Chapter 71 Semedi di Ambang Cahaya
Isidore duduk bersila di atas tanah yang masih hangat oleh sisa pertempuran. Napasnya belum sepenuhnya teratur; luapan energi dari Bayang Agung dan sentuhan kekuatan Rasvatar masih berputar liar di dalam nadinya, seperti arus sungai yang meluap setelah badai besar. Keris di pangkuannya berkilau redup, seolah turut beristirahat bersama tuannya.
Para ksatria membentuk lingkaran pelindung.
Pangreksa menurunkan suhu udara di sekelilingnya, menenangkan panas yang membara di tubuh Isidore. Bayu Anggana mengalirkan angin lembut, ritmis seperti napas bumi. Sagara Putra meneteskan air suci ke tanah, menciptakan gema sunyi yang menenangkan jiwa. Guntur Wisesa menahan kilat di dalam dirinya, meredam getar yang berlebihan. Bhra Anuraga memadamkan bara amarah, sementara Rakajati menumbuhkan akar tipis yang menghubungkan Isidore dengan denyut kehidupan hutan.
“Tenanglah,” ujar Rakajati lirih. “Biarkan bumi memikul sebagian bebanmu.”
Perlahan, Isidore memejamkan mata. Napasnya menyatu dengan irama alam. Cahaya di sekelilingnya meredup, dan dunia pun menjauh.
Mimpi Leluhur Mythopia
Isidore berdiri di sebuah dataran luas yang disinari cahaya keperakan. Langit di atasnya bertabur bintang yang tak pernah ia kenal, dan angin membawa nyanyian lama—lagu yang hanya hidup dalam ingatan darah. Dari kabut cahaya, muncullah sosok-sosok berjubah putih dan emas, wajah mereka tenang, mata mereka menyimpan kebijaksanaan zaman.
Mereka adalah leluhur Mythopia.
Salah seorang melangkah maju, suaranya lembut namun bergema hingga ke relung jiwa:
“Isidore, pewaris cahaya dan penjaga batas. Jalanmu berat karena hatimu luas.”
Isidore menunduk hormat.
“Aku berusaha menjaga dunia ini, meski kegelapan selalu kembali.”
Sosok lain mengangkat tangannya, menunjuk ke arah bayangan jauh yang berdenyut gelap.
“Jagalah selalu hatimu dari keburukan. Kekuatan terbesar bukan pada pedang atau mantra, melainkan pada niat yang tak ternoda.”
Yang tertua di antara mereka mendekat, sorot matanya tegas namun penuh kasih.
“Berhati-hatilah bila kelak engkau bertemu Rasvatar lagi. Ia menguasai keburukan bukan karena kuat, melainkan karena manusia memberinya celah. Jangan biarkan amarah, ketakutan, atau kesombongan membuka pintu baginya.”
Isidore mengangkat wajahnya.
“Bagaimana aku bertahan, jika kegelapan menyentuh hatiku?”
Jawaban itu datang seperti embun pagi:
“Ingatlah siapa dirimu, dan untuk apa engkau berdiri. Selama engkau memilih welas asih di atas kuasa, cahaya akan menemukan jalannya.”
Cahaya di sekeliling mereka memudar perlahan. Nyanyian leluhur menjauh, meninggalkan satu kalimat terakhir yang menggema:
“Kau tidak berjalan sendiri.”
Isidore membuka mata. Lingkaran para ksatria masih setia menjaga. Hutan tampak lebih terang, dan beban di dadanya terasa berkurang. Ia menarik napas panjang, bangkit perlahan—lebih tenang, lebih jernih.
Di kejauhan, angin membawa bisikan masa depan.
Perjalanan belum usai, namun kini Isidore tahu: selama hatinya terjaga, kegelapan takkan berkuasa sepenuhnya.
Sementara Isidore masih duduk bersila dalam istirahatnya, berjuang menata kembali sirkulasi energi yang bergejolak di dalam tubuhnya, Pandika telah melangkah menjauh dari lingkaran para ksatria. Wajahnya serius, matanya tajam menembus kegelapan hutan Sinabung. Misi yang diembannya berbeda—sunyi, berbahaya, dan tak kalah penting: mencari para sandera yang direnggut oleh gerombolan kegelapan.
Angin malam membawa bau tanah basah dan darah lama. Namun tak satu pun jejak manusia dapat ia tangkap.
Dengan helaan napas panjang, Pandika merogoh sebuah kantong kecil berhiaskan sulaman cahaya, pemberian bangsa peri dari masa silam. Ia membukanya perlahan.
Dari dalam kantong itu, muncul seekor anak kucing hitam, perutnya gendut dan matanya setengah terpejam, seolah baru terbangun dari tidur panjang.
Namun makhluk itu bukanlah kucing biasa.
Tubuhnya mulai membesar—perlahan namun pasti. Tulangnya memanjang, ototnya mengeras, bulunya menebal seperti malam yang menggulung. Dalam sekejap, ia telah menjelma menjadi makhluk sebesar serigala raksasa, dengan sorot mata emas yang cerdas dan senyum malas penuh sindiran.
“Gelap sekali di dalam kantong itu,” gerutu makhluk itu dengan suara berat namun malas.
“Kenapa lama sekali aku dikeluarkan, hah, Pandika?”
Pandika menunduk sedikit, rasa bersalah terlintas di wajahnya.
“Mohon maafkan aku. Aku terlupa… tapi kini aku sungguh membutuhkanmu. Para sandera masih belum kutemukan. Hutan ini seperti menelan jejak mereka.”
Si Maung Kucing menguap lebar, memperlihatkan taringnya yang berkilau.
“Hm. Untuk pekerjaan sepenting ini… kau berutang satu kilo ikan segar.”
Pandika tersenyum tipis.
“Itu mudah. Sekarang cepatlah, endus jejak mereka.”
Makhluk itu menundukkan kepalanya, hidungnya bergerak-gerak menghirup udara. Ia berjalan beberapa langkah, lalu mendengus kesal.
“Kau ini menyusahkan. Terlalu lambat jika berjalan seperti manusia.”
Ia menoleh tajam.
“Naik saja ke punggungku.”
Tanpa banyak bicara, Pandika memanjat punggung si Maung Kucing. Tubuh makhluk itu kokoh dan hangat, denyut kekuatannya terasa seperti binatang purba yang telah lama menjaga hutan ini.
Dengan satu lompatan panjang, mereka melesat menembus semak dan akar, bayangan hitam melaju di antara pepohonan. Daun-daun beterbangan, dan tanah bergetar pelan di bawah langkah sang penjaga malam.
Di hadapan mereka, hutan Sinabung terbentang luas—sunyi, gelap, dan menyimpan jeritan yang belum terjawab.
Dan perburuan pun dimulai.
Chapter 73 Kekhawatiran di Bukit Kemuning
Sementara bayang-bayang peperangan masih menggantung di hutan Sinabung, Putri Dyah Sekar Tanjung memilih untuk tidak kembali ke Majapahit. Ia tetap berada di Bukit Kemuning, bersama kelompok pengawal setianya. Angin senja mengibaskan rambutnya, dan matanya menatap jauh ke arah pegunungan, seolah ingin menembus jarak dan kegelapan yang memisahkannya dari Isidore.
“Aku ingin tahu,” ucap sang Putri pelan namun tegas,
“musuh seperti apa yang dihadapi Isidore.”
Pendekar Bayangan Pertama, yang berdiri setengah tersembunyi di balik pepohonan, menundukkan kepalanya sedikit.
“Apa pun makhluk itu, Paduka Putri… jelas bukan manusia. Kegelapan yang ia keluarkan terlalu pekat, terlalu tua. Seperti malam yang hidup.”
Paman Hanggono melangkah maju, wajahnya diliputi kecemasan.
“Putri, sebaiknya kita kembali ke Majapahit. Ayah dan ibumu pasti sangat khawatir bila Paduka tak kunjung pulang.”
Namun Dyah Sekar Tanjung menggeleng perlahan.
“Paman,” katanya lembut namun berani,
“aku bukan lagi gadis yang hanya bersembunyi di balik dinding istana. Aku telah belajar ilmu bela diri. Aku bisa melindungi diriku sendiri.”
Belum sempat paman Hanggono menjawab, kupu-kupu hias berlapis emas yang selalu setia di sisi sang Putri tiba-tiba mengepakkan sayapnya dengan gelisah. Cahaya lembut memancar dari tubuh mungilnya, dan serbuk sari keemasan berpendar di udara.
Wajah sang Putri seketika memucat.
“Tidak…” bisiknya gemetar.
“Isidore…”
Ia merasakan pesan yang disampaikan kupu-kupu itu—keadaan Isidore sedang tidak stabil, aliran tenaga dalamnya bergejolak hebat, seperti sungai yang meluap tanpa tepi.
“Jika ini dibiarkan…” suaranya bergetar,
“kekasihku bisa mati.”
Ia menoleh cepat kepada Pendekar Bayangan Kedua, matanya menyala oleh keteguhan.
“Cepat. Antar pil ajaib ini kepada Isidore. Obat ini dapat menstabilkan kembali energinya. Jangan biarkan siapa pun menghalangimu.”
Pendekar Bayangan Kedua berlutut satu lutut, mengepalkan tangan di dada.
“Baik, Paduka Putri. Dengan nyawa saya sendiri, obat ini akan sampai.”
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, ia lenyap ke dalam rimbunnya hutan, menyatu dengan bayangan dan angin malam.
Putri Dyah Sekar Tanjung menatap kepergiannya, lalu menggenggam dadanya sendiri, berdoa dalam diam—
agar cahaya yang masih tersisa di dunia ini tidak padam sebelum waktunya.
Chapter 74 Bayangan yang Mengatur Langkah
Di kedalaman gua batu yang diselimuti cahaya redup, Ki Surya Dahana berdiri di hadapan bola kristal yang melayang perlahan di udara. Di dalamnya terpantul bayangan Isidore—duduk bersila, napasnya berat, dikelilingi para ksatria Mythopia yang berusaha menenangkan aliran tenaga dalamnya yang menyimpang.
Sorot mata Ki Surya Dahana mengeras.
“Energinya goyah,” gumamnya lirih, hampir seperti doa yang tercemar kesenangan tersembunyi.
“Kekuatan besar selalu menuntut harga.”
Ia mengangkat tongkatnya sedikit, kristal itu bergetar, lalu padam perlahan.
Ki Surya Dahana berbalik, jubahnya menyapu lantai batu.
“Bersiaplah,” perintahnya dingin.
“Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu.”
Panggilan itu segera mengumpulkan para kepala suku—Orkaghor, Lorendis, Mhezzrak, dan Vorthax—di ruang pertemuan gua yang dikelilingi pilar batu kuno. Api obor menari liar, memantulkan bayangan mereka di dinding seperti makhluk-makhluk purba yang sedang berbisik.
“Isidore melemah,” ujar Lorendis sambil memainkan kipas beracunnya.
“Inilah saat yang tepat.”
Namun Vorthax menancapkan pedang Nagarastra ke tanah, suaranya berat seperti gemuruh.
“Jangan meremehkan ksatria Mythopia. Binatang terluka justru paling berbahaya.”
Ki Surya Dahana mengangkat tangan, menghentikan perdebatan.
“Kita tidak akan menyerang secara membabi buta. Kita akan menyambut mereka… di tanah yang telah kita pilih.”
Senyum tipis terlukis di wajahnya—senyum seseorang yang telah menyiapkan papan catur jauh sebelum bidak digerakkan.
Di Balik Formasi Penjagaan
Jauh dari gua itu, di bawah naungan pepohonan tua hutan Sinabung, Pandika berjongkok rendah di atas punggung Maung Kucing—yang kini berukuran sebesar serigala raksasa. Hidung makhluk itu bergetar, matanya menyipit tajam.
“Hentikan,” gumam Maung Kucing.
“Aku mencium darah… dan sihir. Banyak.”
Pandika menatap ke depan. Di sana terbentang formasi penjagaan yang ketat—lingkaran simbol tanah dan tulang, dijaga makhluk-makhluk bersenjata dan aura gelap yang saling bertaut, seperti jaring laba-laba tak kasatmata.
Ia menghela napas pelan.
“Kalau kita menghancurkan formasi ini,” bisiknya,
“kita pasti akan ketahuan.”
Tangannya mengepal, dilema membebani pikirannya.
“Dan kita belum tahu… musuh seperti apa yang sedang menunggu.”
Maung Kucing mendengus pelan.
“Kadang, anak manusia, yang paling berbahaya bukan yang terlihat,
tapi yang membiarkanmu masuk.”
Pandika terdiam.
Di hadapannya ada pilihan: menyerbu dan membahayakan semua sandera—
atau menunggu, sementara waktu terus mengalir menuju sesuatu yang lebih gelap.
Dan di balik kabut dan batu, perang yang belum diumumkan perlahan membuka matanya.
Sore itu hujan rintik-rintik turun perlahan, seakan langit sendiri enggan melukai bumi. Daun-daun lebar pepohonan tua menahan air hujan, menjatuhkannya setetes demi setetes ke tanah yang gelap dan lembap. Di lereng Gunung Sinabung, udara kian membeku; kabut turun menebal, merayap di antara batang-batang pohon seperti makhluk hidup yang mencari jalan.
Isidore menarik napas dalam-dalam. Saat ia menghembuskannya, asap putih keluar dari hidung dan bibirnya, menari sesaat sebelum lenyap ditelan kabut. Tubuhnya masih terasa berat, namun aliran tenaga di dalam dirinya telah kembali menyatu—tidak lagi liar, tidak lagi berontak.
Ia membuka mata.
“Aku sudah lebih baik,” ujarnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain.
“Dan kita tidak boleh menunda.”
Ingatan akan para sandera—anak-anak, orang tua, dan jiwa-jiwa tak bersalah—mengetuk hatinya seperti palu sunyi. Kejahatan yang bersarang di Sinabung harus dipatahkan, sebelum malam turun sepenuhnya dan kegelapan mengambil lebih banyak korban.
Di sisi mereka, Rakajati berlutut dan menyentuhkan telapak tangannya ke tanah. Akar-akar pohon di sekeliling bergetar halus, lalu bergerak perlahan, menyibak lumut dan tanah basah. Dari belitan akar itu terbentuk sebuah jalur sempit, seakan hutan sendiri membuka rahasia yang telah lama disembunyikannya.
Rakajati bangkit, wajahnya serius.
“Tanah telah berbicara,” katanya dengan suara rendah.
“Jalan ini… mengarah ke tempat persembunyian Ki Surya Dahana.”
Akar-akar itu menunjuk ke arah yang diselimuti kabut paling pekat—ke sebuah lembah sunyi di mana cahaya enggan menetap.
Para ksatria saling berpandangan. Tak ada sorak, tak ada kata berlebihan.
Mereka tahu, langkah berikutnya bukan sekadar perjalanan, melainkan awal dari benturan kehendak yang akan menentukan nasib Sinabung—dan mungkin, nasib Mythopia itu sendiri.
Maka, di bawah hujan yang terus berbisik dan kabut yang menutup pandangan,
mereka melangkah maju, mengikuti jalan akar yang hanya berani dibuka bagi mereka yang siap menghadapi kegelapan.
Chapter 76 ksatria mythopia saling menyatukan kekuatan
Para ksatria menyatukan kehendak dan kekuatan, berdiri melingkar di bawah kanopi hutan yang menggelap. Tanah bergetar halus ketika energi mereka bangkit, dan udara di sekeliling berdesir seakan dunia menahan napas.
Surya Wikrama mengangkat pedangnya.
Dari bilahnya memancar cahaya emas, hangat namun tegas, seperti matahari pertama yang pernah menyinari dunia.
Di sisinya, Pangreksa menutup mata. Dari tubuhnya mengalir cahaya putih murni, bening dan dingin, laksana salju abadi yang tak tersentuh noda.
Bayu Anggana melangkah maju, kedua lengannya terentang. Seketika pusaran angin lahir di sekelilingnya, menderu kencang, mencabut daun dan ranting, membentuk lingkaran pelindung yang tak kasatmata.
Dari balik kabut, terdengar tarikan napas panjang.
Itu adalah Bhra Anuraga. Saat ia menghembuskannya, nafas api naga menyembur, merah membara, membuat udara bergetar oleh panas purba.
Sagara Putra mengangkat telapak tangannya ke langit. Cahaya biru muncul, beriak seperti laut dalam, membawa ketenangan sekaligus kedahsyatan samudra yang tak terukur.
Lalu, dengan dentuman yang mengguncang bumi, Guntur Wisesa memanggil kekuatan langit.
Sebuah kilat raksasa menyambar, membelah pepohonan dan awan. Langit kian mendung, gelap menggulung, seakan badai tunduk pada panggilannya.
Di tengah pusaran kekuatan itu, Ksatria Cheon Myeong muncul—hadirnya sunyi namun terasa agung, seperti bayangan pedang para dewa di masa silam.
Ia menatap Isidore.
“Perhatikan baik-baik,” ucapnya tenang.
“Inilah langkah mendominasi—jalan bagi mereka yang memegang kehendak pedang.”
Dalam sekejap mata, ia mengajarkan Gerakan Dewa Pedang:
tahap pertama hingga kelima—
langkah kaki, aliran napas, niat, dan tebasan yang menyatu dengan jiwa.
Isidore mengikuti.
Tak butuh waktu lama.
Meski keringat mengalir dan napasnya memburu, ia menguasai semua jurus itu—belum sempurna, namun cukup untuk membuat udara bergetar setiap kali ia bergerak.
Melihat kesiapan mereka, Rakajati menancapkan tangannya ke batang pohon raksasa di hadapan mereka. Kayu tua itu berderak, lalu terbuka, memperlihatkan lorong hidup di dalamnya—gelap, namun aman.
“Masuklah,” ujar Rakajati.
“Di sanalah kita bersiap.”
Satu per satu, para ksatria melangkah ke dalam batang pohon, meninggalkan hutan yang kini diselimuti badai.
Di balik kayu dan akar purba itu, takdir sedang diasah, dan perang yang tak terelakkan menunggu saatnya untuk dimulai.
Chapter 77 pertemuan dengan para kepala suku
Akar-akar purba membuka jalan terakhir.
Dari dalam perut bumi, para ksatria Mythopia melangkah keluar ke sebuah lembah batu yang tersembunyi—markas Ki Surya Dahana. Api unggun hitam menyala tanpa asap, dan simbol-simbol terlarang berpendar di dinding gua, seolah batu itu sendiri berdoa pada kegelapan.
Di sana mereka menunggu.
Para kepala suku—tubuh mereka telah berubah.
Urat-urat hitam menjalar di kulit, mata menyala dengan cahaya asing, dan senjata mereka bergetar oleh kekuatan gelap yang dipaksakan ke dalam jiwa.
Tak ada teriakan perang.
Tak ada aba-aba.
Pertempuran meledak dalam keheningan.
Bayu Anggana menjadi angin badai, menghantam barisan musuh dan melemparkan tubuh-tubuh berat seakan daun kering.
Bhra Anuraga beradu api dengan darah hitam, setiap tebasannya disambut raungan makhluk yang bukan lagi sepenuhnya manusia.
Sagara Putra memanggil air dari dalam tanah; gelombang biru menghantam dinding gua dan membekukan langkah lawan.
Guntur Wisesa menjatuhkan kilat demi kilat, namun kegelapan menelan cahaya itu, menolak untuk runtuh.
Pangreksa menahan serangan dengan es perak, retak—namun tak pernah pecah.
Rakajati mengikat musuh dengan akar hidup, hanya untuk melihatnya disobek oleh kekuatan gelap yang meraung marah.
Pertarungan itu tidak cepat.
Tidak pula mudah.
Setiap musuh yang jatuh bangkit kembali, dipaksa berdiri oleh kehendak yang bukan miliknya.
Setiap ksatria Mythopia terhuyung, bangkit lagi, bertahan oleh sumpah lama yang tak pernah ditulis.
Di tengah kekacauan itu, Isidore bergerak seperti cahaya yang mencari celah.
Pedangnya menari—gerakan dewa pedang masih belum sempurna, namun cukup untuk membelah bayangan dan menorehkan luka pada kegelapan itu sendiri.
Waktu berlalu tanpa hitungan.
Darah, cahaya, dan bayangan bercampur.
Lalu—
Langit gua bergetar.
Sebuah tongkat menghantam tanah.
Gelombang kekuatan menyapu medan perang dan memaksa semua langkah terhenti.
Dari balik tirai hitam, Ki Surya Dahana muncul.
Wajahnya tenang, terlalu tenang, namun matanya menyimpan badai keraguan dan ambisi. Jubahnya berkibar tanpa angin.
“Cukup,” ucapnya, suaranya menggema seperti perintah pada dunia.
“Pertempuran ini akan menghancurkan segalanya.”
Para kepala suku berhenti bergerak.
Para ksatria Mythopia menegang.
Isidore melangkah maju.
Pedangnya terangkat, napasnya berat, matanya menyala oleh tekad yang tak goyah.
“Tidak,” katanya, jelas dan dingin.
“Ini tidak akan berhenti.”
Ia menatap Ki Surya Dahana tanpa gentar.
“Selama kegelapan masih berdiri…
selama satu dari kita belum tumbang dan mengakui kekalahan…
pertarungan ini akan terus berlanjut.”
Keheningan jatuh, lebih berat dari batu.
Bahkan api hitam pun meredup sejenak.
Ki Surya Dahana menatap Isidore lama—
seolah untuk pertama kalinya ia melihat putra Raja Itharius bukan sebagai pewaris,
melainkan sebagai takdir yang tak bisa dihindari.
Dan di dalam diam itu, dunia tahu:
perang sejati baru saja dimulai.
Chapter 78 pandika membebaskan sandera
Di balik pepohonan tua lereng Gunung Sinabung, Pandika dan Si Maung bersembunyi dalam bayang-bayang.
Namun alam tak lagi sunyi.
Langit menggelap dengan cepat, awan berputar seperti kawanan burung hitam yang terusir dari sarangnya. Angin menderu membawa hawa dingin yang menggigit tulang, dan petir putih membelah angkasa dengan jeritan yang memekakkan telinga, menyambar pepohonan hingga hancur menjadi arang.
Si Maung mengangkat kepalanya, bulu tengkuknya berdiri.
“Ini bukan badai biasa,” geramnya pelan.
“Ini tanda. Para ksatria Mythopia telah memulai peperangan.”
Ia mengendus udara, napasnya berat.
“Aku mencium amarah mereka… cahaya, darah, dan tekad bercampur di dalam sana.”
Pandika mengepalkan tangannya, wajahnya menegang.
“Bagaimana mungkin mereka sudah dua langkah di depan kita?” gumamnya.
“Baru saja kita mengendap, kini dunia sudah berguncang.”
Si Maung menyeringai, memperlihatkan taringnya.
“Tak perlu berpikir panjang lagi,” katanya.
“Jika perang telah dimulai, maka diam adalah kematian.”
Pandika mengangguk.
Ia melangkah maju dan mencabut pedangnya. Cahaya lembut seperti sinar bulan mengalir di bilahnya.
Dengan napas panjang, ia mulai menggerakkan tubuhnya—
Tarian Bulan.
Gerakannya perlahan, indah, dan penuh perhitungan. Setiap langkah seakan mengikuti irama langit, setiap ayunan pedang membelah udara dengan kilau perak. Namun waktu berlalu terlalu lama.
Si Maung mendengus kesal.
“Kau menari terlalu lama!”
Tanpa menunggu, tubuhnya membesar sepenuhnya.
Dengan raungan yang mengguncang tanah, Si Maung menerjang formasi pertahanan—
patok-patok sihir, simbol terlarang, dan penghalang batu—
semuanya hancur luluh oleh cakarnya, tercabik seperti dedaunan rapuh.
Ketika Pandika menyelesaikan tarian terakhirnya dan menjejakkan kaki dengan mantap, ia terdiam.
Formasi pertahanan telah menjadi puing-puing tak berbentuk.
“Ah…” gumamnya, sedikit bingung.
Namun Pandika tak ingin tarian sucinya menjadi sia-sia.
Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Seluruh cahaya putih yang telah ia kumpulkan dalam tarian itu mengalir ke satu titik.
Dengan satu tebasan ke depan—
BOOM!
Pintu batu gua di hadapan mereka meledak berkeping-keping, hancur oleh cahaya perak yang menyilaukan.
Debu mereda.
Di balik reruntuhan itu terbentang lorong bawah tanah—
dan di sanalah mereka melihatnya.
Para sandera.
Orang tua, perempuan, dan anak-anak, terkurung dalam sel-sel batu, wajah mereka pucat oleh ketakutan dan kelelahan.
Para penjaga berusaha melawan, namun sia-sia.
Pandika bergerak cepat, setiap tebasannya melumpuhkan tanpa membunuh.
Sementara itu, Si Maung mengamuk—
mencabik barisan prajurit hingga mereka berhamburan dalam teror.
Para master ilmu hitam yang tersisa tak berani bertarung.
Melihat darah dan taring, mereka berlari tunggang-langgang ke dalam kegelapan, meninggalkan segalanya.
Lorong itu akhirnya sunyi.
Hanya napas para sandera dan gema air dari dinding gua yang tersisa.
Si Maung menoleh ke Pandika.
“Utangmu bertambah,” katanya santai.
“Bukan sekilo. Dua kilo ikan segar.”
Pandika tersenyum lelah, namun matanya lega.
“Kau akan mendapatkannya,” jawabnya.
“Hari ini… kita menyelamatkan banyak nyawa.”
Dan di kejauhan, gema perang terus bergetar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar