
“Dengan syarat?”
“Tidak ada satu pun teknologi yang boleh digunakan sebelum dinyatakan aman oleh seluruh tim.”
Sterling mengulurkan tangannya.
“Kesepakatan yang adil.”
Jatmika menjabat tangannya.
Namun di dalam pikirannya, satu pertanyaan tetap muncul.
Jika manusia akhirnya memiliki jalan menuju dunia lain, siapa yang berhak menentukan siapa yang boleh melewatinya?
Dan mungkin, pertanyaan yang lebih sulit adalah:
berapa harga yang pantas untuk sebuah perjalanan menuju dunia yang bahkan belum tentu menginginkan kedatangan manusia?
Pagi itu, fasilitas PT Sinar Ultraviolet di Kalimantan dipenuhi aktivitas.
Di salah satu hanggar terbesar, sebuah kendaraan jet berwarna hitam keperakan berdiri di atas landasan uji. Bentuknya ramping, tanpa sayap konvensional yang terlalu lebar. Beberapa bagian badan pesawat tampak seperti menyatu dengan mesin, sementara di bagian bawahnya terdapat sistem pendorong yang dirancang khusus untuk menghasilkan daya angkat dalam waktu singkat.
Kendaraan itu adalah milik Alexander Nathaniel Sterling.
NASA telah mengirimkan beberapa insinyur untuk mengawasi pengujian. Tim Rusia juga hadir untuk memeriksa sistem energi dan ketahanan struktur.
Alexander berdiri di ruang kontrol bersama Jatmika.
“Berapa kapasitasnya?” tanya Jatmika.
“Lima orang,” jawab Alexander.
“Termasuk pilot?”
“Termasuk pilot.”
Jatmika mengangguk.
Pengujian pertama dilakukan tanpa teleportasi.
Mesin dinyalakan.
Suara dengungan rendah memenuhi hanggar.
Kemudian daya dorong meningkat.
WUUUMMM!
Jet itu terangkat beberapa meter dari permukaan landasan.
Dalam hitungan detik, kendaraan tersebut bergerak maju dengan akselerasi yang membuat beberapa teknisi NASA saling berpandangan.
“Respons mesinnya sangat cepat,” ujar salah seorang insinyur NASA.
“Dan stabil,” jawab rekannya.
Jet melakukan beberapa manuver dasar, kemudian mendarat dengan sempurna.
Alexander tersenyum.
“Sekarang bagian yang sebenarnya.”
Jatmika menatapnya.
“Teleportasi.”
Alexander mengangguk.
Kendaraan tersebut kemudian ditempatkan di dalam ruang teleportasi.
Lima kursi telah dipasang di dalam kabin.
Sistem pengaman dikunci.
Tidak ada manusia di dalamnya.
Untuk pengujian pertama, mereka menggunakan lima manekin dengan sensor lengkap.
Ny. Tien mulai melakukan sinkronisasi.
“Koordinat tujuan dikunci.”
Lampu indikator berubah.
“Energi teleportasi stabil.”
Jatmika memperhatikan layar.
“Mulai.”
Cahaya memenuhi ruangan.
Dalam sekejap, jet itu menghilang.
Beberapa detik kemudian, sensor menerima sinyal.
Objek tiba di titik tujuan.
Semua orang bersorak kecil.
Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Sistem kendaraan mulai mengirimkan peringatan.
TEMPERATUR BATERAI MENINGKAT.
Alexander segera mendekati layar.
“Berapa?”
“Terus meningkat,” jawab teknisi.
Tim Rusia segera memeriksa data.
“Panas residu dari proses teleportasi masuk ke sistem penyimpanan energi.”
“Bisa didinginkan?” tanya Jatmika.
“Bisa,” jawab teknisi Rusia, “tetapi membutuhkan waktu.”
Beberapa menit kemudian temperatur mulai turun.
Namun hasil analisis membuat semua orang terdiam.
Sistem baterai mengalami degradasi signifikan setelah satu kali teleportasi.
Alexander menatap hasil tersebut.
“Jadi?”
Teknisi menjawab,
“Pesawat bisa melakukan teleportasi satu kali dengan aman. Tetapi tidak direkomendasikan untuk melakukan teleportasi kedua tanpa penggantian atau pemulihan sistem baterai.”
Jatmika menatap Alexander.
“Artinya kendaraan ini hanya bisa sekali jalan.”
Alexander tidak terlihat kecewa.
Justru ia tersenyum.
“Sekali jalan masih lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Perwakilan NASA tertawa kecil.
“Setidaknya kita tahu batasnya.”
Uji berikutnya dilakukan dengan lima orang.
Alexander sendiri bersikeras ikut.
Namun Jatmika menolak.
“Belum.”
Alexander menghela napas.
“Baik.”
Mereka akhirnya menggunakan kru penguji yang telah dipersiapkan.
Kelima orang masuk.
Pintu kabin ditutup.
Ny. Tien kembali melakukan sinkronisasi.
“Lima penumpang terdeteksi.”
“Energi cukup,” ujar sistem.
Jatmika memberikan perintah.
“Teleportasi.”
Cahaya kembali memenuhi ruang.
Dalam sepersekian detik, kendaraan dan kelima penumpangnya menghilang.
Di ruang kontrol, semua orang menahan napas.
Beberapa saat kemudian—
Sinyal diterima.
“Berhasil!”
Data muncul di layar.
Kelima penumpang dalam kondisi normal.
Kendaraan juga berhasil melakukan prosedur pendaratan.
Namun temperatur baterai kembali melonjak.
Kali ini lebih tinggi.
Alexander mengangguk perlahan.
“Batasnya sudah jelas.”
Salah seorang insinyur NASA kemudian berkata,
“Untuk kendaraan yang dirancang dari sistem baterai, akselerasinya sangat mengesankan.”
Insinyur Rusia memeriksa data struktural.
“Dan rangkanya mampu menahan perubahan energi selama teleportasi.”
Ia menoleh kepada Alexander.
“Secara keseluruhan, kendaraan ini layak digunakan sebagai kendaraan pendukung.”
Alexander tersenyum.
“Bukan kendaraan utama?”
“Belum.”
Jawaban itu justru membuat Alexander tertawa.
“Saya bisa menerima itu.”
Jatmika mendekati kendaraan yang baru saja kembali dari pengujian.
“Lima orang. Akselerasi tinggi. Bisa digunakan setelah teleportasi.”
Ia menatap Alexander.
“Tapi hanya sekali jalan.”
Alexander mengangguk.
“Kalau begitu jangan buang kesempatan itu.”
Tim NASA dan Rusia akhirnya menyetujui hasil pengujian.
Kendaraan Alexander tidak sempurna.
Namun justru karena keterbatasannya telah diketahui, kendaraan itu menjadi jauh lebih berguna.
Mereka tahu kapan harus menggunakannya.
Mereka tahu batas keselamatannya.
Dan yang paling penting—
mereka tahu bahwa ketika kendaraan itu dibawa ke Valtherion, tidak akan ada perjalanan pulang menggunakan mesin tersebut.
Untuk kembali ke Bumi, mereka tetap harus mengandalkan satu-satunya teknologi yang mereka miliki:
teleportasi.
Di ruang kontrol, Ny. Tien kemudian menampilkan simulasi misi.
Sebuah garis menghubungkan Bumi dengan Valtherion.
Jatmika memandangnya dalam diam.
Perjalanan menuju dunia lain kini bukan lagi sekadar kemungkinan.
Mereka sudah memiliki kendaraan.
Mereka memiliki energi.
Mereka memiliki teknologi teleportasi.
Yang belum mereka miliki hanyalah kepastian bahwa mereka akan kembali dengan selamat.
Sebelum memikirkan keberangkatan menuju Valtherion, Jatmika merasa ada satu hal yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Ia mengundang penduduk desa di sekitar fasilitas baru PT Sinar Ultraviolet untuk berkumpul.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada pertunjukan. Hanya sebuah acara doa bersama sebagai ungkapan syukur atas selesainya pembangunan fasilitas perusahaan sekaligus peresmian kantor baru.
Pagi itu, halaman utama dipenuhi warga.
Para pekerja perusahaan berdiri berdampingan dengan penduduk desa. Orang-orang yang sebelumnya hanya mengenal kompleks itu sebagai bangunan asing di tengah Kalimantan, kini melihatnya sebagai bagian dari lingkungan mereka sendiri.
Jatmika berdiri di hadapan mereka.
“Tempat ini dibangun bukan hanya untuk perusahaan kami,” katanya. “Kami berharap tempat ini juga membawa manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.”
Doa bersama kemudian dimulai.
Jatmika menundukkan kepala.
Di hadapannya berdiri sebuah kompleks yang menyimpan teknologi yang mungkin mengubah sejarah manusia. Namun untuk sesaat, semua itu terasa jauh.
Ia menyadari bahwa sebesar apa pun teknologi yang mereka miliki, mereka tetap hidup di tengah manusia lain.
Dan mungkin, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia mampu membawa manusia pergi.
Tetapi juga dari seberapa baik ia mampu hidup berdampingan dengan manusia yang ditinggalkannya.
Setelah acara selesai, Jatmika kembali ke pusat kendali.
Di ruang konferensi utama telah menunggu para perwakilan NASA, tim Rusia, Alexander Nathaniel Sterling, Victor Aleksandrovich Morozov, Pak Toni, Prof. Wen Shuyuan, serta beberapa anggota inti PT Sinar Ultraviolet.
Di layar besar terpampang sebuah gambar.
VALTHERION.
Jatmika berdiri di ujung meja.
“Hari ini kita tidak akan membicarakan apakah kita mampu pergi ke Valtherion.”
Ia menekan layar.
Peta planet itu muncul.
“Kita sudah tahu jawabannya.”
Ruangan menjadi hening.
“Kita bisa pergi.”
Jatmika kemudian mengganti tampilan.
Sebuah titik muncul di permukaan planet.
“Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang akan kita lakukan setelah sampai di sana?”
Seorang perwakilan NASA menjawab lebih dulu.
“Kontak pertama.”
Jatmika mengangguk.
“Itulah prioritas utama.”
Ia menunjuk titik yang menandai sebuah kota besar di permukaan Valtherion.
“Kita akan menggunakan mesin jet milik Alexander untuk terbang menuju kota ini. Tujuan kita bukan menjelajah sejauh mungkin. Bukan mencari sumber daya. Dan bukan mengambil artefak.”
Ia berhenti.
“Tujuan kita hanya satu.”
“Berbicara.”
Prof. Wen Shuyuan menatap peta tersebut.
“Kalau kita benar-benar ingin melakukan kontak dengan penduduk Valtherion, saya harus ikut.”
Jatmika menoleh kepadanya.
“Ya.”
Wen tersenyum tipis.
“Saya kira Anda tidak akan memberi saya pilihan.”
“Kita membutuhkan penerjemah.”
Wen kemudian menjelaskan bahwa komunikasi tidak sesederhana menerjemahkan kata demi kata.
“Sebuah bahasa tidak hanya terdiri dari kata,” katanya. “Ada konteks, sejarah, simbol, cara menghormati seseorang, bahkan cara menyampaikan penolakan.”
Ia menunjuk gambar kota Valtherion.
“Jika kita mengatakan sesuatu yang menurut kita sopan, belum tentu mereka memahaminya sebagai sesuatu yang sopan.”
Perwakilan NASA mengangguk.
“Itulah risiko terbesar dalam misi ini.”
Jatmika menatapnya.
“Risiko terbesar bukan senjata?”
“Bukan.”
Pria itu menggeleng.
“Kesalahpahaman.”
Ia kemudian berdiri.
“Bayangkan lima manusia asing muncul di langit sebuah kota dengan kendaraan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka tidak mengetahui siapa kita. Mereka tidak mengetahui tujuan kita. Mereka bahkan mungkin tidak memiliki konsep tentang Bumi.”
Ia menunjuk layar.
“Jika kita salah melakukan satu tindakan, mereka bisa menganggap kedatangan kita sebagai invasi.”
Tidak ada yang menjawab.
Karena kemungkinan itu masuk akal.
Jatmika kemudian berkata,
“Karena itu kita tidak akan datang sebagai pasukan.”
Ia menampilkan rancangan misi.
“Kelompok pertama hanya terdiri dari beberapa orang.”
Ia menunjuk daftar nama.
“Jatmika. Prof. Wen Shuyuan. Satu anggota NASA. Satu anggota Rusia. Dan satu pilot.”
Alexander mengangkat tangan.
“Pilotnya saya.”
Beberapa orang menoleh kepadanya.
Jatmika tersenyum kecil.
“Anda yakin?”
“Kalau saya sudah membawa pesawatnya, rasanya tidak masuk akal kalau saya hanya melihatnya dari ruang kontrol.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Namun Jatmika kembali serius.
“Kelompok pertama tidak membawa senjata berat.”
Perwakilan NASA langsung menimpali.
“Perlengkapan pertahanan tetap harus ada.”
“Tentu,” jawab Jatmika. “Tapi tidak boleh terlihat sebagai ancaman.”
Ia menggeser tampilan berikutnya.
“Tidak ada pengambilan sumber daya. Tidak ada memasuki bangunan tanpa izin. Tidak ada menyentuh artefak. Tidak ada tindakan militer.”
Ia menatap seluruh peserta rapat.
“Dan tidak ada yang menembak kecuali nyawa kita benar-benar terancam.”
Ruangan kembali hening.
Jatmika kemudian menunjukkan tahap kedua.
“Jika kontak pertama berhasil, kelompok pertama akan kembali memberikan laporan.”
Layar menampilkan dua kelompok berikutnya.
“Kelompok kedua datang untuk memperkuat komunikasi. Mereka membawa peralatan ilmiah dan medis.”
Kemudian tahap ketiga muncul.
“Kelompok ketiga membawa para ahli diplomasi, teknologi, budaya, dan kerja sama.”
Alexander mengangguk.
“Jadi kita tidak langsung mengirim seluruh tim.”
“Benar.”
Jatmika menatap gambar kota Valtherion.
“Kita memberi mereka kesempatan untuk mengenal kita secara bertahap.”
Prof. Wen mengangguk.
“Itu lebih masuk akal.”
Jatmika melanjutkan,
“Jika mereka menerima kita, barulah kita mulai membicarakan kerja sama.”
“Kerja sama seperti apa?” tanya Victor Morozov.
Jatmika tidak langsung menjawab.
Ia melihat gambar planet itu beberapa detik.
“Belum tahu.”
Victor mengerutkan kening.
“Belum tahu?”
“Ya.”
Jatmika tersenyum tipis.
“Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita akan bertemu dengan bangsa yang tidak berasal dari Bumi.”
Ia menatap semua orang di ruangan.
“Kita tidak boleh datang membawa daftar permintaan.”
Jatmika mematikan layar.
“Untuk kontak pertama, kita hanya membawa satu hal.”
Alexander bertanya,
“Apa?”
Jatmika menjawab,
“Kesediaan untuk mendengarkan.”
Tidak seorang pun berbicara setelah itu.
Di luar ruang konferensi, mesin-mesin terus bekerja. Energi mengalir menuju pusat teleportasi. Kendaraan jet eksperimental Alexander telah diperiksa untuk terakhir kalinya.
Semua teknologi yang selama ini mereka bangun akhirnya memiliki satu tujuan.
Bukan untuk menaklukkan dunia lain.
Melainkan untuk menemukan apakah manusia mampu memperkenalkan dirinya kepada dunia lain tanpa terlebih dahulu membuat dunia itu takut kepadanya.
Di layar utama, Valtherion kembali muncul.
Sebuah planet asing.
Sebuah peradaban yang belum mereka kenal.
Dan sebuah pertanyaan yang bahkan belum memiliki bahasa untuk dijawab:
Ketika dua peradaban pertama kali bertemu, siapa yang harus belajar memahami siapa?
Rapat persiapan berlangsung hingga malam.
Di layar utama ruang konferensi, peta Valtherion masih terpampang. Kota yang menjadi tujuan kontak pertama diberi tanda khusus. Tidak ada seorang pun yang menganggap perjalanan ini sebagai ekspedisi biasa.
Jatmika berdiri dan mulai membagi para peserta ke dalam tiga kelompok.
“Untuk mengurangi risiko,” katanya, “kita tidak akan mengirim semua orang sekaligus.”
Ia menekan layar.
Kelompok Pertama — Tim Kontak
Nama-nama muncul satu per satu.
Jatmika
Prof. Wen Shuyuan
Michael — NASA
Sergei Volkov — Roscosmos
Alexander Nathaniel Sterling
Jatmika menjelaskan,
“Kelompok pertama adalah tim kontak. Tugas utama kalian bukan melakukan penelitian besar. Bukan pula menjelajah planet.”
Ia memandang kelima orang tersebut.
“Tujuan kalian hanya satu: mencapai kota, memastikan keberadaan penduduk Valtherion, dan membuka komunikasi pertama.”
Wen Shuyuan mengangguk.
“Saya akan menangani komunikasi.”
Michael memeriksa data perlengkapan.
“Saya bertanggung jawab pada pengamatan dan prosedur NASA.”
Sergei kemudian berkata,
“Dan saya memastikan sistem energi serta keselamatan kendaraan.”
Alexander tersenyum.
“Saya mengurus kendaraan.”
Jatmika tertawa kecil.
“Kurang lebih begitu.”
Ia kemudian mengganti tampilan layar.
Kelompok Kedua — Tim Pendukung
Rizki Mandang
Edward
Dr. Aleksandr Petrov
“Kelompok kedua tidak langsung berangkat,” ujar Jatmika. “Kalian menunggu hasil kelompok pertama.”
Rizki mengangguk.
“Jika terjadi keadaan darurat?”
“Kalian menjadi tim bantuan.”
Edward menambahkan,
“Dan kalau kontak pertama berhasil?”
“Kalian membawa peralatan tambahan dan membantu membangun komunikasi yang lebih stabil.”
Jatmika kemudian menampilkan kelompok terakhir.
Kelompok Ketiga — Tim Penguatan
Joesoef
Irina Sokolova
John
Pak Toni
Victor Aleksandrovich Morozov
Pak Toni memperhatikan daftar tersebut.
“Kenapa saya berada di kelompok ketiga?”
Jatmika tersenyum.
“Karena saya tidak ingin semua orang penting berada di tempat yang sama ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi.”
Pak Toni mengangguk.
“Masuk akal.”
Victor Morozov hanya tersenyum.
“Dan saya?”
Jatmika menatapnya.
“Anda datang setelah kami memastikan bahwa situasinya aman.”
Victor memahami maksudnya.
Ia bukan datang sebagai investor.
Setidaknya belum.
Ia datang sebagai bagian dari sebuah misi yang jauh lebih besar daripada kepentingan bisnis.
---
Simulasi
“Seperti biasa,” kata Jatmika, “sebelum keberangkatan kita melakukan simulasi.”
Ruang konferensi berubah menjadi pusat perencanaan misi.
Tim teknis mulai menjalankan berbagai skenario.
Skenario A — Kontak Berhasil.
Kelompok pertama mencapai kota Valtherion.
Penduduk setempat tidak menunjukkan permusuhan.
Wen Shuyuan berhasil berkomunikasi.
Mereka kemudian memperkenalkan diri sebagai manusia dari sebuah planet bernama Bumi.
Jika skenario ini terjadi, kelompok kedua akan diberangkatkan setelah menerima laporan dari tim pertama.
Kelompok ketiga menyusul hanya setelah situasi benar-benar stabil.
Jatmika kemudian meminta skenario lain.
“Sekarang skenario terburuk.”
Layar berubah.
Skenario B — Kontak Gagal.
Penduduk Valtherion menunjukkan kecurigaan.
Mereka menganggap kendaraan manusia sebagai ancaman.
Jatmika memberikan instruksi.
“Tidak ada perlawanan kecuali kita diserang.”
Michael mengangguk.
“Kita mundur ke titik teleportasi.”
Sergei menambahkan,
“Jika kendaraan mengalami kerusakan?”
“Kita tinggalkan kendaraan,” jawab Jatmika.
Alexander menoleh.
“Pesawat saya?”
Jatmika menatapnya.
“Lebih baik kehilangan satu pesawat daripada kehilangan lima manusia.”
Alexander terdiam beberapa detik.
Kemudian ia mengangguk.
“Setuju.”
Mereka melanjutkan simulasi.
Skenario C — Teleportasi Gagal.
Jika kelompok pertama tidak dapat kembali ke Bumi, kelompok kedua tidak langsung dikirim.
Mereka harus memastikan terlebih dahulu apakah kegagalan berasal dari artefak teleportasi, gangguan energi Valtherion, atau kerusakan sistem di Bumi.
Skenario D — Kehilangan Komunikasi.
Jika seluruh komunikasi terputus, kelompok pertama dianggap berada dalam kondisi tidak diketahui.
Kelompok berikutnya tidak boleh berangkat tanpa perintah.
Jatmika menatap semua peserta.
“Tidak ada improvisasi heroik.”
Beberapa orang tersenyum.
“Kalau sistem mengatakan berhenti, kita berhenti.”
Ia menunjuk layar.
“Valtherion tidak akan menjadi tempat untuk membuktikan siapa yang paling berani.”
---
Pemeriksaan Kesehatan
Setelah simulasi selesai, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan.
Tekanan darah.
Jantung.
Paru-paru.
Kondisi neurologis.
Kepadatan tulang.
Kondisi mata.
Respons tubuh terhadap perubahan tekanan dan percepatan.
Tidak ada satu pun peserta yang boleh berangkat sebelum dinyatakan layak.
Ny. Tien kemudian menggabungkan hasil pemeriksaan dengan data simulasi.
“Semua peserta menjalani pemeriksaan lengkap,” katanya melalui sistem komunikasi.
Jatmika memperhatikan layar.
“Dan hasilnya?”
“Sedang dianalisis.”
Ia menunggu.
Beberapa detik kemudian, laporan awal muncul.
KELOMPOK PERTAMA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.
KELOMPOK KEDUA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.
KELOMPOK KETIGA — MENUNGGU VALIDASI MEDIS.
Jatmika memandang daftar itu.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perjalanan menuju Valtherion sebenarnya sudah dimulai.
Bukan ketika mereka memasuki ruang teleportasi.
Tetapi sejak mereka memutuskan siapa yang akan pergi.
Di luar gedung, malam Kalimantan terasa tenang.
Tidak ada yang terlihat berbeda.
Namun jauh di dalam fasilitas itu, mesin-mesin sedang menghitung energi, jarak, waktu, dan kemungkinan.
Lima manusia akan menjadi yang pertama membawa nama Bumi ke dunia lain.
Dan sebelum mereka berangkat, mereka harus menerima satu kenyataan sederhana:
Tidak ada simulasi yang mampu memberi tahu mereka bagaimana peradaban lain akan bereaksi ketika melihat manusia untuk pertama kalinya.