Chapter 89 Ksatria terluka
Di sudut gua yang remang, jauh dari dentuman pedang yang terus menggema, Surya Wikrama berlutut di tengah lingkar cahaya keemasan.
Tangannya terangkat, perlahan namun pasti, menyalurkan energi hangat yang mengalir seperti matahari pagi—lembut, namun penuh daya hidup.
Satu per satu para ksatria terbaring di sekelilingnya.
Pangreksa—tak sadarkan diri, napasnya tipis seperti benang yang hampir putus. Cahaya putih di dadanya hanya tersisa bara kecil, nyaris padam.
Bhra Anuraga—terduduk dengan tubuh bersandar pada batu, api di dalam dirinya meredup, seperti bara yang kehilangan kayu.
Bayu Anggana—terbaring diam, dadanya naik turun berat, seolah setiap napas adalah perjuangan melawan badai yang telah ia lepaskan sendiri.
Sagara Putra—tidak terluka parah secara jasmani, namun matanya kosong. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seakan masih merasakan air yang pernah menjadi sahabatnya… kini menjadi alat perpisahan.
Surya Wikrama memejamkan mata.
“Kalian telah melampaui batas tubuh dan jiwa…”
bisiknya pelan.
“Kini biarkan aku menahan retaknya.”
Cahaya emasnya menguat.
Luka-luka mulai menutup perlahan, energi yang tercerai dikumpulkan kembali—namun bahkan Surya tahu, tidak semua yang retak bisa disatukan sepenuhnya.
Di sisi lain lingkar itu, hanya dua yang masih berdiri.
Guntur Wisesa, dengan sisa kilat yang masih berderak pelan di tubuhnya.
Dan Jagat Dirgantara, yang berdiri kokoh seperti pilar dunia, meski retakan halus terlihat di lengannya.
Mereka menatap ke arah kegelapan.
Ke arah tempat di mana suara pertempuran tak pernah berhenti.
Di sana—
Isidore.
Tak terlihat jelas oleh mata biasa.
Hanya terdengar—
KLANG!
KRAANG!
SHRAAANG!
Benturan besi dengan besi.
Cahaya yang menyambar seperti kilat sesaat.
Bayangan yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti.
Tiga kepala suku mengurungnya.
Orkaghor menyerang dengan kebrutalan liar.
Mhezzrak menghilang dan muncul seperti bayangan yang mengintai kematian.
Vorthax menghantam dengan kekuatan yang mampu merobek batu.
Namun di tengah mereka—
Isidore berdiri.
Pedangnya menari.
Bukan lagi sekadar jurus.
Bukan lagi sekadar teknik.
Melainkan irama.
Langkahnya ringan seperti angin, namun setiap tebasan mengandung berat dunia. Serangan datang dari segala arah—namun selalu ada satu jalur sempit yang terbuka… dan Isidore selalu berada di sana.
Cahaya dari pedangnya kini tak lagi sekadar biru.
Ia mulai berubah.
Keemasan samar menyelinap di antara kilauannya—seperti fajar yang lahir dari malam panjang.
Dari kejauhan, Cheon Myeong berbisik pelan, suaranya nyaris hilang dalam gema perang:
“Ia mulai terbangun…”
“Bukan sebagai murid… tapi sebagai pewaris.”
Benturan semakin cepat.
Udara bergetar.
Tanah retak.
Dan untuk pertama kalinya—
para kepala suku mulai terdorong mundur.
Isidore tidak tampak lelah.
Napasnya stabil.
Tatapannya tajam.
Namun jauh di dalam dirinya, sesuatu sedang bangkit—
bukan kemarahan…
bukan keputusasaan…
melainkan kehendak yang tak tergoyahkan.
Di belakangnya, Guntur Wisesa melangkah maju.
“Kita tidak bisa membiarkannya sendiri.”
Jagat Dirgantara mengangguk.
Tanah bergetar pelan di bawah kakinya.
“Maka kita akan menjadi dindingnya.”
Keduanya melangkah ke dalam bayangan pertempuran.
Dan saat mereka masuk—
cahaya Isidore menyala lebih terang.
Pertempuran belum mencapai puncaknya.
Namun semua yang hadir di sana tahu—
momen penentuan sudah dekat.
