Malam itu, setelah tiga malam dan tiga fajar berlalu, tunas kecil yang dijaga Pandika akhirnya membuka daun pertamanya. Daun itu bersinar kehijauan di bawah cahaya bulan, lembut seperti zamrud muda yang baru lahir dari rahim bumi.
Angin hutan berembus pelan.
Tak ada lagi amarah di dalamnya.
Akar-akar purba yang sebelumnya menjulur seperti cambuk kini kembali menyusup ke dalam tanah. Pepohonan tua bergemerisik pelan, seolah sedang berbisik satu sama lain.
Roh Penjaga Rimba telah melihat keteguhan hati Pandika.
Dari kedalaman rimba, cahaya hijau keemasan turun perlahan seperti hujan kunang-kunang. Sosok Roh Penjaga muncul di hadapan Pandika, Si Maung, dan Oren. Tubuhnya menjulang laksana pohon dunia yang hidup—bermahkota cabang dan berurat cahaya.
“Engkau telah membuktikan dirimu, wahai pengembara,” sabdanya, suaranya menggema hingga ke akar gunung.
“Engkau tidak hanya mampu bertarung… tetapi juga menjaga kehidupan.”
Pandika menundukkan kepala hormat.
“Jika demikian,” lanjut Roh itu, “aku memiliki permohonan yang bahkan para roh rimba tak mampu menyelesaikannya.”
Kabut hijau berkumpul di udara, membentuk bayangan sebuah pohon raksasa yang akarnya menembus bumi dan cabangnya menyentuh langit.
Itulah Pohon Dunia.
Batangnya sebesar gunung. Daunnya memancarkan cahaya seperti bintang malam. Dari pohon itu dahulu lahir keseimbangan Mythopia—angin, hujan, musim, dan kehidupan.
Namun bayangan pohon itu tampak mulai mengering.
Daun-daunnya gugur perlahan.
Pandika memandang dengan cemas.
“Apa yang terjadi?”
Roh Penjaga menundukkan kepalanya yang besar.
“Anak-anakku telah dicuri.”
“Anak-anak?” tanya Oren bingung.
Roh itu membuka telapak tangannya. Di atasnya muncul cahaya kecil berbentuk biji-bijian berwarna emas dan hijau.
“Biji-Biji Pohon Dunia.”
Suasana menjadi sunyi.
“Mahluk-mahluk rakus mencurinya dari akar dunia. Tanpa biji-bijian itu, Pohon Dunia perlahan akan mati. Bila ia mati… maka keseimbangan seluruh negeri akan runtuh.”
Si Maung menyipitkan matanya.
“Siapa yang berani melakukan dosa sebesar itu?”
Kabut di sekitar Roh mulai bergerak, membentuk peta dunia Mythopia. Sepuluh cahaya muncul di berbagai penjuru benua.
“Biji-biji itu tersebar ke sepuluh kerajaan besar.”
Satu demi satu nama kerajaan bergema di udara seperti mantra kuno:
🔥 Kerajaan Agnivarsha — negeri api dan lava, tempat bara tak pernah padam.
🌊 Kerajaan Tirtamandala — penguasa samudra dan kabut lautan.
🌿 Kerajaan Bhumi Raksa — kerajaan batu dan akar gunung purba.
🌪️ Kerajaan Bayu Arcapada — negeri langit dan angin yang tak terjangkau.
⚡ Kerajaan Vajraningrat — tanah badai dan petir abadi.
🌕 Kerajaan Cahyanagara — kerajaan cahaya suci penjaga fajar.
🌑 Kerajaan Kalamreta — negeri misterius penguasa ruang dan gravitasi.
🐅 Kerajaan Simhagiri — tanah para penjinak roh binatang buas.
⚔️ Kerajaan Astrapura — pusat senjata suci dan pandai besi legendaris.
🐉 Kekaisaran Nagakartika — negeri naga langit dan energi kuno.
Setiap nama memunculkan gambaran singkat di udara: gunung berapi menyala, badai petir, lautan tanpa ujung, hingga naga yang terbang di atas awan.
Pandika menatap semuanya dengan napas tertahan.
“Itu berarti…” katanya perlahan, “kami harus menjelajahi seluruh Mythopia.”
Roh Penjaga mengangguk.
