Cari Blog Ini

04/11/26

Season 8 kisah Pandika dari Kerajaan Cakram

.
Chapter 104 Kerajaan Langit Timur — Kepulangan Sang Garudaraksa

Kerinduan yang telah lama terpendam akhirnya tak lagi mampu dibendung oleh Garudaraksa Tempestara. Setelah sekian lama terkurung jauh dari tanah kelahirannya, hasrat untuk kembali ke sarang dan menemui bangsa yang pernah dipimpinnya membara lebih kuat daripada badai mana pun.

Dengan sekali kepakan sayap, ia melesat menuju ufuk timur. Tubuhnya membelah lapisan awan, sementara kecepatan terbangnya mengguncang udara hingga membentuk pusaran angin raksasa. Tornado-tornado muncul di bawah lintasannya, menyapu pepohonan dan menerbangkan debu dari permukaan bumi.

Jauh di timur terbentang sebuah wilayah yang amat subur. Hutan-hutan purba dipenuhi pepohonan menjulang tinggi, sungai-sungai jernih mengalir di antara lembah, dan air terjun jatuh dari tebing-tebing raksasa yang dipenuhi lubang gua alami. Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti kerajaan yang dibangun oleh tangan para dewa.

Namun kedamaian wilayah tersebut mendadak terusik.

Angin topan menerjang hutan. Pohon-pohon besar bergoyang hebat, sementara kawanan burung dan binatang liar berhamburan meninggalkan sarang mereka. Dari balik awan, tampak sesosok predator raksasa dengan tiga kepala yang membentangkan sayapnya begitu luas hingga menutupi cahaya matahari.

Dialah Garudaraksa Tempestara, sang penguasa langit yang telah lama menghilang.

Selama bertahun-tahun, wilayah timur itu dikuasai oleh seekor elang raksasa yang mengangkat dirinya sebagai penguasa tertinggi setelah Garudaraksa ditawan. Namun ketika melihat sosok penguasa lama kembali dengan kekuatan yang jauh lebih menggentarkan, sang elang hanya mampu menundukkan kepalanya.

Tak ada keberanian untuk menantang makhluk yang dahulu membuat seluruh penghuni langit gemetar.

Garudaraksa akhirnya mendarat di sebuah tebing tinggi yang dipenuhi gua-gua besar. Di sanalah sarangnya berada, tempat berbagai jenis burung dan binatang hutan hidup dalam perlindungannya.

Dengan suara menggelegar yang mengguncang dinding tebing, ia berseru,

"Aku telah kembali! Akhirnya aku terbebas dari penjara sialan itu!"

Suara tersebut menggema hingga ke dasar lembah.

Seekor burung hantu tua segera terbang menyambutnya. Di paruhnya tergantung seekor tikus besar yang masih hidup.

"Selamat datang kembali, Paduka. Kami telah lama menantikan kepulangan Anda."

Burung hantu itu meletakkan buruannya di hadapan sang penguasa sebagai tanda penghormatan.

Tak jauh dari sana, seekor elang raksasa menundukkan kepalanya.

"Paduka telah kembali dengan selamat. Sungguh anugerah bagi seluruh penghuni wilayah timur."

Garudaraksa mengamati sekeliling sarangnya. Banyak wajah yang dikenalnya, tetapi ada pula beberapa penghuni baru yang belum pernah dilihatnya.

"Aku melihat banyak perubahan di tempat ini. Ceritakan kepadaku, apa yang terjadi selama aku tidak berada di sini?"

Sang elang raksasa terdiam sejenak.

"Wilayah ini masih bertahan, Paduka. Namun banyak hal telah berubah sejak kepergian Anda."

Garudaraksa mengembangkan sayapnya dan duduk di atas batu besar.

"Aku sendiri tidak mungkin dapat kembali jika bukan karena pertolongan seorang manusia dan dua ekor kucing. Mereka membebaskanku dari rantai besi yang selama ini mengurung tubuhku."

Seekor burung merpati putih yang bertengger di dahan pohon segera bertanya,

"Siapakah nama manusia dan kedua kucing itu, Paduka?"

"Manusia itu bernama Pandika. Kedua sahabatnya adalah Si Maung dan Si Oren. Mereka bukan makhluk biasa. Ada sesuatu yang istimewa dalam diri mereka. Aku berutang kebebasan kepada ketiganya."

Namun tiba-tiba wajah Garudaraksa berubah serius.

Ia memandang ke arah bagian terdalam gua, kemudian bertanya dengan suara berat,

"Di manakah istriku? Di manakah sang Phoenix yang bercahaya itu? Mengapa aku tidak melihatnya menyambut kepulanganku?"

Suasana seketika menjadi sunyi.

Burung-burung yang sebelumnya bersukacita mulai saling berpandangan. Burung perkutut tua akhirnya memberanikan diri mendekat.

"Ampun, Paduka. Ada sesuatu yang harus kami sampaikan."

"Katakanlah! Apa yang telah terjadi?"

"Tak lama setelah Paduka ditangkap, datanglah sekelompok makhluk asing yang menyebut diri mereka bangsa Kragmora. Tubuh mereka tinggi dan besar, mengenakan zirah yang menyerupai batuan gunung berapi. Mereka memiliki senjata yang mampu mengeluarkan kekuatan aneh. Serangan mereka begitu dahsyat sehingga kami tidak mampu memberikan perlawanan."

Garudaraksa mengepalkan cakarnya hingga batu di bawahnya retak.

"Lalu istriku?"

Burung perkutut menundukkan kepala.

"Maafkan kami, Paduka. Sang Phoenix telah dibawa pergi oleh bangsa Kragmora. Kami tidak mengetahui apakah ia masih hidup atau tidak."

Untuk beberapa saat Garudaraksa tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Lalu burung merpati putih terbang mendekat membawa sebuah benda kecil yang diletakkan dengan hati-hati di hadapannya.

"Namun, Paduka... masih ada sesuatu yang berhasil kami selamatkan."

Garudaraksa menatap benda tersebut.

Sebuah telur Phoenix.

Cangkangnya berwarna merah keemasan, dengan garis-garis cahaya yang berdenyut lembut seperti bara api di dalam tungku. Telur itu belum menetas sejak hari penyerangan.

Garudaraksa mendekatkan kepalanya.

"Telur anakku..."

Ia menyentuh cangkang tersebut dengan paruhnya. Untuk pertama kalinya sejak kembali, suara sang penguasa langit terdengar lirih.

"Syukurlah... setidaknya masih ada harapan yang tersisa."

Setelah beberapa saat, ia kembali mengangkat kepalanya.

"Ke mana bangsa Kragmora pergi setelah menyerang tempat ini?"

Sang elang raksasa segera menjawab,

"Aku melihat mereka bergerak menuju sebuah kepulauan di tengah samudra sebelah barat. Mereka sedang membangun benteng besar di sana. Konon tempat itu merupakan kawasan sarang naga."

Garudaraksa menatap jauh ke arah barat.

"Kepulauan sarang naga..."

"Benar, Paduka. Aku khawatir mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penaklukan wilayah."

Elang itu kemudian menambahkan,

"Harus kuakui, kita tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menyerang mereka. Senjata mereka mampu menembus pertahanan para makhluk langit. Bahkan beberapa penghuni terkuat kita telah menghilang."

Garudaraksa terdiam cukup lama.

Kemudian ketiga pasang matanya menyala dengan cahaya biru keemasan.

"Kalau begitu, kita tidak akan menghadapi mereka sendirian."

Ia mengepakkan sayapnya perlahan hingga angin berputar di dalam gua.

"Aku mengenal seseorang yang mungkin mampu membantu kita. Manusia bernama Pandika, bersama Si Maung dan Si Oren. Mereka sedang menjalankan misi besar untuk menyelamatkan Pohon Dunia."

"Apakah Paduka yakin mereka sanggup menghadapi bangsa Kragmora?" tanya burung hantu.

"Aku telah melihat sendiri keberanian mereka. Mereka tidak membebaskanku demi memperoleh kekayaan atau kekuasaan. Mereka melakukannya karena percaya bahwa setiap makhluk berhak mendapatkan kebebasannya."

Garudaraksa berdiri dan membentangkan seluruh sayapnya.

"Aku harus menemukan mereka sekarang juga. Kita tidak boleh membiarkan bangsa Kragmora semakin kuat. Jika mereka berhasil menguasai sarang naga, bukan hanya wilayah timur yang akan terancam, melainkan seluruh bumi."

Ia menoleh sekali lagi kepada burung merpati yang menjaga telur Phoenix.

"Jagalah telur itu. Jangan biarkan seorang pun menyentuhnya. Selama masih ada kehidupan di dalamnya, harapan bangsa kita belum berakhir."

"Perintah Paduka akan kami laksanakan."

Dengan satu kepakan sayap yang dahsyat, debu dan dedaunan beterbangan memenuhi gua. Garudaraksa Tempestara melesat keluar dari sarangnya, menembus awan menuju arah barat.

Di bawahnya, seluruh penghuni hutan menundukkan kepala menyaksikan kepergian sang penguasa.

Ia bukan lagi sekadar predator langit yang kembali dari penjara.

Ia adalah seorang raja yang kehilangan permaisurinya, seorang ayah yang masih menyimpan harapan pada telur anaknya, dan seorang penguasa yang kini memiliki tujuan baru: menemukan Pandika dan mempersiapkan perlawanan terhadap bangsa Kragmora.

Sementara itu, jauh di barat, benteng-benteng hitam bangsa Kragmora terus tumbuh di antara pulau-pulau berkabut.

Perang besar semakin dekat.