Dentuman besi kembali menggema.
Namun kali ini—
Isidore tidak sendiri.
Dari sisi kiri, Guntur Wisesa melangkah masuk, kilat merayap di lengannya seperti naga yang terbangun.
Dari kanan, Jagat Dirgantara menghentakkan kaki—tanah merespons, bergetar pelan seperti makhluk purba yang membuka mata.
Tiga kepala suku menoleh.
Lalu… tersenyum.
“Akhirnya,” geram Vorthax.
“Pertarungan yang layak.”
Mereka maju bersamaan.
Orkaghor menerjang seperti binatang liar.
Mhezzrak menghilang dalam sela bayangan.
Vorthax mengangkat pedang raksasanya, siap menghancurkan segalanya.
Namun—
Isidore tidak bergerak.
Ia mengamati.
Matanya berubah.
Bukan lagi biru.
Bukan emas.
Melainkan keperakan—jernih, dingin, seperti cahaya bulan di atas pedang.
Di matanya, dunia melambat.
Setiap ayunan pedang terlihat jelas.
Setiap langkah memiliki jalur.
Dan setiap musuh… memiliki titik lemah.
“Ke kanan… dua langkah,” bisiknya pelan.
Guntur bergerak seketika.
Kilat menyambar tepat saat Orkaghor membuka sisi tubuhnya—ledakan cahaya memaksa sang kepala suku mundur setengah langkah.
“Sekarang.”
Jagat menghantam tanah.
DUUUM—!!
Getaran merambat, tak terlihat namun pasti.
Pertarungan berlanjut cepat—terlalu cepat untuk mata biasa. Cahaya putih, biru, dan percikan api beradu dalam tarian maut.
Namun tanpa disadari—
tanah di bawah kaki para kepala suku berubah.
Retakan halus menjalar.
Tekstur mengeras.
Energi bumi mengunci perlahan.
Mereka terlalu menikmati pertarungan itu.
Terlalu tenggelam dalam euforia kekuatan.
Hingga—
terlambat.
Kaki mereka terjebak.
Batu menggigit pergelangan, menjalar ke betis, lalu mengunci seperti belenggu dunia itu sendiri.
“Apa—?!”
Jagat Dirgantara berdiri tegak.
“Bumi… tidak pernah berpihak pada perusak.”
Saat itu—
Guntur Wisesa mengangkat tangannya ke langit gua.
Cahaya putih muncul.
Bukan satu.
Bukan dua.
Melainkan rentetan kilat yang jatuh tanpa henti.
KRAK!! KRAK!! KRAAASH!!
Petir menyambar kepala mereka, berulang, membakar, menghanguskan. Tubuh mereka gosong, daging terkoyak, namun—mereka tidak mati.
Keabadian mereka menahan kehancuran.
Namun juga—
menahan mereka dalam penderitaan itu.
Mereka tidak bisa bergerak.
Tidak bisa melawan.
Hanya berdiri…
terkunci…
terbakar.
Dan di tengah cahaya yang menyilaukan itu—
Isidore melangkah maju.
Tenang.
Sunyi.
Pedangnya terangkat.
Gerakannya sederhana.
Namun sempurna.
Satu langkah.
Satu putaran.
Satu tebasan—
lalu dua—
lalu tiga.
Tak ada suara.
Tak ada dentuman.
Hanya garis cahaya tipis yang melintas di tubuh para kepala suku.
Dan sesaat kemudian—
tubuh mereka terpisah.
Bersih.
Tanpa jeritan.
Tanpa perlawanan.
Keabadian mereka tidak hilang—
namun kini mereka hanyalah potongan tubuh yang tak lagi memiliki kehendak untuk bangkit.
Keheningan jatuh.
Petir berhenti.
Tanah kembali diam.
Isidore berdiri di antara sisa pertarungan, matanya perlahan kembali normal.
Guntur menurunkan tangannya, napasnya berat.
Jagat menarik palunya, retakan tanah menutup perlahan.
“Selesai…”
gumam Jagat.
Namun Isidore tidak menjawab.
Ia menatap ke depan.
Ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari sebelumnya.
Karena ia tahu—
ini belum akhir.
Dan dari balik bayangan yang belum tersentuh cahaya—
seseorang…
masih menunggu