07/10/25

season 8 Kerajaan Mythopia


Chapter 56 Ritual Kegelapan di Gua Sinabung

Di kedalaman Gunung Sinabung yang diselimuti kabut abadi, terdapat sebuah gua yang hanya dikenal oleh mereka yang bersekutu dengan kegelapan. Di sanalah Ki Surya Dahana, sang ahli sihir tua dari masa lampau, menatap bola kaca di hadapannya dengan mata menyala bagaikan bara api. Di dalam bola itu, tampak bayangan Isidore dan para ksatria Mythopia bersatu dengan Sagara Putra.

Amarah membuncah di dada sang pertapa. Ia menggeram, lalu melemparkan cawan emasnya hingga pecah berhamburan. “Kutukan bagi mereka semua!” desisnya dengan suara yang menggetarkan udara gua. “Mereka tak seharusnya bersatu kembali. Dunia ini seharusnya milik mereka yang kuat, bukan mereka yang mengaku penjaga cahaya!”

Empat pemimpin suku yang menjadi pengikut setianya berdiri di sekeliling: Gurnaka dari suku batu, Rakayan dari suku bayangan, Jalarang dari penjaga rawa, dan Murkalana dari bangsa kegelapan hutan. Mereka menatap satu sama lain, ketakutan bercampur penasaran.

“Guru,” tanya Rakayan dengan suara berat, “sekuat apakah ksatria dari Mythopia itu? Bahkan raksasa api pun gentar mendengar nama mereka.”

Ki Surya Dahana menatap mereka tajam, lalu mengangkat tongkat hitamnya tinggi-tinggi. Dari ujung tongkat itu, keluar cahaya putih menyilaukan, meluncur ke udara, membentuk garis lurus di depan mereka. Cahaya itu berdenyut, bergetar, dan perlahan berubah warna—putih menjadi ungu, lalu hitam keunguan, seperti luka yang menganga di langit.

Ia mengucapkan mantra dalam bahasa kuno Mythopia, bahasa yang bahkan roh-roh bumi enggan mendengarnya. Dari garis itu, muncullah sesosok makhluk tak kasat mata, tinggi dan berkerudung kabut hitam. Dengan kedua tangannya yang panjang dan kurus, makhluk itu membuka celah di udara, membentuk pintu menuju ruang tersembunyi.

“Masuklah,” ujar Ki Surya Dahana dengan suara dalam. “Tempat ini bukan untuk manusia lemah. Ikutilah aku, dan kau akan tahu rahasia kekuasaan sejati.”

Para pemimpin suku saling berpandangan, lalu melangkah ke dalam bersama tuan mereka. Begitu mereka semua masuk, makhluk kasat mata itu menutup celah tersebut, menelan cahaya, hingga tidak tersisa sedikit pun bekas keberadaan mereka di dunia luar.

Di dalam ruangan itu, terbentang pemandangan yang membuat mereka ternganga: barisan rak penuh manuskrip tua berlumut, peti-peti emas yang bersinar redup di bawah cahaya batu sihir, dan artefak suci dari zaman yang terlupakan.

“Inilah yang kujanjikan kepada kalian,” ujar Ki Surya Dahana dengan nada kemenangan. “Untuk kesetiaan yang kalian berikan, kini kuhadiahkan warisan dari dunia lama. Di sinilah ilmu yang menumbangkan kerajaan dan mengguncang langit tersimpan.”

Ia menatap mereka satu per satu dengan senyum dingin.
“Pelajarilah semua naskah yang ada di sini. Ajarkan kepada anak buahmu, bila kalian cukup cerdas untuk memahaminya. Siapa yang berhasil menaklukkan isi tempat ini... akan menaklukkan dunia.”

Tawa mereka bergema di seluruh ruangan, tawa serakah yang menandakan awal dari kebangkitan kegelapan yang lama terpendam.


---
---

Chapter 57 Ritual Darah di Ruang Artefak

Di ruang yang sunyi, hanya cahaya batu sihir yang berkelip di antara bayang-bayang. Udara beraroma besi dan debu kuno, seakan napas waktu sendiri terhenti di tempat itu. Ki Surya Dahana berdiri di tengah ruangan, tongkat hitamnya menancap di lantai batu, menyalurkan denyut kekuatan yang membuat udara bergetar halus.

Empat kepala suku berdiri di sekelilingnya, mata mereka menyala dalam cahaya keunguan yang menakutkan.

Yang pertama melangkah maju adalah Orkaghor si Bercak Darah, kepala suku Gurnaka — makhluk raksasa dengan kulit sekeras batu dan bekas luka di seluruh tubuhnya. Tangannya yang besar gemetar menahan gairah ketika ia menatap sebuah telur emas di atas altar batu hitam. Telur itu berdenyut perlahan, seperti jantung yang menunggu kehidupan baru.

Ki Surya Dahana menatapnya tajam. “Telur itu tak akan membuka diri untuk siapa pun, kecuali bagi yang berani memberi bagian dari hidupnya.”

Tanpa ragu, Orkaghor menggigit bibir bawahnya hingga darah menetes ke tangannya. Ia meludah ke atas telur itu. Setetes, dua tetes, lalu cairan merah itu terserap perlahan oleh permukaan emas yang berkilau lembut.

Suara lirih seperti desis ular terdengar — dan telur itu berdenyut cepat, memancarkan cahaya merah kehijauan. Retakan halus muncul di permukaannya, semakin besar, hingga pecah dengan ledakan lembut.

Dari dalamnya keluar seekor burung merak bertubuh mungil namun matanya menyala seperti bara api. Bulu-bulunya memancarkan warna merah, hijau, dan emas yang berganti-ganti seperti nyala api yang menari.

“Burung Rathakana,” ujar Ki Surya Dahana pelan, hampir seperti berdoa. “Pemikat hewan buas, penakluk jiwa liar. Kini ia menjadi milikmu, Orkaghor. Tapi berhati-hatilah—ia setia hanya pada darah yang pertama kali menyentuhnya. Jika kau khianati dia, ia akan mematuk jantungmu tanpa ampun.”

Orkaghor tersenyum puas, menunduk hormat, lalu memeluk burung itu dengan tangan penuh darah.

Selanjutnya, Lorendis si Licik dari suku Rakayan melangkah maju, matanya memandang ke sekeliling seperti pencuri di antara harta raja. Ia berhenti di depan sebuah lonceng besar dari perunggu hitam.
“Yang ini,” katanya dengan suara pelan namun tajam, “aku bisa merasakan kekuatannya.”

Ki Surya Dahana menggeleng pelan. “Jangan. Suara lonceng itu tidak membeda-bedakan. Ia membunuh semua yang mendengarnya—termasuk tuannya sendiri.”

Ia mengangkat tangannya, dan dari udara muncul sebuah kipas logam berukir naga, berkilau kehijauan. “Ini lebih cocok untukmu, Lorendis. Sekali dikipaskan, ribuan jarum halus akan terbang, menembus kulit, meracuni darah musuhmu. Namun ingat, kipas ini tak mengenal arah angin. Jika kau ceroboh, kau akan mati oleh senjatamu sendiri.”

Lorendis mengambilnya, senyum licik di bibirnya melebar, “Senjata yang membunuh dengan indah,” bisiknya, sebelum menunduk hormat.

Kemudian datang Mhezzrak si Pisau Tak Terlihat dari suku Jalarang — tubuhnya kurus, matanya tajam seperti pisau. Ia tidak banyak bicara. Ia memilih sebuah kotak kecil dari perak yang tergeletak di rak paling bawah. Saat dibuka, tampak di dalamnya berbaring belasan belati dan jarum tipis, semuanya berkilau bagai es beku di bawah sinar bulan.

“Pilihan yang cerdas,” ujar Ki Surya Dahana dengan nada puas. “Itu adalah senjata dari masa perang kuno—belati yang bisa terbang sendiri menuju sasaran, dan akan kembali kepada pemiliknya setelah mencicip darah. Tapi jika kau tidak menguasai napas dan kemauanmu, ia akan berbalik, menembus jantungmu sendiri.”

Mhezzrak tersenyum tipis, menyentuh salah satu belati itu, dan benda itu bergetar, seolah mengenal pemilik barunya.

Dan yang terakhir, Vorthax si Gila Darah dari suku Murkalana, melangkah maju. Tubuhnya tinggi dan lebar, matanya memantulkan cahaya merah. Ia tidak menatap rak atau altar—melainkan sesuatu yang tergeletak di lantai batu, terbungkus lumut dan abu.

Itu adalah pedang besar, hitam seperti malam tanpa bintang. Ki Surya Dahana memandangnya dengan ekspresi antara kagum dan waspada.
“Itu adalah pedang Nagarastra,” katanya pelan. “Dulu, ia menebas kepala seekor naga di masa purba. Tapi pedang itu haus darah, Vorthax. Ia akan meminum darah setiap kali dihunus. Jika tidak, ia akan menuntut darah pemiliknya.”

Vorthax tertawa keras, menggenggam gagangnya yang berat, lalu mengangkat pedang itu dengan kedua tangan. “Kalau begitu, biarlah ia haus selamanya!”

Kilatan merah membuncah dari bilah pedang, memenuhi ruangan dengan cahaya seperti api neraka.

Ki Surya Dahana tersenyum puas, matanya berkilat dengan kegembiraan gelap.
“Latihlah diri kalian di sini,” katanya perlahan. “Kuasa Mythopia akan kembali menatap bumi, dan dunia akan tahu... bahwa kegelapan tak pernah mati.”

Suara tawa mereka bergema, bergulung di dalam gua seperti guntur, sementara cahaya merah, hijau, dan ungu berbaur di dinding batu, menandakan kebangkitan kekuatan lama yang telah lama tertidur.


---
---

Chapter 58 Ritual Darah dan Bayangan: Latihan Para Kepala Suku

Dengan gerakan perlahan namun sarat kuasa, Ki Surya Dahana mengangkat tongkat hitamnya ke udara. Ujungnya memancarkan cahaya putih menyilaukan, lalu ia mengguratkan garis di udara—garis itu bergetar, berdenyut seperti urat kehidupan, sebelum membuka diri menjadi pintu cahaya yang beriak bagai air dalam dimensi tak kasat mata.

Dari balik cahaya itu muncul makhluk-makhluk tak terlihat, penjaga dari dunia roh yang hanya tunduk pada mantra kuno Mythopia. Mereka melangkah senyap, menarik tirai realitas dan memperlihatkan ruang ilusi di baliknya—tempat yang luas tanpa batas, di mana gunung dan hutan tampak bersinar dalam cahaya merah keunguan.

“Silakan masuk,” ujar Ki Surya Dahana, suaranya bergema dalam ruangan itu seperti dentang logam purba. “Di sana telah kusiapkan makhluk-makhluk buas untuk kalian buru... atau mungkin, merekalah yang akan memburu kalian. Aku tidak tahu mana yang akan terjadi lebih dahulu.”

Empat kepala suku saling berpandangan; tawa keras bergema, dipenuhi semangat haus darah dan ambisi. Mereka memasuki ruang itu satu per satu, diiringi oleh bayangan sihir yang menutup pintu di belakang mereka.

Di dalam, dunia magis itu hidup. Pohon-pohon menjulang seperti menara batu, akar-akar raksasa menggeliat seperti ular, dan udara dipenuhi kabut merah keemasan. Dari kejauhan, terdengar raungan makhluk-makhluk liar yang belum pernah dikenal oleh manusia mana pun.

Awalnya, hanya binatang kecil yang muncul dari balik semak—monyet-monyet liar, kijang yang melompat panik, dan beberapa serigala dengan mata menyala biru. Mereka diburu dengan mudah oleh para kepala suku, senjata mereka menebas udara, darah menodai tanah ilusi.

Namun seiring waktu berjalan, hewan-hewan itu berubah. Dari balik kabut muncul harimau bertaring panjang, beruang raksasa dengan kulit baja, dan ular sebesar batang pohon. Raungan demi raungan mengguncang tanah, dan para kepala suku menjerit girang dalam kegilaan mereka.

Orkaghor memanggil burung Rathakana, dan dari kepakan sayapnya, muncul aura pemikat yang membuat hewan-hewan buas itu menunduk—sebelum ia menebas mereka tanpa ampun.
Lorendis menari dengan kipas racunnya, menciptakan badai jarum yang menembus kulit dan daging, membuat mangsanya tumbang dengan senyum licik di bibirnya.
Mhezzrak menebar belati tak terlihat, membiarkan mereka terbang menembus jantung setiap musuh, lalu kembali ke genggamannya dengan darah menetes.
Vorthax, dengan pedang Nagarastra, menebas segalanya di jalannya—tanah, batu, dan tubuh-tubuh yang tak lagi dikenali.

Namun semakin lama, ruang itu berubah menjadi neraka hidup. Dari langit ungu yang berputar, muncul raungan yang berbeda, lebih dalam, lebih purba. Tanah bergetar, pepohonan roboh, dan dari kabut hitam yang tebal muncullah raksasa Gendrawani bertangan delapan.

Tubuhnya menjulang seperti menara, matanya menyala seperti bara, rambutnya menjuntai bagai nyala api, dan tiap tangannya menggenggam senjata dari zaman yang terlupakan. Setiap langkahnya mengguncang bumi, setiap helaan napasnya menyalakan udara menjadi panas membakar.

Para kepala suku terdiam sesaat—lalu tertawa gila, menyambut tantangan itu dengan sorak liar. Mereka menyerbu bersama-sama, menghunus senjata dan mengeluarkan kekuatan magis mereka.

Pertempuran pun meledak. Tanah ilusi bergetar, udara pecah oleh benturan sihir dan baja. Suara logam beradu dengan raungan makhluk purba, cahaya merah, biru, dan hijau bersilangan dalam kekacauan yang agung.

Namun, tak satu pun dari mereka mati. Meski tubuh mereka robek, tulang hancur, dan darah berceceran di tanah, mantra Ki Surya Dahana menjaga mereka tetap hidup—sebuah kutukan abadi dalam ilusi.

Ruang itu adalah medan latihan tanpa kematian, di mana rasa sakit menjadi guru, dan kegilaan menjadi teman.

Dari luar, Ki Surya Dahana menyaksikan semuanya melalui bola kacanya, matanya berkilau dalam kepuasan gelap.
“Ya…” bisiknya pelan. “Biar mereka belajar apa artinya kekuatan sejati. Karena sebentar lagi… dunia akan menjadi medan latihan mereka yang sesungguhnya.”

Cahaya ungu dari tongkatnya berdenyut makin kuat, dan suara tawa Ki Surya Dahana menggema di seluruh gua, menggetarkan udara, seakan kegelapan itu sendiri tertawa bersamanya.


---

---

Chapter 59 Adegan Setelah Latihan Para Kepala Suku

Dari celah tirai cahaya yang perlahan menutup, empat sosok keluar satu per satu, tubuh mereka berbalut luka dan debu, namun mata mereka menyala dengan api kekuatan baru. Ruang ilusi ciptaan Ki Surya Dahana telah menelan waktu seolah seratus pertempuran berlangsung dalam sekejap mata fana.

Mereka—para kepala suku yang dulu hanyalah pembunuh, pemburu, dan penjarah—kini menjelma menjadi makhluk yang kekuatannya melampaui batas manusia.

Burung merak Rathakana milik Orkaghor kini telah tumbuh sempurna. Bulu-bulunya berpendar dalam cahaya merah kehijauan, dan tiap kepakkan sayapnya mampu menundukkan binatang buas serta menenangkan amarah makhluk liar. Ia menjadi lambang kejayaan suku Gurnaka—burung pemikat yang kini bersarang di pundak sang kepala suku, bagai api dan darah yang menyatu.

Lorendis, si licik dari Rakayan, telah mencapai puncak keahliannya. Kipas beracunnya kini menari di udara seperti angin maut, setiap kibasan menebarkan jarum kematian yang tak terlihat. Ia menatap tangannya sendiri dengan senyum tipis—antara kagum dan ngeri—menyadari bahwa setiap gerakannya dapat membunuh sahabat maupun musuh.

Mhezzrak, sang pemburu dari Jalarang, berdiri tegak dengan bayangan tajam di sekelilingnya. Seratus belati dan jarum beracunnya kini taat sepenuhnya pada pikirannya. Ia dapat menebas seratus musuh sebelum napas pertama mereka sempat bergetar di udara.

Namun yang paling menakutkan dari semuanya adalah Vorthax, dari suku Murkalana. Pedang besar Nagarastra yang dahulu tergeletak membisu kini berdenyut seperti makhluk hidup. Bilahnya berwarna hitam kebiruan, memancarkan aura prana naga yang dulu dibunuhnya. Dalam tangannya, pedang itu menjadi alat pembantaian sejati—api naga dan darah manusia berpadu menjadi satu kehendak.

Ki Surya Dahana menatap mereka dengan mata yang suram namun berkilat penuh kebanggaan dan kecemasan.
“Lihatlah,” ujarnya perlahan, suaranya bergema di ruangan batu yang dingin, “kalian telah menaklukkan ratusan medan ilusi, bahkan mengakhiri riwayat Gendrawani bertangan delapan yang pernah mengguncang dunia manusia. Namun ingatlah—kekuatan tanpa kendali hanya akan menuntun pada kegilaan. Kalian mesti menyeimbangkannya dengan keteguhan batin, atau lambat laun kekuatan itu akan menelan kalian sendiri.”

Keempat kepala suku menundukkan kepala, tak sepenuhnya memahami beban kata-kata itu. Di mata mereka, hanya ada kemenangan—dan kehausan akan ujian yang lebih besar.

Ki Surya Dahana memalingkan wajahnya ke bola kaca yang menggantung di udara, di mana bayangan Isidore dan para ksatrianya tampak samar.
“Belum cukup,” gumamnya lirih, “belum cukup untuk menandingi mereka. Masih ada jalan panjang menuju keagungan, dan lebih banyak darah yang mesti tertumpah sebelum fajar kekuasaan bangkit kembali.”


---

---

Chapter 60 Bayang di Balik Gunung Asrama

Di bawah perut bumi, jauh di bawah reruntuhan kota kuno Mythopia, terbentang ruang raksasa tempat batu-batu bernafas dan udara bergetar oleh bisikan roh. Di sanalah, Rasvathar, sang Penjaga Bayang-Bayang, bersembunyi. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih; luka-luka dari perang melawan Ksatria Majapahit masih membara seperti bara di bawah kulitnya yang pucat.

Selama berabad-abad, ia bertahan dalam bayang waktu yang terbeku, menghisap sisa-sisa kekuatan dari reruntuhan kuil, meminum kabut yang menetes dari dinding batu. Ia menunggu saat di mana bintang Mythopia kembali terbit—bukan untuk menerangi dunia, melainkan untuk menelannya ke dalam kegelapan abadi.

Di hadapannya terbentang cermin Arkamaya, pusaka yang dahulu menjadi lambang kebijaksanaan kerajaan Mythopia. Kini, cermin itu retak dan memantulkan bayangan yang bukan bayangan dunia manusia. Dari sana, Rasvathar menyaksikan dunia berjalan di atas luka-lukanya sendiri.

> “Lihatlah…” suaranya berat bagai guruh dari dalam bumi. “Putra Itharius, darah cahaya, berani mengumpulkan kembali ksatria-ksatria Mythopia. Ia hendak menghidupkan kejayaan yang telah kulenyapkan. Dan lihat pula… muridku yang durhaka, Surya Dahana, kini bermain dengan ilusi kekuasaan.”



Matanya yang keunguan menyala perlahan, menyulut udara di sekitarnya menjadi asap pekat. Dari kegelapan, muncul bayangan-bayangan pengintai—makhluk tanpa wajah, mata-mata yang berkelana melalui kabut dan mimpi manusia.

> “Temukan Surya Dahana,” ujarnya dengan nada bagai mantra. “Bisikkan padanya… bahwa aku telah menemukan rahasia tertinggi Mythopia—Api Abadi dari Menara Luar. Katakan, kekuatan itu dapat menghancurkan Isidore, bila ia cukup bodoh untuk mempercayaimu.”



Bayangan itu menunduk tanpa suara, lalu lenyap dalam kabut yang mengalir seperti air hitam.

Rasvathar lalu menatap langit-langit batu yang berlumut, seakan berbicara kepada para dewa yang telah lama mati.

> “Biarlah Surya Dahana berperang dengan Isidore. Biarlah manusia saling membunuh di bawah bendera kejayaan dan kesetiaan. Dari abu mereka aku akan bangkit… dan dunia ini akan menjadi takhta bagi kegelapan yang kekal.”



Di luar gua, guntur bergemuruh tanpa hujan. Seekor burung malam terbang ketakutan, dan kabut ungu mulai turun dari lereng gunung, menandai bahwa bayang-bayang Rasvathar telah bergerak sekali lagi.


---


---

Chapter 61 Bisikan dari Bayang-Bayang

Di kedalaman gua Sinabung, api biru berkeredap dari mangkuk-mangkuk batu, menerangi dinding yang dipenuhi ukiran mantra kuno. Ki Surya Dahana duduk bersila di tengah lingkaran simbol sihir yang berpendar samar. Suara tanah berderak pelan, dan udara di sekelilingnya menjadi berat, seolah malam turun tanpa bintang.

Dari balik kabut hitam yang menetes dari langit-langit gua, muncul sesosok bayangan—tanpa bentuk, tanpa napas, tapi matanya menyala bagai bara yang bersembunyi di balik tirai malam.

Surya Dahana mendadak berdiri, tongkatnya terangkat tinggi, sinar hitam memancar dari ujungnya menghantam dinding batu hingga retak dan runtuh. Namun bayangan itu tidak bergeming—ia tetap di sana, tenang, melayang tanpa suara.

> “Siapa kau yang berani menodai wilayahku?” seru Surya Dahana, suaranya menggema ke seluruh penjuru gua.



Bayangan itu bergetar, lalu dari dalamnya terdengar suara dalam dan berat, seperti datang dari balik kabut ribuan tahun:

> “Wahai… muridku.”



Dahana menatap tajam.

> “Aku tak pernah punya guru. Katakan siapa kau sebenarnya, sebelum kutiadakan dari dunia ini.”



Bayangan itu berubah bentuk, perlahan membentuk siluet seorang tua berjubah panjang, dengan mahkota api yang berkelip di atas kepala bayangannya.

> “Apa kau sudah lupa padaku, Surya Dahana? Aku adalah Maharsi Angyantara, penasehat spiritual tertinggi Mythopia… yang dulu kau sebut Rasvathar.”



Dahana mengerutkan kening, wajahnya mengeras.

> “Aku ingat kau. Orang gila yang mencoba menggulingkan Dewan Mythopia dengan ilmunya yang terkutuk.”



> “Gila, katamu?” suara Rasvathar menggelegar pelan. “Aku hanya melihat kebenaran yang tak mampu diterima manusia lemah. Kebenaran bahwa cahaya dan kegelapan bukan musuh, melainkan dua sisi dari kekuasaan yang sama.”



> “Kau bicara seperti ular tua yang memakan ekornya sendiri,” balas Dahana dingin. “Aku tahu apa yang kau inginkan: kekuasaan atas semua makhluk, bahkan para dewa pun akan kau perbudak bila bisa.”



Bayangan Rasvathar bergoyang lembut, bagai asap yang tertawa.

> “Kau salah, Dahana. Aku tak menginginkan tahta. Aku menginginkan kesempurnaan—tatanan di mana yang kuat menuntun yang lemah. Dan kau… dengan pasukan suku-sukumu, dengan ilmu sihirmu yang tajam… kau bisa menjadi jembatan menuju tatanan itu.”



> “Aku tidak butuh tatananmu, Rasvathar. Aku membangun kekuatanku bukan untuk menaklukkan manusia, tapi untuk menegakkan kembali nama Mythopia yang telah dicemarkan.”



Rasvathar tertawa, suaranya seperti gemuruh batu runtuh.

> “Nama Mythopia? Hanya debu di bawah bintang! Lihatlah dirimu, murid yang dibuang, yang mencari kehormatan dari reruntuhan. Sementara itu, Isidore—darah Itharius—berjalan di bawah panji cahaya. Kau tahu dia akan menghancurkanmu bila tiba waktunya.”



Surya Dahana menatap tajam, tapi di dalam matanya ada seberkas keraguan.

> “Apa maumu, Rasvathar?”



> “Aku menawarkan persekutuan. Datanglah ke lembah bayangan di bawah Gunung Asrama. Di sana, aku akan menunjukkan kepadamu Rahasia Tertinggi Mythopia—ilmu yang bahkan para pendeta agung tak pernah berani menyentuhnya. Dengan itu, kau akan memiliki kekuatan untuk menundukkan Isidore… dan mungkin seluruh dunia manusia.”



Dahana diam lama, tongkatnya menurun perlahan. Api di sekitarnya berkedip redup.

> “Dan bila aku menolak?”



Rasvathar membisik, suaranya berubah lembut namun mengandung racun.

> “Maka dunia akan memilih untuk melupakanmu, Surya Dahana. Dan segala nama, segala kejayaanmu, akan hilang ditelan waktu. Bahkan rohmu tak akan diingat oleh bumi.”



Bayangan itu mulai memudar, lenyap dalam kabut hitam yang menyusup kembali ke dinding gua. Namun suaranya masih menggema di udara:

> “Pikirkanlah, muridku… kegelapan selalu menunggu mereka yang ditolak oleh cahaya.”



Surya Dahana berdiri diam, hanya suara api dan tetes air yang tersisa. Di wajahnya, tampak pergulatan batin antara kesetiaan pada cahaya dan godaan kekuatan tanpa batas.


---

Chapter 62 Bayang dan Cahaya dari Bengawan Solo

Para kepala suku segera mengerahkan prajurit-prajurit terbaik dari kabilah mereka — para pemburu, pendaki, dan pengintai yang telah ditempa oleh waktu dan darah. Dari gua Sinabung yang gelap hingga lembah-lembah berkabut di utara, mereka menyebar dalam kesunyian malam, mencari jalan menuju Gunung Asrama, tempat yang disebut-sebut sebagai gerbang menuju Lembah Bayangan.

Namun, tak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa pada saat yang sama, Isidore dan para ksatria Mythopia sedang menempuh perjalanan menuju arah yang berlawanan — menuju Sinabung, tempat legenda tidur menunggu untuk dibangkitkan.

Perjalanan mereka dari tepi Bengawan Solo berlangsung damai dan sarat kenangan. Sungai itu mengalir tenang di bawah sinar matahari sore, memantulkan warna langit yang perlahan memerah. Setiap langkah Isidore membawa kembali ingatan tentang Putri Dyah Sekar Tanjung, tentang senyumnya yang lembut dan suara lembayung senja di matanya.

Di dadanya tergantung hiasan kupu-kupu berlapis emas, hadiah dari sang putri — sebuah karya seni yang tampak sederhana namun sesungguhnya hidup oleh sihir kuno Majapahit. Sayapnya kadang bergetar lembut, dan dari tubuh mungil itu memancar cahaya keemasan yang menari di udara.
Tak seorang pun dari rombongan ksatria tahu bahwa kupu-kupu itu bukan sekadar perhiasan. Ia adalah penjaga dan penuntun, makhluk langka yang menebarkan serbuk sari bercahaya untuk menandai keberadaan pemiliknya. Melalui kilau itu, di kejauhan, sang putri dapat mengikuti jejak perjalanan Isidore — bagai bintang yang selalu tahu di mana fajar akan terbit.

Sementara itu, di belantara yang jauh, para pengintai suku Gurnaka, Rakayan, Jalarang, dan Murkalana mulai kehilangan arah. Setiap petunjuk yang mereka kejar lenyap seperti kabut disapu angin.
Gunung Asrama berdiri diam di kejauhan, puncaknya diselubungi awan gelap yang tak tersentuh matahari. Namun ketika mereka mencoba mendekat, langit berubah — bintang-bintang lenyap, dan kabut hitam turun bagai tirai yang menelan pandangan.

> “Kami telah berjalan tujuh hari dan tujuh malam,” lapor salah seorang pengintai kepada Lorendis, “namun setiap jalur yang kami tempuh berakhir pada tempat yang sama. Seolah gunung itu menolak kami.”



Lorendis menatap ke langit, merasakan hawa aneh di udara.

> “Ini bukan medan biasa,” gumamnya. “Ini tempat di mana dunia manusia dan bayangan bersatu. Dan bayangan… tak pernah menunjukkan jalan kecuali kepada yang terpilih.”



Namun di sisi lain dunia, Isidore melangkah semakin dekat ke nasibnya, tak sadar bahwa dua kekuatan besar — bayangan dan cahaya — kini sedang berjalan di jalur yang sama, menuju takdir yang tak dapat dihindari.


---
Chapter 63 Perjalanan Menuju Sinabung

“Mari kita berpindah melalui Gunung Lawu,” ujar Surya Wikrama, matanya menatap ke arah barat, di mana puncak gunung menjulang bagai mahkota batu di bawah langit jingga. “Di sana terdapat batu loncatan — jalan rahasia menuju Sinabung.”

Perjalanan dari Bengawan Solo ke lereng Lawu tidaklah singkat, namun udara pegunungan menyelimuti mereka dengan kesejukan dan kesunyian purba. Di sepanjang jalan, akar-akar pohon raksasa menjulur dari tanah, membentuk jalinan seperti tangan para penjaga dunia bawah.
Dengan satu gerakan tangannya, Rakajati, sang pengendali rimba, memisahkan akar-akar itu, membuka jalan bagi rombongan.

Mereka tiba di hadapan sebuah gua tersembunyi di balik dinding batu yang dilapisi sarang laba-laba sewarna perak. Jaring-jaring itu bergetar halus, memantulkan cahaya samar dari batu-batu biru yang menempel di langit-langit gua.

Pandika, yang selalu mudah terpesona oleh keindahan alam, menatap kagum.

> “Lihatlah,” bisiknya, “seolah bintang-bintang telah jatuh ke bumi untuk menerangi tempat ini.”



Di tengah gua berdiri sebuah batu kristal putih sebesar tubuh manusia, berdenyut lembut seperti jantung bumi. Saat Surya Wikrama mengangkat tangannya dan menyentuhkan segel cahaya pada permukaannya, kristal itu memancarkan cahaya keemasan yang menelan seluruh ruangan.

Suara gemuruh memenuhi udara — bola-bola listrik bermunculan, berputar liar, menyambar dinding dan tanah, menciptakan kilatan biru dan ungu yang menari.

“Perlindungan!” seru Isidore, menarik kerisnya. Dengan cepat ia melantunkan mantra kuno, dan dari bilah keris itu terpancar perisai cahaya berbentuk pusaran angin. Dalam sekejap, seluruh rombongan diselimuti cahaya, dan ketika sambaran petir mencapai puncaknya, mereka lenyap dari pandangan.

Lalu datang keheningan.

Mereka muncul kembali di sebuah gua lain — gua Sinabung, jauh di utara.
Sisa kilau dari perjalanan magis itu masih berputar di udara, seperti debu bintang yang enggan padam. Batu kristal kini berwarna ungu tua, seolah telah menyimpan sebagian roh perjalanan mereka.

Pandika, masih gemetar, menjerit kecil sebelum menutup mulutnya.

> “Tenang,” suara lembut Pangreksa terdengar, “kau dalam perlindungan kami.”



Mereka berjalan keluar dari gua. Di depan mereka terbentang pemandangan yang menakjubkan — lembah Sinabung yang tertidur di bawah kabut pagi, diapit tebing batu yang menjulang.

Rakajati menunjuk ke arah timur, ke sebuah bukit kecil yang tampak seolah hidup oleh cahaya tanah.

> “Di sanalah,” katanya pelan, “gua Ksatria Jagat Dirgantara, penguasa tanah dan langit. Tapi lihatlah, pintunya tertutup oleh sarang semut penjaga bumi.”



Bhra Anuraga menatap dengan ngeri.

> “Astaga… bagaimana kita masuk? Apa kita harus menghancurkannya?”



Namun Surya Wikrama melangkah maju, menatap sarang itu dengan hormat.
Ia menghunus pedangnya, dan dari bilahnya terpancar cahaya emas yang hangat, bukan menyilaukan, melainkan menenangkan seperti mentari pagi.

> “Wahai penjaga tanah,” ucapnya lembut, “maafkan kami. Kami tak berniat mengganggu ketenangan kalian. Kami hanya datang untuk membangkitkan sang ksatria yang telah lama tertidur, agar keseimbangan dunia tetap terjaga.”



Cahaya itu menjalar di sepanjang dinding sarang, dan satu per satu semut raksasa keluar, melingkar di sekitar mereka — bukan sebagai musuh, melainkan sebagai penjaga yang tengah menimbang. Dari kegelapan terdengar dengung halus, seperti doa yang dilantunkan bumi sendiri.


---
Chapter 64 Pembangkitan Sang Ksatria Jagat Dirgantara

Udara di sekitar gua Sinabung menjadi pekat — seolah bumi sendiri menahan napas menunggu sesuatu yang agung akan terjadi. Dari bilah keris Surya Wikrama, cahaya emas menyala lembut, mula-mula seperti bara yang berdenyut, lalu perlahan membesar, memancar bagai mentari yang terbit dari dalam tanah.

“Waktunya telah tiba,” ucap Surya Wikrama dengan suara yang bergema menembus dinding batu. Ia menancapkan keris itu ke tanah, dan getaran halus segera menyebar, membuat pasir di kaki mereka bergetar lembut.

Dari kedalaman bumi terdengar bunyi berat — gruuum... gruuum..., suara batu yang bergeser, disusul ledakan kecil cahaya di tengah tanah. Lalu bumi terbelah, dan dari celahnya muncullah sosok raksasa batu — tubuhnya kokoh bagai gunung, berlapis bebatuan hitam dan lumut purba. Ia adalah Jagat Dirgantara, sang penguasa tanah, ksatria tua yang telah tertidur selama ribuan tahun.

Matanya masih tertutup, dan setiap gerakannya lamban, berat seperti dunia baru terbangun dari mimpi panjang. Debu beterbangan di udara, mengelilinginya bagaikan kabut dari zaman purba.

Pangreksa, penguasa es, melangkah maju, mengangkat tangannya.

> “Biarlah dinginku menenangkan tubuhmu, wahai penjaga tanah,” ujarnya.
Udara membeku, lapisan es membalut batu, menahan panas dan memberi bentuk pada tubuh raksasa itu.



Bhra Anuraga, sang penguasa api, mengikuti dengan nyala merah di matanya.

> “Api akan membakar sisa-sisa tidur panjangmu,” katanya.
Nyala api menjalar lembut di sela-sela batu, menghancurkan kerak dan debu masa lampau yang menutup kulit Jagat Dirgantara.



Lalu Sagara Putra, penguasa samudra, mengangkat tangan dan menyeru gelombang dari udara — air muncul, mengalir dari udara tipis, membasuh batu yang telah terpecah.

> “Biarlah airku menggerus kaku tubuhmu,” katanya dengan lembut.



Bayu Anggana, penguasa angin, menari di sekitarnya; setiap gerakannya memunculkan pusaran angin yang menghapus debu dan sisa kerak dari tubuh batu itu.

> “Angin akan membersihkanmu, wahai ksatria bumi,” serunya.



Lalu Guntur Wisesa, dengan sorot mata bagaikan kilat di langit badai, mengangkat tombaknya ke udara. Petir pun turun, menyambar tubuh batu yang membeku itu.

> “Terimalah kekuatan dari langit, wahai Jagat Dirgantara!”



Petir itu menyatu dengan tubuh golem batu; retakan-retakan muncul di seluruh permukaannya, berpendar cahaya dari dalam — putih, emas, dan hijau bercampur seperti sinar fajar menembus awan badai.

Rakajati, sang penguasa kayu, menancapkan tongkatnya ke tanah; akar-akar hijau bermunculan, melingkari tubuh raksasa batu itu, mengalirkan kehidupan baru ke dalamnya.

Dan ketika semua unsur bersatu — api, air, angin, tanah, petir, dan kehidupan — terdengar bunyi lembut seperti napas pertama dunia. Batu-batu pecah perlahan, gugur dari tubuh sang ksatria.

Dari dalam pecahan itu muncullah seorang lelaki berwajah tegas, bertubuh gagah, dengan kulit sewarna tanah lembah dan mata berkilau bagai batu giok. Ia menunduk perlahan, dan bumi di bawahnya bergetar ringan — bukan karena kekuatan, tapi karena rasa syukur.

> “Aku... telah terbangun,” suaranya dalam dan bergema, seperti suara bumi sendiri berbicara. “Beribu tahun aku tertidur, dan kini aku mendengar panggilan cahaya...”



Ia berlutut di hadapan Isidore, matanya bersinar lembut.

> “Wahai putra raja Itharius, penerus darah Mythopia, aku berhutang nyawa padamu dan para ksatriamu. Mulai hari ini, Jagat Dirgantara akan menjadi perisai kalian — penjaga tanah dan penopang dunia. Demi keseimbangan, dan demi Mythopia.”



Isidore menatapnya penuh hormat.

> “Bukan kami yang membangkitkanmu, wahai Jagat Dirgantara. Dunia sendirilah yang memanggilmu kembali. Dan kini... waktumu telah tiba untuk berdiri di sisi kebenaran.”



Cahaya keemasan dari keris Surya Wikrama perlahan meredup, namun di dalam gua itu, sinar baru muncul — bukan dari batu atau sihir, melainkan dari harapan yang kini hidup di hati mereka semua.


---
Chapter 65 Bayang-Bayang di Gua Sinabung

Dalam kedalaman gua Sinabung yang sunyi, Ki Surya Dahana duduk bersila di atas batu hitam, matanya menatap nyala api biru dari tungku kecil di hadapannya. Asap beraroma mur menyeruak, membentuk kabut tipis yang melayang di udara, menciptakan bayangan yang seolah hidup di dinding gua.

Angin dari celah batu berdesir pelan, namun dalam kesunyian itu, hati sang pertapa bergolak bagaikan samudra di bawah badai. Ia baru saja mendengar kabar dari mata-matanya — Jagat Dirgantara, sang penjaga tanah, telah terbangun dari tidur panjangnya dan kini bersumpah setia pada Isidore, putra raja Itharius.

Wajah Ki Surya Dahana menegang. Jemarinya yang kurus menggenggam tongkat hitam bertatah batu obsidian, mengetuk-ngetuk tanah tanpa sadar.

> “Jagat Dirgantara... bahkan bumi pun kini tunduk pada Isidore,” gumamnya lirih, antara kagum dan waspada.



Bayangan di dinding bergetar, lalu suara bergema dari kegelapan — bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri.

> “Apakah kau takut, Surya Dahana? Atau iri?”



Ia terdiam. Hanya nyala biru yang menari di bola matanya.

> “Aku tidak takut,” katanya perlahan. “Tapi aku mengenal tanda-tanda zaman. Jika tanah telah bangkit, maka langit akan berguncang. Rasvatar tidak akan tinggal diam.”



Nama itu — Rasvatar — membuat api di tungku mendesis keras, seolah membenci kehadiran sang tokoh. Ki Surya Dahana menatapnya, teringat akan kunjungan bayangan sang penasehat hitam Mythopia, yang kini mengaku kembali dari kegelapan.

> “Ia datang membawa janji,” ujarnya pada dirinya sendiri, “janji tentang rahasia tertinggi alam, dan kekuatan untuk menundukkan manusia. Tapi aku tahu... dari lidah kegelapan hanya lahir racun.”



Ia menutup matanya, berusaha meredam bisikan-bisikan halus yang berdesir di telinganya, suara Rasvatar yang masih terngiang:

> ‘Manusia lemah harus tunduk pada yang kuat... begitulah hukum dunia, muridku.’



Ki Surya Dahana membuka mata, sorotnya kini tajam bagai bilah pedang.

> “Namun apakah aku benar-benar berbeda darinya?” gumamnya. “Aku pun membangun pasukan. Aku pun menginginkan kekuatan... demi apa? Demi Mythopia? Atau demi diriku sendiri?”



Bayangan para kepala suku terlintas dalam pikirannya — Orkaghor, Lorendis, Mhezzrak, Vorthax — semuanya kini mabuk kekuasaan, memeluk senjata yang diberkatinya sendiri. Ia tahu, bila Rasvatar menampakkan diri sepenuhnya, darah akan tumpah, dan Majapahit akan menjadi medan pertama yang dilahap api bencana.

Ia berdiri perlahan, menyandarkan tongkatnya pada batu. Api biru padam, meninggalkan hanya pijar ungu di ujung matanya.

> “Aku harus memilih,” ucapnya berat. “Apakah menjadi pelindung... atau penghancur.”



Langit di luar gua bergemuruh — kilat menyambar puncak Sinabung, menandai malam yang akan menjadi saksi pergulatan batin seorang yang berdiri di ambang dua dunia: antara terang dan kegelapan.

> “Rasvatar, kau boleh menebar bayang-bayangmu... tapi ketahuilah, bahkan kegelapan pun lahir dari cahaya yang dikhianati.”



Dengan langkah perlahan, ia berjalan ke mulut gua, menatap langit yang diliputi awan hitam. Dari sana, ia berbisik pada angin:

> “Awasi mereka, awasi Isidore. Bila Rasvatar turun ke dunia, aku... akan menemuinya sendiri.”
---
---

Chapter 66 Bayangan di Gunung Sinabung

Senja mulai turun di kaki gunung Sinabung. Langit barat berwarna merah darah, dan awan berarak bagai arus api yang terbelah oleh angin. Di hadapan gua batu yang menjadi tempat peristirahatan mereka, Isidore berdiri memandangi lembah yang diselimuti kabut tebal. Di sisi kanannya berdiri Pandika, wajahnya keras dan matanya menyala oleh semangat yang tak terbakar waktu.

> “Tuan Isidore,” ujarnya perlahan, “aku telah mendengar kabar buruk dari para penduduk yang selamat. Perkumpulan kegelapan di bawah naungan Ki Surya Dahana telah menculik banyak jiwa—orang tua, anak-anak, bahkan bayi. Mereka dijadikan bahan upacara untuk memperkuat ilmu hitam mereka. Kita tak boleh berdiam diri lagi.”



Isidore menatap Pandika dengan tatapan berat.

> “Aku tahu, Pandika. Bayang-bayang itu telah terlalu lama tumbuh di Sinabung. Bila kita biarkan, kegelapan itu akan menjalar sampai ke jantung Majapahit.”



Angin malam mulai turun, membawa suara burung malam dari kejauhan. Dari belakang mereka, Jagat Dirgantara melangkah maju. Tubuhnya yang tegap bagai tebing batu kini berkilau disinari cahaya bintang pertama yang muncul di langit.

> “Jagat Dirgantara,” kata Isidore, “kau pernah menjadi mata dan telinga bumi. Dapatkah engkau menunjukkan pada kami di mana para pengikut kegelapan itu bersembunyi?”



Ksatria tanah itu menunduk dengan hormat, suaranya dalam dan berat seperti gemuruh di bawah bumi.

> “Terima kasih atas kepercayaanmu, Tuan Isidore. Biarkan aku mencari mereka melalui gema bumi ini.”



Ia lalu melangkah ke sebuah batu besar di puncak dataran, menancapkan palu perangnya ke tanah. Cahaya emas membungkus tubuhnya, lalu ia melompat tinggi dan menghantam tanah dengan kekuatan yang membuat bumi bergetar.
Suara ledakan bergema menembus lembah—gelombang udara menyapu pepohonan, menumbangkan daun-daun, dan memaksa kabut mundur dari punggung gunung.

Dari kejauhan, terdengar jeritan—para mata-mata yang bersembunyi di bawah tanah terhempas dan pingsan, sementara yang bersembunyi di atas pohon berguguran seperti buah busuk tersambar badai.

Pandika menatap pemandangan itu dengan kagum.

> “Kekuatan yang menggetarkan bumi... sungguh layak bagi sang penjaga tanah.”



Isidore mengangguk.

> “Kini kita tahu di mana mereka bersembunyi. Akar kegelapan itu berdenyut di perut Sinabung. Di sanalah kita akan menyalakan api pembebasan.”



Namun jauh di tempat lain—di sebuah ruangan batu hitam yang diterangi oleh cahaya cermin berisi kabut—Rasvatar tersenyum tipis. Dari pantulan cermin itu, ia menyaksikan seluruh kejadian, dan di matanya berputar pusaran ungu yang menyala seperti bara.

> “Ah, Jagat Dirgantara... ksatria bumi yang legendaris,” gumamnya dengan nada kagum yang penuh racun. “Mythopia kembali mengumpulkan pasukannya. Ini akan menjadi panggung yang sempurna untuk kejatuhan mereka.”



Ia mengangkat tangannya, mengusap permukaan cermin. Bayangan baru muncul—pasukan berseragam Majapahit, berbaris di antara kabut, melindungi beberapa kereta kuda berhias lambang bunga teratai. Di dalamnya, wajah seorang putri bersinar lembut di antara cahaya obor.

Rasvatar tertawa kecil, suaranya serak namun bergema di seluruh ruangan.

> “Dyah Sekar Tanjung... rupanya takdir suka bermain dengan benang yang sama. Para ksatria Mythopia, pasukan Majapahit, dan sang pewaris darah raja—semuanya datang ke tempat yang sama.”



Ia menatap kabut ungu yang berputar di cermin, lalu berbisik pelan:

> “Biarlah Sinabung menjadi pusaran di mana terang dan gelap bertemu... dan hanya satu yang akan keluar hidup-hidup.”

---
---

Chapter 67 Bayangan dari Selatan

Malam turun di kaki Gunung Sinabung, dan udara menjadi berat dengan aroma tanah basah serta desiran angin dingin yang menyelusup di antara pepohonan raksasa. Kabut putih perlahan merayap dari lembah, menyelimuti akar dan semak bagai selimut kematian yang diam.

Di tengah hening itu, Jagat Dirgantara menunduk, telapak tangannya menempel pada tanah. Dari tubuhnya terpancar cahaya keemasan samar, berdenyut seperti nadi bumi. Ia menutup matanya, dan mendengar bisikan batu serta desir akar yang berbicara dalam bahasa kuno bumi.

> “Ada yang bersembunyi,” gumamnya pelan. “Di selatan, di balik pohon-pohon tinggi, kudengar langkah-langkah hati-hati manusia. Tapi di barat...” —ia membuka matanya perlahan, menatap ke arah pepohonan gelap— “...di barat hanya ada keheningan dan kematian. Para mata-mata yang bersembunyi di sana telah gugur, mungkin oleh tangan yang tak terlihat.”



Isidore segera menoleh, wajahnya menegang.

> “Apakah mereka dari pihak musuh?”



Jagat Dirgantara menggeleng perlahan.

> “Belum tentu. Namun aku merasakan aura jahat sedang mendekat. Jumlahnya besar—gelombang kegelapan yang bergerak seperti badai dari perut gunung. Kita harus mengungsikan penduduk dan mereka yang lemah, sebelum langit di atas Sinabung menjadi merah oleh darah.”



Rakajati yang berdiri di sisi kanan Isidore menatap lebatnya hutan dengan mata tajam. Akar-akar di bawah kakinya bergetar lembut, seolah menjawab panggilan batin sang penguasa kayu.

> “Tuan Isidore,” katanya cepat, “ada sekelompok prajurit Majapahit yang bersembunyi di balik pepohonan di sana. Aku dapat merasakan napas mereka dan bau baja dari perisai mereka. Kita harus memperingatkan mereka sebelum terlambat.”



Isidore tertegun sesaat.

> “Majapahit... di sini?”



Ia segera berlari menembus semak, diikuti Pandika dan Surya Wikrama yang menyalakan obor kecil berwarna keemasan. Di balik kabut, tampak barisan prajurit Majapahit berlutut di tanah, menatap mereka dengan waspada. Di antara mereka, berdiri Putri Dyah Sekar Tanjung, mengenakan jubah sutra berwarna ungu lembut, wajahnya pucat diterpa cahaya bulan.

> “Tuan Isidore...” bisiknya, matanya bergetar antara lega dan cemas. “Aku... tak menyangka akan bertemu denganmu di tempat ini.”



Isidore menunduk hormat, suaranya tenang namun penuh getaran hangat.

> “Putri Dyah Sekar Tanjung... seharusnya engkau tidak berada di sini. Sinabung bukan tempat bagi bunga istana. Angin malam membawa bau darah, dan bumi telah memperingatkan kita akan datangnya badai.”



Dyah Sekar tersenyum tipis.

> “Dan apakah bunga harus selalu berdiam di taman, Tuan Isidore? Kadang bunga pun harus melihat gelap untuk tahu cahaya mana yang sejati.”



Isidore sempat terdiam. Di balik suaranya yang lembut, ia mendengar keberanian yang sama dengan darah para leluhur Majapahit.

> “Engkau memiliki hati seorang ratu,” katanya pelan, “namun kali ini, izinkan aku yang menjaga keindahanmu dari gelap yang akan datang.”



Dyah Sekar menunduk, menatap gelang kayu di pergelangan tangannya—hadiah dari Isidore di tepian Bengawan Solo.

> “Kalau begitu, aku akan menunggu di bawah cahaya yang sama seperti dulu...”



Sebelum ia sempat melanjutkan, suara gemuruh terdengar dari kejauhan—sebuah raungan berat, seperti ribuan makhluk sedang merangkak keluar dari kedalaman bumi. Tanah bergetar, dan udara berubah dingin membeku. Dari kegelapan di antara pepohonan, muncul kabut hitam yang menggeliat hidup, menelan cahaya bulan sedikit demi sedikit.

Jagat Dirgantara menatap langit, suaranya bergema seperti petir di lembah.

> “Terlambat... mereka sudah datang.”



Kabut hitam kini menelan seluruh sisi hutan. Bayangan-bayangan bergerak cepat di antara pepohonan, mata mereka menyala merah bagai bara. Suara bisikan dan lolongan memenuhi udara.

Isidore mencabut kerisnya, bilahnya menyala kebiruan, dan berkata lantang:

> “Semua orang bersiap! Malam ini Sinabung akan menjadi medan ujian bagi keberanian kita!”

---
---

Chapter 68 Kabut Malapetaka

Langit di atas Gunung Sinabung perlahan kehilangan cahayanya. Matahari yang tadinya menembus kabut tipis kini tertelan oleh gelap yang berputar-putar di cakrawala. Angin berhenti berhembus, dan hutan yang tadinya bernyanyi dengan suara serangga kini terdiam bagai dunia yang menahan napas.

Lalu terdengar bunyi lirih—seperti suara genta purba dari balik lembah. Dari tanah yang gemetar, tiga sosok bercahaya muncul perlahan. Jubah mereka berkibar pelan, memantulkan sinar keemasan yang seolah melawan kabut hitam yang mendesak dari segala arah.

Isidore menatap mereka dengan takjub, lalu menunduk hormat.
Tiga biksu agung berdiri di hadapannya: Raja Alam Wardana, dengan tongkat berukir naga emas di tangan kanannya; Cheon Myeong, biksu dari timur jauh, bermata teduh namun tajam seperti baja; dan Sri Laksana, yang berselimut cahaya lembut, namun sorot matanya membawa kuasa dari dunia para arwah.

> “Isidore,” ujar Raja Alam Wardana dengan suara yang berat seperti guntur yang jauh. “Kabut yang datang ini bukan kabut biasa. Aku mengenali napasnya. Ini pertanda kebangkitan makhluk malapetaka tingkat IV—Bayang Agung, sang pemakan roh dan penghapus cahaya.”



Cheon Myeong menunduk dalam-dalam, suaranya tenang namun getir.

> “Makhluk itu tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan pedang atau sihir apa pun. Ia hanya dapat disegel, dan segel itu membutuhkan roh pendendam terkuat untuk menjadi kuncinya.”



Raja Alam Wardana menatap Isidore dengan mata yang bersinar bagai bara.

> “Carilah roh pendendam yang paling kuat di tempat ini. Biarkan Sri Laksana yang menyegelnya. Namun waspadalah—kabut ini akan menguji hatimu. Ia akan memanggil dengan suara yang engkau cintai... dan menyeretmu ke dalam kegelapan.”



Isidore menunduk, menggenggam kerisnya. Cahaya kebiruan di bilahnya mulai bergetar, seolah takut pada sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap dari dunia itu sendiri.

> “Aku mengerti, Paduka Wardana. Aku akan melakukannya.”



Namun sebelum ia sempat melangkah, kabut hitam menebal dengan cepat, menelan pepohonan, batu, dan bahkan cahaya dari ketiga biksu agung itu. Suara langkah para ksatria menghilang, dan Isidore tak lagi dapat merasakan napas satu pun dari mereka.

Lalu... terdengar jeritan.
Suara seorang perempuan, sayup tapi jelas menusuk hati.

> “Isidore! Tolong kami!”



Itu suara Putri Dyah Sekar Tanjung.

Isidore berbalik, napasnya tersengal. Namun tangan Raja Alam Wardana menahan bahunya, suaranya tajam seperti cambuk petir.

> “Jangan hiraukan suara itu! Itu bukan dia. Kabut sedang mencoba menyentuh hatimu. Cepat—cari sumber roh terkuat sebelum semuanya lenyap!”



Dan dari balik kabut, muncul ribuan arwah pendendam. Mata mereka merah menyala, tubuhnya diselimuti bayangan, membawa pedang dan tombak dari dunia kematian. Mereka meraung, memanggil nama-nama yang telah lama dilupakan, dan menyerbu dengan kegilaan abadi.

Isidore berlari di antara pohon-pohon tinggi, tubuhnya melesat di antara kilatan cahaya petir yang muncul dari kabut. Ia melompat ke atas cabang besar, menghindari tebasan tombak bayangan.

Di saat itulah Cheon Myeong muncul di sampingnya, tubuhnya berkilau bagai roh suci.

> “Isidore! Dengarkan baik-baik! Aku akan mengajarkanmu jurus yang dilarang di dunia manusia—Jurus Dewa Pedang. Kau hanya punya sekali kesempatan untuk menguasainya!”



Cheon Myeong mengayunkan tangannya, dan dalam sekejap Isidore merasakan ribuan kilatan pedang menari di pikirannya—seperti bintang yang jatuh ke bumi, mengukir langit dengan cahaya. Ia mengangkat kerisnya, meniru gerakan sang biksu, dan cahaya biru dari bilah itu berubah menjadi putih keperakan.

> “Sekarang!”



Dengan satu tebasan, Isidore memutar tubuhnya. Dari kerisnya memancar gelombang cahaya tajam bagai sayap dewa. Kabut terbelah, dan ratusan arwah pendendam lenyap dalam sorotan terang yang suci. Suara jerit mereka menggema di antara pepohonan, sebelum larut kembali ke dalam bumi.

Isidore terengah-engah, memegangi kerisnya yang kini bergetar hangat di tangannya. Cheon Myeong menatapnya dari jauh, tersenyum tipis.

> “Hebat, meski penguasaanmu belum sempurna... namun cahaya pedangmu telah menembus batas antara dunia hidup dan mati.”



Namun Wardana menatap ke arah barat dengan wajah muram.

> “Waktumu tidak banyak, Isidore. Bayang Agung akan segera bangkit sepenuhnya. Roh terkuat itu menunggu... di jantung kabut.”

---

---

Chapter 69 Bayangan Sang Raja Arwah

Kabut di lembah Sinabung makin menebal hingga tak seorang pun dapat membedakan tanah dari langit. Bau tanah basah bercampur dengan aroma besi dan darah yang lama. Isidore berjalan perlahan, langkahnya teredam oleh kabut yang seolah hidup dan berbisik di setiap sisi.

Di hadapannya, tampak bayangan seorang lelaki berdiri tegap di tengah pusaran gelap—berjubah kerajaan Majapahit, berwarna merah darah yang pudar oleh waktu. Di tangannya terhunus pedang besar berukir naga, Nagarastra, bilah legendaris yang kini tampak berkarat oleh dendam.

Cahaya keris di tangan Isidore bergetar; roh itu bukan arwah biasa.
Dari tubuhnya terpancar hawa kekuasaan dan kesedihan abadi.
Cheon Myeong muncul di sisi Isidore, suaranya lirih bagai angin malam.

> “Dialah yang kau cari, Isidore. Roh pendendam yang dulu raja dari raja—penguasa tanah dan darah. Pedangnya pernah menebas langit, dan kini ia terkutuk menebas bayangannya sendiri.”



Isidore menggenggam kerisnya erat, menatap sosok itu yang kini perlahan menoleh. Mata sang arwah memancarkan sinar merah temaram.

> “Siapa yang berani mengusik tidurku?” suara itu bergema seperti suara logam yang diseret di atas batu.
“Aku, Isidore, pewaris cahaya Mythopia,” jawab Isidore mantap. “Aku datang bukan untuk melawan, tetapi untuk mengakhiri dendammu.”



Arwah itu tertawa pelan, suaranya dingin dan bergetar.

> “Dendam tidak berakhir, anak muda. Ia hanya menunggu tubuh baru untuk menitis...”



Seketika tanah bergetar, dan arwah itu mengangkat pedang Nagarastra. Cahaya merah meledak, menembus kabut. Isidore melompat menghindar, tanah di bawahnya retak.

Cheon Myeong berseru:

> “Isidore! Gunakan tarian menebas bulan! Rasakan napas angin, bukan amarahmu!”



Dalam sekejap, Cheon Myeong memutar tubuhnya—gerakan halus seperti embusan angin lembut, namun setiap lenggokan membawa daya yang mematikan. Bilah bayangan menari di sekelilingnya, menciptakan lingkaran cahaya keperakan bagai bulan purnama di langit hitam.

> “Gerakan lembut bukan berarti lemah,” ujar Cheon Myeong. “Di balik keindahan tersimpan badai.”



Isidore menutup matanya sesaat, merasakan angin berputar di sekelilingnya. Ia menirukan setiap gerakan dengan hati-hati—tangan melengkung, langkah ringan bagai daun jatuh, dan tebasan terakhir seperti kilatan cahaya bulan menembus gelap.

Cahaya keperakan dari kerisnya membelah udara.
Sang arwah raja berusaha menangkis, namun gerakan itu terlalu halus dan cepat. Bilah keris Isidore menebas lengan sang arwah; darah hitam menetes dari luka yang tak seharusnya dimiliki roh.

Arwah itu menatap tangannya yang terputus, suaranya berubah lirih.

> “Gerakanmu... indah seperti tarian bulan di atas samudra. Tapi apakah kau siap menanggung akibatnya, pewaris Mythopia?”



Isidore tidak menjawab. Ia menunduk, mengangkat kerisnya tinggi-tinggi untuk memberi tusukan terakhir, bersiap menutup segel roh itu dengan mantra yang diajarkan oleh Sri Laksana.

Namun sebelum bilah itu menusuk dada sang arwah, udara bergetar.
Sebuah suara tawa menggema di seluruh lembah—dalam, berat, dan penuh kegilaan.

> “Hahaha... indah sekali! Begitu muda, begitu berani, dan begitu... menyerupai aku dulu.”



Dari balik kabut, muncul sosok tinggi berselimut bayangan merah tua—Rasvatar. Matanya menyala ungu seperti bara dari dunia lain, dan setiap langkahnya membuat tanah retak dan kabut menyingkir.

Arwah raja menghilang, terseret ke dalam pusaran gelap yang terbentuk di kaki Rasvatar.

> “Kau mencarinya, Isidore? Roh pendendam terkuat? Sayang sekali, kini ia telah menjadi milikku,” ujarnya dengan senyum bengis.



Isidore mundur setapak, merasakan hawa panas dari sosok itu. Kilatan petir menyambar langit, tapi cahaya pun tampak takut menyentuhnya.

Suara Raja Alam Wardana terdengar dari belakang, keras dan tegas:

> “Isidore! Mundurlah! Kau belum siap menghadapi dia. Rasvatar adalah penguasa seluruh elemen Mythopia—api, air, tanah, angin, dan bayangan!”



Rasvatar menatap sang biksu agung, matanya menyipit.

> “Penguasa? Tidak, Wardana. Aku penyeimbang. Ketika cahaya tumbuh terlalu sombong, maka kegelapan akan menuntut haknya kembali.”



Ia mengangkat tangannya, dan seluruh hutan berguncang. Pohon-pohon tua patah, tanah terbelah, dan bayangan menjalar seperti darah ke segala arah.

Isidore terlempar ke belakang, tubuhnya terbanting di tanah berbatu.
Namun ia tetap menggenggam kerisnya, menatap Rasvatar dengan tekad menyala.

> “Kalau kau penyeimbang, maka biarlah aku jadi cahaya terakhir yang berdiri melawanmu.”



Rasvatar tertawa perlahan, suaranya bergulung seperti badai malam.

> “Kau akan jadi lebih dari itu, anak muda... Kau akan jadi pembuka gerbang antara cahaya dan kegelapan.”



Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi, tubuh Rasvatar lenyap menjadi kabut pekat, meninggalkan jejak bau belerang dan bisikan tak suci yang merayap di antara pepohonan.


---

Chapter 70 Reda di Bawah Cahaya Surya Wikrama

Bayang Agung telah lenyap. Bersama raungan terakhirnya, kegelapan yang menelan langit perlahan terurai, seperti tirai malam yang disibak tangan cahaya. Dari keris Surya Wikrama, berpendar sinar keemasan yang hangat, menembus kabut, menyingkirkan sisa-sisa kengerian yang menggantung di udara. Hutan kembali bernapas—daun bergetar lembut, suara serangga mulai terdengar lagi, dan aroma tanah basah menandakan hidup telah kembali.

Isidore berdiri di tengah lingkaran cahaya itu. Nafasnya tersengal, matanya sayu, dan tangan yang memegang keris bergetar. Pada bilah kerisnya, masih terpantul redup wajah-wajah arwah yang baru saja diselamatkan dari kutukan bayang. Ia berlutut perlahan, menundukkan kepala—antara letih dan tak percaya bahwa ia masih hidup setelah menyaksikan kekuatan Rasvatar dengan matanya sendiri.

Dari balik rerimbunan, para ksatria Mythopia satu per satu muncul.
Pangreksa, penguasa es, berjalan lebih dulu, tubuhnya memancarkan hawa dingin yang menenangkan. Di sisinya, Bhra Anuraga menunduk dalam, matanya masih menyala merah lembut sisa amarah yang belum padam.

> “Bayang itu… mengandung kekuatan dari zaman sebelum kita lahir,” ujar Pangreksa perlahan. “Namun cahaya Surya Wikrama telah menahannya untuk sementara.”



Sagara Putra melangkah mendekat, membawa kendi berisi air suci dari gua sungai. Ia meneteskan air itu ke tangan Isidore.

> “Minumlah, Tuan Isidore. Arus kehidupan ini akan menenangkan jiwamu.”



Air itu dingin dan murni, menghapus getir besi dan darah dari bibir Isidore. Ia menatap kawan-kawannya yang berdiri mengelilingi, merasakan hangatnya kebersamaan setelah kegelapan begitu lama mengancam.

Di kejauhan, Pandika muncul, tubuhnya terbalut zirah tempur berwarna perak kehijauan. Wajahnya tegas, namun sorot matanya menampakkan kekhawatiran yang tak disembunyikan.

> “Aku melihat segalanya,” katanya perlahan. “Pertarunganmu melawan Bayang Agung, dan... kedatangan makhluk itu.”



Isidore menatapnya, matanya buram oleh keletihan.

> “Rasvatar,” ujarnya pelan. “Ia masih hidup, Pandika. Lebih kuat dari yang pernah kuceritakan padamu. Ia bukan lagi manusia, melainkan... kehendak kegelapan itu sendiri.”



Pandika terdiam sesaat, lalu menunduk.

> “Kalau begitu, dunia ini akan segera bergetar lagi. Kita harus bersiap sebelum semuanya terlambat.”



Rakajati datang kemudian, dengan tubuh penuh debu tanah dan daun-daun hutan. Ia berlutut di hadapan Isidore.

> “Prajurit Majapahit telah selamat. Putri Dyah Sekar Tanjung sudah kami kirim ke Bukit Kemuning melalui akar-akar penjaga. Ia tak akan dijangkau oleh kegelapan—untuk sementara.”



Isidore menarik napas panjang, menatap ke arah langit yang mulai jernih.
Burung-burung kembali terbang, dan di antara awan, tampak sinar mentari yang lembut, seperti berkat dari dunia yang belum menyerah pada keputusasaan.

Namun dalam keheningan itu, Surya Wikrama tiba-tiba bergetar di tangannya.
Cahaya emasnya meredup, lalu muncul bayangan samar wajah Sri Laksana.

> “Isidore,” suara lembut itu bergema, “kegelapan telah mundur, tapi tak kalah. Bayang Agung hanya ditarik kembali ke asalnya—ke tangan Rasvatar. Kini ia memegang kunci antara dunia roh dan dunia manusia. Hati-hatilah, sebab setiap kemenangan membawa pintu yang baru untuk kejatuhan.”



Isidore menunduk, wajahnya diterpa cahaya sore.

> “Aku tahu, Guru. Tapi selama masih ada cahaya, aku akan berjalan ke arahnya—meski harus menempuh malam yang tak berujung.”



Cahaya Surya Wikrama kembali tenang, dan Sri Laksana menghilang.
Para ksatria saling berpandangan—tak ada yang berkata apa-apa, tapi masing-masing tahu: peperangan besar belum usai.

Di bawah langit jingga Gunung Sinabung, suara lembah bergema lirih. Angin membawa bisikan nama-nama lama—nama para ksatria, para arwah, dan satu nama yang kini menjadi ancaman bagi segala makhluk hidup: Rasvatar.

Dan di antara sisa kabut yang menipis, Isidore menatap ke arah timur, ke tempat mentari lahir.
Ia tahu, hari baru telah tiba. Tapi dalam bayangan hatinya, malam yang lain sudah mulai menyusun langkah.


---





























01/10/25

Ruko murah di Bintaro

selamat pagi pak/bu 🏢DIJUAL CEPAT! BUTUH UANG BANGET! RUKO 2 LANTAI DI BINTARO, TANGSEL

SIAPA CEPAT DIA DAPAT!
Sebelah 1,5M
Kami hanya 750 JUTA Nego Sampai Deal!

Lokasi Strategis Dekat Bintaro – Siap Usaha atau Investasi!
Beli Bulan Ini Gratis Emas Antam!

📌 Spesifikasi Properti:
• Luas Bangunan: 64 m²
• Luas Tanah: 32 m²
• Bangunan: 2 lantai, siap pakai
• Surat: SHM
• Listrik & Air Lancar
• Toilet di lantai 2, Rolling Door kokoh

Gratis:
-Emas Antam
-Pompa Air
-Rolling Door

🏢 Keunggulan Ruko:
• Terletak di kawasan komersial aktif – banyak ruko dan usaha berjalan
• Dikelilingi area bisnis yang ramai dan berkembang pesat
• Akses jalan besar, parkiran luas & lokasi sangat strategis

💸 Harga Penawaran Spesial: Rp 750 JUTA
Hubungi Irvan 081317943160

03/09/25

Season 3 Kisah Pandika dari kerajaan cakram


Setelah berhari-hari menyusuri jalur pesisir, akhirnya tampaklah di cakrawala Pelabuhan Jepara, mutiara terbesar di pesisir utara Majapahit. Dari kejauhan, layar-layar putih kapal asing menjulang bagaikan hutan yang tumbuh di lautan, dan suara gong serta terompet pelabuhan menyambut kapal-kapal yang masuk ke dermaga.

Jepara tidak sekadar sebuah pelabuhan, melainkan jantung dagang Majapahit. Jalanan menuju dermaga dipenuhi pedagang dari berbagai bangsa: orang Gujarat dengan jubah panjang dan sorban warna-warni; saudagar Tiongkok dengan kotak-kotak porselen berisi keramik berkilau; pelaut Arab yang membawa rempah dari Maluku; hingga pedagang Jawa sendiri yang menawar keras demi menjaga harga tetap tinggi.

Gerobak rombongan Pandika melintas di antara keramaian itu. Tidak seorang pun pejabat pelabuhan berani mendekat untuk meminta upeti. Para petugas hanya menunduk hormat, sebab mereka mengenali tanda kebangsawanan pada Dyah Ratnaswari — putri dari garis keturunan ksatria Majapahit. Nama keluarganya saja sudah cukup untuk membuat para pejabat menyingkir, seolah jalan terbuka lapang tanpa halangan.

Si Maung, duduk gagah di atas gerobak, mengaum kecil, membuat beberapa orang asing mundur dengan wajah pucat, menyangka sang pemuda membawa peliharaan gaib. Pandika sendiri diam-diam merasa lega, sebab kehadiran Dyah Ratnaswari memberinya perlindungan yang lebih besar daripada pedangnya sendiri.

Namun di tengah hiruk pikuk perdagangan itu, kabar-kabar mulai berbisik di antara para pedagang dan pelaut.

“Kapal dari Tiongkok membawa berita, Kaisar sedang memperluas pengaruhnya ke lautan selatan.”
“Dari barat, orang-orang asing berkulit pucat mulai tampak di Samudra Hindia, kapal-kapal mereka lebih besar dari jung kita.”
“Ada pula desas-desus bahwa negeri-negeri seberang lautan mulai iri pada kekayaan rempah Majapahit.”

Bisik-bisik itu, meski lirih, beredar cepat, laksana angin yang membawa aroma laut. Pandika mendengarkan dengan seksama, dadanya berdesir oleh firasat. Ia tahu bahwa perjalanan mereka bukan sekadar pengawalan dagang; mereka berada di tengah pusaran zaman yang mulai berubah.

Dyah Ratnaswari menoleh pada Pandika, matanya tajam namun teduh.
“Kelak engkau akan melihat sendiri, Pandika. Majapahit bukan hanya kerajaan besar, ia juga dikelilingi ancaman dari segala penjuru. Maka ksatria sejati tidak hanya berjuang dengan pedang, tetapi juga dengan hati yang teguh.”

Pandika menunduk hormat, lalu menggenggam pedangnya erat. Di pelabuhan Jepara yang megah itu, ia merasakan — mungkin inilah awal dari perjalanan yang akan menguji tidak hanya tenaganya, tetapi juga jiwa dan kesetiaannya.


Setelah segala urusan di Jepara terselesaikan, para pedagang memutuskan mengambil jalur laut, sebab itu adalah jalan tercepat menuju Trowulan. Sebuah jung besar Majapahit, berhias ukiran naga emas di haluannya, disewa untuk mengangkut rombongan beserta rempah-rempah mereka.


Angin laut bertiup kencang, layar-layar putih menjulang tinggi, dan ombak berdebur menghantam lambung kapal. Pandika, yang belum pernah menjejak kapal sebelumnya, merasakan perutnya bergolak. Wajahnya pucat, tubuhnya limbung, dan akhirnya ia tersungkur di sisi kapal, memuntahkan isi perutnya ke laut lepas.


“Wahai Pandika, engkau seorang ksatria, namun kalah oleh goyangan laut,” canda salah satu pelaut sambil tertawa lebar.


Si Maung, dengan tenangnya duduk di atas geladak, seolah menikmati semilir angin asin. “Aku selalu tahu, Pandika,” ujarnya sambil menjilat cakarnya, “bahwa laut lebih perkasa daripada pedangmu.”


Dyah Ratnasari menatap Pandika dengan iba, lalu memberinya kendi berisi air jahe hangat. “Minumlah ini. Laut memang menguji kesabaran dan perut lebih dulu sebelum menguji keberanian,” katanya lembut.


Hari-hari di atas laut panjang dan penuh tantangan. Ombak mengguncang, angin malam menusuk tulang, dan kabut kadang menutup pandangan. Namun kapal tetap melaju, dibimbing oleh bintang-bintang yang dipahami para nakhoda Jawa.


Setelah beberapa hari berlayar di sepanjang pesisir, tibalah mereka di muara Sungai Bengawan Solo. Air asin bercampur tawar, dan kapal perlahan masuk ke sungai besar yang bagai naga raksasa berliku menuju jantung pulau.


Di sepanjang tepian sungai, desa-desa ramai berdiri, anak-anak kecil melambai pada kapal yang lewat, dan perahu-perahu kecil penuh ikan menepi memberi jalan. Udara berubah lebih lembap dan tenang, namun Pandika masih berbaring lemah, tubuhnya belum terbiasa dengan guncangan air.


“Bertahanlah, Pandika,” kata Dyah Ratnasari, “sebentar lagi kita akan tiba di Trowulan. Saat itu kau akan berjalan lagi di tanah kokoh.”


Dan di kejauhan, ketika senja merona di langit barat, mereka melihat kabut tipis menyingkap bayangan tembok tinggi kota agung Trowulan, pusat dari Majapahit yang megah.


Setelah berhari-hari berlayar dan menyusuri Bengawan Solo yang perkasa, tibalah rombongan itu di sebuah dermaga besar, di mana air sungai yang luas berkilauan seperti perak di bawah sinar matahari. Dari sana, tampak bayangan tembok merah bata menjulang, bagaikan benteng raksasa yang melindungi jantung kejayaan Majapahit.


Trowulan berdiri dengan megahnya, ibukota sebuah kerajaan yang menguasai samudra dan daratan. Jalan-jalan lebar terbentang lurus, dipenuhi pedagang dari negeri jauh: Gujarat, Champa, Tiongkok, bahkan Arab, masing-masing menawarkan kain sutra, keramik, rempah, dan logam mulia. Gapura-gapura besar berdiri kokoh, dihiasi relief tentang kemenangan Majapahit dalam perang.


Ketika rombongan turun dari kapal, para pedagang menunduk hormat kepada Pandika. “Wahai anak muda,” ucap seorang saudagar tua, “tanpa keberanianmu, mungkin kami takkan sampai dengan selamat.” Ia lalu menyerahkan sebuah plakat kayu berukir—lambang persatuan pedagang dari pesisir utara. “Terimalah ini sebagai tanda persaudaraan. Di manapun kau berjalan, para pedagang akan mengenalmu sebagai pelindung dagangan dan sahabat mereka.”


Pandika menerima dengan tangan gemetar, matanya berbinar penuh syukur. “Aku hanyalah pengembara biasa,” jawabnya rendah hati. “Namun aku berjanji menjaga kepercayaan ini dengan segenap hidupku.”


Sementara itu, Dyah Ratnasari segera disambut oleh utusan kerajaan. Seorang prajurit berpakaian kebesaran menunduk hormat. “Paduka Dyah, keluarga istana telah menantikan kedatanganmu. Mari, kami akan mengantarkanmu.” Ratnasari tersenyum, wajahnya bercahaya di tengah keramaian, dan mengikuti rombongan menuju keraton agung.


Adapun Pandika, yang baru saja hendak berpamitan, tiba-tiba dicegat oleh seorang abdi dalem yang berwajah bijak. “Wahai pemuda,” katanya, “Sri Baginda ingin engkau datang menghadap. Ada perkara besar yang mungkin bersangkut dengan perjalananmu.”


Si Maung, yang sejak tadi berbaring malas di pundak Pandika, berdesis pelan, “Lihatlah, Pandika. Takdir mulai membuka pintunya. Mungkin jawaban atas pencarianmu akan kau temukan di dalam tembok merah itu.”


Dengan hati berdebar, Pandika melangkah menyusuri jalan batu menuju gerbang keraton Trowulan. Bayangan gapura raksasa dan atap bertingkat yang menjulang menandai awal dari perjumpaannya dengan rahasia yang telah lama dicari: kisah tentang ksatria agung, Prabu Galang Siwah, yang hilang tanpa jejak.

---


Di bawah langit senja yang mulai berjelaga emas, Pandika menapaki tangga batu menuju balairung agung istana Majapahit. Gerbang raksasa berlapis bata merah berdiri bagaikan penjaga abadi, sementara di kedua sisi, obor tembaga menyala, menyiramkan cahaya keemasan pada dinding yang dihias relief kisah para dewa dan raja. Di dalamnya, pilar-pilar tinggi dari kayu jati hitam menopang atap menjulang, seolah langit sendiri tunduk di bawah kemegahan Majapahit.


Dyah Ratnasari berjalan di depan, langkahnya mantap namun lembut, hingga mereka tiba di hadapan seorang pria tegap berusia matang yang duduk di singgasana rendah berukir emas. Ia mengenakan busana kebesaran merah marun, mahkota sederhana namun bercahaya bagaikan fajar. Sorot matanya tajam, namun dalamnya menyimpan kebijaksanaan laut yang tak bertepi.


“Selamat datang, Putriku Ratnasari,” ucapnya, suaranya bergema di ruangan. “Dan engkau, pemuda pengembara… engkau pasti Pandika, yang namanya telah kudengar dari para pengawal pelabuhan dan pedagang yang datang bersama kalian.”


Pandika menundukkan kepala dengan hormat, menempatkan tangan di dada. “Ampun, Paduka. Hamba hanyalah seorang rakyat jelata, calon ksatria dari kerajaan yang tiada termasyhur. Kehormatan untuk berdiri di hadapan Sri Baginda melebihi layak bagi diri hamba.”


Raja—ayah Ratnasari—tersenyum tipis, lalu memberi isyarat. Para pelayan datang membawa dulang perak berisi buah, daging panggang, dan minuman rempah harum. “Namun engkau telah menempuh perjalanan jauh, menjaga para saudagar kami dari bahaya. Di hadapan Majapahit, keberanian dan kejujuran lebih berharga dari garis darah. Maka duduklah, makanlah, seperti ksatria yang pantas dihormati.”


Pandika, dengan hati yang berdebar, menuruti undangan itu. Si Maung melompat ringan ke sisi kakinya, dan seorang pelayan bahkan membawa semangkuk ikan bakar untuk sang kucing mistis, menimbulkan senyum di bibir Dyah Ratnasari.


Setelah beberapa saat, sang raja mencondongkan tubuhnya. “Anakku menyebut bahwa engkau mencari seorang ksatria besar, Prabu Galang Siwah. Katakan, bagaimana engkau mengenalnya?”


Pandika menegakkan tubuh, menatap hormat. “Paduka, hamba sendiri belum pernah melihat sosoknya. Namun, di perjalanan, seorang dari bangsa peri menitip salam, pesan rindu, dan harapan agar bila hamba bertemu dengannya di bumi fana, pesan itu disampaikan. Itulah sebabnya hamba menelusuri jejaknya.”


Raja mengerutkan dahi, matanya berkilat bagai baja yang mengingat masa lampau. “Prabu Galang Siwah,” gumamnya perlahan, “adalah ksatria yang dahulu memimpin bala Majapahit dalam banyak perang, sebelum lenyap tanpa jejak di rimba selatan. Tak banyak yang berani menyebut namanya lagi… dan engkau datang membawa pesan dari dunia lain. Sungguh takdir yang aneh, namun mungkin bukan tanpa arti.”


Ia menatap Pandika lekat-lekat, seolah ingin menimbang ruh di balik mata pemuda desa itu. Lalu senyum lembut terbit di wajahnya. “Baiklah. Majapahit tidak akan menghalangi langkahmu. Lanjutkan pencarianmu. Mungkin jalan yang kautempuh adalah jalan para dewa sendiri.”


Raja menoleh kepada seorang abdi dalem. “Bawakan padanya tanda jalan. Sampaikan pula, bila ia menghendaki, Majapahit menyimpan banyak tugas dan misi bagi mereka yang berani. Di alun-alun kerajaan, papan pengumuman menanti para ksatria dan pengembara: dari yang mudah hingga yang paling sukar. Setiap misi membawa ganjaran setimpal—emas, tanah, bahkan kehormatan di hadapan tahta.”


Pandika menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Paduka. Hamba akan mempertimbangkan tawaran itu, dan semoga budi baik Majapahit akan selalu terjaga dalam ingatan hamba.”


Raja mengangkat tangannya, memberi salam restu. “Pergilah, Pandika. Semoga angin dan para leluhur menuntun langkahmu. Barangkali di papan pengumuman itu, takdir yang kau cari telah menunggumu.”

---


Pagi merekah di atas kota Trowulan bagaikan lembar emas yang terbentang. Burung-burung jalak menari di udara, dan dari kejauhan, atap-atap bata merah istana memantulkan cahaya mentari muda. Pandika melangkah keluar dari penginapan istana yang harum kayu cendana, Si Maung setia berjalan di sisi, sementara Dyah Ratnasari memilih tetap tinggal sejenak bersama dayang-dayang istana.


Alun-alun Majapahit telah penuh sesak. Pedagang kain dari timur menata gulungan sutra, para pandai besi memamerkan pedang dan tombak, dan musik gamelan mengalun lirih di antara kerumunan. Di sisi utara, papan pengumuman besar terbuat dari kayu jati berdiri megah, dipaku dengan gulungan-gulungan lontar yang ditulis rapi, setiap gulungan memuat tanda dan stempel resmi kerajaan.


Pandika mendekat, matanya menyapu deretan misi yang terpampang:


Mencari Binatang Peliharaan yang Hilang — Hadiah: 5 keping tembaga. Seorang anak bangsawan kehilangan burung perkutut kesayangan di taman belakang istana.


Membantu Berjualan di Pasar Sore — Hadiah: 5 keping tembaga. Seorang janda pedagang memerlukan tangan tambahan untuk mengangkut dan menimbang rempah.


Mencari Orang Hilang di Lereng Merbabu — Hadiah: sekarung beras dan berkat keluarga. Seorang petani dari lereng utara memohon bantuan menemukan putra lelakinya yang hilang di hutan gunung.



Pandika terdiam, pandangannya tertarik pada gulungan ketiga. Kata-kata itu, meski sederhana, menyalakan getaran halus dalam jiwanya—panggilan tugas yang lebih besar dari sekadar upah.


Ia mencabut gulungan itu dengan hati-hati, kemudian menoleh pada Si Maung. “Kau mendengar, sahabat? Anak yang hilang di rimba Merbabu… itu bukan sekadar kerja mencari kepingan tembaga. Ada sesuatu yang lebih di baliknya.”


Si Maung hanya mengeong rendah, matanya menyala bagai bara, seolah memahami.


Tak lama, seorang lelaki paruh baya mendekat. Pakaiannya dari kain lusuh, wajahnya menua sebelum waktunya. “Tuan muda… apakah engkau yang mengambil gulungan itu?” suaranya parau, mata penuh harap.


“Aku yang mengambilnya,” jawab Pandika dengan anggukan hormat. “Namaku Pandika. Apakah engkau ayah dari anak yang hilang itu?”


Lelaki itu menunduk dalam-dalam, seolah memberi hormat pada ksatria sejati. “Benar, Tuan. Aku Jayanata, petani padi dari kaki gunung Merbabu. Putraku, Arga, hilang dua malam lalu. Ia kerap bermain di rimba di kaki gunung, namun kali ini tak kembali. Aku mencari ke segala penjuru, namun hutan itu lebat dan sunyi, seolah menelan jejaknya.”


Pandika menatapnya dengan mata yang menegaskan tekad. “Jangan gentar, Pak Jayanata. Aku akan menelusuri hutan itu. Jika anakmu masih berada di sana, aku akan menemukannya.”


Wajah lelaki itu bergetar antara syukur dan air mata. “Majapahit memberkatimu, Tuan. Jika engkau berhasil, sekarung beras dan doa keluarga kami akan menjadi milikmu, namun lebih dari itu, kau akan menyelamatkan nyawa darah dagingku.”


Pandika menepuk bahu petani itu, merasakan beban misi mulai menyatu dengan jalannya sendiri. “Beras dan upah bukan yang kucari, Pak Jayanata. Kehidupan seorang anak jauh lebih berharga dari harta mana pun.”


Langit Trowulan kini semakin biru, dan dari kejauhan puncak Merbabu tampak bagai bayangan raksasa yang diselimuti awan tipis—tempat misteri dan bahaya menunggu. Si Maung mendesis pelan, seakan mengingatkan bahwa rimba kuno tak hanya menyimpan pepohonan, tetapi juga rahasia yang mungkin tak semua manusia diizinkan untuk mengetahui.


---


Senja merangkak turun di langit Trowulan, ketika Pandika berdiri di tepi hutan yang mengarah ke lereng Merbabu. Kabut tipis turun dari puncak, seperti jubah dewa yang menutupi gunung purba itu. Di sisinya, Si Maung menatap penuh arti; cahaya bulan muda memantul di matanya yang keemasan.


“Apakah kau siap, sahabat?” bisik Pandika.


Tanpa jawaban, tubuh Si Maung mulai memanjang, bulu harimau berkilau bagai bara sebelum berubah perlahan. Otot-ototnya menggembung, cakarnya mengeras, dan dalam sekejap ia menjelma menjadi serigala raksasa, setinggi pundak seorang pria. Napasnya bagai hembusan badai malam.


Pandika melompat ke punggungnya. “Tunjukkan jalan, ingatlah bau anak itu.”


Si Maung mengendus sejenak, lalu melesat bagai anak panah. Hutan bergeser menjadi bayangan—pohon-pohon jati dan mahoni seperti tiang-tiang katedral kuno, daunnya bergetar oleh kecepatan lari sang serigala.


Tak lama, mereka tiba di sebuah celah lembah, di mana aroma manusia dan besi menyengat udara. Di bawah naungan akar beringin yang menjuntai, tampak sangkar-sangkar kayu kasar. Di dalamnya, anak-anak meringkuk, mata mereka lebar oleh ketakutan. Di antara mereka, Pandika mengenali kain lusuh milik putra petani yang hilang.


Namun bukan hanya itu—anak-anak lain, mungkin enam atau tujuh jiwa, terperangkap bersama.


Dari balik kegelapan, terdengar suara langkah berat dan bisikan doa terbalik: para penculik, para pemuja ilmu hitam. Wajah mereka terlukis jelaga, dan lambang bulan terbalik tertoreh di lengan. Mereka berkumpul mengelilingi api, merapal mantera yang menggetarkan tanah, menyiapkan anak-anak itu menjadi prajurit kegelapan.


Pandika merasakan darahnya mendidih. Ia menunggu hingga malam matang dan kabut tebal turun seperti tirai. Ketika seluruh perkemahan tertidur, ia bergerak secepat bayangan. Kunci sangkar dipatahkan satu per satu tanpa suara, dan anak-anak dibangunkan dengan sentuhan lembut.


“Jangan takut,” bisik Pandika, suaranya bagai bisikan angin malam. “Kalian akan pulang. Pegang erat, dan percayalah pada hewan yang kalian lihat.”


Si Maung menunduk, tubuhnya kini membesar lagi, bulu serigala berkilat perak. Anak-anak, meski gemetar, menaiki punggungnya. Air mata mereka jatuh, bercampur antara ketakutan dan rasa syukur.


“Berpeganglah erat. Kalian sudah selamat,” ujar Pandika.


Dengan langkah yang nyaris tak terdengar, Si Maung melesat ke dalam kabut, membawa anak-anak itu jauh dari sarang gelap itu.


Begitu mereka hilang di balik pepohonan, Pandika mengenakan zirah perak dan tamengnya. Api kemarahan menyala di matanya. Ia kembali ke perkemahan para penculik.


Ia tidak datang seperti bayangan—ia datang seperti badai. Pedangnya berkelebat, menghantam tiang-tiang kayu, meruntuhkan sangkar-sangkar, menyalakan kepanikan. Para penculik terbangun, bingung, mata mereka mencari musuh di tengah kabut pekat.


“Tunjukkan dirimu!” teriak salah satu dari mereka.


Yang mereka dapatkan hanyalah bunyi angin—lalu dentum keras. Sebuah batu, dilempar Pandika, menghantam kepala pemimpin mereka. Darah memercik, dan lelaki itu terjatuh pingsan. Yang lain berteriak, namun tak melihat musuh, hanya kabut yang seakan hidup.


Satu per satu mereka dilumpuhkan, tangan mereka diikat dengan rotan, tak sempat mengangkat senjata.


Menjelang fajar, Pandika berdiri di tengah puing perkemahan, napasnya mantap. Di kakinya, para penculik yang sesat terbaring tak berdaya. Tanpa sepatah kata, ia mengangkat pemimpin mereka ke punggung kuda yang ia temukan, sementara yang lain diseret dengan tali.


Ketika matahari pertama menembus puncak Merbabu, Pandika menuntun tawanan-tawanan itu keluar hutan, menuju kota Trowulan—ke pengadilan raja dan hukum yang akan menanti mereka.


Di kejauhan, dari balik kabut yang memudar, samar terdengar suara anak-anak yang telah diselamatkan, kini jauh di rumah mereka masing-masing. Tangis bahagia dan doa mereka mengejar Pandika, bagai anugerah yang lebih berharga daripada emas atau gelar apa pun.



---



Season 4 Jatmika & portal waktu


Ketika Kota Menjadi Gema

Jatmika dan John duduk di ruang tamu sederhana, layar holografis di dinding menampilkan linimasa yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti. Di sana, berita dan komentar bercampur, bukan lagi dibedakan antara fakta dan opini. Hashtag berganti setiap menit, tetapi intinya tetap sama: amarah kolektif yang menolak untuk diredam.

Semuanya berawal dari satu kalimat seorang anggota DPR, yang menantang rakyat dengan menyebut wacana pembubaran DPR sebagai “tolol.” Kalimat itu, dalam hitungan jam, berubah menjadi simbol kesenjangan: bukan sekadar jarak antara wakil dan rakyat, melainkan antara mereka yang bisa menertawakan kesulitan, dan mereka yang harus menanggungnya setiap hari.

Ketika rekaman anggota DPR berjoget-joget dalam sidang kenaikan gaji tersebar luas, resonansinya semakin keras. Gambar tubuh-tubuh yang bergoyang di ruang parlemen terasa seperti ejekan bagi jutaan orang yang sedang berjuang membeli beras dengan harga yang terus merangkak naik.

Jakarta pun meledak. Aksi protes di depan gedung DPR pada awalnya adalah upaya artikulasi, tetapi diabaikan. Anggota dewan memilih menghindar, sebagian besar meninggalkan negeri untuk “urusan dinas.” Kekosongan itu segera diisi oleh amarah. Rumah-rumah pejabat menjadi sasaran penjarahan—bukan sekadar mencari barang, melainkan membongkar simbol. Mobil polisi dibakar, jalanan penuh kepulan asap.

Puncaknya datang ketika sebuah mobil taktis Brimob melindas seorang pengemudi ojek daring. Rekaman itu menyebar dalam hitungan detik, dan dalam hitungan jam menjadi bahan bakar yang membuat demonstrasi menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Di laboratorium, notifikasi masuk ke sistem pusat teleportasi. Satu kalimat singkat:

“Semua operasi dibatalkan. Tunggu sampai keadaan stabil.”

Jatmika menatap layar itu lama, sebelum memandang John.

“Teknologi ini,” katanya pelan, “diciptakan untuk membuka dunia, bukan untuk melarikan diri darinya. Tapi hari ini, kita belajar bahwa dunia bisa menutup dirinya sendiri.”

Di luar, Jakarta masih bergemuruh. Namun gema itu bukan hanya suara demonstran, bukan hanya dentuman gas air mata. Itu adalah gema sebuah bangsa yang tengah mencari titik teleportasinya sendiri: bukan ke ruang lain, tetapi ke masa depan yang berbeda.

---

Sinkronisasi yang Hilang

Malam itu, ketika Jakarta masih bergetar oleh gema demonstrasi, John duduk di beranda rumah Jatmika. Lampu jalan berkelip, seakan ikut goyah oleh ketidakpastian. Ia menyalakan sebatang rokok, menarik dalam-dalam, lalu berkata seolah kepada dirinya sendiri:

“Teleportasi tidak pernah benar-benar gagal karena teknologinya,” ujarnya lirih. “Yang membuatnya gagal adalah ketika sinkronisasi tidak tercapai. Tubuh, pikiran, dan medan energi harus selaras. Begitu salah satu keluar jalur, hasilnya bisa fatal—seseorang bisa hilang di tengah perpindahan, atau muncul kembali tidak utuh.”

Ia berhenti sejenak, memperhatikan layar holo yang masih menampilkan potongan-potongan video kerusuhan.

“Negara ini,” lanjutnya, “tidak jauh berbeda. Energinya besar, rakyatnya luar biasa. Tapi kalau frekuensi antara pemimpin dan rakyat tidak pernah sinkron, apa yang terjadi? Kita melihatnya sekarang: pecahnya struktur, chaos yang tak bisa dihentikan hanya dengan perintah.”

Jatmika tidak langsung menjawab. Baginya, kata-kata John bukan sekadar renungan, melainkan hipotesis sosial yang bisa diuji. Ia tahu benar bahwa teleportasi hanyalah alat—cermin yang memperlihatkan bagaimana manusia mengelola kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Keesokan harinya, meski laporan pembatalan operasi sudah jelas, Jatmika tetap datang ke kantor. Bukan untuk menentang keadaan, melainkan karena keyakinan bahwa teknologi tidak boleh ikut lumpuh oleh politik. Bersama ketua tim sepuluh, ia mengaktifkan kembali artefak lampu di ruang laboratorium. Proses teleportasi dijalankan dengan hati-hati, bukan untuk mengangkut orang, melainkan untuk mengamankan temuan yang telah dikumpulkan di titik-titik gua.

Kotak-kotak besi dibawa ke hadapan mereka, masing-masing berisi benda yang lebih menyerupai teka-teki daripada harta karun: zirah besi yang meski berkarat masih terasa berat dengan makna, tongkat kayu dengan batu delima merah yang berkilau dari dalam, lemari tua penuh pedang yang bilahnya seakan masih haus medan perang.

Namun perhatian Jatmika tertuju pada satu benda: sebuah keris yang disimpan dalam kotak besi berlapis segel. Kotak itu bukan sekadar wadah, melainkan penjara yang dibuat agar sesuatu tetap terikat.

Jatmika menyentuh permukaan kotak itu. Dingin, namun berdenyut halus, seolah ada nadi yang masih bekerja di dalamnya.

“Kalau teleportasi bisa gagal karena sinkronisasi yang hilang,” katanya pelan, “saya bertanya-tanya: benda ini… apakah ia pernah menjadi pusat dari sinkronisasi sebuah kerajaan? Dan kalau dulu sempat hilang, apa itu yang membuat mereka runtuh?”

John hanya menatap, rokoknya telah padam. Ia tahu, seperti halnya pada masyarakat, ada kekuatan yang jika tidak diseimbangkan akan memecah belah—baik manusia maupun sejarahnya sendiri.

Dan malam itu, di dalam laboratorium yang hening, pertanyaan itu menggantung di udara: apakah keris itu sekadar artefak, ataukah ia masih mencari keseimbangan yang hilang?

---

Kotak yang Kosong

Laboratorium telah sunyi. Hanya dengungan generator dan suara jarum jam dinding yang terdengar, beradu dengan kilau redup lampu neon. Para karyawan sudah pulang, menyisakan tiga orang: Pak Toni, Jatmika, dan John. Mereka duduk di meja panjang, dikelilingi tumpukan berkas laporan serta grafik kerugian akibat penundaan jadwal teleportasi.

“Semoga pemerintah cepat menyelesaikan tuntutan massa,” kata Pak Toni, memijit pelipisnya. “Kalau ekonomi tetap lumpuh, tidak ada artinya kita melanjutkan proyek ini. Semua orang sibuk dengan urusan perut.”

John, yang sejak tadi diam, menggeser pandangannya ke kotak besi di pojok meja. Kotak itu tampak tak asing, seolah ada gravitasi tersendiri yang menarik matanya. “Bagaimana kalau,” katanya hati-hati, “kita periksa isi kotak itu? Kerisnya mungkin menyimpan jawaban—atau setidaknya, petunjuk—tentang asal mula semua ini.”

Pak Toni menatapnya, awalnya ingin menolak, tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari kehati-hatian. “Mungkin kau benar,” gumamnya.

Jatmika mengangguk pelan. Ia mendekat ke kotak besi itu. Tidak ada kunci, tidak ada engsel. Hanya sebuah gambar samar di permukaan, terbuat dari debu magnetik yang menempel seperti ukiran hidup. Ia teringat pada pelajaran singkat dari Wen Shuyuan tentang segel kuno: gambar tidak hanya lambang, tapi juga perintah.

Dengan tangan gemetar, Jatmika menarik sebatang besi tipis, lalu menggambar pola segel di atas permukaan kotak. Goresannya menggetarkan butiran debu magnetik, membentuk simbol yang berdenyut seakan mengenali maksudnya.

Terdengar bunyi mekanis—klik, klik, klik—suara tua seperti gigi roda yang lama tak bergerak. Kotak itu bergetar, lalu perlahan membuka.

Mereka bertiga menahan napas.

Namun di dalamnya: kosong.

Bukan keris, bukan batu permata, bukan benda apapun yang mereka harapkan. Hanya ruang hampa berlapis beludru hitam, seakan keris itu pernah ada namun telah meninggalkan jejaknya.

John melangkah mundur. “Apa… ada yang salah dengan segelnya?”

Jatmika menggeleng, wajahnya kaku. “Tidak. Segelnya bekerja. Mekanisme kotak terbuka sempurna. Yang aneh adalah…” Ia berhenti, suaranya merendah, “…jejak energi masih ada.”

Pak Toni menyentuh bagian dalam kotak. Ujung jarinya merasakan getaran halus, bukan dingin logam melainkan sisa panas, seakan sesuatu baru saja menghilang sesaat sebelum kotak itu dibuka.

“Kerisnya tidak hilang,” bisik Jatmika akhirnya. “Ia berpindah. Entah ke mana.”

Hening turun, lebih berat dari sebelumnya. Rasanya seperti mereka bukan membuka kotak, melainkan membuka ruang kosong di dalam sejarah.

Pak Toni mencoba menertawakannya, tapi tawanya tidak berhasil menutupi ketakutan yang tumbuh. “Kalau keris bisa berpindah sendiri, berarti kita bukan hanya berurusan dengan mesin teleportasi. Kita berurusan dengan sesuatu yang memilih ke mana ia akan pergi.”

John menatap kotak yang kini terbuka, seperti menatap mulut gua gelap yang tak berujung. “Atau sesuatu… yang menunggu saatnya untuk kembali.”

Laboratorium terasa lebih dingin. Dan untuk pertama kalinya, mereka bertiga merasa bahwa teknologi teleportasi hanyalah gerbang kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang mungkin tidak bisa mereka kendalikan.

Layar yang Menyimpan 17+8 Tuntutan

Di ruang tamu sederhana itu, televisi menyala tanpa jeda. Gambar dari gedung DPR di Jakarta terpampang: ribuan orang memadati jalan, suara lantang influencer bercampur dengan gema pengeras suara. Jatmika dan John duduk bersebelahan, masing-masing memegang cangkir kopi yang sudah dingin.

Narasi berita beralih ke infografik: “Tuntutan 17+8 Rakyat.”
Tulisan itu tampil dengan huruf tebal, dibagi menjadi dua bagian: jangka pendek, jangka panjang.

John menyipitkan mata. “Lucu, bukan? Ini seperti daftar bug dalam sebuah sistem. Ada yang harus diperbaiki segera, dan ada yang perlu patch besar di versi berikutnya.”

Jatmika tersenyum samar, meski matanya tetap terpaku pada layar. “Bedanya, bug dalam sistem hanya memengaruhi program. Bug di sini menyentuh kehidupan nyata: harga beras, ongkos rumah sakit, masa depan orang-orang yang bahkan tak pernah tahu apa itu teleportasi.”

Satu per satu poin dibacakan: tim investigasi independen, penghentian kriminalisasi, audit harta DPR, reformasi partai, revisi pajak, perlindungan buruh, penegakan HAM.

“Ini peta jalan,” kata Jatmika pelan. “Bukan sekadar tuntutan. Jika dipenuhi, ia bisa memperbaiki jaringan kepercayaan yang sekarang retak.”

John menambahkan, “Tapi seperti teleportasi—energi harus seimbang. Kalau satu titik menyerap terlalu banyak tekanan, jaringan bisa runtuh. Demo ini… adalah uji sinkronisasi sosial. Kalau gagal, konsekuensinya chaos.”

Hening sebentar. Hanya suara reporter yang terus membacakan poin-poin, seperti mantra modern: reformasi DPR, perbaikan pajak, penguatan KPK.

Di luar rumah, dunia tetap berjalan. Motor lewat, suara anak kecil bermain, aroma gorengan dari warung tetangga. Tapi mereka berdua tahu: keseharian itu rapuh.

Jatmika menegakkan duduknya. “Semoga pemerintah bisa menanggapi dengan bijak. Kalau tidak, teleportasi bukan halangan. Yang runtuh duluan bukan teknologi, tapi fondasi kepercayaan.”

John tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, menatap layar yang masih memancarkan daftar 17+8 itu—sebuah algoritma politik yang menunggu untuk dijalankan.

Mimpi Keris

Televisi masih menyala, menampilkan gambar demonstrasi yang berulang seperti loop tak berkesudahan. Jatmika dan John tertidur di sofa, cahaya layar membias pada wajah mereka yang lelah.

Dalam tidurnya, Jatmika berada di ruang asing. Kotak besi yang pernah ia buka kini hadir kembali, seolah tak pernah disentuh. Ia melihat keris itu jelas: bilahnya hitam berkilau, gagangnya terukir halus. Saat tangannya menyentuh, seketika tubuhnya tersentak. Rasa nyeri itu bukan sekadar sakit—lebih mirip aliran listrik yang memaksa masuk, menembus tulang dan syaraf.

Ia berteriak, mencoba melepaskan, namun keris itu menempel erat, seakan menolak dipisahkan.

Lalu, sosok muncul: seorang pria berjubah kerajaan, wajahnya teduh, matanya mengandung sejarah yang terlalu panjang untuk diukur dengan tahun.

“Tenanglah,” ujarnya lembut. Suaranya menenangkan, seperti gema yang berasal dari dua arah: masa lalu dan masa depan.

“Aku Isidore.”

Senyumnya menyingkap sesuatu yang lebih besar dari sekadar perkenalan.

“Keris itu masih ada. Tapi bukan di sini. Ia tersimpan di pusat persenjataan kerajaan Mythopia. Hanya keturunan Mythopia yang dapat melangkah ke sana. Dan kau, Jatmika, harus datang sendiri.”

Dengan gerakan tangannya, Isidore menunjukkan gambaran sebuah gua. Pintu segel terbuka perlahan, cahaya matahari menembus dari balik celah batu. Ada jalan setapak yang dilingkupi kabut putih.

“Jangan keluar dari kabut itu,” katanya. “Kabut adalah penuntun sekaligus pelindung. Ikuti jalan sampai kau tiba di gua berikutnya. Di sana, segel akan membawamu pada keris yang sesungguhnya.”

Semua itu terasa nyata. Terlalu nyata untuk sekadar mimpi.

Jatmika terbangun dengan keringat dingin, televisi masih menyala dengan suara pelan. Ia segera mematikannya, lalu duduk dalam gelap. Nafasnya masih berat, tapi pikirannya jernih.

Apakah ini sekadar bunga tidur? pikirnya. Atau pesan yang memang ditujukan kepadaku?

Ia menyadari satu hal: ia belum pernah melihat pria bernama Isidore itu sebelumnya. Dan justru karena itu, kata-kata dalam mimpi itu terasa lebih kuat daripada sekadar khayalan.

Pertanyaan menggantung di udara kamar:
Apakah aku harus mencarinya sendiri?




Keesokan harinya, di ruang laboratorium yang penuh dengan dengung mesin, Jatmika berdiri di depan Ny. Tien—sebuah program AI yang suaranya tenang, nyaris terlalu manusiawi untuk disebut buatan. Ia meminta agar lokasi yang diduga sebagai pintu menuju Istana Mythopia diperiksa. Ny. Tien, dengan kecermatan dingin, menampilkan hasil: lima gua, masing-masing di Gunung Lawu, Merbabu, Dempo, Gede, dan Kerinci. Semua memiliki ciri yang mirip dengan apa yang Jatmika lihat dalam mimpinya: jalan berkabut, samar, seakan menanti untuk ditafsirkan.

“Teleportasikan aku ke sana,” ucap Jatmika akhirnya, meski dalam hati ia masih ragu apakah ini langkah yang benar, atau sekadar pengejaran terhadap sesuatu yang barangkali tak pernah nyata.

Setelah mengenakan baju pelindung dan menegakkan bahunya, ia menyatakan siap. Ny. Tien menghitung mundur. Dari artefak lampu, cahaya emas merekah, berganti merah, lalu putih. Kilatan listrik menyambar, dan dalam sekejap tubuh Jatmika lenyap dari laboratorium.


Ia tiba di gua Gunung Lawu. Hening, dingin, hanya gema langkahnya yang menemani. Ia menelusuri lorong, menemukan sebuah pintu, lalu menggambar segel persis seperti dalam mimpinya. Pintu itu membuka ke jalan berkabut. Ia mencoba menapaki jalan itu, kabut putih menggulung pelan di sekelilingnya. Ia berjalan lama, tanpa tahu arah. Tak ada pintu gua lain, tak ada tanda kehidupan. Hanya kesunyian. Dengan hati berat, ia memutuskan kembali.

Satu per satu gua lain ia coba—Merbabu, Dempo, Gede—namun semuanya hanya memberi jalan yang buntu. Hingga akhirnya, ia tiba di Gunung Kerinci.

Kali ini, ia mencoba mengingat dengan sungguh-sungguh: dalam mimpi, ia diperintah agar mengikuti jalan berkabut, jangan pernah keluar darinya, atau ia akan tersesat. Ia melangkah, kabut terasa lebih padat, seakan berlapis-lapis, namun jalan setapak tetap tampak samar. Hingga akhirnya ia tiba pada sebuah tebing batu, buntu, seolah perjalanan berakhir di sana.

Dengan tangan gemetar, ia menggambar segel kunci di papan batu menggunakan debu magnetik. Pintu pun terbuka, dan jantungnya berdetak keras ketika cahaya menyemburat.


Di dalam gua itu, tumpukan koin emas dan cawan-cawan berkilau menyambutnya. Namun ia hanya menatap sekilas; benda-benda itu, betapapun mewah, terasa hampa. Ia tahu, ia sedang mencari sesuatu yang lain.

Di sisi ruangan, ia menemukan sebuah lemari buku kuno. Lembaran-lembaran di dalamnya memuat peta gua dalam bahasa asing yang tampak terlalu tua untuk dikenali. Ada pula silsilah kerajaan Mythopia, nama-nama yang asing sekaligus samar, seakan sebagian dari dirinya pernah mendengarnya dalam bisikan. Batu-batu biru di dinding gua menyala perlahan, memantulkan cahaya dingin ke wajahnya.

Tiba-tiba, terlintas pikiran yang menusuk: hanya keturunan Mythopia yang bisa memegang keris itu. Ia tak pernah benar-benar mengenal ayahnya, apalagi kakeknya. Jika ia benar keturunan raja, mungkinkah hidupnya sejak dulu tak seharusnya sesulit ini? Ia menggigit bibir, menahan getir, lalu bergumam dalam hati: mungkin aku memang orang asing di tanahku sendiri.


Di ujung ruangan, sebuah lemari besi besar berdiri. Dengan ragu ia membukanya. Di dalam, ada sebuah kotak bersegel. Ia membuka kotak itu, dan mendapati sebuah cincin berukir, dihiasi batu merah delima yang tampak terlalu murni untuk dunia ini.

Ia mengangkat cincin itu, lalu—tanpa banyak pertimbangan—mencoba menyelipkannya di jarinya.

Sekejap, cincin itu menyala merah. Panasnya menusuk, ruangan bergetar, cahaya di dinding berubah liar. Atmosfer menjadi mencekam, seolah ada sesuatu yang baru saja terbangun. Jatmika panik, berusaha mencabut cincin itu, namun cincin melekat erat, tak mau lepas.

Saat itu juga, sebuah tongkat melayang dari kejauhan, terhenti di depan dirinya. Refleks, ia meraihnya, seolah tangannya digerakkan oleh kehendak lain.

Lalu, dari kegelapan, sebuah keris melesat cepat. Jatmika berteriak, tubuhnya mencoba mundur, tapi bilah itu berhenti tepat di depan tangannya, bergetar perlahan.

Untuk sesaat, dunia terasa membeku. Ia tak tahu apakah ia baru saja dipilih… atau dikutuk.





Keris itu berhenti di udara, persis di depan tangannya. Untuk beberapa saat, Jatmika hanya menatapnya, seakan bilah itu menatap balik, menimbang apakah ia layak. Lalu, tanpa benar-benar berniat, tangannya bergerak. Jari-jarinya meraih gagang keris itu.

Sekejap, tubuhnya seperti dihantam arus listrik. Nyeri menjalar, tajam dan panas, menyusuri setiap saraf. Ia ingin melepaskannya, tapi keris itu menempel, seolah melekat pada kulit dan tulangnya.

“Tidak… seharusnya bukan aku,” bisiknya lirih, setengah memohon. Namun genggaman itu tak bisa lepas.

Rasa sakit semakin menghancurkan. Lututnya goyah. Ia jatuh terduduk, lalu bersujud, dahi menempel pada batu yang dingin. Sakit itu berubah jadi gelombang, menelan kesadarannya. Hingga akhirnya gelap.


---

Di dalam kegelapan, sebuah medan pertempuran terbentang. Ia melihat para ksatria berdiri berbaris, tongkat-tongkat mereka menyala dengan api. Di depan mereka, prajurit-prajurit biasa mengangkat tombak, melemparkan panah, bahkan mencoba menjerat monster itu dengan tali yang tampak rapuh.

Makhluk yang mereka hadapi… raksasa bertangan sepuluh, setiap tangan menggenggam senjata, bergerak dengan kekejaman yang sulit dipahami. Setiap kali satu prajurit mencoba mendekat, satu lengan mengayun, dan tubuh manusia itu terpotong, lenyap begitu saja dari dunia.

Para ksatria berusaha menahan, api dari tongkat mereka melesat, membakar kulit raksasa itu. Dan Jatmika—atau mungkin seseorang yang mirip dirinya—menerjang ke depan, keris di tangan, bilahnya berkilat dengan cahaya aneh. Ia menusuk, menggores kulit keras monster itu, meninggalkan luka yang tak sembuh.

Namun raksasa itu seolah tak pernah kehabisan kekuatan.

Lalu, ksatria yang memegang keris itu mengangkat tinggi bilahnya, membelah udara. Dari sana, sinar putih muncul, begitu terang hingga menyilaukan segala yang ada. Sesaat kemudian, sosok ksatria itu lenyap, menghilang dari pandangan.


---

Jatmika terbangun dengan napas terengah. Keringat membasahi tubuhnya, dan keris itu masih ada, melekat di tangannya. Rasanya dingin sekarang, bukan panas. Tapi dingin itu pun membawa beban, seolah-olah ia telah diwarisi sesuatu yang tak pernah diminta.

---

Di kantin PT. Sinar Ultraviolet, para karyawan berkerumun di depan televisi yang terus menyiarkan berita siang itu. Suasana hening, hanya suara penyiar yang terdengar jelas, menyebut satu per satu nama menteri yang diganti.

Sri Mulyani digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa.
Budi Gunawan diberhentikan dari posisinya.
Abdul Kadir Karding digantikan oleh Mukhtarudin.
Budi Arie Setiadi oleh Ferry Juliantono.
Dan Dito Ariotedjo, Menteri Pemuda dan Olahraga, juga harus meninggalkan jabatannya.

Ada pula kementerian baru yang diumumkan: Kementerian Haji dan Umrah, dengan Mochamad Irfan Yusuf sebagai menteri dan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya.

Namun, yang paling banyak dibicarakan bukanlah mereka yang diganti, melainkan seorang yang tetap dipertahankan. Raja Juli Antoni, meskipun sempat menjadi sorotan publik setelah foto dirinya bermain domino dengan Abdul Kadir Karding dan seorang mantan tersangka pembalakan liar beredar luas, tidak tersentuh dalam reshuffle. Presiden Prabowo, dengan alasan yang tak sepenuhnya jelas, memilih untuk mempertahankannya. Disebutkan, Raja Juli Antoni telah meminta maaf langsung, berjanji akan lebih berhati-hati ke depan.

Karyawan di kantin saling berbisik, ada yang menggeleng, ada pula yang tertawa hambar. Seakan semua ini hanyalah babak lain dari sebuah pertunjukan panjang yang tak pernah usai.

Di saat yang sama, John berjalan dari lorong ke lorong, mencari Jatmika yang sejak pagi tak terlihat. Ada kegelisahan kecil dalam dirinya, meski ia tak mau menunjukkannya terang-terangan. Ia baru kemudian mendengar kabar: Jatmika tidak berada di kantin, tidak pula di ruang-ruang kantor biasa.

Ia sedang berada di laboratorium. Sendirian, dengan pakaian pelindung menyerupai baju astronot, ia tengah berhadapan dengan sesuatu yang tak dapat disaksikan orang lain di gedung itu: sebuah keris mistis, yang muncul seolah dari masa lalu, membawa beban rahasia yang jauh lebih besar daripada berita reshuffle apa pun.

Dan entah bagaimana, John merasakan bahwa apa yang sedang dipegang Jatmika di ruang sepi itu, kelak akan lebih menentukan masa depan mereka daripada semua nama menteri yang disebutkan di layar televisi siang ini.


Kantin sore itu penuh sesak, tapi suasananya bukanlah keriuhan biasa. Televisi masih menayangkan berita reshuffle kabinet, sementara piring-piring di meja dipenuhi nasi setengah habis, lauk yang dingin, dan gelas kopi yang dibiarkan basi.

John duduk di ujung meja, bersama dua karyawan yang ia kenal sekadarnya: Bima, dari divisi logistik, dan Lestari, staf administrasi.

“Rasanya semua ini hanya perombakan nama, bukan?” kata Bima pelan, seakan takut televisi bisa mendengarnya. “Menteri diganti, tapi harga beras masih sama saja.”

Lestari mengangguk, tangannya memainkan sendok tanpa selera. “Orang-orang di luar sana sudah marah. Kita di sini hanya menonton saja, seperti penonton teater. Tapi... mau bagaimana lagi?”

John tersenyum kaku. Ia menanggapi seadanya, menjaga nada suaranya agar tetap datar. “Mungkin saja ada maksud besar yang tidak kita mengerti sekarang. Tapi, ya, bagi kebanyakan orang, hari ini terasa sama saja.”

Mereka bertiga terdiam. Hanya suara televisi yang memecah kesunyian, menyebut nama-nama menteri dengan intonasi yang dingin.

Dalam hati, John merasakan perbedaan yang jelas: bagi karyawan lain, yang nyata adalah reshuffle itu. Tapi bagi dirinya, yang nyata justru sesuatu yang tersembunyi di ruang laboratorium.


---

Di ruang laboratorium, Ny. Tien—sebuah program AI yang menjelma dalam bentuk proyeksi cahaya—memeriksa tubuh Jatmika. Artefak lampu di dekatnya menyala berlapis-lapis warna: keemasan, kebiruan, lalu hijau. Sinar itu menelusuri tubuh Jatmika, seakan membaca setiap denyut jantung, setiap impuls saraf, hingga setiap kerutan di wajahnya.

“Secara fisik, Anda baik-baik saja,” ujar suara Ny. Tien, jernih tapi tanpa emosi. “Hanya ada sedikit gangguan pada pola gelombang otak Anda. Indikasi trauma kognitif ringan, kemungkinan akibat interaksi dengan pusaka.”

Jatmika mengangguk perlahan. Tubuhnya memang tidak terasa sakit, tapi dalam dirinya masih ada sisa ketakutan yang sulit dijelaskan. Ia melepas cincin dengan batu merah itu, meletakkannya kembali ke dalam kotak besi bersama keris dan tongkat.

“John,” katanya lirih, ketika sahabatnya datang. “Aku... melihat sesuatu.”

John menatapnya, menunggu tanpa mendesak.

“Aku melihat pertempuran besar,” Jatmika melanjutkan. “Ksatria-ksatria, prajurit, semua melawan makhluk raksasa bertangan sepuluh. Mereka menggunakan senjata yang tak masuk akal, cahaya, api... dan keris ini. Seolah benda itu menyimpan memori yang lebih tua dari sejarah yang kita tahu.”

John menarik kursi, duduk di sampingnya. Ia mendengarkan dengan tenang, meski dalam hatinya ada rasa ngeri yang perlahan merayap.

“Dan kau yakin itu bukan hanya ilusi?” tanyanya hati-hati.

Jatmika menunduk. “Aku tidak yakin. Tapi rasanya terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Dan... aku takut. Benda ini mungkin tidak sekadar pusaka. Ia membawa kita ke sesuatu yang lebih besar dari yang bisa kita tanggung.”

John menatap kotak besi di meja, teringat percakapan kecil di kantin barusan—tentang harga beras, tentang reshuffle menteri. Ia sadar, dunia di luar sana mungkin sedang sibuk dengan urusan politik, tapi di dalam ruangan ini, mereka berdua sedang berhadapan dengan sejarah yang bisa meruntuhkan segalanya.

---

Televisi nasional sore itu menyiarkan berita dengan suara yang datar namun tegas, seolah segala yang disampaikan hanyalah bagian dari urutan yang sudah lama direncanakan. Nama Purbaya disebut berulang, diiringi tayangan angka dan grafik yang bergerak pelan di sudut layar.

Pertama, pembawa berita menyebut pencairan blokir anggaran kementerian dan lembaga: Rp168,5 triliun telah dibuka dari total blokir Rp256,1 triliun per 22 September 2025. Dana itu, katanya, dimaksudkan untuk program yang dianggap prioritas—pencetakan sawah baru, sarana pendidikan, dan kebutuhan operasional instansi. Di layar, angka-angka itu berganti begitu cepat hingga hampir tak sempat dicerna.

Kemudian, ada kebijakan lain yang terasa lebih berani. Rp200 triliun dipindahkan dari Bank Indonesia ke enam bank milik negara. Tujuannya sederhana dalam kata-kata, meski terasa raksasa dalam praktik: agar uang yang selama ini diam di bank sentral kembali beredar, mengalir ke sektor riil.

Purbaya, dalam potongan wawancara yang singkat, menegaskan pemisahan tegas antara kebijakan fiskal dan moneter. Tidak ada yang mendominasi, katanya. Keduanya harus tetap berdiri sendiri, sekalipun saling menyesuaikan. Kata-kata itu melayang di udara seperti jembatan yang belum tentu membawa ke mana-mana.

Perbedaan arah dibanding pendahulunya pun tak terelakkan. Tidak ada wacana tax amnesty. Sebaliknya, sistem coretax akan diperkuat, agar penerimaan pajak berjalan lebih rapi, lebih efisien. Langkah-langkahnya disebut “agresif” dan “pragmatis”, berbeda dari pendekatan Sri Mulyani yang lebih berhati-hati.

Di kantor pusat, John menonton tayangan itu dengan wajah yang sulit ditebak. Ia menyesap kopi yang sudah dingin, sementara kata-kata sang penyiar seolah hanya menambah lapisan ketidakpastian di pikirannya. “Ekonomi mulai bergerak ke arah yang lebih baik,” katanya akhirnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Pak Toni, yang duduk tak jauh darinya, mengangguk pelan. “Mungkin sudah waktunya kita membuka kembali operasional perusahaan,” ucapnya, seolah menimbang beban di setiap kata.

Tak lama kemudian, rombongan bus dari Jakarta tiba. Orang-orang turun satu per satu, sebagian menatap sekeliling dengan ragu, sebagian lain membawa semangat yang hampir berlebihan. Mereka datang untuk mencoba teleportasi, teknologi yang selama ini hanya menjadi cerita sains di tepi berita ekonomi.

Tim yang telah dilatih Jatmika bergerak cepat. Mereka sudah hafal setiap langkah, setiap protokol. Di atas semua itu, Ny. Tien—Navigasi Yakin Teleportasi Instan Energi Nusantara—mengawasi. Program AI itu memandu proses dengan suara yang lembut tapi mutlak, seperti petunjuk dari sesuatu yang jauh lebih tua dari sekadar mesin.

John berdiri di sudut ruangan, memperhatikan lampu-lampu indikator yang bergantian menyala. Di luar, dunia masih sibuk membicarakan triliunan rupiah dan kebijakan baru. Di dalam sini, mereka bersiap memindahkan tubuh manusia melintasi ruang, seolah angka-angka di televisi hanyalah riak kecil di permukaan samudra yang jauh lebih luas.


---