“Setiap kerajaan memegang satu biji. Ada yang menjaganya karena keserakahan. Ada yang bahkan tidak mengetahui kekuatan yang mereka simpan.”
“Dan bila seluruh biji berhasil dikembalikan?” tanya Si Maung.
Cahaya Pohon Dunia kembali berpendar.
“Maka kehidupan akan diselamatkan.”
Pandika menggenggam erat sarung pedangnya.
“Aku akan berusaha mencarinya.”
Si Maung melangkah maju dengan gagah.
“Raja Kucing Gunung Leuser akan ikut.”
Oren menyeringai sambil menyilangkan tangan.
“Dan perjalanan tanpa pertarungan terdengar membosankan. Aku ikut juga.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Roh Penjaga tersenyum.
Hutan pun membuka jalannya.
Dan demikianlah dimulai perjalanan besar Pandika—pengembaraan melintasi sepuluh kerajaan Mythopia demi mengembalikan Biji-Biji Pohon Dunia sebelum kegelapan dan kerakusan memakan seluruh kehidupan.
Fajar merekah perlahan di lereng Gunung Leuser. Cahaya matahari pagi menyusup di antara pucuk-pucuk pohon purba, menjadikan embun pada daun berkilau seperti butiran emas.
Kabut malam mulai surut ke dalam lembah, sementara nyanyian burung hutan menyambut hari baru.
Di bawah Pohon Penjaga yang akarnya menjulur seperti ular raksasa, Roh Penjaga Rimba berdiri menanti kepergian mereka.
Dari telapak tangannya tumbuh beberapa biji bercahaya kehijauan. Bentuknya kecil, namun memancarkan aroma segar seperti hutan selepas hujan.
“Bawalah ini.”
Pandika menerima biji-biji itu dengan kedua tangannya.
“Biji Kehidupan,” sabda Roh itu.
“Satu butir cukup untuk mengenyangkan tubuh selama berhari-hari. Ia juga akan melindungi kalian dari racun makanan dan air tercemar.”
Si Maung mengendus salah satu biji lalu mengangguk kagum.
“Energinya kuat… bahkan bangsa peri jarang memiliki makanan seperti ini.”
Oren segera memasukkan beberapa biji ke kantung kulitnya.
“Kalau begitu kita tak perlu takut mati kelaparan di negeri asing.”
Namun Roh Penjaga belum selesai.
Mata hijaunya menatap Pandika dalam-dalam.
“Perjalanan ini bukan sekadar mencari biji Pohon Dunia. Setiap negeri memiliki keserakahan, rahasia, dan perang mereka sendiri. Hati-hatilah terhadap kekuasaan.”
Angin pagi berembus pelan.
Dan ketika matahari akhirnya muncul sepenuhnya di ufuk timur, memandikan rimba dengan cahaya keemasan, Pandika, Si Maung, dan Oren pun memulai perjalanan mereka.
Mereka berjalan meninggalkan Desa Kucing melewati jalan setapak berbatu. Kabut tipis masih menggantung di antara akar dan semak.
Untuk beberapa lama, hanya suara langkah kaki dan desir daun yang terdengar.
Hingga akhirnya Pandika membuka percakapan.
“Ke kerajaan mana kita harus pergi lebih dahulu?”
Si Maung berjalan paling depan, ekornya bergoyang perlahan.
“Aku mengenal jalan-jalan tua Mythopia,” katanya. “Tetapi memilih tujuan pertama bukan perkara mudah.”
Oren menyilangkan tangan di belakang kepala sambil berjalan santai.
“Kalau menurutku,” katanya, “jangan langsung mendatangi negeri paling berbahaya. Kita bahkan belum tahu bagaimana cara memasuki kerajaan-kerajaan itu.”
Pandika memandang keduanya.
“Bukankah kita hanya perlu meminta baik-baik?”
Mendengar itu, Oren tertawa keras.
“Ini bukan desa petani, Pandika. Kerajaan-kerajaan besar tak akan menyerahkan sesuatu yang mereka anggap berharga hanya karena diminta.”
Si Maung mengangguk pelan.
“Benar. Beberapa negeri bahkan membunuh orang asing sebelum sempat berbicara.”
Suasana menjadi lebih serius.
“Kerajaan Agnivarsha,” lanjut Oren, “diperintah para bangsawan api yang curiga kepada pendatang. Sedikit kesalahan bisa membuatmu dilempar ke kawah lava.”
“Sedangkan Kalamreta,” ujar Si Maung, “adalah negeri yang bahkan sulit ditemukan. Banyak pengembara masuk ke sana… lalu tak pernah kembali.”
Pandika terdiam.
Ia memang telah belajar ilmu pedang dari Prabu Galang Siwah dan menghadapi roh-roh dunia gaib. Namun memasuki kerajaan asing adalah perkara lain.
Ilmu bela diri tak selalu membuka gerbang istana.
“Kalau begitu,” katanya perlahan, “kita membutuhkan cara agar diterima.”
Si Maung berhenti di sebuah bukit kecil dan memandang jauh ke cakrawala.
Di kejauhan tampak asap gunung berapi menjulang merah ke langit.
“Itu arah Agnivarsha,” ujarnya.
Oren menyipitkan mata.
“Kerajaan api… tempat para pandai besi suci menempa senjata legenda.”
“Dan mungkin,” lanjut Si Maung, “tempat terbaik untuk memulai.”
“Kenapa?” tanya Pandika.
Si Maung menoleh perlahan.
“Karena pedangmu akan segera membutuhkan kekuatan baru.”
Angin gunung kembali bertiup.
Dan di bawah langit pagi Mythopia yang luas, tiga pengembara itu melangkah menuju kerajaan pertama—tanah api dan bara, tempat ujian baru telah menunggu.
Semakin jauh mereka berjalan ke arah timur, tanah hijau perlahan berubah menjadi hamparan pasir hitam dan batu-batu merah hangus. Udara terasa panas dan kering. Bahkan angin yang berembus membawa aroma belerang dari gunung-gunung api di kejauhan.
Langit di atas Kerajaan Agnivarsha berwarna kemerahan, seolah senja tak pernah benar-benar pergi dari negeri itu.
Pandika memandang takjub ketika akhirnya mereka tiba di gerbang perbatasan kerajaan.
Sebuah jembatan raksasa dari besi hitam membentang di atas sungai lava yang mengalir perlahan seperti darah bumi. Rantai-rantai baja sebesar batang pohon menggantung di sisi jembatan, sementara tiang-tiang penjaga dihiasi api yang tak pernah padam.
Di kejauhan terdengar dentang palu para pandai besi Agnivarsha—bergaung seperti genderang perang.
Antrian panjang memenuhi gerbang.
Para pedagang asing, pengembara, tentara bayaran, dan utusan kerajaan lain berdiri menunggu pemeriksaan identitas oleh prajurit berjubah merah-hitam.
Prajurit Agnivarsha bertubuh besar dan mengenakan zirah besi gelap dengan garis pijar seperti bara di sela-selanya. Mata mereka tajam dan penuh curiga.
Di depan Pandika, seorang pengelana tua sedang diperiksa.
“Identitas?” tanya penjaga dengan suara berat.
“A-aku hanya pedagang keliling…”
Penjaga itu mendecak dingin.
“Pedagang biasa dikenai pajak masuk lima keping emas.”
Wajah lelaki tua itu pucat.
“Aku… tak punya emas sebanyak itu.”
Penjaga segera menunjuk keluar gerbang.
“Kalau begitu pergi. Agnivarsha bukan negeri untuk pengemis.”
Orang tua itu pun diusir tanpa belas kasihan.
Pandika mengernyit pelan. Ia lalu berbisik kepada Si Maung,
“Tenang saja. Aku masih punya berkilo-kilo emas di kantong ajaibku. Hadiah dari Kerajaan Sunda masih banyak.”
Namun Si Maung segera mengibaskan ekornya.
“Tunggu dulu. Jangan keluarkan emas terlalu banyak di tempat seperti ini.”
“Kenapa?” tanya Pandika.
“Kau ingin dirampok sebelum masuk kota?”
Pandika terdiam.
Si Maung lalu mengeluarkan sebuah lencana kecil dari balik bulunya. Lambang matahari Majapahit terukir pada logam tua itu.
“Aku punya identitas yang lebih tinggi,” katanya santai. “Lambang kerajaan Majapahit.”
Mata Pandika membelalak.
“Hei! Itu aku juga punya!”
“Tapi wajahmu terlalu jujur untuk seorang bangsawan,” jawab Si Maung datar.
Oren tertawa keras sampai bahunya berguncang.
“Kalau begitu bagaimana denganku?”
Si Maung menoleh.
“Kau tetap harus bayar.”
“Apa?!”
“Wajahmu terlihat seperti pembuat masalah.”
Pandika menahan tawa sambil diam-diam merogoh kantung ajaib pemberian Ratu Peri. Dari dalam ruang kecil yang tampak mustahil itu, ia mengambil beberapa keping emas dan menyelipkannya ke tangan Oren.
“Pegang ini.”
Oren menyeringai puas.
“Sekarang aku terlihat terhormat.”
Ketika giliran mereka tiba, penjaga gerbang memandang ketiganya dengan curiga.
“Tujuan memasuki Agnivarsha?”
Si Maung melompat naik ke bahu Pandika dan memperlihatkan lambang Majapahit.
“Kami pengembara dari timur.”
Para penjaga segera berubah sikap ketika melihat lambang itu.
“Majapahit…” gumam salah seorang penjaga. “Kerajaan besar dari seberang lautan.”
Mereka tetap melakukan pemeriksaan ketat—memeriksa tas, zirah, bahkan pedang Pandika yang memancarkan aura aneh.
Salah seorang penjaga sempat menyipitkan mata ketika melihat pedang itu.
“Pedang ini bukan buatan biasa…”
Namun sebelum pertanyaan bertambah panjang, Si Maung berkata tenang,
“Kami datang bukan untuk mencari masalah.”
Akhirnya gerbang baja perlahan dibuka.
Suara rantai besi bergemuruh memenuhi udara.
Pandika, Si Maung, dan Oren pun melangkah masuk ke Agnivarsha—negeri api dan baja, tempat gunung-gunung menyala siang dan malam, dan di mana kekuatan seseorang diukur bukan dari kata-kata… melainkan dari panas bara yang mampu mereka tahan.
Pandika memandang hamparan negeri Kerajaan Agnivarsha dari sebuah bukit batu hitam. Di kejauhan tampak gunung-gunung api memuntahkan asap merah ke langit, sementara sungai lava mengalir seperti urat-urat bara yang membelah tanah.
Udara terasa panas bahkan untuk bernapas.
Dari arah kota terdengar dentang palu besi yang tak pernah berhenti—nyanyian abadi para pandai besi Agnivarsha.
Pandika menghela napas panjang.
“Aku perlu mengetahui lebih banyak tentang kerajaan ini,” katanya pelan.
Oren yang berjalan sambil memanggul tombak kayunya menoleh. Wajah ksatria kucing jingga itu tampak lebih serius daripada biasanya.
“Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja besar,” ujar Oren.
“Namanya adalah Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata.”
Si Maung mendengus kecil seakan mengenal nama itu dengan baik.
Oren melanjutkan,
“Ia memiliki gelar yang ditakuti sekaligus dihormati—Sang Penjaga Matahari Bara.”
Pandika mengernyit penasaran.
“Mengapa ia mendapat gelar seperti itu?”
Oren berhenti sejenak sebelum menjawab.
“Karena tak ada manusia biasa yang mampu bertahan di dekat lava Agnivarsha. Tetapi Adityawarman… ia berjalan di atas bara seperti berjalan di tanah biasa.”
Angin panas bertiup melewati mereka.
“Konon,” lanjut Oren, “ketika menempa senjata pusakanya, ia berdiri selama tujuh hari tujuh malam di dalam kawah gunung api tanpa meminum air sedikit pun.”
Pandika membelalak.
“Itu mustahil.”
“Di Mythopia,” jawab Si Maung tenang, “hal mustahil biasanya hanya perkara siapa yang cukup gila melakukannya.”
Oren tertawa pendek lalu melanjutkan,
“Pedang dan keris biasa akan meleleh dalam panas seperti itu. Karena itulah sang raja menggunakan bahan yang tidak berasal dari dunia biasa.”
“Apa maksudmu?”
“Senjata pusakanya,” kata Oren perlahan, “adalah Keris Jvalamukha… keris yang ditempa dari tulang naga api.”
Suasana mendadak sunyi.
Bahkan desir angin panas terasa lebih berat setelah kata-kata itu diucapkan.
Pandika memandang ke arah ibu kota Mahendra Agni yang samar terlihat di balik kabut merah.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “raja negeri ini bukan orang biasa.”
“Benar,” jawab Oren. “Dan orang seperti itu pasti menyimpan sesuatu yang sangat berharga.”
Pandika kembali teringat tujuan mereka.
“Lalu bagaimana kita akan menemukan biji Pohon Dunia di negeri seluas ini?”
Ia memandang jalan-jalan batu yang bercabang menuju tambang, benteng, dan kota-kota pandai besi.
“Bahkan mencari satu benda di sini seperti mencari setetes air di lautan bara.”
Namun Si Maung hanya tersenyum tipis.
“Aku sudah bilang sebelumnya,” katanya santai sambil mengibaskan ekor.
“Aku bisa mengendus aroma biji-bijian itu.”
“Benarkah?” tanya Pandika.
“Hm.” Si Maung menutup matanya sesaat. Hidungnya bergerak perlahan menghirup udara panas Agnivarsha.
Beberapa detik kemudian matanya terbuka.
“Aromanya samar…” gumamnya. “Tetapi ada.”
“Di mana?” tanya Oren cepat.
Si Maung memandang jauh ke arah gunung terbesar di tengah kerajaan—gunung api raksasa yang puncaknya bercahaya merah seperti matahari senja.
Di lereng gunung itu berdiri Istana Mahendra Bara.
“Aroma biji Pohon Dunia berasal dari sana.”
Pandika menelan ludah.
“Istana raja?”
Si Maung mengangguk pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Agnivarsha, mereka menyadari bahwa misi ini mungkin bukan sekadar pencarian… melainkan langkah menuju sarang singa api itu sendiri.
Langit merah membara berubah menjadi gelap kehitaman, namun negeri api itu tak pernah benar-benar kehilangan cahaya. Sungai lava masih mengalir seperti urat-urat pijar di bawah kota, menerangi dinding-dinding batu dan menara besi dengan warna merah darah.
Di kejauhan berdiri Istana Mahendra Bara—megah dan mengerikan.
Menara-menara obsidian menjulang seperti tombak raksasa ke langit malam, sementara api abadi berkobar di sepanjang bentengnya.
Si Maung bergerak perlahan di balik bayangan batu-batu hitam, hidungnya terus mengendus udara.
“Aromanya semakin kuat,” bisiknya.
Pandika dan Oren mengikuti di belakang dengan hati-hati.
Dari sela dinding batu, mereka dapat melihat para Laskar Bara Naga sedang berpatroli.
Zirah merah-hitam mereka memantulkan cahaya bara. Tombak dan pedang mereka tampak berpijar seperti logam panas baru ditempa.
Tak jauh dari gerbang utama, seorang pria bertubuh besar berdiri memberi pengarahan kepada para ksatria.
Jubah merah gelap berkibar di punggungnya.
Bekas luka membelah wajahnya dari pelipis hingga dagu.
Di pinggangnya tergantung tombak panjang dengan mata tombak menyala merah.
“Itu dia…” gumam Oren pelan.
“Mahapati Rudra Agnivega.”
Pandika memandang kagum.
Aura panglima perang itu begitu berat hingga bahkan dari kejauhan terasa menyesakkan.
“Dia kuat,” bisik Pandika.
“Lebih dari kuat,” jawab Si Maung. “Jangan sampai bertarung dengannya jika tidak terpaksa.”
Mahapati Rudra Agnivega berbicara dengan suara keras kepada pasukannya.
“Perketat penjagaan malam ini! Tidak seorang pun boleh mendekati istana tanpa izin kerajaan!”
Para ksatria segera memberi hormat.
Si Maung menyipitkan mata.
“Aku punya ide.”
Pandika menoleh.
“Apa?”
Si Maung tersenyum licik.
“Oren akan menjadi pengalih perhatian.”
“Apa?!” Oren spontan memprotes.
“Sementara aku dan Pandika menyelinap masuk.”
Oren menghela napas panjang.
“Aku selalu dapat tugas paling memalukan…”
Beberapa saat kemudian, seekor kucing jingga bertubuh besar berjalan sempoyongan menuju gerbang istana sambil membawa botol minuman tanah liat.
Itu tentu saja Oren.
“Wahai penjaga istanaaa…” katanya dengan suara dibuat mabuk.
“Aku ingin menginap malam ini… dan bertemu raja kalian yang tampan itu!”
Para prajurit Bara Naga langsung memandangnya dengan jijik.
“Apa-apaan ini?”
“Siapa membiarkan kucing liar masuk gerbang utama?”
Oren tertawa keras sambil menunjuk salah satu penjaga.
“Kalian semua terlalu tegang! Minumlah sedikit!”
Ia menggoyang-goyangkan botolnya hingga cairan tumpah ke tanah panas.
Seorang ksatria Bara Naga maju dengan wajah merah menahan marah.
“Istana Mahendra Bara bukan tempat untuk binatang mabuk!”
“Aku bukan binatang!” teriak Oren.
“Aku ksatria tampan dari utara!”
Para prajurit akhirnya kehilangan kesabaran.
“Usir dia!”
Tiga ksatria langsung mengangkat tubuh Oren yang masih mengamuk sambil menendang-nendang udara.
“Lepaskan aku, manusia bara tak berbudaya!”
Dengan geram mereka melempar Oren ke sungai hitam di bawah jembatan batu.
BYUURRR!
Air hitam memercik tinggi.
Dari kejauhan masih terdengar suara Oren berteriak marah.
“AKU AKAN MENGADUKAN KALIAN PADA RAJA KUCING!”
Sementara seluruh perhatian penjaga tertuju pada kekacauan itu, Si Maung menempelkan tubuhnya ke kaki Pandika.
Kabut tipis menyelimuti mereka.
Perlahan tubuh keduanya memudar… lalu menghilang dari pandangan.
“Sekarang,” bisik Si Maung.
Dengan gerakan ringan mereka berlari mendekati tembok benteng.
Pandika melompat, bertumpu pada batu hitam, lalu memanjat dinding tinggi itu dalam sekali tarikan napas.
Si Maung melesat lebih cepat dari bayangan.
Dalam sekejap, keduanya telah melewati benteng luar dan mendarat tanpa suara di halaman dalam istana.
Pandika menahan napas.
Di hadapannya terbentang lorong-lorong istana Agnivarsha yang dipenuhi obor merah dan patung naga api raksasa.
Dan jauh di pusat istana… ia dapat merasakan sesuatu memanggil.
Aroma Pohon Dunia.
Dengan tubuh tersembunyi dalam kabut sihir Si Maung, Pandika melompati tembok bagian dalam Istana Mahendra Bara. Mereka berlari melintasi lorong batu hitam hingga menemukan sebuah jendela raksasa yang terbuka menghadap halaman rahasia istana.
Pandika masuk lebih dahulu.
Begitu kedua kakinya menyentuh lantai batu, ia segera terdiam.
Ruangan itu amat luas dan sunyi.
Di tengahnya terbentang kolam bundar berisi air panas yang mengepulkan uap tipis. Cahaya bara dari sela lantai memantulkan warna merah ke dinding-dinding obsidian.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah pohon besar di tengah ruangan.
Batangnya hitam keemasan, sementara akar-akarnya menjulur ke kolam seperti ular raksasa.
Dan di samping pohon itu…
terbaring seekor makhluk bersayap raksasa yang dirantai dengan belenggu besi.
Makhluk itu menyerupai naga tua.
Sisiknya kusam dan penuh luka. Sayapnya robek dan sebagian tampak telah dipotong. Lehernya dibelenggu rantai hitam sebesar batang pohon.
Napasnya berat seperti embusan tungku raksasa.
Si Maung menyipitkan mata.
“Biji Pohon Dunia ada di sana…” bisiknya.
“Aromanya berasal dari pohon itu.”
Pandika memegang gagang pedangnya.
“Naga itu terlihat buas,” katanya pelan.
“Haruskah aku membunuhnya?”
“Tunggu,” ujar Si Maung cepat. “Aku ingin berbicara dengannya.”
Suasana istana malam itu amat sunyi.
Raja dan sebagian besar penghuni istana tampaknya sedang beristirahat.
“Kita tidak boleh membuat keributan,” lanjut Si Maung. “Kalau penjaga datang, kita tak akan bisa keluar hidup-hidup.”
Mereka mendekati pohon itu perlahan.
Namun sebelum sempat berbicara, mata sang naga tua terbuka.
Sepasang mata emas redup memandang mereka dalam gelap.
Suaranya berat dan tua seperti batu gunung runtuh.
“Aku tahu… kalian datang untuk mencuri biji pohon itu…”
Pandika menegang.
Tetapi Si Maung melangkah maju tanpa takut.
“Perkenalkan,” katanya sopan sambil menundukkan kepala, “aku Raja Kucing dari rimba utara.”
Naga tua itu tertawa lirih.
“Seekor kucing… menyelinap ke istana api…”
“Aku bisa membebaskanmu,” lanjut Si Maung.
Naga tua memalingkan kepalanya perlahan.
“Lihatlah keadaanku…”
Ia mengangkat sisa sayapnya yang koyak.
“Sayapku telah dipotong. Leherku dirantai. Sudah lama tenggorokanku tak mampu mengeluarkan api…”
Matanya menyala penuh kebencian.
“Mereka mengambil darahku… sedikit demi sedikit…”
Pandika menggenggam pedangnya lebih erat.
“Aku bisa menghancurkan rantai itu,” katanya.
“Dan membawamu pergi dalam kantong ajaibku.”
Si Maung menatap naga tua itu dalam-dalam.
“Tidakkah kau menginginkan kebebasan?”
Untuk beberapa saat, ruangan kembali sunyi.
Lalu sang naga mengangguk perlahan.
“Aku bisa membaca hati kalian…” gumamnya.
“Kalian bukan pencuri biasa.”
Si Maung segera bergerak menuju pohon besar itu.
Sementara Pandika melangkah mundur dan mulai melakukan gerakan Tarian Bulan.
Pedangnya perlahan memancarkan cahaya putih keperakan.
Gerakannya halus dan tenang seperti aliran air malam.
Sementara itu Si Maung memanjat batang pohon dan mulai mengendus bagian tertentu dari kulit kayu.
“Aku menemukannya…”
Di balik batang pohon biasa ternyata tersembunyi cahaya hijau keemasan.
Biji Pohon Dunia telah dicangkokkan secara paksa ke pohon itu.
Dengan pisau kecilnya, Si Maung mulai mencongkel biji itu perlahan dan hati-hati.
“Sedikit lagi…”
Namun akar pohon itu ternyata sangat keras.
Ketika Tarian Bulan Pandika mencapai gerakan terakhir, cahaya pedangnya bersinar semakin terang.
Dengan satu tarikan napas panjang—
SLAAASSSHHH!
Pedang bercahaya itu menebas rantai naga tua.
JEGEEEERRR!
Suara besi putus menggema ke seluruh aula istana.
Rantai hitam raksasa terbelah seketika.
Si Maung membelalak panik.
“Pandika! Itu terlalu keras!”
Tanpa membuang waktu lagi, Si Maung segera berubah menjadi serigala besar. Dengan cakar tajamnya ia mengorek batang pohon hingga biji hijau keemasan itu akhirnya terlepas.
“Aku mendapatkannya!”
Sementara itu Pandika melompat ke kepala naga tua.
“Maaf kalau sedikit sempit!” serunya.
Dengan susah payah ia memasukkan naga tua itu ke dalam kantong ajaib pemberian Ratu Peri.
Beberapa detik kemudian—
ALARM BESI berbunyi di seluruh istana.
Obor-obor menyala terang.
Teriakan penjaga menggema dari segala arah.
“PENYUSUP!”
“POHON SUCI DIRUSAK!”
“NAGA TAWANAN HILANG!”
Ribuan prajurit Laskar Bara Naga berlari memasuki aula.
Mereka terkejut melihat pohon rusak, rantai hancur, dan ruang penahanan kosong.
Tak lama kemudian, suara murka mengguncang seluruh istana.
Itu suara Sri Maharaja Adityawarman Agnibrata sendiri.
“SIAPA YANG BERANI MENYENTUH MILIK AGNIVARSHA?!”
Api raksasa menyembur dari menara istana ke langit malam.
Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun…
Istana Mahendra Bara berada dalam kekacauan besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar