Chapter 119 Pelayaran Menuju Majapahit
Setelah meninggalkan hutan dan negeri yang jauh dari tanah Majapahit, tibalah rombongan Putri Dyah Sekar Tanjung di sebuah pelabuhan yang menghadap lautan luas. Angin laut bertiup dari ufuk barat, membawa aroma garam dan suara burung-burung yang berputar di atas tiang-tiang dermaga.
Di sana sebuah kapal besar telah menunggu.
Lambungnya terbuat dari kayu tua yang kokoh, dihiasi ukiran khas Majapahit pada haluan dan buritannya. Tiga tiang tinggi menjulang ke langit, dan layar-layar putih yang terlipat menggantung seperti sayap burung raksasa yang sedang beristirahat.
Begitu melihat rombongan itu mendekat, seorang lelaki berusia setengah baya turun dari geladak. Janggutnya telah memutih di beberapa bagian, sementara wajahnya terbakar matahari dan angin laut. Ia adalah kapten kapal yang ditugaskan membawa sang putri kembali ke Jawa.
Ia memandang Dyah Sekar Tanjung dan rombongannya dengan wajah antara lega dan kesal.
"Kenapa kalian lama sekali?" serunya. "Aku sudah menunggu di pelabuhan ini hampir seminggu!"
Paman Hanggara menghela napas panjang.
"Jangan salahkan kami, Kapten. Kami mengalami sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan."
Kapten mengangkat alis.
"Apa yang terjadi?"
"Kami disergap oleh makhluk kera putih di tengah hutan," jawab Hanggara.
Beberapa awak kapal yang mendengar perkataan itu saling berpandangan.
"Kera putih?" gumam salah seorang dari mereka.
"Jangan banyak bertanya," jawab Hanggara. "Percayalah, makhluk itu bukan binatang biasa."
Dyah Sekar Tanjung tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya tertuju jauh ke arah laut. Di balik ketenangan wajahnya tersimpan kegelisahan yang sejak menerima surat dari Majapahit belum juga pergi.
Pujeng Rarasati berdiri di sampingnya.
"Semoga Ayahanda Prabu Kertawrdhana masih diberikan umur panjang oleh para dewa," ucapnya lirih.
Dyah Sekar menundukkan kepala.
"Semoga demikian."
Ia menggenggam kain jubahnya erat-erat.
"Aku harus segera sampai ke Majapahit."
Kemudian sang putri menoleh kepada kapten.
"Kecepatan penuh, Kapten."
Kapten itu tersenyum tipis.
"Perintah diterima, Paduka Putri."
Ia segera berbalik dan berteriak kepada anak buahnya.
"Buka seluruh layar!"
Para awak kapal bergerak serentak.
Tali-tali ditarik.
Katrol-katrol kayu berderit.
Layar-layar putih yang besar perlahan naik menuju ujung tiang, kemudian mengembang ketika angin laut menerpanya. Kapal bergetar sesaat sebelum akhirnya bergerak meninggalkan pelabuhan.
Semakin jauh mereka dari daratan, semakin luas terbentang lautan di hadapan.
Hari pertama berlalu dengan tenang.
Matahari menggantung tinggi di langit, memantulkan cahaya ke permukaan air hingga lautan tampak seperti hamparan perak yang tak berujung.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah seorang awak.
"Lihat! Ikan!"
Rombongan segera mendekati sisi kapal.
Sekawanan ikan berkilauan melompat dari permukaan laut, berhamburan seperti permata yang dilemparkan ke udara. Di belakang mereka beberapa ekor lumba-lumba berenang dengan cepat, melesat naik turun mengejar kawanan ikan.
Para awak kapal bersorak.
"Kesempatan yang jarang!"
Jala-jala segera disiapkan.
Dengan satu aba-aba, beberapa awak melemparkan jala ke laut.
Jala itu terbentang lebar di udara sebelum jatuh menutupi permukaan air.
Tak lama kemudian mereka menariknya kembali.
Puluhan ikan menggelepar di dalam jaring.
Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Permukaan laut tiba-tiba berguncang.
Sesuatu yang besar bergerak di bawah kapal.
"Lihat ke sana!" teriak seorang awak.
Dari kejauhan muncul bayangan hitam yang jauh lebih besar daripada kawanan ikan tadi.
Air laut terbelah.
Seekor makhluk raksasa muncul sesaat dari permukaan—tubuhnya gelap, panjang, dan kuat seperti monster dari zaman purba.
"Itu... orca raksasa!"
Makhluk itu mengejar kawanan lumba-lumba dengan kecepatan yang mengerikan.
Kapal mulai berguncang ketika makhluk tersebut berputar di sekelilingnya.
Para awak kapal kehilangan keseimbangan.
"Pegang tali!"
"Jangan sampai jatuh!"
"Turunkan layar!"
Namun arus yang tercipta oleh tubuh raksasa itu membuat kapal terombang-ambing.
Dyah Sekar Tanjung berpegangan pada tiang kapal. Lembayung Ardani dan Pujeng Rarasati berdiri di belakangnya, sementara Paman Hanggara segera memerintahkan para pengawal menjaga sang putri.
Beberapa saat kemudian makhluk itu menghilang ke kedalaman.
Laut kembali tenang.
Tidak ada suara selain deburan ombak.
Para awak kapal terdiam.
Menit berlalu.
Kemudian satu jam.
Tidak terjadi apa-apa.
Akhirnya kapten menghela napas lega.
"Sepertinya makhluk itu telah pergi."
Para penumpang pun mulai tenang.
Beberapa awak kembali bekerja. Sebagian menata ikan hasil tangkapan. Yang lain memperbaiki tali layar yang sempat terlepas.
Mereka bersyukur karena bahaya telah berlalu.
Namun tidak seorang pun di atas kapal mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Jauh di bawah permukaan laut, di tempat yang tidak dapat ditembus cahaya matahari, sesuatu yang jauh lebih besar bergerak perlahan.
Makhluk yang tadi mereka lihat bukanlah penguasa lautan itu.
Ia hanyalah mangsa.
Di kedalaman yang gelap, tubuh raksasa Leviathan Abyssala bergerak dari balik kabut bawah laut.
Rahangnya terbuka.
Dalam satu hentakan dahsyat, ia telah melahap orca raksasa yang tadi mengejar lumba-lumba.
Lumba-lumba yang tersisa berenang menjauh dalam kepanikan.
Leviathan Abyssala tidak mengejar mereka.
Ia hanya berbalik.
Mata besarnya yang pucat menatap ke atas.
Jauh di permukaan, sebuah kapal Majapahit sedang berlayar membawa Putri Dyah Sekar Tanjung pulang menuju Jawa.
Leviathan itu merasakan getaran kapal di atas kepalanya.
Untuk beberapa saat, makhluk purba itu hanya mengikuti dari kejauhan.
Kemudian ia mulai berenang.
Perlahan.
Tanpa suara.
Bayangannya membesar di bawah kapal.
Namun para penumpang tidak menyadarinya.
Mereka mengira lautan telah kembali tenang.
Mereka tidak tahu bahwa di bawah lunas kapal, sebuah makhluk dari zaman yang jauh lebih tua daripada kerajaan-kerajaan manusia sedang mengikuti perjalanan mereka menuju Jawa.
Ledakan itu mengguncangkan seluruh ruang ilusi.
Cahaya putih membutakan mata, disusul gelombang energi yang menyapu hutan, gunung, dan lembah buatan yang selama ini menjadi tempat latihan Isidore. Tanah retak seperti kaca. Pepohonan raksasa tercabut dari akarnya dan terlempar ke udara. Gunung-gunung ilusi runtuh menjadi debu cahaya.
Klon Rasvatar telah meledakkan dirinya sendiri.
Untuk sesaat, tidak ada yang terdengar selain gemuruh kehancuran.
Kemudian keheningan turun.
Di antara puing-puing ruang ilusi, Isidore tergeletak di atas tanah. Tubuhnya dipenuhi debu, napasnya berat, dan pedang cahayanya telah kembali menjadi keris emas yang tergeletak beberapa langkah darinya.
Ia mencoba menggerakkan tangannya.
Kemudian perlahan bangkit.
"Aku... masih hidup."
Di hadapannya, sosok Cheon Myeong muncul dari kabut cahaya.
Sang ksatria berdiri tegak dengan ketenangan seorang prajurit yang telah melewati ribuan peperangan.
"Isidore," katanya, "kau terlalu banyak mengandalkan kekuatan serangan."
Isidore menatapnya.
"Padahal kekuatanku belum cukup untuk mengalahkan Rasvatar."
"Bukan itu persoalannya."
Cheon Myeong menggeleng.
"Seorang pendekar sejati tidak selalu menang dengan menahan serangan lawannya. Ada saat ketika pedang harus menghindar, bukan melawan."
Ia melangkah maju.
"Penghindaran adalah bagian dari kemenangan."
Kemudian Cheon Myeong bergerak.
Tidak ada suara langkah.
Tubuhnya tiba-tiba melesat seperti kilat.
Dalam satu kedipan mata ia telah berada puluhan langkah di depan Isidore. Kemudian tubuhnya berputar, melompat, dan seolah-olah menghilang dari dunia.
Di udara terbuka sebuah celah tipis seperti ruang kosong.
Cheon Myeong masuk ke dalamnya.
Sesaat kemudian ia muncul kembali di tempat lain.
Isidore membelalakkan mata.
"Itu..."
"Langkah Kosong Rasvatar."
Cheon Myeong berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Jangan melawan ruang. Gunakan kekosongan yang berada di antara dua tempat."
Isidore menarik napas panjang.
Ia mencoba meniru gerakan tersebut.
Sekali.
Gagal.
Dua kali.
Tubuhnya hanya bergerak beberapa langkah sebelum kehilangan keseimbangan.
Cheon Myeong tidak tertawa.
"Ulangi."
Isidore mencoba lagi.
Kali ini ia berlari lebih cepat.
Tubuhnya melesat seperti anak panah, kemudian melompat.
Sesaat sebelum menyentuh tanah, ia memusatkan seluruh pikirannya.
Ruang di hadapannya bergetar.
Sebuah celah kecil terbuka.
Isidore memasuki kekosongan itu.
Tubuhnya menghilang.
Namun hanya sesaat.
Ia muncul kembali beberapa langkah jauhnya dan jatuh berlutut.
Napasnya tersengal.
Cheon Myeong mengangguk.
"Lebih baik."
Di kejauhan, Raja Alam Wardana memperhatikan dengan wajah tenang.
"Jangan terburu-buru, Isidore. Klon Rasvatar memang jauh lebih kuat daripada dirimu saat ini. Tetapi bukan berarti ia tidak dapat dikalahkan."
Isidore menatap sang raja.
"Bagaimana caranya?"
"Berlatih."
Wardana tersenyum tipis.
"Jika kau terus berlatih hingga pikiran, tubuh, dan energi batinmu bergerak sebagai satu kesatuan, suatu hari kau akan mampu mengalahkan klon Rasvatar."
Di luar ruang latihan, Ki Surya Dahana berdiri terdiam.
Ia baru saja menyaksikan pertarungan tersebut.
Matanya masih tertuju pada kehancuran ruang ilusi.
"Mustahil..."
Ia menghela napas.
"Ruang ini dibangun untuk menahan energi para pendekar tingkat tinggi. Namun ledakan klon Rasvatar bahkan mampu menghancurkannya."
Ia menggeleng perlahan.
"Kalau Isidore terus berkembang seperti ini, ia sendiri bisa menjadi ancaman bagi ruang latihan ini."
Ki Surya Dahana kemudian berbalik menuju sebuah meja batu.
Di atasnya terdapat sebuah mangkuk keramik.
Ia telah menyiapkan ramuan herbal khusus untuk Isidore.
Cairannya berwarna hijau pekat. Uap tipis mengepul dari permukaannya dan aroma tumbuh-tumbuhan yang kuat memenuhi udara.
Ki Surya Dahana membawa mangkuk itu kepada Isidore.
"Minumlah."
Isidore memandang cairan tersebut dengan curiga.
"Ramuan apa ini, Guru?"
"Ramuan untuk mengembalikan tenaga."
Ki Surya Dahana menyerahkan mangkuk itu.
"Dan jangan banyak bertanya."
Isidore mencium aromanya.
Wajahnya langsung berubah.
"Bau ini..."
"Pahit."
Ki Surya Dahana tersenyum.
"Sangat pahit."
Isidore menatap gurunya beberapa saat.
Kemudian ia menarik napas dalam-dalam, menutup hidungnya, dan meneguk sedikit.
Wajahnya langsung mengernyit.
"Ugh..."
Ki Surya Dahana menahan tawa.
"Habiskan."
Isidore menutup mata.
Dengan keberanian seorang ksatria yang menghadapi naga, ia mengangkat mangkuk itu dan meminum seluruh ramuan sampai tetes terakhir.
Ia menurunkan mangkuk dengan wajah menahan kepahitan.
"Sudah."
"Bagus."
Ki Surya Dahana mengambil mangkuk tersebut.
Kemudian ia berjalan menuju sebuah dinding batu yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh Isidore.
Ia mengangkat tangannya.
Sebuah lingkaran cahaya hijau muncul di permukaan batu.
WUUUUMM...
Dinding itu bergetar.
Kemudian terbuka perlahan.
Di baliknya terbentang sebuah tempat latihan yang sama sekali berbeda.
Air mengalir dari tebing tinggi membentuk air terjun yang jernih. Sungai-sungai kecil bercabang dari aliran utama dan mengelilingi bebatuan besar. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air. Suara gemericik sungai terdengar seperti nyanyian yang menenangkan setelah pertempuran yang dahsyat.
Ki Surya Dahana menunjuk ke dalam.
"Masuklah."
Isidore melangkah mendekati pintu.
"Tempat apa ini?"
"Tempat untuk memulihkan tubuhmu."
Ki Surya Dahana memandangnya dengan serius.
"Jangan gunakan kekuatanmu untuk menyerang."
Ia menunjuk kepada air terjun.
"Duduklah di sana. Tenangkan pikiranmu. Kemudian alirkan energi batinmu ke seluruh tubuh."
Isidore mengangguk.
"Dan ramuan tadi?"
"Rasakan khasiatnya."
Ki Surya Dahana menatap mata Isidore.
"Jangan paksa tubuhmu. Biarkan ramuan itu mengalir bersama darah dan energi dalam tubuhmu. Air, udara, tanah, dan seluruh unsur di tempat itu akan membantumu."
Isidore kemudian berjalan menuju air terjun.
Ia duduk bersila di atas batu besar.
Air jatuh dari ketinggian dan menghantam tubuhnya.
BYURR!
Isidore memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan melawan klon Rasvatar, ia tidak memikirkan pedang.
Tidak memikirkan kemenangan.
Tidak memikirkan kekalahan.
Ia hanya mendengarkan suara air.
Napasnya perlahan menjadi teratur.
Energi yang sebelumnya kacau mulai bergerak perlahan di dalam tubuhnya.
Dari dalam dadanya muncul cahaya putih yang sangat lembut.
Raja Alam Wardana mengamati dari kejauhan.
Cheon Myeong berdiri di sampingnya.
"Dia mulai memahami," ujar Cheon Myeong.
Wardana mengangguk.
"Ya."
Matanya tertuju kepada Isidore.
"Pertarungan melawan Rasvatar bukanlah akhir dari latihan ini."
Ia tersenyum tipis.
"Itu baru permulaannya."
Dan di bawah derasnya air terjun, Isidore terus bermeditasi, sementara kekuatan yang baru saja ia terima perlahan menyatu dengan tubuh dan jiwanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar